ISLAMISASI ASIA TENGGARA

Islam di Asia Tenggara menyajikan kepada kita bukti-bukti dari dalam maupun dari luar mengenai sejarahnya, sama seperti tradisi keagamaan lainnya. Bukti dari dalam berkaitan dengan soal iman sebagaimana bukti internal mengani peralihan Inggris menjadi Kristen.

Hampir seluruh kronik Asia Tenggara mengambarkan peristiwa-peristiwa gaib yang menyertai peralihan sebuah Negara menjadi Islam, namun perbedaan di antara jenis campur tangan iliahiah itu tentu perlu pula diperhatiakan. Kronik-kronik Melayu seperti kronik Pasai, Melaka, dan Patani tidak berbeda secara mencolok dengan cerita-cerita yang berasal dari bagian dunia lain. Titik berat kronik-kronik tersebut adalah pewahyuan lewat mimpi, seperti kronik-kronik tersebut adalah pewahyuan lewat mimpi, seperti kronik tentang penguasa Pasai dan kemudian Melaka, atau kekuatan mukjizat wali Allah, seperti Shaikh Said dari Pasai menyembuhkan penguasa Patani (Brown 1953:41-42). Kronik-kronik ini tidak ragu menggambarkan kekuasaan para penguasa dan asal-usul Negara dengan menggunakan konsep kekuatan magis (kesaktian) yang berasal dai masa pra-Islam, namun tampak jelas deskripsi proses Islamisasi dijaga agar tetap berada di dalam batas-batas yang dapat diterima oleh kalangan Muslim di sebagaimana besar dunia.

Berrusan dengan arwah
Karya-karya etnografi yang sejak seratus tahun terakhir menyinggung tradisi “animis” Asia Tenggara memperlihatkan dengan sangat jelas konsistensi tertentu akan keyakinan keagamaan yang dianut. Segi umum paling mencolok dari system kepercayaan ini adalah keterlibatan terus-menerus orang yang talah meninggal dunia dalam urusan-urusan mereka yang masih hidup. Wabah penyakit, malapetaka, dan gagal panen dianggap sebagai akibat dari kejengkelan arwah leluhur yang tidak dihormati dengan upacara-upacara semestinya, atau akibat gangguan para arwah penasaran atau tidak bahagia yang mungkin hanya bisa dilawan dengan perlindugan roh leluhur yang baik atau bahagia. Ekspresi ritual dari keyakinan ini merupakan inti dari semua system keagaaman yang menylenggarakan upacara-upacara agama yang rumit bagi orang yang telah meninggal dan mendoakan arwah leluhur pada setiap ritus peralihan (rite de passage) atau pada upacara kalender pertanian. Maka tidak aneh ketika diperlukan istilah untuk membedakan agama tradisional itu dari Islam atau Kristen sering dipakai nama “jalan para leluhur” (aluk to dolo di Sa’dan Toraja; Marapu di sumba Timur).

Asia Tenggara ketika islma datang pada abad ke-14 sampai abad ke-17 sarat dengan berbagai upacara pemujaan untuk orang yang sudah meninggal. Dibadingkan dengan pola umum ini, lingkup pengaruh kaum Brahmana pada sebagian besar istana kerajaan jauh lebih terbatas, kecuali barangkali di beberapa bagian pulau Jawa.

Perubahan cepat dalam praktik pengrburan dengan diterimanya Islam tampaknya merupakan salah satu keberhasilan paling mencolok dari agama baru ini.

Untaian kosa-kata doa berubah ke dalam bentuk yang Islam jauh lebih capat daripada tujuan yang ingin dicapai oleh pamakainya. Sebuah doa yang dipanjatkan dalam bahasa Arab setidaknya sama ampuh dengan mantra yang digantikannya untuk mengusir roh-roh jahat atau memohon perlindungan arwah nenek moyang. Terminology berbahasa Arab dengan cepat memasuki wilayah keagamaan hampir di semua tempat –baca do’a (membaca sebuah doa bahasa Arab) menjadi istilah baku untuk kegiatan menyeru atau memohon keselamatan; roh (jamak arwah) diterima sebagai padanan yang Islami dari konsep pokok semangat (substansi roh) dalam budaya Austronesia; dan beberapa kata seperti berkat dan keramat merupakan gambaran kekuatan yang memancar dari makam para wali.

Diantara semua agama besar dunia, Islam barangkali yang paling serasi dengna dunia perdagangan, dan di dalam Quran maupun Hadis bertimbun-timbun pujian kepada “pedagang yang dapat dipercaya” yang memperoleh keuntungan dagang untuk kebutuhan sendiri, keluarganya, dan keperluan lain yang bermanfat. Di Asia Tenggara, Islam dibawa oleh para pedagang, dan dengan cepat mengubungkan dirinya dengan gaya hidup kota-kota niaga yang relatif makmur dan canggih.

Mereka yang cenderung bergerak dalam dunia perniagaan pasti segera terpikat dengan kepercayaan baru itu dengan alasan berbeda. Roh para nenek moyang, pepohonan, dan gunung-gunung tidak bisa dibawa berpergian dengan mudah. Pedagang yang berpindah-pindah tempat membutuhkan sebuah keyakinan yang dapat diterapakan secara lebih luas. Jika dia berdagang keluar pulau, maka dia perlu bekal bahasa Melayu dan butuh diterima oleh lingkungan serta ralasi disetiap kota perniagaan. Islam oleh lingkungan serta relasi di setiap kota perniagaan. Islam menyediakan system kepercayaan meupun system social bagi para pedagang ini.

Negara-Negara Besar
Ditempat lain, di Negara-negara kota besar, situasi segera berkembang menjadi “raja adalah penyembah berhala, sedangkan pedagang adalah orang Moor.” Demikianlah Rui de Briot ketika menggambarkan keadaan Brunei pada 1514 dan hal serupa tentu berlaku pula untuk Samudra Pasai pada 1282 (ketika seorang raja non-Muslim mengirim utusan Muslim ke abad ke-15, Banjarmasin awal abad ke-16, dan Makasaar akhir abad ke-16. Bahkan dipusat-pusat peradaban Buddha terbesar, Majapahit abad ke-14 dan Ayutthaya abad ke-15 hingga ke-17, para pedagang Muslim telah memantapkan diri dengan kokoh ibukota dan tampaknya memiliki hubungan lebih baik dengan istana ketimbang kelompok niaga lain, termasuk orang-orang Cinan non-Muslim. Namun istana-istana tersebut memiliki sejumlah tradisi kerajaan bersifat sacral yang tentu tidak sesuai dengan Islam, dan khusunya mereka memandang rendah semua komunitas pedagang sebagai orang-orang berstatus relatif rendah.

Perkawinan campuran antara para pedagang kaya atu syahbandar dengan lingkaran istana kerapkali disebut-sebut dalam hubungan itu. Perubahan yang terjadi biasanya disebabkan oleh keputusan yang diambil secara sadar, atau dengan unsure paksaan, untuk menerima jaran dan system social baru.

Islam dan Istana Majapahit
Menurut cerita tradisi Jawa yang terekam dalam berbagai macam bentuk sejak abad ke-17 dan seterusnya, sumber-sumber eksternal utama pengaruh Islam adalah Campa dan Pasai. Tokoh penting dalam kisah itu adalah puteri Campa, anak perempuan penguasa Campa yang kemudian menjadi istri raja Majapahit. Menurut tradisi Jawa, saudara perempuan puteri ini menikah dengan seorang pedagang Arab kaya raya di Campa dan dari ikatan perkawinan ini lahir satu atau dua anak laki-laki yang memadukan kesalehan Islam dengan darah biru yang diharapkan. Anak tertua, dalam versi-versi tempat di dimunculkan, berangkat ke Jawa untuk menjadi imam mesjid gresik. Anak laki-laki yang lebih muda (beberapa versi mengatakan anak satu-satunya) adalah Raden Rahma yang terkenal itu, datang mengunjungi bibinya di istana Majapahit, tempat dia diterima dengan sangat istimewa. Akhirnya dia diperbolehkan oleh peguasa untuk meneruskan perjalanan ke Ampel dekat Surabaya untuk mendirikan sebuah komunitas keagamaan dan mengIslamkan setiap orang yang dia pilih.

Factor-faktor yang belum cukup banyak dipertimbangakan dalam perbincangan tentang sejarah Jawa periode ini adalah kaitan antara hubungan eksternal Majapahit dengan Islamisasi. Bukti dari Nagarakertagama bahwa pemberi upeti raja Hayam Wuruk melebar hingga Sumatara bagian utara, Malaya, Campa dan Maluku dipandang sebagai sebuah kemungkinan adanya pengaruh Jawa di daerah-daerah ini. Namun kita tahu dari hubungan “pemberi upeti” Cina, Siam, Malaka dan tempat–tempat lain bahwa tukar-menukar upeti ini bersifat timbal-balik. Relasi perniagaan berkala antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan yang jauh itu tentu saja terjadi, karena hal ini dipertegas baik oleh sumber-sumber non-Jawa (Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Silsilah Raja-Raja Simbas, Hikaya Badjar) maupun oleh sejumlah besar tradisi lisan pulau-pulau bagian timur Indonesia.

Bebarapa Negara yang mengklaim sebagai pemberi upeti Majapahit adalah Negara-negara Muslim, termasuk Haru, Perlak, Samudra (Pasai), Lamur dan Barus di Sumatera, serta barangkali Trengganu di Malaya.

Hikayat raja-raja Pasai (161, teks Melayu, 102) melaoporkan tentang Majapahit bahwa, “terus datang dan pergi orang-orang dari wilyaah seberang lautan yang telah tunduk di bawah kekuasaan raja.” Bebereapa di antara mereka tentu orang Muslim, termasuk sejumlah tawanan yang dibawa pulang dari ekspedisi majapahit yang berhasil dari Pasai.

Sebagai kesimpulan kita perlu membedakan antara kemajuan bertahap yang dibuat oleh Islam pada aras masyarakat degana kemenangan yang berhasil diperoleh di istana kerajaan-kerajaan yang terpengaruh budaya India. Factor kunci pada aras masyarakat adalah perubahan social Asia Tenggara yang pesat dan keamampuan praktik sufi yang telah tersaring lewat India pada abad ke-13 hingga abad ke-16 melayani dunia roh yang akrab bagi orang Asia Tenggara. Runtuhnya istana-istana yang terpengaruh budaya India ke tangan Islam memerlukan beberapa factor penjelas tambahan, termasuk jaringan perniagaan dan hubungan upeti yang dimapankan oleh Majapahit dan perimbangan kekuatan yang berlaku di Nusantara khususnya.

SUMBER: Anthony Reid. Sejarah Asia Tenggara Sebuah Pemetaan. Jakarta. LP3ES. 2002

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: