Indonesia Rentan Perlawanan?

Indonesia Rentan Perlawanan?
Oleh: Hendriko Firman

Di dalam Negara yang menganggap dirinya demokrasi, maka kita akan bertemu dengan apa yang dinamakan perlawanan (resistensi), perlawanan ini hadir dari berbagai bentuk yaitu dari sistem, mindset (pola pikir), dan semangat zaman (zeitgeist).
Menarik untuk dilihat bahwasanya perlawanan apabila kita lihat di Negara ini, justru hadir akibat dari system! sistem yang hadir tidak seimbang dengan apa yang diminta oleh mindset, dimana mindset orang Indonesia lebih universal, tapi karena masih ada secuil orang yang memegang dan punya peran menyalahgunakannya maka apa yang seharusnya ‘benar’ dalam sistem dialihkan dengan tetap keuekuh dengan sistem lama, lihat saja contoh konkretya, masyarakat menginstall dalam mindsetnya bahwa menurut mereka korupsi itu harus di hapuskan, tapi kenyataannya yang masyarakat lihat, kebijakan korupsi sekarang masih setengah hati, tebang pilih, dan belum massif. Hal ini hadir akibat dari tidak maunya beberapa orang-orang yang merasa terancam dengan undang-undang baru Tipikor itu, karena bisa-bisa undang-undang itu memakan induk semangnya sendiri. Maka dari itu tidaklah heran perlawanan hadir sebagai bentuk dari akumulasi ketidakpuasan dari perasaan ketidak adilan dan akhirnya berubah menjadi sebuah gerekan sosial.
Perlawanan adalah kata kunci dari masalah yang terjadi di dalam Negara Indonesia ini, normalnya seminor mungkin perlawanan itu maka semakin aman dan kondusif dan stabil keadaan Negara itu, dan sesuai dengan rujukan humanisme. Logikanya apabila perlawanan itu kecil seperti jarangnya terjadi kritik pedas dari opisisi, timbulnya globalisasi dalam bebarapa faktor, hidupnya arus investasi dari eksternal, dsb. Maka Negara itu akan banyak mendapatkan sebuah surplus dalam bentuk kesejahteraan. Kesejahteraan itu adalah salah satu bentuk dari tujuan umat manusia sebagai makhluk yang rata-rata hedonis.
Peran dari kecil nya perlawanan (zero resistance) itu sangatlah besar dalam sebuah konsep nation-state dimana dia bisa membuat naturalisasi kembali dalam masyarakat yange beradab (civilized), karena disini peradaban sekarang yang tercipta adalah bentuk dari infiltrasi dan influensi dari pihak-pihak lain – misalnya negara barat, yang membutuhkan waktu yang lama apabila terinstall dalam mindset masyarakat. Simpelnya saja begini, apabila masyrakat sejahtera, maka rakyat itu tidak pusing lagi memikirkan makan, kerja dsb yang primer, sehinggga ia punya bentuk dari penguniversalan pemikiran bahwa inilah bentuk hakiki dari perilaku manusia yang nantinya akan melahirkan rasa saling tolong-menolong, aman, betegur sapa, tenggang rasa dll, yang dalam konsepnya hal itu menjadi sebuah takdir (destiny) dalam umat manusia, dan manusia menerimanya sebagai etika manusia. Maka lahirlah peradaban.
Apabila kita lihat lebih jauh, perlawanan adalah sebuah gerakan sosial, dikatakan demikian karena isitilah ini hadir dari kegiatan yang melibatkan 2 lebih manusia yang pada dasarnya memiliki kesamaan nasib dalam suatu realita yang dialaminya tapi tak disukainya. Gerakan sosial banyak terjadi pada Negara-negara yang masih bayi dan belum lepas dari kebudayaan lama yang masih mengukung non-humanisme. Jadi perlawanan itu dalam sebuah Negara adalah sebuah bentuk dari pelampiasan masyarakat – yang secara ideal – yang menganggap Negara telah gagal dalam mengemban perannya mengutamakan nasib rakyat, sebagaimana dikatakan oleh John McCain:” Country First!”, dan Indonesia bukanlah Country First! Akibat dari perlawanan ini, baik itu dalam skala kecil daya perubahnya ataupun besar daya rubahnya, maka akan melahirkan malapetaka dalam sebuah Negara. Hal itu bisa kita lihat dari kasus baru-baru ini yaitu Yunani terhadap perlawanan para siswa, maka imbuhnya terjadinya pemogokan massal, yang kenyataannya tidak punya koorelasi langsung terhadap perlawanan para siswa tersebut.
Sekarang pertanyaannya yang sekenanya dulu adalah: Indonesia rentan perlawanan apa tidak?
Sebenarnya setiap Negara itu rentan terhadap perlawanan, baik itu Negara Denmark yang mempunyai indeks tertinggi bebas korupsi dengan nilai 9,7 ataupun Negara Jepang yang memiliki standar hidup paling tinggi 72 tahun. Tapi pertanyaan yang terkait adalah sering apa tidak? Dari pengamatan yang lebih lanjut adalah, kalau kita mengkaji kondisi Indonesia itu sendiri maka kita mengalami masalah besar dengan satu istilah kata Perlawanan ini. Karena ia hadir dari berbagai faktor pendukung yang banyak dan terlihat kompleks sekali, seperti misalnya saja faktor budaya, sosial, agama, ekonomi dsb, yang mana disini faktor pendukung tersebut memiliki perbedaan garis yang tajam antara satu sama lain, misalnya saja budaya Minangkabau yang matriakat dengan jawa yang patriakat dsb. Begitulah yang terjadi di Indonesia, perlawanan bisa timbul kapan saja, dan dimana saja, berhubung kondisi Negara ini banyak ragam perbedaannya yang nyatanya diseragakmakan pada masa Orde Baru. Hal-hal yang berkaitan dengan globalisasi ditentang keras, sehingga hal ini membuat akar-akar dari perlawanan itu semakin terasah dan kental. Disisi lain perlawanan yang kita hadapi sekarang adalah menunggu titik didih dari hal-hal yang dianggap oleh masyrakat sebagai kegagalan pemerintah sebagai ‘Failed State’, yang bisa jadi akibat dari terbengkalainya reformasi, lahan pekerjaan yang sulit, sembako mahal, aliran keagamaan yang nyeleneh, sampai birokrasi dan pejabat yang tidak insaf menyunat duit rakyat. Keinginan-keinginan perlawanan di Indonesia tinggal menghitung hari saja, karena banyak orang-orang yang mulai sadar akan nasib dari bangsa ini, yang tentunya berawal dari sikap kooperatis dulu terhadap masalah bangsa ini, namun lama kelamaan hal itu menjadi bentuk skeptis dan resistensi.
Hal seperti diatas adalah sebuah faktor alami yang dialami oleh sebuah siklus Negara yang bergerak menuju ke modern, dimana peran Negara yang masih bayi dan tidak punya pengalaman yang baik mengakibatkan timbulnya berbagai macam bentuk doktrin-doktrin yang terlalu dipaksakan sehingga mengakibatkan ketidak kondusifan yang berujung kepada bentuk resistensi ini. Apa yang kita lihat sekarang sebagai faktor pendukung resistensi atau perlawanan baik itu demonstrasi sampai coup d’état, secara berangsur-angsur menuju ke hal tersebut, seperti faktor resesi global, pengungkapan korupsi – yang bukan membuat masyarakat lega tapi malah sinis, tingkat kepercayaan yang rendah pada pemerintah, aksi golput, dan hal-hal lainnya telah membuat semakin jelas tanda-tanda bahwa Negara ini akan membuat sebuah revolusi resistensi skala besar. Waktulah yang akan menjawab nanti.

***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: