Mahasiswa Padang Banci?

Mahasiswa Padang Banci?
Oleh: Hendriko Firman

Bulan desember adalah bulan yang sibuk bagi pemerintah, antara lain masalah likuiditas bank, elpiji menghilang, penggodokan Undang-Undang yang timpang, porstitusi uang, dan sekarang yang menyangkut masalah Universitas menjadi lahan kapitalis untuk berdagang.
Pemerintah sibuk bukan berarti hanya dia saja yang sibuk, tapi mahasiswa juga ikut sibuk, yaitu sibuk melakukan demonstrasi. Kita bisa lihat disegala penjuru media selalu ada demonstrasi yang ditentang mahasiswa tentang kibijakan yang dilakukan pemerintah saat ini, dan itu tidak hanya bersifat raksionis belaka tapi mahasiswa besifat empatis. Demonstrasi terjadi dimana-mana oleh mahasiswa, di kampus-kampus para aktivis mahasiswa telah mengatur strategi dengan lantang mengatakan untuk membela rakyat kecil! disisi lain demonstrasi selalu dibumbui dengan perang mulut sampai perang batu. Mahasiswa mengerang tapi para pembuat kebijakan (policy maker) masih tenang-tenang saja. Mahasiswa diserang tapi rekan-rakan mahasiwa lain belum juga memberi pertolongan. Konklusinya beginikah wajah mahasiswa sekarang, tidak punya bentuk kepedulian, apa hanya sekedar kuliah, kuliah, dan kuliah saja.
Di kota Padang kita lihat mahasiswa masih banyak mahasiswanya yang cengeng, kalau sesama para aktivis mahasiswa bilang mahasiswa Padang adalah mahasiswa ‘banci’. Mahasiswa di Padang juga lamban, tidak peka, seorang kritis yang telah akut – dalam artian kalau wacana sudah panas banget mahasiswa baru lantang – tidak partisipatif dan cenderung pasif. Ketiadaan apa yang terjadi sekarang yang membuat mahasiswa menjadi lembek ini kita tidak tahu, bisa jadi basis orang-orang yang berada dibalik sangkar emas BEM yang terlalu kaku, atau kredibilitas mahasiswa itu sendiri yang masih ‘jongkok’, entahlah.
Mahasiswa terlalu sibuk dengan resiko dalam melakukan aksi kritik kepada pemerintah, dimana proses belajar yang dibangun selama bertahun-tahun takut nanti akan menjadi korbannya, tentu mahasiswa tidak mau berspekulasi dengan hal ini. Kecenderungan mahasiswa di Sumbar masih manja yang mana tidak punya inisiatif dalam mengambil kebijakan sendiri dimana hal ini bisa kita lihat bahwa mahasiswa mengunggu respon dari masyarakat dulu untuk bisa turun ke jalan, disisi lain sesuatu hal yang jelas telah tampak dimata mahasiswa salah tapi mahasiswa masih menunggu respon juga, dan kita bisa lihat ini adalah kelemahan rekan-rekan mahasiswa Padang. Mahasiswa terlalu banyak pertimbangan dalam melakukan aksi dalam membela rakyat, dan akhirnya kebijakan-kebijakan yang hadir ternyata habis ditelan dari ingatan mahasiswa akibat timbul isu-isu baru yang terkait masalah yang menyengsarakan rakyat kecil. Dan begitulah terus siklus sikap dari mahasiswa Padang, isu-isu yang kecil dan remeh-temeh dengan substansi yang besar dibiarkan, dan mahasiswa hanya menunggu isu-isu yang besar saja baru berteriak dan pro pada kepentingan masyarakat. Dan tidak efektif pula.
Banyaknya mahasiswa yang kerjanya hanya menggunakan konsep kuliah ‘pergi untuk pulang’ adalah sebuah indikator pengaruh bagaimana mahasiswa Padang menjadi mahasiswa yang lembek, dan akhirnya ini menjadi sebuah kebiasaan (habit) yang menjadi penyakit akut dari mahasiswa Padang, tentulah pertanyaan kenapa harus demonstrasi? Yang acapkali dilontarkan oleh mahasiswa pasif ini dengan nada cemeeh sering yang didengar oleh mahasiswa yang progresif. Pertanyaan ini faktanya adalah sebuah pembunuhan karakter bagi mahasiswa aktivis dalam melihat kejadian-kejadian yang hangat yang terjadi dinegara ini. Sebaliknya mahasiswa jangan sampai terpengaruh dalam bentuk-bentuk pembunuhan karakter semacam itu, justru mahasiswa yang lebih paham dan merasa lebih empati pada masyarakat harus bisa mempengaruhi mahasiswa lain untuk mengompori mahasiswa untuk bisa respon. Tentunya para mahasiswa lebih memupuk dulu rasa kebangsaan dan ideologinya sehingga nantinya mahasiswa benar-benar menjadi orang yang total dan vokal bukan menjadi mahasiswa aktivis yang panas tahi ayam.
Kelemahan yang lain dari peran mahasiswa sekarang adalah kegiatan demonstrasi yang belum merata, yakni hanya kampus-kampus besar saja yang masih sibuk cuap-cuap sedangkan mahasiswa dari kampus lain masih malu-malu kucing untuk bisa turun ke jalan, hal ini melahirkan sebuah ketidak generalisasian kultur dan semangat tiap-tiap mahasiswa. Hal ini sangat disayangkan yaitu saat mahasiswa yang itu-itu saja yang melakukan demonstrasi sedangkan para mahasiswa lain yang potensial dan paham terhadap situasi tersebut, agak sulit mendapatkan ekses untuk bisa bergabung, sehingga ibaratnya forum ataupun grup-grup para aktivis seoalah sebuah grup yang prestisius yang complicated sekali apabila kita ingin bisa bergabung, dan akibatnya nanti adalah tidak adanya kesamaan spirit dalam hati mahasiswa untuk bisa terus menggempur para pelaku kebijakan. Dan gawatnya si mahasiswa tersebut nanti menjadi apatis, sungguh bencana apabila seorang mahasiswa telah mendapatkan sindrom apatis. Dan ironisnya hal ini tejadi di kota Padang dengan populasi mahasiswa terbanyak yang terkonsentrasi di provinsi sumbar ini.
Kegagalan mahasiswa di Padang dalam mengakomodir kepentingan masyarakat sangatlah keterlaluan disini, tidak banyaknya peran aktif mahasiswa-mahasiswa kepada pokok-pokok permasalahan yang lebih urgen telah mengakibatkan masyrakat itu sendiri stagnans dalam melihat permasalahan yang sebenarnya. Tugas yang diemban mahasiswa sekarang yang lelet membuat kita berhipotesis bahwasanya apabila saat mahasiswa sekarang sudah acuh tak acuh dan loyo, bagaimana nanti mereka menjadi seorang aktor asli dalam kondisi masyarakat sendiri. Hal ini tentulah menjadi hal yang sangat pelik, karena kebanyakan mahasiswa Padang masih suka dituntun dalam melakukan aksi kejalan dan itu sifatnya satu set saja, artinya sekali demo untuk setiap isu. Sehingga kontiniunitas dedikasi mahasiswa hanya jalan ditempat, sedangkan kemiskinan bertambah menyengsarakan terus, duit kita ditilep terus, pengaburan hukum membodohi kita terus. Sehingganya mahasiswa harus sadar bahwa kita sekarang berada sehelai rambut menuju kepada jurang keruntuhan. Yang lambat tapi pasti.

***
Padang, 18 Desember 2008

  1. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: