Critical Review: Penelitian konflik suku dalam masyarakat multi-budaya

Dalam tulisannya Timo Kivimäki menyajikan tinjauan umum tentang perkembangan terkini studi konflik suku dalam kaitan dengan upaya memilihara perdamaian di Indonesia.  Dalam tulisannya Timo memusatkan perhatiannya pada 6 pokok bahasan:

1. Arah perkembangan konflik suku saat ini;

2. Akar penyebab konflik;

3. Suku dan konflik;

4. Strategi untuk mengatasi dan mencegah konflik;

5. Kemiskinan dan konflik suku;

6. Mencegah konflik melalui pertukaran pikiran

Karena disini saya sebagai kritikus amatiran mencoba untuk menelaah sedikit bagaimana pemikiran dari Timo, dan apabila untuk jelasnya, apabila pembaca ingin melihat keseluruhan dari isi dari buku Timo ini, maka sangat sayang sekali apabila pembaca sudah membaca tulisan saya ini, tapi belum membaca keseluruhan dari ide-ide dari Timo ini. Jadi seperti yang saya si

ARAH PERKEMBANGAN KONFLIK SAAT INI

Dari apa yang dipaparkan oleh Timo dalam tulisannya ia mengatakan bahwa arah perkembangan konflik sekarang hadir karena banyaknya pihak luar melibatkan diri, memihak salah satu pihak dalam konflik. Adanya tentara swasta mutlinasional yangmendukung satu atau beberapa pihak semakin mengaburkan perbedaan antara perang saudara dengan perang antar Negaral konflik dalam perbedaan antara peang saudara dengan perang antar Negara. Konflik dalam Negara biasanya berbeda dampakanya dari satu wilayah ke wilayah yang lain negeri bersangkutan.

Seperti apa yang dipaparkan oleh Timo kecenderungan yang terjadi adalah banyaknnya masuk intervensi asing dalam daerah-daerah yang memiliki status quo yang lemah dalam mengontrol stabilitas local, dan kenyataannya memang begitu, apalagi daerah itu ditambah dengan banyaknya memiliki potensi SDA yang banyak untuk dieksplor.

Berkaca kepada Indonesia, Timo menyebutkan setelah runtuhnya Uni Soviet maka banyaknya muncul unsur-unsur nasionalisme dan demokrasi dengan aspirasi-aspirasi politiknya dari kawasan-kawasan pecahan Uni Soviet,  begitu pula dengan indonesiea, maka selepas adanya euphoria reromasi setelah lengesernya Soeharto ke Prabon, maka dengan tiba-tiba aspirasi politik dan nasionalisme muncul. Sementara kudeta yang berhasil, revolusi, atau perubahan pemerintahan di Negara sosialis hamper selalu membawa pemerintahan yang pro barat ke tampuk kekuasaan, namun tidak jarang kekuatan-kekuatan yang menggulingkan pemerintahan itu kemudian terpecah-belah tidak lama kemudian. Khususnya di Indonesia meminjam kata dari Timo hal ini di Indonesia menyebabkan adanya fragmentasi kehidupan politik, dan turut meneyebabkan kekerasan dan keruntuhan Negara.

AKAR PENYEBAB KONFLIK

Di sini disinggung oleh Timo sebab-sebab  perang, di satu sisi adanaya pemikiran menekankan motivasi dan kehidupan yang kurang sejahtera kekelompok yang mencetuskan konflik langsung, dan mencoba menjelaskan kekerasandari perspektif itu (model ‘ketimpangan kesejahteraan’ atau model ‘kecewa’).

Sebuah penelitian world bank dyang dilakukan oleh Paul Collier dan Anke Hoeffler (1998) menemukan bahwa konflik lebih banyak menyangkut ‘keserakahan’ daripada ‘rasatidak puas’: pihak-pihak yang terlibat dalam konflik lebih sering mengejar keuntungan ekonomi yang timbul dari situasi perekonomian yang kacau daripda memperbaiki status kelompoknya yang hidup kekurangan. Konflik kemungkinan bsar terjadi jika Negara terlalu lemah sehingga tidak berdaya mencegah pengerahan kekerasan atau menghentikan aparat keamanannya melakukan pemerasan ataupenganiiayaan. Dari sisi peluang, soal kesempatan untuk melanarkan protes tanpa kekerasan dan mengungkapkan rasa tidak puas juga relevan. Bukti empiris menunjukan bahwa memperbanyak saluran-saluran tanpa-kekerasan untuk mengadakan perubahan dapat mengurangi konflik dalam jumlah besar. Pencegahan konflik berdasarkan pemikiran ini menekankan pembangunan demokrasi, struktur lembaga-lembaga penyelesaian konflik, dan aparat keamanan yang professional dan transparan.

Ironisnya apa yang dianalisa oleh Timo benar-benar mengungkapkan realitas yang sebanarnya, dimana kebanyakan masyarakat menganggap hal itu sebagai realitas yang wajar dengan cara menjadi opurtunis dalam kekisruhan.

SUKU DAN KONFLIK

Mengutip kata-kata Rummel (1997), menurut Rummel, jumlah suku menjelaskan seperlima dari perbedeaan yang ditemukan di antara semua Negara yang dilanda kekerasan dahsyat seperti perang gerilya dan perang saudara.  Keberagaman suku ini juga sudah menjelaskan resmi bagi kekarasan di Indonesia. Namun kesimpulan ini didasarkan pada data konflik dari 1932-1982, data yang lebih baru cenderung menunjukan bahwa perlu ditambhakan beberapa catatan pada kesimpulan ini.

Memang banyak sekali studi-studi kasus seputar perang antar suku, seperti di Kalimantan, Papua, dan juga SARA seperti di Maluku.

Kalau melihat analisa dari Timo yang mengatakan bahwa hal yang paling memicu konflik adalah saat 2ekelompok suku turutama bersiang untuk merperoleh kekuasaan . masyarakat yang terdiri dari banyak suku yang sama-sama kuat cenderung, sama seperti halnya masyarakat bersuku tunggal, tidak mudah melancarkan perang.

STRATEGI UNTUK MELERAI & MENCEGAH KONFLIK

Dalam tulisannya Timo menjelaskan dalam peleraian dan pencegahan konflik; konflik tidak akan dapat dicegah atau dilerai bila pihak-pihak yang bersangkutan tidak memiliki tekad yang kuat untuk mengatasi potensi konflik atau konflik yang terjadi. Namun, pencegahan konflik dapat didukung dari laur. Ada 3 pendekatan pendukung:  pengelolaan konflik, penyelesaian perselisihan, dan trenformasi konflik.

Dalam pendekatan pengelolaan konflik, peluang-peluang untuk mencegah konflik kekerasan ditemukandlam pengelolaan perilaku konflik. Jika perilaku konflik dapt dimasukan ke dalam lingkup persaingan, konflik daapt diatasi malalui persaingan tanpa kekerasan.

Dalam bidang penyelesain perselisihan, telah dikembangkan berbagai teknik dan filsafat perundignan. Sebuha proyek yang berpengaruh dari International Institute of Applied Systems Analysis’s, ‘Processes Of International Negotiation,‘ menemukan sejumlah hal yang sama di antara berabgai persyaratan untuk mewujudkan penyelesaian perselisihan yang berhasil. Perudngingan berhasil biasanya tergantung pada adanya jalan buntu yang merugikan kedua belah pihak sehingga membuat situasi sudah masak untuk sebuah penyelesaina. Hasil-hasil ini menyangkut akar-akar penyebab konflik dan mencoba mengembangkan alat-alat penyelesaian perselisihan dan memerpabaiki mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perselisihan di masa datang.

Transformasi konflik, seperti tampak dari namanya Timo menjelaskan hal ini terkait pada struktur-struktur yang menimbulkan perselisihan dan menurunkan ambang kekerasan dalam hubungan antar keolompok. Pendekatan ini sangat cocok untuk dijadikan strategi mencegah konflik dengan menggunakan kerjasama pembagunan yang memenuhi syarat yang ditetapkan ODA sebagai alatnya. Kerja sama pembangunan sellau membawa dampak pada struktur ekonomi, dan juga sangat sering mengandung implikasi bagi konflik. Inilah sebabnya mengapa, misalnya, DAC dari OECD menekankan tranformasi sebagai salah satu strategi utama untuk mencegah konlik. Namun, tranformasi konflik tidak terbatas hanya pada penggunaan alat-alat kerjasmaa pembangunan semata-mata.

Dengan memberikan solusi seperti di atas, penyelesaian konflik yang sinergi dan berkutuniunitas adalah hal yang sangat paling dasar dalam membuat rekonsiliasi di suatu wilayah, namun yang menjadi pertanyaan tentunya, bagaimana Indonesia khusunya mencoba menjembatani antara pihak masyarakat pribumi yang khususnya masih bertindak intuisi terhadap kasus konflik ini, tentunya bukan bermaksud pesimis, tapi dari pengamatan saya justru konflik di setiap wilayah ndonesia masih ada malah ditambah larut-larutkan suhunya oleh elit, militer, sdan wasta untuk membuat sebuah hegemoni pribadi didalamnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

KEMISKINAN DAN KONFLIK SUKU

Kemiskinan adalah hal yang sangat krusial dalam membaut konflik baru, dimana kemungkinan eprang terjadi di antara Negara/wilayah terbelakan boleh dikatakan kecil dan paling tinggi di antara Negara/wilayah yang sudah agak berkembang, dan kemungkinan itu rendah sekali bial suatu Negara telah berkambang lebih jauh.

Pada waktu bersamaan, jika rakyat sejahtera, biaya mobilisasi sangatlah tinggi sehingga menghambat petualangan-petualangan dengan kekerasan. Dalam hal Indonesia, tampaknya banyak daerah miskin, seperti Papua dan sebelumnya Timor Timur, yang sedang berada pada tahap pembangunan yang paling rawan konflik. Jadi, pemberantasan kemiskinan di Indonesia tampaknya memiliki efek mencegah konflik, yang tidak terlalu menimbulkan kontroversi.

KESIMPULAN

Dengan melihat seluruh dari tulisan Timo ini, saya sangat apresiatif sekali, bahwa tulisan ini banyak mengemukakan seputar pencegahan konflik yang didasari pada bentuk objektivitas universal, bukan dalam ruang lingkup Eropa atau Barat, tapi ini menggunakan pendekatan studi kasus atau pengalaman yang dihimpun dari 120 konflik di setiap belahan dunia. Sehingga menurut saya tulisan Timo ini sangat pantas untuk membuka wawasan kita terhadap masalah etnisitas, agama, perang saudara yang telah menyudutkan masyarakat yang tidam memiliki kepentingan di dalamnya dan hanya menjadi pion dari ikut arus dalam masalah konflik ini.

Dengan melihat secara berurutan tema dan skema yang diberikan Timo, tentu masih ada banyak hal yang masih kurang, seperti masih kurangnya analitis yang komprehensif terhadap studi kasus, penggunaan apliasi penyelesaian yang lebih spesifik, dan tentunya adalah bagaimana bentuk kongkret dari penyelesain ini diluar kerangka akademis dan penyelesaian yang lebih bersifat partisipatif. Auf Wiedersehen!

  1. TERIMAKASIH IFORMASI DAN TULISANNYA. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK, DINAMIKA KEHIDUPAN, KEBUDAYAAN MASYARAKAT SUKU PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM
    http://boeangsaoet.wordpress.com

    • edisantosa
    • September 17th, 2010

    critical review hasil kajian ini bagus, tetapi akan lebih bagus jika catatn kritis dilihat dari perspektif metodologi dan rasionalitas hasil penelitian konflik dari sisi penemuan, pengembangan atau penolakan teori yang sudah ada. Demikian juga bagaimana peneliti menarik generalisasi atas temuannya, rekomendasi, managemen/pengelolaan dan analisis preskriftif konflik suku yang akan terjadi masa mendatang.Mohon perkenannya, karya anda ini saya rujuk sebagai acuan penulisan modul managemen konflik. Salam perdaiaman.
    Trimakasih

    edi santosa
    fisip undip semarang

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: