Gairah – Gairah Budaya

Gairah – Gairah Budaya
Oleh : Hendriko Firman**

Hampir satu abad yang lalu, telah diterbitkan sebuah buku yang mungkin masih ada relevansinya sampai sekarang, yaitu buku yang berjudul La Trahisons des Clercs, yang ditulis oleh Jullian Benda. Ringkasnya buku ini menjelaskan keadaan pada awal abad dua puluh di Perancis yang telah menghadirkan gairah-gairah politik hampir di setiap elemen masyarakat, gairah–gairah tersebut hampir membuat semua elemen masyarakat tadi bisa peka dan ikut meramaikan sebuah sistem kekuasaan yang terkontrol pada masa itu.
Sekarang kita juga akan belajar juga dari peristiwa tersebut dan mencoba untuk megkomparasikannya pada konteks budaya, apakah sudah ada gairah-gairah budaya di tanah air ini? Apakah bisa menjadi sesuatu yang meggembirakan atau sesuatu mengecewakan?
Di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam bangsa ini (multination), munculnya gairah-gairah budaya harus kita preteli dulu dalam dalam form bagaimana gairah-gairah tersebut bisa dikatakan sebagai gairah budaya. Yang dikatakan sebagai gairah budaya yakni sudah adanya sense untuk tanggap terhadap isu-isu budaya itu sendiri, yakni melihat segala sesuatu apakah sudah ada terbesit interpretasi budaya di dalam pikirannya, atau dalam melihat ataupun mendengar dan berbicara apakah ada dalam dirinya tersinggung muatan-muatan budaya itu? Nah, sekarang dalam bentuk motode apa kita bisa melihat budaya tersebut terjadi penggairahan pada masyarakat, metode yang diaplikasikan adalah dari bentuk lingkungan dan konteks penunjang seperti stabilitas masyarakat, dll.
Sekarang Indonesia sedang mengalami fase romantisme pada kebudayaan pada masa lampau. Sehingga, untuk ukuran sekarang bisa disimpulkan kebudayaan tiada memiliki arti lagi secara eksplisit. Banyak orang yang telah over concern terhadap dunianya dan menjadi lupa akan simbolis-simbolis dari kebudayaan yang terkandung didalamnya. Hal tersebut bisa terefleksi dengan hadirnya romantisme itu sendiri, dimana hampir setiap elemen masyarakat mulai mencoba menyembah/mengagungkan kebudayaan dalam bentuk konkretnya atau kebudayaan yang nampak saja. Ya, ini memang wajar bahwa kebudayaan dalam bentuk romantisme itu adalah sebuah analogy berantai yang kita sebut sebagai sejarah. Tapi hal tersebut belum bisa dikatakan sebagai gairah-gairah budaya, karena terlepas dari apapun romantisme yang didengung-dengungkan sekarang itu hanya dalam bentuk kulitnya saja, sedangkan kita tidak melihat sisi dalamnya seperti sejarah, filosofi, dll.
Memang romansa di dalam setiap bangsa sangatlah perlu untuk tujuan-tujuan tertentu. Tapi tidaklah etis apabila kadang-kadang romansa tersebut tidak punya korelasi dengan tujuan aslinya misalnya saja romansa budaya sebagai penunjang stabilitas politik, atau lebih konkretnya sebuah romansa kebudayaan didengungkan sebagai penunjang untuk tetapnya masyarakat dalam satu-kesatuan integrasi. Tapi itu hanya salah satu bagian bahwa belum munculnya gairah-gairah budaya dalam masyarakat kita. Kalau elemen masyarakat telah melihat adanya kesumbangan dalam proses tadi tentunya kita bisa sedikit berbangga bahwa masyarakat bisa melihat yang tersirat bahwa romansa kebudayaan ada juga muatan politiknya.
Saat sekarang kita bisa lihat hampir dalam mekanisme apapun masyarakat melihat dan berpartisipasi menterjemahkan sesuatu selalu pada unsur-unsur atau gairah lain, misalnya gairah ekonomi bagi rakyat miskin untuk pengganjal perut, atau gairah politik bagi seorang tukang palak di terminal untuk mempertahankan territorial kekuasaannya. Nah, disini kita bisa melihat arah-arah masyarakat untuk berpartisipasi dalam gairah-gairah budaya masih minim. Hampir dalam semua elemen masyarakat tidak lagi menginginkan pemikiran tambahan dalam menterjemahkan dan melibatkan diri dalam perkara sesuatu hal, kalaupun itu ada gairah-gairah budaya, paling-paling itu hanya orang-orang yang hidup dari budaya, ataupun orang-orang yang secara tak partisipan telah memiliki respek terhadap unsur-unsur budaya.
Lantas apa guna gairah budaya ini? Bukankah kalau dipiramidakan dalam kebutuhan manusia bahwa gairah ekonomi yang lebih diutamakan? Ya, itu memang benar adanya. Tapi tidak bisa kita generalisir bahwa semua hal harus dipatokkan dan fokus dalam satu konteks saja. Kita klasifikasikan begini, bahwa unsur ekonomi, sosial, dan politik adalah bentuk langsung dari gesture manusia yang primer, dan selanjutnya kebudayaan adalah tindak lanjut manusia sebagai gesture yang sekunder. Teorinya bahwa segala hal harus berimbang, hitam-putih, materi-antimateri, dsb. Jadi kalau diproyeksikan seorang hanya terkubur pada ekonomi, sosial, dan poltik semata yang kita klasifikasikn sebagai kutub positif, disisi lain ia mengabaikan budaya sebagai kutub negatif maka kedua-duanya hanyalah tindakan yang sia-sia belaka dalam artian tidak ada manfaat, tidak seimbang dan nantinya tidak sehat. Beda artinya kalau seorang telah punya gairah budaya dalam pola pikirnya maka kutub positif dan negatif akan menghasilkan sesuatu dalam artian kehidupan yang seimbang antara yin dan yang.
Dilihat dari bentuk manapun di Indonesia yang multi bangsa dan etnis ini, kita tidak bisa terlalu berharap adanya gairah-gairah budaya, kalaupun ada itu sebuah chauvinisme yang mendiskreditkan pihak lain. Harapan itu bisa ada kalau kita telah mempunyai standar hidup yang cukup layak. Karena seiring individu yang telah komplit ekonomi, sosial, dan politiknya maka ia akan punya step lagi untuk memiliki gairah budaya. Kalau belum punya dan terpenuhi yang tiga tadi bagaimana ia bisa merasakan step selanjutnya yang kemudian gairah budaya itu akan menjadi sebuah ketahanan mentalitas bangsa untuk bersikap dan mengambil pendirian. Bukan hanya itu saja gairah-gairah budaya memberikan masyarakat suatu pemaknaan hidup yang dalam dan memiliki kandungan kebesaran di dalamnya.
Jikalau manusia Indonesia telah tanggap terhadap gairah-gairah budaya maka ini juga menjadi barometer majunya bangsa ini karena gairah budaya untuk sosial, ekonomi, dan politik telah terpenuhi maka gairah budaya sebagai bentuk perfeksionitas akan melahirkan sebuah gambaran bangsa yang telah kuat sebagai bangsa yang mandiri, juga telah idealis dengan kebijakan bangsa itu sendiri, dan yang paling penting adalah masyarakat madani telah hadir dalam package yang manusiawi, yang tanpa sandiwara, yang tanpa ketertidndasan dan punya persamaan prinsip.

***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: