LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

Oleh: Hendriko Firman

SULIT sekali untuk mencoba memilih bagian mana saja dari buku Laskar Pelagi yang paling anda sukai, jawabannya terlalu banyak sehingga tidak bisa digeneralisasikan bahwa satu bab saja yang diambil. Sebenarnya ada 3 bab yang membuat penulis (saya) terkesima nanar dan takjub, yaitu bab 10 berjudul Bodenga. Bab 11 Lanngit Ketujuh, dan bab 27 berjudul Detik-Detik Kebenaran. Tapi sari semua bab itu , bab 10 lah yang benar-benar manarik bagi penulis karena intinya adalah sebuah gambaran menarik dari manusia yang mencintai pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Bab 10 dimulai dengan gaya bahasa yang lantang dan meledak-ledak. Saat mana kalimat ini yang dipakai andrea hirata:

“Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak,menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kumintai bantuan. Aku hanya berdiri mematung, berbicara dengan diriku sendiri.”[1]

Dari situ penulis sudah bisa melihat bahwa cobaan yang dicoba di paparkan oleh Hirata melalui gaya tulisannya telah memberikan suatu pemahaman walaupun tidak secara terang-terangan akan tetapi membuat penulis sangat takjub. Mana ada orang, secara logikanya mencoba untuk hanya melewatkan masa 8 jam-an untuk belajar tapi ditebus dengan nyawa dengan mencoba bespekulasi terhadap buaya yang menghambat jalannya. Kalau orang lain pasti akan pulang saja, toh hanya sehari bolos, tapi kenapa Lintang tetap kekukeuh untuk bisa hadir di sekolah, bukankah itu hal yang bodoh! Tapi dari kasus lintang semuanya harus beruntung dalam artian dia tidak harus merugi hari itu, maka dicobanya lah menerka dan menganalisa apa yang dilakukannya apabila ia bereada dari jarak 15 M terhadap buaya. Tapi akhirnya ia insaf juga seperti yang dikatakan Lintang sendiri. Dikutip dari Hirata:

“Aku terkesima dan tadi telah salah hitung. Jika binatang purba itu mengejarku maka orang-orang hanya akan menemukan sepeda reyot ini. Fisika sialan. Memprediksi perilaku hewan yang telah bertahan hidup jutaan tahun adalah tindakan bodoh nan sombong.[2]

Tak luput pula kenapa bab ini menarik adalah kesan dan ajaran serta pesan yang dalam di patrikan kepada pembacanya bahwa no matter what the obstacle you are facing the point was just through the way. Karena tidak ada yang bisa mengalahkan cinta apapun itu termasuk rintangan. Pesan yang sangat dalam diberikan kepada pembaca. Lepas dari semua itu, penulis merasa menjadi seorang pecundang kelas dunia, setelah mengkomparasiikannya kepada diri penulis sendiri, yang mana hanya kurang lebih 1 jam perjalanan untuk sampai ke kampus, itu pun dengan menggunakan kendaraan umum. Lebih mirisnya lagi saat Hirata mendiskripsikan hidup lintang yang mana saat itu ia harus melewati cobaan saat perjalanan ke sekolah, kita kutip disini:

“Lintang memang tak memiliki pengalaman emosional dengan Bodenga seperti

yang aku alami, tapi bukan baru sekali itu ia dihadang buaya dalam perjalanan ke

sekolah. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh

pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi

ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah

berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri

membayangkan perjalanannya.[3]

” Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor,

dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari

rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab

terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan

sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni

suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di

depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak

tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan

menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer”.[4]

Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi

daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa

hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik

hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil

hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya

berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat

putting beliung, pada musim demam, pada musim sampar—sehari pun Lintang tak

pernah bolos. [5]

Dari situ saja, kita bisa melihat sendiri bahwa tidak masuk akal untuk berkendaraan manual seperti sepeda untuk jarak sekitar 80 Km pulang pergi, itu sama jaraknya hampir mirip dengan Padang-Bukittingi. Dalam hati penulis sempat mengucap, apakah begitu besarnya seorang yang hanya punya kesempatan nol persekian persen untuk bisa menjadi orang sukses yang logikanya ia dibayangi dengan lingkungan lingkaran setan kemiskinan. Pertama-tama jawaban penulis ini adalah NONSENSE! Seorang yang begeitu banyak cobaan hidupnya dalam menyunting ilmu pengetahuan, lambat laun pasti juga akan roboh semangat belajarnya oleh belenggu-belenggu hidup yang lebih urgen, sekarang dalam perspektif logika mana yang lebih urgen makan apa ilmu pengetahuan? Itulah jadi jalan pemikiran penulis saat Lintang masih memiliki bapaknya. Tentulah jawaban logika dan rasionalnya adalah jawaban yang kedua yaitu, makan. Kalau dipikir-pikir Lintang dalam 6 tahun masa SD nya dan 2 tahun masa SMP nya dalam artian dia harus melewati 8 tahun masa sekolah, yang mana 1 tahun sekolah yaitu 313 hari dan dikalikan dengan 8 maka hasilnya adalah 2504 hari, apabila Lintang menenmpuh setiap harinya 80 Km maka 2504 dikalikan dengan 80 maka hasilnya adalah: 200.320Km perjalanan. Tahukan anda dalam angka itu apa saja yang ditempuh oleh Lintang? Jawabannya adalah ia bisa menempuh the Great Wall China yang maha panjang itu sebanyak 42 kali pulang pergi, atau ia sudah bisa menjelajahi Indonesia hingga seluk beluknya dalam 2 kali pulang pergi. Bayangkan saja hanya bersepeda, bukan dengan kendaraan bermesin. Bukankah kejamnya cita-cita itu, sehingga bisa membuat seorang Lintang yang masih muda belia berumur 6 tahun harus menggayuh sepeda yang terlalu besar dengan kaki yang pendek. Benar-benar kutukan ilmu pengetahuan apabila seorang telah mendapatkan cintanya.

Seorang yang tidak menggunakan hati atau orang yang tidak mempunyai nafsu belajar, adalah orang yang sangat merugi sekali apabila membaca buku ini, karena alasannya ia tidak bisa mengambil hikmah dan kandungan falsafah dari buku ini. Disini apalagi khusunya bab ini, diceritakan dengan implisit bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saat mana Hirata menceritakan kegiatan sehari-hari Lintang:

“Jika tiba di rumah ia tak langsung beristirahat melainkan segera bergabung degan anak-anak seusia di kampungnya untuk bekerja sebagai kuli kopra. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagai kompensasi terbebasnya dia dari pekerjaan di laut serta ganjaran yang ia dapat dari“kemewahan” bersekolah”.

Miris sekali, bahwa kita berpikir setidaknya dari pandagan Lintang waktu itu, pendidikan dibilang sebuah kemewahan, tapi ganjaran yang harus didapatkan dari kemewahan itu benar-benar tidak manusiawai baginya.

Sekali lagi apabila tidak mempunyai spirit untuk belajar, atau hanya terkena provokasi untuk membacanya, tanpa ada didasari untuk merasa berkembang, maka sia-sia laha proses membaca anda. Buku ini terlalu indah untuk dibaca orang-orang hina seperti penulis, yang tidak tahun diuntung menerima kemudahan dan kemewahan yang kebangetan tapi tidak memiliki karya sebanyak yang Lintang lakukan. Penulis merasa kerdil sekali apabila melihat cara belajarnya itu, seperti dikatakan oleh Hirata:

“Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit

menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia

memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar

adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku

baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru

agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan

buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap

kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari

sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain”.[6]

Dari sini penulis mengmbil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan oleh Lintang dengan metaforanya Hirata, penulis benar-benar merasa orang paling iri di dunia. Bayangkan saja hanya dengan lampu minyak yang bergantian, yang belum lagi kandungan CO2nya yang bisa menghasilkan sesak dan efek buruk pada paru-paru, tapi disini Lintang seolah-olah bisa merasakan suasana dan atmosfer belajar yang layaknya belajar di perpustakaan universitas paling tertib dan nyaman didunia. Bayangkan saja siapa yang tidak iri, kalau dibandingkan dengan penulis yang mana penulis belajar mendapatkan lampu neon yang bisa kapan saja, dimana saja. Tapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal seperti yang dilakukan oleh Lintang, bayangan penulis adalah, mungkin saja penulis sudah collapse rasa cinta pada ilmu pengetahuannya apabila mengadopsi gaya belajarnya Lintang.

Dari semua kata-kata yang membahana dari Hirata, kontan saja penulis sebenarnya lebih mencintai Lintang daripada balutan kata-kata Hirata yang mempesona itu, dalam artian penulis tidak begitu excited kepada Hirata tapi lebih kepada objek tulisannya yaitu Lintang Samudera Bassara. Profil Lintang begitu dalam diakronik hidup penulis, penulis benar-benar meresapi hidup Lintang itu, sepenggal cerita dulu penulis pernah sudah pada semester 3 masih belum juga mempunyai meja belajar, yang mana dulu hanya belajar di lantai dengan selembar karpet. Tatkala waktu itu penulis ada ide untuk menggunakan meja yang tidak dipakai dikampung untuk dibawa ke Padang, setelah dibawa ke kos tapi meja itu terlalu pendek kakinya sehingga badan terasa pegal dan linu apabila terus-menerus memakai meja itu. Lalu penulis mencoba meninggikan meja itu dengan alat seadanya, sekitar 3 jam penulis membuat meja itu layak untuk digunakan belajar. Walaupun hasilnya kurang maksimal tapi cukup manusiawilah meja untuk dijadikan standar meja belajar. Waktu setelah meja itu selesai, keringat bercucuran mengalir di saat hari sangat panasnnya, badan lelah dan bau tengik siang hari menggerayangi bau badan, waktu itu bunyi jengkerik dan musik tetangga sebelah seolah-olah mengejek penulis karena sia-sia melakukan kerja yang serampangan seperti itu, saat itu penulis merasa iba pada diri sendiri karena niat untuk belajar tinggi sekali tapi fasilitas tidak mencukupi. Saat meja itu digunakan pertama kali, kenikmatan memakainya untuk sebuah catatan tiada tara mainnya, mata penulis berkaca-kaca marasakan sebuah struggling terhadap pencapaian ilmu pengetahuan. Seoalah-olah merasakan penderitaan Lintang, penulis tahu sekali bagaimanakah arti sebuah sacrifice dan struggling itu sendiri. Nikmatnya bukan main, tapi beban yang dipikul nauzubillah sulitnya.

Walaupun sulit digambarkan bagaiman perasaan itu, apabila dikanvaskan dengan tulisan. Tapi setidaknya penulis telah berusaha mencoba jujur untuk berterus terang bahwa yang penulis suka dari buku ini adalah objeknya bukan gaya bahasanya, bukan metaforanya, bukan lelucon-leluconnya, atau keseharian tokoh lain, tapi disini penulis menaruh respek sekali dengan seorang tokoh yang bernama Lintang itu.

***


[1] Andrea Hirata. Laskar Pelangi. Bentang. Jakarta. 2007. Hal 87.

[2] Ibid., hal. 90.

[3] Ibid., hal 93.

[4] Ibid.,hal 94

[5] Ibid., hal 94.

[6] Ibid., hal 100.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: