BUDAYA BACA, BACA BUDAYA

BUDAYA BACA, BACA BUDAYA
Oleh: Hendriko Firman

“Budaya baca adalah budayanya manusia, manusia tidak akan punya peradaban apabila tidak membaca. Bahkan Islam pun mengajarkan kata pertamanya yaitu “Iqra” (bacalah).

Pada saat sekarang keseharian proses intelektual manusia tidak lepas dari proses membaca. Membaca sebagai sebuah aktivitas mencerminkan bagaimana seorang individu mau berkembang dan melihat cakrawala ilmu dengan lebih luas lagi. Membaca yang dalam konteks keingintahuan adalah sebuah hal sangat mulia untuk dilakukan. Maka tidak heran apabila setiap orang mengatakan bacalah selagi kau masih ada.
Memang untuk ukuran Negara Indonesia, minat baca sangat rendah sekali. Membaca bukanlah sebuah kultur, bukanlah sebuah kegiatan yang normal selagi menunggu orang kita membaca, selagi duduk di bus kota kita membaca, selagi punya waktu luang dimana saja kita membaca. Bukan, orang Indonesia faktanya bukan seperti itu. Masih ingatkah kita bahwa masih ada beberapa suku di Indonesia untuk mengharamkan pendidikan termasuk membaca. Realita seperti itu membuat semuanya menjadi masuk akal, sejak masa penjajahan dulupun kita baru disediakan buku-buku bacaan faktanya baru akhir abad ke-19. Jadi, jangankan membaca buku, untuk surat kabar pun rata-rata orang Indonesia membaca satu koran dibaca oleh lima puluh orang rata-rata.
Maka dari itu, pemerintah memang telah lama tanggap terhadap semua fenomena ini, karena kecenderungan di Indonesia bukan orang-orang berpunya saja yang jarang membaca. Bahkan orang-orang yang berduit pun jarang sangat untuk membaca. Ironisnya kaya-miskin di Indonesia memang tidak suka membaca.
Membaca sebagai mediator berpikir kritis, bukan saja selalu di identikan dengan hal-hal yang “berat”, teori-teori, bahasa-bahasa ngejelimet. Tapi juga membaca buku adalah perkerjaan yang dianggap sia-sia oleh sebagian orang Indonesia. Karena sebagian orang Indonesia termasuk orang yang mengapilkasikan suatu hal secara kinetik (kerja), bukan secara audio (mendengar) maupun visual (melihat/membaca). Sehingga akibat kurang balance-nya daerah A dan B SDM nya mungkin juga disebabkan oleh pengaruh lingkungannya yang cenderung teridiri dari orang-orang kinetik. Contohnya apabila seseorang ingin membeli kipas angin, maka orang kinetik akan langsung merakitnya, sebaliknya orang visual membaca buku petunjuknya, dan orang audio akan menanyakannya pada pedagang tadi perihal cara merakitnya.
Dari kasus di atas membaca sebagai sebuah paradigma, perspektif, behaviour, aktivitas, teori, implementasi, apalagi kultur faktanya masih sulit di Indonesia ini. Apabila orang Indonesia telah sinkron dengan hal-hal tersebut. Sekonyong-konyong kita tentu akan mengulang sejarah – yang einmalig tentunya – terhadap peradaban Negara hinomaru Jepang. Kita tahu bahwa, hanya perlu waktu empat dekade saja sejak didatangi Mathhew C. Perry pada tanggal 8 Juli 1853. Jepang yang sebelumnya kolot dan telah terisolasi berabad-abad terhadap kemajuan dunia luar akhirnya bertransformasi menjadi sejajar dengan negara-negara seperti Italia dan mengalahkan negara-negara yang cemerlang peradabannya seperti Spanyol, Russia, Yunani dan Negara-negara barat cemerlang lainnya. Yang kuncinya ada hanya pada satu kata yang membuat Negara Jepun itu maju yaitu: membaca.
Tapi kalau bangsa Indonesia yang besar ini kalau membaca hanya dalam situasi formal saja, kita mungkin masih jauh mengejar kemajuan bangsa-bangsa yang lain. Dimana, kalau proses membaca dengan metode paksaan yang sering kita alami di sekolah-sekolah terus di prektekkan faktanya metode tersebut tidak punya efek kontinunitas yang baik, pasalanya soul kita sendiri telah didikte dengan kata-kata membaca, sebaliknya kata “membaca” telah jenuh di mata para siswa. Maka timbullah ego sendiri yang menyatakan membaca adalah proses menjemukan dan tidak punya bentuk ke-excited-annya. Membuat opini publik mengatakan membaca itu dibalas dengan pernyataan sok rajin, cari muka, di ejek kutu buku dsb. Faktanya orang hanya membaca buku yang sederhana saja tapi selalu dikonotasikan buku-buku yang yang menjatuhkan harga diri si pengejek karena cemburu, bukan murni mengejek. Sebaliknya membaca harus ditanamkan sebagai kegiatan yang akrab bentuknya bukan sebagai paksaan semata.
Maka dari sirkulasi membaca tersebut manusia telah bisa di katakan manusia yang sebenarnya apabila telah membaca, apapun genre dan bentuk buku tersebut, ilmiah, dan non-ilmiah – tentu yang positivisme. Orang-orang yang membaca yang membuat dirinya membutuhakan membaca sebagai kebutuhan primer, tak pelak lagi kita katakan sebagai orang yang berbudaya membaca dan walhasil individu itu bisa membaca budaya. Apapun budaya tersebut, karena dasar pemikirannya terobesesi pada ilmu pengetahuan yang mengakibatkan individu teresebut bisa membaca budaya, budayanya manusia.
Seorang yang telah melek sebagai reader (pembaca), tentunya telah disinggung tadi akan bisa baca budaya. Karena budaya sebagai proses pemikiran manusia bisa merefleksikan si reader tersebut untuk lebih haus lagi terhadap ilmu dan pengetahuan, lebih kritis, dan tentu efek jangka panjangnya membuat seorang reader menjadi orang yang bijak, punya keobjektifan, berjiwa besar, dan akan punya kepekaan terhadap semua hal (sense of act).
Lihatlah contoh orang-orang besar yang punya kebutuhan primer terhadap membaca: Hatta, Sjahrir, Taufik Ismail, H.A Salim, Rosihan Anwar dll. Bahkan Rosihan Anwar yang pada usia 80-an tetap memabca buku 2 buku seminggu. Contoh-contoh orang di atas yang telah mengalami sirkulasi budaya baca = baca budaya, kesemuanya telah menjadi “orang”, bahkan orang besar yang sampai pada kaliber internasional.
Tentunya Indonesia sebagai negara yang melimpah SDA nya, butuh sekali kecakapan terhadap SDM yang memadai, maka tidak lain jalan keluarnya yaitu membaca, membaca, dan membaca. Yang orientasinya yaitu membaca menjadi tahu, tahu menjadi paham, paham menjadi kontiniunitas lagi untuk kita membaca buku yang lain.
Percayalah kita kepada orang-orang besar diatas, kalau kita membaca dan menjelma menjadi seorang reader untuk negara Indonesia yang besar ini kalau kita efesienkan maka, kita akan maju sebagai negara baru lebih beradab lagi. Maka dari itu, terus dan ingatlah kata-kata remeh-temeh yang punya kekuatan makrokosmos ini dihati kita untuk dipraktekkan: “tiadalah hari tanpa membaca”.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: