Rantau Pariaman 1800-1850: perang paderi

Rantau Pariaman 1800-1850: perang paderi, ekspansi dagang dan konsolidasi politik belanda di utara Padang.
Wilayah rantau Pariaman meliputi dataran rendah sempit coastallowland di sebelah barat dataran tinggi Minangkabau yang membentang antara batang Anai di selatan batas dengan wilayah Padang dan Tiku di utara kota pariaman batas wilayah merantau pasaman dan ke pedalaman hingga tepi barat danau Maninjau. Kota terpenting di rantau pariaman adalah pariaman. Kota ini sudah lama memegang peran penting sebagai enterpot (pelabuhan-gudang), dengan segala fluktuasinya. Di zaman kejayaan perdagangan laut di pantai barat Sumatra sampai akhir abade ke 19, pariaman disinggahi kapal-kapal dari dalam dan luar negeri Kato 1986. Di sini antara lain komoditi dagang dari pedalaman Minangkabau ditumpuk sebelum dikapalkan melalui pelabuhan-pelabuhan lain. Bahkan jauh sebelum VOC secara resmi – melalui perjanjian painan (painansch contract) 1663- memasuki kawasan pantai barat Sumatra, pariaman sudah disinggahi oleh kapal-kapal asing dari Gujarat, arab, cina, dan juga kapal-kapal milik bangsa barat.
Para pedagang bangsa barat itu membeli lada dan emas yang banyak dihasilkan di Minangkabau. Selain itu mereka juga mencari kapur barus styrax benzoin atau camphor atau kamfer (drybalanops aromatica) di pelabuhan pelabuhan sebelah utara, terutama barus yang dikalangan pedagang arab dan India disebut pencur atau pansur – sebutan yang kemudian melekat pada nama ulama terkenal kelahiran daerah ini yaitu hamzah fansuri (lihat brakel 1969:209) – dan oleh sumber sumber klasik cina disebut p’olu (drakard 1988:20;1990;2-4;wolters 1967:baba 12[187-96]).
Barus dan daerah sekitarnya seperti singkel dan sibolga terkenal dimana-mana karena produksi kamfer-nya yang berkualitas baik, dan itulah yang menarik pedagang datang ke wilayah ini. Emas dan kamfer dan gaharu adalah komoditi dagang internasional penting yang dihasilkan pulau Sumatra sebelum tahun 1400, khusunya di daerah banyak antara air bangis dan singkel. Emas dan aromatic woods itulah yang telah menarik orang cina, Arab dan Eropa datang ke pulau Sumatra, yang di abad-abad kemudian abad ke 16-18) berganti dengan komoditi lada dan timah.
Rantau pariaman dengan pariaman sebagai kota terbesar menduduki tempat yang khas dalam konsep geopolitik Minangkabau tradisional, seperti tersirat dan pengertian bahwa “prang rantau” dimaksudkan sebagai orang yang berasal dari pariaman dan sekitarnya. Ini cukup untuk menunjukan pentingnya pariaman di rantau barat Minangkabau. Menurut hajka najm pariaman berasal dari bahasa arab barri aman yang artinya tanah daratan yang amat sentosa. Boleh jadi nama itu ada benarnya mengingat bahwa entrepot pariaman dan Tiku sudah lama menjadi pelabuhan penyalur keluar emas dari pedalaman Minangkabau tanah datar dan agama. Dan kawasan dataran rendah sempit rantau pariaman sendiri pernah menjadi lahan penanaman lada yang subur di abad ke 15-17 yang memberi kemakmuran pada penduduknya. Seorang sarjana belanda yang datang ke pariaman pada bulan September 1911 telah menemukan bukti-bukti arkeologis yang menunjukan bahwa entrepot pariaman memang sudah lama ada dan telah didatangi oleh kapal-kapal asing.
Tampaknya bangsa barat pertama yang hadir di kawasan pantai rantau Pariaman adalah orang Portugis. Kehadiran orang Portugis di rantau Pariaman itu terkenal sampai kini dalam Sastra rakyat lisan masyarakat setempat, yaitu kaba anggun nan taungga magek jabang.
Bangsa-bangsa barat yang lain datang ke perairan rantau Pariaman lebih belakangan dari bangsa Portugis. Kapal-kapal Perancis, misalnya baru pertama kali sampai di Sumatra pada tahun 1527. Rombongan kapal Perancis pertama ini dikirim seorang politikus dan pengusaha bernama Jean Ango dari kota dagang Dieppe. Hanya satu kapal yang sampai di Sumatra dari tiga buah yang dikirim. Tahun 1529 Ango mengirim lagi dua kapal yang dipimpin oleh dua bersaudara, Jan dan Raoul Parmentier. Kedua kapal itu singgah di Tiku dan Indrapura, tapi anak buahnya merana karena serangan penyakit.
Bangsa belanda baru pertama kali singgah di pelabuhan-pelabuhan di rantau Pariaman- di Tiku dan Pariaman- pada 21 November 1600, yaitu dua kapal di bawah pimpinan Paulus van Caarden sebelumnya Caarden singgah di Aceh dan pasaman) yang kemudian disusul oleh kapal-kapal belanda lainnya. Sementara ekspedisi dagang Inggris baru memasuki rantau Pariaman pada tahun 1685. Inggris akhirnya gagal menjalin kontak dengan Pariaman dan memutuskan mendirikan basis berdagangnya di Bengkulu, di selatan. Sedangkan orang-orang Spanyol tampakanya tidak begitu tertarik dengan pantai barat Sumatra. Dua kapal yang dipimpin Maggelhans (yang akhirnya mati terbunuh di Philippina) hanya singgah di pulau Tidore pada tahun 1521.
Perlu dikemukakan secara sepintas situasi sosial-politik dan agama yang terjadi di Minangkabau pada periode ini. Pada tahun 1803 tiga orang haji muda asal darek dataran tinggi Minangkabau yang baru kembali dari Mekah mendirikan suatu gerakan yang dinamakan paderi. Mereka itu adalah haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Kota, dan haji Piobang dari Tanah Datar. Banyak catatan yang Belanda mengatakan bahwa ketiga haji itu terpengaruh oleh paham Wahabi yang pada waktu itu sedang masuk di tanah Arab. Para haji itu menyaksikan perkembangan baru di Mekah, terutama paham Wahabiyah yang bersikap puritan. Dan mereka pulang kembali ke Minangkabau dengan ide ingin menerapkan secara lebih tegas ajaran Islam yang murni dalam masyarakat. Seperti sudah banyak ditulis oleh Sejarawan, gerakan paderi akhirnya berkembang sedemikian rupa sehingga menjerumuskan masyarakat Minangkabau dalam perang saudara selama kurang lebih empat decade paroh pertama abad ke-19 yang akhirnya dicampurtangani pula oleh belanda dengan, tentu saja, maksud-maksud ekonomi dan politik di belakangnya.
Tahun 1795 Inggris memasuki kota pelabuhan Padang, sebagai akibat perubahan peta politik perang di Eropa: Perancis menduduki belanda dan William V, raja belanda menyingkir ke kota Kew di Inggris. Dari pengasingannya ia menulis surat kemana- mana agar pasukan belanda di daerah-daerah koloni di seberang lautan menyerahkan diri kepada atau berkerja sama dengan Inggris. Di Sumatra, orang belanda menuruti perintah rajanya itu dengan menyerahkan wilayah sumatra’s westkust kepada Inggris. Walaupun Inggris hanya berkuasa di pantai, namun mereka mendengar bahwa di pedalaman ada sebuah kerajaan yang berdaulat, juga terhadap wilayah pantai dimana mereka sekarang berada. Orang-orang Inggris itu juga mendengar bahwa di pedalaman sebuah revolusi agama sedang digerakan oleh sekolompok ulama reformis yang baru pulang dari Mekah. Pertentangan-pertentangan dan pertumpahan darah antara sesame orang Minangkabau sendiri akibat revolusi itu sudah sering terjadi dan orang-orang Inggris di Padang mendengarnya dari laporan para pedagang, tetapi mereka enggan campur tangan dalam kisruh agama antara sesame pribumi itu. Mereka juga tahu bahwa orang Minangkabau memiliki pribumi itu. Mereka juga tahu bahwa orang Minangkabau memiliki sistem pemerintahan Nagari yang independen, dan sering di antara Nagari itu terjadi persaingan keras, dan salah satu wujud dari persaingan itu adalah budaya perang batu di antara Nagari-Nagari bertetangga
Sampai akhir decade kedua abad ke 19 wilayah pedalaman Minangkabau masih mreupakan suatu misteri besar bagi orang Eropa. Bagi orang Inggris di Padang, wilayah pedalaman masih sebuah peta yang gelap. Walaupun sejumlah pemimpin adat yang terdesak oleh kaum paderi sudah beberapa kali minta bantuan Inggris di Padang, tapi Inggris menanggapinya dengan hati hati. Thomas Stamford raffles, pimpinan Inggris untuk wilayah Sumatra yang berkedudukan di Bengkulu, memutuskan untuk mengadakan penyelidikan terlebih dahulu ke pedalaman Minangkabau untuk melihat keadaan yang sebenarnya sebelum mengambil keputusan politik yang jelas menyangkut konflik agama di pedalaman Minangkabau itu ekspedisi itu dilakukan pada tahun 1818 .
Sementara orang-orang di Inggris sibuk dengan perdagangan di pantai di pedalaman Minangkabau gerakan Paderi yang semakin militant dan semakin meluas pengaruhnya dalam masyarakat setelah dipimpin oleh seorang ulama muda progresif bernama Tuanku nan Renceh 177?-1832 asal Nagari Kamang. Tuanku nan Renceh – nama menurut laporan belanda sesuai dengan perawakannya- dan kawan-kawannya sudah menyatakan perang jihad terhadap kaum adat yang tidak mau mengikuti perintah kembali ke syariat atau kembali ke ajaran nabi Muhammad. Cara-cara radikal yang ditempuh Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya itu telah menyebabkan terjadi nya perpecahan di tubuh kaum reformis sendiri, seperti digambarkan oleh fakih saghir- salah seorang dari ulama reformis yang bersikap moderat- dalam catatannya. Fakir saghir alias Syekh Jalaluddn mengatakan bahwa Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya telah menekan dia dan guru sekaligus ayahnya, Tuanku nan tua di kota tua, agar menyetujui cara radikal setuju dengan cara-cara kejam yang ditempuh Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya itu. Ulama karismatik yang dituakan dan dihormati di darek itu telah melihat akibat buruk dari perbuatan pasukan Tuanku nan Renceh menyerang Nagari Nagari tetangganya, seperti empat angkat, durian, dan tilatang. Banyak rumah dibakar dan penduduk mengungsi ke tampat lain. “.. sukar menghinggakan ribu laksa rampasan dan orang terbunuh dan tertawan dan lalu kepada terjual dan terjadikannya gundiknya”, demikian tulis fakih saghir.
Rencana Tuanku nan Renceh dan kawan kawannya membunuh fakih saghir dan Tuanku nan tua dengan cara terlebih dahulu mengajak mereka berdebat di luar desanya tidak terlaksana. Tuanku nan tuan diselamatkan oleh karismanya yang masih tinggi di kalangan ulama di wilayah darek. Akan tetapi, mengutip kata kata fakih saghir sendiri yang juga selamat dari rencana jahat itu: “barangkali sebab Allah ta’ala meluluskan hukumNya jua, maka melepaskkan Allah ta;ala dengan tolongNya akan hambaNya yang mum’min, lagi sabar, lagi pilihan. Maka sampailah Tuanku nan Tuo pulang ke negeri kota Tuo, dan saya fakih Saghir, jua. Maka kemudian dari itu bersungguh jualah saya menguatkan perang melawan Tuanku nan Salapan (Tuanku nan Renceh dan kawan kawan) karena lah putus ikhtiar. Tidak patut kembali Tuanku itu daripada sekalian perkerjaan nya yang tersalah itu; sebab lah sangat bertambah kejahatannya dan senantiasa perkerjaan itu hingga sampailah keluar Kompeni Welanda di tanah darat ini. Barangkali orang Kompeni tahu adatnya.
Pada dasawarsa kedua abad ke 19 sebagian besar wilayah darek dalam lingkungan tiga Luhak (Agam, tanah datar, dan lima puluh kota) sudah berada dibawah pengaruh Paderi. Kehidupan sosial budaya masyarakat mulai disesuaikan dengan aturan yang dibuat oleh kaum pembaharu itu faksi garis keras pimpinan Tuanku nan Renceh dan kawan kawan berada diatas angin. Kaum Paderi tahu bahwa patron kaum adat adalah dinasti Pagaruyung. Oleh karena itu mereka berniat menghancurkan symbol eksistensi kaum adat itu.
Pada tahun 1815 orang-orang Paderi di bawah pimpinan Tuanku pasaman – menurut vegelius nama aslinya ketika belajar ke pasaman adalah siooe moemin atau sidi mukmim?, ia sendiri berasal dari linta- telah membantai keluarga raja Minangkabau (dinasti Pagaruyung)dan utusan lain dari golongan kaum adat, antara lain yang dipertuan raja naro dan yang dipertuan raja talang, usai sebuah rapat antara kedua belah pihak di koto tengah. Kibasan ganas kelawang kaum berjenggot itu hampir saja memusnahkan dinasti yang – menurut tambo Minangkabau – yang berasal dari keturunan iskandar zulkarnaen itu. Sisa keluarga raja Pagaruyung yang selamat dari pembunuhan itu, yaitu raja muningsyah dan cucunya Sutan Alam Bagagarsyah, berhasil meyelamatkan diri ke lubuk Jambi. Jadi, konflik antara sesame orang Minangkabau itu antara kaum adat dan kaum agama sudah memasuki tahap kritis ketika orang ketiga yaitu orang Eropa ikut campur tangan, tentu saja dengan tujuan politik dan ekonomi.
Setelah penghancuran dinasti Pagaruyung, pengaruh kaum Paderi semakin meluas di Luhak tanah datar, sebagaimana yang disaksikan oleh Thomas Stamford raffles dalam kunjungannya ke Pagaruyung (16 juli-30juli 1818) di Luhak Tanah Datar – pusat kekuatan sekaligus symbol kekuasaan kaum adat karena istana Pagaruyung terletak di sana) – pengaruh kaum Paderi terlihat sudah begitu mewarnai kehidupan masyarakat. On entering the country, tulis raffles kepada the duchess of somerset pada tanggal 10 September 1818,
we more struck by the costume of the people, which is now any thing but malay, the whole being clad according to the costume of the orang putis, or paderis, that is to say, in white or blue, with turbans, and allowing their bard to grow, in conformity with the ordinances of Tuanku Pasaman, the religious reformer. Unaccustomed to wearing turbans, and by nature deficient in beard, these poor people make but a sorry appearance in their new costume. The women, who are also clad in white or blue cloth, do not appear to the best advantage in this new costume, many of them conceal their heads under a kind of hood, through which an opening si made sufficient to expose their eyes and nose alone.
Sementara seorang penulis lain menggambarkan penampilan para pengikut Paderi orang –poetih itu sebagai berikut:
Rambut kepalanya dicukur, memakai sorban berwarna putih, tasbih di tangan kiri dan pedang ditangan kanan. Dan para ulamanya membawa eksemplar Al-Qur’an yang ditaruh dalam kantong merah yang digantungkan di lehernya. Kaum wanita juga terpaksa menukar rok pendek mereka dengan pakaian yang menutup bagian badan mereka, dan kepala mereka harus ditutup dengan jilbab. Ajaran al Qur’an harus ditaati dengan seksama, pelanggaran terhadapnya akan dikenai hukuman mati.
Kaum adat yang semakin terdesak mencoba minta bantuan Inggris di Padang. Inggris tampaknya menanggapinya dengan hati-hati. Ajakan kaum adat itu hanya ditanggapi Inggris dengan menempatkan satu [pasukan kecil di benteng simawang, di bawah pimpinan john bull, memang sebelumnya Thomas Stamford raffles, wakil Inggris di Bengkulu, sudah menerima dua pelarian keluarga istana Pagaruyung, tapi ia belum mengambil keputusan politik yang jrlas terhadap Minangkabau. Raffles malah memutuskan untuk meneliti dulu keadaan yang sebenarnya yang terjadi di pedalaman. Pada tanggal 16-30 Juli 1818 Raffles dan istrinya, serta seorang geolog, seorang ahli botani, dan sejumlah pembantu pribumi mengunjungi Pagaruyung di kenakan kebijakan politik yang jelas menyangkut wilayah Sumatra Barat, yaitu membangun wilayah itu dan menjadikan Sumatra barat sebagai suatu kawasan yang penting di bidang politik di masa depan yang akan memberi kejayaan kepada kerajaan Inggris raya.
Akan tetapi Raffles tidak dapat melanjutkan rencana-rencana di Eropa tiba-tiba berubah. Pada bulan Mei 1819 Inggris terpaksa menyerahkan kembali rantau barat Minangkabau kepada belanda. Kali ini alasan penyerah itu karena penataan kembali wilayah jajahan kedua negara itu di dunia berdasarkan traktat 13 Agustus 1814 yang telah mereka sepakati. Penyerahan ini sebenarnya sudah tiga tahun terlambat setelah penyerah Batavia (pulau Jawa) kepada belanda.
Raffles menyerahkan Sumatra barat kepada belanda dengan berat hati, karena ia sudah ditegur keras oleh atasannya lord hastings di Calcutta. Secara resmi kapitein der infantrerie DIENEMA wawakili phak Belanda menerima penyerah itu dari britsen bevalhebber” (penguasa hukum Inggris) yang menguasai Padang dan padangsche bovenlande. Persetujuan keduanya sebagai berikut: pasukan Inggris yang kecil ditarik dari pedalaman, sementara satu debasement prajurit Bengali dan sejumlah pribumi yang semula berada dibawah komando Inggris yang bertugas di Padang dialihkan kepemimpinannya kepada belanda dan tetap ditempatkan di Sumatera Barat. Untuk memperoleh kembali wilayah Sumatra’s Wesktust, belanda wajib membayar uang tebusan sebanyak 175.000 mata uang Spanyol (spaansche-matten), kepada Inggris. Sebanyak 76 orang penghulu (hoofden) dari Padang darat yang terdesak oleh kaum Paderi menyatakan berada di belakang Belanda.
Pos-pos penting di pantai tetap dijaga belanda: enam orang prajurit ditempatkan di pulau Cingkuk, enam lainnya di Air Haji, dan pada tanggal 24 Juli juga dikirim beberapa orang prajurit ke Pariaman. Tuanku Suruoaso dan saudara perempuannya, tuan gadis (mantan istri raja Muningsyah), yang lolos dari maut dalam serangan terhadap keluarga istana Pagaruyung di koto tangah, yang dulu telah dilindungi oleh Raffles, tetap diizinkan tinggal di Padang untuk memberikan keterangan-keterangan kepada belanda menangani sepak terjang kaum Paderi di pedalaman.
Segera setelah Inggris angkat kaki dari Sumatra barat, Batavia menugaskan James du Puy sebagai resident di Padang. Setelah resmi mengambil alih kekuasaan di Sumatra barat, belanda segera melakukan operasi militer ke pedalaman Minangkabau yang di mulai pada akhir du Puy justru langsung memutuskan untuk melibatkan diri dalam konflik antara kaum paderi dan kaum adat itu. Ia melaporkan kepada Batavia bahwa inilah saat yang tepat untuk menguasai pedalaman. Du Puy menganggap perlunya menduduki pedalaman Minangkabau dengan kekuatan militer. Tanggal 10 February 1821 dikirim lagi ke Padang resimen ke-18 dari Jawa dengan 4 orang officieren (opsir) dab 150 prajurit pejalan kaki dan pengintai (flankeures). Kekuatan itu ditambahkan kepada pasukan yang sudah ada di Minangkabau. Total seluruh kekuatan 494 pasukan yang sudah ada di Minangkabau. Total seluruh kekuatan 494 orang, dengan rincian 284 pasukan pejalan kaki; 20 pasukan artileri Eropa; 50 prajurit Bengali; 96 pasukan bersenapan pribumi, 44 artileri pribumi, dengan persenjataan 1 howitzer 5,5 inci, 1 kanon 6 pon, 3 kanon 1,5 pon, dan 5 meriam dan amunisi lengkap.
Pada 21 February 1821 kaum adat secara resmi menyerahkan wilayah pedalaman Minangkabau kepada belanda yang bersedia membantu mereka memerangi kaum Paderi perjanjian di diadakan di Padang di bawah sumpah menjunjung Al-Qur’an dan disaksikan oleh panglima Padang, Sutan raja Mansur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro raja johan. Atas perintah tuan residen du Puy, pada tanggal 28 Februari 1821 rencana penerangan pertama ke darek dimatangkan di Padang. Awal April 1821 rencana penyerangan pertama ke Derek dimatangkan di Padang. Awal April 1821pasukan Kompeni di bawah pimpinan kapten infanteri Goffinet dan kapten DIENEMA menyerang sulit air melalui Simawang. Tanggal 25 April sulit air dapat dikuasi belanda setelah mereka sendiri menderita kerugian besar. “Aldus begon onze oorlog met de paderies” (dengan demikian, perperangan kita dengan kaum Paderi telah dimulai), demikian kata seorang opsir tentara belanda yang tidak menyebutkan namanya dalam episode. Dengan sikap yang lebih agresif dari pada Inggris belanda terus melakukan intervensi militer ke pedalaman Minangkabau.
Pada tanggal 4 November 1821 seorang yang akan memimpin penyerangan besar-besaran ke pusat pusat pertahanan Paderi di darat berlayar dari Batavia. Dialah overste letnan colonel Raaff. Dilahirkan di ‘sHertogebbosch, belanda, tanggal 1 Desember 1794, Antonie Theodore Raaff – demikian nama selengkapnya – adalah seorang pimpinan tentara Kompeni yang sudah berpengalaman dalam beberapa medan perang di Eropa sebelum dikirim ke Hindia Belanda pada tahun 1818. Pada waktu itu umurnya baru 27 tahun, seorang prajurit yang masih muda dan penuh ambisi. Setelah sebulan melayari laut Jawa, dan hampir setengah pantai Barat Sumatra, Raaff sampai di Padang tanggal 8 Desember tahun itu juga. Ia segera melakukan konsolidasi terhadap pasukan yang sudah bersedia. Pada minggu terakhir bulan Desember tahun 1821 tepatnya tanggal 21 Desember pasukan letkol Raaff yang didampingi oleh kapten Goffinet, mayor Laemlin, dan letnan altileri Kluppel bergerak dari dan menuju Simawang di dekat danau Singkarak.
Dalam serangan perdana itu pasukan Paderi si Simawang dapat dikalahkan oleh pasukan letkol data. Dari sana pasukan data menyerang pusat pusat pertahanan Paderi di tanah datar dan Agam satu detasemen lain ditugaskan ke Pariaman 7 jam perjalanan jalan kaki dari Padang. Disana mereka mengumpulkan para kapal Nagari untuk diajak bekerjasama melawan Paderi. Jadi, tampaknya sudah sejak awal belanda berupaya mencoba penyebaran paham dan pengaruh Paderi di rantau Pariaman. Tanggal 24 Desember detasemen ini menduduki Kayutanam di kaki Bukit Ambacang 12 jam jalan kaki dari Pariaman. Binenlanden expedtie ini mencoba meretas etape yang memungkinkan kerja sama dan koordinasi dengan pasukan yang berangkat ke darek -etape etape itu adalah dari Padang ke Pasir Jambak, terus ke Ulakan , kemudian ke Pakandangan terus menuju Kayutanam, kemudian ke “Tambangong”, dan terus ke Bukit Sipinang.
Operasi Belanda di pedalaman semakin agresif. Letkol Raaff segera menjadi bintang lapangan. Orang muda yang pemberani ini menjadi momok bagi kaum Paderi di darat di berhasil merebut benteng benteng Paderi di darat. Dia berhasil merebut kemenangan itu tidak diperoleh dengan mudah. Dalam hirarki di dunia ketentaraan, nasib letkol Raaff sudah jelas: ia naik ke jenjang karir yang lebih tinggi. Ia akhirnya ditunjuk oleh Batavia menggantikan posisi du Puy, tapi rupanya orang seperti Raaff yang pemberani lebih cocok di lapangan dan kurang tahan duduk di belakang meja ia adalah tentara yang tidak tahan untuk tidak ikut dalam pertempuran lapangan. Namun karena itu pula umurmya tidak lebih [panjang. Raaf akhirnya meninggal tanggal 17 April 1824 di Padang, setelah menderita sakit selama 12 hari untuk menghormatinya lalu dibuat sebuah tugu di dekat pantai Padang, dekat taman budaya Sumatra barat sekarang. Posisi A. T . Raaff sebagai residen Sumatra Wesktust digantikan lagi oleh letnan colonel H.J.J.L rider se Stuers, penggantinya itu mendapati mandat yang lebih besar, tapi tidak selalu mau didikte oleh Batavia dalam menentukan kebijakan militer terhadap kau m Paderi setelah diangkat menjadi reside Sumatra Wesktust tahun 1824.
Sementara itu di pantai Barat belanda melakukan ekspansi dagang ke pelabuhan-pelabuhan di utara Padang. Mula-mula tujuan utama Belanda adalah untuk memonopoli perdagangan garam dan opium (yang bekerjasama dengan pedagang Cina), serta mengontrol jalur dagang antara pantai dan kawasan pedalaman. Namun di balik itu tujuan belanda jelas untuk memblokir gerakan dan pengaruh paderi agar jangan sampai mengimbas ke kawasan pantai. Seiring dengan meningkatanya eskalasi konflik dalam perang paderi di Padang darat, ekspansi dagang Belanda petani dibarengi pula dengan konsolidasi di bidang militer ini dimaksudkan untuk menguasai dataran rendah pantai barat dan enterpot-enterpot di kawasan ini untuk kepentingan ekonomi belanda sekaligus untuk memblokir hubungan kaum Paderi dengan dunia luar, terutama melalui pelabuhan-pelabuhan di utara Pariaman, seperti Tiku, Sasak, Air Bangis dan Katiagan. Belanda sudah mengetahui bahwa pelabuhan-pelabuhan di utara itu sering digunakan sebagai tempat menumpuk barang selundupan (smkkeleaar) yang sangat merugikan belanda. Untuk pertama kainya pada tahun 1821 pimpinan Kompeni di Padang menempatkan seorang wakilnya secara permanen di pariaman. Residen James du Puy menugaskan J. Intveld sebagai administrator sipil (posthouder) di entrepot ini. Jabatan itu dipegangnya sampai tahun 1824. Pada tahun-tahun berikutnya Belanda semakin meningkatkan pertahanannya pada wilayah rantau pariaman. Jika wilayah ini sudah dikuasi, maka ekspansi militer ke pelabuhan-pelabuhan yang di utara lagi (Tapanuli dan pantai barat Aceh) akan lebih mudah. Mulai tahun 1830 seorang pengawas (opzeiner) ditempatkan pula di Tiku dan dua tahun kemudian se orang opzeiner lagi ditempatkan di Kayutanam.
Mulai tahun 1826 pemimpin-pemimpin local di rantau pariaman mulai dilibatkan dalam pemerintahan yang dijalankan Kompeni. Tentunya ini dimaksudkan untuk menarik simpati rakyat sekaligus untuk mengawasi mereka. Mulai tahun itu juga jabatan regent untuk wilayah regentschap Pariaman dibentuk dan untuk pertama kalinya dijabat oleh Tuanku Seriaman. Tuanku regent ini membawahi dua afdeeling dalam wilayah regenstchap Pariaman, yaitu afdeeling Sakarek Hulu (yang meliputi wilayah Manggung dan Naras di utara/mudik) dan afdeeling Sakarek Hilir (entrpot Pariaman sendiri) yang masing-masing dikepalai oleh seorang Tuanku dibantu 6 penghulu.
Karena kapatuhannya dan mungkin juga karena dianggap mampu bekerjasama dengan Kompeni, jabatan regent itu diduduki tuanku Seriaman berturut-turut selama 18 tahun, padahal di Padang sendiri jabatan residen sudah lima kali berganti. Tampaknya jabatan regent pariaman dikuasi secara turun-temurun oleh keluarga tuanku Seriaman selama beberapa periode. Semakin banyak pajak yang dikumpulkannya dari penduduk, jabatan itu tentu akan sulit berpindah ke orang lain. Loyalitasnya kepada Kompeni tampaknya tak diragukan lagi, sehingga sang regent sering mendapat sanjungan, Seriaman telah diberi kehormatan khusus untuk berkunjung ke atas kapal perang Belanda Fregat de Rupel yang sedang sandar dipelabuhan pariaman pada tanggal 2 October 1840.
Sejak tahun 1826 seorang komandan sipil dan militer telah ditempatkan secara permanen di pariaman tampaknya belanda sudah menganggap penting mengorganisir pasukan militernya di dengan lebih baik di enterpot ini untuk mengawasi daerah-daerah sekitarnya. Tahun-tahun selanjutnya detasemen-detasemen militer belanda mulai sering melakukan inspeksi ke desa-desa di wilayah pariaman untuk mengawasi penduduk dan juga meminta pajak pasar. Kebijakan meminta pajak pasar atau bungo pasa ini yang besarnya 5% dari hasil penjualan, semula hanya untuk di wilayah bovenlanden diinstruksikan oleh residen de Stuers yang ditetapkan dalam ketetapan pemerintah tanggal 1 April 1825.
Di banyak tempat, seperti dicatat oleh M. Lange, keputusan de Stuers tentang bungo pasa itu banyak di tentang oleh masyarakat, terutama oleh para pemilik kedai (pasarpacht). Laporan letnan Boehouwer (1841) yang pernah menjadi komandan militer belanda di pariaman, memberikan banyak informasi tentang inspeksi-inspeksi militer itu yang sering dilakukan pada hari pekan di suatu Sungai Sarik, Sicincin, Pauh Kambar, Lubuk Alung, dan Pakandangan.
Benteng belanda yang kecil dan agak terlantar di pariaman juga diperbaiki belanda untuk memperkuat pertahanan Belanda di enterpot ini. Benteng yang bernama Vredenburg itu sebenarnya peninggalanVOC yang mulai dibangun pada tahun 1712. Sekarang alat persenjataan dan jumlah pasukan di benteng itu ditingkatkan menjadi 50 prang. Sebelumnya, benteng ini, selain kecil juga sangat kumuh, dan hanya dijaga oleh 15 sampai 20 orang serdadu saja.
Mula-mula (1826) jabatan komandan sipil dan militer di Pariaman dipegang oleh letnan dua Bergman. Namun, malang baginya, pada bulan Maret 1827 – menurut Budding 1816 tepatnya tanggal 27 Maret- letnan Bergman bersama 40 orang pesukannya diserang oleh penduduk VII kota. Mereka dihadang penduduk di Sungai Sarik dalam perjalanan dari Padang Panjang menuju Pariaman. Dalam penyerangan itu letnan Bergman dan sejumlah anak-anak buahnya (termasuk seorang “indlandschen Luitenant” yang menurut Lange bernama “Mara-Sedik” {Marah Sidik} terbunuh.
Masyarakat VII kota memang sudah zaman VOC tidak suka kepada Kompeni. Sekarang rakyat VII kota dan Naras (di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik alias Bagindo Maranti) tetap tidak mau tunduk kepada Belanda. Demikian juga halnya dengan penduduk V kota. Daerah-daerah itu langsung berbatasan dengan Dataran Tinggi (Darek) dan oleh karena itu penduduknya cukup terpengaruh oleh ide-ide kaum paderi. Rupanya sejak dulu orang-orang paderi memang sudah ada di Pakandangan. Sebuah laporan belanda menyebutkan bahwa sebanyak 20.000 orang simpatisan paderi pernah mengungsi ke dataran rendah Padang ketika pasukan tuanku Pamansingan dikalahkan oleh kaum adat dalam pertempuran di Ladang Laweh dan Gunung Paninjauan di tahun-tahun awal perang paderi. Mereka mengungsi , antara lain ke Pakandangan, salah satu desa penting yang terletak di jalur yang menghubugkan Padang Darat dan pantai (Padang dan pariaman). Di awal operasi militer belanda saja menuju pedalaman Minangkabau pada bulan Januari 1820, masyarakat V Kota dan VII Kota pun sudah melakukan perlawanan kepada belanda. Di akhir tahun sebelumnya (November 1919), VII kota sudah coba ditaklukan Kompeni dari laut, tapi mereka dihadang di desa “bumper” Sunur.
Penyerangan terhadap konvoi pasukan letnan Bergman agaknya berkaitan dengan sikap masyarakat VII kota yang terpengaruh oleh ide kaum paderi yang anti belanda itu. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa penyerangan terhadap letnan Bergman dan pasukannya mungkin disebabkan oleh karakternya yang kasar dan mata duitan. Berkaitan dengan sifatnya yang terakhir ini, ia dilaporkan sering memeras kepala-kepala Nagari dan para pedagang di wilayah sering memeras kepala-kepala Nagari dan para pedagang di wilayah kekuasaannya ketika ia menjadi komandan militer di pariaman.
Pada tanggal 10 Januari 1827 satu detasemen Kompeni di bawah pimpinan letnan Creemer didatangkan dari Kayutanam untuk membuat perdamaian dengan penduduk VII kota sambil menyelidiki pembunuhan terhadap pasukan Bergman. Para penyerang konvoi pasukan letnan Bergman itu kemudian ditangkap oleh detasemen yang dipimpin letnan H.J.Y Engelebert van Bevervooden – orang ini kemudian menjadi komandan militer di pariaman – dan dibuang ke Jawa. Salah seorang di antara yang dibuang itu (tidak disebabkan namanya) pernah muncul di Pasar Kurai. Taji Tengkorak lentnan Bergman atau salah seorang anggota pasukannya yang ikut tewas). Ia membanggakan dirinya sebagai orang yang paling banyak membunuh orang belanda (orang kulit putih). Seorang lainnya yang juga dicurigai terlibat dalam penyerangan terhadap pasukan letnan bergman yaitu: “groote schurk” (bajingan besar) Baginda Te Namé (Bagindo{Su} Tan Ameh) asal Pakandangan, yang juga memperlihatkan sikap benci kepada Belanda. Bagindo [Su]Tan Ameh dicurigai pernah merencanakan penyerangan terhadap patrol Kompeni. Namun orang ini urung ditangkap karena tidak ada cukup bukti.
Tahun 1829 jabatan komandan sipil dan militer di pariaman dipegang oleh J.W.H. Everts; tahun 1832 giliran Engelbert van Bevervoorden yang menjabat (orang ini dengan beberapa pengawas Maduranya akhirnya tewas menggenaskan itu ditangan kaum Paderi di Lubuk Sikaping pada bulan Janurari 1833). Kemudian jabatan ini dipegang oleh letnan Grummlikhuizen. Tapi ternyata orang ini tidak dapat bergaul dengan penduduk pribumi. Belanda tidak ingin hubungannya yang sudah cukup baik dengan beberapa pemimpin local di kawasan rantau pariaman rusak hanya oleh tingkah laku pejabatnya yang kasar. Padang segera menarik letnan Grumme-likhuizen dan menggantinya dengan letnan dua J.C. Boelhouwer yang menjabat tahun 1833-1834. Dan pada tahun 1833 pos militer baru juga didirikan di Tiku untuk mengamati gerakan Paderi di utara.
Dengan semakin meningkatanya eskalasi politik dipedalaman Minangkabau Menjelang kejatuhan Paderi, belanda menyadari pula pentingnya menata kembali administrasi pemerintahnya di wilayah pesisir. Keharusan untuk menata kembali wilayah administrasi itu tentu sebagai akibat dari semakin meningkatanya aktivitas Kompeni di wilayah utara, baik ekonomi maupun militer. Mulai pada tahun 1834 wilayah luas di utara Padang yang membentang dari Lubuk Alung sampai ke arah Rao dan Lembah Alahan panjang dipedalaman dimasukkan ke dalam satu kabupaten baru dengan nama regentschap Pariaman, Bonjol en Rau.
Rupanyanya, tiga tahun Menjelang kejatuhan Bonjol, desa yang menjadi benteng terakhir kemudian, setelah Bonjol jatuh (1837), wilayah utara dimekarkan lagi menjadi satu distrik baru untuk menata dan mengontrol wilayah-wilayah yang diambil alih belanda. Sekarang dibentuk distrik baru di bekas kabupaten yang lama dengan nama Pariaman., Tikoe en de Danau Districten, yang hanya mencakup wilayah Lubuk Alung di selatan sampai ke Tiku di utara dan kawasan danau Maninjau dipedalaman. Untuk kelancaran pemerintahan sekaligus untuk mengawasi lalu lintas perdagangan dari pedalaman ke entrepot pariaman atau sebaliknya, belanda menempatkan orang-orangnya (mendirikan pos-pos penjagaan) di desa-desa penting di jalur perdagangan itu, antara lain di Tiku, Kayutanam, Sicincin, dan VII kota.
Secara politis, pada pertengahan dekade keempat abad ke-19 sebagian besar daerah pantai di wilayah rantau pariaman sudah dikuasi belanda. Mereka selanjutnya melakukan penetrasi ke pelabuhan-pelabuhan Paderi di utara, seperti Air Bangis, Sasak, dan Katiangan penyerangan-penyerangan dari laut di sekitar perairan Air Bangis ke arah utara yang dilakukan Belanda untuk memblokir akses kaum Paderi – ke pantai sekaligus menguasai kota-kota pantai di kawasan itu – hal ini sudah dilakukan sejak 1831 – banyak dibantu oleh satu gerombolan bajak laut yang sering beroperasi di perairan itu yang dikepalai oleh seorang asal Bugis bernama nahkoda lengkap. Walaupun kawasan pantai sudah dikontrol Kompeni, namun penduduk beberapa wilayah di belakang pantai yang berbatasan langsung dengan darek masih belum sepenuhnya tunduk kepada mereka. Oleh karenanya kegiatan niaga, terutama dari dan ke pedalaman, belum sepenuhnya dapat diorganisir dengan baik oleh belanda, terutama karena masih merajalelanya petani-pedagang yang berada diluar kontrol mereka dan menjual hasil buminya kepada pembeli asing lain, seperti orang cina.
Konsolidasi politik belanda itu tentu mempengaruhi kehidupan masyarakat pariaman. Kompeni hanya menghadapi masalah agak serius di Naras oleh adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Tuanku Nan Cerdik. Tuanku ini berang kepada Belanda karena ia tidak diakui sebagai Raja Manggung menggantikan mamaknya yang wafat. Yang berkerja sama, tapi sebenarnya tidak berhak atas Jabatan itu. Namun, keputusan Kompeni menggusur Tuanku Nan Cerdik tampaknya dilatarbelakangi pula oleh kebijakan politik belanda yang mencoba menghambat pengaruh paderi di Pariaman. Belanda menuduh Tuanku Nan Cerdik sudah lama berhubungan dengan orang-orang Paderi dan sering terlibat penyelundupan.
Di antara tuduhan yang dialamatkan kepada Tuanku Nan Cerdik adalah bahwa ia diduga telah membunuh orang Cina berkaitan dengan bisnis candu di Pariaman. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Tuanku Nan Cerdik yang sebelumnya pernah membantu Belanda merasa dikhianati dan belakangan menyebrang ke pihak Paderi. Pada pertengahan tahun 1819 Tuanku Nan Cerdik bersama pasukannya yang bejumlah kira-kira 400 orang telah membantu letnan Deliser merebut Ulakan dan daerah sekitarnya. Orang ini luar biasa berani, demikian laporan Deliser kepada pimpinannya, residen du Puy, di Padang. Setelah itu Tuanku Nan Cerdik juga membantu Belanda memasuki wilayah VII Kota. Mungkin karena khawatir melihat kehebatan Tuanku Nan Cerdik, Belanda tidak ingin orang ini berkuasa di Manggung menggantikan mamaknya karena nanti bisa membahayakan kedudukan belanda sendiri di pariaman. Mereka berpikir kalau tuanku yang berotak tajam dan ahli strategi perang itu diangkat menjadi penguasa di Manggung, mungkin akan menyulitkan mereka di masa depan. Akibat perlakuan Belanda yang licik itu, Tuanku Nan Cerdik naik pitam dan akhirnya balik memusuhi Belanda. Jadi, motif pemberontakan Tuanku Nan Cerdik, pada awalnya jelas karena ia dikhianati Belanda, bukan karena terpengaruh oleh ide Paderi.
Dikutip dari buku Surayadi. Syair Sunur: Teks dan Konteks ‘Biofrafi’ Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19. Citra budaya. Padang. 2004.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: