Tentang Zona Nyaman dan Peluang

image

Peduli setan dengan zona nyaman

Zona nyaman adalah ketakutan sementara untuk membuat diri kamu tidak TERBERDAYAKAN!

Jika zona nyoman saat ini yang kamu rasakan adalah the ultimate goal dari apa yang kamu impikan, maka itu bagus, BERSYUKURLAH!

Tapi jika bukan. Bagi kamu yang masih takut melangkah, mengambil KEPUTUSAN, untuk resign, mendirikan bisnis, kuliah ke Eropa, deciding married, menyatakan cinta ke wanita, dll, maka kamu menyia-nyiakan diri kalian sendiri.

Karena percayalah, APA YANG KAMU TAKUTI adalah apa yang benar-benar KAMU INGIN LAKUKAN!

Salah satu blok yang membuat kamu tetap di zona nyaman adalah society. Listen to me bro. F**K SOCIETY! F**k them to telling you what you should to do.

Mereka tidak berhak menentukan kemana langkahmu! Bukan mereka yang menerima RISK dan REWARD-nya.

Saat mereka menghambatmu dan ternyata kamu sukses maka mereka bangga.

Jika kamu gagal dan mereka benar, maka mereka akan makin merendahkanmu dan semakin besar kepala.

So, menang dan kalah society tidak punya sikap. INKONSISTEN!

Tahukah kamu, zona nyaman adalah musuh PELUANG. Saat kamu mengambil keputusan keluar dari zona nyaman, maka kamu menarik peluang untuk terus TUMBUH.

Bukan peluang kalau tanpa risk. But SCREW it! JUST DO IT!

Peluang ibarat sebuah bus yang lewat di sebuah halte. Peluang datang & pergi. Tapi ingat, semakin cepat kamu menaiki bus itu, semakin cepat kamu memakai peluang itu, maka semakin cepat kamu melangkah ke POSISI yang kamu inginkan.

Tidak sadarkah kamu, orang yang paling mendapatkan apa yang mereka INGINKAN  adalah orang yang paling banyak MEMBUAT peluang dan mereka peduli setan dengan hasilnya nanti.

Jika bagus, maka it’s work! Jika gagal, then masih banyak peluang baru untuk membuatnya bekerja.

Dengarkan kata hatimu, bunuh logika-logika ketakutan yang fana itu, bunuh ego yang selalu membuatmu tidak bahagia.

Ambil keputusan SEKARANG. Naikilah BUS peluang itu sekarang.

Ambil sekarang atau bersiap-siap gigit jari di karena PENYESALAN!

Melanjutkan Master?

image

Memutuskan untuk kuliah master adalah hal paling bodoh yang terlintas di pikiran saya saat saya memulai bisnis saya yang pertama. Kenapa bodoh, karena saya berpikir kalau saya ingin mendapatkan uang banyak dari bisnis, maka yang saya lakukan adalah berbisnis bukannya belajar.

Sekarang saya harus menjilat ludah sendiri karena saya sangat desparately nya untuk melanjutkan kuliah s2. Pilihannya jatuh ke negeri Amerika. Mekahnya bisnis dan industri kreatif seperti startup. Ini bukan mengikuti tren saya bisa memutuskan untuk ikut menyambung s2. Bukan karena teman-teman yang semakin banyak ke luar negeri untuk kuliah.

Ini gara-gara Elon Musk. Biografinya saya baca dalam 2 hari. Saya sangat menggilai sosok ini. saya merasa membaca diri saya di buku ini. memang lebay dan kegeeran, tapi itu yang saya rasakan. Bedanya dia bisa mewujudkan Tesla dan SpaceX dengan keuntungan menguasai fisika, kuliah di Upen dan fasih bahasa Inggris. 3 hal yang saya tidak miliki. Buku ini membuat saya berkontemplasi, jika saya ingin mendirikan bisnis dan membuat semuanya menjadi efisien, maka saya harus tahu rasanya hidup di ekosistem paling baik untuk bisnis. Dimanakah itu? Jelas Amerika, California atau Boulder. Saya ingin merasakan bagaimana hidup dalam ekosistem pebisnis terbaik. Kalau Phil Graham bilang, hidup dengan ekosistem para founders menunjang kita untuk terus berinovasi dan berterdeminasi.

Saya ingin memiliki Bisnis Inkubator (BI) saya sendiri, maka yang harus saya lakukan adalah membuatnya luar biasa bagus, caranya adalah dengan menginvestasikan foundernya untuk membuat visi yang sangat vivid terhadap kelangsungan BI ini. dan solusinya yang paling konkret adalah kuliah di amerika. Ingat saja Jack Ma pulang dari Silicon Valley, dan beberapa bulan kemudian sdia sangat desperate untuk membuat alibaba.com. itu yang saya lihat. Itu yang saya rasakan. Itu insting yang saya katakan.

Saya harus membayar untuk bisa memiliki mimpi ini. bisinis Cimporong Clothing yang bernilai miliaran rupiah nantinya harus saya tinggalkan, Antoga Berkah yang juga bisa berpotensi miliaran juga harus ditinggalkan. Pertanyaannya kenapa tidak nyambi saja? Tidak mungkin, sudah saya coba. Saya selalu merasa tersita dengan bisnis ini. sama seperti saya ada kuliah dan harus mengejrakan skripsi di saat yang bersamaan. Dan saya rasa itu tidak masuk akal. Oleh karena itu saya meninggalkan mereka, dengan sangat banyaknya kepedihan yang saya harus rasakan. Toh, saya selalu percaya dengan apa yang saya lakukan. Memang saya keras kepala, tapi selama ini saya tidak pernah salah.  Terpujilah saya seorang ENTJ. Seorang intuitif yang bagus.

Harga untuk S2 ini sangat mahal, saya harus pontang panting mengerja TOEFL 600, harus mencari pendapatan sendiri untuk hidup, siap ditanya keluarga sekarang kerja apa, siap belajar GMAT yang merupakan ujian matematika-verbal yang luar biasa susah (dalam bahasa inggris), belum lagi saya harus membangun kredibilitas saya untuk terus in frame dalam kandidat master. Bdw, master yang saya ambil yaitu Master Science in entrepreneurship and Inovation (MSEI) di University of Southern California.

Persiapan yang say alakukan adalah 1 tahun sejak 1 september 2015. Jika semuanya berjalan baik, saya mendaftar LPDP yang close 15 Juli 2016 nanti, dan pengumumannya tanggap 9 Sep 2016 ini, dan jika lulus, maka terbayar sudah penderitan saya. Terbukalah peluang baru bagi diri saya.

Jika tidak lulus bagaimana? Mungkin saya akan menangis sekencang-kencangnya, saya akan sangat hancur. Its too big to fail. Toh, jikapun demikian ya gimana lagi. Memang saya belum pantas. Toh, jalan panjang masih terbuka lebar, walau saya tahu saya akan move on secepatnya. Orang-orang mengatkan saya berhati dingin, dan itulah keuntungan saya saat menerima penolakan. Tapi layaknya seorang pemimpi, persiapan matang dan totalitas yang gila-gilaan adalah kunci mengeliminir kegagalan. We all hate rejection, of course, but there is a lot ways to kill it. Caranya adalah kerja keras tanpa ampun, visi yang kuat, determinasi yang kuat, rawat terus mimpi itu.

Apakah saya lulus seleksi berkas LPDP, apakah saya lulus seleksi LGD dan essay on the spot, apakah nama saya lulus saat 9 September 2016 pengumuman LPDP? Entahlah, wallahualam, saya hanya harus berusaha sampai titik darah penghabisan untuk membuatnya maksimal. Like I said, this is my only chance to make my dreams come true. Saya tidak boleh gagal, terlalu gila harga yang saya bayar untuk mempersiapkan kuliah s2 ini. oh god, tunjukan jalanmu.

Memulai Bisnis Inkubato?

image

Saya suka dengan bisnis

Saya suka dengan elon musk

Saya suka dengan startup

Saya suka dengan sharing

Jadi sema itu jika digabungkan untuk menjadi hal yang produktif. Maka jadilah ia bisnis inkubator.

Saya asuka bsinis inkubator krena saya bisa sharing, saya bisa memantau trens dan di dalam tren tersebut, saya suka karena saya fresh setiap harinya.

Membangun bisnis inkubator ini butuh waktu yang luar biasa untuk saya memulainya. Maklumlah saya yang sangat introvert terhadap hal ini. selama tahun akhirnya memendam cita-cita ini, maka saya putuskan untuk memulai bisnis inkubator saya sendiri. Ini bukan karena gagah-gagahan atau mengikuti tren. Saya suka karena pertama, tentu saja, bisa terlibat dengan para pelaku startup yang memiliki potensial, dan saya bisnis inkubator ini memiliki saham jika mereka terpilih menjadi tenant. Kedua, karena bisnis inkubator itu menggunakan jasa orang lain untuk di upgrade. Lets saya, jika ada – anggap saja – gojek yang menjadi incubatee di BI ini, maka kami mendapatkan saham 2-8% dari saham gojek sekarang yang valuasinya sudah melebihi 1 triliun. Jika 8% adalah saham BI kami, maka valuasinya ada 80 miliar rupiah. Terlalu banyak uang ini bisa diapakai untuk mendanai 1.000 incubatee baru.

Saya sangat inferior terhadap ide dan mengeksekusi ide ini. saya tidak punya background sedikitpun tentang bisnis inkubator atau bisnis akselerator. Setau saya, saya hanya pernah mengikuti sosial bisnis inkubator yang diadakan oleh ASHOKA Indoensia di tahun 2013. Dan itu tidak bisa juga di bilang sebagai inkubator, karena hanya berlangsung 5 hari.

Tapi bodoh amatlah ya, saya tau hanya ini yang saya ingin lakukan. Saya tidak ingin berbisnis lain daripada ini. karena saya seperti dibilang diatas, ini semua menjadi masuk akal terhadap kesukaan saya yang saya tulis diatas. Perfect combination.

Dengan mendirikan bisnis inkubator ini, saya ingin menjadikan Indonesia menjadi negara yang memiliki ekosistem startup yang terus bertumbuh. Tidak salah jika mengatakan ide ini terlalu besar bagi saya. Toh, tak apa toh bermimpi jika masuk akal. Masuk akal karena sudah ada yang membuatnya. Di amerika ada Y Combinator, 500 Startup, TechStar, dan Indonesia ada beberapa. So, saya nothing to loose saja. 4 tahun yang akan saya targetkan agar BI ini bisa merger atau akuisisi dengan BI yang lebih memiliki capital dan resources yang lebih besar minimal 4 kali lebih besar dari BI kami saat itu. Toh, jika semua BI ini gagal dalam 4 tahun, tidak apa-apa saya masih muda, masih memiliki peluang banyak, saya tidak jatuh miskin sampai masuk penjara (semoga). Kegagalan hanya fase bagi saya saat ini. ini hanya sebuah kata yang saya takuti dari dulu, tapi entah kenapa karena sering membaca buku, menonton film tentang bisnis, saya berpikir kegagalan adalah hal yang lumrah. Kegagalan adalah koreksi, sebuah checkpoint, ke arah step yang lebih baik bagi diri saya.

Yang selalu jadi pikiran saya adalah, apakah saya sanggup mewujudkanya. Bukan bermaksud meremehkan diri sendiri, saya tahu ini akan bekerja, tapi saya adalah orang yang selalu berada dalam state keraguan setiap saat. Saya tidak pede, tapi saya harus mempedekan diri. Karena harus mempedekan diri (belajar), karena jika satu hal yang saya lakukan setiap pagi dan bertanya ke cermin dengan pertanyaan “apa yang saya lakukan satu hal saja hari ini”, maka saya akan bilang membesarkan BI ini. jadi sudah take it for granted, saya akan mewujudkan BI ini. yang jadi masalah adalah founder dilemma pertanyaan, what the hell I am doing right now? Mungkin kita semua pernah melakukan ini bukan? Entahlah.

Saya merasa excited dan di sisi lain saya takut sampe ubun-ubun. 2020 adalah waktu yang lama untuk melihat semua ini berhasil. Semoga saja berhasil, atau saya akan menghabiskan waktu 4 tahun dengan sia-sia.

Perlukah Exit Strategy dalam Bisnis?

image

Dalam mendirikan suatu bisnis diperlukan exit strategy.  Exit strategy tidak mengenal apakah itu usaha mikro, kecil, dan menengah. Apabila kamu jualan kaki lima atau bahkan cuma jualan es batu di pasar tradisional, kamu butuh exit strategy. Apakah dalam 20 tahun kedepan kamu tetap ingin menjadi pebisnis di level yang sama? Tetap menjual batu es di pasar yang sama dengan kuantitas yang sama seperti 20 tahun silam. Tentu tidak.

Exit strategy adalah cara sebuah perusahaan melakukan transisi dari perusahaan inti ke perusahaan lainnya. Penerapan dalam exit strategy biasa dikenal dengan cara merger (bergabung dengan bisnis lain), akuisisi (dibeli oleh bisnis lain) atau IPO (perusahaan publik di bursa saham). Untuk bisnis mikro yang ingin menerapkan exit strategynya, maka dia harus transisi ke usaha kecil, lalu ke menengah, lalu terapkan target IPO, merger atau akuisisi.

Exit strategy akan membuat bisnismu terus on the tract. On the tract adalah berada dijalan yang idealnya. Jika kamu tidak on the track maka kamu akan out of the track (di luar jalur ideal). Jika kamu out of track maka kamu akan lama untuk mentransisikan bisnimu. Jika lama untuk transisi, ancaman yang terjadi adalah berkurangnya inovasi bisnismu dan ancaman pesaing usaha yang lebih inovatif dan modal besar.

Bisnis yg baik tahu kapan waktunya sukses (baca:exit). Let’s say kamu jualan batu es tadi, apakah kamu tahu kapan waktu usahamu pensiun? Apakah usahamu join dengan bisnis lain, dibeli bisnismu, atau kamu jadi perusahaan publik di bursa saham? Jika kamu pesimis membacanya, maka kamu tidak cocok jadi seorang entrepreneur. Dalam dunia entrepreneur, everything is possible.

Dengan adanya exit strategy kamu juga akan tahu dimana, kapan dan apa-apa saja indikasi garis kemenangan atau akhir bisnismu. Tidak setiap pelari mengharapkan ketiadaan garis finish. Sama. Tidak setiap pebisnis mengharapkan ketiadaan garis finish. Garis finish adalah exit strategy. Sebuah garis pencapaian. Sebuah momen evaluasi. Sebuah transisi naik level. Garis finish juga ditandai dengan puncak kesuksesanmu di podium.

Hanya pengusaha terombang-ambing yang tidak punya exit strategy. Karena pengusaha yang tidak memiliki exit strategy ibarat seorang lelaki yang tidak mau melamar-lamar ke orang tua si gadis. Dan si gadispun akan merasa digantungkan berlarut-larut tanpa ada kepastian dari si lelaki. Jika kamu memang lelaki yang baik dan serius, maka exit strategy kamu adalah melamar. Karena kamu tahu jelas goal dan garis finishmu. Jika kamu pebisnis maka kamu akan serius dan bersungguh-sungguh saat kamu punya exit strateginya.

Exit strategy ibarat sebuah mimpi bagi seorang pebisnis. Jangan remehkan mimpi itu, walaupun usahamu hanya bermodalkan 200ribu rupiah sekarang. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang melarangmu untuk menjadi pebisnis dengan exit strategy dengan terdaftar di bursa saham. Tidak ada.

Semakin kamu tahu exit strategymu, semakin kamu berjalan ke arah mimpimu, dan semakin cepat pula kesuksesan usahamu itu terwujudkan…

#JanganKasihKendor
@HendrikoFirman

Hindari Penjara Pikiran dengan 70% Mind Boosting

image

Pernahkah kamu berpikir:

“Saya bukan siapa-siapa pasti saya akan jadi orang biasa-biasa saja”
“Saya sudah kerja keras tapi saya tidak sukses-sukses juga”
“Saya sekolahnya tidak tinggi, tidak pintar dan tidak di sekolah favorit pula”
“Target saya? Yang benar saja, mana mungkin tercapai”

Apa kamu pernah terlintas berpikir seperti demikian. Jika iya, maka kalian telah TERPENJARA dengan pemikiran kalian.

Saat pikiran kita terpenjara oleh apa yang kita percayai, maka ia benar-benar akan TERJADI! Kun fayakun. Seperti Henry Ford bilang, “jika Anda berpikir Anda bisa, maka Anda benar. Jika Anda berpikir Anda tidak bisa, ya Anda juga benar.

Jika apa yang kamu percayai adalah positif, maka beruntunglah kamu. Jika apa yang kamu percayai adalah negatif, hati-hatilah, saran kami, CEPAT UBAH!

Penelitian menunjukkan, bahwa orang memandang kamu lebih hebat 35% dari apa yang kamu percayai.

Penelitian juga menunjukkan, bahwa manusia hanya memanfaatkan 5% dari seluruh potensi yang ia punya. Sangat sia-sia, bukan?

Mulai dari sekarang, pandanglah dirimu 70% dari apa yang kamu bisa sebelumnya. Kenapa 70%, karena faktanya manusia berpikir pesimis dan lalu menurunkan standar normal mereka hingga turun menjadi ke 70%.

Kami contohkan. Jika kamu disuruh mengerjakan tugas anggap saja presentasi klien besar, maka kamu akan butuh waktu normal kurang lebih 3-5 jam. Tapi jika kamu disuruh mengerjakannya kurang dari 3 jam, dengan catatan sebuah pistol ditodongkan ke kepalamu, maka kamu akan menyelesaikannya kurang dari 3 jam.

Kenapa bisa begitu. Kuncinya ada di pembedanya. Pembedanya cuma satu saja, yaitu: AURA FOKUS!

Di kondisi pertama kamu tidak memiliki aura fokus. Sehingga bisa memakan waktu 3-5 jam. Di kondisi kedua, kamu memiliki aura fokus. Sehingga bisa menyelesaikannya dengan menghemat waktu sampai 70%.

Fokus adalah 35% lebih itu. Fokus adalah kemampuan otak lebih dari 5% itu. Fisikawan dan penemu-penemu ternama telah mengetahui rahasia ini dan selama berabad-abad mereka memakainya sehingga bisa menemukan penemuan-penemuan hebat.

Jadi jika kamu berpikir kamu bisa, maka itu sebenarnya penanaman aura fokus dalam otak-hati-egomu.

Jadi, jika kamu punya deadline bisnis, maka percepat waktunya 70%. Jika kamu ingin mengejar tujuan besarmu, maka percepat waktunya sebanyak 70%. Jika sebelumnya butuh 10 tahun, maka itu bisa diwujudkan dalam 3 tahun. Jika itu 3 tahun, maka itu bisa dicapai dalam 12 bulan. Karena percayalah, MANUSIA LEBIH MAMPU DARI APA YANG MEREKA BAYANGKAN!

〰〰〰〰〰〰
Hendriko Firman
Business & Social entrepreneurship enthusiast

Abis Baca Business Model Generation

Ini kovernya

 

Hari in gue kelar baca buku yang fundamental banget buat para pelaku startup. Jadi kalo elu tau apa itu bisnis model canvas nah itu sama. Penulis buku ini yaitu si Alex (pake “si” biar dikata akrab). Nah si Alex bikin ini buku benar-benar bagus men. Kenapa gak ya, dia membuat sebuah buku yang full gambar, pola, art banget lah. Jadi dia bikin buku yang bisa mudah masuk ke otak gue. Seluruh model bisnis yang bikin otak keriting dari blue ocean strategy, multi platform, long tail ampe freemium (monetasinya) enteng banget di jelasin ama gambar-gambar. Gue demen ama buku yang begini, dia ngejelasin gimana pola bisnis, desain bisnis, (dua lagi lupa).

Yang asik dari tulisannya itu ya, gak ribet dan komprehensif banget. Gue yang pernah belajar kuliahnya Steve Blank di Udacity aja tentang costumer development aja ampe 8 kali kagak ngeh, nah dia di buku ini penuh dengan gambar bikin gue paham, kenapa bisnis model canvas ini benar-benar applicable kalo lu praktekkan di bisnis elu. Gara-gara ini bukulah katanya lahirnya penerus bukunya yang lebih yahud lagi yaitu dari Eric Ries yang judulnya Lean Startup.

So far ye, buku ini emang harus wajib di baca seluruh pelaku usaha biasa – startup, semua orang juga bisa. Kalo elu pengen achieve sesuatu lu pake deh ini bisnis model canvas, karena dengan metode ini apa yang kita pengen bener-bener kita organize dan telanjang untuk mencek progess apa yang kita inginkan.

Yang nulis bukunya si Alex Osterwalder (background S2 ilmu politik & Ph.D Management Information System)

Bagi gue buku ini masterchef ya, alias mastermind (lu bingung gua ngomong apa? Sama).  Jadi alkisah kalo gue tertarik bisnis dari awal tahun 2009, kalo bisa gue udah baca buku ini men. Gimana enggak, seluruh hipotesa bisnis, visi bisnis, executing bisnis ya disini semuanya, yahhh 50% lah ya. Kalo tau dari dulu dan baca buku ini mungkin gue kali ya yang invented linkedin, berniaga, lazada. Tapi apa daya zaman segitu bukunya belum ada karena baru terbit 2010.
So…menurut gue yang udah baca tjakep banget udah baca tapi yang belum baca mending baca daripada nyesel kek gue. :)

ARAH, GEJALA DAN PERSPEKTIF MAHASISWA INDONESIA HARI INI

image

Oleh: HENDRIKO FIRMAN (Ditulis untuk Esai Sayembara Penulisan Esai Mahasiswa Tahun 2012)

  

Berikan aku 10 pemuda dan akan ku goncangkan dunia.

(Ir. Soekarno)

 

            Indonesia masa depan akan ditentukan oleh pemuda-pemuda yang berkarakter dan tercerahkan pada hari ini. Apabila generasi saat ini masih mengikuti arah dan perspektif tipikal mahasiswa dulu, yang  notabene adalah para pemimpin sekarang. Maka kita tidak ubahnya negara yang masih sama di 20-50 tahun kedepan, yaitu tetap sebagai negara yang di cap maling, over birokratis, negara dunia ketiga dan selalu diremehkan.

            Arah, gejala dan perspektif mahasiswa hari ini menentukan bagaimana posisi Indonesia di 20 sampai 50 tahun kedepan. Karena, mahasiswa hari ini adalah para policy maker di masa depan. Dan tulisan ini, ingin mencoba melihat Indonesia di masa depan melalui beberapa indikator-indikator, seperti arah, gejala dan perspektif mahasiswa hari ini di Indonesia.

Mahasiswa Dulu

            Di Indonesia ada anggapan umum bahwa ada 4 sampai 5 angkatan mahasiswa yang membentuk sejarah negara ini. Ada angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998. Akan tetapi dari semua angkatan ini, yang bisa mengubah struktur politik dan apolitik Indonesia pada saat itu yaitu angkatan 1928, 1966 dan 1998. Walau masih debatable, angkatan-angakatan inilah yang memiliki arah, gejala dan perspektif yang kontras dibandingkan angkatan-angkatan mahasiswa lainnya

            Mari mulai dengan angkatan 1928. Mahasiswa angkatan ini lahir dari kondisi Indonesia yang dipenuhi dengan sabotase, pelarangan, dan iklim politik dunia yang sangat fluktuatif dari kolonialisme Belanda. Di tahun-tahun inilah terlihat sebuah kematangan (maturates) mahasiswa Indonesia pertama kali. Mahasiswa dan pemuda yang bersekolah di sistem kolonialisme menggalang sumpah pemuda dan terbentuklah jong-jong (Belanda: pemuda) yang merepresentasikan wadah mahasiswa untuk beraktifitas. Di tahun ini mahasiswa dipaksa untuk bergerak, disebabkan oleh kondisi zaman (zeitgeist) yang memaksa mereka untuk melakukan sesuatu untuk memajukan bangsanya. Dan mau tidak mau dari kuantitas yang kecil ini timbullah pergerakan yang masif, karena mahasiswa pada saat itu merasa mereka sudah cukup matang berdialektika dengan para penjajah. Disamping keterpaksaan tersebut elitisme juga muncul dikarenakan timbulnya strata sosial baru yang disebut kaum terpelajar. Dan hal inilah yang membuat corak mahasiswa pada saat itu begitu berkarakter.

            Di tahun 1966, mahasiswa dipaksa untuk ikut dalam euforia rezim demokrasi terpimpinnya Soekarno. Politik adalah panglima negara! Dimana-mana semua orang berbicara politik dengan berahi. Dan tentu saja mahasiswa adalah kelompok yang empuk untuk mensukseskan iklim politik tersebut. Catatan harian Ahmad Wahid dan Soe Hok Gie adalah salah satu contoh bagaimana keras dan menjamurnya aktivitas politik mahasiswa pada zaman itu. Di sisi lain manifesto NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) adalah mata uang untuk diperbincangkan pada saat itu, dan otomatis, mahasiswa pada saat itu, kaki kanannya berada di ladang intelektuil (akademis), dan kaki kirinya di ladang politik praktis. Sehingga bisa dikatakan arah, gejala dan perspektif mahasiswa angkatan 66’ tak lain disebabkan oleh presiden yang megalomania, komunis yang merebak (versi mereka dengan 50 juta pengikut), dan politik praktis yang mulai politician style dan bukan sebagai negarawan (statesman style) seperti pada generasi pra-kemerdekaan dulu.

            Sebaliknya, mahasiswa angkatan tahun 1998 menjadi mati gaya. Soeharto dengan rezim diktatoriatnya menghancurkan segala praktek-praktek politik dan kritik pada negara ini. Ekonomi adalah panglima negara! Negara di kendalikan baik dalam kondisi alam sadar (conscious) maupun alam bawah sadar (subconscious), bahkan Taufik Abdullah mengatakan era itu sebagai greedy state (negara serakah), karena praktek penetrasi pemerintah untuk mengontrol rakyat baik dari segi kongkret (aktivitas politik) maupun segi abstrak (memori kolektif). Sehingga kran-kran untuk berdemokrasi nyaris tidak ada, dan pemilu hanya bersifat simbolis.

Mahasiswa angkatan 1988 adalah mahasiswa yang lahir dari perspektif ini, dan sehingga walaupun merasakan euforia demokrasi dan mencoba untuk serius bernegara, akan tetapi angkatan ini juga pupus (tetap cacat) tetap tidak bisa melanjutkan demokrasi normatif, karena alam bawah sadar mereka seperti diutarakan diatas tetap berkarakterkan orde baru (rezim dengan kebocoran APBN 30% tiap tahun).

            Bisa dikatakan ketiga angkatan-angkatan ini memiliki corak tersendiri, arah tersendiri dan gejala sendiri. Melihat pola dan zeitgeist mahasiswa masa itu kita bisa memberikan asumsi dasar akan betapa optimisnya kita pada bangsa ini atau pesimisnya kita pada negara ini. Dan dari ketiga angkatan ini jelas, arah, gejala dan perspektif mahasiswa menentukan jalannya negara tersebut dikemudian hari. Dan menariknya hari ini, mahasiswa Indonesia diubah bukan oleh internal lagi (seperti angkatan atau kondisi politik pada masa itu) tapi diubah oleh kondisi-kondisi eksternal.

Mahasiswa Sekarang

Modus mahasiswa sebagai ladang eksistensi, berlimpahnya jumlah mahasiswa (dengan berserakkannya beasiswa), serta peran dunia Informasi dan Teknologi (IT) membuat mahasiswa hari ini, masuk kedalam arah, gejala dan perspektif yang berbeda.

Mahasiswa hari ini bukan hasil produk dari mahasiswa-mahasiswa dulu lagi, akan tetapi pabrik dari diri mereka sendiri. Dan apa yang membuat mahasiswa sekarang begitu berbeda dengan angkatan terdahulu? Yaitu: The iGeneration. New York Magazine-lah yang mempopulerkan julukan tersebut. The iGeneration adalah generasi melek informasi dan teknologi. Dimana bersentuhan (keep in touch) dengan dunia maya setara dengan azas hak untuk hidup (the right to life). Dan mahasiswa Indonesia hari ini pun tidak bisa tidak, telah mulai dicap masuk kedalam generasi ini. Social network seperti Facebook (marak 2009) dan Twitter (marak 2011) membuat arah gejala dan perspektif mahasiswa hari ini sangat kontras, sehingga mereka menjadi pribadi utuh dari diri mereka sendiri yang membedakan  generasi angkatan mahasiswa ini dengan angkatan-angkatan lain.

Mahasiswa hari ini tidak terpengaruh oleh dunia politik yang penuh kedustaan dan penuh pencitraan, karena mereka tahu, kondisi sebenarnya dari negara ini berada di dunia maya, dan dari media inilah mahasiswa hari ini mengambil keputusan, dan akhirnya membentuk karakter mereka sebagai agent of change. Mereka tidak percaya lagi dengan politisi di TV, koran, radio maupun majalah, mereka percaya pada sesuatu diluar sana yang dikenal sebagai netizen, milis, social media, messenger,  dan forum diskusi online. Inilah yang membedakan mahasiswa hari ini dan mahasiswa dulu, yaitu aksesbilitas informasi independen, objektif dan tanpa tendensi yang dikenal dengan nama internet.

Arah Mahasiswa Saat Ini

Dengan tipikalnya sendiri melalui internet yang melahirkan The iGeneration tadi, mahasiswa hari ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang tidak perlu dihantui oleh rezim penjajah (angkatan 1928), rezim megalomania (angkatan 1966), dan rezim diktator (angkatan 1998). Hari ini mahasiswa disusupi oleh semangat perubahan dengan tak terbatasnya perihal inspirasi, motivasi dan berbagi (salah satu unsur positif IT) yang direspon sangat agresif oleh pemuda/mahasiswa Indonesia.

Arah mahasiswa hari ini menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi untuk melahirkan para calon-calon pemimpin dunia (next world leader). Dimana, kita berbicara tentang pemimpin yang menginspirasi seperti Ahmadinejaad, Muhammad Yunus, Mahatmha Gandhi, sekjen PBB, dan hal sejenisnya, yang jelas dalam term ini bukan sebagai pemimpin mediokritas. Hal ini disebabkan karena murahnya akses dan konektivitas ke seluruh negara. Mahasiswa Indonesia hari ini bisa mengikuti forum-forum dunia tingkat internasional – yang sebelumnya langka dan mahal – yang dari sana para mahasiswa Indonesia bisa melihat contoh kongkret tipikal calon pemimpin dunia saat ini. Disamping semakin banyaknya mahasiswa Indonesia yang diterima di sekolah top seperti di ivy league atau Cambridge dan Oxford, mahasiswa yang bersekolah disana, mereka  juga terlibat aktif dalam dewan mahasiswa dikampusnya tersebut.

Arah mahasiswa Indonesia ini juga menunjukkan mereka akan melakukan sinkronisasi (synchronize) dengan SDM mahasiswa luar. Gap kebodohan, kesenjangan fasilitas dan sistem pendidikan yang korup membuat mahasiswa Indonesia hari ini siap untuk berkompetensi dengan mahasiswa luar negeri. Hal ini disebabkan oleh internet dan keberpartisipasian di forum internasional tadi. Sebagai contoh kecil, salah satu congress pemuda terbesar di dunia World Youth Congress 2012 di Rio Jenairo Brazil pada Juli nanti, diikuti oleh participant terbanyak nomor 1 Amerika Serikat, dan participant terbanyak kedua yaitu Indonesia. Ini hanya salah satu contoh forum dunia dimana mahasiswa Indonesia mulai menunjukkan kelasnya setara dengan pemuda dan mahasiswa lainnya di negara-negara maju.

Arah selanjutnya dari mahasiswa hari ini adalah penggiringan mahasiswa ini secara besar-besaran untuk menjadi entrepreneur atau investor. Kenapa? Karena zeitgeist semakin digalakkan oleh pemerintah. Hasil dari advokasi kewirausahaan ini akan melahirkan entrepreneur dan investor tadi dengan kualifikasi sebagai berikut: mahasiswa Trial and Error (gagal coba lagi), dimana mahasiswa ini akan jatuh bangun dalam menjalankan bisnis dengan less capital company-nya. Mahasiswa Big Boss (tuan besar), adalah mahasiswa yang telah memiliki profit usaha yang settle dan stabil. Dan sebagai investor yaitu mahasiswa CEO, ini adalah mahasiswa yang menemukan sesuatu (inventing) dan menjalankan bisnis dengan sistem, strategi taktis yang profesional, yang akan membangun kerajaan bisnis dengan omset miliaran rupiah dan ratusan sampai ribuan tenaga kerja.

Indonesia di 20 sampai 50 tahun kedepan adalah negara dengan banyak muncul calon pemimpin dunia (the next world leader): para CEO dan entrepreneur. Arah mahasiswa hari ini sangat kuat sekali untuk mewujudkan hal tersebut.

Gejala Mahasiswa Hari ini

            Arah mahasiswa tersebut bisa dilihat dari gejala mahasiswa hari ini yang sangat berkarakter sekali, ini ditandai dengan berkurangnya aktivis fighter atau aktivis jalanan yang pada era 60-90an menjadi tipikal mahasiswa yang vokal. Sekarang mahasiswa Indonesia lebih cerdas dan bisa memetik pelajaran dari aktivis pada generasi sebelum mereka. Aktivis mahasiswa hari ini percaya sistem harus dilawan dengan sistem, dan kegiatan turun langsung ke jalan (demo) bukanlah sebuah sistem. Hari ini, dengan jiwa patriot dan semangat perubahan, para mahasiswa ini masuk kedalam sistem dan mencoba memperbaiki sistem itu. Mereka merasa aktivis jalanan juga penting untuk sarana pemberitahuan publik. Akan tetapi dari skala prioritas gejala mahasiswa hari ini mereka lebih memilih menjadi aktivis jalanan yang “partisipatif”. Sebagai contoh, mereka menjadi guru untuk kegiatan pendidikan di desa-desa terpencil selama 1 tahun untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia (program Indonesia Mengajar), menjadi aktivis membantu anak-anak jalanan dengan menciptakan komunitas nonprofit yang independen (komunitas Save Street Child), menjadi volunteer atau aktor untuk menciptakan generasi budaya baca (reading cultures) pada anak muda Indonesia (komunitas Books Reader), mengumpulkan buku untuk anak-anak di Aceh (program 1Man 1Book 4 Aceh), melakukan gerakan hidup ramah lingkungan dan gerakan hijau (organisasi Care Environmental Organization), menjadi aktor untuk menciptakan pemimpin muda Indonesia di masa depan (program Indonesian Future Leaders yang digagas oleh mahasiswa S1 tahun ke-2 yang telah memiliki 4000 lebih anggota), dan ratusan contoh komunitas nonprofit, organisasi, voluntarisme mahasiswa/pemuda lainnya yang menjadi antitesis demo di jalan-jalan.

            Gejala berikutnya yang menyebabkan perubahan besar di Indonesia di 20-50 tahun kedepan yaitu berseraknnya wadah untuk berpartisipasi (komunitas, lembaga, organisasi, dll), skeptisnya mahasiswa hari ini terhadap partai politik, semakin cepatnya pemahaman anak muda sekarang khususnya mahasiswa untuk menguasai bahasa Inggris, dan terakhir semakin banyaknya apresiasi dan fasilitas mahasiswa hari ini untuk terus melakukan perubahan dan berkontribusi.

            Berserakannya wadah seperti forum-forum mahasiswa akan membuat interaksi dan transfer wawasan akan semakin cepat. Tercatat semakin banyaknya forum/summit/conference yang mengajak para mahasiswa untuk lebih aktif dan berkontribusi. Salah satu contoh kongkret yaitu Forum Indonesia Muda (FIM), forum ini adalah salah satu forum independen yang menjaring secara selektif mahasiswa berkualitas untuk dikarantina/brainstorming untuk memiliki semangat nasionalisme dengan menguatkan kepada 7 pilar kepemimpinannya. Forum ini telah memiliki 11 angkatan yang diselenggarakan awal tahun 2000. Alumni forum ini adalah SDM-SDM yang menjadi presiden BEM di kampusnya, change maker di lingkungannya, dan sederet prestasi simbolis lainnya, dimana mahasiswa ini telah memiliki prestasi di tingkat nasional dan internasional. Yang lainnya yaitu Young Leader Summit (YLS), Indonesia Change Maker (ICM), Indonesia Youth Conference (IYC), Young On Top (YOT), Young Leader for Indonesia (YLI), ASEANpreneurs, Future Leader Summit (FLS), dan puluhan lainnya. Forum mahasiswa ini adalah forum prestisius modern yang menjaring mahasiswa terbaik dan memiliki karakter positif di kelas dan bidangnya masing-masing guna menciptakan perubahan positif yang massif dengan goal-nya masing-masing. Misal FIM lebih ke nasionalisme dengan 7 pilar kepemimpinannya, YLS ke penyampaian pesan perdamaian global, ASEANpreneurs ke hal-hal kewirausahaan, dll.

            Gejala terakhir adalah semakin bertambahnya fasilitas dan apresiasi untuk berkontribusi sebagai aktivis partisipatif. Hibah (grant) untuk ide bisnis adalah salah satunya, Bank-bank sekelas Mandiri, BNI, Bank Dunia dll mencoba untuk mem-boosting mahasiswa untuk terjun di bidang entrepreneurship. Penghargaan, award, dan hibah pun juga diberikan dibidang sosial entrepreneur. Young Changemaker ASHOKA salah satunya, tiap tahun yayasan ini memberikan apresiasi kepada komunitas humanis, sosial, dan pendidikan yang telah melakukan perubahan di sekitarnya. Dan yayasan ini memberikan 20 penghargaan kepada komunitas terbaik tiap tahunnya dengan reward materi dan immaterial.

Perspektif Mahasiswa Hari ini        

            Tindakan dan aksi mahasiswa hari ini telah diuraikan di penjelasan arah dan gejala. Hal ini dikategorikan sebagai concrete matter. Lalu bagaimana dengan abstract matter, seperti mindset, paradigma, frames atau perspektif mahasiswa hari ini? Ada 2 hal yang bisa dilihat jikalau kita terlibat langsung dalam aksi mahasiswa hari ini. Pertama, perspektif global minded, dan kedua berkurangnya kadar perspektif chauvinisme (separatisme movement) yang terlihat cukup menonjol hari ini.

            Dengan terjadinya penetrasi The iGeneration tadi ke Indonesia, maka tidak bisa dipungkiri lagi global minded (pemikiran untuk berglobalisasi) telah mulai dirasakan secara tidak langsung oleh mahasiswa hari ini. Banyak mereka yang sekarang connected dengan mahasiswa asing untuk bisa menyamakan ide, melakukan sesuatu dan menciptakan perubahan. Misalnya mahasiswa hari ini tidak segan untuk menggalang dukungan untuk palestina, tsunami Jepang, menjadi relawan di jalur gaza, relawan medis di Somalia, sampai yang paling ekstrim menjadi tentara jihad di Filipina. Ini adalah bukti mereka terkonek (connected) walaupun tidak pernah merasakan penderitaan di kawasan lain. Sehingga empati, simpati dan rasa untuk menolong telah terpateri dalam jiwa anak muda dan mahasiswa hari ini.

            Perspektif selanjutnya yang cukup menonjol adalah berkurangnya sense chauvinisme dari mahasiswa ini hari ini. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, akan tetapi salah satu faktor, disebabkan oleh stabilnya objektivitas mahasiswa ini terhadap negaranya karena mereka telah merasakan zaman yang tidak lagi konservatif. Prasangka-prasangka buruk semakin teredusir. Sekarang generasi Facebook dan social network, mahasiswa dan anak muda disusupi secara tidak langsung untuk mengharamkan separatisme atau chauvinism. Judge publik serasa lebih kuat, sehingga indikasi-indikasi untuk melakukan gerakan separatisme ini langsung diserang/ditekan/dijudge habis-habisan oleh komunitas di dunia maya. Yang menyebabkan chauvinism lebih terarah kepada mitos ketimbang realitas yang diterima hari ini. Memang masih ada tindakan chauvinisme yang merujuk kepada separatisme, akan tetapi angkanya menurun, hal ini ditandai dengan berkurangnya organisasi-organisasi bawah tanah yang memiliki afiliasi kepada tindakan separatis. Dimana sekarang tindakan dan fakta sosial chauvinisme atau ultra chauvinisme menjadi non popular dan ketinggalan jaman.

Kesimpulan

            Optimisme adalah kata yang menunjukkan karakter arah, gejala dan perspektif mahasiswa Indonesia saat ini. Optimisme membuat generasi mahasiswa ini menjadi kontras dengan angkatan-angaktan mahasiswa lainnya. Mahasiswa Indonesia hari ini ibaratnya akan menambal jalan yang berlubang dengan swadaya mereka disamping melakukan aksi advokasi dijalanan, mahasiswa hari ini akan menambal, menambah, menyempurnakan, menyuntikkan, mengisi dan memeriahkan tiap-tiap hal yang berhubungan dengan perubahan positif bagi negara dan bangsanya. Mereka mempertanyakan, tapi juga menjadi agent of change itu sendiri, mereka mempertanyakan tapi juga masuk dan memperbaiki sistem itu sendiri.

Mahasiswa hari ini menjadi anak yang entah berantah yang tidak memiliki DNA yang sama dengan senior-senior mahasiswa mereka yang sekarang yang telah mendustai amanat zeitgeist nya  pada masa itu.  Tak lain tak bukan, arah, gejala dan perspektif mahasiswa Indonesia hari ini telah memberikan kita secercah – yang tanpa paksaan – harapan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih kuat, mandiri, dan dipandang di mata dunia.

Terlepas dari pernyataan-pernyataan pesimis lainnya di luar sana, jelas, jikalau kita telah terlibat aktif, masuk, berpartisipatif dan merasakan zeitgeist mahasiswa hari ini, dan mengetahui tindak-tanduk mahasiswa angkatan dulu. Maka kita akan optimis melihat Indonesia di masa depan. Persis seperti yang dikatakan oleh Franklin D. Roosevelt: “we cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future” (kita tidak bisa terus membentuk masa depan untuk pemuda kita, tapi kita dapat membentuk pemuda untuk masa depan kita), dan mahasiswa kita, mahasiswa Indonesia, telah mulai membangun masa depan itu. Semoga.

*Hendriko Firman adalah mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, dan alumni Forum Indonesia Muda 11.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.