INFORMASI DIGITAL DAN BUDAYA KITA

Are we becoming a gadget addicted generation?

Anak SMP ini memulai harinya dengan membuka gadget yang setia menemani harinya dimana saja. Hal pertama yang dibukanya adalah messenger yang masuk, setelah itu menge-twit apa yang ada dipikirannya, setelah itu membuka sosial network lain yang berjubel-jubel memenuhi bookmark smart phone-nya.

Inilah budaya mayoritas anak muda sekarang, yang oleh New York Magazine diberikan julukan sebagai “the iGeneration” – generasi yang melek informasi teknologi. Keep in touch dengan dunia maya adalah setara dengan azas hak untuk hidup (the right to life). Tidak bisa dipungkiri lagi jutaan anak muda sekarang tenggelam dengan liarnya perangkat informasi digital yang tahun lalu tumbuh melewati angka 50% per tahun ini. Bisa dibayangkan statistik ini satu dekade kemudian. Tiap individu akan memiliki 3 jenis handphone, tablet, komputer jinjing, perangkat-perangkat lain yang portable yang sengaja tidak di compatible- kan (gabung) dengan tujuan komersialime.

Aneh, begitulah hal yang terjadi pada awal abad 20 ini. Kekuatan informasi sekarang sangat diagung-agungkan, dimana kekuatan informasi bisa mengalahkan kekuatan politik klasik dan tank-tank perang. Dengan informasi sosial network dari HP GPRS kita bisa mengetahui secara real time telah terjadi kudeta dinegara lain atau tidak dalam hitungan seken. Juga dengan informasi satelit GPS sekarang kita bisa melacak rombongan Al Qaeda yang bersembunyi layaknya investigator mata-mata seperti di novel The Bourne Series karya Robert Lundlum.

Banyak orang yang mengkritik cepatnya arus hidup seperti ini. Terlebih dari generasi X yang lahir dari carut-marutnya konstelasi politik pada masa perang dingin. Dimana mereka lahir dalam amukan depresi perang dingin yang menyebabkan mereka bersikap dan dicap sebagai generasi yang malas yang kurang rasa tanggung jawab (slacker). Mereka tahu bahwa semua ini terlalu cepat seperti yang diutarakan oleh Camerlengo Patrick McKenna dalam novel Angel and Demons, ”Ilmu pengetahuan kehilangan arah”. Apakah ini semacam kecemburuan untuk sebuah better life. Atau sebuah reaksi ketakutan yang seharusnya. Yang jelas generasi sebelumnya merasa resah dengan ini semua, arus informasi digital mereka ibaratkan seperti wanita hot yang tidak jelas bibit bebet bobotnya. Sebuah dilema.

Fungsi Awal yang Hilang
Fakta menarik tentang informasi digital sekarang adalah kita hidup dengannya. Lihat saja pemilu elektronik (eElection), KTP elektronik (eKtp), menyimpan uang (eBanking), semua. Semua hal yang bisa di “e” kan akan dilakukan demi slogan abad ini: “efisiensi”. Kecenderungan yang terjadi saat kita terlalu dekat dengan info digital ini adalah: ketergantungan dan gangguan konektivitas kita antar sesama manusia. Hilangnya kontak yang real time dan kontak yang memakai unsur emosional menjadi teredusir. Kita lebih cenderung menggunakan informasi digital sebagai life style, entertain, status sosial, dsb.

Bukan berati Anda harus menjadi anti elektronis terhadap semua hal. Tapi poin dari bertambahnya kekhawatiran kita adalah hilangnya fungsi awal dari informasi digital tadi: Positive value. Ya, itulah tujuan informasi digital. Membuat yang pintar tambah mengajarkan orang lain untuk pintar, yang bodoh agar jadi pintar, yang tidak tahu menjadi tahu. Tak kurang tak lebih fungsi dari informasi digital awal yaitu untuk benefitas positif manusia.

Tapi apa yang terjadi sekarang? disaaat gadget HP hanya digunakan sebagai alat status sosial dan validitas respek antar sesama. Saat sebuah tablet menjadi alat tempat memutar film dan games saja. Saat internet digunakan hanya sebatas bermain judi poker. Saat komputer jinjing menjadi harga mati ikon kepemilikan abad ini. Ya begitulah adanya. Orang lebih malu tidak memiliki laptop dibanding tidak memiliki kitab suci dirumah/kontrakan/kosannya. Ironis dan menyedihkan.

Ini bukan salah kapitalisme, ini bukan salah kemisikinan negara ini, juga bukan salah koruptor yang merongrong negara ini (mungkin sedikit). Tapi ini adalah akumulasi pembiaran kita terhadap pola hidup yang konsumtif yang merendahkan fungsi benefitas positif dalam hidup ini. Ya, disaat begadang dianggap life style urban. Disaat duduk dicafe melambangkan kita up to date. Disaat fashion menjadi penghormatan orang lain pada kita. Faktanya kita yang memilihara prinsip-prinsip pencitraan ini. Inilah fenomena yang cukup menggelikan yang diterima oleh akal sehat kita.
The iGenerartion telah kehilangan arah, mereka menjadi objek bukan subjek lagi. Mereka menjadi figuran bukan pemain utama lagi. Generasi ini didikte oleh gadget bukan generasi ini yang mendikte gadget. Kebutuhan dikalahkan dengan keinginan.

Informasi Digital Sehat
Jadi, apa yang harus kita lakukan di sat nasi telah menjadi bubur. Terutama di negara-negara berkembang yang pertumbuhan kelas konsumtifnya (baca: menengah) terus meningkat tiap tahunnya. Indonesia contohnya, dengan pendapatan perkapita diatas $3.000 maka orang-orang akan berlomba-lomba untuk membelanjakan uangnya. Aksebilitas dan liquid-nya uang semakin cepat dan masif. Maka secara normatif hal ini tidaklah bisa dibendung. Karena ini berkaitan dengan teori klasik: ada permintaan ada penawaran. Ya benar, tapi ada juga teori yang mengatakan: ada problem, ada solusi.

Intinya kita tidak bisa membendung budaya konsumtif. Tapi solusinya yaitu kita bisa membendung dari segi psikologis dan latar belakang dari penggunaan informasi digital ini. Dengan sosialisasi informasi digitial sehat besar-besaran dari individu, kelompok, pemerintah maka akan ditemukan hakekat sebenarnya dari fungsi dan peran informasi digital ditengah-tengah masyarakat.

Dengan sehatnya informasi digital, maka kita tidak akan melihat lagi rutinitas anak SMP yang bangun tidur dan hidup dengan absurnitas. Ia bangun mungkin akan mengecek messenger dari sahabat penanya di Eropa tentang charity buat anak-anak miskin, membuka situs portal berita (bukan gosip), mendownload konten-konten motivasi psikologi, atau mengecek apakah bisnis online kecil-kecilanya menerima pesanan atau tidak. Indah. Sangat indah sekali. Inilah masa depan The iGeneration pada hakekatnya. Benefitas antar manusia. Semoga.

  1. semogaa…amiiiiin.

    i like this post..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: