ISLAM DI NUSANTARA

1. Nusantara pra-Islam

Islam di Asia Tenggarak khususnya di nusantara menyajikan kepada kita bukti-bukti dari dalam maupun dari luar mengenai sejarahnya, sama  seperti tradisi keagamaan lainnya. Bukti dari dalam berkaitan dengan soal iman sebagaimana bukti internal mengani peralihan Inggris menjadi Kristen.

Karya-karya etnografi yang sejak seratus tahun terakhir menyinggung tradisi “animis” Asia Tenggara memperlihatkan dengan sangat jelas konsistensi tertentu akan keyakinan keagamaan yang dianut. Segi umum paling mencolok dari system kepercayaan ini adalah keterlibatan terus-menerus orang yang telah meninggal dunia dalam urusan-urusan mereka yang masih hidup. Wabah penyakit, malapetaka, dan gagal panen dianggap sebagai akibat dari kejengkelan arwah leluhur yang tidak dihormati dengan upacara-upacara semestinya, atau akibat gangguan para arwah penasaran atau tidak bahagia yang mungkin hanya bisa dilawan dengan perlindugan roh leluhur yang baik atau bahagia. Ekspresi ritual dari keyakinan ini merupakan inti dari semua system keagaaman yang menylenggarakan upacara-upacara agama yang rumit bagi orang yang telah meninggal dan mendoakan arwah leluhur pada setiap ritus peralihan (rite de passage) atau pada upacara kalender pertanian.  Maka tidak aneh ketika diperlukan istilah untuk membedakan agama tradisional itu dari Islam atau Kristen sering dipakai nama “jalan para leluhur” (aluk to dolo di Sa’dan Toraja; Marapu di sumba Timur).[1]

yang menyertai peralihan sebuah Negara menjadi Islam, namun perbedaan di antara jenis campur tangan iliahiah itu tentu perlu pula diperhatiakan. Kronik-kronik Melayu seperti kronik Pasai, dan Melaka tidak berbeda secara mencolok dengan cerita-cerita yang berasal dari bagian dunia lain. Titik berat kronik-kronik tersebut adalah pewahyuan lewat mimpi, seperti kronik-kronik tentang penguasa Pasai dan kemudian Melaka, atau kekuatan mukjizat wali Allah, seperti Shaikh Said dari Pasai menyembuhkan penguasa Patani (Brown 1953:41-42). Kronik-kronik ini tidak ragu menggambarkan kekuasaan para penguasa dan asal-usul Negara dengan menggunakan konsep kekuatan magis (kesaktian) yang berasal dai masa pra-Islam, namun tampak jelas deskripsi proses Islamisasi dijaga agar tetap berada di dalam batas-batas yang dapat diterima oleh kalangan Muslim di sebagaimana besar dunia. [2]

Singkat kata dapat disimpulkan bahwa system keyakinan agama dominan nusantara ketika Islam datang pada abad ke-14 sampai abad ke-17 sarat dengan berbagai upacara pemujaan untuk orang yang sudah meninggal. Dibadingkan dengan pola umum ini, lingkup pengaruh kaum Brahmana pada sebagian besar istana kerajaan jauh lebih terbatas, kecuali barangkali di beberapa bagian pulau Jawa. [3]

  1. 2. Islam dan Islamisasi di nusantara

Penyebaran agama Islam merupakan suatu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, namun juga yang paling tidak jelas. Tampaknya para pedagang yang beragama Islam sudah ada dibeberapa bagian indonesia selama beberapa abad sebelum agama Islam memperoleh kedudukan yang kokoh dalam masyarakat-masyarakat lokal. Kapan, mengapa dan bagaimana penduduk Indonesia mulai menganut agama Islam telah diperdebatkan oleh beberapa ilmuwan, tetapi tidak mungkin dicapai kesimpulan yang pasti, karena sangat sedikitnya dan sering sangat tidak informatifnya sumber-sumber yang dapat diperoleh tentang islmasisasi.

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke Aceh yang hingga kini masih dikaji oleh ahli sejarah asing maupun lokal. Berdasarkan teori Gujarat Syamsidar menyebutkan bahwa Islam masuk ke Aceh dari anak benua India seperti Gujarat dan Bengali. Namun, teori Gujarat bisa dibantah oleh teori lainnya, karena masih terjadi polemik terhadap pencetus teori ini. Teori lain yakni teori Champa. Syamsidar mengatakan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, TS Raffles, dalam bukunya berjudul The History of Java bahwa Champa yang bukanlah seperti yang dikenal sekarang di Kambodia. Masuknya Islam di Indonesia melalui Aceh atau Barus, terdapat beberapa teori. Beberapa pandangan berbeda tentang masuknya Islam itu dapat dikaji dari beberapa segi. Syamsidar menyebutkan Islam pertama kali masuk melalui Aceh. Menurutnya, Barus merupakan awal masuknya pedagang Arab, cuma menurutnya pedagang Arab di Barus tidak seperti di Aceh. Ia bilang, pedagang Arab di Aceh sebelumnya hanya sebatas untuk melakukan aktivitas perdagangan.[4]

Di sisi lain Azyumardi Azra menyebutkan bahwa, pertama Islam dibawa langsung dari Arabia; kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar “professional” – yakni mereka yang memang secara khusus bermaksud menyebarkan Islam; ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa; dan keempat, kebanyakan para penyebar Islam “professional” ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13.” Jadi dengan mempertimbangkan berbagai uraian di atas, dapat dinyatakan bahwa mungkin benar Islam memang telah diperkenalkan awal mula sejak abad-abad pertama Hijriyah (sekitar abad ke-7 M), namun akselerasi persebaran Islam secara nyata baru terjadi sekitar abad ke-12 M dan masa-masa selanjutnya. [5]

Di sisi lain, petunjuk yang paling dapat dipercaya mengenai penyebaran agama Islam  berupa prasasti prasasti Islam (kebanyakan batu batu nisan) dan beberapa catatan para musafir. Batu nisan Islam yang tertua di temukan di Leran, Jawa Timur, dan berangka tahun 474 H (1082 M). ini adalah batu nisan sesorang wanita. Putri seorang yang bernama Maimun. Akan teteapi disangsikan apakah kuburan yang berbatu nisan itu benar-benar ada di Jawa, ataukah batu itu diangkut ke Jawa beberapa waktu sepninggal wanita itu karena beberapa alasan, (misalnya sebagai pemberat pada sebuah kapal). Bagaimanapun juga, karena orang meninggal itu tampaknya seorang muslim non Indonesia, maka batu itu tidak memberi kejelasan mengenai keberadaan agama Islam di antara penduduk Indonesia.[6]

Petunjuk pertama mengenai orang-orang Indonesia yang beragama Islam berkaitan dengan wilayah sumatera utara. Pada waktu itu musafir Venesia, Marco Polo, singgah di Sumatera dalam perjalanan pulanngya dari Cina pada tahun 1292, dia berpendapat bahwa Perlak merupakan sebuah kota Islam, sedangkan dua tempat didekatnya, yang disebutnya Basma(n) dan Samara bukanlah kota Islam. Basma(n) dan Samara sering diidentifikasikan dengan Pasai dan Samudra, tetepai pengidentifikasian ini mengundang pertanyaan. Ada kemungkinan bahwa Samara bukanlah Samudra, atau jika kedua nama itu sama maka Polo telah keliru menyebutkan bahwa kota ini bukanlah kota Islam, karena batu nisan penguasa pertama samudra yang beragama Islam, sultan malik as-salih, yang berangka tahun 1279  telah ditemukan. [7]

Sementara itu dalam manuskrip Bustanu’s Salatin (bs) karya Nuru’din Ar-Raniri menyebutkan bahwa pendiri kerajaan Aceh Darussalam adalah sultan ali mughayat sya. [8] Dalam manuskrip yang diedit oleh G. W.J Drewes dan P. Voohove disebutkan bahwa yang pertama jadi raja aceh Bandar darusslama adalah sultan johan syah yang mmerintah pada tahun 601 H (1184) dan baginda mangkat pada tahun 631 H. sultan johan syah ini menurut manuskrip bustanu’s salatin ini datang dari negeri atas angin dam mengIslamkan tanah aceh.[9]

Kapan agama Islam mulai dianut diantara masyarakat masyarakat pesisir Utara Jawa masih belum jelas. Pada tahun 1416 seorang muslim Cina, Ma Huan, mengunjungi daerah pesisir Jawa dan memberikan suatu laporan didalam bukunya yang  berjudul ying yai sheng lan (peninjauan tentang pantai pantai samudra, yang disusun pada tahun 1451) bahwa hanya ada tiga penduduk  di Jawa: orang orang muslim dan barat, orang Cina (diantaranya beragama Islam) dan orang Jawa yang menyembah berhala. Karena batu-batu nisan yang ditemukan di Trowulan dan Troloyo menunjukan adanya orang-orang Jawa yang beragama Islam di istana kira-kira lima puluh tahun sebelum masa itu, maka laporan Ma Huan itu  memberi kesan bahwa agama Islam  memang dianut oleh orang-orang dilingkungan istana sebelum penduduk pesisir Jawa mulai beralih ke agama ini. Sebuah batu nisan muslim kuno yang bertarikh 1405M telah ditemukan di Gresik, salah satu pelabuhan yang terpenting di Jawa Timur. Batu nisan ini menjadi tanda makam seorang yang bernama Malik Ibrahim, tetapi karena orang ini jelas bukan orang Jawa, maka batu nisan ini hanya menegaskan kehadiran orang muslim asing di Jawa, dan tidak menjelaskan lebih lanjut persoalan tentang masuknya penduduk pesisir Jawa dalam agama Islam. Akan teteapi, tradisi-tradisi lokal, traidsi yang tidak memiliki bukti tertulis menyebutkan bahwa Malik Ibrahim adalah salah satu seorang dari Sembilan wali Islam yang pertama di Jawa (wali sanga). [10]

Pada  awal abad XVI suatu sumber Eropa yang luar biasa membuka kemungkinan dilakukannya peninjauan secara umum mengenai agama Islam di kepulauan Indonesia. Tome Pires adalah seorang ahli obat-obatan dari Lisbon yang menghabiskan waktunya di Malaka dari tahun 1512 hingga 1515, segera setelah negeri itu ditakulkan oleh portugis pada tahun 1511. Dia banyak mengitari daerah-daerah nusantara dan menuliskan sebuah buku yang berjudul Suma Oriental[11] yang menunjukan bahwa dia merupakan seorang pengamat yang tajam. Menurutnya pada waktu itu sebagain raja-raja Sumatera beragama Islam, tetapi masih tetap ada negeri-negeri yang belum menganut Islam. Mulai dari Aceh di sebelah utara terus menyusur daerah pesisir timur hingga Palembang, para penguasanya beragama Islam. Disebelah selatan Palembang dan disekitar ujung selatan Sumatera hingga pesisir barat, sebagian besar penguasanya tidak beragama Islam. Di Pasai terdapat suatu komunitas dagang internasioanl yang sedang berkembang pesat dan Pires menghubung-hubungkan penegakan pertama agama Islam di Pasai dengan ‘kelilicikan para pedangan muslim itu’.

Dengan demikian, pemilihan waktu secara umum mengenai awal islmaisasi dapat ditetapkan sampai batas tertentu, namun masih terdapat pertanyaan-pertanyaan penting yang menimbulkan banyak perdebatan. Setelah beberapa abad lamanya orang-orang muslim asing singgah atau menetap di Indonesia, meggapa pengIslaman orang orang indoesia baru terjadi pada abad ke-13. Dan terutama pada abad ke-14 serta ke-15? Berasal dari manakah Islam yang masuk ke Indonesia? Dan bagaimanakah cara Islam berhasil menjadi agama ang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia?[12]

Untuk dapat menJawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu, maka ada kemungkinan orang akan berpaling dari sumber-sumber sejarah primer yang di bicarakan terdahulu kepada legenda legenda Indonesia yang mencatat bagaimana penduduk Indonesia sendiri menceritakan kisah tentang pengIslaman mereka. Seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Babad Tanah Jawi, Sejarah Banten. [13]

Islam dan Istana Majapahit

Menurut cerita tradisi Jawa yang terekam dalam berbagai macam bentuk sejak abad ke-17 dan seterusnya, sumber-sumber eksternal utama pengaruh Islam adalah Campa dan Pasai. Tokoh penting dalam kisah itu adalah puteri Campa, anak perempuan penguasa Campa yang kemudian menjadi istri raja Majapahit. Menurut tradisi Jawa, saudara perempuan puteri ini menikah dengan seorang pedagang Arab kaya raya di Campa dan dari ikatan perkawinan ini lahir satu atau dua anak laki-laki yang memadukan kesalehan Islam dengan darah biru yang diharapkan. Anak tertua, dalam versi-versi tempat di dimunculkan, berangkat ke Jawa untuk menjadi imam mesjid Gresik. Anak laki-laki yang lebih muda (beberapa versi mengatakan anak satu-satunya) adalah Raden Rahma yang terkenal itu, datang mengunjungi bibinya di istana Majapahit, tempat dia diterima dengan sangat istimewa. Akhirnya dia diperbolehkan oleh peguasa untuk meneruskan perjalanan ke Ampel dekat Surabaya untuk mendirikan sebuah komunitas keagamaan dan mengIslamkan setiap orang yang dia pilih. [14]

Factor-faktor yang belum cukup banyak dipertimbangakan dalam perbincangan tentang sejarah Jawa periode ini adalah kaitan antara hubungan eksternal Majapahit dengan Islamisasi. Bukti dari Nagarakertagama bahwa pemberi upeti raja Hayam Wuruk melebar hingga Sumatara bagian utara, Malaya, Campa dan Maluku dipandang sebagai sebuah kemungkinan adanya pengaruh Jawa di daerah-daerah ini. Namun kita tahu dari hubungan “pemberi upeti” Cina, Siam, Malaka dan tempat–tempat lain bahwa tukar-menukar upeti ini bersifat timbal-balik. Relasi perniagaan berkala antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan yang jauh itu tentu saja terjadi, karena hal ini dipertegas baik oleh sumber-sumber non-Jawa (Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Silsilah Raja-Raja Simbas, Hikaya Badjar) maupun oleh sejumlah besar tradisi lisan pulau-pulau bagian timur Indonesia. [15]

Bebarapa Negara yang mengklaim sebagai pemberi upeti Majapahit adalah Negara-negara Muslim, termasuk Haru, Perlak, Samudra (Pasai), Lamur dan Barus di Sumatera, serta barangkali Trengganu di Malaya. [16]

Hikayat raja-raja Pasai (161, teks Melayu, 102) melaoporkan tentang Majapahit bahwa, “terus datang dan pergi orang-orang dari wilyaah seberang lautan yang telah tunduk di bawah kekuasaan raja.” Beberapa di antara mereka tentu orang Muslim, termasuk sejumlah tawanan yang dibawa pulang dari ekspedisi majapahit yang berhasil dari Pasai.[17]

Sebagai kesimpulan kita perlu membedakan antara kemajuan bertahap yang dibuat  oleh Islam pada aras masyarakat dengan kemenangan yang berhasil diperoleh di istana kerajaan-kerajaan yang terpengaruh budaya India. Faktor kunci pada aras masyarakat adalah perubahan social Asia Tenggara yang pesat dan keamampuan praktik sufi yang telah tersaring lewat India pada abad ke-13 hingga abad ke-16 melayani dunia roh yang akrab bagi orang Asia Tenggara. Runtuhnya istana-istana yang terpengaruh budaya India ke tangan Islam memerlukan beberapa faktor penjelas tambahan, termasuk jaringan perniagaan dan hubungan upeti yang  dimapankan oleh Majapahit dan perimbangan kekuatan yang berlaku di Nusantara khususnya.

***

Fokus diskusi mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni: tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah dimensi proses dari interaksi awal dan lanjutan antara Islam dan penduduk lokal berikut konstruk kepercayaan atau agama yang telah ada sebelumnya.

Akan tetapi, masih tetapi ada pertanyaan yang penting: mengapa Islam dianut oleh begitu banyak orang indonesia hanya pada abad ke-13, ke-14,  dan 15 saja? Pada suatu waktu ada stereotype yang diterima secara luas, yang menggambarkan bahwa Islamisasi hanya berkaitan dengan para pedagang asing yang, melakukan perkawinan campuran dengan penduduk setempat dan dengan demikian membentuk komunitas-komunitas Islam; komunitas-komunitas itu kemudian berkembang ketika orang-orang Indonesia tertarik pada agama baru itu, yang etos persamaan haknya dianggap dapat membebaskan mereka dari belenggu sistem kasta Hindu. Pernyataan ini ditolak, karena tidak ada satu bukti  bahwa dalam kenyataan semua orang adalah sederajat di dalam komunitas-komunitas Islam; semua bukti  menunjukan Islamisasi dari atas dan tak satu pun di antara komunitas-komunitas Islam menganut paham yang menggangap semua orang adalah sama. [18]

Mungkin harus ditarik perbedaan-perbedaan antara daerah-daerah Indonesia yang berlainan. Ada bagian-bagian pesisir sumatera dan Jawa yang tidak diketahui sama sekali sebelum Islamisasi; dalam beberapa kejadian, kota kota bermunculan disana sebagai akibat adanya pemukiman orang-orang muslim jadian lainnya, orang-orang Indonesia yang tinggal di daerah itu mungkin belum terpengaruh secara berati oleh pemikiran-pemikiran Hindu-Budha, dan oleh karenya tertarik pada agama Islam yang membawa perlengkapan budaya, seperti keterampilan membaca. Akan tetapi, dipusat pusat budaya tinggi yang lama, hal ini tidak benar; di majapahit dan Bali, Islam menjumpai kendala budaya besar. Pengaruh budaya majapahit adalah sedemikian rupa, sehingga kerajaan-kerajaan penggantinya di Jawa hanya sedikit terpengaruh pemikiran-pemikiran Islam. Memang merupakan gejala dari perbedaan ini bahwa di Sumatera utara sudah ada sultan-sultan sejak akhir abad ke-13, sedangkan tak seorang pun raja Jawa yang diketahui secara pasti memakai gelar itu hingga abad ke-17. Akan teteapi, akan keliru apabila orang terlalu menekankan pada kedangkalan Islamisasi di Jawa. Walaupun Islam hanya mempunyai dampak yang sangat terbatas tergadap falsafah Jawa, tetapi agama ini telah menyebabkan terjadinya perubahan yang mendasar dalam kebiasaan social masyarakat Jawa, misalnya, semua orang Jawa yang memluk agama Islam akhirnya melakukan kitanan dan penguburan sebagai pengganti upacara-upacara keagamaan Hindu-Budha, seperti pembakaran mayat. Dengan demikian, masuknya seseorang ke dalam komunitas keagamaan yang baru ini ditandai secara jelas. Di Bali, karena sebab-sebab yang tidak jelas, kendala kendala budaya tidak dapat diatasi dan Bali masih tetap Hindhu sampai saat ini. Di semua daerah Indonesia, Islamisasi adalah awal, bukan akhir dari suatu proses perubahan yang penting. Tujuh abad kemudian, proses ini masih tetap berlangsung.[19]

Daftar Kepustakaan

Anthony Reid. Sejarah Asia Tenggara Sebuah Pemetaan. Jakarta. LP3ES. 2002. Hal.

A. B. Lapian (ed). Sejarah dan dialog peradaban. Yayasan obor Indonesia. Jakarta. 2005. .

Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur tengah dan Kepulanan Nusantara Abad XVII-XVIII. Mizan. Bandung. 1994.

Ricklefs. M. C. sejarah Indonesia Modren. Gadjah Mada Univesity Press. Yogyakarta. 2007.

Harian Sumut Pos, 16 septmeber 2009.


[1] Anthony Reid. Sejarah Asia Tenggara Sebuah Pemetaan. Jakarta. LP3ES. 2002. Hal. 20.

 

[2] Ibid., hal. 24.

[3] Ibid., hal.  25.

[4] Harian Sumut Pos, 16 septmeber 2009.

[5] Lihat, azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur tengah dan Kepulanan Nusantara Abad XVII-XVIII. Mizan. Bandung. 1994.

[6] Ricklefs. M. C. sejarah Indonesia Modren. Gadjah Mada Univesity Press. Yogyakarta. 2007. Hal. xii.

[7] Ibid., hal. xii.

[8] Nuru’d-din Ar Raniri. Bustan salatin. Edisi terjemahan. Iskandar. Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala lumpur. 1966. Hal. 31. Dalam A. B. Lapian (ed). Sejarah dan dialog peradaban. Yayasan obor Indonesia. Jakarta. 2005. Hal. 237-238.

[9] Adat Atjech. Verhandelngen van het Koninklijk Instituut voor Tal-, Land-, en Volkenkunde , jilid XXIV . 28-31.  Dalam A. B. Lapian (ed). Sejarah dan dialog peradaban. Yayasan obor Indonesia. Jakarta. 2005. Hal. 237-238.

[10] Ricklefs. M. C. ibid., hal. 6.

[11] Lihat, Tome Pires. Summa Oriental. McMillan. London. 1928. Dan Cortesao, Armando (ed & penerj.) The Suma Oriental of Tome Pires and the Book of Francisco Rodrigues. The Hakluyt Society. London. 1944.

[12] Ricklefs. M. C. ibid., hal. 11.

[13] Lihat, Olthof. W. L. (ed, dan Penerj.) Babad Tanah Djawi in Proza: Javaansche Geschiedenis. M. Nijhoff. Gravenhage. 1941 dan Ricklefs. M. C. A Consederation Of Three Versions Of Thr Babad Tanah Djawi, With Excerpts On The Fall Of Madjapahit. BSOAS XXXV. 1972.

[14] Anthony Reid. ibid., hal. 41.

[15] Ibid., hal. 42.

[16] Ibid., hal. 43.

[17] Ibid., hal. 43.

[18] Ricklefs. M. C. op cit., hal.  17

[19] Ricklefs. M. C. op cit., hal.  19.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: