OPINION

BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN

Oleh: Hendriko Frman

Memasuki millenium ke-3 ini, bisa disimpulkan bahwa puncak kejayaan manusia berada pada millennium ini. Tidak terhitung berbagai hal yang irasional dulunya telah menjadi bentuk fisik-material. Tidak heran pula sistem pembelajaran edukasi pun mencapai puncaknya. Hal positif dan negatif diserap habis sebagai referensi pendidikan. Indonesia pun kena imbuhnya, memasuki abad ke-20, berbagai sistem pembelajaran pun muncul, baik itu inisiatif pemerintahan Hindia Belanda maupun penduduk pribumi. Dulu sekali sistem pembelajaran di Indonsia yang masih menggunakan sistem melingkar pada guru (upanisad) telah di revitalisasi dengan sistem yang lebih beradab menurut kolonial. Tapi, dari hasil pendidikan kolonial itu apakah kita secara tidak langsung telah mengadopsi sebagian dari pemikiran kolonial sebagai Negara penjajah?

Bisa jadi iya, pasalnya konteks keterkaitan antara Belanda dengan Indonesia sekarang masih dalam konteks penjajahan juga. Kalau Belanda menjajah rakyat Indonesia, sekarang rakyat Indonesia juga meanjajah rakyat Indonesia dengan cara penjajahan semu. Kalau pemikiran tersebut dalam spekulasi berarti wajar, pasalnya indikasi-insikasi tersebut tidak 100% mutlak. Walaupun juga, pasti ada sebab dan akibatnya. Indonesia yang merdeka 61tahun masih “terjajah” juga, sebabnya apa? kalau akibatnya jangan ditanyakan lagi yaitu manipulasi, penggelapan, cakar-cakaran, tindih-menindih, kritik-mengkrtik yang tak bertanggung jawab yang telah dilakukan aparat pemerintah yang tidak beriman. Kenapa bisa terjadi seperti ini?

Apakah ini ada kaitannya dengan subjeknya. Kalau dikaitkan dengan kejayaan pendidikan, manusia-manusia/subjek–subjek yang mengalami proses pendidikan ini tidak 100% menerima unsur positif dalam pendidikan, unsur negatif pasti dimakan juga, pendidikan di mata sekarang sebagai batu loncatan saja sebagai manusia yang bermasa depan, dan masa depan yang ditempuhpun harus mengalami berbagai macam cara, ibarat sebuah estetika yang melanggar norma-norma, manusia berpendidikan ini sama juga, ada sebagian manusia-manusia yang melanggar dan ingin menjadi manusia instan yang mencoba-coba menduduki pos-pos pemerintahan dengan sistam trial and error-nya. Implikasinya apakah manusia instan ini bisa digolongkan penjajah?

Sebelum diteruskan lagi siapa manusia instan ini. Kenapa dia bisa di indikatorkan juga sebagai penyebab runtuhnya peradaban Indonesia. Harafiahnya manusia instan ini adalah individu intelektual yang tidak pernah menghayati proses tapi mengebu-ngebu dalam hasil. Kalau dimanifestasikan, kaum ini menuntut ilmu ingin dengan cara sesingkat-singkatnya, dan apabila telah menyelesaikan studinya kaum ini ingin cepat dapat mengembalikan modal, kursi dan meja kerja. Kaum ini memakai insting saja tanpa akal, pikiran, dan rasio dalam proses pendidikan. Karena hanya dengan dana ini-itu kaum ini mendapatkan segalanya, kalau dikalkulasikan dana ini-itu tersebut tidaklah kecil tapi kaum ini rela berkorban untuk itu. Dan prospeknya publik telah menggolongkan mereka sebagai kaum intelektual.

Kalau diproyeksikan, manusia instan tidak lebih dari pada seorang pelacur intelektual, bekerja sebagai kemunafikan saja bagi mereka, pasalnya mereka yang telah berada disinggasana pemerintahan telah mengabaikan proses tadi. Lagi-lagi mereka memakai insting dalam mengelola bidangnya. Dengan kata lain mereka belum siap dan masture secara prinsipil untuk terjun bebas ke dunia nyata, dunianya pemerintahan. Nilai jual mereka hanyalah ijazah dan gelar saja, tapi dari segi teori dan experience-nya mereka masih minim aplikasi. Kata-kata intelektual pun seperti dipaksakan kepada kaum ini. Apalah arti ijazah dan gelar yang mereka dapatkan dengan duduk berleha-leha tanpa teori yang maksimal. Setidak-tidaknya teori saja yang mereka miliki, tapi bukan secara komplit. Sehingga manusia instan perlu diberikan lampu kuning sehubungan dengan prospeknya, yang dengan kata lain perlu difilterkan dari dunia pendidikan, karena pemerintah salah satu dari penampungnya pasti juga akan terkena azabnya.

Disisi lain pemerintah sebagai mobilitator rakyat Indonesia harus bersiap-siap menerima azab dari manusia instan. Ini boleh jadi kelalaian dan sikap acuh tak acuh terhadap rakyat adalah ulah mereka. Kalau manusia instan ini berevolusi secara rapidly dan didukung lagi interaksi yang positif dari pemerintah, maka kiamat kecil bersiap-siap untuk melanda rakyatnya. Pasalnya manusia instan ini bisa ditebak apa maunya bisa jadi harta, kepopuleran, nafsu memerintah dan lain-lain yang jadi prioritas nomor satunya, sedangkan rakyat adalah prioritas ke-18 atau ke-99, imbuhnya adanya lagi KKN, pekerjaan yang tidak kredibel, efesien dan profesional. Itulah hasil revolusi mereka, mereka tidak lebih dari penyakit Aids yang siap memporak-porandakan sistem kekebalan, yaitu kekebalan pemerintah. Pertanyaannya sekarang apakah teori-toeri ini terlalu di dramatisir? Tentu saja tidak, kalau dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, kerbau mana yang membajak sawah dengan baik kerbau yang punya mata atau yang tidak punya mata? Inilah hubungan kausalnya, manusia instan jelas buta dan anehnya ingin menduduki pos-pos pemerintahan dan tentu saja hasilnya, “panen-penen” pun tidak akan pernah muncul.

Kalau yang terkena azab manusia instan adalah pemerintah dengan ancaman-ancamannya, masyarakat juga terkena dampak manusia instan ini, boleh dikatakan mereka itu kaum negatif dalam prasangka dan persepsi. Sehubungan strata mereka sebagai kaum intelektual, masyarakat tentu juga mengambil hal-hal yang relatif bagi manusia instan, pasalnya masyarakat yamg awam dan masih dibumbui dengan unsur-unsur feodalisme mencoba mengambil kiblat pada manusia instan yang secara langsung maupun tidak langsung. Kultur masyarakat yang telah terinfiltrasi oleh budaya instan ini akan menimbulkan akulturasi pada masyarakat, hasilnya apabila ada proses yang menuntut hasil yaang isntan maka sogokan–sogokan bisa jadi titik tengahnya, parsel-persel jadi jalan temunya. Bisa disimpulkan budaya ini tercipta juga dari andil-andil manusia instan sebagai kaum yang negatif.

Sebenarnya ada juga orang-orang yang ingin menjadi manusia instan sebagai batu loncatan saja, sehubungan dengan waktu pendidikan yang lama dan di iringi oleh intelektual-intlelektual lainnya yang setiap hari terus mencul dan menjadi pesaing bagi mereka. Mereka menjadi manusia instan tidak lain ingin menghemat waktu dan tenaga, tapi kalau dilihat dari kondisi bangsa ini tentu manusia instan sejati yang lebih dominan dari pada orang yang ingin menjadi manusia loncatan saja. Orang-orang yang ingin menjadi manusia instan ingin membangun bangsa dengan sungguh-sungguh dan ingin berdedikasi tinggi terhadap bagsa, tapi mereka sangat sulit untuk mengubahnya, karena lingkungan mereka telah tejebak dan terperosok terlalu dalam dengan pikiran-pikiran yang instan.

Rakyat Indonesia sebagai unsur dari negara boleh kecewa karena ada juga manusia-manusia instan yang masih berkeliaran di tiap-tiap pos pemerintahan. Rakyat sekarang adalah generasi yang kecewa. Kecewa karena telah dikhianati rakyatnya sendiri, kecewa karena telah dilacuri rakyatnya sendiri. Harapan-harapan dari rakyat yang ingin melihat anak-cucunya bahagia dan sejahtera ternyata telah dirampas. Generasi kecewa Indonesia tidak sebaik kondisinya dengan dibanding Negara-negara lain yang tidak diinfiltrasi oleh manusia instan. Amerika serikat sebagai topnya dunia pendidikan tentu bisa memfilter manusia instan apabila ada dinegara mereka. Tapi, kita sebagai negara miskin masih tetap saja menggunakan nilai-nilai lama apabila seorang ingin menjabat dalam posisi pemerintahan.

Implikasinya sekarang manusia instan yang masih banyak menjamur di Indonesia, masih digolongkan sebagai indikator penyebab kacau balaunya negeri ini, cepat atau lambat ulah dan kelakuan mereka pasti akan nampak juga akhirnya. Seperti kata Leo Tolstoy: Tuhan tahu, tapi menunggu.

***

Singgalang. 2008

BUDAYA BACA, BACA BUDAYA

Oleh: Hendriko Firman

Budaya baca adalah budayanya manusia, manusia tidak akan punya peradaban apabila tidak membaca. Bahkan Islam pun mengajarkan kata pertamanya yaitu “Iqra” (bacalah).

Pada saat sekarang keseharian proses intelektual manusia tidak lepas dari proses membaca. Membaca sebagai sebuah aktivitas mencerminkan bagaimana seorang individu mau berkembang dan melihat cakrawala ilmu dengan lebih luas lagi. Membaca yang dalam konteks keingintahuan adalah sebuah hal sangat mulia untuk dilakukan. Maka tidak heran apabila setiap orang mengatakan bacalah selagi kau masih ada.

Memang untuk ukuran Negara Indonesia, minat baca sangat rendah sekali. Membaca bukanlah sebuah kultur, bukanlah sebuah kegiatan yang normal selagi menunggu orang kita membaca, selagi duduk di bus kota kita membaca, selagi punya waktu luang dimana saja kita membaca. Bukan, orang Indonesia faktanya bukan seperti itu. Masih ingatkah kita bahwa masih ada beberapa suku di Indonesia untuk mengharamkan pendidikan termasuk membaca. Realita seperti itu membuat semuanya menjadi masuk akal, sejak masa penjajahan dulupun kita baru disediakan buku-buku bacaan faktanya baru akhir abad ke-19. Jadi, jangankan membaca buku, untuk surat kabar pun rata-rata orang Indonesia membaca satu koran dibaca oleh lima puluh orang rata-rata.

Maka dari itu, pemerintah memang telah lama tanggap terhadap semua fenomena ini, karena kecenderungan di Indonesia bukan orang-orang berpunya saja yang jarang membaca. Bahkan orang-orang yang berduit pun jarang sangat untuk membaca. Ironisnya kaya-miskin di Indonesia memang tidak suka membaca.

Membaca sebagai mediator berpikir kritis, bukan saja selalu di identikan dengan hal-hal yang “berat”, teori-teori, bahasa-bahasa ngejelimet. Tapi juga membaca buku adalah perkerjaan yang dianggap sia-sia oleh sebagian orang Indonesia. Karena sebagian orang Indonesia termasuk orang yang mengapilkasikan suatu hal secara kinetik (kerja), bukan secara audio (mendengar) maupun visual (melihat/membaca). Sehingga akibat kurang balance-nya daerah A dan B SDM nya mungkin juga disebabkan oleh pengaruh lingkungannya yang cenderung teridiri dari orang-orang kinetik. Contohnya apabila seseorang ingin membeli kipas angin, maka orang kinetik akan langsung merakitnya, sebaliknya orang visual membaca buku petunjuknya, dan orang audio akan menanyakannya pada pedagang tadi perihal cara merakitnya.

Dari kasus di atas membaca sebagai sebuah paradigma, perspektif, behaviour, aktivitas, teori, implementasi, apalagi kultur faktanya masih sulit di Indonesia ini. Apabila orang Indonesia telah sinkron dengan hal-hal tersebut. Sekonyong-konyong kita tentu akan mengulang sejarah – yang einmalig tentunya – terhadap peradaban Negara hinomaru Jepang. Kita tahu bahwa, hanya perlu waktu empat dekade saja sejak didatangi Mathhew C. Perry pada tanggal 8 Juli 1853. Jepang yang sebelumnya kolot dan telah terisolasi berabad-abad terhadap kemajuan dunia luar akhirnya bertransformasi menjadi sejajar dengan negara-negara seperti Italia dan mengalahkan negara-negara yang cemerlang peradabannya seperti Spanyol, Russia, Yunani dan Negara-negara barat cemerlang lainnya. Yang kuncinya ada hanya pada satu kata yang membuat Negara Jepun itu maju yaitu: membaca.

Tapi kalau bangsa Indonesia yang besar ini kalau membaca hanya dalam situasi formal saja, kita mungkin masih jauh mengejar kemajuan bangsa-bangsa yang lain. Dimana, kalau proses membaca dengan metode paksaan yang sering kita alami di sekolah-sekolah terus di prektekkan faktanya metode tersebut tidak punya efek kontinunitas yang baik, pasalanya soul kita sendiri telah didikte dengan kata-kata membaca, sebaliknya kata “membaca” telah jenuh di mata para siswa. Maka timbullah ego sendiri yang menyatakan membaca adalah proses menjemukan dan tidak punya bentuk ke-excited-annya. Membuat opini publik mengatakan membaca itu dibalas dengan pernyataan sok rajin, cari muka, di ejek kutu buku dsb. Faktanya orang hanya membaca buku yang sederhana saja tapi selalu dikonotasikan buku-buku yang yang menjatuhkan harga diri si pengejek karena cemburu, bukan murni mengejek. Sebaliknya membaca harus ditanamkan sebagai kegiatan yang akrab bentuknya bukan sebagai paksaan semata.

Maka dari sirkulasi membaca tersebut manusia telah bisa di katakan manusia yang sebenarnya apabila telah membaca, apapun genre dan bentuk buku tersebut, ilmiah, dan non-ilmiah – tentu yang positivisme. Orang-orang yang membaca yang membuat dirinya membutuhakan membaca sebagai kebutuhan primer, tak pelak lagi kita katakan sebagai orang yang berbudaya membaca dan walhasil individu itu bisa membaca budaya. Apapun budaya tersebut, karena dasar pemikirannya terobesesi pada ilmu pengetahuan yang mengakibatkan individu teresebut bisa membaca budaya, budayanya manusia.

Seorang yang telah melek sebagai reader (pembaca), tentunya telah disinggung tadi akan bisa baca budaya. Karena budaya sebagai proses pemikiran manusia bisa merefleksikan si reader tersebut untuk lebih haus lagi terhadap ilmu dan pengetahuan, lebih kritis, dan tentu efek jangka panjangnya membuat seorang reader menjadi orang yang bijak, punya keobjektifan, berjiwa besar, dan akan punya kepekaan terhadap semua hal (sense of act).

Lihatlah contoh orang-orang besar yang punya kebutuhan primer terhadap membaca: Hatta, Sjahrir, Taufik Ismail, H.A Salim, Rosihan Anwar dll. Bahkan Rosihan Anwar yang pada usia 80-an tetap memabca buku 2 buku seminggu. Contoh-contoh orang di atas yang telah mengalami sirkulasi budaya baca = baca budaya, kesemuanya telah menjadi “orang”, bahkan orang besar yang sampai pada kaliber internasional.

Tentunya Indonesia sebagai negara yang melimpah SDA nya, butuh sekali kecakapan terhadap SDM yang memadai, maka tidak lain jalan keluarnya yaitu membaca, membaca, dan membaca. Yang orientasinya yaitu membaca menjadi tahu, tahu menjadi paham, paham menjadi kontiniunitas lagi untuk kita membaca buku yang lain.

Percayalah kita kepada orang-orang besar diatas, kalau kita membaca dan menjelma menjadi seorang reader untuk negara Indonesia yang besar ini kalau kita efesienkan maka, kita akan maju sebagai negara baru lebih beradab lagi. Maka dari itu, terus dan ingatlah kata-kata remeh-temeh yang punya kekuatan makrokosmos ini dihati kita untuk dipraktekkan: “tiadalah hari tanpa membaca”.

Singgalang. 2008

MAHASISWA DALAM TRANSISI

Oleh: Hendriko Firman***

Sekarang kalau mengingat tentang citra mahasiswa, kita mungkin cukup prihatin melihat kondisi mereka pada saat sekarang ini. Mahasiswa benar-benar telah jauh lari dari koridornya terkait dengan definisi filsafatnya, yaitu mahasiswa yaitu orang yang mencoba menuntut ilmu dengan lebih terdidik. Keprihatinan kita tidaklah kepada seluruh mahasiswa, yang khususnya mahasiwa di negara ini. Tapi, mahasiswa yang terkonteks dalam sebagian atau sepersekian dari jumlah mahasiswa yang tidak loyal terhadap defenisi aslinya yaitu menjadi orang terdidik. Yang dimana untuk jumlahnya tentu berbeda-beda di setiap daerah.

Keprihatinan itu muncul akibat mereduksinya mahasiswa dalam kancah dunia kemahasiswaan tersebut. Kenapa dibilang telah mereduksi, karena pemikiran dan aplikasi mahasiwa telah banyak berubah seperti dimana sediakalanya. Dimana kehadiran mahasiswa yang sediakalanya sebagai kaum baru yang lahir dari perkembangan akal dan rasio manusia, yang tuntutannya mencari ilmu dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dan yang berusaha memecahkan masalah tersebut. Tapi defenisi tersebut sekarang telah berangsur-angsur mengabur.

Telah banyak kita lihat mahasiswa kuliah atau menuntut ilmu dengan asal-asalan saja, dimana sebagian dari komunitas mahasiswa ini mengakibatkan munculnya krisis atau kemandekan para intelektual baru di indonesia ini, dimana dalam melakukan proses menuntut ilmu tersebut, mereka tidak selepas-lepasnya menghirup dan menterjemahkan apa yang diajarkan dikampus. Sehingga akibat diefisiensinya proses menuntut ilmu mengakibatkan sang mahasiswa tidak terlalu responsif apalagi proaktif mengenai pelajaran atau materi kuliah tersebut.

Krisis ini mungkin baru muncul pada pertengahan abad ke-20 ini, dimana akibat murahnya biaya kuliah dan murahnya seleksi untuk masuk Universitas maupun Sekolah Tinggi (ST), mengakibatkan dengan status intelektual apapun setiap orang bisa enter semaunya dalam lingkungan Universitas. Dan yang paling penting dari itu adalah semakin menjamurnya sekolah-sekolah tinggi/Universitas yang entah itu professional maupun tidak.

Bagi mahasiswa yang kuliah di top negeri atau top swasta masih banyak juga kita lihat beberapa mahasiswa yang kuliah seenaknya perutnya saja, dimana dalam proses menuju ke sarjana mereka mengaplikasikan dirinya dalam perkuliahan seakan-akan kampus adalah tempat fun oriented sehingga kuliah hanyalah hal tetek bengek saja. Faktanya sekarang kampus negeri ataupun swasta masih banyak sebagian atau spersekian mahasiswanya yang belum focus untuk kuliah dan mereka melihat kampus dan kompleksitas peerkuliahannya hanya sebuah batu loncatan saja. Inilah yang patut dihilangkan dari stigma mahasiswa bahwa kampus tempat menuntut ilmu adalah sebuah step untuk masa depan, jadi kampuslah awal semuanya agar bisa berevolusi, bukan sebagai batu loncatan saja yang tidak punya peran penting dalam masa depan para calon sarjana ini. Baik itu kampus negeri yang telah dibonafitkan atau swasta yang menjadi pilihan kedua adalah sarang mahasiswa yang tidak mempunyai etos untuk jadi mahasiswa. Jadi implikasinya kampus negeri atau swasta sejauh pengamatan saya masih banyak mahasiswa yang tidak kaya ilmu dan tekad untuk kuliah dengan sebaik-baiknya.

Kita juga tidak bisa memungkiri bahwa dengan perilaku mahasiswa yang lupa akan posisinya yang sebenarnya mengakibatkan si calon lulusan ini menjadi tidak kompeten baik itu karena kuliah atau memilih majoring/jurusannya sebagai faktor gengsi sehingga bisa mengakibatkan rendahnya tekad dan kemauan, sehingga si mahasiswa banyak mejadi seorang fellowship of persons atau kasarnya pengekor. Yang lebih horornya nanti mahasiswa yang tidak kompeten dan komprehensif mengetahui ilmu yang didapatinya ujung-ujungnya nanti akan menjadi biang pengangguran dan terus ke pengangguran berakibat nantinya menjadi tanggungan masyarakat dan pemerintah, lalu melekatlah ia dicap sebagai sampah masyarakat.

Hal diatas merupakan masih secuil sirkulasi mahasiswa yang faktanya tidak loyal ini, tapi kita belum menganalisa bagaimana kehidupan dan penerapannya pada masyarakat atau perangai mereka diluar kampus. Maka sempurnalah semua ini bahwa teorinya: mahasiswa yang asal-asalan kuliah secara sengaja pastinya tentu diluar kampus adalah positif juga asal-asalan kelakuannya. Yang dimaksud perangai diluar kampus adalah tindakan yang seharusnya menjadi aplikasinya di kampus, dan bukanlah privacy-nya kita analisa tapi mata rantai perangainya yang terkoneksi ke kampus. Secara real mahasiswa yang sepersekian ini yang tidak loyal terhadap status mereka yang sebenarnya juga telah menjadi hidup bak preman setelah manapak diluar gerbang kampus, contohnya saja begadang untuk hal-hal yang sia-sia, begadang tersebut banyak lagi rutinitasnya dari sekedar konkow-kongkow sampai ke tindakan illegal: judi dan minum-minum. Maka tidak heran apabila begadang ini akan mempengaruhi aktivitas mereka di kampus.

Kalau sebegitu bedanya seperkian mahasiswa ini tentulah terjadi bukan karena natural saja tapi banyak penyebab atau influences yang telah terpenetrasi pada mahasiwa mulai dari salah ambil jurusan, pengaruh teman, keluarga, lingkungan, kampus hingga ke hal-hal psikologi dan emosional lainnya. Semua hal tersebut faktanya akan manyambung ke tindakan umum dalam perkuliahan seperti malas, tidak suka, bosan, dan tetek-bengek lainnya.

Tapi yang paling penting disini adalah tidak adanya kesadaran untuk membaca, kenapa membaca karena membacalah akar semua kegiatan di dunia kampus selain hearing/mendengar dosen. Kalau mahasiswa minat membaca tentulah mereka akan terampil melihat apa-apa yang telah disediakan oleh ilmu yang ditekuninya. Membaca membuat menjadi tahu, tahu menjadi paham. Dan akhirnya mahasiswa mempunyai gairah untuk menjadi mahasiswa yang sebenarnya atau mahasiswa yang real. Membaca hanya sekelumit permasalahan akibat timbulnya mahasiswa yang melenceng ini, tentulah pantas kita sebut mahasiswa ini sebagai mahasiswa yang bertransisi, mereka hanya mengejar gelar, status dan prestise, tapi inti dari menjadi mahasisswa itu sendiri yaitu menuntut ilmu dan men-sharing-nya, merekea lupakan. Jadi tidaklah heran akibat rendahnya niat untuk membaca, si mahasiswa menjadi bayi (mahasiswa) tabung, yang hanya dibuahi (diberikan pengetahuan) secara limited, sedangkan pendapat umum menyuruh mereka untuk disiplin dan menjadi mahasiswa real hanya angin lalu saja jadinya.

Menarik untuk dikaji selanjutnya adalah pindah kiblatnya beberapa sekolah-sekolah tinggi /universitas yang membangun kampus tanpa misi dan visi yang jelas. Kampus tersebut akan membuat gaya pembelajaran dan kurikulum yang lebih enjoyable dan murah (leicht) dan dilanjutukan dengan banyak iming-iming pekerjaan dan beasiswa setelah tamat apakah itu benar atau tidak, tapi semua itu dengan imbalan yang sangat besar yaitu biaya kuliah yang tidak normal atau selangit.

Karena kampus ini telah eksklusif dengan segala kemudahannya membuat para sebagian mahasiswa menjadi malas dan tidak punya sense untuk belajar. Kampus yang komersialisme ini secara tidak langsung membina kader-kader mahasiswa yang bertransisi dari status sebenarnya. Karena stigma mahasiswa mengatakan buat apa kuliah terlalu agresif, thoh uang bisa menyelesaikan segala urusan. Hal tersebut menjadi ironis, bahwa materi yang ditimbulkan ke kampus bukan melahirkan metode atau proses belajar yang lebih tangguh dan bersaing, tapi malah sebaliknya mahasiswa dididik jadi seorang yang lembek. Bahwa semua itu diadaptasikan mahasiswa atau tidak tentunya mahasiswa yang sebagian ini secara tidak sadar terpaksa melahap mentah-mentah metode komersialisme kampus ini.

Karena hampir setiap tahun ratusan kampus yang menghasilkan sarjana, maka ini menjadi bertambah ketatnya persaingan sebagai fresh graduate untuk mencari pekerjaan. Karena hanya dengan dididik dan mengadaptasi pendidkan itu secara asal-asalan maka mahasiswa yang tidak loyal ini ini menjadi kasta yang paling rendah dalam list yang di ingini oleh penerima pekerja baru. Maka tidaklah kita harus berpikir seyongyannya kualitaslah yang didahulukan ketimbang kuantitas, maka tidak lain dengan cara, kampus melakukan seleksi yang berat dan mengurangi kursi bagi calon mahasiswa baru, senantiasa agar kuliah lebih efesien. Memang dengan cara kampus-kampus mengurangkan jatah kursi disetiap jurusan tentunya akan mengurangi pendapatan, khususnya kampus swasta, tapi itulah resiko dan sekaligus investasinya. Dengan cara mengurangi jatah, maka kompetisi untuk merebut kursi itu akan menjadi prestisius lagi untuk diperebutkan calon mahasiswa, dan mereka akan belajar mati-matian, dan kampus juga akan menerapkan pembelajaran yang tidak hanya relatif dengan apa-apa yang dosen ajarkan tapi dilakukan dengan cara komposisi pelajaran yang high class yaitu standar internasional dalam fisiknya terlebih dahulu, baru setelah itu linguistik dan isi-isi perkuliahan. Lalu dihilangkan berbagai macam kerikil-kerikil yang mengganggu mahasiswa untuk belajar seperti menghilangkan tempat-tempat untuk berjudi disekitar kampus dan semacamnya.

Kalau semua ini sudah terealisasi maka mahasiswa yang sepersekian ini yang pada awalnya jenuh belajar akan dibuat tambah jenuh untuk belajar, dan mereka hanya akan punya dua opsi untuk itu satu: hajar perkuliahan itu dengan bangkit secepatnya atau yang kedua: bakar KTM, lalu jangan pernah kembali lagi ke kampus. Memang revelusioner tapi hukum kesinambungannya pastilah akan baik. Sehingga yang sebelumnya calon mahasiswa menganggap remeh status mahasiswa nantinya akan berpikir matang-matang apabila kuliah maka defenisinya memang benar-benar kuliah dan bukan hanya sekedar duduk, diam, dengar lantas pulang. Apabila hal ini efesien jangan harap lagi ada mahasiswa yang melenceng yang bertransisi ke yang negatif, tapi sebaliknya kampus akan menjadi center of excellence bagi bangsa yang besar ini.

Singgalang. 2008

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: