Resensi Buku: Menalar Tuhan

MENGGAPAI NALAR KETUHANAN DENGAN     KEJUJURAN INTELEKTUAL

Judul buku : Menalar Tuhan

Pengarang : Franz Magnis – Suseno

Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 2010

Tebal : 245 halaman

Menalar Tuhan, itulah yang sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat filsafat sampai 200 tahun lalu. Di permulaan abad ke-21, pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filosof. Kemudian, di panggung filsafat muncul paham ateisme di mana Tuhan berada di luar batas-batas wacana rasional. Situasi ini menghadapkan manusia inteletktual yang tetap percaya pada Tuhan dengan pertanyaan: apakah imannya lebih dari sekedar warisan indah tradisi-tradisi yang sudah berumur ribuan tahun? Apakah ia dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan pada Allah secara rasional? Apakah masuk akal masih percaya kepada Tuhan?

Buku ini ditulis oleh seorang guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Franz Magnis Suseno, sebagai seorang yang beragama, mencoba meluruskan nilai dan jalan kita  melihat ketuhanan secara lebih terang benderang dengan runtutan-runtutan pemikiran yang lebih terarah dan tidak terkesan subjektif. Buku ini – yang berkembang dari kuliah-kuliah ketuhanan yang diberikannya di kampus, dimaksudkan untuk  mengsingkroniskan pertanyaan tentang: apakah orang yang ingin berpikir jujur dan berkeyakinan humanis masih dapat percaya kepada tuhan?

Barangkali orang mengatakan bahwa pertanyaan ini di Indonesia tidak mendesak. Di Indonesia orang berkesan masih kental beragama. Kesannya, masalah di Indonesia bukan kekurangan, melainkan kelebihan-kelebihan ketuhanan. Tak ada hari dimana media tidak membawa berita yang berkaitan dengan agama dan orang-orang  berketuhanan. Di Indonesia, yang menjadi masalah bukan ketuhanan, melainkan bagaimana ketuhanan dapat dihayati dengan cara yang tidak bertentangan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Buku ini terbagi dalam delapan bab, bab pertama, sebagai bab pendahuluan, bertanya untuk apa dan bagaimana Tuhan perlu dinalar. Dalam bab kedua kita melihat betapa majemuk pengahayatan ketuhanan dalam umat manusia. Bab ini mau membantu agar kita tidak sempit mengira seluruh umat manusia mengahayati ketuhanan seperti kita sendiri. Bab ketiga menggariskan perubahan-perubahan mendalam dalam pengertian diri manusia di ambang modernitas dan apa dampaknya pada pengertian tentang ketuhanan. Dalam bab ke-empat buku ini membicarakan secara kritis lima tokoh ateisme modern paling berpengaruh: Feurbach, Marx, Freud, Nietzsche, dan Sartre. Salah satunya Nietzsche yang dengan lantangnya mengatakan “Allah telah mati!… dan kamilah yang membunuhnya!… Tak ada tindakan lebih agung” (hal 76). Bab lima membahas apa yang oleh Magnis Suseno anggap sebagai tantangan terbesar terhadap penalaran tentang Tuhan, yaitu agnostisisme, anggapan – yang bertolak dari epistemologi Immanuel Kant – bahwa tentang Tuhan kita tidak dapat mengetahui sesuatu, jadi bahwa filsafat harus diam tentang Tuhan. Pembahasan ateisme dan agnostisme membuka jalan untuk bertanya secara positif: dapatkah nalar menemukan  petunjuk-petunjuk tentang adanya Tuhan? Bab enam membicarakan tiga “jalan ke Tuhan” yang sudah “klasik”, argumen ontologis, argumen kosmologis dan argumen teologis. Jalan-jalan in mau menunjukan bahwa apa yang kita temukan di alam pengalaman, tidak dapat dijelaskan kalau tidak ada Tuhan. Kita akan melihat bahwa, meskipun tiga jalan ini memang menunjuk pada Tuhan, tetapi juga mempunyai kelemahan-kelemahan serius. Di bab tujuh Magnis  Suseno mengikuti cara yang berbeda. Ia tidak lagi menarik kesimpulan dari realitas duniawi ke Tuhan, melainkan mencoba menunjukan, degan bertolak dari empat penghayatan, bahwa manusia, dalam pengalamannya dengan dunia, selalu sudah bersentuhan dengan Tuhan dan bahwa dalam arti ini – para filosof menyebutnya trasendental – manusia mempunyai pengalaman tentang Tuhan, meskipun sebagai latar belakang dan bukan sebagai objek. Di antara empat penghayatan ini yang akan kelihatan bersentuhan dengan Tuhan dengan paling mengesankan adalah hati nurani. Dalam bab delapan buku ini membahas hubungan antara Tuhan dan dunia. Di antaranya dibahas masalah bahasa tentang Tuhan, penciptaan dan pertanyaan apakah kemahakuasaaan Tuhan masih mengizinkan ruang bagi kebebasan manusia. Sebagai bahasan akhir, Magnis Suseno mengangkat masalah yang sejak lama dianggap masalah filsafar ketuhanan paling berat, yaitu bagaimana, kalau ada Allah yang mahatahu, mahakuasa dan mahabaik, bisa ada sedemikian banyak kejahatan dan penderitaan di dunia.

Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, yang percaya tentunya akan bertambah keimanannya, dan yang masih atheis atau agnotis (meragukan tuhan) tentunya bisa merasakan sensasi fatasi untuk mempercayai tuhan walaupun dengan afirmasi kata-kata. Dalam kejujuran intelektual buku ini ingin ingin mendalami pertanyaan tentang dasar-dasar rasional kepercayaan akan Tuhan. Buku ini bukan mengenai agama, melainkan mengenai Tuhan, ya Allah bagi mereka yang percaya pada satu Tuhan mewahyukan diri

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: