MENATAP MASA DEPAN MINANGKABAU

Orang Minang tiada lagi baradat? Kalau memproyeksikannya untuk kontemporer memang demikian adanya, 60% dari masyarakat Minangkabau yaitu anak muda telah mangabur rasa Minangnya, tidak mau mengenal dan tidak mau melibatkan diri, yang ada hanya unsur persuasif dari yang punya interest untuk melibatkan diri (kaum tua) sedangkan inisiatif anak muda mengalahkan keinginan untuk menjadi beradat.
Banyak saja dari angka 60% ini tidak memerlukannya sebagai unsur satu-kesatuan geneologis, alasan yang diberikan( kuno, kolot, absurd, simbolis, dsb) sebagai penangkis, tak lebih dari bentuk keberpihakan kepada tabuhan hati yang individualistis atau hanya sekedar luapan transisi global yang telah memproduksi anak bangsa menjadi penganut budaya lain, apatisme, degenerasi, dan generalisasi terhadap senstivitas kebudayaan saat sekarang ini.
BUDAYA LAIN
Sekarang arus teknologi telah meng-short cut dan mengintervensi semuanya, tidak ada lagi bentuk kebebasan pribadi dalam bentuk privacy. Setiap orang tidak punya kans lagi untuk mempertahnkan apa yang diyakininya, tak terkecuali bagi budaya. Budaya telah melahirkan konsepsi rohani bagi penganutnya, sebuah kepuasan batin, yang melihat masa depan dengan bentuk life style yang baru. Sedangkan kebudayaan itu tidaklah berbentuk, abstrak, tapi punya jejaring yang konkret mengikat bentuk seorang individualis mentraformasi dirinya menjadi seorang yang baru, yang bisa melepaskan apa yang diyakini sebelumnya termasuk budaya. Individu tadi akan merasakan perasaan yang ekslusif dan akan melihat apa yang diyakininya sebelumnya itu yaitu budaya, akan tereduksi dan sebaliknya budaya baru yang dianut akan bertambah kecintaannya. Budaya lain tidak lain adalah sebuah opsi apakah individu tadi akan apliaksikan atau eliminirkan, kalau dipakai maka berkuranglah kecintaannya terhadap budaya awal (Minangkabau) dan mengakibatkan suatu fundametal dari pengasung kebudayaan Minangkabau telah keropos dan implikasinya apabila semua anak muda Minang diintervensi budaya lain, maka budaya Minang akan ditinggalkan tanpa syarat.
APATISME
Keadaan jiwa yang terlalu bebas dalam artian tidak punya sense, maka dia akan melahirkan apatisme, sebuah sifat ketidakpedulian. Berawal dari sebuah perspektif yang tidak digubris, lama-kelamaan perihal ini menjadi bentuk yang lebih ekstrim lagi, yang dinamakan apatisme. Dalam kebudayaan Minangkabau yang kompleks seorang indvidu yang tak punya ekses untuk membongkar dan membedah isi kebudyaannya akan melihat kebudayan Minangkabau dalam perspektifnya adalah sia-sia dan tiada bermakna (absurd), lantaran dia tidak bisa berpartisipasi secara individu yang konkret, maka dia akan berpikir untuk mencoba melupakan saja budaya Minangkabau ini, lalu akibat melupakan maka dia tidak akan punya keberpihakan atau keikutsetaan dalam berevolusinya kebudayaan Minangkabau, maka individu tadi tidak akan pernah reaktif apalagi proaktif terhadap kebudayaannya. Manajemennya hanya terpatri pada suatu persoalan pokok saja, bahwa individu itu diacuhkan (indifferent) maka dia akan lari dari tanggung jawab geneologisnya, dan menimbulkan secara pasti dan berangsur-angsur apatisme itu.
Ruang lingkup global baginya adalah universalitas, sedangkan kebudayaan adalah bentuk deviasi yang terlalu kompleks dan absurd baginya.
DEGENERASI
Sesuatu yang terlalu disakralkan dan dikomplekskan tentunya juga tidak akan baik, semua hal pasti ada sebab dan akibat. Dan akibat dari terlalu sakral dan kompleksnya maka timbullah eksklusifitas, dan eksklusif itu adalah simbol dari kesukaran terlibat, kita akan gamang mengaplikasikannya. Tak terkecuali juga kebudayaan Minangkabau, ia adalah sesuatu yang sakral dan kompleks, secara umum kompleks tersebut masih bisa dipilah-pilah lagi menjadi bentuk kebudayaan Minangkabau yang lebih fresh. Dan tentunya itulah kelebihan dari sebuah kebudayaan ia adalah sakral dan kompleks. Akibat kompleks dan sakral apakah berujung itu pada eksklusif atau inklusif maka seorang individu akan merasa terbebani mewariskan tradisi kebudayaan tersebut, ia nantinya tidak akan lebih menjadi penyangkut masa depan yang berujung pada kesia-siaan. Akibat gap yang terlalu menganga akibat dari perubahan zaman maka seorang yang telah klop dan ikut arus dalam kebudayaan Minangkabau (kaum tua) dengan seorang yang pemula melahirkan degenerasi, atau ketidakberlanjutan. Degenerasi tentunya akan melahirkan sebuah kekosongan dalam kepercayaan ( vacuum of believe), kekosongan kepercayaan tersebut membuat Minangkabau menjadi simbolis semata sedangkan isinya hampa.
GENERALISASI
Manusia adalah bentuk generalisasi, dan tidak heran apabila manusia bisa digeneralisirkan, apa saja termasuk kebudayaannya. Orang Minang memiliki banyak pengaruh terhadap pengaruh lainnya, dan sebaliknya. Kebudayaan Minangkabau sebagai pola dari manusia Minang adalah sebuah titik temu lainnya bahwa kebudayaan mereka sesuatu yang orisinalitas bukan universal. Maka tidak heran pula sesuatu yang orisinalitas akan melahirkan sebuah universalitas, yang artinya kebudayaan Minangkabau akan dikontekskan saja dalam form yang sama dan serupa, tanpa cela. Maka prosesnya disebut generalisasi. sekarang kita tahu betul bahwa budaya Minangkabau telah digeneralisir secara perlahan-lahan oleh ekses lain, semua yang berbau orisinil telah diintervensi oleh jejaring-jejaring yang mengatasnamakan dirinya kebebasan berpikir. Generalisir tentunya akan mulai mengaburkan Minangkabau lalu perlahan dihilangkan dari orisinilitasnya, dengan kata lain punah. Dan faktanya tak ada pengeculaian bagi ras Minangkabau, kebudayaannya nantinya akan punah juga oleh generalisasi.

Kasat mata atau tidak, sekirannya orang Minang telah diancam oleh kebangkrutan jatidirinya tidak ada lagi surplus lagi bagi budaya ini, masa lalu tentu diagung-agungkan tapi masa depan akan menjadi sebuah hantaman, cepat atau lambat mobilitor Minangkabau yaitu orang Minang harus berpikir dengan keras agar mereka tidak akan merasakan kepunahan geneologis nenek moyangnya. Persatuan dalam bentuk bicara saja tidak dibutuhkan saat sekarang ini, yang dibutuhkan adalah aksi, aksi yang konkret. Tidak lama lagi atau kapan tantangan masa depan ini pasti akan menang, atau akankah tantangan itu akan terlampaui oleh orang Minang? Wallahualam.

ever published at  Singgalang, Juni 2008

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: