B U D A Y A K E B I J A K A N P A L S U

B U D A Y A K E B I J A K A N P A L S U
Oleh: Hendriko Firman**

Dalam ukuran manusia terpelajar ilmu dipandang sebagai bentuk dari “berhala” yang diagung-agungkan dan disembah-sembah. Ilmu dijadikan sebagai titik pokok setiap manusia mencoba menjelaskan berbagai macam interpretasi yang bergejolak di dalam benakanya. Dan bagaimanapun juga vitalnya ilmu dalam arena berpikir tersebut akan tetapi manusia tidak juga menyadari defenisi dari konsep real ilmu tadi.
Tak terhitung lagi berapa puluh tahun manusia-manusia Indonesia yang berpikir merdeka melihat kebebasan untuk berpikir adalah ciri-ciri dari manusia yang berkualitas, bukan saja kebebasan berpikir akan meruanglingkupkan interpretasi tadi dalam gambaran yang lebih konkret dimatanya tapi lebih dari itu kebebasan berpikir memberikan kesinambungan untuk mendapatkan kesejahteraan kepada semua elemen rakyat di dalam sebuah bangsa.
Sekarang berpikir telah bebas dalam rentang sepuluh tahun belakangan ini, kita tidak akan membahas bagaimana terkuburnya kebebasan ini dibawah rezim orde baru, tapi kita akan melihat bahwa kita masih saja melihat orang-orang yang terpelajar berpikir tidak dalam koridonya, dalam artian adalah berpikir untuk memecahkan sebuah masalah tidak dalam koridornya, khususnya masalah bangsa ini. Tapi sebaliknya telah menjadi ironis bahwa, berpikir bagi kaum orang terpelajar diartikan sebagai pembuat masalah baru (trouble maker). Ya, hanya dengan sebegitu bejatnya, masih ada orang yang apalagi terpelajar, yang pada tuntutan awalnya mengemban bagi membantu yang lemah, tapi sebaliknya ia malah condong kiblat menjadi terpelajar yang bukan meng-clear-kan tapi mengkisruhkan.
Di sini tidak akan dibahas siapa terpelajar ini, anda bisa memanifeskan sendiri bagaimana bentuknya tersebut. Sebagai orang-orang yang terpelajar, sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung masih ada juga yang melihat landscape dari orang lemah yaitu: yang The heve not menjadi lahan penggarapan bagi kepentigan pribadi. Di mana pundi-pundi eksplorasi dengan cara dikompleksasi dan diperiodesasi. Kita justru heran dengan pola dan perilaku tidak senonok ini. Jangankan untuk membayar pundi-pundi tadi untuk survive saja yang lemah ini sudah suatu mukjizat bagi mereka.
Kaum lemah bagi para penganut marxis adalah sebuah objek dari ketertindasan golongan yang memerintah tidak secara adil, tapi sayangnya di indonesia kaum lemah (miskin, cacat, bodoh, dsb) tertindas bukan semata-mata tidak hanya disebabkan ketidakadilan secara garis besar, tapi peran penting yang dikritisi juga adalah ketertindasan akibat “kans”. Yang berarti seorang telah lemah akan punya kans untuk dimasuki berbagai pengaruh dan infilterasi. Maka apabila seyongyannya sebuah individu lemah telah mengadopsi mentah-mentah pengaruh dan infiltrasi tadi sekiranya kaum lemah akan menjadi karakter yang tereleminir, tidak lemah, menegah atau kuat, tapi tidak akan punya fundamentalnya lagi atau telah hilang, absurd.
Siapa lagi kalau bukan kaum terpelajar yang punya faktor dari tertindasnya kaum lemah, mereka mempunyai perintah dan bisa-bisa mengakibatkan ketidakadilan dan satu lagi mereka juga punya karakter untuk menjadi “kans” dalam tindak lanjut pengaruh dan infilterasi. Sekiranya kalau hal ini terus didiamkan maka, kelak nanti jadi apa bangsa ini. Sebuah loyalitas terhadap jabatan dikorbankan dengan sebuah maklumat yang mendiskreditkan yang lemah, yang lemah adalah orang yan papa dimana hidup berdasrkan fatalisme, tak punya inisiatif apalagi cita-cita, dan itu semua hanya mimpi!
Sekarang yang terjadi di negeri ini tidak saja masalah dinamika poltik saja yang terus didengung-dengungkan, permasalahan bangsa yang inti sari sebenarnya tanpa dipengaruhi isme-isme apapun bahwa kita akan sepakat bahwa kaum lemah adalah prioritas dan tujuan nomor satu setiap bangsa didunia ini, disamping kesejahteraan semua lapisan yaitu memberikan persamaan kesempatan, persamaan hak azasi manusia dan yang paling penting adalah menyamaratakan harkat manusia pada bentuk dasarnya atau dari titik nol. Untuk itu, kita turut perihatin dengan banyaknya cost untuk politik disisi lain ekonomi yang lebih dekat meramu pada kaum lemah telah terabaikan, tidak ada kebijakan yang sangat pro baru-baru ini, hanya saja tindakan/kebijakan yang nonpopular dijungkir balikan seakan-akan adalah demi kepentingan kaum lemah dengan retorika palsu.
Sebaliknya yang terpelejar bukan terajar tapi terkurangajar dengan berbagai hirarki keintelektualan topengya, membuat suasana semakin keruh, yang notabene seakan-akan tanpa dosa tidak punya link untuk melemahkan kaum lemah. Tindakan semacam inilah yang menjadi pukulan yang telak bagi kaum lemah dia didiskreditkan dengan cara yang sangat elegan bagi terpelajar disatu sisi dipandagan kaum lemah mereka didiskreditkan dengan cara yang sangat bejat.
Orang banyak bilang bahwa terpelajar adalah buah perangai dari modernisme, ya memang betul adanya, secara konsepsi, tapi tidak secara implementasi di Indonesia, malahan di Indonesia kaum lemah bukan dimodernisasi dengan tinggi akal, budi pekerti, dan rasio, sebaliknya kita malah seperti domba diiring secara komunal masuk ke jurang. Modernisasi diaplikasikan tapi implementasi di primitifkan dengan dalih retorika shopisme semua masalah masuk akal, dan yang lemah makin menjerit.
Sebagai manusia yang melihat dengan cakrawala komprehensif kita tidak saja harus membrontak terhadap pola-pola pemerintahan sekarang yang tidak proaktif lagi pada yang lemah, tapi kita harus sementara berpikir kebudayaan dan peradaban manusia hanya bisa dikatakan demikian apabila telah mengecap kesejahteraan, rohani dan jasmani. Jadi tiadalah kita harus introspeksi bahwa, cita-cita itu masih jauh dan juga tidak bisa diprediksi. Sekarang kaum lemah benar-benar mengais untuk diambil ajalnya untuk disakratulmautkan karena tidak punya ekses lagi untuk dikategorikan sebagai manusia normal, karena tiada suatu yang normal didiri mereka. Mereka telah hangus ditelan oleh muatan-muatan dan kepentingan-kepentigan pribadi atau kelompok yang timpang sebelah. Tapi terpeklajar ribut-ribut mengatakan inilah the best choice in the worst choice, bukankan ini ketimpangan dari pemutarbalikan fakta yang memiriskan, jelas-jelas kita tak punya pilihan buruk, orang indonesia adalah orang yang merdeka.

***

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: