ARAH, GEJALA DAN PERSPEKTIF MAHASISWA INDONESIA HARI INI

image

Oleh: HENDRIKO FIRMAN (Ditulis untuk Esai Sayembara Penulisan Esai Mahasiswa Tahun 2012)

  

Berikan aku 10 pemuda dan akan ku goncangkan dunia.

(Ir. Soekarno)

 

            Indonesia masa depan akan ditentukan oleh pemuda-pemuda yang berkarakter dan tercerahkan pada hari ini. Apabila generasi saat ini masih mengikuti arah dan perspektif tipikal mahasiswa dulu, yang  notabene adalah para pemimpin sekarang. Maka kita tidak ubahnya negara yang masih sama di 20-50 tahun kedepan, yaitu tetap sebagai negara yang di cap maling, over birokratis, negara dunia ketiga dan selalu diremehkan.

            Arah, gejala dan perspektif mahasiswa hari ini menentukan bagaimana posisi Indonesia di 20 sampai 50 tahun kedepan. Karena, mahasiswa hari ini adalah para policy maker di masa depan. Dan tulisan ini, ingin mencoba melihat Indonesia di masa depan melalui beberapa indikator-indikator, seperti arah, gejala dan perspektif mahasiswa hari ini di Indonesia.

Mahasiswa Dulu

            Di Indonesia ada anggapan umum bahwa ada 4 sampai 5 angkatan mahasiswa yang membentuk sejarah negara ini. Ada angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998. Akan tetapi dari semua angkatan ini, yang bisa mengubah struktur politik dan apolitik Indonesia pada saat itu yaitu angkatan 1928, 1966 dan 1998. Walau masih debatable, angkatan-angakatan inilah yang memiliki arah, gejala dan perspektif yang kontras dibandingkan angkatan-angkatan mahasiswa lainnya

            Mari mulai dengan angkatan 1928. Mahasiswa angkatan ini lahir dari kondisi Indonesia yang dipenuhi dengan sabotase, pelarangan, dan iklim politik dunia yang sangat fluktuatif dari kolonialisme Belanda. Di tahun-tahun inilah terlihat sebuah kematangan (maturates) mahasiswa Indonesia pertama kali. Mahasiswa dan pemuda yang bersekolah di sistem kolonialisme menggalang sumpah pemuda dan terbentuklah jong-jong (Belanda: pemuda) yang merepresentasikan wadah mahasiswa untuk beraktifitas. Di tahun ini mahasiswa dipaksa untuk bergerak, disebabkan oleh kondisi zaman (zeitgeist) yang memaksa mereka untuk melakukan sesuatu untuk memajukan bangsanya. Dan mau tidak mau dari kuantitas yang kecil ini timbullah pergerakan yang masif, karena mahasiswa pada saat itu merasa mereka sudah cukup matang berdialektika dengan para penjajah. Disamping keterpaksaan tersebut elitisme juga muncul dikarenakan timbulnya strata sosial baru yang disebut kaum terpelajar. Dan hal inilah yang membuat corak mahasiswa pada saat itu begitu berkarakter.

            Di tahun 1966, mahasiswa dipaksa untuk ikut dalam euforia rezim demokrasi terpimpinnya Soekarno. Politik adalah panglima negara! Dimana-mana semua orang berbicara politik dengan berahi. Dan tentu saja mahasiswa adalah kelompok yang empuk untuk mensukseskan iklim politik tersebut. Catatan harian Ahmad Wahid dan Soe Hok Gie adalah salah satu contoh bagaimana keras dan menjamurnya aktivitas politik mahasiswa pada zaman itu. Di sisi lain manifesto NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) adalah mata uang untuk diperbincangkan pada saat itu, dan otomatis, mahasiswa pada saat itu, kaki kanannya berada di ladang intelektuil (akademis), dan kaki kirinya di ladang politik praktis. Sehingga bisa dikatakan arah, gejala dan perspektif mahasiswa angkatan 66’ tak lain disebabkan oleh presiden yang megalomania, komunis yang merebak (versi mereka dengan 50 juta pengikut), dan politik praktis yang mulai politician style dan bukan sebagai negarawan (statesman style) seperti pada generasi pra-kemerdekaan dulu.

            Sebaliknya, mahasiswa angkatan tahun 1998 menjadi mati gaya. Soeharto dengan rezim diktatoriatnya menghancurkan segala praktek-praktek politik dan kritik pada negara ini. Ekonomi adalah panglima negara! Negara di kendalikan baik dalam kondisi alam sadar (conscious) maupun alam bawah sadar (subconscious), bahkan Taufik Abdullah mengatakan era itu sebagai greedy state (negara serakah), karena praktek penetrasi pemerintah untuk mengontrol rakyat baik dari segi kongkret (aktivitas politik) maupun segi abstrak (memori kolektif). Sehingga kran-kran untuk berdemokrasi nyaris tidak ada, dan pemilu hanya bersifat simbolis.

Mahasiswa angkatan 1988 adalah mahasiswa yang lahir dari perspektif ini, dan sehingga walaupun merasakan euforia demokrasi dan mencoba untuk serius bernegara, akan tetapi angkatan ini juga pupus (tetap cacat) tetap tidak bisa melanjutkan demokrasi normatif, karena alam bawah sadar mereka seperti diutarakan diatas tetap berkarakterkan orde baru (rezim dengan kebocoran APBN 30% tiap tahun).

            Bisa dikatakan ketiga angkatan-angkatan ini memiliki corak tersendiri, arah tersendiri dan gejala sendiri. Melihat pola dan zeitgeist mahasiswa masa itu kita bisa memberikan asumsi dasar akan betapa optimisnya kita pada bangsa ini atau pesimisnya kita pada negara ini. Dan dari ketiga angkatan ini jelas, arah, gejala dan perspektif mahasiswa menentukan jalannya negara tersebut dikemudian hari. Dan menariknya hari ini, mahasiswa Indonesia diubah bukan oleh internal lagi (seperti angkatan atau kondisi politik pada masa itu) tapi diubah oleh kondisi-kondisi eksternal.

Mahasiswa Sekarang

Modus mahasiswa sebagai ladang eksistensi, berlimpahnya jumlah mahasiswa (dengan berserakkannya beasiswa), serta peran dunia Informasi dan Teknologi (IT) membuat mahasiswa hari ini, masuk kedalam arah, gejala dan perspektif yang berbeda.

Mahasiswa hari ini bukan hasil produk dari mahasiswa-mahasiswa dulu lagi, akan tetapi pabrik dari diri mereka sendiri. Dan apa yang membuat mahasiswa sekarang begitu berbeda dengan angkatan terdahulu? Yaitu: The iGeneration. New York Magazine-lah yang mempopulerkan julukan tersebut. The iGeneration adalah generasi melek informasi dan teknologi. Dimana bersentuhan (keep in touch) dengan dunia maya setara dengan azas hak untuk hidup (the right to life). Dan mahasiswa Indonesia hari ini pun tidak bisa tidak, telah mulai dicap masuk kedalam generasi ini. Social network seperti Facebook (marak 2009) dan Twitter (marak 2011) membuat arah gejala dan perspektif mahasiswa hari ini sangat kontras, sehingga mereka menjadi pribadi utuh dari diri mereka sendiri yang membedakan  generasi angkatan mahasiswa ini dengan angkatan-angkatan lain.

Mahasiswa hari ini tidak terpengaruh oleh dunia politik yang penuh kedustaan dan penuh pencitraan, karena mereka tahu, kondisi sebenarnya dari negara ini berada di dunia maya, dan dari media inilah mahasiswa hari ini mengambil keputusan, dan akhirnya membentuk karakter mereka sebagai agent of change. Mereka tidak percaya lagi dengan politisi di TV, koran, radio maupun majalah, mereka percaya pada sesuatu diluar sana yang dikenal sebagai netizen, milis, social media, messenger,  dan forum diskusi online. Inilah yang membedakan mahasiswa hari ini dan mahasiswa dulu, yaitu aksesbilitas informasi independen, objektif dan tanpa tendensi yang dikenal dengan nama internet.

Arah Mahasiswa Saat Ini

Dengan tipikalnya sendiri melalui internet yang melahirkan The iGeneration tadi, mahasiswa hari ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang tidak perlu dihantui oleh rezim penjajah (angkatan 1928), rezim megalomania (angkatan 1966), dan rezim diktator (angkatan 1998). Hari ini mahasiswa disusupi oleh semangat perubahan dengan tak terbatasnya perihal inspirasi, motivasi dan berbagi (salah satu unsur positif IT) yang direspon sangat agresif oleh pemuda/mahasiswa Indonesia.

Arah mahasiswa hari ini menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi untuk melahirkan para calon-calon pemimpin dunia (next world leader). Dimana, kita berbicara tentang pemimpin yang menginspirasi seperti Ahmadinejaad, Muhammad Yunus, Mahatmha Gandhi, sekjen PBB, dan hal sejenisnya, yang jelas dalam term ini bukan sebagai pemimpin mediokritas. Hal ini disebabkan karena murahnya akses dan konektivitas ke seluruh negara. Mahasiswa Indonesia hari ini bisa mengikuti forum-forum dunia tingkat internasional – yang sebelumnya langka dan mahal – yang dari sana para mahasiswa Indonesia bisa melihat contoh kongkret tipikal calon pemimpin dunia saat ini. Disamping semakin banyaknya mahasiswa Indonesia yang diterima di sekolah top seperti di ivy league atau Cambridge dan Oxford, mahasiswa yang bersekolah disana, mereka  juga terlibat aktif dalam dewan mahasiswa dikampusnya tersebut.

Arah mahasiswa Indonesia ini juga menunjukkan mereka akan melakukan sinkronisasi (synchronize) dengan SDM mahasiswa luar. Gap kebodohan, kesenjangan fasilitas dan sistem pendidikan yang korup membuat mahasiswa Indonesia hari ini siap untuk berkompetensi dengan mahasiswa luar negeri. Hal ini disebabkan oleh internet dan keberpartisipasian di forum internasional tadi. Sebagai contoh kecil, salah satu congress pemuda terbesar di dunia World Youth Congress 2012 di Rio Jenairo Brazil pada Juli nanti, diikuti oleh participant terbanyak nomor 1 Amerika Serikat, dan participant terbanyak kedua yaitu Indonesia. Ini hanya salah satu contoh forum dunia dimana mahasiswa Indonesia mulai menunjukkan kelasnya setara dengan pemuda dan mahasiswa lainnya di negara-negara maju.

Arah selanjutnya dari mahasiswa hari ini adalah penggiringan mahasiswa ini secara besar-besaran untuk menjadi entrepreneur atau investor. Kenapa? Karena zeitgeist semakin digalakkan oleh pemerintah. Hasil dari advokasi kewirausahaan ini akan melahirkan entrepreneur dan investor tadi dengan kualifikasi sebagai berikut: mahasiswa Trial and Error (gagal coba lagi), dimana mahasiswa ini akan jatuh bangun dalam menjalankan bisnis dengan less capital company-nya. Mahasiswa Big Boss (tuan besar), adalah mahasiswa yang telah memiliki profit usaha yang settle dan stabil. Dan sebagai investor yaitu mahasiswa CEO, ini adalah mahasiswa yang menemukan sesuatu (inventing) dan menjalankan bisnis dengan sistem, strategi taktis yang profesional, yang akan membangun kerajaan bisnis dengan omset miliaran rupiah dan ratusan sampai ribuan tenaga kerja.

Indonesia di 20 sampai 50 tahun kedepan adalah negara dengan banyak muncul calon pemimpin dunia (the next world leader): para CEO dan entrepreneur. Arah mahasiswa hari ini sangat kuat sekali untuk mewujudkan hal tersebut.

Gejala Mahasiswa Hari ini

            Arah mahasiswa tersebut bisa dilihat dari gejala mahasiswa hari ini yang sangat berkarakter sekali, ini ditandai dengan berkurangnya aktivis fighter atau aktivis jalanan yang pada era 60-90an menjadi tipikal mahasiswa yang vokal. Sekarang mahasiswa Indonesia lebih cerdas dan bisa memetik pelajaran dari aktivis pada generasi sebelum mereka. Aktivis mahasiswa hari ini percaya sistem harus dilawan dengan sistem, dan kegiatan turun langsung ke jalan (demo) bukanlah sebuah sistem. Hari ini, dengan jiwa patriot dan semangat perubahan, para mahasiswa ini masuk kedalam sistem dan mencoba memperbaiki sistem itu. Mereka merasa aktivis jalanan juga penting untuk sarana pemberitahuan publik. Akan tetapi dari skala prioritas gejala mahasiswa hari ini mereka lebih memilih menjadi aktivis jalanan yang “partisipatif”. Sebagai contoh, mereka menjadi guru untuk kegiatan pendidikan di desa-desa terpencil selama 1 tahun untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia (program Indonesia Mengajar), menjadi aktivis membantu anak-anak jalanan dengan menciptakan komunitas nonprofit yang independen (komunitas Save Street Child), menjadi volunteer atau aktor untuk menciptakan generasi budaya baca (reading cultures) pada anak muda Indonesia (komunitas Books Reader), mengumpulkan buku untuk anak-anak di Aceh (program 1Man 1Book 4 Aceh), melakukan gerakan hidup ramah lingkungan dan gerakan hijau (organisasi Care Environmental Organization), menjadi aktor untuk menciptakan pemimpin muda Indonesia di masa depan (program Indonesian Future Leaders yang digagas oleh mahasiswa S1 tahun ke-2 yang telah memiliki 4000 lebih anggota), dan ratusan contoh komunitas nonprofit, organisasi, voluntarisme mahasiswa/pemuda lainnya yang menjadi antitesis demo di jalan-jalan.

            Gejala berikutnya yang menyebabkan perubahan besar di Indonesia di 20-50 tahun kedepan yaitu berseraknnya wadah untuk berpartisipasi (komunitas, lembaga, organisasi, dll), skeptisnya mahasiswa hari ini terhadap partai politik, semakin cepatnya pemahaman anak muda sekarang khususnya mahasiswa untuk menguasai bahasa Inggris, dan terakhir semakin banyaknya apresiasi dan fasilitas mahasiswa hari ini untuk terus melakukan perubahan dan berkontribusi.

            Berserakannya wadah seperti forum-forum mahasiswa akan membuat interaksi dan transfer wawasan akan semakin cepat. Tercatat semakin banyaknya forum/summit/conference yang mengajak para mahasiswa untuk lebih aktif dan berkontribusi. Salah satu contoh kongkret yaitu Forum Indonesia Muda (FIM), forum ini adalah salah satu forum independen yang menjaring secara selektif mahasiswa berkualitas untuk dikarantina/brainstorming untuk memiliki semangat nasionalisme dengan menguatkan kepada 7 pilar kepemimpinannya. Forum ini telah memiliki 11 angkatan yang diselenggarakan awal tahun 2000. Alumni forum ini adalah SDM-SDM yang menjadi presiden BEM di kampusnya, change maker di lingkungannya, dan sederet prestasi simbolis lainnya, dimana mahasiswa ini telah memiliki prestasi di tingkat nasional dan internasional. Yang lainnya yaitu Young Leader Summit (YLS), Indonesia Change Maker (ICM), Indonesia Youth Conference (IYC), Young On Top (YOT), Young Leader for Indonesia (YLI), ASEANpreneurs, Future Leader Summit (FLS), dan puluhan lainnya. Forum mahasiswa ini adalah forum prestisius modern yang menjaring mahasiswa terbaik dan memiliki karakter positif di kelas dan bidangnya masing-masing guna menciptakan perubahan positif yang massif dengan goal-nya masing-masing. Misal FIM lebih ke nasionalisme dengan 7 pilar kepemimpinannya, YLS ke penyampaian pesan perdamaian global, ASEANpreneurs ke hal-hal kewirausahaan, dll.

            Gejala terakhir adalah semakin bertambahnya fasilitas dan apresiasi untuk berkontribusi sebagai aktivis partisipatif. Hibah (grant) untuk ide bisnis adalah salah satunya, Bank-bank sekelas Mandiri, BNI, Bank Dunia dll mencoba untuk mem-boosting mahasiswa untuk terjun di bidang entrepreneurship. Penghargaan, award, dan hibah pun juga diberikan dibidang sosial entrepreneur. Young Changemaker ASHOKA salah satunya, tiap tahun yayasan ini memberikan apresiasi kepada komunitas humanis, sosial, dan pendidikan yang telah melakukan perubahan di sekitarnya. Dan yayasan ini memberikan 20 penghargaan kepada komunitas terbaik tiap tahunnya dengan reward materi dan immaterial.

Perspektif Mahasiswa Hari ini        

            Tindakan dan aksi mahasiswa hari ini telah diuraikan di penjelasan arah dan gejala. Hal ini dikategorikan sebagai concrete matter. Lalu bagaimana dengan abstract matter, seperti mindset, paradigma, frames atau perspektif mahasiswa hari ini? Ada 2 hal yang bisa dilihat jikalau kita terlibat langsung dalam aksi mahasiswa hari ini. Pertama, perspektif global minded, dan kedua berkurangnya kadar perspektif chauvinisme (separatisme movement) yang terlihat cukup menonjol hari ini.

            Dengan terjadinya penetrasi The iGeneration tadi ke Indonesia, maka tidak bisa dipungkiri lagi global minded (pemikiran untuk berglobalisasi) telah mulai dirasakan secara tidak langsung oleh mahasiswa hari ini. Banyak mereka yang sekarang connected dengan mahasiswa asing untuk bisa menyamakan ide, melakukan sesuatu dan menciptakan perubahan. Misalnya mahasiswa hari ini tidak segan untuk menggalang dukungan untuk palestina, tsunami Jepang, menjadi relawan di jalur gaza, relawan medis di Somalia, sampai yang paling ekstrim menjadi tentara jihad di Filipina. Ini adalah bukti mereka terkonek (connected) walaupun tidak pernah merasakan penderitaan di kawasan lain. Sehingga empati, simpati dan rasa untuk menolong telah terpateri dalam jiwa anak muda dan mahasiswa hari ini.

            Perspektif selanjutnya yang cukup menonjol adalah berkurangnya sense chauvinisme dari mahasiswa ini hari ini. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, akan tetapi salah satu faktor, disebabkan oleh stabilnya objektivitas mahasiswa ini terhadap negaranya karena mereka telah merasakan zaman yang tidak lagi konservatif. Prasangka-prasangka buruk semakin teredusir. Sekarang generasi Facebook dan social network, mahasiswa dan anak muda disusupi secara tidak langsung untuk mengharamkan separatisme atau chauvinism. Judge publik serasa lebih kuat, sehingga indikasi-indikasi untuk melakukan gerakan separatisme ini langsung diserang/ditekan/dijudge habis-habisan oleh komunitas di dunia maya. Yang menyebabkan chauvinism lebih terarah kepada mitos ketimbang realitas yang diterima hari ini. Memang masih ada tindakan chauvinisme yang merujuk kepada separatisme, akan tetapi angkanya menurun, hal ini ditandai dengan berkurangnya organisasi-organisasi bawah tanah yang memiliki afiliasi kepada tindakan separatis. Dimana sekarang tindakan dan fakta sosial chauvinisme atau ultra chauvinisme menjadi non popular dan ketinggalan jaman.

Kesimpulan

            Optimisme adalah kata yang menunjukkan karakter arah, gejala dan perspektif mahasiswa Indonesia saat ini. Optimisme membuat generasi mahasiswa ini menjadi kontras dengan angkatan-angaktan mahasiswa lainnya. Mahasiswa Indonesia hari ini ibaratnya akan menambal jalan yang berlubang dengan swadaya mereka disamping melakukan aksi advokasi dijalanan, mahasiswa hari ini akan menambal, menambah, menyempurnakan, menyuntikkan, mengisi dan memeriahkan tiap-tiap hal yang berhubungan dengan perubahan positif bagi negara dan bangsanya. Mereka mempertanyakan, tapi juga menjadi agent of change itu sendiri, mereka mempertanyakan tapi juga masuk dan memperbaiki sistem itu sendiri.

Mahasiswa hari ini menjadi anak yang entah berantah yang tidak memiliki DNA yang sama dengan senior-senior mahasiswa mereka yang sekarang yang telah mendustai amanat zeitgeist nya  pada masa itu.  Tak lain tak bukan, arah, gejala dan perspektif mahasiswa Indonesia hari ini telah memberikan kita secercah – yang tanpa paksaan – harapan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih kuat, mandiri, dan dipandang di mata dunia.

Terlepas dari pernyataan-pernyataan pesimis lainnya di luar sana, jelas, jikalau kita telah terlibat aktif, masuk, berpartisipatif dan merasakan zeitgeist mahasiswa hari ini, dan mengetahui tindak-tanduk mahasiswa angkatan dulu. Maka kita akan optimis melihat Indonesia di masa depan. Persis seperti yang dikatakan oleh Franklin D. Roosevelt: “we cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future” (kita tidak bisa terus membentuk masa depan untuk pemuda kita, tapi kita dapat membentuk pemuda untuk masa depan kita), dan mahasiswa kita, mahasiswa Indonesia, telah mulai membangun masa depan itu. Semoga.

*Hendriko Firman adalah mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, dan alumni Forum Indonesia Muda 11.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: