TAN MALAKA: PERSPEKTIF MASA KINI

TAN MALAKA: PERSPEKTIF MASA KINI
Oleh: Hendriko Firman

Tan Malaka adalah seorang pahlawan nasional. Benarkah ia seorang pahlawan? Kalau pahlawan nasional kenapa dalam buku-buku pelajaran sejarah Indonesia namanya tidak pernah tersebut walaupun satu kali. Kalau pahlawan nasional tapi kenapa ia tidak dikuburkan di taman makan pahlawan Kalibata. Dan ekstrimnya bahkan ia tidak berhak dan tak punya tempat bagi jasadnya yang hanya seluas 1X3 M. Memang miris seorang legenda Indonesia ini dengan kejam ia diasingkan oleh bangsanya sendiri.

Dalam perjalanan hidup Tan Malaka ia tidak pernah secara langsung ingin terlibat dalam politik, dan secara tidak langsung pula dalam perjalanannya ia ingin membuat bangsa dan negaranya merdeka, itu adalah jalan pikiran Tan Malaka (asli Datuk Ibrahim gelar Tan Malaka) semuanya berawal dari atas dasar mau dan bukan atas dasar harus.
Sekirannya sudah lebih dari 60 tahun Tan Malaka meninggal, tapi apa yang ia cita-citakan, apa yang ia ingin harapkan terhadap rakyatnya masih relevan juga untuk kita sintesakan. Di mana seorang Tan Malaka telah berjanji bahwa nantinya ia akan melihat dan akan mewujudkan bangsanya bisa bebas dan merdeka dari jajahan bangsa asing. Di sisi lain walaupun demikian kehidupan Tan Malaka yang kalau kita aplikasikan dalam perspektif sekarang apakah telah teralisasi? Dimana ide-ide tentang musyawarah banyak, ide-ide tantang keterlepasan dari intervensi asing, ide-ide tentang politik yang sehat? Apakah telah terlaksana?
Nyatanya jawaban yang kita dapatkan sekarang adalah: Semua tinggalah kenangan semata. Angka-angka, data-data statistik dan fenomena kehidupan di Indonesia nyatanaya mengalami kehancuran moral yang sangat luar biasa. Perbedaan antara si kaya dan si miskin telah melahirkan bentuk gap yang menganga. Sistematisasi politik kocar-kacir, demokrasi hancur tinggal slogan, di lapangan nyatanya feodalisme bentuk baru telah lahir, timbulnya gerakan pembodohan masal atau primodialisme yang disengaja membuat yang bodoh tambah bodoh dan masyarakat dilacuri. Sisi agama faktanya sekarang menjadi sumber masalah baru yang semestinya mendukung pluralisme. Angka-angka pengangguran bertambah, anak-anak di pelosok busung lapar, pendidikan mahal, dan akhirnya rakyat makin menjerit dan kesudahannya mencapai sakratul maut.
Pertanyaannya sekarang dimanakah ide ide tan Malaka yang terjadi baru-baru ini?
Dimanakah harapan dan cita cita tan Malaka yang terjadi baru-baru ini?
Jawaban selanjutnya dari Indonesia yaitu, ‘Peduli setan dengan tan Malaka!’. Kita akui bahwa rakyat Indonesia sekarang sedang tidak mengalami sebuah budaya kekomunalan, individualisme cara picik dan licik menyebar dan meraja lela. Ide-ide Tan Malaka tentang musyawarah dan demokrasi barat, terlepas dari apapun juga di perkosa sendiri oleh orang-orang yang mengatas namakan dirinya sebagai seorang pro demokrasi.
Di lain pihak kesempatan dan perspektif kontemprorer yang bisa kita lihat setelah 60thn Tan Malaka pergi adalah tidak bertambah baiknya sistem demokrasi, sistem hukum, sistem etos serta sistem mentalistas bangsa. Pada dasarnya hal-hal ini hadir akibat jiwa megalomania serta materialisme rakyat Indonesia yang dengan mudahya diinfiltrasi oleh media-media konservatif barat. Di sisi lain masyarakat-masyarakat baru yang hadir setelah generasi Tan Malaka tidak ada lagi, jiwa-jiwa nasionalisme diganti dengan jiwa-jiwa chauvinisme, fanatisme dan sektarianisme. Masyarakat atau kelas baru yang baru ini ibarat katak dalam tempurung, mereka hanya bisa jago kandang, kedewasaaan berpikir lambat dan mereka berdepensasi pada orang-orang yang mengayominya.
Contoh dasar saja, bahwa ide-ide Tan Malaka tidak hadir dalam perspektif kini adalah tidak adanya jiwa untuk berjuang, tidak adanya rasa untuk survive. Kita ingat bahwa umur 16 tahun Tan Malaka telah hijrah ke Belanda, tapi pada saat sekarang anak-anak umur 16 tahun ada juga yang ke belanda tapi untuk rahabilitasi pemakaian narkoba. Di sisi lain saat ia berumur 23 tahun telah (seharusnya) menjadi anggota parlemen mewakili partai komunis di Belanda, tapi anak-anak muda-mudi sekarang sibuk dengan masuk partai sebagai kader-kader ‘sampah’ dengan nilai kredibilitas dan nila jual yang ibarat pelacur AIDS murahan. Pada dasarnya anak-anak ini mereka belajar menjadi ‘anjing berdasi’ tapi sebaliknya Tan Malaka pada saat itu telah menjadi seorang Patjar Merah Indonesia yang telah melalang buana untuk survive dari satu negera ke negara lain, dengan tanpa koneksi, uang, paspor, pengalaman dan lebih mirisnya bukan utnuk tour traveling tapi dicampakan bagai anjing kudis oleh tanah kelahirannya sendiri Indonesia tercinta yang sangat ia cintai.
Melihat sejarah Tan Malaka kita dilihatkan kepada rekonstruksi peristiwa yang a-manusiawi, dimana ke a-manusiawian tersebut bukan faktor uang, harta dsb. Tapi ia dikatakan a-manusiawi adalah karena dia tidak bergaul secara intensif dengan seorang atau personal, ia adalah sorang revolusioner yang kesepian, dikhianati berkali kali oleh temannya sendiri, bahkan ditembaki mati oleh orang-orang Indonesia sendiri, tanpa makam dan tanpa kain kafan tapi dengan bubuk mesiu peluru, bukanlah kesepaian yang seperti itu yang bisa dikatakan sebagai kehidupan yang a-manusiawi.
Di sisi lain disaat pemimpin sekarang berlomba-lomba mendapatkan mobil dinas untuk keperluan sehari hari, tapi seorang founding father Tan Malaka bahkan tidak berhak mendapatkan nisan diatas tanah perkuburannya. Di saat pemimpin-pemimpin (saya lebih suka menyebutnya tukang obral) sekarang berlomba- lomba mendapatkan rumah dan tunjangan- tunjangan, tapi seorang tokoh ravulosioner Tan Malaka tidak berhak untuk hanya bisa bebas berbicara saja, sungguh kenyataan yang sangat pahit.
Di balik semua itu syukur sekarang Tan Malaka walaupun telah tiada, bisa merasakan senyum (walaupun sedikit) bahwa buku-buku dan tulisannya telah mulai menjadi konsumsi lagi bagi anak muda, buku yang ditulis telah mulai menjadi ideologi bagi seorang pembacanya. Tujuan-tujuan utama dari Tan malaka yang mungkin bisa dimulai lagi dengan reinkarnasi melalui tulisan-tulisannya.
Tan Malaka memang seorang yang misterius bahkan saat mati pun ia juga meninggalkan misterius itu. Apakah begitu jugakah selanjutnya nasib-nasib Tan malaka baru ini, hilang dalam kemisteriusan? Wallhuallam.

***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: