SINDROM MENTALITAS SEMPIT

SINDROM MENTALITAS SEMPIT
Oleh: Hendriko Firman**

Beberapa hari ini yang terjadi di Indonesia adalah sebuah ancaman mentalitas, dikatakan sebagai ancaman karena inilah sebuah dinamisator bangsa. Sebuah bangsa, peradaban, dan bentuk sosial manusia di Indonesia sekarang mengalami mentalitas ‘hambar’ atau bisa juga dikatakan mentalitas sempit dengan konsep konservatif secara blak-blakan. Juga dikatakan mentalitas ini tidak notabene pure konservatif tapi juga ada unsur-unsur opurtunis, dimana masyarakat Indonesia melihat suatu hal tapi tidak semata mata dalam koridor sempit tapi juga mereka cerdik dan licik. Di sisi lain konservatif yang terjadi pada mentalitas orang Indonesia sekarang bukan pure manusia yang bermentalitas sempit / konservatif tapi sempit yang benar-benar buta, mereka atau orang Indonesia yang terjangkit penyakit ini melihat, menyadari atau tidak bahwa ‘sempit’ sekarang sebuah mindset yang wajar dan naluriah, berbeda sekali apabila kita melihat orang yang berideologi konservatif yang vokal, dimana ia mengerti, memahami dan bertanggung jawab perihal cara berpikir mereka yang sempit itu, faktanya rakyat dan bangsa ini tidak seperti itu. Nah ini mengartikan apa? Bahwa masyarakat Indonesia sedang terjangkit sebuah virus ganas yang disebut sebagai ‘syndrom mentalitas sempit’.
Memang benar sempit tidak selalu buruk, dan disisi lain sempit itu bukan berati harus benar terus. Adakala sempit baik menyangkut urusan stabilitas dan amanat konstitusi. Tapi perihal yang tidak baiknya adalah mentalitas sempit yang menjangkiti rakyat Indonesia sekarang mengalami kerancuan, dimana sempitnya telah bermuara kepada subjektivitas, apatis, hingga berujung pada anarki (kasus Ahmadiyah di Monas). Seyongyannya sempit boleh saja asal kita punya suatu argumentasi yang logis, rasional atas dasar apa dan dasar berpikirnya yang harus jernih, objektif dan lagi-lagi transparan. Kebanyakan mentalitas masyarakat Indonesia sekarang tidak mengalami hal tersebut, kita cenderung subjektif dan non-transparan. Sehingga tidak heran hanya otot yang menjadi jalan keluar dan akhirnya otot lebh berfungsi ketimbang otak yang disimpan di lemari.
Di saat kita berada pada jurang yang kritis dan rapuh ini, kita telah mengalami berbagai macam cobaan, yang pada dasarnya adalah suatu bentuk yang konkret, sehingga kita bisa membuat strategi, bagaimana dan apa tindakah-tindakan untuk memeperbaiki nya kembali. Contoh saja, bencana alam / bencana yang dibuat manusia, kebijakan yang non-populis, urusan eknonomi dsb. Sekarang bentuk dari cobaan-cobaan kongkret ini secara analitis dan sistematis bisa digodok kembali dan bisa direformasi lagi, dan nantinya itu punya keberhasilan yang tinggi. Nah, kita kembali ke topik awal bahwa, untuk mencegah sesuatu yang konkret kita bisa menggunakan strategi yang analitis, sistemasits dsb, tapi berkaitan dengan mentalitas sempit ini kita dihadapakan pada kondisi yang kontradisktif, yaitu kita berhadapan dengan masalah yang cluster-nya adalah: abstrak, dimana masalah ini tidak bisa dilihat, diraba, dirasa dalam artian secara indrais kita benar-benar 100% buta dan kita tidak punya clue ataupun teknik apalagi strategi untuk men-healing-nya. Kita tekankan kembali bahwa mentalitas sempit adalah sebuah trends pressure, yang dirasakan masyarakat Indonesia baik itu yang level the have not sampai masyarakat yang the have, yaitu sebuah trend pressure yang sangat besar penetrasinya. Tapi masyarakat kita tidak menyadarinya, dan hal itu sudah jelas terlihat bahwa masyarakat Indonesia bersikap apatis terhadap penetrasi mentalitas ini, dalam artian kita menerimannya, menghayatinya dan lebih gila lagi mentalitas ini kita up grade sampai kulminasi. Dan hal ini benar-benar menjadi petaka dan musibah.
Kenapa masalah mentalitas ini sulit untuk di-recovery, karena ini abstrak, tidak indrais oleh masyarakat humaniora. Iya benar tapi mengapa? itu pertanyaannya sekarang. Yang pertama adalah masalah mentalitas ada masalah yang komplek dan ini lebih bersifat dan berujung kepada masalah emotion bukan pada konteks logic. Sehingga strategi ini akan menggunakan teknik yang berbeda-beda untuk diaplikasikan, lihat saja 200-jutaan manusia yang punya perbedaan terhadap kalibrasi emotion-nya, tidak bisa kita generaslisasi dalam bentuk satu strategi, jikalau konteks yang bermasalah adalah bencana gempa dan problemnya adalah korban sakit, lapar atau unsecured maka strategi dan tekniknya adalah sakit = pengobatan, lapar = pangan dan unsecured = secure, dan hal ini bisa digeneralisasikan dan universal. Dalam artian satu kebijakan bisa efesien, efektif dan universal. Jikalau yang terjadi masalahnya adalah konteks mentalitas sempit dan itu adalah abstrak, maka hal ini tidak general dan universal karena, kalibrasi emotion nya orang Indonesia benar-benar berbeda. Sehingga kita butuh ratusan juta strategi / teknik dan tentunya tidak objektif nantinya.
Perihal selanjutnya adalah kenapa masalah mentalitas sempit ini begitu di takuti dan sepertinya juga di dramatisir? Karena mentalitas adalah kasus yang fundamental. Oke kalau kita rakyat Indonesia punya mentalitas kompetensi yang positif, tidak apa-apa karena hal ini bagus, tapi masyarakat Indonesia mendapatkan mentalitas sempit yang akan membuat ganjalan yang sangat maha dahsyat terhadap kemajuan bangsa ini. Mentalitas ini akan menjadi diam dan diam tidak kreatif dan tidak kreatif berarti bodoh dan dari pada bodoh lebih baik mati, karena kalau bangsa in bodoh kita akan mudah di intervensi, didikte, dan dibudaki lagi. Dan tentu saja seperti yang saya katakan bahwa mentalitas sempit ini sangat berbahaya. Kalau kira-kira 51% rakyat Indonesia punya mentalitas sempit dan corrupt maka ia akan mayoritas dan kita akan menyebarkan lagi stigma ini pada 49% rakyat Indonesia yang lain. Dan ini jelas, ini hanya masalah waktu ia akan menjadi angka yang sempurna.
Apabila sampai kepada skala 100%, mentalitas bangsa kita sudah jelas bahwa ia: Mentalitas Sempit, dan mentalitas ini nantinya akan menjadi ideology bangsa ini, dimana mindset – action – habit – character dan destiny (pola pikir-aksi-kelakuan-karakter-takdir) kita akan menjerumuskan dan memerangkapkan diri kita sendiri kepada sebuah bendulan kapal yang sangat megah tapi sangat keropos pula.
Dengan kata lain mentalitas sempit, yang melihat suatu hal dari kacamata subjektif, inirasional dan pragmatis ini sekarang harus di delete dari mentalitas rakyat Indonesia. Ingat bahwa kita semua bukan pemilik Negara dan bangsa ini, kita hanya pemilihara, maka peliharalah sebaik-baiknya Negara dan bangsa ini seperti yang dilakukan oleh para founding father-mother kita kepada anak cucunya, dan demkian pula kita juga harus memiliharanya.

***.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: