BUDAYA KAMI & BUDAYA KALIAN

BUDAYA KAMI & BUDAYA KALIAN
Oleh : Hendriko Firman
Apa yang terjadi apabila budaya itu tidak ada? Apa yang terjadi apabila budaya itu tidak berkembang? Itulah sebuah pertanyaan awam dan remeh temeh dari seorang teman saya yang paling pintar di kelas yang baru belajar mata kuliah tentang Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Pertanyaannya memang gampang dijawab secara ceplas-ceplos. Tapi tentulah jawaban itu tidak substansif dan perfek.
Masalah kebudayaan bukan ranah rasional kita untuk menjawab tapi ini ranah dari bagaimana otak sebagai habit (kebiasaan) menjalankan fungsi otaknya. Kita masih ingat bahwa ada juga yang bilang manusia adalah binatang yang berpikir. Jadi intinya adalah kenapa ada dan terjadinya budaya adalah karena otaklah sebagai kodratnya melakukan budaya itu, otak berfungsi yang tanpa kita sadari melahirkan budaya. Kita tentu masih ingat bahwa budaya terdiri lagi dari 7 kategori yang faktanya kita tidak sangka-sangka, yaitu; religi, mata pencaharian, social, bahasa, pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Dari 7 aspek tersebut otak manusialah yang menjalankan dan menggerakkannya sehingga budaya bisa tercipta.
Jadi inti dari pengantar di atas adalah bahwa manusia memiliki budaya, dan budaya dimiliki manusia sebagai kontemplasi hidupnya. Pertanyaan selanjutnya, apakah setiap manusia memiliki kebudayaan yang sama? Dalam artian tidak seutuhnya sama tapi punya koorelasi di dalam budaya itu. Contoh saja, budaya membunuh diri sendiri yang ada di jepang yang kita kenal sebagai harikiri juga ada di Negara India yang akan tetapi dilakukan oleh seorang istri yang kehilangan suaminya. Apakah sama? Jawaban pembaca tentu pastilah dari jawaban tersebut: tentu saja berbeda, lain lingkungan, lain ekonominya, lain rujukan hidupnya maka tentu pulalah beda budayanya. Ya, hal tersebut memang pertayaan yang konyol. Dimana adanya basis pemikiran kita yang sedikit lebih dalam, mencoba melihat kemana perubahan budaya bisa membuat seseorang bisa berubah juga nantinya.
Hal diatas mengindikasikan bahwa budaya itu tidak sama, dan nantinya budaya tersebut akan melahirkan perbedaan pemahaman. Bahwa perbededaan budaya nantinya akan melahirkan budaya ‘kami‘ dan budaya ‘kalian’. Budaya kami adalah budaya yang mempengaruhi ‘kami’ yang membuat ‘kami‘ mengadaptasinya dan ‘kami‘ menerimakan serta menjalankan perannya. Sedangkan budaya ‘kalian’ adalah kebalikan dari budaya kami, yang dimana ‘kalian’ tidak mengenal dan malahan bertentangan sekali seperti apa yang ‘kalian’ refleksikan sebagai budaya ‘kami’. Contoh saja; budaya di barat adalah disiplin (relatif) dan di sisi lain di budaya timur adalah malas-malasan (relatif). Dari hal inilah kita bisa berasumsi bahwa kebudayaan adalah sebuah kekuatan penggerak yang dinamikanya harus patut diperhitungkan oleh para pemilik kebudayaan lain. Hal yang patut diperhitungkan adalah eksisnya kedua kututb tadi yang bertentangan. Dimana kebudayaan menghasilkan subjek yaitu manusia, dan subjek bisa melahirkan mindset, mindset akan melahirkan ideologi, ideologi akan melahirkan komunitas, kominitas akan melahirkan pergerakan, pergerakan akhirnya bisa melahirkan pertentangan. Contoh kongkretnya adalah sorang Führer Hitler sebagai subjek dimana ia memiliki mindset fasisme akibat dari kekalahan yang memalukan dari pihak pemenang PD I, lalu fasisme itu menjadi mindset Hitler buat berpikir dan bertindak, dan akhirnya fasisme dari Hitler menjadi ideologi baginya. Setelah mendamprat posisi kekuasaan tertinggi Kanselir, dia membuat sebuah komunitas yang ia beri nama NAZI yang mendukung tinggi jiwa-jiwa fasisme dan euginisme. Tentulah hasilnya komunitas ini melahirkan pertentangan dengan Negara-negara barat yang adem-ayem dengan perjanjian Versailles yang meguntungkan itu. Dan pertentangannya itu kita kenal sebagai PD II.
Kalau kita coba lihat secara ekplisit bahwa kebudayaan ‘kalian’ dan kebudayaan ‘kami’ mempuyai daya hancur yang tinggi dalam setiap kehidupan kebudayaan satu sama lain. Kita bisa lihat sebuah Negara bisa saja saling bunuh-bununhan karena perbedaan budayanya, seperti yang terjadi di Indonesia, contohnya kerusuhan sampit, apalagi kalau kita melihat dari yang agamawi maka kita akan melihat orang Islam sunni dan syi’ah terus bertentangan yang terjadi beratus-ratus tahun lamanya. Makanya kebudayaan disisi lain sebagai bentuk dari pemersatu disisi lain ia juga adalah manifestasi dari kehancuran sebuah peradaban. Di mana tidak adanya sikap toleransi terhadap budaya lain bisa menimbulkan rasa sinis, yang berujung pada sikap apatisme dan tindakan invasi. Hal-hal kongkret dari itu bisa kita lihat dari perbedaan kebudayaan menyangkut pola pikir, etos, kinerja, dan spirit serta kesamaan dalam konsep. Itulah yang terjadi setelah rakonstruksi dunia baru setelah PD II dimana, adanya dua kutub yang berbeda dalam hal-hal yang saling bertentangan. Uni Soviet dengan komunisnya disisi lain Negara Barat (America serikat dan Eropa Barat) mengedepankan liberalisme. Ide-ide perbedaan budaya tersebut melahirkan perang dingin yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun, dan diprediksi bakal menjadi akhir sebuah sejarah (end of history) tapi tatkala tidak terjadinya perang tersebut hal tersebut juga menjadi akhir dari sejarah apabila kita merujuk pada tulisan yang menggemparkan dari Francis Fukuyama.
Secara universal budaya adalah produk dari manusia yang perannya tidak sebatas dari pandangan sebelah mata saja. Tapi kita harus melihat kebudayaan secara lebih besar bahwa ia punya bahaya laten apabila tidak bisa dikontrol dan akhirnya nanti akan bisa manjadi kebablasan terhadap sebuah nation atau state. Seperti yang terjadi di Indonesia, kita melihat bagaimana contoh dari tidak adanya kontrol poliltik dalam budaya akhirnya melahirkan sinisme dan chauvinisme. Ia nantinya bisa membuat terpinggirnya sebuah ras di negaranya sendiri. Sungguh ironsinya, bahwa di Indonesia hal iltu pernah terjadi dan masih berlangsung, yaitu lebih besarnya pengaruh sebuah ras yang keberpihakan terhadap budaya ‘kaminya’ yang lebih besar, sedangkan yang kita harapakan bukannlah kebudayaan ‘kami’ atau kebudayaan ‘kalian’ yang lebih besar, tapi yang hendak dituntut disini yaitu adanya keberagaman demi penyeragaman.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: