Perlukah Exit Strategy dalam Bisnis?

image

Dalam mendirikan suatu bisnis diperlukan exit strategy.  Exit strategy tidak mengenal apakah itu usaha mikro, kecil, dan menengah. Apabila kamu jualan kaki lima atau bahkan cuma jualan es batu di pasar tradisional, kamu butuh exit strategy. Apakah dalam 20 tahun kedepan kamu tetap ingin menjadi pebisnis di level yang sama? Tetap menjual batu es di pasar yang sama dengan kuantitas yang sama seperti 20 tahun silam. Tentu tidak.

Exit strategy adalah cara sebuah perusahaan melakukan transisi dari perusahaan inti ke perusahaan lainnya. Penerapan dalam exit strategy biasa dikenal dengan cara merger (bergabung dengan bisnis lain), akuisisi (dibeli oleh bisnis lain) atau IPO (perusahaan publik di bursa saham). Untuk bisnis mikro yang ingin menerapkan exit strategynya, maka dia harus transisi ke usaha kecil, lalu ke menengah, lalu terapkan target IPO, merger atau akuisisi.

Exit strategy akan membuat bisnismu terus on the tract. On the tract adalah berada dijalan yang idealnya. Jika kamu tidak on the track maka kamu akan out of the track (di luar jalur ideal). Jika kamu out of track maka kamu akan lama untuk mentransisikan bisnimu. Jika lama untuk transisi, ancaman yang terjadi adalah berkurangnya inovasi bisnismu dan ancaman pesaing usaha yang lebih inovatif dan modal besar.

Bisnis yg baik tahu kapan waktunya sukses (baca:exit). Let’s say kamu jualan batu es tadi, apakah kamu tahu kapan waktu usahamu pensiun? Apakah usahamu join dengan bisnis lain, dibeli bisnismu, atau kamu jadi perusahaan publik di bursa saham? Jika kamu pesimis membacanya, maka kamu tidak cocok jadi seorang entrepreneur. Dalam dunia entrepreneur, everything is possible.

Dengan adanya exit strategy kamu juga akan tahu dimana, kapan dan apa-apa saja indikasi garis kemenangan atau akhir bisnismu. Tidak setiap pelari mengharapkan ketiadaan garis finish. Sama. Tidak setiap pebisnis mengharapkan ketiadaan garis finish. Garis finish adalah exit strategy. Sebuah garis pencapaian. Sebuah momen evaluasi. Sebuah transisi naik level. Garis finish juga ditandai dengan puncak kesuksesanmu di podium.

Hanya pengusaha terombang-ambing yang tidak punya exit strategy. Karena pengusaha yang tidak memiliki exit strategy ibarat seorang lelaki yang tidak mau melamar-lamar ke orang tua si gadis. Dan si gadispun akan merasa digantungkan berlarut-larut tanpa ada kepastian dari si lelaki. Jika kamu memang lelaki yang baik dan serius, maka exit strategy kamu adalah melamar. Karena kamu tahu jelas goal dan garis finishmu. Jika kamu pebisnis maka kamu akan serius dan bersungguh-sungguh saat kamu punya exit strateginya.

Exit strategy ibarat sebuah mimpi bagi seorang pebisnis. Jangan remehkan mimpi itu, walaupun usahamu hanya bermodalkan 200ribu rupiah sekarang. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang melarangmu untuk menjadi pebisnis dengan exit strategy dengan terdaftar di bursa saham. Tidak ada.

Semakin kamu tahu exit strategymu, semakin kamu berjalan ke arah mimpimu, dan semakin cepat pula kesuksesan usahamu itu terwujudkan…

#JanganKasihKendor
@HendrikoFirman

  1. Singkat, padat, tepat. Makaci buat ilmunya ya… Banyakin artikel bisnisnya, biar kita semua bisa belajar, Yut. Hehehe… Good job and good luck! ^_^

    • Makasih mbah, iya nih belajr buat rutin nulis lagi aku

      • Iya, bagus. Semangat dan good luck buat program “back to write”-nya yaa… ^_^

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: