Critical Review: Penelitian konflik suku dalam masyarakat multi-budaya

Dalam tulisannya Timo Kivimäki menyajikan tinjauan umum tentang perkembangan terkini studi konflik suku dalam kaitan dengan upaya memilihara perdamaian di Indonesia.  Dalam tulisannya Timo memusatkan perhatiannya pada 6 pokok bahasan:

1. Arah perkembangan konflik suku saat ini;

2. Akar penyebab konflik;

3. Suku dan konflik;

4. Strategi untuk mengatasi dan mencegah konflik;

5. Kemiskinan dan konflik suku;

6. Mencegah konflik melalui pertukaran pikiran

Karena disini saya sebagai kritikus amatiran mencoba untuk menelaah sedikit bagaimana pemikiran dari Timo, dan apabila untuk jelasnya, apabila pembaca ingin melihat keseluruhan dari isi dari buku Timo ini, maka sangat sayang sekali apabila pembaca sudah membaca tulisan saya ini, tapi belum membaca keseluruhan dari ide-ide dari Timo ini. Jadi seperti yang saya singgung diatas maka tulisan ini adalah bersifat kritikal review.

ARAH PERKEMBANGAN KONFLIK SAAT INI

Dari apa yang dipaparkan oleh Timo dalam tulisannya ia mengatakan bahwa arah perkembangan konflik sekarang hadir karena banyaknya pihak luar melibatkan diri, memihak salah satu pihak dalam konflik. Adanya tentara swasta mutlinasional yangmendukung satu atau beberapa pihak semakin mengaburkan perbedaan antara perang saudara dengan perang antar Negaral konflik dalam perbedaan antara peang saudara dengan perang antar Negara. Konflik dalam Negara biasanya berbeda dampakanya dari satu wilayah ke wilayah yang lain negeri bersangkutan.

Seperti apa yang dipaparkan oleh Timo kecenderungan yang terjadi adalah banyaknnya masuk intervensi asing dalam daerah-daerah yang memiliki status quo yang lemah dalam mengontrol stabilitas local, dan kenyataannya memang begitu, apalagi daerah itu ditambah dengan banyaknya memiliki potensi SDA yang banyak untuk dieksplor.

Berkaca kepada Indonesia, Timo menyebutkan setelah runtuhnya Uni Soviet maka banyaknya muncul unsur-unsur nasionalisme dan demokrasi dengan aspirasi-aspirasi politiknya dari kawasan-kawasan pecahan Uni Soviet,  begitu pula dengan indonesiea, maka selepas adanya euphoria reromasi setelah lengesernya Soeharto ke Prabon, maka dengan tiba-tiba aspirasi politik dan nasionalisme muncul. Sementara kudeta yang berhasil, revolusi, atau perubahan pemerintahan di Negara sosialis hamper selalu membawa pemerintahan yang pro barat ke tampuk kekuasaan, namun tidak jarang kekuatan-kekuatan yang menggulingkan pemerintahan itu kemudian terpecah-belah tidak lama kemudian. Khususnya di Indonesia meminjam kata dari Timo hal ini di Indonesia menyebabkan adanya fragmentasi kehidupan politik, dan turut meneyebabkan kekerasan dan keruntuhan Negara.

AKAR PENYEBAB KONFLIK

Di sini disinggung oleh Timo sebab-sebab  perang, di satu sisi adanaya pemikiran menekankan motivasi dan kehidupan yang kurang sejahtera kekelompok yang mencetuskan konflik langsung, dan mencoba menjelaskan kekerasandari perspektif itu (model ‘ketimpangan kesejahteraan’ atau model ‘kecewa’).

Sebuah penelitian world bank dyang dilakukan oleh Paul Collier dan Anke Hoeffler (1998) menemukan bahwa konflik lebih banyak menyangkut ‘keserakahan’ daripada ‘rasatidak puas’: pihak-pihak yang terlibat dalam konflik lebih sering mengejar keuntungan ekonomi yang timbul dari situasi perekonomian yang kacau daripda memperbaiki status kelompoknya yang hidup kekurangan. Konflik kemungkinan bsar terjadi jika Negara terlalu lemah sehingga tidak berdaya mencegah pengerahan kekerasan atau menghentikan aparat keamanannya melakukan pemerasan ataupenganiiayaan. Dari sisi peluang, soal kesempatan untuk melanarkan protes tanpa kekerasan dan mengungkapkan rasa tidak puas juga relevan. Bukti empiris menunjukan bahwa memperbanyak saluran-saluran tanpa-kekerasan untuk mengadakan perubahan dapat mengurangi konflik dalam jumlah besar. Pencegahan konflik berdasarkan pemikiran ini menekankan pembangunan demokrasi, struktur lembaga-lembaga penyelesaian konflik, dan aparat keamanan yang professional dan transparan.

Ironisnya apa yang dianalisa oleh Timo benar-benar mengungkapkan realitas yang sebanarnya, dimana kebanyakan masyarakat menganggap hal itu sebagai realitas yang wajar dengan cara menjadi opurtunis dalam kekisruhan.

SUKU DAN KONFLIK

Mengutip kata-kata Rummel (1997), menurut Rummel, jumlah suku menjelaskan seperlima dari perbedeaan yang ditemukan di antara semua Negara yang dilanda kekerasan dahsyat seperti perang gerilya dan perang saudara.  Keberagaman suku ini juga sudah menjelaskan resmi bagi kekarasan di Indonesia. Namun kesimpulan ini didasarkan pada data konflik dari 1932-1982, data yang lebih baru cenderung menunjukan bahwa perlu ditambhakan beberapa catatan pada kesimpulan ini.

Memang banyak sekali studi-studi kasus seputar perang antar suku, seperti di Kalimantan, Papua, dan juga SARA seperti di Maluku.

Kalau melihat analisa dari Timo yang mengatakan bahwa hal yang paling memicu konflik adalah saat 2ekelompok suku turutama bersiang untuk merperoleh kekuasaan . masyarakat yang terdiri dari banyak suku yang sama-sama kuat cenderung, sama seperti halnya masyarakat bersuku tunggal, tidak mudah melancarkan perang.

STRATEGI UNTUK MELERAI & MENCEGAH KONFLIK

Dalam tulisannya Timo menjelaskan dalam peleraian dan pencegahan konflik; konflik tidak akan dapat dicegah atau dilerai bila pihak-pihak yang bersangkutan tidak memiliki tekad yang kuat untuk mengatasi potensi konflik atau konflik yang terjadi. Namun, pencegahan konflik dapat didukung dari laur. Ada 3 pendekatan pendukung:  pengelolaan konflik, penyelesaian perselisihan, dan trenformasi konflik.

Dalam pendekatan pengelolaan konflik, peluang-peluang untuk mencegah konflik kekerasan ditemukandlam pengelolaan perilaku konflik. Jika perilaku konflik dapt dimasukan ke dalam lingkup persaingan, konflik daapt diatasi malalui persaingan tanpa kekerasan.

Dalam bidang penyelesain perselisihan, telah dikembangkan berbagai teknik dan filsafat perundignan. Sebuha proyek yang berpengaruh dari International Institute of Applied Systems Analysis’s, ‘Processes Of International Negotiation,‘ menemukan sejumlah hal yang sama di antara berabgai persyaratan untuk mewujudkan penyelesaian perselisihan yang berhasil. Perudngingan berhasil biasanya tergantung pada adanya jalan buntu yang merugikan kedua belah pihak sehingga membuat situasi sudah masak untuk sebuah penyelesaina. Hasil-hasil ini menyangkut akar-akar penyebab konflik dan mencoba mengembangkan alat-alat penyelesaian perselisihan dan memerpabaiki mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perselisihan di masa datang.

Transformasi konflik, seperti tampak dari namanya Timo menjelaskan hal ini terkait pada struktur-struktur yang menimbulkan perselisihan dan menurunkan ambang kekerasan dalam hubungan antar keolompok. Pendekatan ini sangat cocok untuk dijadikan strategi mencegah konflik dengan menggunakan kerjasama pembagunan yang memenuhi syarat yang ditetapkan ODA sebagai alatnya. Kerja sama pembangunan sellau membawa dampak pada struktur ekonomi, dan juga sangat sering mengandung implikasi bagi konflik. Inilah sebabnya mengapa, misalnya, DAC dari OECD menekankan tranformasi sebagai salah satu strategi utama untuk mencegah konlik. Namun, tranformasi konflik tidak terbatas hanya pada penggunaan alat-alat kerjasmaa pembangunan semata-mata.

Dengan memberikan solusi seperti di atas, penyelesaian konflik yang sinergi dan berkutuniunitas adalah hal yang sangat paling dasar dalam membuat rekonsiliasi di suatu wilayah, namun yang menjadi pertanyaan tentunya, bagaimana Indonesia khusunya mencoba menjembatani antara pihak masyarakat pribumi yang khususnya masih bertindak intuisi terhadap kasus konflik ini, tentunya bukan bermaksud pesimis, tapi dari pengamatan saya justru konflik di setiap wilayah ndonesia masih ada malah ditambah larut-larutkan suhunya oleh elit, militer, sdan wasta untuk membuat sebuah hegemoni pribadi didalamnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

KEMISKINAN DAN KONFLIK SUKU

Kemiskinan adalah hal yang sangat krusial dalam membaut konflik baru, dimana kemungkinan eprang terjadi di antara Negara/wilayah terbelakan boleh dikatakan kecil dan paling tinggi di antara Negara/wilayah yang sudah agak berkembang, dan kemungkinan itu rendah sekali bial suatu Negara telah berkambang lebih jauh.

Pada waktu bersamaan, jika rakyat sejahtera, biaya mobilisasi sangatlah tinggi sehingga menghambat petualangan-petualangan dengan kekerasan. Dalam hal Indonesia, tampaknya banyak daerah miskin, seperti Papua dan sebelumnya Timor Timur, yang sedang berada pada tahap pembangunan yang paling rawan konflik. Jadi, pemberantasan kemiskinan di Indonesia tampaknya memiliki efek mencegah konflik, yang tidak terlalu menimbulkan kontroversi.

KESIMPULAN

Dengan melihat seluruh dari tulisan Timo ini, saya sangat apresiatif sekali, bahwa tulisan ini banyak mengemukakan seputar pencegahan konflik yang didasari pada bentuk objektivitas universal, bukan dalam ruang lingkup Eropa atau Barat, tapi ini menggunakan pendekatan studi kasus atau pengalaman yang dihimpun dari 120 konflik di setiap belahan dunia. Sehingga menurut saya tulisan Timo ini sangat pantas untuk membuka wawasan kita terhadap masalah etnisitas, agama, perang saudara yang telah menyudutkan masyarakat yang tidam memiliki kepentingan di dalamnya dan hanya menjadi pion dari ikut arus dalam masalah konflik ini.

Dengan melihat secara berurutan tema dan skema yang diberikan Timo, tentu masih ada banyak hal yang masih kurang, seperti masih kurangnya analitis yang komprehensif terhadap studi kasus, penggunaan apliasi penyelesaian yang lebih spesifik, dan tentunya adalah bagaimana bentuk kongkret dari penyelesain ini diluar kerangka akademis dan penyelesaian yang lebih bersifat partisipatif. Auf Wiedersehen!

Pemerintahan Nagari di Sumatara Barat

Pemerintahan Nagari Sumatra Barat

Oleh: Hendriko Firman**

P R O L O G

Asal tahu saja bahwa pemerintahan di Sumatera Barat lebih merdeka di dalam adatnya dimana setiap daerah punya wewenangnya sendiri untuk memerintah daerahnya sendiri, oleh karena itu titpikal dari pemerintahannya lebih menjurus kepada penyuluhan kepada masyarakatnya untuk mengajarkan sistem demokrasi yang lebih manusiawi pada masanya. Pemerintahan yang kita sebut itu yaitu lebih tepatnya dikatakan sebagai pemerintahan di negeri Minangkabau. Pemerintahan Minangkabau menggunakan sistem yang lebih berpusat kepada kebebasan individu yang lebih professional dalam artian tidak mengenal sistem feodalisme. Jadi setiap orang punya kesamaan derajat yang bisa didapatkan secara inklusif. Pemerintahan itu disebut adalah pemerintan Nagari.

Tapi pada pemerintahan Orde Baru yang bersifat sentralistik telah memasung suara hati nurani rakyat dan mematikan keragaman sosio kultural dan adat istiadat bangsa Indonesia. Desa dan Pemerintahan Desa berdasarkan UU No. 5/1979 telah kehilangan jati dirinya.

“Perubahan nagari ke desa dan kemudian kembali ke nagari bukan hanya sekadar perubahan nama, tetapi juga sistem, orientasi, dan filosofinya,” tandasnya. Mochtar Naim menjelaskan, antara nagari dan desa bukan hanya terdapat gambaran dikotomis, tetapi juga sekaligus polaristis dari dua sistem dengan dua kutub filosofi yang berbeda. Dengan nagari, dia adalah lambang mikrokosmik dari sebuah tatanan makrokosmik yang lebih luas. Dalam dirinya ada sistem yang memenuhi persyaratan dari sebuah “negara”.

Oleh karena itu, nagari juga adalah “negara” dalam artian miniatur. Dengan demikian, tidak salah jika ada yang menjuluki sistem tatanan tingkat nagari ini sebagai “republik-republik kecil” yang sifatnya self contained, otonom, dan mampu membenahi diri sendiri.

Setelah runtuhnya rezim Orde Baru, timbul sebuah eforia untuk mereformasi kembali birokrasi yang sudah terpenetrasi dengan KKN yang tidak bisa lagi untuk memberikan sebuah kemakmuran bagi rakyat. Di sisi lain pemerintah yang sudah digantikan dengan bentuk reformasi, yang banyak para pengamat politik mangatakan hanya berganti dengan baju luarnya saja, atau tidak secara menyeluruh berganti birokrasinya mulai meredamkan suasana daerah, yakni pada pemerintahan dibawah Presiden Habiebie ia mulai memberikan kelonggaran dengan menggodok RUU tantang otonomi daerah. Dan sehingga Pemerintah Reformasi harus menata ulang secara keseluruhan sistem pemerintahan, terutama Pemerintahan Daerah dan Pemerintahan Desa. UU No. 22/1999 adalah salah satu di antara kebijakan untuk menata kembali sistem Pemerintahan Daerah yang sekaligus juga membuka peluang bagi masyarakat desa untuk menentukan bentuk pemerintahan yang terendah sesuai dengan sosio kultural dan adat istiadat setempat.

Untuk itu maka setiap daerah mencoba kembali mencari inisiatif untuk mengembalikan pemerintahan yang benar-benar demokrasi. Maka Sumatera Barat tidak urung juga merombak pemerintahan dalam daerahnya setalah ditetapkannya UU tentag otonomi daerah pada tahun 1999, maka Sumatera Barat menggalakan kembali pemerintahan yang dulu pernah jaya di Minangkabau ini, yaitu pemerintahan Nagari. Yang ditetapkan pada Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 9 Tahun 2000 tentang Ketentuan Pokok-pokok Pemerintahan Nagari dan Peraturan Daerah Kabupaten se- Sumatera Barat.

Sejak dicanangkan pertama kali di Kabupaten Solok, 2 Januari 2001, kembalinya Sumbar ke sistem pemerintahan terendah bernama pemerintahan nagari betul-betul disambut seluruh elemen masyarakat secara antusias. Hingga Juni 2004, sudah 3 tahun 6 bulan, masyarakat Sumbar yang kini berpenduduk 4,2 juta hidup dalam nuansa bernagari.

Kepala Biro Pemerintahan Nagari Pemerintah Provinsi Sumbar Busra SH mengatakan, sampai sekarang seluruh kabupaten di Sumbar sudah kembali ke sistem pemerintahan nagari, menyusul keluarnya Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumbar Nomor 9 Tahun 2000 tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari, tanggal 16 Desember 2000.

P E M E R I N T A H A N N A G A R I

Nagari dahulunya merupakan suatu wilayah administratif. Pemerintah Nagari sekaligus menjadi wilayah hukum adat di Sumatera Barat. Pemerintahan Nagari tersebut bersifat otonom dan sangat demokratis. Tetapi selama lebih dari 17 tahun, pemerintahan nagari itu telah diganti menjadi pemerintahan desa yang bersifat sentralistik.
Dalam masa yang berlalu, itu persis sejak 1 Agustus 1983 diterapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang pemerintahan desa di Sumatera Barat. Sejak itu, Pemerintahan Nagari dihapus dari kamus pemerintah. Dengan perkataan lain, pemerintah tidak lagi mengakui adanya nagari. Padahal menurut penjelasan pasal 18 UUD 1945 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa ada 250 Zelbesturende Lanschappen dan Volksgemeenschappen di Indonesia seperti nagari di Minangkabau, dusun dan merga di Palembang dan desa di Jawa dan Bali. Semuanya itu harus dihormati hak asal-usulnya dan mempunyai hak-hak istimewa. UUD 1945 (konstitusi) mengakui keberadaan Nagari. Jadi di negara ini, Undang-Undang yang dibuat pemerintah dapat mengalahkannkonstitusiNnegara.

Nagari-nagari ini dahulunya tersebar di seluruh Konfederasi Minangkabau yang mencakup Sumatera Barat sekarang (kecuali Kepulauan Mentawai), sebagian Riau Daratan, sebagian Jambi, sebagian Bengkulu, Sumatera Utara bagian selatan dan Negeri Sembilan, Johor serta Selangor di Semenanjung Malaya. Bentuk-bentuk serupa nagari juga ditemui di daerah perantauan/koloni etnik Minang dalam skala besar seperti di Aceh Selatan dan Aceh Barat.

Jorong atau kampung yang dulunya merupakan bagian dari wilayah Pemerintahan Nagari diubah jadi Pemerintahan Desa untuk kabupaten dan kelurahan untuk kota. Jadi, wilayah administratif nagari diubah menjadi wilayah desa dan kelurahan seperti seperti halnya desa/kelurahan di Jawa.

Dahulu sebelum Belanda berkuasa, orang Minangkabau tidak mengenal pangkat-pangkat seperti Penghulu Kepala, Kepala Negeri (Gemeentehoofd), Tuanku Laras, Angku Demang, Asistent Demang, Angku Pakuih (Pakhuis) dan juga pangkat-pangkat yang hanya oleh dijabat orang-orang Belanda saja seperti Tuanku Mandua (Controleur), Tuan Luhak (Assistent Resident) dan lain-lain sebagainya. Orang Minangkabau “tempo doeloe” hanya mengenal dua pangkat saja, yaitu Penghulu dan Raja sesuai ungkapan “Luhak bapanghulu, rantau barajo”. Jadi Penghululah yang memerintah atau memimpin anakAbuahAdinagariAmasing-masing.
Setelah Minangkabau dikuasai oleh Belanda sepenuhnya, yakni setelah kaum Padri dikalahkan pada tahun 1837, dicobalah mengatur pemerintahan seperti model yang telah berlaku di Pulau Jawa, yaitu Regent-Regent yang disebut juga Regent-Stelsel. Saat itu di kawasan pesisir seperti Padang dan Indrapura sudah ada regentnya. Maka diangkatlah Regent-Regent baru untuk Tanah Data, Batipuh, Agam, Halaban, Sulik Aie danAlain-lainAsebagainya. Di jaman penjajahan Belanda, Nagari-Nagari di Sumatera Barat (Sumatra’s Westkust) diatur berdasarkan Ordonnantie Nagari No.677/1918 dan kemudian diperbaiki dengan “Inlandsche Gemeente Ordonnantie Buitengewesten 490/1938″ (Undang-Undang Pemerintahan Anak Nagari Tanah Seberang No.490 – tahun 1938) atau IGOB 490/1938. Waktu itu Pemerintahan Nagari terdiri dari Kerapatan Nagari yang dipimpin oleh seorang

Kepala Nagari.

Pangkat-pangkat Tuanku Laras, Penghulu Kepala, Kepala Nagari dan lain-lain itu, adalah pangkat baru yang sebelumnya tidak dikenal dalam Adat Minangkabau yang usali. Pangkat-pangkat tsb muncul setelah Pemerintah Belanda mengusai Minangkabau. Kekuasaan mereka (Penghulu Kepala atau pun Kepala Nagari) diakui anak nagari karena dukungan kekuasaan Pemerintah Belanda. Sedangkan tugas mereka tidak lain ialah menjalankan perintah atasan, yaitu menjalankan Undang-Undang yang ditetapkan oleh Pemerintah. Walaupun mereka dipilih di antara orang beradat di nagari (ninik mamak), mereka tidak lain dari alat kekuasaan (perkakas) Pemerintah.

***

D A F T A R K E P U S T A K A A N

___________________________________

Adrain, Benny. 1995. “Birokrasi di Sumatera Barat; Transisi dari Tradisional ke Modern (Suatu Tinjauan Sosiologi Politik)”. Skripsi. Universitas Andalas. Padang

Harian Umum Republika, 6 Desember 2004.

M. Rasjid Manggis Dt. Rajo Pangulu. Minangkabau Sejarah Ringkas dan Adatnya Sridharma, Padang, 1971.

Rusli Amran. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Sinat Harapan Jakarta. 1985.

Sjofjan Thalib, SH.; Prof. Dr. H. dkk. Studi Pelaksanaan Pemerintahan Nagari dan Efektifitasnya Dalam Pelaksanaan Pemerintahan di Sumatera Barat . Balitbang Propinsi Suamtera Barat, Padang, 2002.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat No. 9 Tahun 2000 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari.

Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat No. 2 tahun 2007 tentang pokok pokok pemerintahan nagari.

Buku: Salah Pilih

Judul Buku : Salah Pilih

Pengarang : N. S T. Iskandar

Penerbit : Balai Pustaka , 1928, Jakarta.

Novel Salah Pilih berceritakan tentang sepasang anak yaitu Asri dan Asnah, dimana mereka bersaudara sejak kecil, walaupun bersaudara tapi tidak bisa dikatakan besaudara kandung karena ibu Asri mengangkat Asnah sebagai anak angkat. Walaupun begitu mereka berdua masih memiliki hubungan darah.

Pada saat remaja Asri dan Asnah berpisah, Asri melanjutkan pendidikannya ke Betawi untuk melanjutkan sekolah. Asri bersekolah di MULO (setingkat SMP). Pada saat Asri dan Asnah telah beranjak dewasalah mereka berdua bertemu kembali. Mereka berdua yang telah lama tidak bertemu akhirmya menjadi akrab kembali. Tapi lambat-laun, kondisi mereka yang sebelumnya hanya sebatas persaudaraan saja, tapi saat beranjak dewasa hal itu berubah 180 derajat. Di dalam perasaan meraka masing-masing antara Asri dan Asnah timbul rasa saling berkasih-kasihan. Tapi karena mereka bukan berada pada beda suku, sehinggalah mereka tidak bisa menikah karena mereka sesuku dan satu kaum pula.

Akibat cinta yang tidak bisa dipertemukan ini, Asri menikah dengan seorang wanita bangsawan yang dimana keluarga mereka masih menggunakan dan mempertahankan adat lama.

Namun sayang pernikahan Asri dengan wanita bangsawan yang bernama yang bernanama Saniah itu tidak berjalan dengan semestinya. Mereka sering terjadi percekceokan. Dan pada akhirnya Saniah meninggal akibat kecelakaan karena ia ingin kabur dari Nagarinya. Saat dia kabur Saniah menggunakan mobil, dan mobil itu masuk ke jurang.

Pada akhirnya, Asri dan Asnah menikah dan karena hukum Minangkabau tidak membolehkan mereka untuk menikah, akhirnya dalam keadaan itu mereka pindah ke Jawa untuk memulai hidup baru. Tapi beda kondisi mereka di nagarinya, kehidupan di Jawa lebih membahagaiakan bagi mereka berdua.

Pada saat telah merasakan hidup yang indah dan tentram di Jawa, tiba-tiba datanglah kunjungan dari orang nagari yang berkunjung ke rumah Asri dan Asnah. Dalam kunjungan itu orang kampung mengatakan bahwa sebaiknya mereka berdua pindahlah ke kampung. Karena pada saat itu Asri telah menjadi orang terkenal akibat ke intelektualannya. Sehinggalah akhirnya mereka pindah ke kampung kembali, sesampai di kampung masyrakat Nagari menyambut mereka dengan meriah. Dalam keadaan seperti itu Asri mendapat jabatan penting dari masyrakat. Dan masyarakat pun mengharapkan bimbingan Asri.

Nur St. Iskandar adalah penulis yang pandai membawa pembacanya hanyut dalam emosi, disini ia menggunakan gaya bahasa yang baik walaupun pada dasarnya masih banyak kata-kata lama yang sudah sering tidak diperdengarkan lagi. Tapi akibat gaya bahasanya inilah penulis mendapatkan karakter dari tulisannya.

Menarik untuk dikaji adalah novel ini memberikan suatu gambaran sejarah masa lampau yang sangat baik. Dimana disini gambaran khusus dari novel ini juga ditunjukan seperti adat- istiadat dan kebiasaan-kebiasaan lampau pada masa itu .

Novel Salah Pilih sesuai namanya, sangat jelas memberikan suatu citra bahwa kejadian-kejadian yang kita alami khusunya para pembaca bisa mengkritisi dan lebih bijak mengambil sebuah keputusan. Sesuai dengan judulnya Salah Pilih memberikan sebab dan akibat apabila kita terjerumus ke dalam masalah yang apabila hanya menggunakan perasaan sesaat saja atau tidak menggunakan akal pikiran yang jernih, hal ini bisa dicontohkan oleh kasus Asri yang ingin menikahi Saniah karena terdorong atas restu dan ajakan orang-orang sekitarnya.

Sehingga bisa diipetik kesimpulan bahwa novel Salah Pilih ini adalah satu hal yang pasti yang akan terjadi dalam realitas hidup kita, dimana pembaca mengalami suatu kebimbangan, menghadapai suatu pilihan, dan satu kesempatan emas yang didepan mata tapi tidak bisa untuk didapatkan. Misalanya saja pembelajaran bahwa Asri yang mengidamkan cinta ke Asnah tetapi terbentur oleh sebuah sisten yang tidak berbcara tapi dapat dirasa.

***

SEJARAH EKONOMI PEDESAAN

SEJARAH EKONOMI PEDESAAN

Sejarah ekonomi masih merupakan daerah yang relatif asing bagi sejarawan Indonesia, sekalipun sejarah ekonomi diajarkan di jurusan-jurusan sejarah. Di negeri-negeri barat sendiri sejarah ekonomi juga merupakan disiplin yang relative baru. Meskipun sejarah ekonomi sudah ditulis orang jauh sebelumnya, tetapi chair untuk sejarah ekonomi yang pertama di dunia baru ada di Harvard pada tahun 1892, dan chair serupa di Inggris baru ada pada tahun 1910. Sejarah ekonomi yang secara formal berdiri sendri lepas dari subordinasi pada sejarah politik itu ingin mencari maknanya sendiri dalam memperlajari corak dan penjumlahan dari hubungan manusia yang bersifat ekonomi, sosial dan budaya. Pada kurun-kurun sebelumnya political economy lebih berpengaruh dalam penulisan-penulisan sejarah ekonomi. Sejarah ekonomi yang telah melepaskan diri dari ekonomi politik terus berkembang dan mencapai puncaknya dalam studi yang semakin canggih, degan penggunaan metode qtguatitalis yang maju dalam gerakan the new economic history.

Di Indonesia kiranya masih perlu diperkenalkan sejarah ekonomi yang lebih konvesional banyak definisi sudah dikemukan oleh banyak sarjana, dengan batasan yang kurang lebih sama. Barry E. Supple dalam the experience of economic growth: case studies in economic history menulis sbb:

Economy history is the historical study of man’s efforts to provide himself with goods and services, of the institutions and relationship which resulted from those efforts, of the changing technique and outlooks associated with his economic endeavor, and of the results (is social as well as economic terms) of his striving, ot his failure to strike. [1]

Ekonomi pedesaan dan ekonomi petani tidak selalu searti, namun dalam tulisan ini, keduanya dipersamakan dan dapat dilakukan peristilahannya khusus untuk keperluan seminar sejarah lokal dengan cakupan dinamika pedesaan ini. Ciri-ciri ekonomi petani sebagaimana dikemukan Daniel thornier, seorang antropolog yang menganggap ekonomi petani sebagai sebuah kategori dalam sejarah ekonomi, ialah:

  1. Dalam bidang produksi, masyarakat terlibat dalam produksi agrarian;
  2. Pendudukanya harus lebih dari separuhnya terlihat dalam pertanian
  3. Ada kekuasaan Negara dan lapisan penguasaanya
  4. Ada pemisahan antara desa dengan kota, jadi ada kota-kota dengan latar belakang desa-desa
  5. Satuan produksinya ialah keluarga rumah-rumah petani.[2]

Ekonomi petani, menurut Thornier yang mengukuhkan pendapat ahli ekonomi Rusia. Charanov, tidak termasuk dalam salah satu kateogri sudah ada, hingga sepantasnya kalau ekonomi petani yang banyak tedapat di Negara-negera yang sedang berkembang itu mendapat tempat-tempat yang tersendiri. Ia juga tidak puas dengan semata-mata menyebut ekonomi petani sebagai perwujudan cara produksi Asia.[3]

Pertemuan antara ekonomi ekspor, baik melalui peraturan tanam paksa maupun perkebunan swasta pada abad ke-19, merupakan pertemauan antara dua cara produksi dengan akibat-akibat yang menarik perhatian sejarah ekonomi. Tidak kurang dari itu sebenarnya ialah pertemuan antara dua system ekonomi sebagai dikemukakan oleh Boeke sejak lama[4], yang sampai sekarang pun masih berlaku dalam pengeritian pengerian tertentu.

Sejarah ekonomi local sangat penting karena tiap-tiap daerah di Indonesia menempuh jalan sendiri-sendiri dalam perkembangan ekonomi. Perbedaan regional itu disebabkan oleh berbagai factor pertama, ada atau tidak adanya organisasi kenegeraan. Dalam hal ini perbedaan terjadi antara berbagai daerah yang disebabkan oleh corak kerajaan-kerajaan atau organisasi social setempat yang berbeda.

Pembatasan satuan wilayah dapat mempergunakan berbagai cara. Di antara kemungkianan itu ialah pendekatan wilayah produksi, wilayah pemasaran, wilayah penukaran, wilayah georgrafis, wilayah administrative dan wilayah adat.

Wilayah produksi dapat berupa daerah yang diliputi oleh produksi sejenis, seperti misalnya daerah nelayan dipantai utara Jawa, Sumatera Timur, dan sebagainya Madura yang menghasilkan garam sebagai satuan wilayah produksi. Dekat hubungan dengan wilyah produksi pemasaran. Di masa lalu, dapat dibayangkan, teknologi transportasi yang berbeda. Lingkaran pemasaran yang dengan lingkaran kereta api dan truk.

Selanjutnya, sangat penting dalam sejarah ialah satuan waktu dalam sejarah ekonomi, terutama yang mementinagkan soal pertumbuhan ekonomi, masalah tahapan perkembangan selalu menajdi perhtian yang utama. Tidak saja dalam skala makro kita dapat berbicara tentang system ekonomi atau cara produksi, tetapi juga dalam lingkup mikro.

Untuk penelitian sejarah, pendekatatn terhadap tahapan ekonomi tidak perlu harus menggunakan ukuran-ukuran ekonomi. Tahapan pertumbuhan ekonomi sebagaimana dikemuakan oleh Rostow dalam the stages of economi growth yang menggunakan ukuran produksitvitas sebagai kriteria untuk tahapan, [5] kiranya hanya dapat berlaku bagi masyarakat industrial, dan sedikti saja relevansinya dengan system ekonomi pedesaan atau petani di masa lampau. Dalam pendekatan Rostow, secara kasar masyarakat tradisional hanya disebutnya sebagai masyarakat tradsisonal, yang sedikti saja menjelaskan kompleksitas Rostow, secara kasar masyarakat tradisional hanya disebutnya sebagai masyarakat tradsisonal, yang sedikit saja menjelaskan kompleksitas ekonomi yang dibuat oleh Heilbroner lebih menjangkau masala lalu sejarah manusia.[6] Di kemukakannya tiga system ekonomi, ekonomi berdasarkan tradisi, perintah dan pasar.

Setelah kita mendaaptkan satuan wilayah dan satuan waktu, kita perlu juga memahami satuan permsalahan dalam sejarah ekonomi pedesaan. Permasalahan ekonomi pedesaan atau eknomi petani tentu tidak sama dengan ekonomi industrial atau ekonomi kota. Dalalm pengertian kita disini, ekonomi pedesaan memasukan juga ekonomi primitive sekaligus ekonomi petani, yang kedua-duanya masih terdapat dalam masyarakat dengan kerangka ekonomi pasar sekarang ini. Beberapa kemungkinan permasalahan yaitu tentang factor-factor ekonomi, sector-sector ekonomi, lembaga-lemabga ekonomi, komoditi, pertumbuhan, dan problem-problem.

Kentataannya sejarah ekonomi lebih banyak memerlukan penggunaaan teori, model dan konsep-konsep ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi sendiri. Model tentang pertumbuhan ekonomi, misalnya, akan mampu memerangkan peristiwa dan struktur secara jelas. Teori, model dan konsep itu dapat diambil dari ilmu ekonomi konvensional yang terutama sangat baik untuk menganalisa sector komersial dari organisasi ekonomi petani. Juga ilmu ekonomi konvensional dapat berguna dalam menghitung penampilan ekonomi baik yang primitive, petani, industry kapitalis, maupun industry komunis.

Bagi mereka yang melihat teori ekonomi murni dan statistic merupakan daerah terlarang, seperti sejarawan yang dihasilkan oleh fakultas-fakultas Sastra di Indonesia, sejarah ekonomi masih tetap terbuka. Seperti sudah disinggung, aktivitas ekonomi masih tetap merupakan aktivitas manusia, sehingga sejarah ekonomi pun tidak lepas dari setting sosial dari pengalaman manusia dan imajinasi manusia. Disini motif, nilai, dan sikap masih merupakan hal yang penting. Sejarah ekonomi dapat diletakan dalam kerangka sejarah interdisipliner.[7] Untuk keperluan itu dibawah ini akan dikemukakan berbagai permasalahan sejarah ekonomi pedesaan yang dibicarkan oleh ahli-ahli ilmu social di luar ilmu ekonomi.

SEJARAH EKONOMI PEDESAAN DAN TEORI SOSIAL

Sekalipun sejarawan akan menggunakan teori dalam penulisannya, tetapi sejarawan lain dengan teori social dalam banyak hal. Teri social hanya meneruh perhatian pada segmen waktu yang singkat, mengasumsikan bahwa system hukum dam politik tetap, sedangkan sejarawan terutama membicarakan periode yang lebih panjang dengan tekanan pada struktur institusional. Mengenai system pasar misalnya, sejarawan juga ingin melihat kekuatan-kekuatan apa yang ada di belakangnnya. Sejarawan mempelajari kondisi, struktur kelas dan kebijakan dari negera.[8] namun sejarawan juga menjadi teori social pada waktu ia membicarakan, dan memberi makna.

Penelitan sejarah eknomi semacam dualisme ini akan merupakan sumbangan bagi penilitan ekonomi yang dapat membantu memcahakan masalah-masalahnya, demikaian Fernan Braudel. Untuk kerpeluan itu sebuah dialog sejarah ekonomis dan ekonomi perlu diadakan. Meskipun demikian, menurut Clerk, yang sungguh tidak mungkin dan tidak diharapakan bahwa teori social dapat, menunjukan pada sejarawan apa yang di harus dicari, demikian pula sejarawan tidak dapat memenuhi sepenuhnya informasi apa yang diperlukan oleh teori sosial secara pasti. [9] dengan mengetahui sejarah pertumbuhan ekonomi disatu masa, ahli ekonomi dapat melihat waktu kontemporer dalam sebuah kerangka masa depan yang panjang, dan dapat mengeluarkan ahli ekonomi dari semata-mata pemecahan masalah ekonomi jangka pendek.

Akhirnya perlu sekali lagi ditekankan bahwa gejala ekonomi dan gejala politik adalah produk dari interaksi timbal balik kekuatan-kekuatan, yang sebagian bersifat ekonomi dan sebagaian no-ekonomis. Kiranya perlu disadari bahwa teori social tidak dapat lepas dari sejarah. Sensifitas ahli-ahli ekonomi memperhatikan juga segi-segi non ekonomis. Demikan pula sehrunya bagi sejarawan ekonomi dan ekonomi pedesaan terlebih lagi. [10]

***


[1] Berry E. Upple (ed.), the experience of economic growth: Case studies in economic history (new York: random House, 1963). Hal 4. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 94

[2] Daniel Thomas. Peasant economy as a category in economic history. Dalam shanin (ed). Peasants and peasant societies. Hal 203. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 95.

[3] Basile Kerblay, “Chayanov and the theory of peasantry as a specific Type of economy. Dalam Shanin (ed), ibid. , hal 154). Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 96

[4] Mungkin yang dimaksud oleh Kuntowijoyo adalah buku Boeke yang berjudul The Interest Of The Voiceless Far East, Introduction to oriental economics. Yang dalam bahasa Indonesia berjudul PRAKAPITALISME DI ASIA. (Sinar Harapan. Jakarta. 1983).

[5] Walt W. Rostow. The stages of economic growth (Cambridge: Cambridge University press, 1959). Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 99

[6] Robert L Heilbroner, The making of economic society (Englewood Cliff, N. J. Prenctice hall, inc, 1962). Chapter 1. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 100

[7] Cf. W. Ashworth. The study of m odern economic history. Dalam harte (ed) the study of econoi history. Hal 213. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 104.

[8] Taeney. The study of economic history. Dalam harte (ed). The study of economic history. Hal 102. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 107.

[9] Ferand Braudel. On history (Chicago: the university of Chicago press, 1980). Hal 83. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 110

[10] G. N. Clark. The study of economic history. Dalam harte (ed). The study of economic history. Hal 83. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 111.

ORGANISASI PERGERAKAN PEMUDA: SJARIKAT ISLAM

ORGANISASI PERGERAKAN PEMUDA: SJARIKAT ISLAM

Oleh: Hendriko Firman

Serikat Islam adalah perkembangan bentuk dari serikat dagang Islam (SDI), di Solo, oleh H Samanhudi dan kawan-kawan, 16 Oktober 1905. Tahun 1911 oleh haji semanhudi, atas anjuran dari HOS Colkroaminoto, kata dagang dari SDI dihilangkan dengan maksud agar ruang gerkanya lebih luas lagi, tidak hanya dalam perdagangan saja.

Adapun factor-faktor yang mendorong didirikannya serikat Islam antara lain faktor ekonomi yaitu untuk memperkuat diri menghadapi Cina yang memepermainkan penjualan harga bahan baku batik. Hal ini terjadi akibat adanya diskriminasi dan eksploitasi dari penjajah, semua pengalaman yang mengecewakan itu menyebabkan menghalangi perekonomian bangsa Indonesia, dan akibatnya menimbulkan solidaritas. Solidaritas ini diwujudkan dalam bentuk reaksi yang diucapkan dan agitasi yang keras terhadap orang-orang asing, terutama terhadap orang-orang Cina. Karena usaha dagangnya timbullah rasa benci dari pihak pergerakan nasional Indonesia, seperti SI misalnya, karena SI memang merupakan manifestasi dari keinginan berdagang. Meskipun sebutan’dagang’ yang dahulu tercantum pada nama organisasi itu sudah dihapus, tujuannya yang utama tetap meningkatkan kehidupan ekonomi rakyat dengan memajukan perdagangan dan melindungi kebutuhan kebutuhan materialnya. Basis agama memperkuat usaha-usaha ini dan memperluas penyeberannya pada waktu yang singkat; bahkan di beberapa kota tujuan ekonomilah yang yang diutamakan. Usaha-usaha SI ynag bersifat ekonomi menyebabkan organisasi-organisasi lain menjadi lebih sensitif terhadap masalah-masalah ekonomi.[1]

Kasus diskriminasi tersebut meluap saat tindakan-tindakan terhadap pedagangn-pedagang ina di Solo san Surabaya, yang dilancarkan oleh pengikut-pengikut SI pada tahun 1912-1913, dilandasi emosi yang meluap-luap.[2]

Tujuan dari serikat Islam yang lain adalah mengembangkan jiwa dagang diantara para pedagang-pedagang local yang masih tabu dan awam dalam melakukan perdagangan dengan cara yang baik dan professional juga dengan membantu anggotanya yang mengalami kesulitan dalam usahanya, misalkan saja kesulitan dalam hal-hal financial ataupun kesulitan pasar. Di sisi lain dengan syarikat Islam yang berideologi Islam merkea juga tidak ketinggalan untuk mencoba memperbaiki pendapat kalayak ramai yang keliru memandang agama Islam. Dan mengajurkan anggotanya ataupun public hidup menurut ajaran agama Islam .

Di sisi lain factor agama yaitu untuk memajukan agama Islam adalah salah satu tujuan dari SI karena anggota-anggota inti SI berasal dari kaum pedagang yang memilih agama sebagai dasar organisasi mereka; inilah sebabnya mengapa mreka berhasil menarik golongan bwah, yakni kaum petani dan kaum beuruh prabrik. Konsep religious membangkitkan secra besar-besaran sentiment nasional dan membina bentuk solidaritas yang efektif dan mencakup seluruh aktivitas golongan-gololngan. Pada tahun-tahun pertama semangat nasional berkobar, dan prestise SI melibihi pengaruh penguasa tradisional.[3]

Ketika berkembang dan makin menguatnya aksentuasi politik pada gerakannya, maka SDI pun berubah menjadi SI yang seperti telah dijelaskan diatas, khususnya setelah ikut bergabungnya sang pemberontak, HOS Tjokroaminoto. Pergerakan kaum yang sebelumnya terkonsentrasi pada gerakan dagang untuk menekan dominasi kaum Cina Perantauan dan memberikan keseimbangan secara ekonomi pada kaum Bumi Putera, kian meluas, dengan titik tekan kepada kehendak melawan kaum imperialis Eropa. Politik dan kekuasaan menjadi mainstream pergerakan ketika itu.[4]

HOS Tjokroaminoto itulah yang meletakkan nilai-nilai dasar pergerakan kaum terjajah dengan bertumpu pada dimensi religiusitas dengan akar keislaman, nasionalisme keindonesian, dan kerakyatan (demokrasi) bagi kebangunan kaum Bumi Putera (Inlander). Titik tujuanya adalah kehendak mengenyahkan penjajah Belanda, dan diraihnya sebuah pemerintahan sendiri yang dipegang, ditentukan, dan dijalankan oleh bangsa Indonesia secara mandiri. [5] Dari tangan dan pikiran HOS Tjokroaminoto dan para sejawatnya itu pulalah sentimen kebangsaan tumbuh membangunkan semangat cinta tanah air yang dikenal dengan idiom masyhur: hubbul wathan minal iman. Sejak dulu Islam adalah agama mayoritas bangsa ini, sehingga menjadi pas kalau Islam menjadi perekat dari gezag pergerakan kebangsaan dan kerakyatan di tanah Nusantara. HOS Tjokroaminoto bersama H Agus Salim amat besar perannya dalam mendorong kebangunan kaum Muslimin ketika itu.[6]

Islam dan nasionalisme menjadi bak dua sisi mata uang yang saling mempengaruhi dalam konteks Syarikat Islam. Dimana syarikat Islam adalah aliran yang berpendirian bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap yang mengatur segala kehidupan, termasuk kehidupan bernegara. Lebih jauh aliran ini berpendapat bahwa umat Islam hendaknya kembali pada sistem politik ketatanegaraan Islam dan tidak perlu atau bahkan jangan meniru system politik gaya barat. Aliran ini disebut revivalisme, yaitu suatu paham politik yang menginginkan kebangkitan Islam lewat praktek politik Islam yang diteladani oleh nabi Muhammad dan Khulafau al-Rasyidun.[7] Maka dari itu dataran itu pulalah orang dengan pelbagai latar berhimpun dalam perkauman itu, lalu pada gilirannya membentuk pergerakan baru, mengusung pencitraannya sendiri-sendiri, sebut misalnya Persyarikatan Muhammadiyah, Taman Siswa, dan sebagainya. Bahkan pada gerakan yang lebih “menjauh” dari nilai-nilai Islam dengan mendasari pergerakan pada aliran politik: nasionalisme dan sosialisme, yang kemudian berkembang dan bercabang-cabang lagi sehingga lengkaplah apa yang disebut tema keberbagaian (pluralisme) itu. Syarikat Islam sendiri lebih concern pada gerakan politik, sehingga dunia politik adalah menjadi tak terpisahkan dengan Kaum SI itu sendiri. Ketika sebagian tokoh merasa kurang sreg dengan garis perjuangan SI, mereka melakukan tindak mufaraqah dengan mendirikan pergerakan baru.[8]

Adapun kegiatan politik SI semakin panas ketika terjadinya krisis ekonomi di Hindia Belanda, sebagaimana yang dipaparkan oleh Ulbe Bosma:

“Islamic movements had already been active in nineteenth-century Java, and allegedly played a role in the many rebellions in the countryside. In that respect the early twentieth century showed a marked contrast in that Sarekat Islam had maintained a fairly cordial relationship with the Indies government during its first years of existence. Relations between Sarekat Islam and the colonial government rapidly deteriorated after the War (world war I)—not because of a process of “othering,” but as a result of a fierce economic struggle. It was not a time for politics of identity, but of anti- colonialism in which one could be communist and Muslim at the same time.”[9]

Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gereakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik.[10]

Menariknya ada ruang kebebasan yang sejak awal ditanamkan oleh tokoh-tokoh kunci SI, sehingga konteks mufaraqah dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan alami saja. Inilah yang kemudian disebut sebagai perpecahan. Maka tema “perpecahan” itu pun seakan menjadi hal yang lazim saja bagi perkauman ini. SI sendiri sesungguhnya pantas disebut sebagai “Sekolah Indonesia” di mana orang-orang masuk menjadi kader dan tatkala telah berilmu cukup mereka lalu bertebaran di muka bumi Nusantara untuk melakukan proses pemberdayaan diri sesuai bakat dan kemampuan masing-masing. Sebut pula misalnya Bung Karno yang salah seorang murid terbaik HOS Tjokroaminoto, kemudian mendirikan PNI.[11]

Menjelang tahun 1921, karena penaruh kaum buruh pabrik dan proletariat kota, SI menunjukan tanda tanda menuju kea rah organisasi kaum pkerja. [12]

Krisis SI pada tahun 1921 berakhir dengan dikeluarkannya ansir-anasir sosialis atas dasar disiplin partai. Tanda disintegrasi di dalam Si selanjutnya, dan yang sangat mengganggu posisinya, disebabkan olehadanya kyai-kyai sebagai kelompok social yang konservatif, dan golongan modern, terutama ygn terdiri atas kaum intelektual yang mencita-citakan Pan Islamisme.[13]

Karena corak demokratis dan militant tersebut mendekatkan serikat Islam (cabang-cabangnya) dan para pemimpinnya kepada ajaran Marxis seperti ISDV (Indische Social Democratische Vereeniging) yang didirika Snevliet tahun 1914 yang berpaham sosialis. Snevliet melakukan penysupan-penysupan ke dalam sSI dan berhasil mempengaruhi tokoh-tokohnya sehingga dampak dari hal tesebut banyak angoota dari SI yang menjadi sosialis terutama cabang Semarang. Dengan adanya paham itu, petentangan pun tidak dapati dihindarkan lagi sehingga SI pecah menjadi dua, yaitu SI putih, tetap berpegang pada dasar-dasar keislaman. Sarekat putih dipimpin oleh Agus Salim dan Abdoe Moeis. Sedangkan Si merah yang berapaham marxis dibawah pimpinan Semaun dan Tan Malaka.

***

Daftar Kepustakaan

­­­­­­­­­­­­­­­___________________________________

Bescheiden betreffende de Vereniging Sarekat Islam”, 1913,

H Rahhardjo Tjakraningrat. Menyongsong Seabad Kaum Syarikat Islam. Dalam Harian Umum Pelita edisi Jum’at, 31 Oktober 2008.

J. Th. P. Blumberger, De Natioalistische Beweging in Nederlandsh Indië (Haarelem, 1931). Tijdschrift voor Binnenladsch Bestuurt, XL (1911)

Munawar Sjadzali, Islam dan tata Negara: Ajaran, sejarah, dan pemikiran (Jakarta UI press, 1933)

Oetosan Hindia, 1-7-1915.

Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989.

Ulbe Bosma. Citizens of Empire: Some Comparative Observations on the Evolution of Creole Nationalism in Colonial Indonesia. 2004. International Institute of Social History Press. Amsterdam.


[1] J. Th. P. Blumberger, De Natioalistische Beweging in Nederlandsh Indië (Haarelem, 1931), hlm. 24, 38; Tijdschrift voor Binnenladsch Bestuurt, XL (1911) hal. 147. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 233

[2] Bescheiden betreffende de Vereniging arekat Islam”, 1913, hal 33-41. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 250.

[3] Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 237

[4] H Rahhardjo Tjakraningrat. Menyongsong Seabad Kaum Syarikat Islam. Dalam Harian Umum Pelita edisi Jum’at, 31 Oktober 2008.

[5] Bandingkan dengan Boedi Utomo, dimana organisasi tersebut Utomo hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda, dan Budi Utomo seperti kita ketahui organisasi sempit yang bersifat feodal dan keningratan karena anggotanya hanya kalangan priyayi, bahkan lebih sempit lagi hanya untuk kalangan Jawa dan Madura saja (Saking chauvinisnya, Betawi sekalipun tidak boleh.

[6] H Rahhardjo Tjakraningrat., ibid.

[7] Munawar Sjadzali, Islam dan tata Negara: Ajaran, sejarah, dan pemikiran (Jakarta UI press, 1933), hal. 1

[8]H Rahhardjo Tjakraningrat., ibid.,

[9]Ulbe Bosma. Citizens of Empire: Some Comparative Observations on the Evolution of Creole Nationalism in Colonial Indonesia. 2004. International Institute of Social History Press. Amsterdam. Hal 676.

[10] Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 233.

[11] H Rahhardjo Tjakraningrat. Ibid.,

[12]Oetosan Hindia, 1-7-1915. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 238

[13] Sartono Kartodirdjo. Ibid., hal 238

TOERI EVOLUSI DARWIN, ISLAM &EPISTIMOLOGIS

T O E R I E V O L U S I D A R W I N, I S L A M

&

E P I S T I M O L O G I S

oleh: Hendriko Firman

Benarkah teori Darwin merupakan sebuah teori? Hal ini menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang berpandangan agamais dan menganut paham teori penciptaan (Universal Creation). Terlepas dari itu semua kaum ini secara monoton hanya melihat bahwa teori Darwinian hanyalah sebuah bualan. Percaya atau tidak, yang jelas dari sudut keilmuan kita harus melihat apakah teori ini siap untuk dibenarkan atau pun teori ini benar ilmiah. Lebih jelasnya kita akan membahas teori Darwin ini secara bertahap.

Idea tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling dapat teori. Darwin (1858) mengajukan dua teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. [1] Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru. [2]

Lebih lanjut Darwin mengatakan:

“In considering the Origin of Species, it is quite conceivable that a naturalist, reflecting on the mutual affinities of organic beings, on their embryological relations, their geographical distribution, geological succession, and other such facts, might come to the conclusion that each species had not been independently created, but had descended, like varieties, from other species. Nevertheless, such a conclusion, even if well founded, would be unsatisfactory, until it could be shown how the innumerable species inhabiting this world have been modified, so as to acquire that perfection of structure and co adaptation which most justly excites our admiration. Naturalists continually refer to external conditions, such as climate, food, &c., as the only possible cause of variation. In one very limited sense, as we shall hereafter see, this may be true; but it is preposterous to attribute to mere external conditions, the structure, for instance, of the woodpecker, with its feet, tail, beak, and tongue, so admirably adapted to catch insects under the bark of trees. In the case of the mistletoe, which draws its nourishment from certain trees, which has seeds that must be transported by certain birds, and which has flowers with separate sexes absolutely requiring the agency of certain insects to bring pollen from one flower to the other, it is equally preposterous to account for the structure of this parasite, with its relations to several distinct organic beings, by the effects of external conditions, or of habit, or of the volition of the plant itself”.[3]

Dimana Darwin berkesimpulan bahwa di dalam teorinya terkandung bahwa:

  • Spesies yang hidup saat ini berasal dari spesies lain yang hiudp di masa lampau
  • Dan evolusi terjadi melalui seleksi alam.

Lebih jelas Darwin mengatakan:

“As the late Edward Forbes often insisted, there is a striking parallelism in the laws of life throughout time and space: the laws governing the succession of forms in past times being nearly the same with those governing at the present time the differences in different areas. We see this in many facts. The endurance of each species and group of species is continuous in time; for the exceptions to the rule are so few, that they may fairly be attributed to our not having as yet discovered in an intermediate deposit the forms which are therein absent, but which occur above and below: so in space, it certainly is the general rule that the area inhabited by a single species, or by a group of species, is continuous; and the exceptions, which are not rare, may, as I have attempted to show, be accounted for by migration at some former period under different conditions or by occasional means of transport, and by the species having become extinct in the intermediate tracts”. [4]

Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi yaitu seleksi alam. Seleksi alam ialah “process of preserving in nature favorable variations and ultimately eliminating those that are ‘injurious”.

Jadi secara keilmiahan dapat dikatakan bahwa teori Darwin dilihat dari sudut pandang epistimologis telah bisa dikatakan cukup baik. Lantaran toeri Darwin telah melewati tahap tahap dari siklus teori dan metodologi ilmu pengetahuan. Ini bisa dilihat dari isi bukunya yang banyak membahas dari sudut metodologi ilmu biology. Lebih lengkapnya kita harus melihat semua itu dari dua sudut metodologi yang berbeda karena hal ini tidak saja harus sinkron tapi juga harus punya dasar pijak yang akurat dan serta tidak subjektif ataupun terlalu kasusistis ataupun juga penelitian yang dilakukan ini di generalisasi.

Islam Dan Teori Evolusi Darwin

Di Indonesia khususnya kalau seorang membicarakan tentang teori Darwin maka yang terlintas dari pendapat mereka untuk beropini adalah dari perspektif Islam (bagi yang Islam) dan hal ini meyebabkan teori Darwin terlepas dari pemikiran axiology saja, tanpa pemahaman yang lebih dalam. Hal in sungguh sangat tidak sportif karena Islam lebih berada pada pendekatan yang bebeda. Menariknya bahwa teori Darwin selalu menjadi bahan perdebatan yang tanpa habis-habisnya baik itu secra asal-asalan ataupun secara ilmiah.

Islam secara khusus melihat bahwa manusia diciptakan dari tanah, atas penjelmaan Allah swt, hal ini bisa dilihat sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan :

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur!” (QS. As Sajdah, 32:7-9) [5]

disisi lain Darwin mengatakan bahwa manusia adalah makluk yang ada akibat akumulasi dari spesies lain yang mengalami seleksi alam dan berevolusi dengan waktu yang sangat lama. Sebagaimana ia paparkan:

“As species of the same genus have usually, though by no means invariably,

some similarity in habits and constitution, and always in structure, the

struggle will generally be more severe between species of the same genus,

when they come into competition with each other, than between species of

distinct genera”. [6]

Perbedaan pandangan ini faktanya hanya akan buang-buang waktu karena perdebatan tersebut tidak dalam level yang sama, apabila kita mengkaji dari dasar berpikirnya tentulah hal ini tidak akan menemukan sampai titik terang karena perbedaan cara melihat teori tadi.

Disisi lain secara ilmiah teori evolusi Darwin belum dapat dikatakan runtuh, sebelum ditemukan bukti-bukti empiris yang bertentangan dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan dalam teori itu masih dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak kalangan masih meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agama, seperti yang disebutkan di atas.

Apalagi khususnya saat ini di Indonesia yang mengalami kebanjiran buku-buku Islam yang diproduksi Dr. Harun Yahya yang “menyerang” teori Darwin. Dari segi teologis ada kekuatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari kehidupan lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan :

Siapapun yang mencermati pembantaian, pembunuhan, dan penderitaan yang sengaja ditimpakan terhadap manusia oleh orang-orang Komunis, Nazi, atau Kolonialis, akan bertanya-tanya bagaimana para pendukung berbagai paham ini (teori evolusi Darwinisme) dapat menjauhkan diri mereka sendiri dari sifat-sifat yang umumnya ada dalam diri manusia. Alasan satu-satunya dari kebiadaban dan penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin ini adalah hilangnya agama dalam diri mereka dan ketiadaan rasa takut kepada Tuhan. Manusia yang takut kepada Tuhan dan memiliki keimanan yang mantap kepada hari akhir, sudah pasti tidak akan mampu melakukan segala bentuk penindasan, kejahatan, ketidakadilan, dan pembunuhan sebagaimana yang telah kami paparkan. Selain itu, betapapun ia dipengaruhi, seseorang yang beriman kepada Tuhan dan hari akhir tidak akan pernah terseret untuk mengikuti ideologi yang sedemikian menyesatkan”.[7]

Di sisi lain Harun Yahya juga mengatakan bahwa, penyebab dari segala penindasan dan berbagai ideologi yang menyengsarakan manusia lantaran hanya perbedaan ideologi adalah akibat ulah dari teori evolusi Darwin yang sesat. Lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan:

Banyak yang tidak menyangka atau malah tidak percaya bila Darwinisme turut memberi spirit dan kontribusi atas berbagai ideologi besar yang lahir di dunia ini. Nazisme, Fasisme, Komunisme, Liberalisme dan Kapitalisme, adalah beberapa diantaranya. Ideologi-ideologi ini, yang merupakan penghasung pemujaan pada atheisme dan materialisme, secara sadar telah menyandarkan diri pada ‘konsep ilmiah’ dari Darwinisme. Para penggagasnya merasa mendapatkan pembenaran ilmiah atas berbagai tindakannya yang membawa bencana dan kesengsaraan bagi ummat manusia. Pembunuhan, penyiksaan, perampasan, pelecehan hak dan kehormatan atas bangsa dan pihak berseberangan dianggap sebuah tangga titian menuju kejayaan. Kebanggaan dan kejumawaan atas ras dan ideologi menjadi pendorong penindasan dan penistaan. Yang lemah harus menyingkir dan menjadi budak mereka yang kuat. Penerus generasi dan peradaban adalah mereka yang kuat, sementara yang lemah harus rela untuk lenyap dan tenggelam dalam catatan sejarah. Demikianlah, suka atau tidak, inilah keniscayaan hukum alam yang mesti diterima. Keniscayaan yang menjadi ruh evolusi yang dikemukakan Darwin”. [8]

Namun Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan “Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas. Kita menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat di balik semua gerakan evolusi itu…”.[9] Tentang prinsip survival of the littest (?), Bagir justru membenarkannya dan kita harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alqur’an. Dingin dari dari dua sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis.[10] Tentunya dari kajian bagir, kita harus melihat pula bahwa dari penafsirannya di dalam ayat Alqu’an mana yang secara implicit atau eksplisit bahwa kandungan dari teori Darwin tidak bertentangan, tentunya hal ini menjadi lebih complicated lagi.

Seyongyannya seperti yang saya telah katakan tadi bahwa tidak bisa kita menemukan padanan atau titik terang yang pasti antara ilmu yang dipandang dari sudut epistimologis (metodolgi) dan ontology (nilai) dengan komparasi Islam yang menggunakan axiology (ada/being) dimana cara penafsirannya menggunakan wilayah metafisika, wilayah diluar kerangka otak manusia. Dan pasti tentulah tidak kita ketemukan koorelasinya. Tulisan ini bermaksud ingin menjelakan secara objektif dan tidak bermaksud berpihak kepada landasan berpikir manapun, dimana hal ini tentunya waktulah yang nantinya menjawab. Inti dari semua ini bahwa keputusan ada di diri kita masing-masing, dimana letak dan pemahaman kita tentu berbeda-beda maka tentu berbedalah pula cara kita menyimpulkannya.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN

– Al-Qur’anul Karrim.

Charles Darwin. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. 1859. Penguin Books. London.

– Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. 2002. Global Cipta Publishing. Jakarta.

– Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.

– http://grelovejogja.wordpress.com


[1] Bambang Agus Suripto. Dalam grelovejogja.wordpress.com rakses pada minggu, 9 november 2008 pukul 18.32 WIB

[2] Charles Darwin. 1859. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. Penguin Books. London. Hal 16.

[3] Charles Darwin. Ibid., hal 6.

[4] Ibid., hal 205.

[5] Al-Qur’anul Karrim hal 89

[6] Darwin, Charles. Ibid., hal 43

[7] Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. Global Cipta Publishing. 2002. Jakarta. Hal 37

[8] Harun Yahya. Ibid., hal 4

[9] Bagir, Haidar. 2003. Islam dan Teori Evolusi (Butir-butir tanggapan terhadap Harun Yahya). Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.

[10] Bambang Agus Suripto. Ibid.,

LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

Pada 1 april 1979, Ayatollah Rouhallah Khomaeini mengumumkan pembetukan Republic Islam Iran. Dengan demikian berhentinya dinasti kekuatan yang telah mengcengkram Iran selama 50 tahun dan dari pemerintahan bentuk monarki yang telah berada selama 2.500 tahun di sejarah orang orang Persia.

Latar Belakang

Fitur sebuah revolusi yang paling tidak bisa diragukan adalah interferensi langsung oleh rakyat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah. Pada saat-saat biasa, negara, apakah itu berbentuk monarkhi ataupun demokrasi, mengangkat dirinya sendiri di atas bangsa, dan sejarah dibuat oleh para spesialis dalam urusan semacam itu – raja, para menteri, birokrat, anggota parlemen, wartawan. Namun pada gerakan krusial itu, ketika tatanan yang lama tidak lagi bisa diterima oleh masyarakat, maka mereka akan menghancurkan hambatan yang membatasi mereka dari arena politik, mengesampingkan wakil tradisional mereka, dan menciptakan, dengan interferensi mereka sendiri, landasan kerja awal bagi sebuah rezim baru. Apakah hal ini baik atau buruk, kita serahkan penilaiannya kepada para moralis. Kita sendiri akan mengambil kenyataan sebagaimana yang mereka berikan dengan tingkat perkembangan yang obyektif. Sejarah sebuah revolusi bagi kita adalah menjadi prioritas dari yang lainnya, sebuah sejarah masuknya masa yang tidak bisa dihindarkan ke dalam tataran pemerintahan yang diperuntukkan bagi nasib mereka sendiri.
Hal seperti Trotsky diatas tepat seperti yang terjadi di Iran tahun 1979. Basis material dari Revolusi Februari terletak pada kemajuan kekuatan-kekuatan produktif dan perubahan yang telah dilakukan dalam kapitalisme Iran di seluruh periode sebelumnya. Shah kehilangan dukungan dari segenap kelompok massa, kaum petani, intelektual, kelas menengah dari berbagai lapisan dan kelompok yang paling berhawa jahat, tentara. Negara sendiri terguncang kerasnya pukulan godam yang dilancarkan massa. Hari demi hari demonstrasi terus menerus dan mobilisasi massa yang telah jauh melanggar batas kehidupan normal. Massa menyerang kedutaan Inggris dan Amerika sembari membakar ribuan bendera Amerika. Boneka patung Presiden AS Jimmy Carter dan Shah digantung ribuan kali menghiasi setiap pojok jalan setiap kota Iran. Shah menjadi simbol dari bercokolnya tatanan yang dibenci dan represi Savak yang berdarah.
Negara dalam analisis paling mutakhir, sebagaimana yang diterangkan oleh Marx dan Lenin, terlengkapi dengan lembaga angkatan bersenjata berupa barisan tentara dengan segenap peralatan dan senjata mereka. Dalam setiap masyarakat kelas, komposisi tentara dibentuk dari berbagai lapisan masyarakat yang beragam, dan merefleksikannya secara, kurang lebih, jujur. Di masa-masa biasa, angkatan bersenjata bercokol tak tertandingi, tak tertembus dan kompak. Bagaimanapun juga, selama masa revolusi, ketika angkatan bersenjata mengalami stres dan ketegangan yang hebat, maka dengan segera keretakan dan patah struktur mereka akan tampak membayang, dan akhirnya cenderung membelah sesuai dengan garis kelas pada momentum-momentum revolusi yang krusial. Kerekatan di tubuh tentara bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi.tergantung pada intensitas tekanan dari gerakan massa.
Di Negara Iran saat masih di belenngu oleh kekuatan digdaya (strong state), dimana perbuatan-perbuatan yang melanggar kepentingan masyarakat di gantikan dengan kepentingan pribadi dari penguasa-penguasa. Untuk lebih jauhnya kita akan melihat sebuah root problem dari revolusi Iran itu sendiri yaitu masalah minyak Negara.
Menjelang akhir abad ke-19 dan awal abad ke­20, investasi asing terus mengalir ke Iran, dengan partisipasi dari pemegang saham lokal dalam sektor vang paling modern seperti konstruksi jalanan, industri penangkapan ikan di Laut Kaspia, dan telegraf. Mayoritas barang manufaktur dihasilkan oleh pengrajin dalam sekelompok besar bengkel kerja-bengkel kerja kecil, tetapi juga ada perusahaan kecil vang terlibat dalara pemintalan karpet dan industri kulit serta juga sejumlah pertambangan serta toko penjual barang cetakan. Menurut suatu penelitian tentang periode itu, pabrik karpet terbesar adalah di Tabriz dan mempe­kerjakan 1500 karyawan.
Di tahun 1908, minyak bumi ditemukan di Barat Daya Khuzistan, dan pada periode yang sama pembangunan jalan kereta api menyebabkan tumbuhnya integrasi ekonomi. Hal ini, sejalan dengan konsentrasi kelas pekerja, menyuarakan kemenangan akhir dari relasi kapitalis di Iran. Pada periode kedua, imperialisme Inggris secara keji mengeksploitasi industri minyak Iran dan memetik keuntungan luar biasa dari situ. Antara tahun 1912 hingga tahun 1933 saja, perusahaan Anglo-Persian Oil Company (APOC) meng­hasilkan keuntungan 200 juta lira, dan cuma 16 juta lira saja yang dibayarkan kepada Pemerintah Iran dalam bentuk royalti langsung. Sedangkan antara tahun 1945 hingga 1950, APOC hanya membayar sebanyak 90 juta lira sebagai royalti terhadap pemerintah Iran, dan memperoleh keuntungan bersih lebih dari 250 juta hra.
Demikian skala produksi industri Iran hingga menjelang tahun 1920, mempekerjakan 20.000 karyawan, dan tahun 1940 telah mencapai 31.500 kar­yawan-salah satu konsentrasi terbesar di Timur Tengah. Pada akhir tahun 1925 Shah memberlakukan sebuah program untuk melindungi industri lokal dan untuk memberikan insentif negara bagi pengusaha swasta. Negara lebih mendasarkan diri pada penda­patan dari minyak bumi dan pajak, bukannya utang luar negeri. Berlawanan dengan dinasti sebelumnya, sebagian besar pendapatan dari minyak digunakan untuk pertahanan serta modernisasi negara Jan tentara. Selama masa 20 tahun kekuasaannya, Shah telah menghabiskan lebih dari 260 juta lira untuk industri. Setelah tahun 1930 kelompok-kelompok baru industri raksasa didirikan. Ratusan pabrik kecil dibangun, teru­tama yang bergerak dalam bidang tekstil, bahan makanan dan material konstruksi. Jumlah kelas pekerja meningkat secara radikal, seringkali terkonsentrasi di perusahaan-perusahaan besar. Dalara hal ini, Iran meniru kekaisaran Rusia pada awal periode pembangunan industrinya.
Kebanyakan pekerja sebelumnya bekerja di bengkel-bengkel kerja kecil, tetapi setelah pembangun­an pabrik penenunan tekstil di Isfahan, Kerman, Yazd, dan Teheran, jurnlah pekerja meningkat dengan mantap. Prinsip pembangunan ekonomi dan sosial yang tidak seimbang dan terkombinasikan menunjukkan kemajuan. Mengacu pada dominasi pasar dunia oleh imperialisme,proses industrialisasi di Iran tidak bisa dilaksanakan dengan cara klasik. Karena Iran adalah sumber energi yang penting, eksploitasi sumber daya minyaknya oleh imperialis Inggris mengarah ke bentuk pembangunan yang sangat terbatas dan timpang. Kapitalis Inggris hanya tertarik untuk mengamankan kepentingan mere­ka sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan industri menghasilkan pola pembangunan yang sangat tidak berimbang, dimana pendirian industri maju hanya terba­tas pada kota-kota besar-Teheran, Tabriz, Isfahan, Kerman dan beberapa pusat kota lainnya. Kebutuhan akan industri rninyak bumi mendorong dibangunnya industri maju di daerah Khuzistan-sebuah daerah yang belum pernah berubah selama berabad-abad-akan tetapi di kebanyakan wilayah negara itu masih tetap tertinggal. Kapital industri masih merupakan perke­cualian, bukan peraturan. Kapital komersial masih memainkan peranan yang dominan.
Distorsi ini memiliki arti bahwa hanya pola pembangunan yang terkombinasikan dan tidak seim­banglah yang rnungkin dilakukan. Bentuk sosial dan ekonomi yang paling maju dibangun beriringan dengan yang paling primitif. Seiringan dengan cahaya terang dari pabrik-pabrik petrokimia modern, ada cahaya lam­pu redup di desa-desa tanpa listrik. Di depan industri­industri yang menggunakan teknologi paling mutakhir, perajin kecil masih terus menggunakan metode yang tidak pernah berubah selama berabad-abad, bahkan mungkin bermilenium-milenium. Rumah-rumah mod­ern komplet dengan dapur ala Amerika berdiri kokoh di samping perkampungan kumuh dimana makanan dimasak di ata5 arang dan tungku kayu penuh asap.
Pada bulan Mei 1951 Mossadeq, yang didukung oleh nasionalis Iran, telah mengnasionalisasikan sumber minyak Negara. AIOC tiba-tiba diancam untuk menggugat beberapa perusahaan yang membawa minyak Iran. Kurangnya keahlian teknis untuk mengoperasikan ladang minyak dan dengan pemasaran dunia di perusahaan-perusahaan minyak, Iran bersaksi mengurangi produksi minyak secara mendadak. Sebagai pendapatan Negara pengurangan minyak membuat pendapatan menurun. Mossadeq segera memulai pertemuan ketidakpuasan. Dia menjadi tiba-tiba lebih dictator sebagai perdana menteri.
Pada juli 1953 mossadeq menghancurkan the majlis (DPR) dan di agustus mencoba tapi gagal untuk merampas semua kekuatan di pemerintah. pada 12 agustus Rheza shah telah memerintahakan pembubaran dan telah berjanji meminta nasehat kepada jenderal fazollah zahedi. Mossadeq menantang perintah dan menangkap pesan yang disampaikan itu. Walaupun shah dan keluarganya melarikan diri dari iran.
Pada hari beriktunya, bagaimanupun juga, unit loyal dari milter shah merancanakan sebuah serangan kudeta dengan dukungan tersembunyi, ini secara luas di percayai, di Amerika Serikat. Pada 18 Agustus, orang-orang loyalis menyerang, dan, setelah keberanian yang tajam di Tehran, mengalahkan semua unit militernya setia mossadeq. Hari berikutnya jendral Zahedi, yang telah bersembunyi, menggabungkan untuk mengambil alih pemerintahan. Pada 20 Agustus, Mossadeq menyerah, dan beberapa hari kemudian Shah kembali, mengakhiri periode dari perselisihan dalan sejarah perpolitikan iran yang telah menjadi pertanda untuk peristiwa yang akan terjadi di seperempat abad kemuadian.
Dari itu semua sampai revolusi iran, iran tingal sedikit lagi tidak mengikat kepada America serikat dan barat. Ini saat begabung dalam fakta Bhagdad di 1955 (kemudian CENTO) dan melihat America serikat sebagai pemasok senjata perang yang besar.

Politik Luar Negeri
Dibawah Negara republic Islam, iran telah menunjuakan antipasti ke America Serikat dan Uni soviet. Amerika serikat khusunya sebagai teman dekat para shah, dilihat sebagai personafikasi setan – dalam bentuk sekularisme barat dan neo-imperialis. Tapi rezim tak bertuhan Marxist dari uni soviet dilihat sebagai sedikit lebih baik. Pada tahun 1984 rezim itu secara sistematis mengeksekusi banyak dari pemimpin dari partai Marxist tudeh di iran. namun kedua Negara superpower itu senang dengan antipati iran tersebut.
Dari akhir kebiakan asing dari republic iran adalah pendirian dari superioritas moral dan bermaksud terbuka untuk meneyebar benih moral ke Negara lain. Dari 154 prinsip konstitusi iran menyatakan bahwa iran akan melindungi perjuangan yang lemah melawan sorang arogan dibagain manapun di dunia ini.
Kenyataannya seperti yang dikatakan oleh Farzin Vahdat bahwasanaya setelah revolusi Iran kita mengalami kontras dalam ekspektasi kita masing-masing terhadap negeri Iran. Ia mengatakan:
“In contrast to what might be expected after the triumph of a colossal revolutionary process and the establishment of a state deriving its power mainly from a strong ideological drive, in Iran the development of socio-political thought did not end withthe establishment of the Islamic Republic in 1979. Indeed, the post-revolutionary period has witnessed a proliferation of socio-political discourses articulated by groups and individuals inside and outside the country, notwithstanding censorship and attempts to control the flow of information by the government” .
Di sisi lain akibat dari pasca revolusi Iran wacana orientasi wacana berkembang pada akomodasi menuju pada kekuatan modern dunia salah satunya. Seperti yang di paparkan Farzin:
“Within the post-revolutionary religiously oriented discourses, more vigorous than the secular socio-political discourses, two distinct trends are visible. One of these trends consciously seeks accommodation with the forces of the modern world, to an extent unsurpassed by previous religious discourses in Iran, especially with regard toits gradual espousal of modern democratic principles. This trend is closely associated with the thought of Abdulkarim Sorush, the leading figure among a group of philosophers and social thinkers at the forefront of the reform movement in post-revolutionary Iran. He enjoys a large following among the relatively young and well-educated Muslims who seek a more open and democratic society in the post-revolutionary conditions of Iran”.

Lebih dari pada itu semua David E. Long mengatakan bahwasanya mengekspor revolusi adalah salah satu kebijakan iran di Negara-Negara di dalam regionalnya khusunya didaerah teluk.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN

– David E. Long & Bernard Reich. The Government and Pollitics of the Middle East and North Africa. United States. Westview press. 1986

–Farzin Vahdat Post revolutionary Islamic Discourses on Modernity in Iran: Expansion and Contraction of Human Subjectivity. dalam Middle East Stud.vol. 35. Cambridge University press. 2003.

–George Lenczowski. Timur Tengah di Kancah Dunia. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 1993.

– J. Bhahrier. Econonzics of Development in Iran. (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

– Lenin, The State and Revolution, The Essential Leftn Unwin Books. Moscow. (without year)

– Leon Trotsky, Results and Prospects (Peculiarities of Russia Historical Development), (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

– http://www.marxist.com/indonesia/revolusi_iran2.html

SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA

“SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA”

Hendriko Firman

TUJUAN, TERMINOLOGI, DAN PENDEKATAN

Tujuan tulisan ini adalah akan megemukan pada garis besar masalah-masalah sejarah dari pergerakan nasional di Indonesia. Dalam tulisan ini metode kronoligs tidak akan digunakan, karena lingkupya terbatas. Di sini hanya akan dikemukakan beberapa segi saja. Mengenai karya-karya perkembangan sejarah nasionalisme Indonesia dapat ditunjukan karya-karya dari Amry Vandenbosch (1994), Bernanrd Clekke (1943), A. von Arx (1949), George Mc.T. Kahin (1952). Semuanya itu ditulis pada akhir atau setelah PD II. Karya sebelum perang ialah buku karangan J.Th. Petrus Blumberger (1931), yang secara sistematis memuat banyak sumber sejarah sampai tahun (1930). J. M Pluvier telah menulis sebuah tinjauan umum mengenai periode berikutnya, diterbitkan pada tahun (1953). karya-karya SJ. Rutgers (1946) dan D.M.G. Koch menyajikan gambaran umum dari seluruh perkembangan pergerakan nasional sampai PD II. Di samping itu masih banyak karangan lain mengenai pergerakan nasional. Di antara penulis bangsa Indonesia dapat disebutkan nama nama A.K Pringgodigdo (1950 ) dan Sitorus (1947).
Lazimnya, yang disebut sejarah pergerakan nasional adalah bagian dari sejarah Indonesia meliputi periode tahun 1908, ialah tahun berdirinya Boedi Oetomo sebagai organisasi nasional, sampai tahun 1942, tahun pecahnya perang pasifik.
Selain itu, metode kronologi akan memebrkan suatu perspektif historis, sehingga dinamika pergerakan nasional dapat dilihat dengan jelas sebagai suatu pergerekan progesif. Akan tetapi, lingkup tulisan ini tidak mengizinkan untuk menerapkan metode kronologi itu, sehingga di dalam menganallisis berbagai aspek dengan menggunakan beberapa konsep sebagai titik tolak, semata-mata juga hanya dimaksudkan sebagai suatu pengantar untuk beberapa masalah sejarah pergerakan nasional di Indonesia.
Nasionalisme Indonesia, seperti juga di Negara-negara asia tenggara lainnya, mempunyai basis historis pada kolonilalisme; maka sifat antikolonialisme menjadi bagaian utamanya.
Oleh karena itu, ada interdependensi antara nasionalisme dan kolonialisme pada umumnya dan juga terasa adanya pengaruh timbal balik, terutama antara nasionalisme yanga sedang tumbuh dan politik kolonial beserta ideologi kolonialnya.

A. ASPEK-ASPEK MULTIDIMENSIONAL
Pergerakan nasional di Indonesia dalam arti umum dapat dianggap sebagai suatu regenerasi; pergerakan ini bukanlah pergerakan yang hanya terbatas pada bidang politik tatapi melitputi juga bidang ekonomi, sosial, dan kultural. Sifat universal dari fenomena ini meneyabakan pergerakan itu mempunyai aspek multidimensional. Karena mengalami regenarasi ini, maka para partsipan menjadi sadar akan segala sesuatu, baik yang lama maupun yang modern; semunya didorong ke arah kemajuan dan terlibat pada semua kegiatan secara aktif.
1. Aspek Ekonomi
Pertentangan kepentingan menyebabkan kondisi hidup rakyat terbelakang, karena cara-cara produksi lama tidak mampu menghadapi kapitalisme colonial yang mempunyai organisasi dan teknologi moderen yang mampu mengubah keadan ekonomi yang ada.
Kedudukan yang menguntungkan penjajah itu diperoleh melalui eksploitasi dan diskriminasi. Oleh karena itu, usaha-usaha ke arah itu, usaha-usaha ke arah emansipasi ekonomi selalu ditekan. Semua pengalaman yang mengecewakan sebagai akibat system sosial-ekonomi yang menghalangi usaha perekonomian bangsa Indonesia, mendorong timbulnya solidaritas.
Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gerakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik.
Gerakan ekonomi ini sejak pada PD I terus-menerus tumbuh sampai pada puncaknya pada pemberontakan komunis tahun 1926.
Tindakan-tindakan yang keras dari pihak pemerintah kolonial memperkuat orientasi ekonomi pada beberapa organisasi, seperti Boedi Oetomo dan Partai Bangsa Indonesia. pekerjaan kontruktif dari partai-partai itu pada bidang ekonomi, meskipun belum begitu berarti, telah memberi bentuk-bentuk konkret kepada cita-cita ekonomi nasional dan dapat dianggap sebagai suatu bukti yang nyata adanya prinsip berdiri di atas kaki sendiri.
2. Aspek Sosial
Pembentukan organisasi-organisasi nasionalis didorong oleh pertentangan kepentingan social dengan kaum penjajah; karena perbedaan rasial pertentangan ini menjadi lebih serius. Organisasi itu fungsinya menjadi lebih nyata dan menunjukan perbedaan kepentingan-kepentingan tersebut secara lehih jelas; jadi, organisasi-organisasi itu boleh dikatakan meratakan jalan utnk membangun suatu kekuatan sosial.
Akibat berdirinya Boedi Oetomo bagi penguasa peguasa tradisional pribumi, yaitu ellite lama, adalah negative oleh karena itu, organisasi ini tumbuhnya lambat. Sebagai reaksi terhadap keinginan emansipasi di atara massa rakyat yag luas, golongan elite lama ini kemudian membentuk ikatan sendiri. Perkumpulan bupati, yang memperjuangkan kepentingan kepentingan merka sendiri dega cara caranya dendiri.
Tumbuhnya diferensisasi sosial menyebabkan jumlah organisasi-organisasi nasionalis bertambah dengan bermacam-macam tujuan untuk melindungi kepentingan mereka masing-masing sambil berdialog menentang kolonialisme.
Aspek sosial lain dari pergerakan nasional yang perlu mendapat perhatian kita ialah peranan diferensiasi di antara organisasi-organisasi nasionalis itu. Pada umumnya peranan yang dijalankan oleh organisasi organisasi itu memang dipilh dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Boedi Oetomo diikuti oleh organisasi-organisasi berikutnya, seperti Muhammadiyah dan Taman Siswo. Terutama Taman Siswo dapat dianggap sebagai sebuah lembaga dengan system pendidikan yang menjadi bagian dari pergerakan nasional yang memperjuangkan masayarakat merdeka. Cita-cita kebebasan dan kesatuan dipakai sebagai pedoman pendidikan praktis. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan nasional adalah cara yang sebaik-baiknya untuk berkerja secara produktif untuk mencapai kemerdekaan rakyat. Kebudayaan asli dipakai sebagai dasar pokoknya.
3. Aspek-Aspek Kebudayaan
Nasionallisme Indonesia pada tingkat-tingkat pertama juga dikenal sebgai nasionalisme sempit, yang bersifat local atau kedaerahan. Nama-nama seperti Serekat Ambon Roekon Minahasa, Pasoendan, Sarekat Soematera menunjukan sifat kedaerahan dan kesukuan.
Pada kongres kaum muda Jawa, yaitu pada waktu Boedi Oetomo didirikan, diadakan, diskusi untuk menentukan sikap yang harus diambil dan untuk menghadapai kebudayaan barat. Pada diskusi ini terdapat dua pandagan yang berbeda: golongan pertama ingin agar orang jawa sic mengembangkan dirinya menurut jalannya sendiri dan tetap memilihara sifat ketimurannya, sedang golongan yang kedua menganggap contoh dari barat lebih praktis, jadi, sudah sepantasnya untuk diikuti.
Pada tahun 1908 sekali pertentangan yang terjadi pada kongeres boedi oetomo itu timbul. Golongan konservatif berpendapat bahwa kebudayan lama harus menjadi dasar untuk menghimpun seluruh rakyat, sedang golongan progresif tidak menghendaki kemunduran dan meolak sifat-sifat khusus kejawaan. Mereka ingin melawan barat dengan alat-alat dan metode barat pula. Mereka menekankan usaha mendinamikakan kehidupan kebudayaan dengan persatuan dan pertukaran. Mereka berpendapat bahwa sikap statis berati kemunduran.
Gerakan kebudayaan memperkkuat kedaran nasional dan merupakan tambahan bagi egerakan ekonomi yang mencita citakan kehudpan ekonomi yang bebas bagi rakyat. Pergerkan nasional inin membangun kebudayaan bru sebagai basis kehudapan baru dengan mengambil alih unsure unsure barat. Pembaharuan ini dianggapa sebagai alat untuk mewujudkan cita cita politik, oleh karena itu dalam mengahadapi kebudayaan barat kaum nasiionalis menolak ide asimilasi dalam rangka negeri belanda raya.

4. Aspek Aspek Politik
Pergerakan nasional sebagai bentuk revivalisme dalam hubungan-hubungan masyarakat colonial sudah barang tentu mengalami politikalisasi, dan bahkan sejak taraf pertamanya pergerakan itu sudah jelas menunjukan orientasi politik umum.
Di tanah jajahan kepentingan ekonomi dan politik terjalin erat antara satu dengan lainnya: dominasi politik melindungi erat monopoli ekonomi modal colonial dan menggunakan pemerintahan colonial sebagai alat kekuasaan.
Sejak itu disadari bahawa kekuasaan poltik diperlukan untuk memkasa pemerintah colonial memperlihatkan kesejahteraan rakyat. Aspriasi politik, meskipun belum jelas formulasinya, telah tampak pada waktu itu Boedi Oetomo didirikan. Dengan perkataan lain dapat dinyatakan lain dapat dinyatakan bahwa organisasi ini menghendaki turut ambil bagian dalam mengatur penghidupan rakyat dan memperbaiki nasibnya.
Di sisi lain dengan berdirinya volksraad maka keinginan-keinginan politik dapat disalurkan dengan resmi kepada pemerintah colonial. Pengalaman pengalaman di dalan volksraad menimbulkan keyakinan bahwa melalui koperasi usaha usaha rakyat tidak akan terlindungi, sehingga golongan nasionalis menganggap sangat perlu menyusun kekuatan rakyat untuk mengambil alih kekuasaan politik. Formulasi tujuan politik ini makin lama juga makin terperinci. Perhimpunan Indonesia, organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia di negeri belanda, membuat analisis yang tepat mengenai hubungan-hubungan colonial dan mengambil resolusi bahwa pergerakan nasional harus menuju ke Indonesia merdeka, sedang kerja sama dengan kaum penjajah ditolak.

B. BEBERAPA UNSUR NASIONALISME INDONESIA
Beberapa nasional dilihat sebagai satu konsep kehidupan, menunjukan proses historis dari kelahiran dan perkembangan nasionalisme. Bilamana kita mempelajari nasionalisme, akan tampak jelaslah bahwa ada pertumbuhan konsep yang besar dan pendekatan-pendekatannya bermacam-macam. Apa yang menarik perhatian kita dalam hubungan ini ialah banwa secara luas disetujui bahwa nasionalisme dalam beberapa pengertian asal mula dan perkembangannya bersifat historis sehingga sejarah pergerakan nasional menjadi inti akibat-akibatnnya bebeda-beda tegantung pada keadaan keadaan historis.
Nasionalisme sebagai fenomena historis timbul sebagai jawban terhadap kondisi-kondisi historis, politik, ekonomi, dan sosial tertentu. Penyelidikan tentang nasionalisme sebagai sutatu fenomena yang serba kompleks memerlukan pula pendekata5n yang multidisipliner. Dengan demikian, akan terjadi jelas apek multidimensionalnya. Untuk mengenal sifat sifat khas nasionalisme sudah barang tentu unsur unsur pembentukan perlu pula diselidiki dengan menggunakan multiple approach seperti tersebut diatas.
RINGKASAN
Nasionalisme pada periode pembentukan lebih terikat pada aspek-aspek subjektif daripada aspek-aspek objektif. Kenyataan sejarahnya dimulai sebagai fakta-fakta konseptual, kemudian berkembang perlahan lahan ke bentuk yang lebih kongkret dan menjadi fakta fakta sosio-psikologis bedasar atas unsur-unsur komponenya menunjukan tingkatan-tingkatan perkembangan nasionalisme pada semua aspeknya dan pada variasi jawaban nasionalisme terhadap kolonialisme. Tiga aspek nasionalisme aspek kognitif, aspek orientasi tujuan/nilai dan aspek-spek afektif — dapat diterapkan sebagai kriteria perbedaan kategori-kategori yang menggambarkan tipologi berbagai organisasi pergerakan nasional.
Nasionalisme dikembalikan ke dasar eksistentisnya; terutama nasionalisme sebagai suatu ide pada semua bentuknya perlu diselidiki keselarasanya dan hubungannya dalam konteks sistuasional realitas sejarah tertentu. Manifestasi-manisfestasinya harus dihubuhngkan dengan masing-masing kelompok sosial yang mendukungnya, perubahan perubahan strukutural harus diterangkan sejalan dengan dinamisme kelompok dan derajat integrasinya.

***
– The end –
Copyright © hendrikofirman.wordpress.com

Sumber
Sartono Kartodirdjo. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989

Rantau Pariaman 1800-1850: perang paderi

Rantau Pariaman 1800-1850: perang paderi, ekspansi dagang dan konsolidasi politik belanda di utara Padang.
Wilayah rantau Pariaman meliputi dataran rendah sempit coastallowland di sebelah barat dataran tinggi Minangkabau yang membentang antara batang Anai di selatan batas dengan wilayah Padang dan Tiku di utara kota pariaman batas wilayah merantau pasaman dan ke pedalaman hingga tepi barat danau Maninjau. Kota terpenting di rantau pariaman adalah pariaman. Kota ini sudah lama memegang peran penting sebagai enterpot (pelabuhan-gudang), dengan segala fluktuasinya. Di zaman kejayaan perdagangan laut di pantai barat Sumatra sampai akhir abade ke 19, pariaman disinggahi kapal-kapal dari dalam dan luar negeri Kato 1986. Di sini antara lain komoditi dagang dari pedalaman Minangkabau ditumpuk sebelum dikapalkan melalui pelabuhan-pelabuhan lain. Bahkan jauh sebelum VOC secara resmi – melalui perjanjian painan (painansch contract) 1663- memasuki kawasan pantai barat Sumatra, pariaman sudah disinggahi oleh kapal-kapal asing dari Gujarat, arab, cina, dan juga kapal-kapal milik bangsa barat.
Para pedagang bangsa barat itu membeli lada dan emas yang banyak dihasilkan di Minangkabau. Selain itu mereka juga mencari kapur barus styrax benzoin atau camphor atau kamfer (drybalanops aromatica) di pelabuhan pelabuhan sebelah utara, terutama barus yang dikalangan pedagang arab dan India disebut pencur atau pansur – sebutan yang kemudian melekat pada nama ulama terkenal kelahiran daerah ini yaitu hamzah fansuri (lihat brakel 1969:209) – dan oleh sumber sumber klasik cina disebut p’olu (drakard 1988:20;1990;2-4;wolters 1967:baba 12[187-96]).
Barus dan daerah sekitarnya seperti singkel dan sibolga terkenal dimana-mana karena produksi kamfer-nya yang berkualitas baik, dan itulah yang menarik pedagang datang ke wilayah ini. Emas dan kamfer dan gaharu adalah komoditi dagang internasional penting yang dihasilkan pulau Sumatra sebelum tahun 1400, khusunya di daerah banyak antara air bangis dan singkel. Emas dan aromatic woods itulah yang telah menarik orang cina, Arab dan Eropa datang ke pulau Sumatra, yang di abad-abad kemudian abad ke 16-18) berganti dengan komoditi lada dan timah.
Rantau pariaman dengan pariaman sebagai kota terbesar menduduki tempat yang khas dalam konsep geopolitik Minangkabau tradisional, seperti tersirat dan pengertian bahwa “prang rantau” dimaksudkan sebagai orang yang berasal dari pariaman dan sekitarnya. Ini cukup untuk menunjukan pentingnya pariaman di rantau barat Minangkabau. Menurut hajka najm pariaman berasal dari bahasa arab barri aman yang artinya tanah daratan yang amat sentosa. Boleh jadi nama itu ada benarnya mengingat bahwa entrepot pariaman dan Tiku sudah lama menjadi pelabuhan penyalur keluar emas dari pedalaman Minangkabau tanah datar dan agama. Dan kawasan dataran rendah sempit rantau pariaman sendiri pernah menjadi lahan penanaman lada yang subur di abad ke 15-17 yang memberi kemakmuran pada penduduknya. Seorang sarjana belanda yang datang ke pariaman pada bulan September 1911 telah menemukan bukti-bukti arkeologis yang menunjukan bahwa entrepot pariaman memang sudah lama ada dan telah didatangi oleh kapal-kapal asing.
Tampaknya bangsa barat pertama yang hadir di kawasan pantai rantau Pariaman adalah orang Portugis. Kehadiran orang Portugis di rantau Pariaman itu terkenal sampai kini dalam Sastra rakyat lisan masyarakat setempat, yaitu kaba anggun nan taungga magek jabang.
Bangsa-bangsa barat yang lain datang ke perairan rantau Pariaman lebih belakangan dari bangsa Portugis. Kapal-kapal Perancis, misalnya baru pertama kali sampai di Sumatra pada tahun 1527. Rombongan kapal Perancis pertama ini dikirim seorang politikus dan pengusaha bernama Jean Ango dari kota dagang Dieppe. Hanya satu kapal yang sampai di Sumatra dari tiga buah yang dikirim. Tahun 1529 Ango mengirim lagi dua kapal yang dipimpin oleh dua bersaudara, Jan dan Raoul Parmentier. Kedua kapal itu singgah di Tiku dan Indrapura, tapi anak buahnya merana karena serangan penyakit.
Bangsa belanda baru pertama kali singgah di pelabuhan-pelabuhan di rantau Pariaman- di Tiku dan Pariaman- pada 21 November 1600, yaitu dua kapal di bawah pimpinan Paulus van Caarden sebelumnya Caarden singgah di Aceh dan pasaman) yang kemudian disusul oleh kapal-kapal belanda lainnya. Sementara ekspedisi dagang Inggris baru memasuki rantau Pariaman pada tahun 1685. Inggris akhirnya gagal menjalin kontak dengan Pariaman dan memutuskan mendirikan basis berdagangnya di Bengkulu, di selatan. Sedangkan orang-orang Spanyol tampakanya tidak begitu tertarik dengan pantai barat Sumatra. Dua kapal yang dipimpin Maggelhans (yang akhirnya mati terbunuh di Philippina) hanya singgah di pulau Tidore pada tahun 1521.
Perlu dikemukakan secara sepintas situasi sosial-politik dan agama yang terjadi di Minangkabau pada periode ini. Pada tahun 1803 tiga orang haji muda asal darek dataran tinggi Minangkabau yang baru kembali dari Mekah mendirikan suatu gerakan yang dinamakan paderi. Mereka itu adalah haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Kota, dan haji Piobang dari Tanah Datar. Banyak catatan yang Belanda mengatakan bahwa ketiga haji itu terpengaruh oleh paham Wahabi yang pada waktu itu sedang masuk di tanah Arab. Para haji itu menyaksikan perkembangan baru di Mekah, terutama paham Wahabiyah yang bersikap puritan. Dan mereka pulang kembali ke Minangkabau dengan ide ingin menerapkan secara lebih tegas ajaran Islam yang murni dalam masyarakat. Seperti sudah banyak ditulis oleh Sejarawan, gerakan paderi akhirnya berkembang sedemikian rupa sehingga menjerumuskan masyarakat Minangkabau dalam perang saudara selama kurang lebih empat decade paroh pertama abad ke-19 yang akhirnya dicampurtangani pula oleh belanda dengan, tentu saja, maksud-maksud ekonomi dan politik di belakangnya.
Tahun 1795 Inggris memasuki kota pelabuhan Padang, sebagai akibat perubahan peta politik perang di Eropa: Perancis menduduki belanda dan William V, raja belanda menyingkir ke kota Kew di Inggris. Dari pengasingannya ia menulis surat kemana- mana agar pasukan belanda di daerah-daerah koloni di seberang lautan menyerahkan diri kepada atau berkerja sama dengan Inggris. Di Sumatra, orang belanda menuruti perintah rajanya itu dengan menyerahkan wilayah sumatra’s westkust kepada Inggris. Walaupun Inggris hanya berkuasa di pantai, namun mereka mendengar bahwa di pedalaman ada sebuah kerajaan yang berdaulat, juga terhadap wilayah pantai dimana mereka sekarang berada. Orang-orang Inggris itu juga mendengar bahwa di pedalaman sebuah revolusi agama sedang digerakan oleh sekolompok ulama reformis yang baru pulang dari Mekah. Pertentangan-pertentangan dan pertumpahan darah antara sesame orang Minangkabau sendiri akibat revolusi itu sudah sering terjadi dan orang-orang Inggris di Padang mendengarnya dari laporan para pedagang, tetapi mereka enggan campur tangan dalam kisruh agama antara sesame pribumi itu. Mereka juga tahu bahwa orang Minangkabau memiliki pribumi itu. Mereka juga tahu bahwa orang Minangkabau memiliki sistem pemerintahan Nagari yang independen, dan sering di antara Nagari itu terjadi persaingan keras, dan salah satu wujud dari persaingan itu adalah budaya perang batu di antara Nagari-Nagari bertetangga
Sampai akhir decade kedua abad ke 19 wilayah pedalaman Minangkabau masih mreupakan suatu misteri besar bagi orang Eropa. Bagi orang Inggris di Padang, wilayah pedalaman masih sebuah peta yang gelap. Walaupun sejumlah pemimpin adat yang terdesak oleh kaum paderi sudah beberapa kali minta bantuan Inggris di Padang, tapi Inggris menanggapinya dengan hati hati. Thomas Stamford raffles, pimpinan Inggris untuk wilayah Sumatra yang berkedudukan di Bengkulu, memutuskan untuk mengadakan penyelidikan terlebih dahulu ke pedalaman Minangkabau untuk melihat keadaan yang sebenarnya sebelum mengambil keputusan politik yang jelas menyangkut konflik agama di pedalaman Minangkabau itu ekspedisi itu dilakukan pada tahun 1818 .
Sementara orang-orang di Inggris sibuk dengan perdagangan di pantai di pedalaman Minangkabau gerakan Paderi yang semakin militant dan semakin meluas pengaruhnya dalam masyarakat setelah dipimpin oleh seorang ulama muda progresif bernama Tuanku nan Renceh 177?-1832 asal Nagari Kamang. Tuanku nan Renceh – nama menurut laporan belanda sesuai dengan perawakannya- dan kawan-kawannya sudah menyatakan perang jihad terhadap kaum adat yang tidak mau mengikuti perintah kembali ke syariat atau kembali ke ajaran nabi Muhammad. Cara-cara radikal yang ditempuh Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya itu telah menyebabkan terjadi nya perpecahan di tubuh kaum reformis sendiri, seperti digambarkan oleh fakih saghir- salah seorang dari ulama reformis yang bersikap moderat- dalam catatannya. Fakir saghir alias Syekh Jalaluddn mengatakan bahwa Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya telah menekan dia dan guru sekaligus ayahnya, Tuanku nan tua di kota tua, agar menyetujui cara radikal setuju dengan cara-cara kejam yang ditempuh Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya itu. Ulama karismatik yang dituakan dan dihormati di darek itu telah melihat akibat buruk dari perbuatan pasukan Tuanku nan Renceh menyerang Nagari Nagari tetangganya, seperti empat angkat, durian, dan tilatang. Banyak rumah dibakar dan penduduk mengungsi ke tampat lain. “.. sukar menghinggakan ribu laksa rampasan dan orang terbunuh dan tertawan dan lalu kepada terjual dan terjadikannya gundiknya”, demikian tulis fakih saghir.
Rencana Tuanku nan Renceh dan kawan kawannya membunuh fakih saghir dan Tuanku nan tua dengan cara terlebih dahulu mengajak mereka berdebat di luar desanya tidak terlaksana. Tuanku nan tuan diselamatkan oleh karismanya yang masih tinggi di kalangan ulama di wilayah darek. Akan tetapi, mengutip kata kata fakih saghir sendiri yang juga selamat dari rencana jahat itu: “barangkali sebab Allah ta’ala meluluskan hukumNya jua, maka melepaskkan Allah ta;ala dengan tolongNya akan hambaNya yang mum’min, lagi sabar, lagi pilihan. Maka sampailah Tuanku nan Tuo pulang ke negeri kota Tuo, dan saya fakih Saghir, jua. Maka kemudian dari itu bersungguh jualah saya menguatkan perang melawan Tuanku nan Salapan (Tuanku nan Renceh dan kawan kawan) karena lah putus ikhtiar. Tidak patut kembali Tuanku itu daripada sekalian perkerjaan nya yang tersalah itu; sebab lah sangat bertambah kejahatannya dan senantiasa perkerjaan itu hingga sampailah keluar Kompeni Welanda di tanah darat ini. Barangkali orang Kompeni tahu adatnya.
Pada dasawarsa kedua abad ke 19 sebagian besar wilayah darek dalam lingkungan tiga Luhak (Agam, tanah datar, dan lima puluh kota) sudah berada dibawah pengaruh Paderi. Kehidupan sosial budaya masyarakat mulai disesuaikan dengan aturan yang dibuat oleh kaum pembaharu itu faksi garis keras pimpinan Tuanku nan Renceh dan kawan kawan berada diatas angin. Kaum Paderi tahu bahwa patron kaum adat adalah dinasti Pagaruyung. Oleh karena itu mereka berniat menghancurkan symbol eksistensi kaum adat itu.
Pada tahun 1815 orang-orang Paderi di bawah pimpinan Tuanku pasaman – menurut vegelius nama aslinya ketika belajar ke pasaman adalah siooe moemin atau sidi mukmim?, ia sendiri berasal dari linta- telah membantai keluarga raja Minangkabau (dinasti Pagaruyung)dan utusan lain dari golongan kaum adat, antara lain yang dipertuan raja naro dan yang dipertuan raja talang, usai sebuah rapat antara kedua belah pihak di koto tengah. Kibasan ganas kelawang kaum berjenggot itu hampir saja memusnahkan dinasti yang – menurut tambo Minangkabau – yang berasal dari keturunan iskandar zulkarnaen itu. Sisa keluarga raja Pagaruyung yang selamat dari pembunuhan itu, yaitu raja muningsyah dan cucunya Sutan Alam Bagagarsyah, berhasil meyelamatkan diri ke lubuk Jambi. Jadi, konflik antara sesame orang Minangkabau itu antara kaum adat dan kaum agama sudah memasuki tahap kritis ketika orang ketiga yaitu orang Eropa ikut campur tangan, tentu saja dengan tujuan politik dan ekonomi.
Setelah penghancuran dinasti Pagaruyung, pengaruh kaum Paderi semakin meluas di Luhak tanah datar, sebagaimana yang disaksikan oleh Thomas Stamford raffles dalam kunjungannya ke Pagaruyung (16 juli-30juli 1818) di Luhak Tanah Datar – pusat kekuatan sekaligus symbol kekuasaan kaum adat karena istana Pagaruyung terletak di sana) – pengaruh kaum Paderi terlihat sudah begitu mewarnai kehidupan masyarakat. On entering the country, tulis raffles kepada the duchess of somerset pada tanggal 10 September 1818,
we more struck by the costume of the people, which is now any thing but malay, the whole being clad according to the costume of the orang putis, or paderis, that is to say, in white or blue, with turbans, and allowing their bard to grow, in conformity with the ordinances of Tuanku Pasaman, the religious reformer. Unaccustomed to wearing turbans, and by nature deficient in beard, these poor people make but a sorry appearance in their new costume. The women, who are also clad in white or blue cloth, do not appear to the best advantage in this new costume, many of them conceal their heads under a kind of hood, through which an opening si made sufficient to expose their eyes and nose alone.
Sementara seorang penulis lain menggambarkan penampilan para pengikut Paderi orang –poetih itu sebagai berikut:
Rambut kepalanya dicukur, memakai sorban berwarna putih, tasbih di tangan kiri dan pedang ditangan kanan. Dan para ulamanya membawa eksemplar Al-Qur’an yang ditaruh dalam kantong merah yang digantungkan di lehernya. Kaum wanita juga terpaksa menukar rok pendek mereka dengan pakaian yang menutup bagian badan mereka, dan kepala mereka harus ditutup dengan jilbab. Ajaran al Qur’an harus ditaati dengan seksama, pelanggaran terhadapnya akan dikenai hukuman mati.
Kaum adat yang semakin terdesak mencoba minta bantuan Inggris di Padang. Inggris tampaknya menanggapinya dengan hati-hati. Ajakan kaum adat itu hanya ditanggapi Inggris dengan menempatkan satu [pasukan kecil di benteng simawang, di bawah pimpinan john bull, memang sebelumnya Thomas Stamford raffles, wakil Inggris di Bengkulu, sudah menerima dua pelarian keluarga istana Pagaruyung, tapi ia belum mengambil keputusan politik yang jrlas terhadap Minangkabau. Raffles malah memutuskan untuk meneliti dulu keadaan yang sebenarnya yang terjadi di pedalaman. Pada tanggal 16-30 Juli 1818 Raffles dan istrinya, serta seorang geolog, seorang ahli botani, dan sejumlah pembantu pribumi mengunjungi Pagaruyung di kenakan kebijakan politik yang jelas menyangkut wilayah Sumatra Barat, yaitu membangun wilayah itu dan menjadikan Sumatra barat sebagai suatu kawasan yang penting di bidang politik di masa depan yang akan memberi kejayaan kepada kerajaan Inggris raya.
Akan tetapi Raffles tidak dapat melanjutkan rencana-rencana di Eropa tiba-tiba berubah. Pada bulan Mei 1819 Inggris terpaksa menyerahkan kembali rantau barat Minangkabau kepada belanda. Kali ini alasan penyerah itu karena penataan kembali wilayah jajahan kedua negara itu di dunia berdasarkan traktat 13 Agustus 1814 yang telah mereka sepakati. Penyerahan ini sebenarnya sudah tiga tahun terlambat setelah penyerah Batavia (pulau Jawa) kepada belanda.
Raffles menyerahkan Sumatra barat kepada belanda dengan berat hati, karena ia sudah ditegur keras oleh atasannya lord hastings di Calcutta. Secara resmi kapitein der infantrerie DIENEMA wawakili phak Belanda menerima penyerah itu dari britsen bevalhebber” (penguasa hukum Inggris) yang menguasai Padang dan padangsche bovenlande. Persetujuan keduanya sebagai berikut: pasukan Inggris yang kecil ditarik dari pedalaman, sementara satu debasement prajurit Bengali dan sejumlah pribumi yang semula berada dibawah komando Inggris yang bertugas di Padang dialihkan kepemimpinannya kepada belanda dan tetap ditempatkan di Sumatera Barat. Untuk memperoleh kembali wilayah Sumatra’s Wesktust, belanda wajib membayar uang tebusan sebanyak 175.000 mata uang Spanyol (spaansche-matten), kepada Inggris. Sebanyak 76 orang penghulu (hoofden) dari Padang darat yang terdesak oleh kaum Paderi menyatakan berada di belakang Belanda.
Pos-pos penting di pantai tetap dijaga belanda: enam orang prajurit ditempatkan di pulau Cingkuk, enam lainnya di Air Haji, dan pada tanggal 24 Juli juga dikirim beberapa orang prajurit ke Pariaman. Tuanku Suruoaso dan saudara perempuannya, tuan gadis (mantan istri raja Muningsyah), yang lolos dari maut dalam serangan terhadap keluarga istana Pagaruyung di koto tangah, yang dulu telah dilindungi oleh Raffles, tetap diizinkan tinggal di Padang untuk memberikan keterangan-keterangan kepada belanda menangani sepak terjang kaum Paderi di pedalaman.
Segera setelah Inggris angkat kaki dari Sumatra barat, Batavia menugaskan James du Puy sebagai resident di Padang. Setelah resmi mengambil alih kekuasaan di Sumatra barat, belanda segera melakukan operasi militer ke pedalaman Minangkabau yang di mulai pada akhir du Puy justru langsung memutuskan untuk melibatkan diri dalam konflik antara kaum paderi dan kaum adat itu. Ia melaporkan kepada Batavia bahwa inilah saat yang tepat untuk menguasai pedalaman. Du Puy menganggap perlunya menduduki pedalaman Minangkabau dengan kekuatan militer. Tanggal 10 February 1821 dikirim lagi ke Padang resimen ke-18 dari Jawa dengan 4 orang officieren (opsir) dab 150 prajurit pejalan kaki dan pengintai (flankeures). Kekuatan itu ditambahkan kepada pasukan yang sudah ada di Minangkabau. Total seluruh kekuatan 494 pasukan yang sudah ada di Minangkabau. Total seluruh kekuatan 494 orang, dengan rincian 284 pasukan pejalan kaki; 20 pasukan artileri Eropa; 50 prajurit Bengali; 96 pasukan bersenapan pribumi, 44 artileri pribumi, dengan persenjataan 1 howitzer 5,5 inci, 1 kanon 6 pon, 3 kanon 1,5 pon, dan 5 meriam dan amunisi lengkap.
Pada 21 February 1821 kaum adat secara resmi menyerahkan wilayah pedalaman Minangkabau kepada belanda yang bersedia membantu mereka memerangi kaum Paderi perjanjian di diadakan di Padang di bawah sumpah menjunjung Al-Qur’an dan disaksikan oleh panglima Padang, Sutan raja Mansur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro raja johan. Atas perintah tuan residen du Puy, pada tanggal 28 Februari 1821 rencana penerangan pertama ke darek dimatangkan di Padang. Awal April 1821 rencana penyerangan pertama ke Derek dimatangkan di Padang. Awal April 1821pasukan Kompeni di bawah pimpinan kapten infanteri Goffinet dan kapten DIENEMA menyerang sulit air melalui Simawang. Tanggal 25 April sulit air dapat dikuasi belanda setelah mereka sendiri menderita kerugian besar. “Aldus begon onze oorlog met de paderies” (dengan demikian, perperangan kita dengan kaum Paderi telah dimulai), demikian kata seorang opsir tentara belanda yang tidak menyebutkan namanya dalam episode. Dengan sikap yang lebih agresif dari pada Inggris belanda terus melakukan intervensi militer ke pedalaman Minangkabau.
Pada tanggal 4 November 1821 seorang yang akan memimpin penyerangan besar-besaran ke pusat pusat pertahanan Paderi di darat berlayar dari Batavia. Dialah overste letnan colonel Raaff. Dilahirkan di ‘sHertogebbosch, belanda, tanggal 1 Desember 1794, Antonie Theodore Raaff – demikian nama selengkapnya – adalah seorang pimpinan tentara Kompeni yang sudah berpengalaman dalam beberapa medan perang di Eropa sebelum dikirim ke Hindia Belanda pada tahun 1818. Pada waktu itu umurnya baru 27 tahun, seorang prajurit yang masih muda dan penuh ambisi. Setelah sebulan melayari laut Jawa, dan hampir setengah pantai Barat Sumatra, Raaff sampai di Padang tanggal 8 Desember tahun itu juga. Ia segera melakukan konsolidasi terhadap pasukan yang sudah bersedia. Pada minggu terakhir bulan Desember tahun 1821 tepatnya tanggal 21 Desember pasukan letkol Raaff yang didampingi oleh kapten Goffinet, mayor Laemlin, dan letnan altileri Kluppel bergerak dari dan menuju Simawang di dekat danau Singkarak.
Dalam serangan perdana itu pasukan Paderi si Simawang dapat dikalahkan oleh pasukan letkol data. Dari sana pasukan data menyerang pusat pusat pertahanan Paderi di tanah datar dan Agam satu detasemen lain ditugaskan ke Pariaman 7 jam perjalanan jalan kaki dari Padang. Disana mereka mengumpulkan para kapal Nagari untuk diajak bekerjasama melawan Paderi. Jadi, tampaknya sudah sejak awal belanda berupaya mencoba penyebaran paham dan pengaruh Paderi di rantau Pariaman. Tanggal 24 Desember detasemen ini menduduki Kayutanam di kaki Bukit Ambacang 12 jam jalan kaki dari Pariaman. Binenlanden expedtie ini mencoba meretas etape yang memungkinkan kerja sama dan koordinasi dengan pasukan yang berangkat ke darek -etape etape itu adalah dari Padang ke Pasir Jambak, terus ke Ulakan , kemudian ke Pakandangan terus menuju Kayutanam, kemudian ke “Tambangong”, dan terus ke Bukit Sipinang.
Operasi Belanda di pedalaman semakin agresif. Letkol Raaff segera menjadi bintang lapangan. Orang muda yang pemberani ini menjadi momok bagi kaum Paderi di darat di berhasil merebut benteng benteng Paderi di darat. Dia berhasil merebut kemenangan itu tidak diperoleh dengan mudah. Dalam hirarki di dunia ketentaraan, nasib letkol Raaff sudah jelas: ia naik ke jenjang karir yang lebih tinggi. Ia akhirnya ditunjuk oleh Batavia menggantikan posisi du Puy, tapi rupanya orang seperti Raaff yang pemberani lebih cocok di lapangan dan kurang tahan duduk di belakang meja ia adalah tentara yang tidak tahan untuk tidak ikut dalam pertempuran lapangan. Namun karena itu pula umurmya tidak lebih [panjang. Raaf akhirnya meninggal tanggal 17 April 1824 di Padang, setelah menderita sakit selama 12 hari untuk menghormatinya lalu dibuat sebuah tugu di dekat pantai Padang, dekat taman budaya Sumatra barat sekarang. Posisi A. T . Raaff sebagai residen Sumatra Wesktust digantikan lagi oleh letnan colonel H.J.J.L rider se Stuers, penggantinya itu mendapati mandat yang lebih besar, tapi tidak selalu mau didikte oleh Batavia dalam menentukan kebijakan militer terhadap kau m Paderi setelah diangkat menjadi reside Sumatra Wesktust tahun 1824.
Sementara itu di pantai Barat belanda melakukan ekspansi dagang ke pelabuhan-pelabuhan di utara Padang. Mula-mula tujuan utama Belanda adalah untuk memonopoli perdagangan garam dan opium (yang bekerjasama dengan pedagang Cina), serta mengontrol jalur dagang antara pantai dan kawasan pedalaman. Namun di balik itu tujuan belanda jelas untuk memblokir gerakan dan pengaruh paderi agar jangan sampai mengimbas ke kawasan pantai. Seiring dengan meningkatanya eskalasi konflik dalam perang paderi di Padang darat, ekspansi dagang Belanda petani dibarengi pula dengan konsolidasi di bidang militer ini dimaksudkan untuk menguasai dataran rendah pantai barat dan enterpot-enterpot di kawasan ini untuk kepentingan ekonomi belanda sekaligus untuk memblokir hubungan kaum Paderi dengan dunia luar, terutama melalui pelabuhan-pelabuhan di utara Pariaman, seperti Tiku, Sasak, Air Bangis dan Katiagan. Belanda sudah mengetahui bahwa pelabuhan-pelabuhan di utara itu sering digunakan sebagai tempat menumpuk barang selundupan (smkkeleaar) yang sangat merugikan belanda. Untuk pertama kainya pada tahun 1821 pimpinan Kompeni di Padang menempatkan seorang wakilnya secara permanen di pariaman. Residen James du Puy menugaskan J. Intveld sebagai administrator sipil (posthouder) di entrepot ini. Jabatan itu dipegangnya sampai tahun 1824. Pada tahun-tahun berikutnya Belanda semakin meningkatkan pertahanannya pada wilayah rantau pariaman. Jika wilayah ini sudah dikuasi, maka ekspansi militer ke pelabuhan-pelabuhan yang di utara lagi (Tapanuli dan pantai barat Aceh) akan lebih mudah. Mulai tahun 1830 seorang pengawas (opzeiner) ditempatkan pula di Tiku dan dua tahun kemudian se orang opzeiner lagi ditempatkan di Kayutanam.
Mulai tahun 1826 pemimpin-pemimpin local di rantau pariaman mulai dilibatkan dalam pemerintahan yang dijalankan Kompeni. Tentunya ini dimaksudkan untuk menarik simpati rakyat sekaligus untuk mengawasi mereka. Mulai tahun itu juga jabatan regent untuk wilayah regentschap Pariaman dibentuk dan untuk pertama kalinya dijabat oleh Tuanku Seriaman. Tuanku regent ini membawahi dua afdeeling dalam wilayah regenstchap Pariaman, yaitu afdeeling Sakarek Hulu (yang meliputi wilayah Manggung dan Naras di utara/mudik) dan afdeeling Sakarek Hilir (entrpot Pariaman sendiri) yang masing-masing dikepalai oleh seorang Tuanku dibantu 6 penghulu.
Karena kapatuhannya dan mungkin juga karena dianggap mampu bekerjasama dengan Kompeni, jabatan regent itu diduduki tuanku Seriaman berturut-turut selama 18 tahun, padahal di Padang sendiri jabatan residen sudah lima kali berganti. Tampaknya jabatan regent pariaman dikuasi secara turun-temurun oleh keluarga tuanku Seriaman selama beberapa periode. Semakin banyak pajak yang dikumpulkannya dari penduduk, jabatan itu tentu akan sulit berpindah ke orang lain. Loyalitasnya kepada Kompeni tampaknya tak diragukan lagi, sehingga sang regent sering mendapat sanjungan, Seriaman telah diberi kehormatan khusus untuk berkunjung ke atas kapal perang Belanda Fregat de Rupel yang sedang sandar dipelabuhan pariaman pada tanggal 2 October 1840.
Sejak tahun 1826 seorang komandan sipil dan militer telah ditempatkan secara permanen di pariaman tampaknya belanda sudah menganggap penting mengorganisir pasukan militernya di dengan lebih baik di enterpot ini untuk mengawasi daerah-daerah sekitarnya. Tahun-tahun selanjutnya detasemen-detasemen militer belanda mulai sering melakukan inspeksi ke desa-desa di wilayah pariaman untuk mengawasi penduduk dan juga meminta pajak pasar. Kebijakan meminta pajak pasar atau bungo pasa ini yang besarnya 5% dari hasil penjualan, semula hanya untuk di wilayah bovenlanden diinstruksikan oleh residen de Stuers yang ditetapkan dalam ketetapan pemerintah tanggal 1 April 1825.
Di banyak tempat, seperti dicatat oleh M. Lange, keputusan de Stuers tentang bungo pasa itu banyak di tentang oleh masyarakat, terutama oleh para pemilik kedai (pasarpacht). Laporan letnan Boehouwer (1841) yang pernah menjadi komandan militer belanda di pariaman, memberikan banyak informasi tentang inspeksi-inspeksi militer itu yang sering dilakukan pada hari pekan di suatu Sungai Sarik, Sicincin, Pauh Kambar, Lubuk Alung, dan Pakandangan.
Benteng belanda yang kecil dan agak terlantar di pariaman juga diperbaiki belanda untuk memperkuat pertahanan Belanda di enterpot ini. Benteng yang bernama Vredenburg itu sebenarnya peninggalanVOC yang mulai dibangun pada tahun 1712. Sekarang alat persenjataan dan jumlah pasukan di benteng itu ditingkatkan menjadi 50 prang. Sebelumnya, benteng ini, selain kecil juga sangat kumuh, dan hanya dijaga oleh 15 sampai 20 orang serdadu saja.
Mula-mula (1826) jabatan komandan sipil dan militer di Pariaman dipegang oleh letnan dua Bergman. Namun, malang baginya, pada bulan Maret 1827 – menurut Budding 1816 tepatnya tanggal 27 Maret- letnan Bergman bersama 40 orang pesukannya diserang oleh penduduk VII kota. Mereka dihadang penduduk di Sungai Sarik dalam perjalanan dari Padang Panjang menuju Pariaman. Dalam penyerangan itu letnan Bergman dan sejumlah anak-anak buahnya (termasuk seorang “indlandschen Luitenant” yang menurut Lange bernama “Mara-Sedik” {Marah Sidik} terbunuh.
Masyarakat VII kota memang sudah zaman VOC tidak suka kepada Kompeni. Sekarang rakyat VII kota dan Naras (di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik alias Bagindo Maranti) tetap tidak mau tunduk kepada Belanda. Demikian juga halnya dengan penduduk V kota. Daerah-daerah itu langsung berbatasan dengan Dataran Tinggi (Darek) dan oleh karena itu penduduknya cukup terpengaruh oleh ide-ide kaum paderi. Rupanya sejak dulu orang-orang paderi memang sudah ada di Pakandangan. Sebuah laporan belanda menyebutkan bahwa sebanyak 20.000 orang simpatisan paderi pernah mengungsi ke dataran rendah Padang ketika pasukan tuanku Pamansingan dikalahkan oleh kaum adat dalam pertempuran di Ladang Laweh dan Gunung Paninjauan di tahun-tahun awal perang paderi. Mereka mengungsi , antara lain ke Pakandangan, salah satu desa penting yang terletak di jalur yang menghubugkan Padang Darat dan pantai (Padang dan pariaman). Di awal operasi militer belanda saja menuju pedalaman Minangkabau pada bulan Januari 1820, masyarakat V Kota dan VII Kota pun sudah melakukan perlawanan kepada belanda. Di akhir tahun sebelumnya (November 1919), VII kota sudah coba ditaklukan Kompeni dari laut, tapi mereka dihadang di desa “bumper” Sunur.
Penyerangan terhadap konvoi pasukan letnan Bergman agaknya berkaitan dengan sikap masyarakat VII kota yang terpengaruh oleh ide kaum paderi yang anti belanda itu. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa penyerangan terhadap letnan Bergman dan pasukannya mungkin disebabkan oleh karakternya yang kasar dan mata duitan. Berkaitan dengan sifatnya yang terakhir ini, ia dilaporkan sering memeras kepala-kepala Nagari dan para pedagang di wilayah sering memeras kepala-kepala Nagari dan para pedagang di wilayah kekuasaannya ketika ia menjadi komandan militer di pariaman.
Pada tanggal 10 Januari 1827 satu detasemen Kompeni di bawah pimpinan letnan Creemer didatangkan dari Kayutanam untuk membuat perdamaian dengan penduduk VII kota sambil menyelidiki pembunuhan terhadap pasukan Bergman. Para penyerang konvoi pasukan letnan Bergman itu kemudian ditangkap oleh detasemen yang dipimpin letnan H.J.Y Engelebert van Bevervooden – orang ini kemudian menjadi komandan militer di pariaman - dan dibuang ke Jawa. Salah seorang di antara yang dibuang itu (tidak disebabkan namanya) pernah muncul di Pasar Kurai. Taji Tengkorak lentnan Bergman atau salah seorang anggota pasukannya yang ikut tewas). Ia membanggakan dirinya sebagai orang yang paling banyak membunuh orang belanda (orang kulit putih). Seorang lainnya yang juga dicurigai terlibat dalam penyerangan terhadap pasukan letnan bergman yaitu: “groote schurk” (bajingan besar) Baginda Te Namé (Bagindo{Su} Tan Ameh) asal Pakandangan, yang juga memperlihatkan sikap benci kepada Belanda. Bagindo [Su]Tan Ameh dicurigai pernah merencanakan penyerangan terhadap patrol Kompeni. Namun orang ini urung ditangkap karena tidak ada cukup bukti.
Tahun 1829 jabatan komandan sipil dan militer di pariaman dipegang oleh J.W.H. Everts; tahun 1832 giliran Engelbert van Bevervoorden yang menjabat (orang ini dengan beberapa pengawas Maduranya akhirnya tewas menggenaskan itu ditangan kaum Paderi di Lubuk Sikaping pada bulan Janurari 1833). Kemudian jabatan ini dipegang oleh letnan Grummlikhuizen. Tapi ternyata orang ini tidak dapat bergaul dengan penduduk pribumi. Belanda tidak ingin hubungannya yang sudah cukup baik dengan beberapa pemimpin local di kawasan rantau pariaman rusak hanya oleh tingkah laku pejabatnya yang kasar. Padang segera menarik letnan Grumme-likhuizen dan menggantinya dengan letnan dua J.C. Boelhouwer yang menjabat tahun 1833-1834. Dan pada tahun 1833 pos militer baru juga didirikan di Tiku untuk mengamati gerakan Paderi di utara.
Dengan semakin meningkatanya eskalasi politik dipedalaman Minangkabau Menjelang kejatuhan Paderi, belanda menyadari pula pentingnya menata kembali administrasi pemerintahnya di wilayah pesisir. Keharusan untuk menata kembali wilayah administrasi itu tentu sebagai akibat dari semakin meningkatanya aktivitas Kompeni di wilayah utara, baik ekonomi maupun militer. Mulai pada tahun 1834 wilayah luas di utara Padang yang membentang dari Lubuk Alung sampai ke arah Rao dan Lembah Alahan panjang dipedalaman dimasukkan ke dalam satu kabupaten baru dengan nama regentschap Pariaman, Bonjol en Rau.
Rupanyanya, tiga tahun Menjelang kejatuhan Bonjol, desa yang menjadi benteng terakhir kemudian, setelah Bonjol jatuh (1837), wilayah utara dimekarkan lagi menjadi satu distrik baru untuk menata dan mengontrol wilayah-wilayah yang diambil alih belanda. Sekarang dibentuk distrik baru di bekas kabupaten yang lama dengan nama Pariaman., Tikoe en de Danau Districten, yang hanya mencakup wilayah Lubuk Alung di selatan sampai ke Tiku di utara dan kawasan danau Maninjau dipedalaman. Untuk kelancaran pemerintahan sekaligus untuk mengawasi lalu lintas perdagangan dari pedalaman ke entrepot pariaman atau sebaliknya, belanda menempatkan orang-orangnya (mendirikan pos-pos penjagaan) di desa-desa penting di jalur perdagangan itu, antara lain di Tiku, Kayutanam, Sicincin, dan VII kota.
Secara politis, pada pertengahan dekade keempat abad ke-19 sebagian besar daerah pantai di wilayah rantau pariaman sudah dikuasi belanda. Mereka selanjutnya melakukan penetrasi ke pelabuhan-pelabuhan Paderi di utara, seperti Air Bangis, Sasak, dan Katiangan penyerangan-penyerangan dari laut di sekitar perairan Air Bangis ke arah utara yang dilakukan Belanda untuk memblokir akses kaum Paderi – ke pantai sekaligus menguasai kota-kota pantai di kawasan itu – hal ini sudah dilakukan sejak 1831 – banyak dibantu oleh satu gerombolan bajak laut yang sering beroperasi di perairan itu yang dikepalai oleh seorang asal Bugis bernama nahkoda lengkap. Walaupun kawasan pantai sudah dikontrol Kompeni, namun penduduk beberapa wilayah di belakang pantai yang berbatasan langsung dengan darek masih belum sepenuhnya tunduk kepada mereka. Oleh karenanya kegiatan niaga, terutama dari dan ke pedalaman, belum sepenuhnya dapat diorganisir dengan baik oleh belanda, terutama karena masih merajalelanya petani-pedagang yang berada diluar kontrol mereka dan menjual hasil buminya kepada pembeli asing lain, seperti orang cina.
Konsolidasi politik belanda itu tentu mempengaruhi kehidupan masyarakat pariaman. Kompeni hanya menghadapi masalah agak serius di Naras oleh adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Tuanku Nan Cerdik. Tuanku ini berang kepada Belanda karena ia tidak diakui sebagai Raja Manggung menggantikan mamaknya yang wafat. Yang berkerja sama, tapi sebenarnya tidak berhak atas Jabatan itu. Namun, keputusan Kompeni menggusur Tuanku Nan Cerdik tampaknya dilatarbelakangi pula oleh kebijakan politik belanda yang mencoba menghambat pengaruh paderi di Pariaman. Belanda menuduh Tuanku Nan Cerdik sudah lama berhubungan dengan orang-orang Paderi dan sering terlibat penyelundupan.
Di antara tuduhan yang dialamatkan kepada Tuanku Nan Cerdik adalah bahwa ia diduga telah membunuh orang Cina berkaitan dengan bisnis candu di Pariaman. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Tuanku Nan Cerdik yang sebelumnya pernah membantu Belanda merasa dikhianati dan belakangan menyebrang ke pihak Paderi. Pada pertengahan tahun 1819 Tuanku Nan Cerdik bersama pasukannya yang bejumlah kira-kira 400 orang telah membantu letnan Deliser merebut Ulakan dan daerah sekitarnya. Orang ini luar biasa berani, demikian laporan Deliser kepada pimpinannya, residen du Puy, di Padang. Setelah itu Tuanku Nan Cerdik juga membantu Belanda memasuki wilayah VII Kota. Mungkin karena khawatir melihat kehebatan Tuanku Nan Cerdik, Belanda tidak ingin orang ini berkuasa di Manggung menggantikan mamaknya karena nanti bisa membahayakan kedudukan belanda sendiri di pariaman. Mereka berpikir kalau tuanku yang berotak tajam dan ahli strategi perang itu diangkat menjadi penguasa di Manggung, mungkin akan menyulitkan mereka di masa depan. Akibat perlakuan Belanda yang licik itu, Tuanku Nan Cerdik naik pitam dan akhirnya balik memusuhi Belanda. Jadi, motif pemberontakan Tuanku Nan Cerdik, pada awalnya jelas karena ia dikhianati Belanda, bukan karena terpengaruh oleh ide Paderi.
Dikutip dari buku Surayadi. Syair Sunur: Teks dan Konteks ‘Biofrafi’ Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19. Citra budaya. Padang. 2004.

Beberapa Buku yang Saya Baca

LIST Of BOOK
____________________________

1.
Judul: Opium to Java: Jawa dalam cengkraman bandar-bandar opium Cina, Indonesia kolonial, 1860-1910
Penulis: Rush James R.
Subyek: Petani Pemakai Opium
Kota penerbit: Yogyakarta
Penerbit: Matabangsa;
Tahun terbit: 2000
Ukuran & jumlah hal buku: 604 hal.; 21 cm
Koleksi: Perpustakaan CSIS
Tipe buku: sejarah petani kecil dan eksploitasi

Buku ini secara pasti melihat bahwa petani menjadi alasan yang sangat konkret bagaimana penindasan menjadi nilai jual yang sangat tinggi, contohnya saja opium. Dimana pada pada masa cultuurstelsel atau tanam paksa di abad ke-19, para petani bukan saja ditindas dengan system colonial tapi juga dizalimi oleh konsumerisme pasar. Dimana opium dilegalkan juga di jadikan salah satu sumber utama dalam penghasilan Negara untuk mendapatkan visa.
Di buku ini di ceritakan bahwa opium tidak saja pada waktu itu belum diketahui secara umum bahwa ini adalah sejenis obat terlarang, tapi para kuli tanam paksa disini mengibaratkan opium semacam endorphin buat bekerja. Dan efek sampingnya pada waktu itu sengaja ditutupi oleh pemerintah dan di kuatkan lagi oleh kekolotan masyarakat jawa.

2.
Judul: Catatan Seorang demonstran
Penulis: Soe Hok Gie
Subyek: catatan harian
Kota penerbit: jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 2005
Ukuran & jumlah hal buku: 15,5 X 23 cm 385 hal
Tipe buku: pemikiran

Buku catatan seorang demonstran adalah pada dasarnya buku yang tidak sengaja dipublikasiskan karena ini adalah sebuah buku catatan harian. Buku ini membahas tentang pemikiran seorang mahasiswa jurusan sejarah fakultas sastra universitas Indonesia dalam melihat rezim soekarno telah mengalami sebuah megalomania yang tidak bisa didiamkan lagi, sehingga banyak dari tulisan tulisannya mengkririk tindakah soekarno yang pada waktu itu telah dan sedang hangat hangatnya ke poros kiri, yang di duga pada waktu itu tidak merepresentasikan kehidupan rakyat Indonesia yang demokratis.
Buku ini memberikan kita gambaran sejarah dan secara lebih relaitet karena menggunakan akal pikiran mhasiswa yang objektif dan ampera, disinggung juga bagaimana situasi dan kondisi pasca pemerbontakan komunis 1965 atau GESTAPU. Sehingga pembaca bisa menarik kesimpulan bahwa buku ini lebih condong kepada pemikiran seorang mahasiswa yang tidak dan tak kuat melihat Negara yang diobrak abrik oleh kepentingan pribadi.

3.
Judul: Pengantar Ilmu pariwisata
Penulis: Oka A. Yoeti
Subyek: pariwisata
Kota penerbit: bandung
Penerbit: angkasa
Tahun terbit: 1983
Ukuran & jumlah hal buku:584 hal tanpa ukuran buku
Tipe buku: ulasan pariwisata di Indonesia.
Buku ini diterbitkan kiranya dapat membantu pembaca dalam membantu dan menunjang kepada para pengelola yang sedang giat mengembangkan kepembangunan kepariwisataan yang sedang terjadi Indonesia dan dalam buku ini tidak pula banyak terjadi pengkompetisian terhadap sejarah yang pada dasarnya menjadi bentuk fundamental dari berkembang dan nilai jual dari porduk pariwisata id Indonesia.
Buku ini di tulis oleh Oka A. Yoeti yang telah banyak berkecimpung dan menangani berbagai masalah kepariwisataan. Segala di utarakan dalam buku ini tentu saja adalah hal-hal yang sangat per lu dipahami oleh siapa saja termasuk kaum sejarawan melihat bagaimana bentuk sejarah bisa menjadi akses dan lapangan kerja bagi sejarah public dan tentunya sejarah dalam konteks kepariwisataan adalah factor langgeng atau tidak daerah kepariwisataan daerah tersebut.

4.
Judul: Citra bung karno, analisis beriita pers orde baru
Penulis: agus sudibyo
Subyek: citra bung karno
Kota penerbit: yogyakrta
Penerbit: BIGRAF
Tahun terbit: 1999
Ukuran & jumlah hal buku: 248, ukuran tidak tercantum
Tipe buku: sejarah pers dan tokoh

Buku ini menelaah dan menganalisa citra bung karno dengan segala kelebihan dan kelemahannya dimana ia sosok yang intelektual, yang mana pemikirannya cukup cemerlang. Sebagai ideology ia telah mengalami berbagai pertentangan ideology dan cekal-mencekal orang yang tidak manyukainya. Disini secara objektif penulis buku ini menggambarkan bagaimana bentuk dan karisma topeng soekarno telah nyata dan gamblang rangka memasukan rakyat Indonesia ke gerbang kehancuran.
Secara pasti buku ini tidak hendak mengaduk-aduk emosi atau membangkitkan kembali romantisme lama tentang sosok bung karno yang kontroversial dan seringkali dipandang dalam prespektif yang ekstrim. Agus sudibyo, penulis buku ini, mengkaji sosok bung karno dalam batas otoritas ilmiah dengan disiplin metodologi yang sangat ketat.

5.
Judul: Karya Lengkap Bung Hatta
Penulis: Emil Salim (ed)
Subyek: Karya bung Hatta
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 1998
Ukuran & jumlah hal buku: 26 cm dan 616 hal.
Tipe buku: pemikiran
Tulisan bung Hatta banyak sekali baik dalam sudut pandang ekonomi, sejarah, filsafat, politik, budaya, sosial dsb. Sehingga ini membuktikan bahwa ada sisi menarik dari penulisya yang hinnga kini tetap relevan atau setidaknya dapat dijadikan refrensi yang sangat penting.
Seluruh karya tulis bung Hatta yang termuat dalam buku in disajikan apa dadanya dalam arti substansif, namun terhadapnya, baik tulisan asli maupun terjemahan menggunakan ejaan lama diubah dengan EYD. Sebagain buku ini termasuk gagasan dan pemikiran bung hatta yang sudah pernah diterbitkan dalam bentuk buku yang sleuruhnya berisi sejumlah karya bung Hatta, seperti keumpulan karangan I, II, III, dan I V (1953-1954).
Kiranya buku ini sangat menggugah hati anak muda untuk melihat bahwa sejarah tidak saja dilakukan dengan cara cara yang dilihat secara konkret dan secara adu otot tapi dilakuakn dengan cara yang sangat elegan, seperti yang dilakukan oleh hatta dengan melahirkan dan mencetak pemikiran-pemikiran yang brilian.

6.
Judul: Prime minister Sjahrir as statesman and diplomat; how the allies became friends of Indonesia and opponents of the Dutch (1945-1949);
Penulis: Algadri, Hamid
Subyek: Sjahrir, Sutan – biography
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 1995
Ukuran & jumlah hal buku: 135 & 24 cm
Koleksi: Pustaka Aksara

Buku ini berisikan tentang kehidupan politik Sjahrir di masa perang revolusi di Indonesia setelah agresi militer 1 dan agresi militer 2, secara sederhana buku ini menggambar kan bagaimana kehidupan perdiplomasian dan perpolitikan Sjahrir, yang dimana bukan dalam kacamata umum atau objektif tapi dibuku ini lebih kental memory personalnya.
Buku ini ditulis oleh Hamid Algadri seorang yang sangat dekat sekali dengan Sjahrir, ia menceritakan Sjahrir yang di usia muda bisa menghandle dan mengambil kesempatan yang berisiko tapi dengan untung berkali lipat, dimana Sjahrir digambar kan sebagai perdana menteri sebagai seorang negarawan dan diplomat. Sebagai perdana menteri pertama RI Sjahrir bisa dikatakan sukses membuka kesempatan diplomasi pertama dengan belanda dengan status sejajar dan setara.
Secara personal memory Algadri melihat seorang Sjahrir negarawan yang bisa membuat sekutu yang pada dasarnya terpengaruh pada belanda berubah akibat diplomasi Sjahrir yang membuat para sekutu menjadi sahabat dan di sisi lain sjahrir melalui diplomasi nya membuat sekutu menjadi lawan.

7.
Judul: Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah
Penulis: Tsuyoshi Kato, terjemahan Gusti Asnan dan Akiko Iwata
Subyek: Minangkabau
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 2006
jumlah hal buku: 291
Tipe buku: budaya

Orang di luar minang cenderrung melihat masyarakat Minang adalah sebuah ibarat puzzle dimana mereka bisa membuat asimilasi yang mantap terhadap influence yang masuk ke dalam budayanya, lihat saja orang Minang cukup kuat memegang prinsip Islam yang nota bene patrilineal dalam artian mereka mematuhi, menjalani, dan mensinergikannya, tapi di sisi lain adat malah memakai kebiasaan yang kontradisi dengan Islam yang dimana, kita bisa lihat matrileineal menjadi poros utama dari daerah Minngkabau.
Di buku ini Kato dengan cepat melihat bahwa seyonyanya konten dari buku ini adalah memberikan penggambaran bahwa orang Minang yan berbudaya merantau bisa tetap utuh samapai sekarang.

8.
Judul: Indochina persilangan kebudayaan
Penulis: Groslier
Subyek: asia tenggara
Kota penerbit: yogyakarta
Penerbit: gadjah mada university press
Tahun terbit: 1997
Ukuran & jumlah hal buku:
tipe buku: sejarah regional

Membicarakan tentang asia tenggara adalah sesuatu yang sangat eksotis bagi saya. Dimana keheterogenan bebagai suatu ras, religi, kultur, berbaur dalam sebuah kesinambungan kehidupan. Daerah asia tenggara bukanlah daerah yang mencoba untuak mengatur pola kehidupannya dengan sisitim tutup pintu atau politik isolasi yang sebagaimana diterapakan oleh negeri dai nippon. Justru asia tenggara adalah daerah yang mengalami berbagai macam percampuran, persilangan, penghapusan kebudayaan yang memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya. Sehingga tidak heran orang-orang asia tenggara tidak asing kita kenal sebagai orang indocina, yaitu orang yang mengadaptasi persilangan kebudayaaan.
Even yang sangat spektakuler dan berkesinambungan hingga terbentuknya masa depan asia tenggara adalah ada nya sumbangan kebudayaan dari bangsa cina dan india. Cina yang bermain secara arogan mencaplok dareah-daerah sekitarnya yang dianggap menguntungkan seraya berjibaku untuk menghilangkan kebudayaan setempat, sebaliknya orang-orang india bermain secara halus, yaitu berdagang menetap, mengedepanakan etika dan estetika di daerah yang didatanginya sehingga persilangan kebudayaan pun tetap di jalurnya.
Dilihat dari proses sejarah akan hadirnya indocina, vietnam adalah step pertama muncul dan berkembangnya awal kelahiran indocina di daerah utara, vietnam dijadikan sebagai daerah jajahan oleh cina khususnya yaitu daerah tonkin yang sekarang lebih dikenal sebagai cinanya vietnam, kerena begitu terinfiltrasinya oleh kebudayaan cina. Tercatat ada 2 kerajaan yang membentuk vietnam sesungguhnya yaitu kerjaan xich-cuy dan van tang. Dalam masa penjajahan ini cina menanamkan pengaruhnya yang kesemuanya adalah hal-hal yang disamping eksploitasi daerah dan orangnya, cina menerapkan hampir dari semua isi vietnam di hilangkan atau di rombak, dari segi bahasa mereka resmi memakai bahasa cina berserta idiogramnya, dari segi tulisan-dan pertama kali dikenal orang vietnam-dikhususkan juga ntuk memakai tulisan cina, yang dari sini tulisan ini diterima dengan baik sehingga orang-orang vietnam yang tes pegawai di cina banyak yang lulus.
Bukan dari sisi literatur saja asimilasi mengalir pesat di vietnam, dalam pengolahan atas dasar penguasaan tanah, orang-orang dongsong juga menerapkan ilmu cina untuk mengurung aliran sungai untuk diairi dan menguasai pertanian yang tetap. Dalam proses penjajahan ideologi ini, cina seraya membangun koloni-koloni nya sehingga berangsur-angsur masuk ke pusat kebudayaannya. Demikianlah aksi penjajahan tersebut dilakukan dengan kedua faktor diatas sajalah yang bisa di asimilasikan oleh orang cina karena tidak ada sistim lain yang bisa “dijajah” lagi.
Groslier juga memaparkan bahwa unit-unit kampung dan desa mulai terjadinya spesialisasi dalam betuk kerja akibat pengaruh cina, sehingga timbulnya kampung-kampung pengrajin dan kampung-kampung pedagang. Tata krama dan ritual kepercayaan juga dilakukan dengan cara yang sebelumnya yaitu terhadap roh-roh pelindung tanah serta kultus kemaharajaan konfusionisme juga berlaku, dimana maharaja dianggap sebagai dewa dunia, yang di jawa dikenal sebagai aspek mananggung kawula gusti.
Sejarah Vietnam bukanlah sebuah sejarah bangsa yang normal seperti bangsa lainnya , akibat dari kurangnya ilmu pengetahuan dan rasa kesosialan yang serentak, terpakasa Vietnam sebagai jajahan cina mangais-ngais, dan mengemis-ngemis untuk bisa menyatukan puzlle dari bangsanya sendiri yang nyatanya adalah bengsa ini merupakan sebuah sebuah komunitas-komunitas kecil sehingga terbentuk pribadinya yang statis sampai sekarang yang merupakanm warisan jajahannya yaitu cina.
Pentingnya pengaruh cina di tonkin, membuat negeri-negeri yang disekitarnya lambat-launpun, terkikis rasa independennya.tonkin dalam perannya bagi cina juga bermanfaat sebagai jalan parallel menuju India. Akhirnya tonkin dengan cepat menjadi center kepercayaan budha yang penting awalnya dengan mengunggsinya orang yang terdiskreditkan oleh kerajaan di cina, lalu komunitas ini menetap di Vietnam di abad 3 dan 4, dan bertemu dengan biarawan-biarawan budha dari songdiane, akhirnya berkembanglah budha yang tanpa membedakan kasta itu disitu yaitu Vietnam.
Disisi lain perkembangan indocina, yang digawangi oleh orang India menuju daerah asia tenggara dimulai sejak adanya kapasitas-kapasitas seperti ilmu pengetahuan kelautan yang membawa orang India untuk bisa menjelajah pantai-pantai asia tenggara sampai pulau nusantara yang jauh pastinya adanya pelayaran ini masih menjadi perdebatan karena minimnya sumber-sumber tulisan yang menceritakan tentang pelayaran ini. Tapi dilihat dari terbatasnya ilmu pengetahuan pada waktu itu, dapat disimpulkan bahwa proses emigrasi tidak terjadi secara massal. Hal lainnya selain emigrasi ada suatu perspektif lainnya mengatakan semangat nasionalis para pendeta budha dalam menguniversalkan agamanya, tapi paham ini bukanlah alasan yang konkrit dalam ekspansi India, namun sebaliknya ini adalah unsur tambahan atau unsur sekunder.
Dilihat dari dampak ekspansi India, bahwa gilang-gemilangnya pemahaman terhadap linguistik, tulisan, politik, hingga ilmu astronomi yang tiada tara bandingnya dengan ketepatan yang mutlak yang tidak disaingi oleh peradaban lainnya melalui keampuhan matematik yang mampu menghitung kalender hingga teknik eksploitasi tanah dan produk pengrajin, dapat disimpulkan influence yang berkembang adalah timbulnya suatu peradaban yang menggugah dengan tanpa unsur-unsur kekerasan menimbulkan wilayah yang dikenal sebagai daerah utara adalah rintisan cina dan sektor daerah rintisan India, sehingga tidak pelak timbullah suatu konsonan kosakata baru akibat dampak ekspansi ke-2 bangsa ini : INDOCINA.
Menilik kembali sejarah asia tenggara, kita lebih mengenalnya sebagai kawasan yang memiliki poin penting dalam menyelesaikan dilemma krusial sejarah moderen tahap awal. Asia tenggara tidaklah sama dengan eropa atau kawasan asia lainnya yang memiliki keseragaman kebudayaan, politikal bahkan religi. Kawasan asia tenggara seyongyanya hanyalah sebuah kawasan yang telah dipecah-belah jalur budayannya oleh sub kebudayaan cina dan India. Asia tenggara yang meiliki iklim panas, curah hujan yang tinggi, dengan tanah yang subur diimbangi dengan hutan yang lebat belantara.
Studi-studi sebelumnya mengatakan akan perkembangan dan transisi sebuah era tidak bisa dihilangkan lasnsung dengan asia tenggara, kawasan ini bukanlah kebangkitan renaisanns, reformasi, abad penemuan dll.Saya melihat bahwa para sejarawan masa lampau asia tenggara daratan (dan jawa pada tingkat rendah) secara khas memuat periodesasi berdasarkan disnasti (seumpanya, “ ayutthaya akhir, “Tou ngoo awal, “ “le”), sementara kebangkitan islam dan kedatangan eropa di pandang sebagai titik yang penting di pulau-pulau tersebut.
Anthony Reid juga memaparkan kegigihan bangsa barat khususnya spanyol dan portugis demi menemukan lada, cengkeh, dan pala yaitu semakin beratinya komoditi tersebut bagi bangsa eropa yang seyongyannya memiliki 4 musim,. Takakala tahun 1390-an, 6 metrik ton cengkeh dari satu setengah metrik ton pala asal maluku bagian timur indonesia diekspor setiap tahun ke eropa. satu abad kemudian jumlah tersebut membengkak menjadi 52 ton cengkeh dan 26 ton pala. Akhirnya produk-produk baru di ekspor di asia tenggara di abad ke-18 dalam jumlah lebih besar dibandingkan masa sebelumnya-terutama gula, kopi, dan tembakau. Bagaiamanapun juga hasil-hasil bumi trsebut adalah tanaman dagang yang dikelola oleh orang cina dan eropa.
Di asia dalam aspek militer, tumbuh dan berkembangnya penggunaan senjata api. Barang-barang ini tidak lepas dari peran pedagang muslim yaitu India, timur tengah, cina dan eropa untuk meriam sedangkan senjata api yang akan diprediksi akan menjadi landasan defensif yang sangat berperan demi kelangsungan kerajaan, dan bertekad sungguh-sungguh mendapatkannya yang seyongyannnya di impor dari portugis, turki, Gujarat, jepang dan minotritas muslim local seperti campa, melayu dan Luzon (muslim berbahasa tagalog yang berlokasi di kepauluan Mindanao, filipina). Pencapaian di bidang militer ini membuat hadirnya akumulasi kekusaaan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang pada puncaknya menguasai sebagaian besar wilayah birma dan Thailand saat itu.
Asia tenggara adalah daerah pluralisme yang berubah-ubah. Negara bengkit dan runtuh relatif singkat. Periode moderen tahap awal menjanjikan kebangkitan banyak negara yang kemudian membentuk identitas moderen asia tengah, baik nasional maupun etnis. Dan semua itu tidak lepas dari cikal-bakal persilangan kebudayaan yang menimbulkan indocina sebagai perintis awal sejarah asia tenggara.
Buku ini sangat menarik karena bisa mengupas secara jelas bahwa ada satu ikatan budaya juga kiranya dalam kawasan daerah asia tenggara yang komplek.

9.
Judul: catatan pergolakan pemikiran ahmad wahib
Penulis: ahmad wahib
Subyek: catatan harian, ahmad wahib
Kota penerbit:
Penerbit:
Tahun terbit:
jumlah hal buku: 395 hal
Koleksi: Perpustakaan CSIS l
Tipe buku:

Buku ini adalah sebuah catatan harian yang ditulis oleh Ahmad Wahib, dimana dalam ide-ide dan pemikirannya Ahmad Wahib mencoba untuk mengintegrasikan dirinya kepada cikal bakal Islam liberal, karena ketidak lepasannya terkait pada perkenalannya dengan Nurcholas Madjid, yang sekarang dikenal sebagai orang yang vocal mendukung aliran tersebut. Catatan harian Ahmad wahib ini bisa dibilang penuh dengan hal-hal fundamental, kritis, rasional dan controversial. Dia mencoba untuk mengetahui sejauh mana hebatnya tuhannya. Dia mengedepankan kebebasan berpikirnya untuk menjamah pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan dalam Islam, saat dia terteori bahwa Al-Qur’an pada saat sekarang bukanlah lagi sumber utama dari Islam karena gamabran situasi dam kondisi yang merefleksikan kandungan Al-Qur’an tidak lagi rasional untuk dijalankan saat sekarang, seabliknya dia mengatakan bahwa sejarah Muhammad saw lah yang sekarang jadi titik tumpu ke-Islaman itu.
Dalam catatan harian ini ia mencoba melihat dan menceritakan tentang perenungannya terhadap konstelasi Islam sekarang yang sudah tidak sekhusuk abad ke-7 masehi dulu. Dia juga berusaha keras mengedapankan rasionalitasnya untuk menanyakan hal-hal yang sumbernya telah mutlak, seperti Al-Qur’an tadi. Dari 395 halaman buku ini dibagi menjadi empat bagian yaitu tentang pemikirannya, politik, perenunnganyanya dan kepribadiannya.
Secara kesuluruhan buku ini menggugah perspektif kita tentang hal-hal yang semestinya masih rancu.

10.
Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Perasaaan setelah membaca buku ini campur aduk, senang, rindu, galau, kacau dan sedih. Semua perasaan saling menindih satu demi satu, terlintas sekali bahwa buku ini mencertakan dan mengalami banyak percobaan hidup yang tiada tara. Semua melebur menjadi sebuah cerita yang mempunyai makna yang disampaikan secara tersirat dalam, tegas dan dengan pembawaan yang tenang tapi dapat.
Buku ini adalah gambaran manifes orang Indonesia (dulu: Inlandeer/pribmi) pada tanah airnya sendiri. Di mana aturan-aturan colonial mengakibatkan ketimpangan status hak dan kewajiban, juga sangat kontras nya pembagian kasta yang sebelumnya kita lihat sangat tidak gamblang, tapi disini kita sendiri yang mengambil kesimpulan bahwa buku ini menjelaskan setiap kasta berserta hak dan tugasnya dengan gamblang: Eropa, Indo (peranakan/blasetram), dan pribumi.
Awal kisah buku ini diawali dengan seorang tokoh bernama Mingke, sungguh janggal pada awal abad penutupan 19, nama keluarga tidak dicantumkan hanya Mingke saja, ia bersekolah di H.B.S. setinggkat SMA pada saat sekarang, memiliki berbagai macam persoalan pada sekolah yang agak cukup rasis lalu berkenalan dengan seorang wanita Indo bernama Annelies Mallema, ia wanita yang kekanak-kenakan, tanpa sadar keduanya saling jatuh cinta, dan membuat Mingke janggal dirumah Annellies yang disruruh oleh ibunya yang biasa disebut nyai Ontorosoh (Belanda: Buitenzorg). Tanpa sadar ikatan keduanya saling bergantungan, walaupun tidak banyak kendala dalam internal itu sendiri, tapi masalah yang krusial adalah cinta mereka dianulir oleh hukum Belalnda yang pada masa itu tidak menvamtumkan pribumi walhasil saat ayah Annelies meninggal ia harus tinggal di Nederland bersama kakak tirinya, padahal ia punya ibu kandung yang belasan tahun tinggal bersamanya, tapi sayang ibunya pribumi sehingga dia dianggap tidak syah sebagai istri dan tidak syah punya anak, karena Nyai adalah seorang gundik dari ayah Annelise Herman Mallema.

Dalam buku in bagaimana secara gamblang dengan pembawaan realisme Toer yang membebankan peristiwa pada tahun 1890-an itu, kita serasa dibawa kembali ke zaman itu.
11.
Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Tak pernah terbayangkan bahwa buku ini benar benar meyedot roh dan raga anda, semua plot dicampur dan dipersonalikasikan kepada pembaca. Kita dibawa hanyut dalam ombang-ambing masalah kehidupan, sebuah mozaik yang dianggap kecil meledak menjadi sebuah kerangka yang problematic sekali.
Buku ini adalah buku kedua dari tantralogi roman BUMI MANUSIA. Buku ini memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka. Perngarang benar-benar memberikan doktrin kepada pembacanya seolah-olah itu semua hal yang tidak langsung dalam arus cerita, buku ini benar-benar mengedepankan rasionalitas dalam semua alurnya, juga terselip hal-hal humanis untuk dipelajari.
Pada buku ini, sesuatu yang selalu kita harap-harapkan untuk pulang di buku pertama ternyata kandas juga. Apa pasal? faktanya ada sebuah karakter yang telah direngut sang pencipta, belum lagi perkara-perkara kolonialisme yang nanti mencengkram Mingke dan Nyai Ontorosoh, semua orang bersatu disini memberikan pertahanan terhadap nilai-nilai dan hukum kompeni yang masih meng-agung-agungkan rasime.

Menarik juga kita kaji hal-hal yang menjadi pertanyaan berantai pada buku pertama terjawab di buku kedua ini, contohya saja siapa si Gendut kenapa tuan Robert dan Herman menghilang, dan lebih takjubnya lagi ada nyawa baru di dalam Boorderij Buitenzorg, seorang mahkluk yang masih baru, kecil, dan ballita. Disini juga Mingke yang telah di doktrin dan memuja barat/Eropa mulai melihat dan peka terhadap sekitarnya atau para kaum-kaum melarat dan terdiskredit yaitu: rakyat nya sendiri.
Pramoedya benar-benar dalam bentuk tulisannya , kita tidak hanya berpikir saja dalam buku ini tapi kikta “dihatikan”, dalam artian membawa sebuah sentimentilitas untuk dipecahkan. Bagi yang membaca buku ini bersiap-siaplah untuk menyiapkan mental, karena ini benar benar sebuah masterpiece yang susunan, ritme, dan melodinya benar-benar akan membuat kita shock
Untuk buku ini penulis (saya) salut terhadap pengarang, benar-benar angkat topi, dan tiada dalam hati untuk mengacuhkan buku ini pada anak cucu nanti, mahakarya agung, sangat dalam, puitis, realis, penuh makna.
Empat rangkaian buku yang terindah yang pernah saya baca.

12.
Judul: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

13.
Judul: Rumah Kaca
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Buku ini benar-benar diluar dugaan, menceritakan kepada kita bagaimana ideallisme adalah harga disi apapun itu lawannya. Rumah kaca buku keempat dari tantralogi Bumi Manusia, lebih banyak menceritakan bagaimana pemerintah Hindia Belanda, mengontrol kegiatan pribumi agar tidak jadi membelot. Sehinga dikenallah rumah kaca, rumah yang bisa di awasi dari mana saja.

***