WHAT THE REASON OF UNITED STATES INVATED IRAQ?

WHAT THE REASON OF UNITED STATES INVATED IRAQ?
Hendriko Firman

APA yang terjadi di Iraq pada 20 maret 2003 tepatnya 05.35 a.m telah merubah wajah bangsa berkekmbang ini, bangsa yang mana sudah cukup lama melakukan perang di daerah-daerah tetangganya yaitu daerah teluk, namum akhirnya perang itu terulang kembali pada hari itu. Tanggal itu adalah tanggal keramat yang tidak akan dilupakan oleh orang-orang Iraq untuk selama-lamanya. Tepat pada hari itu dimulailah sebuah misi invasi dari Negara adidaya Amerika Serikat yang memiliki kekuatan militer nomor wahid di dunia ini, banyak macam alasan yang di lakukan oleh Amerika Serikat untuk melakukan tindakan yang hampir tidak disetujui oleh mayoritas Negara-negara Islam.
MENGAPA? Itulah pasti pertanyaan orang-orang yang tidak tahu betul tentang perkembangan politik, khususnya tentang peta politik dari daerah kawasan Timur Tengah yang banyak sering terjadi konflik. Mengapa Amerika menginvasi Iraq? Pertanyaan khusus ini akan dicoba oleh penulis untuk menjawabnya dalam paper singkat dan sederhana ini. Kalau secara beberapa kata, sungguhlah tidak objektif apabila kita menjawab seperti itu, maka disini akan dijawab secara periodic pertanyaan itu yang mana bisa dilihat jawabannya dari bentuk dan sisi mana saja, termasuk itu ekonomi, politik, social, agama, psikologi, mentalitas, kultur, zeitgeist, dll.
Sejak serangan teroris ke Gedung World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001, arus utama isu internasional berubah total. Ancaman teroris yang sebelumnya tidak begitu populer, tiba -tiba saja menjadi agenda utama Amerika Serikat (AS) yang menjadi korban dari serangan itu. Beberapa hari setelah tragedi itu, AS memutuskan menyerang Afganistan yang diduga menjadi tempat persembunyian Al Qaeda, organisasi yang dituduh sebagai dalang serangan tersebut. Akhirnya, pada 20 September 2001, di depan Kongres, Bush secara resmi mendeklarasikan perang melawan terorisme global yang mengancam perdamaian clan keamanan dunia. Kita lihat disini bahwa setelah invasi Iraq itu, yang dulunya kebijakan politik America yang condong untuk melawan kebijakan uni soviet sekarang akhirnya mendapatkan aksi jelas terhadap kebijakannya politik luar negerinya. Setelah tulisan dari Francis Fukuyuma yang berjudul Akhir Sejarah yang legendaries itu muncul maka, kibijakan America yang masih rancu dulunya sekarang telah mendapatkan sebuah pencerahan untuk menjalankan berbagai kebijakan yang dianggap tidak punya landasan yang cukup. Tapi setelah hadirnya isu teroris ini maka America mendapatkan kejelasan dari aksi-aksi yang mengatasnamakan demokrasi.
Dua tahun setelah invasi ke Afghanistan, Bush mengalihkan serangan ke Irak. Irak tak hanya dianggap musuh, tetapi juga ditetapkan sebagai sasaran yang harus dilenyapkan karena dukungannya terhadap terorisme global. Penetapan ini pun tak lepas dari dugaan bahwa Presidan Irak Saddam Hussein mengembangkan senjata pemusnah masal yang mengancam keamanan dunia internasional, terutama AS.
Bukan rahasia bahwa Saddam dan AS sudah saling membenci sejak Perang Teluk pada awal 1990-an. Pidato Bush di Kongres pada 28 Januari 2003 semakin menegaskan hal itu. Di hadapan anggota Kongres, Bush membeberkan bukti–bukti pengembangan senjata pemusnah masal Irak. Dari laporan intelijen yang menurut Bush sangat terpercaya dan tak terbantahkan, Irak memiliki senjata pemusnah masal yang bisa disiapkan dalam waktu 45 menit. Selain itu, Menteri Luar Negeri Coffin Powell juga menunjukkan pada PBB berkas setebal 19 halaman yang diperoleh sejak Perang Teluk yang menguatkan tuduhan pengembangan senjata pemusnah masal, termasuk bukti kepemilikian pesawat tanpa awak yang dapat terbang sejauh 500 km. PBB lantas menunjuk tim inspeksi yang dipimpin Hans Blix untuk membuktikan tuduhan Bush. Setelah berulang kali melakukan pemeriksaan ke Irak, tim ini ternyata tidak menemukan tanda-tanda adanya senjata pemusnah masal yang dimaksud AS. Namun, hal ini tidak menyurutkan niat Bush untuk menginvasi AS. Ditegaskan oleh Kepala Badan Pengkajian Pentagon, Richard Perle, AS akan tetap menyerang Irak meski tim Blix lidak menemukan senjata tersebut.
Sebelum invasi, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta, terdakwa pemimpin serangan 11 September bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha, Ceko. Pertemuan itu digunakan Bush sebagai bukti bahwa ada keterkaitan antara serangan yang didalarigi Al Qaida dengan Saddam. Presiden Ceko menyangkal adanya pertemuan tersebut, namun pejabat pemerintahan AS tetap memanfaatkan hal itu sebagai alasan untuk menyerang Irak.
Bisa dilihat bahwa proses untuk menginvasi irak sengaja dicari-cari apabila kita menerka, jadi kenapa alasan itu dibuat-buat, tentu ada udang dibalik batu. Hal ini menjadi perhatian adalah America sebagai Negara yang adidaya dan control komunikasinya yang menjadi kiblat dunia, seperti CNN, NBC, FOX dll. Sehingga tidak salah apabila kita bisa lihat, bahwa kenapa America berani ‘berani’ bermain api di tanah irak, karena ini adalah pertempuran antara pengaruh (influence) apabila America telah punya amunisi untuk berperang dengan irak, maka mereka cuma butuh sebuah legitimasi dari dunia internasional untuk menerima aksi invasi tersebut.
Kalau begitu, kita langsung ke pokok permasalahan saja, kenapa America berani menyerang Iraq, alasan-alasan apa yang dibeberkan America ke dunia internasional terkait sebuah invasi yang telah melanggar hukum internasional ini. Banyak yang menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Amerika seperti tertulis dibawah ini:
1. Amerika mau menghancurkan Islam;
2. Amerika mau melibas terorisme;
3. Amerika itu memang bajingan tengik;
4. Bush itu dendam secara pribadi sama Saddam;
5. Ini ulahnya si Yahudi (si intelektual kriminal Perle & Wolfowitz)
yang saat ini jadi penasehat utamanya Bush;
6. Ini perang salib modern, Amerika yang Kristen mau menghancurkan Islam supaya si Yahudi Israel bisa tetap eksis di Timteng;
7. Ini perang buat menguasai minyaknya Iraq.
8. Dan variasi-variasi lainnya.

Pandangan seperti itu memang tidak sepenuhnya salah, dan tidak 100% semuanya betul. Karena ada berbagai keterkaitan antara variasi-variasi tersebut yang akhirnya mencapai ke titik klimaks dari serangan ke Iraq tersebut. Seyongyanya perang ini adalah perang yang sangat besar dan menghabiskan dana paling besar dalam sejarah kemiliteran America, tentunya perang ini tidak sepenuhnya oleh rakyatnya sendiri dan juga perang ini tidak mendapatkan dukungan dari PBB. Oleh karena itu marilah kita coba mempreteli semua hal tersebut, satu persatu.

INTELEJEN
LOGIKANYA apabila ada perang di Negara lain, dan Negara itu hancur dan penduduknya menderita. Apakah yang ada dibenak Negara lain yang belum pernah dan tidak akan mau untuk menerima perang tersebut? Pertahanan! Itulah yang terjadi pada America, mereka mencoba melakukan kebijakan tunggu diserang apa harus menyerang duluan untuk menkondusifkan suhu politik dari Negara tersebut. Dan kenyataannya America memilih alasan kedua, yaitu menyerang Negara tersebut dulu yang menebar ancaman.
AS merupakan negara yang memiliki badan intelejan yang cukup kuat dan tangguh dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan negara-negara lain di dunia banyak badan intelijennya berkiblat ke Amerika, seperti halnya Indonesia!
Bahwa CIA sebagai agen kebijakan dari politik dari America memainkan peran penting dalam melakukan kebijakan di Negara yang ingin coba di masuki. Dari hal inilah CIA melaporkan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal yang pada dasarnya nantinya akan mengganggu stabilitas Negara-negara lain. Tapi akhirya setelah runtuhnya rezim Saddam Hussein ternyata isu tersebut hanyalah isapan jempol belaka. Dimana tak ada bukti sedikitpun yang sampai tulisan ini diturunkan.

POLITIK AMERIKA DI NEGARA-NEGARA TIMUR TENGAH
DENGAN aksi kekerasan yang banyak menelan nyawa, akhirnya Saddam Hussein terpilih sebagai kepala Negara Iraq pada 17 juli 1976. Lalu saddam mendirikan partai tunggal di Iraq dengan nama partai Ba’ats. Setelah 4 tahun berada di pucuk kekuasaan Iraq berspekulasi dengan menyerang iran yang baru menjalankan merdeka dari diktatorianisme syah-nya. Juga, Iraq mencoba menunjukan kelasnya dengan mencoba menjadi seorang leader di Negara-negara timur tengah yaitu mesir, siria dan Iraq. Tapi disini Iraq dengan ngotot untuk menjadi leader dengan mencegat Israel dengan agresif, agar dicap orang yang benar-benar vocal terhadap kebijakan yang menentang paham zionisme dan Israel. Dalam perang delapan tahun melawan Iran itu (1980 – 1988), Iraq babak belur, walaupun dibantu persenjataan modern oleh Amerika dan Uni Sovyet. Karena babak belur itu Iraq tentu saja turun pamornya. Maka mulailah Saddam Husein menegakkan pamornya kembali. Pada hari Kamis 2 Agustus 1990 Saddam melancarkan Blitzkrieg atas Kuwait. Betul-betul Blitzkrieg, karena hanya membutuhkan waktu satu hari. (Blitz = kilat, Krieg = perang). Alasan menyerang adalah lantaran lahan minyak yang seharusnya berada di daerah kekuasaan Iraq.
Amerika Serikat yang begitu bernafsu menguasai Kawasan Tengah yang kaya minyak itu melihat kesempatan. Selama ini strategi Amerika hanya terbatas menciptakan Amerika Kecil di Kawasan Tengah untuk menanamkan kukunya. (Saya tidak pakai istilah Timur Tengah. karena itu berarti secara metaforis kita memenggal kepala kita sendiri, yaitu kepala kita letakkan di Amerika, kaki
kita berpijak di Indonesia. Kawasan Tengah saya ambil dari S. An-Nuur ayat 35, “Laa Syarqiyyatin wa laa gharbiyyatin”, tidak di timur tidak di barat). Tentu kita semua sudah tahu siapa Amerika Kecil ini, yaitu Israel. Lalu dengan penyerangan Iraq atas Kuwait itu terbukalah pintu bagi Amerika, untuk terjun ke lapangan. Melalui formalitas Dewan Keamanan, Amerika mempunyai alasan menjadi pahlawan pembela Kuwait terhadap kezaliman Iraq. Yang juga sekali gus pahlawan pelindung Arab Saudi dari kemungkinan serbuan Iraq. Arab Saudi tentu mau saja, biarlah orang-orang asing itu tewas dalam medan laga untuk melindungi negaranya. Arab Saudi mengeluarkan dana untuk itu? Tidak apa-apa, itu artinya Raja Fahd ibarat membayar tentera sewaan, katakanlah Legiun Asing yang berperang untuk kerajaannya. Itukan terhormat! Maka pecahlah perang teluk.
Setelah perang teluk Amerika berhasil masuk secara langsung ke Kawasan Tengah. Artinya Amerika tidak memerlukan Amerika Kecil lagi. Itulah sebabnya Amerika memprakarsai perundingan damai Arab-Israel. Pamor Amerika dapat naik sebagai pahlawan perdamaian. Walhasil perang teluk yang disulut oleh Iraq dengan menyerbu Kuwait menguntungkan Amerika, menyengsarakan rakyat Iraq.
Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas, rencana menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan kekuatan senjata telah dipersiapkan dan dicanangkan dalam agenda Washington sejak lama. Bahkan sebelum dilancarkannya “perang mewalan terror,” yang mengemuka pasca peristiwa 11 September. Isyarat pertama atas rencana ini mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli strategi pro-Israel di Washington mulai memunculkan skenario penyerangan atas Irak dengan memanfaatkan lembaga think-tank neo-konservatif, yang dinamakan PNAC, Project for The New American Century.
Sebuah artikel berjudul “Invading Iraq Not a New Idea for Bush Clique: 4 Years Before 9/11 Plan Was Set” (Penyerangan atas Irak Bukan Gagasan Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William Bruch dan diterbitkan di the Philadelphia Daily News, memaparkan fakta berikut: Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, dan sekelompok kecil ideolog konservatif telah memulai wacana penyerangan Amerika atas Irak sejak 1997 – hampir empat tahun sebelum serangan 11 September dan tiga tahun sebelum Presiden Bush memegang pemerintahan.
Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan yang terdengar mengkhawatirkan, yang tidak begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi Abad Amerika Baru, atau PNAC, yang berhubungan erat dengan Cheney, Rumsfeld, deputi tertinggi Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara lelaki Bush, Jeb -bahkan mendesak presiden waktu itu, Clinton, untuk menyerbu Irak di bulan Januari 1998.
Bahkan soal perang AS dimuka bumi manapun berada, Amerika Kecil (Israel) selalu besertanya. Lebih-lebih perang yang ada di Timur Tengah. Bahkan kalau ditelisik lebih dalam, ternyata dari dulu Israel telah “menabuh” genderang perang, bahkan sebelum krisis Teluk.Bahkan Israel telah memulainya beberapa saat setelah Perang Iran-Irak berakhir. Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky melaporkan bahwa departemen Perang Psikologi Mossad (LAP – Loh Ama Psicologit) melancarkan kampanye ampuh menggunakan teknik disinformasi. Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan Saddam sebagai seorang diktator berdarah dan ancaman bagi perdamaian dunia.
Ostrovsky menulis: Para petinggi Mossad mengetahui, jika berhasil menampilkan Saddam sebagai sosok yang jahat dan bisa menjadi ancaman bagi pasokan minyak Teluk, maka Saddam tak akan dibiarkan begitu saja. Mereka akan menghancurkan kekuatan dan senjata Irak.
Israel sangat keras dalam hal ini. Pada tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar Negeri Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman menggunakan bahasa diplomatis kepada William Brown, Duta Besar AS untuk Israel. Ia mengatakan bahwa Israel menginginkan AS memenuhi tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Israel sejak awal krisis Teluk. Dengan kata lain, AS harus menyerang Irak. Menurut Levy, jika AS tidak melakukannya, Israel akan melancarkannya sendiri.
Dan menurut saya, bukan AS yang diuntungkan dalamperang Iraqini. Israel-lah yang diuntungkan. Israel menang tanpa turut berperang, dan inilah yang terjadi. Meski tak terlibat langsung, kalangan Israel terlibat aktif dalam perencanaan perang ini. Sejumlah pejabat AS yang terlibat merancang Operation Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima arahan taktis jitu dari kalangan Israel.
Namun demikian ini juga bukan alasan yang utama mengapa AS menyerang Irak ditahun 2003 lalu. Dan ini hanyalah salah satu “drama” AS untuk meng-kamuflase masyarakat dunia guna melancarkan tujuan sesungguhnya AS atas negara-negara Timur Tengah khususnya dan dunia umumnya.

SOSIAL DAN BUDAYA
TELAH menjadi opini umum, pasca Komunisme runtuh, bahwa Islam akan menjadi rival Barat di masa akan datang. Hal itu bisa dilihat dalam buku yang berjudul “Clash of Civilization” karangan Samuel Hutington dan buku yang sangat terkenal “The End of History” karangan Francis Fukuyama.
Hutington dalam bukunya “Clash of Civilization” kurang lebih mengatakan, “setelah Komunisme hancur, akan terjadi pertarungan peradaban antara Kapitalisme Barat dengan Konfusianisme (Cina) dan Islam. Diantara Konfusianisme (Cina) dan Islam yang akan dihadapi Kapitalisme Barat, Islamlah rival yang paling berat, sebab ada sebagian pemeluk/pengemban Islam yang memiliki ruhul jihad yang tidak dapat dicabut dalam dirinya dan selalu istiqomah untuk menerapkan Islam dimuka bumi ini”. Sedangkan Francis Fukuyama, filsof keturunan Jepang-Amerika, dalam bukunya “The End of History” juga mengatakan bahwa Kapitalisme akan meraih kemenangan setelah menghancurkan Islam.
Karena semenjak keruntuhan Moscow di tahun 1991-an, AS praktis tak ada lagi saingan. Sehingga hal itu sangat memunkginkan AS terlena dalam buaian. Sehingga jalan satu-satunya dengan cara mencari gara-gara dengan kekuatan lain, Islam dalam hal ini, untuk terus menjaga kewaspadaannya. Karena sudah sunnatullah, bila manusia merasa terancam, ataupun merasa ada yang menyaingi, maka ia akan senantiasa terjaga untuk segala kemungkinan yang bakal terjadi. Dan ini adalah salah satu dalih, walaupun tidak berani terang-terangan untuk mengakuinya, AS untuk tetap membuat mereka “terjaga” dan memacu untuk tetap diatas. Karena mereka terlalu TAKUT untuk kalah, bahkan untuk sekedar MENGALAH!!
Jadi bisa kita lihat bahwa sebenarnya dalam kondisi social dan budaya yang kelihatannya adem aye mini, ternyata America menyebar sebuah momok besar dan sebuah dinamit besar yang nantinya akan menghadapkan semua Negara di dunia untuk memilih jalurnya masing-masing untuk membuat kehancuran dunia.

MENYELAMATKAN DOLLAR ($) DARI EURO (€)
KALAU kita lihat sebenarnya masalah ekonomi adalah masalah yang sangat kompleks untuk kita coba telaah, karena berhubung disini saya bukan lah mahasiswa yang memiliki pengetahuan banyak tentang ekonomi dan financial. Cukuplah disini diterangkan disini apabila yang tidak mengerti tentang kebijakan ekonomi untuk lebih kritis lagi dan lebih memahami dasar-dasar dari ekonomi tersebut.
Jadi apa hubungannya Iraq dengan dollar dan euro, ini berawal dari penglihatan AS, kesalahan pertama Iraq tatkala Sadam Husein, tahun 2000 lalu, minta ke PBB supaya semua minyaknya dibayar pake euro; plus semua duitnya (10 bilyun) dikonversikan dari dollar ke euro. Semua orang waktu itu bilang kalau itu adalah tindakan tolol karena euro waktu itu masih 90% dari nilai dollar dan euro pun dari semenjak dilaunch (Jan 99) terus menerus terdepresiasi lawan dollar yang waktu itu demandnya memang kuat sekali karena penipuan akuntasi besar-besaran sedang terjadi di bursa efeknya – dan investor asing pun perlu dollar buat main di bursanya.
Tapi, saat ini euro ternyata sudah terapresiasi sebesar 17% dari harga sebelumnya! Berarti, langkah “gilanya” Saddam waktu itu ternyata sangat menguntungkan, dan bahkan JENIUS! Langkah ini sekarang pun sedang dikaji oleh Iran yang hanya mau terima transaksi minyak dengan euro dan “emoh” dollar. Dan di dunia ini, kartel perdagangan yang terkuat itu hanya minyak saja. Kartel mobil, atau komputer, atau produk-produk lain praktis tidak eksis. Minyak siapapun harus beli minyak. Terus perhatikan lagi, anggota OPEC itu rata-rata isinya adalah musuh-musuhnya Amerika yang nyata-nyata memang benci dengan Amerika, seperti Venezuela, Iraq, rata-rata negara Islam. Jadi semua jawabannya adalah terkait dengan aksi spekulasi yang dilakukan America dnegan mata uangnya. Untuk lebih jelasnya baikalah kita kutip kata-kata dari Putera Peta:

“Kalau semua anggota kartel minyak ini memang mau “jahat” dan main “evil” terhadap Amerika, maka caranya gampang sekali: mereka cukup bilang; “kita sekarang cuman mau transaksi pake euro..!!” maka mampuslah dollarnya Amerika! Mampus serta bangkrut jugalah si-kapitalis Amerika ini! Kalau Anda tidak punya background ekonomi tentu bingung. Koq bisa bangkrut?! Nah, ini ekonomi 101: Anda di tangan punya uang tunai $1, maka secara ekonomi itu artinya adalah Anda memberi hutang ke Bank Federalnya Amerika dan Bank Federalnya Amerika itu “berjanji” akan membayar hutangnya sebesar $1 itu! Sekarang, karena Anda tinggal di Indonesia yang rupiahnya jauh di bawah dollar; maka jelas secara rasional Anda berusaha terus memegang $1 ditangan itu dari pada ditukar ke rupiah. Iya khan! So, secara ekonomi itu artinya si Bank Federalnya Amerika nggak perlu menebus hutangnya, karena toh hutangnya yang $1itu tidak Anda minta bayar. Artinya: Amerika itu bisa menghutang tanpa perlu bayar sama sekali -[sepanjang ekonominya memang masih kuat!]- sepanjang greenback atau dollar itu masih jadi standard pengganti emas.
Dengan alasan ini juga maka Amerika itu berani main defisit gila-gilaan selama ini karena, toh mereka memang TIDAK PERLU membayar defisitnya sebab orang sedunialah yang harus membayar defisitnya Amerika! Supaya jelas lihat rupiah; kalau budget RI itu defisit maka negara RI harus nomboki dengan cara jual barang [eksport] atau cari hutangan [CGI]. So, defisitnya negara seperti RI itu betul-betul adalah “defisit” yang harus dibayar; jika tidak mampu membayar berarti krismon! Tapi Amerika lain! Defisit buat Amerika berarti justru malah positif karena defisit Amerika itu cara bayarnya adalah dengan cara memotong nilai $1 yang Anda pegang itu secara intristik. Berarti, kalau Amerika defisit maka yang rugi adalah Anda orang non-Amerika yang memegang dollar!
Cara kerjanya sistem ekonomi kapitalis yang imperialistik ini berlaku sepanjang orang seperti Anda dan negara RI masih “percaya” pada dollar dan menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk dollar! Eropa tahu persis tentang strategi “makan gratis dan utang nggak perlu bayar” ini. Karena itulah Eropa sekarang punya euro. Tujuannya Euro sebetulnya sama halnya seperti dollar, yaitu ikut menikmati “makan gratis dan utang nggak perlu bayar” dari orang seperti Anda tadi. Nah, celakanya…, sekarang banyak orang yang mulai diversifikasi cadangan devisanya! Cina yang punya cadangan emas nomor dua sedunia pelan-pelan sudah mendiversifikasi dollar dan euronya. Sementara Jepang yang masih jajahan Amerika itu mau tidak mau HARUS tetap mengekor pada dollarnya AS terus. Bahkan dalam tahun 2002-an Jepang ditekan oleh Bank Federal AS untuk intervensi dollar agar dollarnya bisa naik.
Kalapun dunia ini memang BEBAS, maka treasurer yang rasional akan mendeversifikasi kekayaannya ke dollar, euro, emas dan portfolio lainnya. BEBAS berarti treasurer tadi bisa memilih secara rasional tanpa tekanan politik atau pun tekanan militer dari US atau Eropa. Jika itu benar-benar terjadi, maka hal yang sangat mengerikan bakal terjadi pada AS. Dan itu hanya memerlukan waktu yang sangat singkat, persis seperti Blitzkrieg Iraq atas Kuwait.
Misalnya: dengan mendadak saja semua negara penghasil minyak bilang “sekarang kita transaksi cuman pake euro..!!” Dan ini mungkin sekali karena semua negara perlu beli minyak! Sehingga tekanan dari negara penghasil minyak itu bakal membuat negara-negara tadi [kayak Cina atau Jepang] menjual dollarnya dan beli euro. Bagi Amerika sendiri, ini berarti dia sekarang harus membayar hutang! Dan tentu saja: kalau dalam sekejab Amerika pun harus membayar hutangnya dan mendongkrak Euro tadi, maka dalam sekejab pula ekonomi Amerika bangkrut berantakan, persis seperti waktu bank di-rush nasabahnya. Dan lebih mengerikan lagi, ekonomi Amerika pun bisa dalam sedetik bakal inflasi ribuan persen [karena semua jual dollar dan beli euro], perusahaan Amerika menjadi tidak ada harganya [persis seperti krismon Indo. 1998] dan ajaib orang-orang Amerika pun jadi tidak ada bedanya sama pariah-pariah dari Afrika karena mendadak saja semua kekayaannya itu hanya kertas yang tidak ada harganya. Lebih parah lagi…, praktis Amerika bakal bangkrut sendirian karena Euro bisa menjadi si-juru selamatnya!
Sekarang bayangkan Anda jadi Bush (sang-Presiden AS). Sejak awal jadi presiden [Jan 2001] Anda sudah tahu persis ekonomi dunia ini bakal mengarah ke mana sejak Euro lahir. Dan secara faktual pun Anda juga sudah tahu bahwa Sadam Husein berani terang-terangan menjual minyaknya dan hanya menerima bayaran dengan Euro. Perhatikan tanggalnya itu sebelum 911 dan juga: The euro reached record lows last week as it traded at 82 cents to the dollar, down 30 percent since its launch in January last year! Berapa keuntungan Iraq dari langkah jeniusnya Saddam itu!?] Lebih jauh lagi, Anda pun tahu persis kalau Iran pun juga sedang merencanakan hal yang sama.
Sebagai Bush, job description kepresidenan Anda sekarang adalah menghancurkan ancaman Euro, mengimbangi permainan si eksportir minyak yang mau menghancurkan dollar [baca: ekonomi Amerika] dan melancarkan kebijakan offensif! Secara ringkas, tugas itu adalah: MENCEGAH SIRKULASI EURO (€)…!!”

Jadi kita bisa lihat bahwa 8 variasi coba banyak kalangan untuk menjawab pertanyaan dari kenapa America menginvasi Iraq adalah cukup mengena juga, karena disini kedua belah pihak banyak melakukan trik dan intrik serta konspirasi kongkalingkong yang sangat sulit untuk kita bisa tafsirkan. America yang telah bermain api mulai insaf bahwa mereka sekarang dalam tahap bingung dengan apa yang telah mereka lakukan. Dimana di mata dunia internasional kebijakan ini tidak popular lagi, sayangnya sekarang setalah presiden America yang pertama mulai menunjukan sikap tegas dengan mencoba menjadi the real leader dengan berangsur-angsur menarik tentaranya dari kawasan Iraq. Tentulah hal ini menjadi ajang cuci tangan dari pemerintahan America, bagaimanapun juga di Iraq kawasannya belum stabil benar, dan faktanya America harus menyelesaikan masalah “api” ini, dan jangan sampai terulang kembali kasus perang Vietnam mereka yang terbengkalai dan kasus Israel dengan Mesir yang dilepastangankan oleh Inggris.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Gray, Jerry D.. Dosa-dosa Media Amerika. 2006. Jakarta: Ufuk Press.

Mahally, Abdul Halim.. Membongkar Ambisi Global America Serikat,: 2003. Jakarta Pustaka Sinar Harapan

Retna Christa RS, “Peran News Corporations dalam Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Menginvasi Irak (Maret 2003)”, dalam Global & Strutegis, Th L No 2, Juli-Desember 2007.

Samuel P. Hutington (dkks). America dan Dunia. Freedom Institute. Jakarta. 2005.

Victor Ostrovsky. The Other Side of Deception. (e-book)

William Bunch. Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003

http://putrapeta.blog.com/1288644/
http://www.rferl.org/nca/features/2000/11/01112000160846.asp
http://www.iranexpert.com/2002/economicsdriveiraneurooil23august.htm.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: