Buku Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke

Judul Buku : Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke.
Pengarang : Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma.
Penerbit : Yayasan Obor, Jakarta, 2005.

BUKU ini sangat menarik karena membahas tentang pembantaian yang faktanya sangat jarang di publikasikan oleh para ilmuwan sejarah, lantaran masalah apa saya tidak tahu jarang dibukukan. Tapi yang menariknya buku ini ditulis oleh bukan orang ilmuwan sejarah tapi adalah seorang dokter herbal kaliber internasional yang bernama Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma.
Secara garis besar buku ini apabila telah anda baca, apabila anda seorang nasionalis tulen, ataupun chauvinis tulen, atau bahkan islamis, maka sekekita rasa sectarian anda akan berubah digantikan dengan perasaan persamaan status yang mana buku ini sarat dengan kandungan yang agak sedikit eksplanasi subjektif.
Setalah membaca buku ini anda akan sadar bahwa orang-orang Tionghoa lebih akrab dan berasimilasi pada warga bumipitera di abad-abad awal 18, beda sekali dengan sekarang mereka merasa mengekslusifkan dirinya. Ternyata bagaimanapun juga semua ras, suku, bangsa ternyata pasti ada kalanya mereka melupkan keterikatakan mereka itu dan itulah yang terjadi pada orang Tionghoa pada abad ke 18 tsb. Pembataian 1740 itu dilakukan oleh kumpeni, ini terkait dengan masalah kebijakan, karena kebijakan VOC sendiri yaitu, kebijakan untuk menetapkan pajak, diantaranya pajak domisili, pajak pekarangan, pajak bulanan bahkan melewati kota seberang dan menggendong anak juga dikenai pajak. Dan akhirnya clash tidak bisa dielakkan, yang akhirnya 10.000 warga Tionghoa melakukan aksi gerakan sosial dengan penyerangan diluar dinding kota Batavia pada malamnya, tsekejap saja Batavia dalam suasana perang, rumah-rumah dibakar oleh kumpeni, barang-barang berharga disita, anak-anak gadis diperkosa, bahkan apabila terlihat saja orang Tionghoa oleh tentara kumpeni tanpa ba-bi-bu langsung bunuh saja, tindakan barbar ini diakibatkan oleh tindakan represif pemerintahan kota Batavia yang mendengar ada desas-desus perlawanan orang-orang Tionghoa akan menyerang warga kompeni dan akan menggangti sistem, tapi akhirnya mudah dipatahkan, warga Tionghoa yang tewas dibuang ke muara angke, dimana nama sungai angke ini berasal dari kata Angker karena terlalu angkernya sungai itu yang memandikan mayat-mayat yang berjumlah ribuan tersebut.
Walaupun seorang dokter yang menulis, komposisi buku lumayan rapi, walaupun bisa dibilang buku sejarah tapi ada sedikit kejanggalan dari buku ini yang cukup membedakan dengan buku sejarah yang lain, bisa dilihat disini pada bab terakhir dimasukan tentang pepatah-pepitih tentang solusi dari masalah clash etnisitas ini yang dibawa kedalam masalah kontemporer, yang mana berisikan undang-undang tentang kebersamaan hak, pasal-pasal yang terkait dengan status setiap warga negera, dan masih banyak lainnya yang berbau komunalisasi sesama. Bab ini secara garis besar, pembaca disuruh untuk bersatu padu untuk melupakan tentang masalah etnis, ras, suku, warna kulit, genealogi dsb. Walaupun agak nyeleneh dari buku-buku sejarah lainnya, di bab ini penulis sendiri menitikberatkan kepada sikap eksklusifitas yang menjangkiti para warga Tionghoa, dan hal itu harus dihapuskan, dan juga warga pribumi juga harus bisa menerima kenyataan bahwa orang-orang Tionghoa juga harus dianggap sebagai satu kewarganegaraan. Ironisnya buku ini mengajak kita untuk bersatu padu sesama warga Negara Indonesia tapi penulis disini terlalu menampakan dalam tulisannya bahwasanya dia berpihak kepada warga Tionghoa, dan orang Indonesia asli disuruh untuk tetap tolerasnsi dan tolerransi, entah mungkin hanya paradigma saya yang mengatakan seperti itu, saya tidak tahu juga.
Buku ini saya anggap sebagai bentuk dari bibliography karena yang pertama: buku ini adalah buku sejarah, yang kedua: buku in ditulis oleh seorang Prof Kaliber internasional yang kerjanya hanya meramu obat, yang ketiga: buku ini sarat dengan uraian-uraian tentang peristiwa sejarah yang kadang-kadang cukup tidak substansial ditulis dalam karya historiografi normal. Sehingga kesimpulannya buku ini lebih masuk ke kategori buku bibliogragphy karena metodologinya tidak jelas dengan memakai teori apa sehinga buku ini masih banyak hal-hal yang mesti dikrtitisi kembali.
****

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: