Perang Paderi

1. Latar belakang
Perang yang berkobar di Minangkabau pada permulaan abad ke-19 bertali-temali dengan persaingan ekonomis antara dua kekuatan masing-masing pihak berusaha keras menguasai selat Sumatra, urat nadi lalu lintas laut antara India dan Cina. Sumatra memegang key position untuk menguasai jalan dagang penting sepanjang zaman itu. Itulah sebabnya maka belanda berusaha keras menanamkan pengaruh politiknya di Sumatra sejak permulaan abad ke-19 dan melancarkan perang Sumatra (18021-0908). Menjelang akhir abad ke18 Inggris telah berhasil mengkonsolidasikan pengaruh politik ekonominya di India. Sejak itu secara sistematis Inggris berusaha mendesak belanda dari daerah-daerah yang dikuasainya di Indonesia, yang menyebabkan pertentangan kepentingan antara dua kekutatan kolonial itu, terutama di daerah selat Sumatra. Penang, pintu ke selat Sumatra di sebelah utara, diduduki oleh Inggris (1786). Dalam masa perang Napoleon (1793-1815) daerah kuasa belanda di Indonesia satu demi satu jatuh ketangan Inggris. Bandar Panda digabungkan dengan Natal disebelah utara dan Bangkahulu disebelah selatan (1795-1819).
Sesudah Napoleon kalah (1815, peta Eropa diperbaharui dan daerah-daerah takluk Belanda dan Inggris di Asia tenggara mengalami perubahan-perubahan penting. Perjanjian Wina (1814-1815) dalam banyak hal disabot oleh Inggris. Pada tahun 1814- tercapai tujuan antara Inggris dan belanda, Perjanjian London I, Inggris mengembalikan daerah-daerah takluk belanda yang didudukinya selama perang napoleon. Pelaksanaan Persetujuan itu selalu diundur-undur waktunya oleh Inggris.
Di pesisir Inggris diwakili oleh Raffles, seorang tokoh kolonial yang mempunyai pandangan politik tajam dan jauh kedepan ia berusaha menyakinkan pemerintahnya, agar kota Padang tidak dikembalikan kepada belanda. Cita-citanya mengisolir belanda di Padang dengan mendirikan pos-pos Inggris di Minangkabau. Dalam tahun 1818 ia mengadakan perjalanan ilmiah ke alam Minangkabau. Tentara Inggris ditempatkan di pos Simawang, di pesisir timur danau Singkarak. Pulau Nias-pun dikunjunginya pula dengan alasan yang sama, bagi kepentingan ilmu pengetahuan. Natal sebelah utara dan Bangkahulu disebelah selatan ialah pos-pos Inggris dipesisir barat Sumatra, yang tiap saat dapat mengancam kedudukan Belanda di Padang. Raffles melihat kemungkinan besar bagi kepentingan politik dan ekonomi di Minangkabau. Ia berusaha membangun kembali kerajaan Minangkabau di bawah pegawasan Inggris karena ingin menjadikan alam Minangkabau batu loncatan untuk menguasai seluruh Sumatra. Sungai-sungai besar seperti Batang Hari dan Siak yang berasal dari Minangkabau, dapat digunakan sebagai jalan dagang, yang menghubugkan daerah pedalaman Sumatra dengan selat Sumatra. Raffles juga merencanakan pembangunan jalan raja yang mempertalikan ujung utara Sumatra (Aceh) dengan ujung selatannya (Lampung). Rencana-rencana yang sangat ambisius itu tidak dapat disetujui oleh pemerintahnya, East India Company (EIC).
Gagal di pesisir, raffles mengalahkan perhatian nya kedaerah selat Sumatra. Dalam tahun 1819 dibelinya pulau Tumasik dari kerajaan Johor dan dibangun disana Bandar Singapura. Dengan dikuasainya Penang disebelah utara dan di Singapura disebelah selatan semenanjung Malaya, terancamlah kedudukan Belanda di bandar Malaka yang dikuasainya sejak tahun 1641. Singapura cepat berkembang menjadi pusat niaga penting di Asia tenggara dan melemahkan posisi belanda bukan hanya disekitar perairan selat Sumatra, tapi juga di Jawa (Batavia). Inggris mulai pula meluaskan perniagaannya ke Aceh, Riau dan Siak dan berusaha keras mengikat ke daerah-daerah itu dengan perjanjian dagang. Diplomasi Inggris lebih luwes dari pada belanda dan membuka kemungkinan akan berhasil baik rencana raffles yang diambil oleh pemerintah Inggris. Daerah pesisir timur Sumatra memperoleh barang barang keperluannya dari belanda lewat Padang mulai alam Minangkabau. Kegiatan ekonominya Inggris di daerah itu, terutama setelah bandar Singapura dibangun, sangat melemahkan posisi ekonomi belanda di Padang, menghadapi Inggris dengan kekuatan militer tidak mungkin, karena mereka jauh lebih kuat daripada belanda. Tidak pula mungkin memerangi daerah pesisir timur, sebab berarti menghalau daerah itu kedalam pelukan politik-ekonomi Inggris.
Satu-satunya jalan yang terbuka bagi belanda, ialah menguasai daerah supplier bahan-bahan yang diperjualbelikan dipesisir timur. Daerah itu ialah alam Minangkabau. Dengan dikuasai alam Minangkabau, arus dagang ke pesisir timur dapat dihambat dan disalurkan ke pesisir dengan Padang sebagai pusatnya. Terhenti arus dagang ke pesisir timur berarti pukulan ekonomis bagi Inggris.
Di alam Minangkabau sendiri telah timbul dan berkembang satu kekuatan politik, yang dapat merupakan ancaman bagi belanda di pesisir, yaitu gerakan Paderi. Di pesisir kaum Paderi berhubungan dagang dengan Inggris melalui Tiku, Ketiagan (Air Bangis) dan Pariaman, kegiatan-kegiatan yang dianggap oleh Belanda mengancam kepentingannya, dan menambahkan unsur ketegangan politik antara Belanda dengan Inggris di Asia tenggara.
Usaha belanda meluaskan pengaruh politiknya ke alam Minangkabau mempunyai dua tujuan, yang hendak dicapainya sekaligus melemahkan posisi ekonomi Inggris dipesisir timur dan mencegah penyusupan pengaruh politik mereka kedaerah pedalaman Sumatra serta mencegah perembesan pengaruh ideologi politik kaum paderi ke pesisir. Dalam konteks inilah perang kolonial dilancarkan oleh belanda di Minangkabau (1821-1845) harus kita tinjau dan dalam hubungan ini pulalah perlawanan-perlawanan sengit yang dilakukan rakyat Minangkabau harus kita nilai.

2. Perjanjian Tahun 1821
Pola politik kolonial Belanda di Indonesia ialah mendekati golongan yang lemah dan terjepit, apabila sesuatu daerah pada satu ketika sedang mengalami pertentangan-pertentangan polity hebat. Bantuan militer yang diberikan kepada golongan yang sedang terjepit itu akan meratakan jalan bagi Belanda untuk memperoleh konsepsi-konsesi politik-ekonomi yang menguntungkan. Taktik ampuh itu diterapkan pula oleh Belanda di Minangkabau.
Dalam tahun 1819 kota Padang diterima kembali oleh Belanda dari Inggris. Pada waktu yang bersamaan supremasi kaum paderi sudah tertanam di alam Minangkabau. Perlawanan-perlawanan sengit kaum adat telah dapat dipatahkan. Pembunuhan keluarga yang dipertuan Minangkabau dikota Tengah oleh Tuanku Lelo, panglima bawahan Tuanku Rao (1809) dan menyingkir yang dipertuan kedaerah Kuantan, dianggap oleh kaum Padri sebagai tumbangnya kekuasaan kerajaan Minangkabau/Pagaruyung.
Sekalipun kaum paderi telah membuktikan supremasi mereka di bidang militer, namun mereka tidak berhasil minciptakan satu kekuasaan riil dengan pemerintahan yang terpusat. Masing-masing Nagari Berdiri sendiri, sedikit sekali berhubungan dengan sesamanya dan ikatan yang ada hanya dibanding ideologi. Kaum adat terpaksa menerima kenyataan, bahwa kaum adat Padri lah yang berkuasa di Nagari sekarang, sebab mereka tidak cukup kuat untuk melawan kaum paderi. Status Quo itu tidak berlangsung lama. Dengan kembali Belanda menduduki Padang, kaum adat melihat prospek-prospek baru yang dapat mebangkitkan kembali batang terendam, artinya memilihkan mereka kepada kedudukan semula. Sebagian penghulu alam Minangkabau ada yang melahirkan diri ke Padang dan berusaha mencari bentuk di kota itu. Pertolongan pernah diminta kepada Inggris, tetapi ditolak, karena mereka tidak mengambil risiko berperang dengan kaum Paderi. Inggris mempunyai hubungan dagang dengan kaum Paderi sebagai supplier senjata dari Penang dan Singapura.
Dengan Belanda lain situasi nya. Perkembangan politik di alam Minangkabau memberikan peluang yang diharapkan oleh Belanda untuk meluaskan pengaruh politik-ekonominya dalam rangka konfrontasi dengan Inggris, disamping melakukan tindakan preventif terhadap serangan kaum paderi ke pesisir. Peluang guna mencapai kedua tujuan itu sekaligus ialah kesempatan yang diadakan oleh penghulu pelarian di Padang yang berambisi besar untuk merebut kembali kekuasaan di Nagari masing-masing. Belanda ingin memperluas daerah jajahan. Musuh yang dihadapi sama, yaitu kaum paderi. Penghulu mengharapkan bantuan yang tidak mengikat, tetapi lupa, bahwa sekutu yang memberikan bantuan itu tidak memberikannya tanpa perhitungan laba-rugi. Kelihatan diplomasi berdasarkan pengalaman yang lama sebagai pemerintah kolonial, digunakan oleh belanda waktu menghadapi penghulu-penghulu pelarian guna merealisasi kerja sama menurut pengertian mereka sendiri. Syarat-syarat kerjasama yang mereka tekankan kepada penghulu pelarian itu sebagai golongan yang politis sedang terjepit, berat sekali.
Seluruh Minangkabau, tidak lebih dan tidak kurang, barus diserahkan oleh penghulu-penghulu pelarian itu kepada Belanda sebagai imbalan dari bantuan yang mereka berikan. Penghulu-penghulu itu tidak pula kalah lihay daripada Belanda, karena biasa sudah bersilat lidah dan mengadu ujung jarum. Mereka tahu, bahwa tidak ada wewenang, apalagi kekuasaan untuk menyerahkan, jangankan Nagari mereka sendiri, apalagi seluruh Minangkabau kepada Belanda. Mereka bukan wakil yang ditunjuk oleh kerapatan penghulu negara mereka sendiri apalagi dari seluruh Minangkabau seperti yang mungkin diartikan oleh Belanda. Mereka menghadapi perundingan dengan penghulu- ditunjuk oleh kerapatan penghulu negara mereka sendiri apalagi dari seluruh Minangkabau seperti yang mungkin diartikan oleh Belanda. Mereka menghadapi perundingan dengan penghulu- penghulu pelarian itu berdasarkan kaidah-kaidah hukum barat dan tidak mengetahui seluk beluk hukum adat. Sebagai penguasa adat, penghulu-penghulu itu insyaf, bahwa perjanjian Penyerahan Minangkabau seperti yang ditekankan oleh Belanda kepada mereka, tidak mnempunya nilai hukum adat apapun juga. Dibutakan oleh nafsu masing-masing untuk berkuasa, kedua belah pihak berhasil pembodohan sesamanya. Tetapi karena Belandalah yang kemudian berkuasa akibat keunggulan persenjataan mereka, mereka merasakan nilai-nilai hukum barat kepada orang Minangkabau guna memberikan legalitas pada tindakan politik mereka, menguasai seluruh Minangkabau. Isi pokok perjanjian tahun 1821 ialah, Penyerahan kerajaan Minangkabau kepada Belanda yang berjanji aka membantu kaum penghulu untuk mematahkan kekuasaan paderi. Penghulu-penghulu pelarian itu seia-sekata pula akan tunduk dan setia kepada Belanda. Janji itu tidak hanya mengikat mereka, tetapi juga anak-anak cucunya mereka dikelak kemudian hari, sebagai langkah pertama peng-realisasian perjanjian 1821. Belanda menempatkan 100 orang tentara dan dua pucuk meriam di Simawang.
Perjanjian itu mempunyai akibat yang sangat serius. Dengan sangat mudah, walaupun diatas kertas, Belanda dapat mengembangkan kekuasaan politik-ekonominya di daerah yang potensial penting sebagai key position pada waktu itu, dengan hanya menempatkan 100 orang tentara dan dua pucuk meriam di Simawang. Dengan menduduki tempat yang strategis-militer penting itu Belanda dapat mengawasi arus lalu-lintas barang dan manusia kejurusan timur (Luhak tanah datar) dan ke-hilir (lembah hulu batang hari), ke selatan (sulit air, Solok, Maura Labuh), ke barat (melalui Singkarak ke Padang) dan ke utara (Batipuh-Padang Panjang). Penghulu pemimpin rakyat bukan lagi pembantu mereka, tetapi berada slam posisi diperintah oleh Belanda. Mereka dipaksa mengerahkan anak kemenakan, rakyat mereka, untuk ikut memerangi kaum pari, bangsa dan adakalanya anggota suku dan keluarga sendiri. Disamping itu penghulu-penghulu diharuskan pula men-supply logistic penting untuk perang, seperti makanan, bahan-bahan bangunan untuk benteng Belanda, dsb.
Segala umpat dan caci-maki dari rakyat mereka sendiri dan rasa permusuhan yang kian menjurang dengan pihak paderi, adalah akibat dari permainan catur politik dengan Belanda di Padang itu. Dengan perjanjian 1821 sebagai visum, Belanda memasuki medan perang di alam Minangkabau, tanpa menyangka, bawa perang akan berlarut-larut, meminta banyak korban jiwa dan harta dari kedua belah pihak. Terhadap konflik ideologi yang sedang memecah belah masyarakat Minangkabau, Belanda membawa menambahkan satu faktor baru, perang kolonial dengan segala akibatnya.
Tahun 1821 tidak saja merupakan titik tolak dan pengkal penamaan kekuasaan Belanda di Minangkabau, tetapi juga sebagai permulaan perang Sumatra guna menguasai seluruh Sumatra (1821-1808) . untuk Minangkabau penamaan kekuasaan itu selesai dalam tahun 1845 dan bagi Sumatra dengan ditaklukannya Aceh (1904) dan tahan Batak utara (1908). Operasi-operasi militer yang bertujuan politik-ekonomi menguasai Minangkabau, dapat kita bagi dalam periode-periode berikut:
1. 1821-1832 seluruh Minangkabau, kecuali Kubang XIII (daerah Solok) jatuh ketangan belanda.
2. (permulaan tahun) 1833-(permulaan tahun) 1834, kaum adat dan Padri bersatu menghadapi Belanda, lembah Alahan panjang dibebaskan dari dominasi militer Belanda.
3. 1834-1837: perang Bonjol, yang dapat dibagi menjadi:
a. Juni 1834-juni 1835, masa mendekati benteng Bonjol.]
b. Juni 1835-agustus 1837, masa pengepungan dan penaklukan benteng Bonjol.
4. 1837-1845, pembulatan kekuasaan belanda di Minangkabau dengan penaklukan Kubang XIII (daerah Solok) dan Maura Labuh, diselingi oleh perlawanan regen Batipuh, pedang panjang (1842).

3. Operasi-Operasi Militer
a. Periode 1821-1832.
Benteng Simawang merupakan pusat kegiatan militer dan politik Belanda yang pertama di alam Minangkabau. Sikap permusuhan, – “tidak mau kerja sama” – , yang segera diperlihatkan oleh Nagari-Nagari disekitar benteng itu, mendorong Belanda untuk mendemonstrasikan kemampuan militernya. Sulit air diserang (28 April 1821) dan mulailah konflik senjata yang pertama di alam Minangkabau dengan Belanda.
Serangan Belanda itu gagal, demikian pula serangan berikutnya dua hari kemudian. “demonstrasi militer” di gunung dan simabur, Luhak tanah datar, mengalami nasib yang sama (Agustus 1821).
Menjelang akhir tahun 1821 letnan kolonel Raaff sampai di Padang dengan membawa serdadu dan senjata lengkap dari Batavia, sebagai komandan territorial di Sumatra barat. Mula-mula Raaff bermaksud menyerang Luhak Agam, tetapi setelah mempelajari situasi politik alam Minangkabau lebih teliti, Luhak tanah datar dijadikan objek terutama. Keputusan itu didasarkan atas pertimbangan, bahwa jika Luhak tanah datar sudah ditaklukan dan kekuasaan tuanku lintau dapat dipatahkan, kaum Padri dari daerah lain akan tunduk dengan sendirinya.
Dengan Simawang sebagai pangkalan, Pagaruyung diserang (4 Maret 1822). Kaum Padri meninggalkan bekas ibukota kerajaan Minangkabau itu setelah memberikan perlawanan yang gigih. Di sebuah bukti dekat Pagaruyung Belanda mendirikan benteng “fort van der Cappelen”, menurut nama gubernur jendral Hindia Belanda ketika itu. Itulah Batusangkar sekarang.
Raaff merencanakan untuk langsung menyerang Lintau (17 Maret 1822). Dengan kekuatan militer yang besar Belanda berangkat ke Suruoaso, Tanjung Berulak dan Air Bertumbuk, arah timur laut dari Batusangkar. Kaum Padri memusatkan pertahanan mereka di daerah itu. Berkali-kali Belanda berusaha menerobos tapi selalu dipukul mundur dengan korban besar.
Kemenangan Padri di Lintau menghentikan kegiatan-kegiatan militer Belanda untuk sementara waktu. Antara bulan Maret dan Juni 1822 Belanda memperkuat pertahanannya di Batusangkar. Titik terakhir dari garis pertahanan kaum Padri ialah Nagari Tanjung alam antara luka Agam dan Luhak 50-koto. Tanjung alam terpaksa dikosongkan oleh kaum Padri dan geris pertahanan Belanda terbentang dari Simawang disebelah tenggara sampai ke Tanjung Alam. Serangan kaum Padri untuk merebut Tanjung ala kembali tidak berhasil (7 Juli 1822)
Sekalipun sudah berhasil membuat baji yang memisah daerah kuasa kaum Padri dengan sesamanya, dalam jangka waktu yang lama Belanda tidak bernafsu menyerang untuk menyerang Lintau lagi. Segala usaha dipusatkan ke Luhak Agam dengan menyerang dan menduduki kota Lawas, Pandai Sikat dan Gunung (Juli 1822). Tuanku Masiangan, tokoh pimpinan Padri di Luhak Agam, ditawan oleh Belanda.
Nagari Kapau dan Tilatang disebelah utara Agam diserang oleh Belanda (15 Agustus 1822). Kaum Padri memberikan perlawanan gigih dengan “sistem-kubu” yang kuat dan berhasil menggagalkan tiap-tiap serangan Belanda, yang lalu mengundurkan diri dengan menderita banyak korban.
Dalam bulan September 1822 kaum Padri melancarkan serangan balasan secara serentak dan berhasil mengusir Belanda dari sungai Puar dan Guguk Sigandang, Luhak Agam dilereng gunung Merapi sebelah barat. Di bulan Februari 1823 Belanda mendatangkan bantuan dari Jawa dan pada bulan April berikutnya mereka mengadakan serangan-serangan kembali. Pertempuran hebat berlangsung selama tiga hari tiga malam dan Belanda terpukul mundur (17april 1823).
Mei pasukan tuanku Masiangan bergerak kedaerah pesisir dengan maksud merebut Pariaman. Waktu yang sama Belanda kembali menyerang Pandai Sikat. Serangan ke pesisir dibatalkan dan pasukan Padri kembali untuk untuk mempertahankan Pandai Sikat. Setelah melakukan pembunuhan massal di Biaro dan merebut Nagari-Nagari di sekeliling gunung merapi-singgalang. Belanda berusaha merebut Pandai Sikat, tetapi tidak berhasil.
Pada Januari 1824 tercapai kata sepakati antara pihak Belanda dengan kaum Padri Alahan Panjang, disebut perjanjian masang. Sebulan kemudian Belanda menyerang Nagari kota Lawas di Luhak Batipuh. Nagari Pandai Sikat terancam dan ditinggalkan oleh kaum Padri (1 Maret 1824).
Perjanjian masang digunakan oleh Belanda sebagai tabir asap guna mengalihkan perhatian kaum Padri dari tujuan Belanda yang sebenarnya. Menghubungkan Luhak tanah datar dengan Batipuh dan Luhak Agam.
Kekalahan-kekalahan yang diderita oleh kaum Padri di Luhak tanah datar dan Luhak Agam mempunyai efek psychologies yang serius bagi moril kaum Padri di lembah Alahan panjang. Disana terletak benteng Bonjol. Pada permulaan bulan September 1832 pertempuran-pertempuran sengit berkobar di Luhak Agam antara Matur dan sungai Puar. Pasukan lain datang dari arah pesisir dan kedua kesatuan itu bergabung di Simawang gadang. Belanda mengirimkan ultimatum kepada Bonjol untuk menyerah, yang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Padri. Golongan yang sudah jemu perang ingin berdamai.
Dengan dikuasainya Luhak Agam (April 1832), Nagari-benteng Bonjol (September 1832) dan Luhak L-Koto (Oktober 1832), sebagian besar daerah Minangkabau kecuali Kubang-XIII (Solok), telah dikuasi oleh Belanda. Tahap pertama dari “perang Padri”, sebagai permulaan dari perang Sumatra, selesai sudah.

b. Permulaan tahun 1833 – Permulaan tahun 1834
Dengan kekalahan kaum Padri pada akhir tahun 1832, penaklukan sebagian besar dari wilayah Minangkabau secara militer sudah selesai. Follow up dari penaklukan dengan kekerasan senjata ternyata jauh lebih sulit, sebab menyangkut soal-soal psikologi manusia dan wataknya. Pendudukan Nagari benteng Bonjol di iringi dengan perubahan sistem pemerintahan. Administrasi pemerintahan Padri dihapus. Di Bonjol diangkat seorang regen yang diserahi pimpinan pemerintahan seluruh lembah Alahan panjang. Dalam perjanjian yang dibuat dengan pihak Padri waktu Belanda akan memasuki Nagari Bonjol, tercapai kata sepakati, tentara Belanda akan ditempatkan pada daerah tertentu, yaitu di medan Saba. Belanda berjanji akan menghormati agama dan adat penduduk. Ternyata kemudian Belanda sebagai pihak yang menang perang, melanggar segala janji itu. Tentara Belanda mengempati mesjid-mesjid, langgar dan rumah-rumah penduduk, yang penghuninya diusir keluar. Mengasramakan tentara “kafir” dalam mesjid dan langgar sebagai tempat ibadah penduduk yang umumnya beragama Islam, sangat melukai rasa keagamaan mereka. Disamping itu penduduk dipaksa pula melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sebagai penghinaan harkat mereka seperti manusia merdeka yang tahu harga diri. Mereka dipaksa membersihkan tempat-tempat kediaman tentara kafir itu. Tindakan tentara Belanda itu memberikan kesadaran kepada rakyat, bagaimana pahitnya nasib yang kalah perang. Kedua golongan yang berbeda faham waktu menerima ultimatum Belanda, dipertemukan oleh penderitaan yang sama. Di daerah-daerah lain pun rasa tidak puas, dipupuk oleh sikap dan tindakan-tindakan Belanda, meluas dan berkembang biak. Di daerah-daerah dimana golongan adat merupakan mayoritas, rasa tidak puas berkembang luas sebagai akibat dari percaturan-percaturan pajak, yang dianggap sangat mengikat dan berat. Mereka dipaksa pula melakukan kerja rodi, dilarang menyabung ayam dsb. Peraturan cukai pasar dan menyabung ayam, diterbitkan oleh Belanda dalam tahun 1825, dan diperdagangkan kepada orang cina, sangat melukai hati penduduk. Pada umumnya orang cina itu bersikap sombong dan keras, karena itu sering dibantu oleh penduduk untuk membalas dendam. Disamping itu perasaan tidak puas meluas pula dikalangan penghulu-penghulu yang dulu banyak membantu Belanda, tetapi kini merasa dilupakan.
Diseluruh Minangkabau ketika itu merata rasa tidak puas, walaupun motifnya berbeda-beda, maka saling mendekatilah golongan Padri dengan golongan penghulu, golongan agama dan adat yang bertentangan selama ini. Kedua golongan itu mengadakan rencana untuk menumbangkan belanda dari alam Minangkabau.
Sesuai dengan rencana bersama, pada tanggal 11 Januari 1833 tengah malam serangan0serangan serentak dilancarkan pada seluruh pos Belanda di Minangkabau. 20 orang hulubalang dibawah pimpinan raja Layang dan Tuanku nan Garang memasuki mesjid Bonjol dan membunuh tentara belanda yang diasramakan ditempat ibadah itu. Di Simawang gadang 9 orang termasuk komandannya tewas.
Perlawanan penduduk berkobar pula di Nagari-Nagari tarantang tunggang. Lubuk Amabalau dan Rao. Diseluruh lembah Alahan panjang 142 orang tentara Belanda menemui ajal mereka.
Walaupun tidak semua perlawanan dari kaum Padri mulus, tapi Belanda tidak mampu memadamkan api perlawanan sama sekali. Dalam bulan Juni 1833 penduduk Buo menyerang Belanda, di Tambangan dan Guguk Sigandang terjadi pertempuran sengit. Benteng Guguk Sigandang dihancurkan oleh rakyat. Dalam bulan Juli berikutnya perlawanan bersenjata berkobar di Kamang dam sekitar Bukittinggi.
Luhak tanah datar dan Luhak Agam dikuasi kembali oleh belanda dan kaum Padri di lembah Alahan panjang dengan Bonjol sebagai pusatnya terisolir (Juli 1833). Belanda menjadikan kedua Luhak tersebut sebagai daerah supply dan basis untuk menyerang Bonjol kembali.

c. Periode 1834 – 1837 (Perang Bonjol)
Periode perang Bonjol dimulai dengan serangan ke pantar dan mantur (Juni 1834) dan berakhir dengan jatuh benteng Bonjol (17 Agustus 1837). Periode ini dapat kita bagi atas:
1. Masa mendekati Bonjol (Juni 1834 – Juni 1835), dan
2. Masa pengepungan dan penaklukan Bonjol (Juni 1835 – Agustus 1837).

1. Masa mendekati Bonjol (Juni 1834 – Juni 1835)
Karena menemui kegagalan di bidang militer, belanda mengalihkan aktivitas mereka di bidang diplomasi. Taktik itu mereka tempuh untuk memperoleh adem pause. Tarik nafas yang cukup lama guna menyusun kembali kekuatan militer.
Plakat panjang yang diumumkan pada tanggal 25 Oktober 1833 ialah hasil dari usaha kejurusan itu. Serta merta dengan diumumkan Plakat panjang, kaum Padri menghentikan segala kegiatan perang mereka. Kubu-kubu pertahanan banyak yang ditinggalkan. Di beberapa tempat bahkan ada yang dirusak. Belanda hanya menghentikan serangan-serangan mereka, tetapi persiapan-persiapan untuk suatu ketika melanjutkan perang diteruskan. Dengan Plakat panjang Belanda berhasil mencapai tujuannya, kaum Padri menyia-nyiakan waktu dan menutup pintu bagi kemenangan.
Selama tujuh bulan Belanda mengadakan persiapan-persiapan perang, selama itu pula kaum Padri mengendorkan kewaspadaan dan meengabaikan pertahanan mereka. Pada tengah malam buta antara tanggal 3 dan 4 Juni 1834 pantar dan Matur tiba-tiba diserang dan diduduki. Serangan serangan sekonyong-konyong dalam masa damai itu merupakan pukulan psikologis yang hebat bagi kaum Padri. Mereka kalang kabut, kubu-kubu pertahanan banyak yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Tetapi semangat tempur mereka berkobar kembali, sekalipun tidak sehebat seperti dalam bulan September 1833.
Jatuh kedua tempat yang militer-strategis penting itu berarti kemajuan besar bagi operasi militer Belanda. Hubungan Maninjau-Agam terputus. Andalas, benteng Padri yang kuat, jatuh pula ketangan musuh dan pada tanggal 24 Juni 1834. Nagari sungai puar di Luhak Agam menyerah. Bamban dikuasi, setelah pertempuran sengit dan dijadikan pusat perbekalan dan gedung senjata.
Pertempuran mulai berkobar lagi pada tanggal 21 April 1835. Pasukan Belanda menyerang Bonjol dari tiga jurusan sekaligus. Dari Matur dan Bamban disebelah barat-daya, dari L-Kota disebelah timur-laut dan dari Tapanuli selatan disebelah utara.
Dari Sipisang Belanda melakukan gerakan kakak tua. Satu kesatuan menuju ke Padang Sarai dan kesatuan lain kejurusan Simawang gadang. Yang ke Padang Sarai dipukul cerai-berai ditepi sungai kumpulan dan yang menuju ke Simawang gadang datang membantu untuk menghindarkan kesatuan yang pertama dari kehancuran total.
Kubu kaum Padri diseberang air taras menjadi medan tempur sengit pula. Korban berjatuhan pada kedua belah pihak (3 Mei 1835).
Pasukan Tapanuli hanya berhasil mencapai Rao, tetapi dipukul mundur dan terpaksa kembali.
Lembah dari tepi sebelah kiri Alahan panjang hingga musuh yang letaknya kira-kira 1 km disebelah selatan Nagari Bonjol, merupakan pertahanan kaum Padri yang penting. Pusatnya, Padang Lawas, didekati oleh Belanda dari dua jurusan (8 Juni 1835). Sebagian secara diam-diama berhasil menyusup kebelakang koto Padang Lawas. Kaum Padri, menghadapi serangan dari dua jurusan sekaligus, menghindarkan diri dari jepitan kakak-tua dengan memberikan perlawanan yang gigih. Lembah Padang Lawas ditinggalkan.
Dengan dikuasi lembah penting itu oleh Belanda, pintu gerbang Bonjol disebelah selatan berada ditangan musuh. Ruang gerak kaum Padri di Bonjol makin dipersempit dan diperketat oleh Belanda (Juni 1835).

2. Dikepung dan Ditaklukan (1835 – 1837)
Bertambah dekat kebenteng Bonjol, bertambah lamban kemajuan Belanda dan lebih banyak korban jatuh pada kedua belah pihak. Belanda memagari Bonjol dengan kubu-kubu dan perang menjadi perang kubu, stelling-oorlog. Perang yang lamban itu sangat mengganggu urat syaraf tentara Belanda terutama, karena harus siap siaga setiap saat. Hampir putus asa, mereka berusaha menempuh jalan perundingan dengan tuanku imam. Usaha itu tidak pernah beliau hiraukan.
Bagi kaum Padri sendiri periode antara tahun 1835 – 1837 itu ialah yang paling berat. Mereka makin terisolir dan melawan Belanda mati-matian untuk dapat terus hidup. Dalam masa serba genting yang menentukan nasib kaum Padri di Minangkabau itu, tuanku imam Bonjol memainkan peranan sangat penting. Beliau menjadi gunung harapan dan lambang perjoangan kaum Padri.
Sejak lembah Padang Lawas dikuasi oleh Belanda, mereka berangsur maju setapak demi setapak. Pada tanggal 14 Juni 1835 mereka berhasil menyeberangi B. Alahan panjang pada tempat yang dangkal, tetapi tidak melancarkan serangan. Tembakan-tembakan dari kubu-kubu kaum Padri tidak mereka balas. Dengan menyusuri tepi sungai mereka bergerak kearah utara dan menduduki sebuah kubu yang kebetulan kosong. Kontak senjata yang kemudian terjadi, mengakibatkan serangan Belanda secara besar-besaran dan beberapa buah kubu jatuh ketangan mereka. Mereka membangun sebuah kubu yang berdekatan dengan benteng Bonjol. Pertempuran berlangsung selama lima hari dan meminta korban lebih kurang 100 orang Belanda. Seungguh pun demikian Belanda berhasil membuka posisi mereka dengan menggunakan artileri berat hingga kira-kira 100 m dari benteng Bonjol. Mereka bertahan dalam kubu yang sempat dibangun. Usaha kaum Padri menghalau mereka dari kubu itu tidak berhasil.
Disebelah barau-laut Bonjol ditepi s. Alahan panjang letak berdekatan koto benteng koto dan koto jambak. Belanda menyerang dan berhasil menduduki kedua koto itu. Kontra offesief dilakukan cara gigih dan terus menerus oleh kaum Padri, mendesak Belanda dari kubu itu dengan meninggalkan korban banyak.
Kekalahan di jambak dan koto minumbulkan kelesuan dipihak Belanda, karena banyak menelan korban. Selama tiga minggu Belanda bertahan dalam kubu mereka, menantikan bala bantuan dari air Bangis. Mereka menyerang dan menduduki Alahan mati untuk memutuskan hubungan Bonjol dengan pesisir (12 Juli 1835). Operasi selanjutnya diarahkan ke Lubuk Ambacang dengan maksud menghubungkan Alahan mati dengan markas di lembah Alahan panjang. Lubuk Ambacang mereka kuasai setelah tiga hari bertempur dan meminta korban tidak sedikit.
Disebelah tenggara Nagari Bonjol terletak kota Padang Bubus, pada jalan-kuda ke lalang, Puar datar dan Payakumbuh. Padang Bubus diserang oleh Belanda dengan tujuan menjepit Bonjol dari arah tenggara (4 September 1835). Serangan dilancarkan dari dua jurusan sekaligus, tetapi dapat dilumpuhkan oleh kaum Padri.
Hingga bulan Januari 1836, setelah sepuluh bulan mengepung benteng dari Nagari Bonjol, belanda baru dapat menguasai bagian selatan., barat laut Bonjol dan beberapa kubu disekitar benteng Bonjol. Benteng dan Nagari Bonjol sendiri belum terdekati oleh tentara Belanda. Mereka berhasil memperketat dijepitnya, hingga hubungan Bonjol dengan dunia luar berangsur-angsur terputus. Pada awal tahun 1836 garis pertahanan Belanda sepanjang 5 km dan jumlah tentaranya lebih kurang 1.300 orang, tidak terhitung oleh Indonesia dan pasukan-pasukan bantuan bukan orang Belanda.
Dini hari jam 3 malam sepasukan militer musuh berhasil menyusup ke dalam benteng Bonjol melalui lobang akibat tembakan-tembakan meriam Belanda dan langsung menuju kerumah isteri tuanku imam (3 Desember 1836). Kaum wanita diseret semuanya keluar, satu-satunya pria, Mahmud, putera bungsu tuanku imam, gugur. Tuanku imam yang malam itu tidur dirumah lain, datang dan segera terlibat dalam perkelahian sengit, tentara Belanda melarikan diri keluar benteng. Dikejar oleh tuanku imam dengan pedang berkilat ditangan. Nyaris beliau teas, sekiranya tidak cepat menangkis tusukan bayonet seorang tentara Belanda. Waktu itu tuanku imam sudah berumur 63 tahun.
Kekalahan Belanda yang bertubi-tubi itu mempunyai akibat luas, perdebatan sengit terjadi dikalangan pimpinan tinggi di Batavia. Ada yang menyangsikan kesanggupan tentaranya di Minangkabau untuk menyelesaikan kesanggupan tentaranya di Minangkabau untuk menyelesaikan perang Padri dengan cara terhormat.
Panglima tentara Hindia-Belanda sendiri memerlukan datang ke Padang dan Bonjol guna mengadakan pengamatan “on the spot” (9 Maret – 12 April 1837).
Disamping menyempurnakan pertahanan, persenjataan, perbekalan dan perhubungan, pasukan-pasukan di Bonjol dengan daerah-daerah lain, kembali ia mengajak tuanku imam untuk berunding. Sungguhpun keadaan kaum Padri ketika itu tidak menggembirakan ajakan itu oleh tuanku imam ditolak.
Pada tanggal 28 Juni 1937 Padang Bubus dan kemusai Tanjung bunga jatuh ketangan Belanda. Pada tanggal 3 Juli berikutnya pertempuran sengit terjadi disebuah bukti disebelah selatan Bonjol dari bukti itu meriam-meriam Belanda tidak henti-hentinya menggempur bukut terjadi.
Tentara Belanda menggali parit-parit tempat berlindung sebelum serangan dilancarkan. Kaum padri memindahkan aliran sungai dan menggenangi parit itu.
Dari hari kehari pengepungan benteng Bonjol semakin ketat. Dibawah lindungan tembakan-tembakan meriam nya, Belanda berhasil membuat kubu yang hanya 25 meter jauhnya dari dinding benteng Bonjol (31 Juli 1837). Seminggu lamanya tidak henti-hentinya meriam-meriam Belanda menghujani benteng Bonjol.
Hubungan kaum Padri dalam benteng dengan dunia luar hampir terputus sama sekali. Satu-satunya jalan yang terbuka ialah kejurusan utara ke koto marapak. Belanda telah menduduki bukti di sebelah timur bukut terjadi dan segala kegiatan kaum Padri dapat diawasi dari bukti itu. Bantuan dari luar, senjata maupun makanan, praktis tidak dapat diharapkan lagi oleh tuanku imam. Kaum wanita dan anak-anak mulai diungsikan keluar benteng, dibawa ke koto marapak.
Bukit tajadi disebelah timur terpisah dari benteng Bonjol oleh sebuah anak sungai yang dangkal. Dinding bukit itu sangat curam dan tingginya kira-kira 20 meter. Diatas bukti itulah kaum Padri mendirikan kubu-kubu pertahanan, diperkuat dengan meriam-meriam besar. Pada beberapa tempat ada lobang pengintaian. Dari lobang-lobang itu benteng Bonjol dan dataran dibawahnya dapat dilihat dengan jelas. Karena itu segala gerak-gerik lawan dapat di ketahui dengan mudah. Dari ujung sebelah tenggara membentang sebuah lembah dalam sampai ke Sipisang.
Akibat muntahan peluru-peluru meriam-meriam Belanda selama minggu bulan Agustus 1837, benteng Bonjol rusak hebat.
Belanda memusatkan segala serangan untuk merebut bukti Tajadi guna membungkamkan meriam-meriam Padri yang sangat mengganggu kemajuan pasukan infanteri mereka. Sebagai pancingan Belanda melakukan gerakan-gerakan tentara yang hebat disebelah barat dan selatan Bonjol. Perhatian kaum Padri dicurahkan sepenuhnya pada gerakan-gerakan itu. Sebagian pasukan Padri dipindahkan dari bukti Tajadi kedalam benteng Bonjol guna menghadapi serbuan Belanda.
Pada tanggal 15 Agustus 1837 meriam Padri masih menembak dari bukit Tajadi. Itulah tembakan terakhir. Pada malam harinya pasukan belanda dari Sipisang sudah sampai kedalam benteng dan duga-duga itu mengagetkan dan melumpuhkan seketika semangat juang kaum Padri. Memberikan perlawanan terus sia-sia, bukti Tajadi ditinggalkan melalui jalan utara.
Dengan jatuh bukit Tajadi benteng Bonjol jadi lumpuh. Pagi-pagi tanggal 16 Agustus 1837 pasukan Belanda dari bukit Tajadi bergerak dengan sangat hati-hati mendekati benteng Bonjol kesangsian masih meliputi hati mereka, khawatir menghadapi perlawanan mati-matian kaum Padri. Gerakan tentara Belanda itu memasang dihalang-halangi oleh tembakan-tembakan kaum Padri dari Puncuran tujuh, tetapi sudah tidak mampu merintangi kemajuan lawan. Tentara Belanda memasuki benteng Bonjol dari pintu gerbang timur bergabung didalam benteng dengan pasukan-pasukan yang masuk dari jurusan barat dan selatan. Benteng kaum Padri terakhir di Bonjol jatuh ketangan Belanda (16 Agustus 1837).
Secara resmi perang fisik di Minangkabau sudah berhenti dengan kemenangan Belanda.
4 . Periode 1837 – 1845
Beberapa lama Sesudah benteng Bonjol jatuh, tuanku imam masih memimpin perang gerilya. Dalam keadaan demikian beliau menerima surat dari residen Sumatra barat di Padang, yang mengajak beliau datang ke Palupuh untuk berunding . dengan ditemani oleh seorang anak beliau dan tiga orang pengawal, tuanku imam datang ketempat yang ditentukan (25 Oktober 1837). Serta merta beliau ditangkap, dibawa ke Batavia untuk selanjutnya di asingkan di Cianjur. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Manado, tempat beliau kemudian meninggal dunia (6 November 1864). Dan dikebumikan (dikampung Lutak).
Dengan Bonjol sebagai pangkalan, Belanda melanjutkan operasi militernya guna mengamankan Nagari-Nagari di sekitarnya. Dibagikan utara Minangkabau masih ada pertahanan kaum Padri yang kuat, benteng Dalu-Dalu dibawah komando tuanku Tambusai. Ketika Belanda memusatkan segala usahanya untuk menguasai Nagari Bonjol, beliau menyerang Tapanuli selatan. Karena menderita pukulan-pukulan dari tentara Belanda, beliau menarik diri kebenteng Dalu-Dalu. 14 bulan lamanya Belanda berusaha menaklukan benteng itu dan pada tanggal 28 Desember 1838 benteng kaum Padri terakhir di Minangkabau jatuh ketangan belanda. Tuanku Tambusai menyingkir ke Padang Lawas dan melanjutkan perlawanan disana sampai beliau meninggal dunia (1863). Tuanku Tambusai menjadi cikal-bakal kesultanan Berumun dengan kota Pinang sebagai ibukotanya.

Kesimpulan
1. Gelombang pembaruan dan pemurnian ajaran Islam di Minangkabau pada permulaan abad ke-19 menimbulkan perang saudara, yang berakhir dengan dirintis jalan bagi perkembangan mazhab Syafe’i dan tertanam dominasi politik-ekonomi Belanda di daerah Minangkabau.
2. Pembunuhan besar-besaran atas keluarga yang dipertuan Minangkabau/Pagaruyung di kota tengah (1809) dianggap sebagai berakhir zaman kerajaan Minangkabau/Pagaruyung dan mulai zaman “darul Islam Minangkabau” (hingga tahun 1821) dibawah pimpinan kaum wahabi/Padri.
3. Dengan memperalat penghulu-penghulu pelarian di Padang (perjanjian 1821), Belanda mulai melancarkan “perang kolonial” di Minangkabau, permulaan dari “perang Sumatra”, yang berakhir dengan ditaklukan daerah Aceh (1904) dan Tapanuli utara (1908).
4. Kaum wahabi/Padri memproklamirkan perang kolonial itu sebagai perang sabil dan bersatulah kembali kaum adat dan kaum agama untuk bersama-sama menghadapi agresif Belanda itu. Hingga tahun 1825 semangat bertahan rakyat Minangkabau berhasil membatasi ekspansi politik Belanda pada beberapa tempat di Luhak Nan tiga. (perjanjian masang 1824).
5. Gencatan senjata antara tahun 1825-1830, berhubung dengan pecah perang Diponogoro di Jawa, tidak ditepatgunakan oleh rakyat Minangkabau. Selesai perang itu Belanda memusatkan kembali segala daya dan usahanya ke Minangkabau, hingga berhasil ditaklukannya (1832).
6. Pelanggaran-pelanggaran dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak Belanda, mengakibatkan terjadi pertemuan Tandikat (1832). Bulat tekad kaum adat dan agama untuk bersama-sama serentak mengusir Belanda dan perang Minangkabau berkobar kembali dengan hebat nya.
7. Gagal dibidang militer (pertempuran sengit di pantar dan Matur, 1833) Belanda menempuh jalan diplomasi dengan mengumumkan Plakat panjang (Oktober 1833), yang berhasil memecah belah Persatuan rakyat Minangkabau dan memberikan adempauze, peluang waktu untuk menarik nafas, yang digunakan oleh Belanda guna menyempurnakan persiapan-persiapan militer mereka.
8. Setelah merasa dirinya kuat kembali, Belanda melanggar Persetujuan Plakat panjang. Segal usaha dipusatkan untuk menaklukan Bonjol (1834 – 1837), pusat pertahanan rakyat Minangkabau terkuat disebelah utara dibawah pimpinan tuanku imam
9. Dengan ditawannya tuanku imam (1837), dipatahkan perlawanan Tuanku regen Batipuh (1841) dan hancur pertahanan rakyat kabung XIII (akhir tahun 1845), selesailah perang Minangkabau sebagai tahap pertama dari perang Sumatra.
Dikutip dari buku M. D. Mansoer (dkk). Sedjarah Minangkabau. Bhratara. 1970. Jakarta.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: