Domba Mengiring Singa

Domba Mengiring Singa
Oleh: Hendriko Firman

Dalam arena persaingan intelektual maupun politik sudah jelas formulanya adalah orang-orang yang idealis, pintar, jujur, dan punya jiwa leadership yang harus menjadi ketuanya. Dalam artian yang mumpuni yang punya bakat dan berkredibilitas harus berada di atas yaitu mereka sebagai representasi singa, singa yang mengiring para domba-domba yang masih dalam masa jahiliyah untuk kembali ke tempat hakekatnya yang sebenarnya yaitu ke kandang, dan bukan sebaliknya domba yang mengiring singa ke kandang.
Di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya, malahan domba yang mengiring singa atau orang-orang yang bodoh, goblok, opurtunis, malas, dan corrupt yang menjadi pemimpin. Sedangkan orang-orang yang idealis yang punya kredibilitas malahan berada di bawah punuk para pemimpin opurtunis ini. Ironisnya mereka malah di giring kedalam sebuah pertempuran yang tidak sepadan dimana ibaratnya kita, Indonesia, diantar kedalam nasib yang tak tertanggungkan atau nasib yang tidak menentu arahnya, kita dilbawa ke arah Indonesia yang gila. Hal itu bisa kita lihat dari representasi orang-orang yang pintar yang masuk kedalam politik yang sangat sedikit sekali. Orang-orang pintar dan berkredibilitas ini malas masuk ke dalam sistem ini dengan alasan buang-buamg waktu, buang-buang tenaga, tidak ada guna dsb. Sebaliknya orang-orang yang bodoh, malas dan oportunis malah maju dan masuk ke dalam politik. Disini kita bukan mau menyalahkan para caleg yang bodoh yang maju kedalam politik yang modal duit ini, toh sah-sah saja mereka maju dan masuk ke dalam politik, ini Negara demokrasi, anda berhak untuk berkiprah, tapi dalam etika masyarakat sebaiknya mereka tahu diri sedikit, kalau cuma mau mengejar prestise dan duit sebaiknya mundur saja. Malu pada diri sendiri. Ubah mindset nya baru balik lagi ke dalam politik. Kalau berdasarkan pertimbangan politik ‘taikucing’ para pemimpin ini salah besar, karena percuma mahal-mahal dana kampanye terbuang tapi nanti juga akan tersingkir.
Fenomena ini tentu tidak asing lagi, karena semakin rusaknya Negara dengan sistemnya tentu makin banyak orang yang lebih main aman untuk menunggu keadaan menjadi tenang dan kondusif lagi dalam arena politik, dan sebaliknya orang-orang yang opurtunis malah maju kedepan sebagai juru selamat, yang penuh jargon dengan aksi dan tampang bloon. Tapi seiring bertambahnya pengetahuan dan informasi kita, maka tidak heran pula hal ini menjadi hal yang mulai bertambah kongkret sekarang, kita lihat kita telah mulai dibawa kejurang oleh orang-orang culas ini, yang ramai-ramai jadi caleg, presiden dsb sebagai representasi domba. Tentunya yang merasa jadi caleg yang bukan goblok dan domba tentu tidak perlu tersinggung karena saya sepaham dengan anda, dan yang menjadi domba disini harap introspeksi diri dan benahi dulu diri saudara masing-masing dulu.
Kalau melihat prospek Negara ini yang digiring oleh domba ini, bagaimana pula masa depan kita nanti, jangan berandai-andai kita punya masa depan, kita akan hancur dalam sebuah sistem yang mereka buat dengan idealisme manusia barbar yang semakin membuat berjayanya KKN, feodalisme, money politic dan hal-hal cheating (curang) lainnya. Pembodohan seperti ini sangat berbahaya menurut saya karena ini tidak saja menyangkut nasib bangsa di masa depan tapi juga menyangkut masa sekarang, yang mana stagnansi yang kita emban akan menjadi titik barometer untuk rakyat Indonesia pada masa depan, jadi kalau kita berandai-andai dan memprediksi pada masa depan maka kita harus rubah dulu bangsa ini dengan etosnya, dan barulah kita mulai menata masa depan kita. Tapi kalau sistem kita mulai digrayangi oleh para para pemimpin opurtunis ini maka kita tentunya harus bersiap menerima berbagai ketimpangan dalam segala hal.
Di sisi lain kita cukup prihatin karena orang-orang yang pintar lebih apatis melihat hal ini, cuma berani kritik tapi tidak mau masuk ke dalam sistem itu sendiri, masuk ke dalam sistem dan mereformatisasi sistem yang barbar itu dan mulai menata masyarakat yang ber-civilized (beradab) dan tentunya juga menampar pantat orang-orang opurtunis ini agar keluar dari tempat yang serius ini, tampat dimana hak-hak masyarakat wong cilik dipertaruhkan, tempat keringat-keringat masyarakat marginal untuk bisa hidup selayaknya saja dipertaruhkan, tempat dimana nasib anak-anak di daerah terpencil yang digrogoti oleh penyakit busung lapar dipertaruhkan, tempatnya orang yang benar-benar mau bersikap bahwa leiden is lijden (memimpin adalah jalan menderita). Jadi jangan ngaku sebagai pemimpin untuk duduk sebagai anggota legislatif tapi cuma mengharapkan jalan-jalan ke luar negeri dan tunjangan-tunjangan dan kendaraan pribadi, tapi kalau begitu harapan para caleg ini, marilah kita bersama-sama rakyat Indonesia berdoa kepada Tuhan untuk mengutuk ‘spesies langka’ ini untuk jadi batu.

Tren atau Gagalnya Demokrasi Kita
Sekarang yang jadi pertanyaannya apakah domba-domba ini (caleg yang modal duit serta goblok) hadir apakah dari tren atau memang sistem demokrasi Indonesia yang nyeleneh itu sendiri yang menciptakan mereka? Kalau kita lihat secara pendekatan sejarah maka para caleg ini hadir akibat dari faktor gagalnya demokrasi kita, hal ini juga terjadi yang mana pada saat menjelang pergantian masa rezim orde lama ke orde baru yang pada masa itu orang-orang yang culas hasil peranakan dari pendekatannya kepada para orang-orang kroni Soeharto mengakibatkan mereka bisa duduk nyaman di kursi DPR dan ada juga yang jadi dirut BUMN, yang mana kita tahu bahwa masa rezim orde baru adalah masa babak belurnya demokrasi diperkosa dengan rezim militer yang proterianisme ini. Sehingga kalau kita belajar dan berefleksi dari sejarah maka Indonesia sekarang yang melahirkan para mayoritas caleg kader sampah ini adalah akibat gagalnya demokrasi kita, ya kita adalah negara yang masuk ke dalam konteks Failed State (negara gagal), terlepas dari alasan apapun juga kita harus sadar bahwasanya kita benar-benar kalah dengan sikap dan mentalitas kita sendiri yang mau terjebak dengan arus dan semagat pragmatism serta distorsi arah kepemimpinan para pemimpin kita yang mau mengoyak semangat para founding father kita.
Pemimpin yang cakap ataupun pemimpin yang zalim tentunya kita yang awam dan ndeso ini harus bisa bersiap-siap memilih berapa opsi: pertama ikut arus ke dalam semangat orang-orang yang mereprsentasi dirinya sebagai pemimpin opurtunis produk karbitan, atau pilihan yang kedua mau bertahan dengan hakekat masyarakat humanisme yang sesungguhnya, mau bertahan dengan bisikan-bisikan terhadap pembataian karekater masyarakat Indonesia, mau bertahan dengan sikap idealisme bahwa negara ini diciptakan tidak untuk di nina bobokan oleh masyarakat yang corrupt tapi negara ini diciptakan bagi kita orang-orang yang mau menjaga negara ini dengan hal-hal kecil seperti mau menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya, mau menolong nenek menyebrang dijalan, mau menyisihkan uangnya untuk beramal kepada para yayasan-yayasan orang kurang mampu, mau mati dengan sikap patriotisme membela negara ini sebagai jihad melawan yang salah dan menjunjung yang benar. Maka pilihlah sekarang dalam negara yang mulai edan ini, tentunya kita harus pilih mana kiblat anda untuk merubah bangsa yang sakit ini.
Bangsa ini masih ada jalan untuk bisa berubah, dengan cara membangunkan para singa untuk bisa mendorong para domba ini agar kembali masuk ke kandangnya, sedangkan si domba kita kepung bersama-sama dengan idealisme kita dan menghinoptis mereka dengan kata-kata: anda bukan singa, jadi bangun dan tahu diri sedikit!!

***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: