BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN

BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN
Oleh: Hendriko Frman
Memasuki millenium ke-3 ini, bisa disimpulkan bahwa puncak kejayaan manusia berada pada millennium ini. Tidak terhitung berbagai hal yang irasional dulunya telah menjadi bentuk fisik-material. Tidak heran pula sistem pembelajaran edukasi pun mencapai puncaknya. Hal positif dan negatif diserap habis sebagai referensi pendidikan. Indonesia pun kena imbuhnya, memasuki abad ke-20, berbagai sistem pembelajaran pun muncul, baik itu inisiatif pemerintahan Hindia Belanda maupun penduduk pribumi. Dulu sekali sistem pembelajaran di Indonsia yang masih menggunakan sistem melingkar pada guru (upanisad) telah di revitalisasi dengan sistem yang lebih beradab menurut kolonial. Tapi, dari hasil pendidikan kolonial itu apakah kita secara tidak langsung telah mengadopsi sebagian dari pemikiran kolonial sebagai Negara penjajah?
Bisa jadi iya, pasalnya konteks keterkaitan antara Belanda dengan Indonesia sekarang masih dalam konteks penjajahan juga. Kalau Belanda menjajah rakyat Indonesia, sekarang rakyat Indonesia juga meanjajah rakyat Indonesia dengan cara penjajahan semu. Kalau pemikiran tersebut dalam spekulasi berarti wajar, pasalnya indikasi-insikasi tersebut tidak 100% mutlak. Walaupun juga, pasti ada sebab dan akibatnya. Indonesia yang merdeka 61tahun masih “terjajah” juga, sebabnya apa? kalau akibatnya jangan ditanyakan lagi yaitu manipulasi, penggelapan, cakar-cakaran, tindih-menindih, kritik-mengkrtik yang tak bertanggung jawab yang telah dilakukan aparat pemerintah yang tidak beriman. Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Apakah ini ada kaitannya dengan subjeknya. Kalau dikaitkan dengan kejayaan pendidikan, manusia-manusia/subjek–subjek yang mengalami proses pendidikan ini tidak 100% menerima unsur positif dalam pendidikan, unsur negatif pasti dimakan juga, pendidikan di mata sekarang sebagai batu loncatan saja sebagai manusia yang bermasa depan, dan masa depan yang ditempuhpun harus mengalami berbagai macam cara, ibarat sebuah estetika yang melanggar norma-norma, manusia berpendidikan ini sama juga, ada sebagian manusia-manusia yang melanggar dan ingin menjadi manusia instan yang mencoba-coba menduduki pos-pos pemerintahan dengan sistam trial and error-nya. Implikasinya apakah manusia instan ini bisa digolongkan penjajah?
Sebelum diteruskan lagi siapa manusia instan ini. Kenapa dia bisa di indikatorkan juga sebagai penyebab runtuhnya peradaban Indonesia. Harafiahnya manusia instan ini adalah individu intelektual yang tidak pernah menghayati proses tapi mengebu-ngebu dalam hasil. Kalau dimanifestasikan, kaum ini menuntut ilmu ingin dengan cara sesingkat-singkatnya, dan apabila telah menyelesaikan studinya kaum ini ingin cepat dapat mengembalikan modal, kursi dan meja kerja. Kaum ini memakai insting saja tanpa akal, pikiran, dan rasio dalam proses pendidikan. Karena hanya dengan dana ini-itu kaum ini mendapatkan segalanya, kalau dikalkulasikan dana ini-itu tersebut tidaklah kecil tapi kaum ini rela berkorban untuk itu. Dan prospeknya publik telah menggolongkan mereka sebagai kaum intelektual.
Kalau diproyeksikan, manusia instan tidak lebih dari pada seorang pelacur intelektual, bekerja sebagai kemunafikan saja bagi mereka, pasalnya mereka yang telah berada disinggasana pemerintahan telah mengabaikan proses tadi. Lagi-lagi mereka memakai insting dalam mengelola bidangnya. Dengan kata lain mereka belum siap dan masture secara prinsipil untuk terjun bebas ke dunia nyata, dunianya pemerintahan. Nilai jual mereka hanyalah ijazah dan gelar saja, tapi dari segi teori dan experience-nya mereka masih minim aplikasi. Kata-kata intelektual pun seperti dipaksakan kepada kaum ini. Apalah arti ijazah dan gelar yang mereka dapatkan dengan duduk berleha-leha tanpa teori yang maksimal. Setidak-tidaknya teori saja yang mereka miliki, tapi bukan secara komplit. Sehingga manusia instan perlu diberikan lampu kuning sehubungan dengan prospeknya, yang dengan kata lain perlu difilterkan dari dunia pendidikan, karena pemerintah salah satu dari penampungnya pasti juga akan terkena azabnya.
Disisi lain pemerintah sebagai mobilitator rakyat Indonesia harus bersiap-siap menerima azab dari manusia instan. Ini boleh jadi kelalaian dan sikap acuh tak acuh terhadap rakyat adalah ulah mereka. Kalau manusia instan ini berevolusi secara rapidly dan didukung lagi interaksi yang positif dari pemerintah, maka kiamat kecil bersiap-siap untuk melanda rakyatnya. Pasalnya manusia instan ini bisa ditebak apa maunya bisa jadi harta, kepopuleran, nafsu memerintah dan lain-lain yang jadi prioritas nomor satunya, sedangkan rakyat adalah prioritas ke-18 atau ke-99, imbuhnya adanya lagi KKN, pekerjaan yang tidak kredibel, efesien dan profesional. Itulah hasil revolusi mereka, mereka tidak lebih dari penyakit Aids yang siap memporak-porandakan sistem kekebalan, yaitu kekebalan pemerintah. Pertanyaannya sekarang apakah teori-toeri ini terlalu di dramatisir? Tentu saja tidak, kalau dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, kerbau mana yang membajak sawah dengan baik kerbau yang punya mata atau yang tidak punya mata? Inilah hubungan kausalnya, manusia instan jelas buta dan anehnya ingin menduduki pos-pos pemerintahan dan tentu saja hasilnya, “panen-penen” pun tidak akan pernah muncul.
Kalau yang terkena azab manusia instan adalah pemerintah dengan ancaman-ancamannya, masyarakat juga terkena dampak manusia instan ini, boleh dikatakan mereka itu kaum negatif dalam prasangka dan persepsi. Sehubungan strata mereka sebagai kaum intelektual, masyarakat tentu juga mengambil hal-hal yang relatif bagi manusia instan, pasalnya masyarakat yamg awam dan masih dibumbui dengan unsur-unsur feodalisme mencoba mengambil kiblat pada manusia instan yang secara langsung maupun tidak langsung. Kultur masyarakat yang telah terinfiltrasi oleh budaya instan ini akan menimbulkan akulturasi pada masyarakat, hasilnya apabila ada proses yang menuntut hasil yaang isntan maka sogokan–sogokan bisa jadi titik tengahnya, parsel-persel jadi jalan temunya. Bisa disimpulkan budaya ini tercipta juga dari andil-andil manusia instan sebagai kaum yang negatif.
Sebenarnya ada juga orang-orang yang ingin menjadi manusia instan sebagai batu loncatan saja, sehubungan dengan waktu pendidikan yang lama dan di iringi oleh intelektual-intlelektual lainnya yang setiap hari terus mencul dan menjadi pesaing bagi mereka. Mereka menjadi manusia instan tidak lain ingin menghemat waktu dan tenaga, tapi kalau dilihat dari kondisi bangsa ini tentu manusia instan sejati yang lebih dominan dari pada orang yang ingin menjadi manusia loncatan saja. Orang-orang yang ingin menjadi manusia instan ingin membangun bangsa dengan sungguh-sungguh dan ingin berdedikasi tinggi terhadap bagsa, tapi mereka sangat sulit untuk mengubahnya, karena lingkungan mereka telah tejebak dan terperosok terlalu dalam dengan pikiran-pikiran yang instan.
Rakyat Indonesia sebagai unsur dari negara boleh kecewa karena ada juga manusia-manusia instan yang masih berkeliaran di tiap-tiap pos pemerintahan. Rakyat sekarang adalah generasi yang kecewa. Kecewa karena telah dikhianati rakyatnya sendiri, kecewa karena telah dilacuri rakyatnya sendiri. Harapan-harapan dari rakyat yang ingin melihat anak-cucunya bahagia dan sejahtera ternyata telah dirampas. Generasi kecewa Indonesia tidak sebaik kondisinya dengan dibanding Negara-negara lain yang tidak diinfiltrasi oleh manusia instan. Amerika serikat sebagai topnya dunia pendidikan tentu bisa memfilter manusia instan apabila ada dinegara mereka. Tapi, kita sebagai negara miskin masih tetap saja menggunakan nilai-nilai lama apabila seorang ingin menjabat dalam posisi pemerintahan.
Implikasinya sekarang manusia instan yang masih banyak menjamur di Indonesia, masih digolongkan sebagai indikator penyebab kacau balaunya negeri ini, cepat atau lambat ulah dan kelakuan mereka pasti akan nampak juga akhirnya. Seperti kata Leo Tolstoy: Tuhan tahu, tapi menunggu.
***

  1. tulisan yang menari bos,,, senang sekali bisa ikut membacanya :)

    • terima kasih sudah memberi komntar gan..
      saya bangga orang kritis seperti anda bisa menangkap maksud dari tulisan saya..
      salam sukses.. :D

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: