TAN MALAKA: PERSPEKTIF MASA KINI

TAN MALAKA: PERSPEKTIF MASA KINI (Oleh: Hendriko Firman)
(Merayakan Kelahiran Tan Malaka 2 Juni 1897)
(Juga diterbitkan di kolom opini Harian Singgalang)

Tan Malaka adalah seorang pahlawan nasional. Benarkah ia seorang pahlawan? Kalau pahlawan nasional kenapa dalam buku-buku pelajaran sejarah Indonesia namanya tidak pernah di sebut peran sentralnya walaupun satu kali. Kalau pahlawan nasional tapi kenapa ia tidak dikuburkan di taman makam pahlawan Kalibata. Dan ekstrimnya bahkan ia tidak berhak dan tak punya tempat bagi jasadnya yang hanya seluas 1,25 x 2,5 M. Memang miris seorang legenda Indonesia ini, dengan kejamnya ia terasingkan dari bangsanya sendiri.

Dalam perjalanan hidup Tan Malaka ia tidak pernah secara langsung ingin terlibat dalam politik, dan secara tidak langsung pula dalam perjalanannya ia ingin membuat bangsa dan negaranya merdeka, itu adalah jalan pikiran Tan Malaka (asli Datuk Ibrahim gelar Tan Malaka) semuanya berawal dari atas dasar mau dan bukan atas dasar harus.

Sekirannya sudah lebih dari 69 tahun Tan Malaka meninggal, tapi apa yang ia cita-citakan, apa yang ia ingin harapkan terhadap rakyatnya masih relevan juga untuk kita sintesakan. Di mana seorang Tan Malaka telah berjanji bahwa nantinya ia akan melihat dan akan mewujudkan bangsanya bisa bebas dan merdeka dari jajahan bangsa asing (secara langsung dan tidak langsung). Di sisi lain walaupun demikian kehidupan Tan Malaka yang kalau kita aplikasikan dalam perspektif sekarang apakah telah teralisasi? Dimana ide-ide tentang musyawarah banyak, ide-ide tantang keterlepasan dari intervensi asing, ide-ide tentang politik yang sehat, merdeka 100% dalam bukunya naar de Republiek Indonesia? Apakah telah terlaksana?

Nyatanya jawaban yang kita dapatkan sekarang adalah: Semua tinggalah kenangan semata. Angka-angka, data statistik dan fenomena kehidupan di Indonesia nyatanya mengalami degradasi moral yang sangat luar biasa. Perbedaan antara si kaya dan si miskin telah melahirkan bentuk gap yang menganga. Sistematisasi politik jauh panggang dari api, demokrasi hanya seremonial pesta adu jargon kosong, di lapangan nyatanya feodalisme bentuk baru telah lahir, timbulnya gerakan pembodohan masal atau primodialisme yang disengaja membuat yang bodoh tambah bodoh dan masyarakat dikebiri. Fanatisme agama faktanya sekarang menjadi sumber masalah baru yang semestinya mendukung pluralisme.

Pertanyaannya sekarang, dimanakah ide ide Tan Malaka yang terjadi baru-baru ini?
Dimanakah harapan dan cita cita Tan Malaka yang terjadi baru-baru ini?
Jawaban selanjutnya dari Indonesia yaitu, ‘Peduli setan dengan Tan Malaka!’. Kita akui bahwa rakyat Indonesia sekarang sedang tidak mengalami sebuah budaya kekomunalan, individualisme asertif buta menyebar dan meraja lela. Ide-ide Tan Malaka tentang musyawarah dan demokrasi barat, terlepas dari apapun juga, di perkosa sendiri oleh orang-orang yang mengatas namakan dirinya sebagai seorang pro-demokrasi.

Di lain pihak kesempatan dan perspektif kontemprorer yang bisa kita lihat setelah 69 tahun Tan Malaka pergi adalah tidak bertambah baiknya sistem demokrasi, sistem hukum, sistem etos, serta sistem mentalitas bangsa. Pada dasarnya hal-hal ini hadir akibat jiwa megalomania serta materialisme rakyat Indonesia yang dengan mudahya diinfiltrasi oleh media-media hype. Di sisi lain masyarakat-masyarakat baru yang hadir setelah generasi Tan Malaka tidak ada lagi, jiwa-jiwa nasionalisme diganti dengan jiwa-jiwa chauvinisme, fanatisme dan sektarianisme. Ibarat katak dalam tempurung, mereka hanya bisa jago kandang, kedewasaaan berpikir lambat dan mereka berdepensasi pada orang-orang yang mengayominya.

Contoh dasar saja, bahwa ide-ide Tan Malaka tidak hadir dalam perspektif kini adalah tidak adanya jiwa untuk berjuang, tidak adanya rasa untuk survive. Kita ingat bahwa umur 16 tahun Tan Malaka telah hijrah seorang diri ke Belanda, tapi pada saat sekarang anak-anak umur 16 tahun ini mayoritas menjadi generasi absurd yang haus akan validasi semu. Di sisi lain saat ia berumur 23 tahun telah (seharusnya) menjadi anggota parlemen di Belanda, tapi anak-anak muda-mudi sekarang sibuk dengan menjadi kader-kader ‘sampah’ dengan nilai kredibilitas dan nilai jual yang ibarat pelacur murahan. Pada dasarnya anak-anak ini mereka belajar menjadi ‘anjing berdasi’, tapi sebaliknya Tan Malaka pada saat itu telah menjadi seorang Patjar Merah Indonesia yang telah melanglang buana untuk survive dari satu negera ke negara lain, dengan tanpa koneksi, uang, paspor, pengalaman. Pindah dari satu penjara ke penjara lainnya. Bukan untuk tour traveling tapi dicampakan bagai anjing kudisan oleh tanah kelahirannya sendiri, Indonesia tercinta yang sangat ia cintai.

Melihat sejarah Tan Malaka kita dilihatkan kepada rekonstruksi peristiwa yang a-manusiawi, dimana ke a-manusiawian tersebut bukan faktor uang, harta dsb. Tapi ia dikatakan a-manusiawi adalah karena dia tidak bergaul secara intensif dengan seseorang atau personal, ia adalah sorang revolusioner yang kesepian, dikhianati berkali kali oleh temannya sendiri, bahkan ditembak mati oleh orang-orang Indonesia sendiri, tanpa makam dan tanpa kain kafan, tapi dengan bubuk mesiu peluru. Bukanlah kesepian yang seperti itu yang bisa dikatakan sebagai kehidupan yang a-manusiawi.

Di sisi lain disaat pemimpin sekarang berlomba-lomba mendapatkan fasilitas negara mentereng untuk keperluan sehari-hari, tapi seorang founding father Tan Malaka bahkan tidak berhak mendapatkan nisan diatas tanah perkuburannya. Di saat pemimpin-pemimpin (saya lebih suka menyebutnya tukang obral) sekarang berlomba-lomba mendapatkan self branding dengan obral ‘bau mulut’ saja, tapi saat itu seorang tokoh revulosioner Tan Malaka tidak berhak untuk mendapatkan kepastian dan pengembalian nama baiknya sebagai pahlawan nasional. Sungguh kenyataan yang sangat pahit.

Di balik semua itu, syukur sekarang Tan Malaka walaupun telah tiada, bisa merasakan senyum (walaupun sedikit) bahwa buku-buku dan tulisannya telah mulai menjadi konsumsi lagi bagi anak muda, buku yang ditulis telah mulai menjadi ideologi bagi seorang pembacanya. Tujuan-tujuan utama dari Tan malaka yang mungkin bisa dimulai lagi dengan reinkarnasi melalui tulisan-tulisannya.

Tan Malaka memang seorang yang misterius, bahkan saat mati pun ia juga meninggalkan kemisteriusan itu. Apakah begitu jugakah selanjutnya nasib-nasib Tan malaka baru ini, hilang dalam kemisteriusan, dan hilang rasa kemanusiaan Indonesia 100% nya  bak di lagu Sonus Mortis yang menyebut: I See Humans But No Humanity.
***

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: