MENCARI BENTUK MINANGKABAU YANG IDEAL

Oleh: Hendriko Firman***

Berabad-abad sudah kiranya etnis Minangkabau dengan kompleksitasnya berevolusi, di mana dalam proses tersebut telah begitu banyak influences (pengaruh) yang masuk. Influences tersebut masuk dan keluar silih berganti, dengan wajah baru ataupun dengan wajah yang itu-itu saja. Minangkabau yang sekarang tidak akan tercipta seperti ini apabila tidak ada sejarah dari sirkulasi influences Minangkabau pada masa lampau. Sebuah cerminan yang jelas bahwa Minangkabau hadir, eksis, dan selanjutnya redup perkembangannya di sebabkan oleh influences.

Tak terhitung lagi embrio Minangkabau yang hadir telah di masuki oleh berbagai macam influences, baikkah itu mapun burukkah itu. Terhitung telah banyak paham, ideologi, falsafah dsb. Yang terkait sebagai jiwa Minangkabau, contohnya saja seperti: Hindhu, Budha, Islam, Wahabi, pendidikan Barat, partai politik, nasionalisme, kemerdekaan, demokrasi, otonomi, gerakan daerah, dan hingga berujung pada reformasi. Faktanya kenapa kebudayaan Minangkabau ini bisa berubah dan sekonyong-konyong mencoba reflektif melihat semua aliran, paham, dan ideologi tsb.

Kalau begitu tentunya Minangkabau ini hanyalah simbol jadinya bukan lagi esensinya yang menonjol dari hirarki tersebut. Lantas timbul pertanyaan kita, bagaimana mencari bentuk Minangkabau yang ideal itu? Tentulah selama ini ideal, tapi tidak bisa di bilang statis untuk sebuah peradaban yang terus berevolusi. Yang dimaksud ideal di sini adalah jiwa Minangkabau yang sesungguhnya yang terus reflektif terhadap setiap kejadian, punya sense of power-nya sendiri, beradab, bukan berisi hal-hal yang berbau metafisika saja, punya kualitas, dan akhirnya menjadi kiblat bagi perkembangan kebudayaan lain.

Memang sekarang faktanya pertanyaan tersebut tidaklah bersifat urgen. Tapi walaupun demikian pertanyaan tersebut akhirnya menjadi perihal yang sangat interest untuk dipertanyakan. Apakah harus tetap begini Minangkabau seterusnya? Dimana pola-pola lama yang ketat seenaknya saja dimasuki oleh pola-pola yang lain, yang secara membabi-buta masuk begitu saja. Tengoklah sendiri, bagaimana nilai-nilai lama tersebut menjadi karatan karena telah usang, telah dimakan zaman dan tidak menjadi pedoman lagi walaupun itu warisan budaya yang harus di langgengkan. Terbesit oleh kita, nilai-nilai tersebut hanya sebatas ujung lidah sekarang, dalam catatan-catatan saja, bukan berada pada implementasinya.

Kita lihat saja nilai-nilai tersebut dicoba untuk di pertahankan bukan untuk disesuaikan – dengan tanpa mengurangkan substansi dari ideologi tersebut. Dimana dalam proses penyesuaian tersebut tidakalah berarti menghapuskan saja secara kasar, lalu serta-merta diganti dengan influences yang baru. Bukan, tapi sebagai warisan berharga dari tingginya pemikiran pada masa itu yang terefleksi pada kebudayaan Minangkabau, kita harus melihat bahwa, dalam konteks mempertahanakan memang baik, tapi cenderung tidak persuasif bentuknya. Tapi kalau nilai-nilai tersebut disesuaikan – sekali lagi dengan tanpa menghilangkan – maka kontiniunitas akan tetap bertahan lebih lama dan mempunyai respek dari instrumen-instrumen kebudayaan tersebut, yaitu orang-orang Minang itu sendiri.

Sekarang, telah kita lihat dalam mencari bentuk ideal ini, semua kelompok aspek punya rights-nya sendiri untuk mencari bentuk ideal tersebut. Pasifkah dia, atau aktifkah dia. Terserah karena kelompok tersebut mempunyai hegemoni yang jelas terhadap arus kebudayaan tersebut. Tapi, disini kita hanya akan melihat bahwa, tipikal tersebut tidak jauh-jauh lari dari masalah duniawi maupun religi. Yang religi yaitu kebudayaan Minangkabau yang terisi mengekor terhdap bentuk Islam. Sedangkan yang duniawi yaitu tanpa objek atau terkonsep sebagai adaptasi.

Dalam masalah religi ini tidak saja, kebudayaan Minangkabau telah klop melihat Islam itu sebagai bentuk idealnya, tapi karena mahaluasnya Islam itu, mengakibatkan bentuk tersebut mesti dicari lagi dalam Islam, karena Islam itu tidak saja tok di Islam itu tapi banyak lagi mazhab lainnya seperti konservatif, modernis, postmodernist, bahkan hingga Islam liberalis.

Lantas apa yang di cari oleh Minangkabau ini oleh dinamisatornya, yaitu kelompok-kelompok tersebut? Kita tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi kalau kita lihat sekarang, kelompok yang punya hegemoni menggalakan yaitu: semi konservatif dan modernis. Dimana bentuk kebudayaan Minangkabau yang di mix dengan Islam, lalu juga kebudayaan Minangkabau dijadikan sebagai alat kekuasaan di-mix dengan Islam yang bertujuan sebagai haluan kekuasaannya. Kita lihat saja bagaimana kerasnya Islam sekarang ini digalakan kembali untuk tetap disandingkan dengan kebudayaan Minangkabau. Islam yang sebagai ajaran yang telah kokoh bentuknya banyak persamaannya dengan jargonnya ABS-SBK, dimana transformasi tersebut adalah sebuah evolusi panjang yang terdoktrinasi dalam kebudayaan Minangkabau.

Yang selanjutnya yaitu tanpa objek, kenapa disebut tanpa objek karena cenderung disini semua paham yang masuk adalah semua yang berhaluan dengan duniawi tadi, paham-paham tentang kesejahteraan manusia dan semua hal lainnya yang berbau positif. Seperti sosialisme, humanisme, modernisme dsb. Karena, menampung aspirasi dari semua paham itu. Pantaslah kita sebut dia tanapa objek, karena form sebenarnya bisa apa saja, bisa disesuaikan terus dengan kebudayaan Minangkabau, sehingga disebutlah adaptasi.

Bentuk yang diterima kebudayaan Minangkabau ini dari adaptasi ini adalah paham atau serbuan mindset yang populer sezaman itu, misalnya saja, hal-hal untuk kembali ke bentuk pemerintahan otonomi telah lama dipikirkan oleh orang Minang yaitu pada masa perode 1950-an, lalu paham tersebut digalakkan kembali pada masa pemerintahan Habibie. Yang lain yaitu, saat orang Minangkabau konfrontasi terhadap pusat gara-gara akibat dari paham demokrasi yang telah berkiblat pada Barat. Nah, dari situ kita bisa melihat bahwa bentuk Minangkabau selama ini juga dipengaruhi oleh bentuk-bentuk adaptasi ini.

Kalau melihat realita seperti ini, bukankah bentuk Minangkabau itu pada dasarnya tiada berubah? Memang iya, tidak berubah, tapi hanya sebatas pada statistik saja seperti di buku-buku sejarah maupun buku kebudayaan Minangkabau, dimana poin-poinnya sudah jelas bahwa cirri-ciri orang Minang seperti itu. Tapi kita lihat implementasinya sekarang, dimana hanya sebagian orang menggunakan tata cara nilai seperti itu, kita juga harus objektif bahwa hampir semua keluarga urang Minang yang khususnya di kota-kota besar dan maupun yang di rantau, memakai nilai-nilai Minangkabau sangat sedikit dan mengakibatkan tidak adanya regenerasi. Jadi, yang dimaksud di sini adalah kita mencari bentuk Minangkabau ini agar tetap bersanding dengan kebudayaan Minangkabau awal, lalu dari sinkronisasi tersebut Minangkabau tetap terjaga kelestariannya dengan tetap sejalan dengan perubahan zaman.

Sekali lagi untuk di wanta-wanti bahwa, kebudayaan Minangkabau ini secara realitas kita lihat, pasti akan punah juga akhirnya akibat perubahan zaman, dan lalu hanya akan meninggalkan nama saja. Dan timbul pertanyaan baru, apakah kita harus tinggal diam saja bahwa kebudayaan Minangkabau yang sangat cemerlang ini akan ditelan usia akibat perubahan zaman? Toh, yang mudharatnya tidak apa-apa hilang, tapi yang sangat tinggi budi pekertinya dimana menunjukan sebuah peradaban yang tinggi pemikirannya apakah habis dan hilang juga?

Dari situlah kita harus berpikir, kita harus mencari bentuk ideal tersebut sebagai penunjang untuk Minangkabau terus survive. Dan sekarang yang jadi kuncinya adalah orang Minang itu sendiri, tanyakan pada mereka, inginkah mereka Minangkabau ini survive atau Minangkabau ini berhenti sajalah sampai disini?

***

    • iloveminang
    • June 16th, 2008

    Its me give some renaissans.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: