ISLAMISASI ASIA TENGGARA

Islam di Asia Tenggara menyajikan kepada kita bukti-bukti dari dalam maupun dari luar mengenai sejarahnya, sama seperti tradisi keagamaan lainnya. Bukti dari dalam berkaitan dengan soal iman sebagaimana bukti internal mengani peralihan Inggris menjadi Kristen.

Hampir seluruh kronik Asia Tenggara mengambarkan peristiwa-peristiwa gaib yang menyertai peralihan sebuah Negara menjadi Islam, namun perbedaan di antara jenis campur tangan iliahiah itu tentu perlu pula diperhatiakan. Kronik-kronik Melayu seperti kronik Pasai, Melaka, dan Patani tidak berbeda secara mencolok dengan cerita-cerita yang berasal dari bagian dunia lain. Titik berat kronik-kronik tersebut adalah pewahyuan lewat mimpi, seperti kronik-kronik tersebut adalah pewahyuan lewat mimpi, seperti kronik tentang penguasa Pasai dan kemudian Melaka, atau kekuatan mukjizat wali Allah, seperti Shaikh Said dari Pasai menyembuhkan penguasa Patani (Brown 1953:41-42). Kronik-kronik ini tidak ragu menggambarkan kekuasaan para penguasa dan asal-usul Negara dengan menggunakan konsep kekuatan magis (kesaktian) yang berasal dai masa pra-Islam, namun tampak jelas deskripsi proses Islamisasi dijaga agar tetap berada di dalam batas-batas yang dapat diterima oleh kalangan Muslim di sebagaimana besar dunia.

Berrusan dengan arwah
Karya-karya etnografi yang sejak seratus tahun terakhir menyinggung tradisi “animis” Asia Tenggara memperlihatkan dengan sangat jelas konsistensi tertentu akan keyakinan keagamaan yang dianut. Segi umum paling mencolok dari system kepercayaan ini adalah keterlibatan terus-menerus orang yang talah meninggal dunia dalam urusan-urusan mereka yang masih hidup. Wabah penyakit, malapetaka, dan gagal panen dianggap sebagai akibat dari kejengkelan arwah leluhur yang tidak dihormati dengan upacara-upacara semestinya, atau akibat gangguan para arwah penasaran atau tidak bahagia yang mungkin hanya bisa dilawan dengan perlindugan roh leluhur yang baik atau bahagia. Ekspresi ritual dari keyakinan ini merupakan inti dari semua system keagaaman yang menylenggarakan upacara-upacara agama yang rumit bagi orang yang telah meninggal dan mendoakan arwah leluhur pada setiap ritus peralihan (rite de passage) atau pada upacara kalender pertanian. Maka tidak aneh ketika diperlukan istilah untuk membedakan agama tradisional itu dari Islam atau Kristen sering dipakai nama “jalan para leluhur” (aluk to dolo di Sa’dan Toraja; Marapu di sumba Timur).

Singkat kata dapat sidimpulkan bahwa system keyakinan agama dominan Asia Tenggara ketika islma datang pada abad ke-14 sampai abad ke-17 sarat dengan berbagai upacara pemujaan untuk orang yang sudah meninggal. Dibadingkan dengan pola umum ini, lingkup pengaruh kaum Brahmana pada sebagian besar istana kerajaan jauh lebih terbatas, kecuali barangkali di beberapa bagian pulau Jawa.

Perubahan cepat dalam praktik pengrburan dengan diterimanya Islam tampaknya merupakan salah satu keberhasilan paling mencolok dari agama baru ini.

Untaian kosa-kata doa berubah ke dalam bentuk yang Islam jauh lebih capat daripada tujuan yang ingin dicapai oleh pamakainya. Sebuah doa yang dipanjatkan dalam bahasa Arab setidaknya sama ampuh dengan mantra yang digantikannya untuk mengusir roh-roh jahat atau memohon perlindungan arwah nenek moyang. Terminology berbahasa Arab dengan cepat memasuki wilayah keagamaan hampir di semua tempat –baca do’a (membaca sebuah doa bahasa Arab) menjadi istilah baku untuk kegiatan menyeru atau memohon keselamatan; roh (jamak arwah) diterima sebagai padanan yang Islami dari konsep pokok semangat (substansi roh) dalam budaya Austronesia; dan beberapa kata seperti berkat dan keramat merupakan gambaran kekuatan yang memancar dari makam para wali.

Diantara semua agama besar dunia, Islam barangkali yang paling serasi dengna dunia perdagangan, dan di dalam Quran maupun Hadis bertimbun-timbun pujian kepada “pedagang yang dapat dipercaya” yang memperoleh keuntungan dagang untuk kebutuhan sendiri, keluarganya, dan keperluan lain yang bermanfat. Di Asia Tenggara, Islam dibawa oleh para pedagang, dan dengan cepat mengubungkan dirinya dengan gaya hidup kota-kota niaga yang relatif makmur dan canggih.

Mereka yang cenderung bergerak dalam dunia perniagaan pasti segera terpikat dengan kepercayaan baru itu dengan alasan berbeda. Roh para nenek moyang, pepohonan, dan gunung-gunung tidak bisa dibawa berpergian dengan mudah. Pedagang yang berpindah-pindah tempat membutuhkan sebuah keyakinan yang dapat diterapakan secara lebih luas. Jika dia berdagang keluar pulau, maka dia perlu bekal bahasa Melayu dan butuh diterima oleh lingkungan serta ralasi disetiap kota perniagaan. Islam oleh lingkungan serta relasi di setiap kota perniagaan. Islam menyediakan system kepercayaan meupun system social bagi para pedagang ini.

Negara-Negara Besar
Ditempat lain, di Negara-negara kota besar, situasi segera berkembang menjadi “raja adalah penyembah berhala, sedangkan pedagang adalah orang Moor.” Demikianlah Rui de Briot ketika menggambarkan keadaan Brunei pada 1514 dan hal serupa tentu berlaku pula untuk Samudra Pasai pada 1282 (ketika seorang raja non-Muslim mengirim utusan Muslim ke abad ke-15, Banjarmasin awal abad ke-16, dan Makasaar akhir abad ke-16. Bahkan dipusat-pusat peradaban Buddha terbesar, Majapahit abad ke-14 dan Ayutthaya abad ke-15 hingga ke-17, para pedagang Muslim telah memantapkan diri dengan kokoh ibukota dan tampaknya memiliki hubungan lebih baik dengan istana ketimbang kelompok niaga lain, termasuk orang-orang Cinan non-Muslim. Namun istana-istana tersebut memiliki sejumlah tradisi kerajaan bersifat sacral yang tentu tidak sesuai dengan Islam, dan khusunya mereka memandang rendah semua komunitas pedagang sebagai orang-orang berstatus relatif rendah.

Perkawinan campuran antara para pedagang kaya atu syahbandar dengan lingkaran istana kerapkali disebut-sebut dalam hubungan itu. Perubahan yang terjadi biasanya disebabkan oleh keputusan yang diambil secara sadar, atau dengan unsure paksaan, untuk menerima jaran dan system social baru.

Islam dan Istana Majapahit
Menurut cerita tradisi Jawa yang terekam dalam berbagai macam bentuk sejak abad ke-17 dan seterusnya, sumber-sumber eksternal utama pengaruh Islam adalah Campa dan Pasai. Tokoh penting dalam kisah itu adalah puteri Campa, anak perempuan penguasa Campa yang kemudian menjadi istri raja Majapahit. Menurut tradisi Jawa, saudara perempuan puteri ini menikah dengan seorang pedagang Arab kaya raya di Campa dan dari ikatan perkawinan ini lahir satu atau dua anak laki-laki yang memadukan kesalehan Islam dengan darah biru yang diharapkan. Anak tertua, dalam versi-versi tempat di dimunculkan, berangkat ke Jawa untuk menjadi imam mesjid gresik. Anak laki-laki yang lebih muda (beberapa versi mengatakan anak satu-satunya) adalah Raden Rahma yang terkenal itu, datang mengunjungi bibinya di istana Majapahit, tempat dia diterima dengan sangat istimewa. Akhirnya dia diperbolehkan oleh peguasa untuk meneruskan perjalanan ke Ampel dekat Surabaya untuk mendirikan sebuah komunitas keagamaan dan mengIslamkan setiap orang yang dia pilih.

Factor-faktor yang belum cukup banyak dipertimbangakan dalam perbincangan tentang sejarah Jawa periode ini adalah kaitan antara hubungan eksternal Majapahit dengan Islamisasi. Bukti dari Nagarakertagama bahwa pemberi upeti raja Hayam Wuruk melebar hingga Sumatara bagian utara, Malaya, Campa dan Maluku dipandang sebagai sebuah kemungkinan adanya pengaruh Jawa di daerah-daerah ini. Namun kita tahu dari hubungan “pemberi upeti” Cina, Siam, Malaka dan tempat–tempat lain bahwa tukar-menukar upeti ini bersifat timbal-balik. Relasi perniagaan berkala antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan yang jauh itu tentu saja terjadi, karena hal ini dipertegas baik oleh sumber-sumber non-Jawa (Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Silsilah Raja-Raja Simbas, Hikaya Badjar) maupun oleh sejumlah besar tradisi lisan pulau-pulau bagian timur Indonesia.

Bebarapa Negara yang mengklaim sebagai pemberi upeti Majapahit adalah Negara-negara Muslim, termasuk Haru, Perlak, Samudra (Pasai), Lamur dan Barus di Sumatera, serta barangkali Trengganu di Malaya.

Hikayat raja-raja Pasai (161, teks Melayu, 102) melaoporkan tentang Majapahit bahwa, “terus datang dan pergi orang-orang dari wilyaah seberang lautan yang telah tunduk di bawah kekuasaan raja.” Bebereapa di antara mereka tentu orang Muslim, termasuk sejumlah tawanan yang dibawa pulang dari ekspedisi majapahit yang berhasil dari Pasai.

Sebagai kesimpulan kita perlu membedakan antara kemajuan bertahap yang dibuat oleh Islam pada aras masyarakat degana kemenangan yang berhasil diperoleh di istana kerajaan-kerajaan yang terpengaruh budaya India. Factor kunci pada aras masyarakat adalah perubahan social Asia Tenggara yang pesat dan keamampuan praktik sufi yang telah tersaring lewat India pada abad ke-13 hingga abad ke-16 melayani dunia roh yang akrab bagi orang Asia Tenggara. Runtuhnya istana-istana yang terpengaruh budaya India ke tangan Islam memerlukan beberapa factor penjelas tambahan, termasuk jaringan perniagaan dan hubungan upeti yang dimapankan oleh Majapahit dan perimbangan kekuatan yang berlaku di Nusantara khususnya.

SUMBER: Anthony Reid. Sejarah Asia Tenggara Sebuah Pemetaan. Jakarta. LP3ES. 2002

Critical Review: Penelitian konflik suku dalam masyarakat multi-budaya

Dalam tulisannya Timo Kivimäki menyajikan tinjauan umum tentang perkembangan terkini studi konflik suku dalam kaitan dengan upaya memilihara perdamaian di Indonesia.  Dalam tulisannya Timo memusatkan perhatiannya pada 6 pokok bahasan:

1. Arah perkembangan konflik suku saat ini;

2. Akar penyebab konflik;

3. Suku dan konflik;

4. Strategi untuk mengatasi dan mencegah konflik;

5. Kemiskinan dan konflik suku;

6. Mencegah konflik melalui pertukaran pikiran

Karena disini saya sebagai kritikus amatiran mencoba untuk menelaah sedikit bagaimana pemikiran dari Timo, dan apabila untuk jelasnya, apabila pembaca ingin melihat keseluruhan dari isi dari buku Timo ini, maka sangat sayang sekali apabila pembaca sudah membaca tulisan saya ini, tapi belum membaca keseluruhan dari ide-ide dari Timo ini. Jadi seperti yang saya singgung diatas maka tulisan ini adalah bersifat kritikal review.

ARAH PERKEMBANGAN KONFLIK SAAT INI

Dari apa yang dipaparkan oleh Timo dalam tulisannya ia mengatakan bahwa arah perkembangan konflik sekarang hadir karena banyaknya pihak luar melibatkan diri, memihak salah satu pihak dalam konflik. Adanya tentara swasta mutlinasional yangmendukung satu atau beberapa pihak semakin mengaburkan perbedaan antara perang saudara dengan perang antar Negaral konflik dalam perbedaan antara peang saudara dengan perang antar Negara. Konflik dalam Negara biasanya berbeda dampakanya dari satu wilayah ke wilayah yang lain negeri bersangkutan.

Seperti apa yang dipaparkan oleh Timo kecenderungan yang terjadi adalah banyaknnya masuk intervensi asing dalam daerah-daerah yang memiliki status quo yang lemah dalam mengontrol stabilitas local, dan kenyataannya memang begitu, apalagi daerah itu ditambah dengan banyaknya memiliki potensi SDA yang banyak untuk dieksplor.

Berkaca kepada Indonesia, Timo menyebutkan setelah runtuhnya Uni Soviet maka banyaknya muncul unsur-unsur nasionalisme dan demokrasi dengan aspirasi-aspirasi politiknya dari kawasan-kawasan pecahan Uni Soviet,  begitu pula dengan indonesiea, maka selepas adanya euphoria reromasi setelah lengesernya Soeharto ke Prabon, maka dengan tiba-tiba aspirasi politik dan nasionalisme muncul. Sementara kudeta yang berhasil, revolusi, atau perubahan pemerintahan di Negara sosialis hamper selalu membawa pemerintahan yang pro barat ke tampuk kekuasaan, namun tidak jarang kekuatan-kekuatan yang menggulingkan pemerintahan itu kemudian terpecah-belah tidak lama kemudian. Khususnya di Indonesia meminjam kata dari Timo hal ini di Indonesia menyebabkan adanya fragmentasi kehidupan politik, dan turut meneyebabkan kekerasan dan keruntuhan Negara.

AKAR PENYEBAB KONFLIK

Di sini disinggung oleh Timo sebab-sebab  perang, di satu sisi adanaya pemikiran menekankan motivasi dan kehidupan yang kurang sejahtera kekelompok yang mencetuskan konflik langsung, dan mencoba menjelaskan kekerasandari perspektif itu (model ‘ketimpangan kesejahteraan’ atau model ‘kecewa’).

Sebuah penelitian world bank dyang dilakukan oleh Paul Collier dan Anke Hoeffler (1998) menemukan bahwa konflik lebih banyak menyangkut ‘keserakahan’ daripada ‘rasatidak puas’: pihak-pihak yang terlibat dalam konflik lebih sering mengejar keuntungan ekonomi yang timbul dari situasi perekonomian yang kacau daripda memperbaiki status kelompoknya yang hidup kekurangan. Konflik kemungkinan bsar terjadi jika Negara terlalu lemah sehingga tidak berdaya mencegah pengerahan kekerasan atau menghentikan aparat keamanannya melakukan pemerasan ataupenganiiayaan. Dari sisi peluang, soal kesempatan untuk melanarkan protes tanpa kekerasan dan mengungkapkan rasa tidak puas juga relevan. Bukti empiris menunjukan bahwa memperbanyak saluran-saluran tanpa-kekerasan untuk mengadakan perubahan dapat mengurangi konflik dalam jumlah besar. Pencegahan konflik berdasarkan pemikiran ini menekankan pembangunan demokrasi, struktur lembaga-lembaga penyelesaian konflik, dan aparat keamanan yang professional dan transparan.

Ironisnya apa yang dianalisa oleh Timo benar-benar mengungkapkan realitas yang sebanarnya, dimana kebanyakan masyarakat menganggap hal itu sebagai realitas yang wajar dengan cara menjadi opurtunis dalam kekisruhan.

SUKU DAN KONFLIK

Mengutip kata-kata Rummel (1997), menurut Rummel, jumlah suku menjelaskan seperlima dari perbedeaan yang ditemukan di antara semua Negara yang dilanda kekerasan dahsyat seperti perang gerilya dan perang saudara.  Keberagaman suku ini juga sudah menjelaskan resmi bagi kekarasan di Indonesia. Namun kesimpulan ini didasarkan pada data konflik dari 1932-1982, data yang lebih baru cenderung menunjukan bahwa perlu ditambhakan beberapa catatan pada kesimpulan ini.

Memang banyak sekali studi-studi kasus seputar perang antar suku, seperti di Kalimantan, Papua, dan juga SARA seperti di Maluku.

Kalau melihat analisa dari Timo yang mengatakan bahwa hal yang paling memicu konflik adalah saat 2ekelompok suku turutama bersiang untuk merperoleh kekuasaan . masyarakat yang terdiri dari banyak suku yang sama-sama kuat cenderung, sama seperti halnya masyarakat bersuku tunggal, tidak mudah melancarkan perang.

STRATEGI UNTUK MELERAI & MENCEGAH KONFLIK

Dalam tulisannya Timo menjelaskan dalam peleraian dan pencegahan konflik; konflik tidak akan dapat dicegah atau dilerai bila pihak-pihak yang bersangkutan tidak memiliki tekad yang kuat untuk mengatasi potensi konflik atau konflik yang terjadi. Namun, pencegahan konflik dapat didukung dari laur. Ada 3 pendekatan pendukung:  pengelolaan konflik, penyelesaian perselisihan, dan trenformasi konflik.

Dalam pendekatan pengelolaan konflik, peluang-peluang untuk mencegah konflik kekerasan ditemukandlam pengelolaan perilaku konflik. Jika perilaku konflik dapt dimasukan ke dalam lingkup persaingan, konflik daapt diatasi malalui persaingan tanpa kekerasan.

Dalam bidang penyelesain perselisihan, telah dikembangkan berbagai teknik dan filsafat perundignan. Sebuha proyek yang berpengaruh dari International Institute of Applied Systems Analysis’s, ‘Processes Of International Negotiation,‘ menemukan sejumlah hal yang sama di antara berabgai persyaratan untuk mewujudkan penyelesaian perselisihan yang berhasil. Perudngingan berhasil biasanya tergantung pada adanya jalan buntu yang merugikan kedua belah pihak sehingga membuat situasi sudah masak untuk sebuah penyelesaina. Hasil-hasil ini menyangkut akar-akar penyebab konflik dan mencoba mengembangkan alat-alat penyelesaian perselisihan dan memerpabaiki mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perselisihan di masa datang.

Transformasi konflik, seperti tampak dari namanya Timo menjelaskan hal ini terkait pada struktur-struktur yang menimbulkan perselisihan dan menurunkan ambang kekerasan dalam hubungan antar keolompok. Pendekatan ini sangat cocok untuk dijadikan strategi mencegah konflik dengan menggunakan kerjasama pembagunan yang memenuhi syarat yang ditetapkan ODA sebagai alatnya. Kerja sama pembangunan sellau membawa dampak pada struktur ekonomi, dan juga sangat sering mengandung implikasi bagi konflik. Inilah sebabnya mengapa, misalnya, DAC dari OECD menekankan tranformasi sebagai salah satu strategi utama untuk mencegah konlik. Namun, tranformasi konflik tidak terbatas hanya pada penggunaan alat-alat kerjasmaa pembangunan semata-mata.

Dengan memberikan solusi seperti di atas, penyelesaian konflik yang sinergi dan berkutuniunitas adalah hal yang sangat paling dasar dalam membuat rekonsiliasi di suatu wilayah, namun yang menjadi pertanyaan tentunya, bagaimana Indonesia khusunya mencoba menjembatani antara pihak masyarakat pribumi yang khususnya masih bertindak intuisi terhadap kasus konflik ini, tentunya bukan bermaksud pesimis, tapi dari pengamatan saya justru konflik di setiap wilayah ndonesia masih ada malah ditambah larut-larutkan suhunya oleh elit, militer, sdan wasta untuk membuat sebuah hegemoni pribadi didalamnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

KEMISKINAN DAN KONFLIK SUKU

Kemiskinan adalah hal yang sangat krusial dalam membaut konflik baru, dimana kemungkinan eprang terjadi di antara Negara/wilayah terbelakan boleh dikatakan kecil dan paling tinggi di antara Negara/wilayah yang sudah agak berkembang, dan kemungkinan itu rendah sekali bial suatu Negara telah berkambang lebih jauh.

Pada waktu bersamaan, jika rakyat sejahtera, biaya mobilisasi sangatlah tinggi sehingga menghambat petualangan-petualangan dengan kekerasan. Dalam hal Indonesia, tampaknya banyak daerah miskin, seperti Papua dan sebelumnya Timor Timur, yang sedang berada pada tahap pembangunan yang paling rawan konflik. Jadi, pemberantasan kemiskinan di Indonesia tampaknya memiliki efek mencegah konflik, yang tidak terlalu menimbulkan kontroversi.

KESIMPULAN

Dengan melihat seluruh dari tulisan Timo ini, saya sangat apresiatif sekali, bahwa tulisan ini banyak mengemukakan seputar pencegahan konflik yang didasari pada bentuk objektivitas universal, bukan dalam ruang lingkup Eropa atau Barat, tapi ini menggunakan pendekatan studi kasus atau pengalaman yang dihimpun dari 120 konflik di setiap belahan dunia. Sehingga menurut saya tulisan Timo ini sangat pantas untuk membuka wawasan kita terhadap masalah etnisitas, agama, perang saudara yang telah menyudutkan masyarakat yang tidam memiliki kepentingan di dalamnya dan hanya menjadi pion dari ikut arus dalam masalah konflik ini.

Dengan melihat secara berurutan tema dan skema yang diberikan Timo, tentu masih ada banyak hal yang masih kurang, seperti masih kurangnya analitis yang komprehensif terhadap studi kasus, penggunaan apliasi penyelesaian yang lebih spesifik, dan tentunya adalah bagaimana bentuk kongkret dari penyelesain ini diluar kerangka akademis dan penyelesaian yang lebih bersifat partisipatif. Auf Wiedersehen!

KAMI INGIN NEGARAWAN!

Oleh: Hendriko Firman*

Sudah menjadi pertanyaan klasik apabila kita menanyakan kenapa negara-negara barat lebih struktural dalam segala bidang dan juga cenderung manusiawi perilaku pemerintahnya kepada rakyatnya, jawabannya adalah: karena di negara-negara barat kita menemukan banyak para negarawan dan reinkarnasinya.

Rakyat mana yang tidak bangga apabila negaranya masuk ke dalam Guinness Book Record yang juga menduduki posisi dan rangking yang cukup prestiese di dalam buku itu, salah satunya yang cukup membanggakan secara kuantitas dan membuat kita semua ber-harakiri karena kualitasnya adalah perihal masalah negara “maling” atau posisi strategic korupsi kita, yaitu kita berada di dalam urutan list 5 besar Negara korup di dunia. Hal yang membanggakan bukan?

Sekarang yang menjadi pertanyaan, kenapa Negara ini begitu banyak koruptor baik di pusat apalagi di dearah bak raja-raja feodal lokal, kenapa bagitu banyak kongkalikong pejabat maling, kenapa begitu banyak sistem birokrasi yang “melacur”, kenapa begitu banyak prejudice terhadap konstelasi demokrasi kita? Jawabannya yaitu: semua itu tidak terlepas semakin berkurangnya kapasitas Negara ini untuk memperkuat dirinya dengan menyediakan para negarawan-negarawan tangguh yang notabene sebagai primus intervares bagi Negara yang labil ini. Dimana ketimpangan ini menyebabkan Negara ini selalu terjebak kepada masalah-masalah politik yang menjijikan dengan topeng membantu rakyat, tapi kita lihat orang-orang yang menganggap dirinya sebagai representasi masyarakat kecil justru banyak mengabaikan rakyat kecil itu sendiri, hal itu bisa kita dari banyaknya para politikus yang tercebur kepada sistem jabatan basah dan apriori kepada konstituen yang dibangunnya sebelumnya.

Politikus no, negarawan yes!
Kenapa kita butuh negarawan? Faktanya sebenarnya kita tidak butuh negarawan, tapi sistem demokrasi itu sendiri yang harus memiliki negarawan, karena hukum kesinambungan antara perihal kedua itu tidak bisa dilepaskan, dimana hukum symbiosis mutalisme harus dipraktekan apabila kita ingin benar-benar menerapkan sebuah Negara yang menjalakan sistem demokrasi yang sehat dan efektif. Yang mana demokrasi sebagai sebuah alat pada klimaksnya akan menghasilkan para negarawan, dan kunci keberhasilan dari Negara-negara barat yang lebih maju negaranya adalah karena telah banyak memiliki negarawan, jadi secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa munculnya negarawan sebagai indicator barometer dari progress-nya demokrasi kita, jadi tanpa adanya negarawan maka kita masih menjalankan sebuah sistem “menuju demokrasi”, bukan lagi menjalakan demokrasi seperti mana biasanya.

Kenyataan yang kita lihat sekarang adalah kita tidak memiliki satupun negarawan untuk masa kontemporer ini, yang ada adalah kita masih terjebak kepada bentuk prestise untuk menjadi abdi ‘politikus’, karena pada dasarnya banyak orang yang terjabak ke dalam arena politik, menganggap bahwasanya menjadi abdi politikus sebagai klimaks dari wujud puncak dalam karir politik mereka. Tapi kenyataannya perihal yang musti ditindak lanjuti adalah politikus tidak lebih dari sekedar orang yang berpraktek politik (memperoleh kekuasaan) sedangkan kita lihat dari perspektif negarawan bahwasanya negarawan bekerja untuk mempraktekkan pengabdian kepada rakyat. Kedengarannya memang klise mengingat apa yang dilakukan oleh negarawan adalah suatu hal yang eksklusif sekali, karena ia menyangkut pengabdian yang langka kepada otoritas Negara.

Merubah Outcome Partai
Ribut-ribut yang terjadi sekarang menjelang pemilu Pilpres 8 Juli mendatang tidak lebih dari banyaknya politikus yang terlalu sibuk cari pamor, cari citra serta ekspos diri guna menunjukan eksistensi mereka sebagai orang yang berada di front line dalam acara bagi-bagi kekuasaan (baca: berpolitik). Dengan alhasil apabila mereka bisa mengeruhkan suasana maka implikasi yang terjadi adalah politikus bisa mencari kesempatan di dalam melakukan lobi-lobi politik seputar jatah bagi-bagi kue kekuasaan.

Jadi apa yang kita butuhkan untuk tetap melaksanakan demokrasi yang semakin termarginalisasi ini adalah dengan merombak seutuhnya sistem kerja partai yang cenderung melupakan azas pengkaderan yang murni, bukan saja harus meninggalkan sistem oligarki partai, juga dalam hal ini adalah harus adanya bentuk pendidikan politik yang berlandaskan kepada implikasi-implikasi moral dan psikologi historis kepada anggota partainya. Bukan saja dari sisi partai sebaliknya negarawan bisa hadir dari orang-orang yang cenderung masih hijau dalam perpolitikan atau orang-orang yang berada di luar circle dari parpol, antara lain aktivis, anggota LSM, dan kalangan akademisi.

Dengan merubah konstruksi outcome dari politikus ke transisi negarawan kita akan mengalami sebuah tranformasi besar-besaran dalam rangka mambangun kapasitas Negara yang kokoh, tidak di intervensi, dan self sufficient. Belajar dari masa lalu dimana M. Hatta sebagai seorang negarawan, bisa kita petik pelajaran dari bapak proklamator ini untuk bersahaja dalam politik, mendoktrinasi pendidikan politik, memiliki kecakapan mengurus hal-hal yang detail sampai ke hal yang besar. Memang Hatta sudah menjadi kenangan dari kita semua, tapi apa yang ia aplikasikan ke Negara ini patut kita lanjutkan lagi, guna tongkat estafet demokrasi ini nantinya tidak sia-sia belaka, karena lantaran para politikus masih pasang tarif guna menolong rakyatnya sendiri. Semoga.

Hendriko Firman
Pemerhati Sosial – Politik
Universitas Andalas

Buku: Salah Pilih

Judul Buku : Salah Pilih

Pengarang : N. S T. Iskandar

Penerbit : Balai Pustaka , 1928, Jakarta.

Novel Salah Pilih berceritakan tentang sepasang anak yaitu Asri dan Asnah, dimana mereka bersaudara sejak kecil, walaupun bersaudara tapi tidak bisa dikatakan besaudara kandung karena ibu Asri mengangkat Asnah sebagai anak angkat. Walaupun begitu mereka berdua masih memiliki hubungan darah.

Pada saat remaja Asri dan Asnah berpisah, Asri melanjutkan pendidikannya ke Betawi untuk melanjutkan sekolah. Asri bersekolah di MULO (setingkat SMP). Pada saat Asri dan Asnah telah beranjak dewasalah mereka berdua bertemu kembali. Mereka berdua yang telah lama tidak bertemu akhirmya menjadi akrab kembali. Tapi lambat-laun, kondisi mereka yang sebelumnya hanya sebatas persaudaraan saja, tapi saat beranjak dewasa hal itu berubah 180 derajat. Di dalam perasaan meraka masing-masing antara Asri dan Asnah timbul rasa saling berkasih-kasihan. Tapi karena mereka bukan berada pada beda suku, sehinggalah mereka tidak bisa menikah karena mereka sesuku dan satu kaum pula.

Akibat cinta yang tidak bisa dipertemukan ini, Asri menikah dengan seorang wanita bangsawan yang dimana keluarga mereka masih menggunakan dan mempertahankan adat lama.

Namun sayang pernikahan Asri dengan wanita bangsawan yang bernama yang bernanama Saniah itu tidak berjalan dengan semestinya. Mereka sering terjadi percekceokan. Dan pada akhirnya Saniah meninggal akibat kecelakaan karena ia ingin kabur dari Nagarinya. Saat dia kabur Saniah menggunakan mobil, dan mobil itu masuk ke jurang.

Pada akhirnya, Asri dan Asnah menikah dan karena hukum Minangkabau tidak membolehkan mereka untuk menikah, akhirnya dalam keadaan itu mereka pindah ke Jawa untuk memulai hidup baru. Tapi beda kondisi mereka di nagarinya, kehidupan di Jawa lebih membahagaiakan bagi mereka berdua.

Pada saat telah merasakan hidup yang indah dan tentram di Jawa, tiba-tiba datanglah kunjungan dari orang nagari yang berkunjung ke rumah Asri dan Asnah. Dalam kunjungan itu orang kampung mengatakan bahwa sebaiknya mereka berdua pindahlah ke kampung. Karena pada saat itu Asri telah menjadi orang terkenal akibat ke intelektualannya. Sehinggalah akhirnya mereka pindah ke kampung kembali, sesampai di kampung masyrakat Nagari menyambut mereka dengan meriah. Dalam keadaan seperti itu Asri mendapat jabatan penting dari masyrakat. Dan masyarakat pun mengharapkan bimbingan Asri.

Nur St. Iskandar adalah penulis yang pandai membawa pembacanya hanyut dalam emosi, disini ia menggunakan gaya bahasa yang baik walaupun pada dasarnya masih banyak kata-kata lama yang sudah sering tidak diperdengarkan lagi. Tapi akibat gaya bahasanya inilah penulis mendapatkan karakter dari tulisannya.

Menarik untuk dikaji adalah novel ini memberikan suatu gambaran sejarah masa lampau yang sangat baik. Dimana disini gambaran khusus dari novel ini juga ditunjukan seperti adat- istiadat dan kebiasaan-kebiasaan lampau pada masa itu .

Novel Salah Pilih sesuai namanya, sangat jelas memberikan suatu citra bahwa kejadian-kejadian yang kita alami khusunya para pembaca bisa mengkritisi dan lebih bijak mengambil sebuah keputusan. Sesuai dengan judulnya Salah Pilih memberikan sebab dan akibat apabila kita terjerumus ke dalam masalah yang apabila hanya menggunakan perasaan sesaat saja atau tidak menggunakan akal pikiran yang jernih, hal ini bisa dicontohkan oleh kasus Asri yang ingin menikahi Saniah karena terdorong atas restu dan ajakan orang-orang sekitarnya.

Sehingga bisa diipetik kesimpulan bahwa novel Salah Pilih ini adalah satu hal yang pasti yang akan terjadi dalam realitas hidup kita, dimana pembaca mengalami suatu kebimbangan, menghadapai suatu pilihan, dan satu kesempatan emas yang didepan mata tapi tidak bisa untuk didapatkan. Misalanya saja pembelajaran bahwa Asri yang mengidamkan cinta ke Asnah tetapi terbentur oleh sebuah sisten yang tidak berbcara tapi dapat dirasa.

***

Fenomena Iklan Politik

Fenomena Iklan Politik

Oleh : Hendriko Firman**

Kalau kita melihat dan mengamati iklan televisi maka kita akan melihat berbagai produk- produk atau sesuatu yang diberikan pihak supplier. Sekarang hal tersebut memang wajar- wajar saja kita lihat, dimana ada pedagang dan ada pula yang diperdagangkan. Lantas karena banyaknya iklan di televisi akhirnya memberikan suatu pemahaman kepada pedagang bahwa iklan efektif menggaet konsumen. Maka dari banyaknya iklan yang menggaet para konsumen, maka tidak heran pula politik menjadi sebuah tool dan berpartisipasi juga. Maka politik hadir dalam iklan dan ia dinamakan iklan politik. Iklan politik yang kita lihat sekarang cukup riskan untuk ditilik dan sangat menggilitik sekali apabila dicermati.

Iklan politik kalau dilihat ia sangat egois, egois karena ia tidak memberikan bukti maka ia hanyalah sebuah iklan yang berdurasi kurang lebih 60 detik yang mencoba membual, menipu, dan membodohi yang berbeda sekali apabila kita lihat iklan-iklan komersil lain yang mana misalnya saja makanan A yang khasiatnya enak dan kenyang maka khasiatnya memang benar enak dan kenyang dimana janji dibayar dengan bukti. Contoh lain adalah produk pemutih wajah, apabila dipakai berangsur-angsur maka buktinya kulit nampak lebih putih. Sebaliknya kalaupun kita menerima produk partai (janji) secara perlahan-lahan melalui iklannya, maka yang ada hanyalah pembohongan permanen. Dan oleh karena itulah kenapa iklan politik dikatakan egois atau menang sendiri.

Pertanyaan yang menarik dari fenomena iklan politik ini adalah apakah iklan politik benar-benar mempengaruhi atau ia malah memunduri image-nya diri sendiri? Dasar berpikir seperti ini adalah yang pertama; apabila iklan politik hadir ditelevisi maka target yang dicapai adalah mempengaruhi sebagai konsep, karena si pedagang iklan beripikir bahwa masyarakat awam butuh sosialisasi, dan sosialisasi melahirkan pengenalan, dan pengenalan itu nantinya akan melahirkan pengkaderan ataupun vote gathering. Dalam teritori berpikir logika seperti ini hal itu memang sangat masuk akal dan apabila di kalkulasikan atau distatistikkan maka partai akan banjir badang menerima citra baik dan suara yang banyak dalam pemilu apabila melakukan iklan politik. Tapi sekarang masyarakat kita sudah cerdas dan bukan bodoh lagi yang begitu saja mentah-mentah menerima produk dari parpol, masyarakat bukan kerbau lagi yang rela dan nurut saja menerima produk-produk dari parpol, tapi masyarakat Indonesia sekarang adalah masyarakat yang lebih selektif dan berpengalaman. Ayo coba kita lihat dalam sehari berapa kali masyarakat melihat kampanye politik baik itu selebaran, brosur, baliho, koran, radio, televisi bahkan ada juga yang melalui sms. Jadi masyarkat lebih paham bahwa rakyat yang telah terpengaruh iklan pasti akan melihat, apabila yang dipilihnya telah berkuasa di kursi empuk maka ‘produk’ yang dijual tadi ternyata palsu, tidak bergaransi dan malah fungsinya dibalikan. Contoh dibalikan apabila produk dari seorang politikus sebagai bupati misalnya yang awalnya menjanjikan fungsi pengurangan PHK misalnya, maka bupati yang telah duduk di singgasana ternyata malah melakukan PHK tersebut setelah menjabat selama 5 bulan.

Bagi masyarakat yang pernah merasakan situasi seperti tersebut maka dalam analogi berpikir seperti tersebut apakah wajar apabila ia memilih lagi akibat dari doktrin iklan politik dan kampanye-kampanye politik? Yang ternyata penipu. Apabila kita berpikir agak sedikit menyimpang tentunya bahwa iklan politik hanya manifestasi kebohongan dan refleksi pembualan yang memuakkan yang dilihat oleh masyarakat.

Parpol dan caleg bebas saja mengklaim bahwa iklan politik memberikan hasil polling yang teratas, dimana ia berasumsi bahwa iklan politik mempengaruhi citra dan legitimasi idea-nya, tapi itukan tegantung dari pertanyaannya, sejauh ini yang kita lihat pertanyaannya tidak substansif dalam pemilu, kebanyakan kita lihat pertanyaan polling politik adalah seperti: Partai politk apa yang paling menarik? Partai apa yang paling anda ingat? Partai politik apa yang paling anda cermati? Tapi apabila pertanyaannya ‘Partai politik apa yang akan anda pilih? Maka tentulah hasil polingnya berbeda pula, Sebuah hasil poling LITBANG koran besar di Indonesia menyebutkan 3 top partai yang tertinggi di poling adalah partai yang melakukan banyak kampanye politik melalui iklan di televisi dan media elektro lainnya. Parpol dan caleg masih berasumsi bahwa iklan politik adalah sebuah sarana yang komunikatif, efektif, massive dan influintif dalam menyebarkan ide-ide dan janji-janjinya. Tapi kenyataannya sekarang hal itu tidak seluruhnya benar.

Pembodohan Kampanye

Manusia itu dalam otaknya ada yang namanya broca region, yaitu berfungsi memfilter apa yang belum terjadi dan terbiasakan. Maka apabila politikus atau parpol berpikir bahwa kenapa ia kalah maka menurut mereka bisa jadi ada peran iklan dimana kurang besar dan kurang megah. Tapi kalau kita melihat dari otak manusia itu sendiri yang jadi masalah adalah, orang terlalu muak dengan iklan, orang lelah dengan lied propaganda tersebut, sehingga apabila sehebat, semumpuni, dan sekuat apapun iklan tersebut bisa membuat perasaan penikmat iklan naik turun, saya jamin 100% si penikmat iklan politik itu tidak akan terpengaruh untuk memilih/memberikan suara pada pemilu. Jawabannya adalah karena broca region otak manusia tadi, dimana fungsinya yang memfilter dan menganggap biasa-biasa saja apa hal yang telah terjadi, jadi logisnya apabila seorang individu baru pertama kali melihat iklan maka boleh saja ia terpangaruh dan ia memang butuh hal tersebut, yaitu sesuatu iklan berkonteks yang bisa dipegang, sesuatu yang bisa dipercayai, akan tetapi apabila saat muncul iklan-iklan lain yang melimpah dari yang standar propaganda konyol sampai yang elegan maka ia akan menjalankan broca region tersebut, karena otak akan berpikir itu sudah biasa dan nantinya kebiasaan itu kadang-kadang menajdi semacam apatisme.

Di sisi lain nyatanya iklan politik di Indonesia tidak balances antara produk dan khasiat, dimana produk (marketing) terlalu bombastis, fantastis dan imajinatif tapi khasiatnya nol besar. Sehingga hal tersebut membuat masyarakat tidak ngeh lagi untuk meligitimasi idea parpol di iklan lantaran iklan terlalu membodohi masyarakat. Dan mana ada pula orang yang mau menerima pembodohan semacam itu. Akibat telah terpatri dalam pikiran mereka bahwa iklan politik hanyalah penjilat dan berisi pembodohan. Maka akhirnya akibat dari 1 iklan saja yang secara implisit membodohi maka getahnya terkenalah semua parpol. Karena parpol bagi masyarakat ibarat air urin, dimana warnanya saja yang berbeda-beda dan variatif tapi baunya sama saja yaitu pesing. Jadi imbuhnya apa? Imbuhnya adalah penolakan pembodohan tersebut yang membuat tumbuhnya tren golongan putih (golput). Sehingga kelihatanlah akhirnya demokrasi di Indonesia hanya jalan ditempat karena sistemnya saja yang demokrasi tapi impuls demokrasi itu mengalami degradasi.

Sekarang parpol dan politikus melalui iklan politik boleh saja menyombongkan diri karena iklannya terskala dan variatif serta komunikatif, tapi kenyataannya hal itu cukup patut dipertanyakan. Apakah iklan ini benar-benar tersosialisasi dan diterima masyarakat? Dari berpikir individu saya melihat iklan politik cuma topeng dari kebrobrokan mereka yang dibalut dengan janji-janji kosong dalam iklannya. Nyatanya parpol boleh berbangga dan menguras uangnya dengan kampanye mulut bukan dengan kampanye empati. Faktanya rakyatlah yang penentunya apakah parpol yang membodohi rakyat atau rakyat nantinya yang membodohi partai. Tentulah waktulah nanti yang akan menjawab di 2009.

***

Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Oleh : Hendriko Firman**

Kalau kita melihat pengemis apakah yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita tentang mereka? Kasihankah? Ibakah? Atau muakkah? Kejadian menarik terjadi pada saat penulis di bus kampus. Dulunya penulis melihat bahwa pengemis adalah produk dari rendahnya pendapatan perkapita dan akibat dari korupsi yang tidak pandang bulu. Dan merekalah korbannya. Seketika mindset penulis masih berpikir bahwa pengemis dan gepeng (gelandangan dan pengangguran) adalah korban disini. Tapi tatkala penulis melihat peristiwa di bus kampus untuk kuliah jam 10 pagi. Peristiwa tersebut telah merubah pikiran penulis seluruhnya tentang dunia mengemis ini.

Saya kebetulan dibus kampus berdiri saat hendak kuliah waktu itu, karena kursi tidak ada yang kosong, setelah 5 menit bus melaju, maka terdengarlah oleh saya sebuah ringtone HP polyphonic yang cukup keras. Saya berpikir kok ponselnya tidak diangkat karena sudah cukup lama berbunyi, akhirnya saya memberanikan diri saya untuk melihat kebelakang dan sontak hampir semua mahasiswa yang di kursi belakang yang merasa terganggu dengan suara itu bertindak seperti apa yang saya lakukan, tahukah para pembaca apa yang saya lihat dan mahasiswa di atas bus Hino tersebut. Saya melihat seorang pengemis yang sedang mengakat HP yang ternyata sama tipenya dengan tipe HP saya. Sekali lagi saya tekankan para pembaca bahwa ada seorang PENGEMIS YANG SEDANG MENGANGKAT HP. Dia di belakang saya dengan pakaian rombeng dan kucel dengan istrinya disebelah dengan menggunakan “jilbab telanjang” (menggunakan jilbab tapi bajunya lengan pendek sehingga kelihatanlah tangannya dan kelihatan lehernya akibat kerah baju yang belel). Saya melihat mahasiwa di sebelah saya berdecak kagum dengan temannya. Dan yang lain kelihatan melongo.

Tak dinyana saya sontak terkejut, seketika juga saya mulai dimasuki oleh berbagai perdebatan pikiran, yang mencoba menerka dan menganalisa fenomena yang terjadi barusan. Saya mulai dari pemikiran negatif tentunya dan tidak luput pula saya menelaah dari sudut postif. Tapi saya tidak menemukan jawabannya karena menurut saya hal ini adalah peristiwa yang kasuistis sekali.

Sekarang kita kembali ke dalam topik sebenarnya. Hal yang saya paparkan diatas adalah sebuah refleksi dari apa? Sebuah fenomena apa? Kenapa hal tersebut menjadi kontradiksi dalam tatanan masyarakat global saat sekarang ini?

Bukan bermaksud menjustifikasi secara gamblang tapi tulisan saya ini mencoba melihat kasus diatas sebagai fenomena yang cukup menggilitik apabila kita tinjau. Di sisi lain tulisan ini juga akan mencoba secara objektif dan kronologis kenapa masalah ini saya besar-besarkan dan kenapa hal ini menurut saya ‘janggal’ bila dilihat dalam Negara yang miskin tapi tingkat konsumtifnya minta ampun ini.

Kita mulai dari masalah etymology dari pengemis itu sendiri. Menurut saya pengemis adalah individu ataupun sebuah kelompok yang mengandalkan nasibnya dari bantuan moril ataupun materil orang lain sebagai penunjang hidup mereka. Dalam bahasa Inggris pengemis berarti beggar yang berarti pengemis, orang minta-minta, kere. Jadi dari hal tersebut kita bisa menarik kesimpulan sendiri bagaimana kehidupan pengemis itu sendiri.

Pengemis dan Sosial

Kalau kita melihat seorang pengemis menggunakan ponsel berarti secara etimlogi dia bukanlah pengemis. Karena dia menggunakan ponsel berarti di sisi lain kebutuhan yang primer dan sekunder telah terpenuhi. Itulah kerangka saya mulai berpikir, karena HP menurut saya adalah barang yang tersier (mewah), memang relatif apabila kita lebih pertanyakan lagi jenis HP tersebut ada yang bilang itu primer ada juga yang bilang tersier. Tapi kita coba merelatifkan di Indonesia ini bahwa ponsel adalah item yang mewah karena punya ponsel berarti harus memiliki pulsa juga. Memang banyak sekali paparan dan ekplanasi yang harus kita jelaskan disini tapi dari penulis pun masih bersikap heran terhadap hal ini.

Pertama yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah seluruh pengemis rata-rata kehidupan mereka seperti ini? Apakah para mengemis mendapatkan pendapatan yang besar sehingga bisa membeli barang tersier ini? Apakah pengemis itu nyaman dan bahagia menjalani apa yang mereka kerjakan? Dan pertanyaan besar yang mengkover semua ini adalah apakah pengemis sengaja mengemis dan menghinakan diri mereka untuk mendapatkan kebutuhan finansial dari belas kasihan orang lain?

Kalau dikatakan bahwa mengemis mendapatkan banyak pemasukan sulit juga kita iyakan, karena kalau melihat dari terminology berpikir seperti tersebut hal ini menjadi sebuah kontradiksi di saat lahan perkerjaan yang sulit dan sangat keras persaingannya. Mengemis lagi-lagi adalah sebuah media pekerjaan yang terakhir dari sebuah pilihan, orang tidak akan sengaja melakukan mengemis kalau mereka mendapatkan alternatif pekerjaan lain. Jadi kalau kita coba telaah lagi apakah rata-rata kehidupan pengemis cukup terpenuhi kebutuhannya? kita juga tidak bisa mengatakan iya, karena ini masalah dimana dan kapan sipengemis melakukan bisnisnya ini, bisa jadi untuk ukuran kota Padang rasa empati masyarakat terhadap pengemis masih tinggi dan bisa jadi di kota-kota besar lainnya menganggap bahwa pengemis adalah sampah masyarakat. Khususnya kota Padang, pengemis tidak lebih dari kumpulan masyarakat yang dalam stratifikasi masyarakat tentulah tidak termasuk, karena mereka kaum papa, yang hidupnya tidak beraturan dan serampangan. Sehingga lahan perkerjaan tidak ada bagi mereka dan bahkan lebih eksterem statusnya sebagai manusia patut dipertanyakan. Sehingga pengemis menjadi simbol sebuah ketertindasan dari hak-hak yang terampas, ketertindasan dari realitas kehidupan politan yang memang benar-benar telah sinting, dimana seyongyannya kehidupan mereka di lindungi dan diayomi.

Jadi ringkasannya adalah pengemis itu tidak semuanya seperti kasus yang kita bicarakan diatas, tapi toh tidak banyak juga pengemis yang mempunyai lifestyle seperti di atas yang cukup konsumtif. Dalam masalah ini pengemis sekarang benar-benar telah mempunyai tujuan target yang lebih wah untuk kita cermati, sebelumnya tujuan hidup adalah untuk mengganjal perut di esok hari, maka sekarang tujuan hidup lebih prestise lagi kalau kita cermati, dimana tujuan hidup pengemis adalah menjadi orang kaya. Kalau begitu kontan saja saya bilang bahwa itu omong kosong, bahwa PNS rendahan yang hidup dari mencerek terhadap pemerintah saja tidak berani bermimpi seperti itu. Lagi-lagi ini masalah fenomena yang sangat langka untuk kontemporer ini, seakan-akan faktor-faktor kiamat telah mulai Nampak disini bahwa seorang yang tidak punya apa-apa bermimpi untuk berlomba-lomba membangun sebuah istana kekayaan bagi diri mereka sendiri.

Seorang pengemis dalam masyarakat hedonis tidak mungkin bisa-bisanya membeli hp dengan alasan memperlancar komunikasi, karena hal tersebut tidak efesien lantaran kalau mempunyai hp berarti harus siap sedia menahan lapar dan haus, atau sebaliknya si pengemis punya hp karena kebutuhan-kebutuhan lain telah terpenuhi. Jadi kasarnya kebutuhan ekonomi telah terpenuhi dan secara ringkasnya makan dan minum serta tempat tinggal tidak ada masalah dengannya. Iya kan? Lihat saja kalau anda punya HP maka untuk ke dokter setidaknya anda pasti bisa walaupun itu sekali setahun. Apakah pengemis adalah refleksi dari kehidupan masyarakat seperti kita juga?

Dalam masalah yang pelik ini kita terlalu sulit membuat konklusi terhadap hidup pengemis dengan mengkonklusikan terhadap apa yang kita lihat dari kehidupan pengemis sebelumnya. Masalah pengemis di Indonesia faktor sengaja atau faktor realita tidak bisa kita singkirkan saja dari pikiran kita, karena ini menyangkut masalah pengaruh dan masalah progressnya negara ini. Apakah hakekat pengemis itu sulit hidupnya atau merasa bercukupan tentunya hal itu adalah kembali ke masalah lifestyle dari si pengemis itu. Tapi tatkala pengemis memang berusaha untuk mentakdirkan hidupnya menjadi pengemis itulah yang patut kita sesali, bagaimana Negara ini bisa maju sedangkan orang-orangnya hanya meminta saja kerjanya, itu pula yang kita lihat dari para pejabat yang corrupt.

Intinya adalah sisi glamor pengemis yang dipaparkan diatas adalah produk dari masyarakat Indonesia yang lebih menunjukan kuantiti dari pada kualiti. Sayang sekali apabila kita lihat keperluan-keperluan yang seharusnya tidak semestinya dibutuhkan, tapi karena alasan tuntutan zaman hal iltu semuanya dibuat menjadi kewajiban. Benar-benar sebuah ironis bukan?

LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

Pada 1 april 1979, Ayatollah Rouhallah Khomaeini mengumumkan pembetukan Republic Islam Iran. Dengan demikian berhentinya dinasti kekuatan yang telah mengcengkram Iran selama 50 tahun dan dari pemerintahan bentuk monarki yang telah berada selama 2.500 tahun di sejarah orang orang Persia.

Latar Belakang

Fitur sebuah revolusi yang paling tidak bisa diragukan adalah interferensi langsung oleh rakyat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah. Pada saat-saat biasa, negara, apakah itu berbentuk monarkhi ataupun demokrasi, mengangkat dirinya sendiri di atas bangsa, dan sejarah dibuat oleh para spesialis dalam urusan semacam itu – raja, para menteri, birokrat, anggota parlemen, wartawan. Namun pada gerakan krusial itu, ketika tatanan yang lama tidak lagi bisa diterima oleh masyarakat, maka mereka akan menghancurkan hambatan yang membatasi mereka dari arena politik, mengesampingkan wakil tradisional mereka, dan menciptakan, dengan interferensi mereka sendiri, landasan kerja awal bagi sebuah rezim baru. Apakah hal ini baik atau buruk, kita serahkan penilaiannya kepada para moralis. Kita sendiri akan mengambil kenyataan sebagaimana yang mereka berikan dengan tingkat perkembangan yang obyektif. Sejarah sebuah revolusi bagi kita adalah menjadi prioritas dari yang lainnya, sebuah sejarah masuknya masa yang tidak bisa dihindarkan ke dalam tataran pemerintahan yang diperuntukkan bagi nasib mereka sendiri.
Hal seperti Trotsky diatas tepat seperti yang terjadi di Iran tahun 1979. Basis material dari Revolusi Februari terletak pada kemajuan kekuatan-kekuatan produktif dan perubahan yang telah dilakukan dalam kapitalisme Iran di seluruh periode sebelumnya. Shah kehilangan dukungan dari segenap kelompok massa, kaum petani, intelektual, kelas menengah dari berbagai lapisan dan kelompok yang paling berhawa jahat, tentara. Negara sendiri terguncang kerasnya pukulan godam yang dilancarkan massa. Hari demi hari demonstrasi terus menerus dan mobilisasi massa yang telah jauh melanggar batas kehidupan normal. Massa menyerang kedutaan Inggris dan Amerika sembari membakar ribuan bendera Amerika. Boneka patung Presiden AS Jimmy Carter dan Shah digantung ribuan kali menghiasi setiap pojok jalan setiap kota Iran. Shah menjadi simbol dari bercokolnya tatanan yang dibenci dan represi Savak yang berdarah.
Negara dalam analisis paling mutakhir, sebagaimana yang diterangkan oleh Marx dan Lenin, terlengkapi dengan lembaga angkatan bersenjata berupa barisan tentara dengan segenap peralatan dan senjata mereka. Dalam setiap masyarakat kelas, komposisi tentara dibentuk dari berbagai lapisan masyarakat yang beragam, dan merefleksikannya secara, kurang lebih, jujur. Di masa-masa biasa, angkatan bersenjata bercokol tak tertandingi, tak tertembus dan kompak. Bagaimanapun juga, selama masa revolusi, ketika angkatan bersenjata mengalami stres dan ketegangan yang hebat, maka dengan segera keretakan dan patah struktur mereka akan tampak membayang, dan akhirnya cenderung membelah sesuai dengan garis kelas pada momentum-momentum revolusi yang krusial. Kerekatan di tubuh tentara bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi.tergantung pada intensitas tekanan dari gerakan massa.
Di Negara Iran saat masih di belenngu oleh kekuatan digdaya (strong state), dimana perbuatan-perbuatan yang melanggar kepentingan masyarakat di gantikan dengan kepentingan pribadi dari penguasa-penguasa. Untuk lebih jauhnya kita akan melihat sebuah root problem dari revolusi Iran itu sendiri yaitu masalah minyak Negara.
Menjelang akhir abad ke-19 dan awal abad ke­20, investasi asing terus mengalir ke Iran, dengan partisipasi dari pemegang saham lokal dalam sektor vang paling modern seperti konstruksi jalanan, industri penangkapan ikan di Laut Kaspia, dan telegraf. Mayoritas barang manufaktur dihasilkan oleh pengrajin dalam sekelompok besar bengkel kerja-bengkel kerja kecil, tetapi juga ada perusahaan kecil vang terlibat dalara pemintalan karpet dan industri kulit serta juga sejumlah pertambangan serta toko penjual barang cetakan. Menurut suatu penelitian tentang periode itu, pabrik karpet terbesar adalah di Tabriz dan mempe­kerjakan 1500 karyawan.
Di tahun 1908, minyak bumi ditemukan di Barat Daya Khuzistan, dan pada periode yang sama pembangunan jalan kereta api menyebabkan tumbuhnya integrasi ekonomi. Hal ini, sejalan dengan konsentrasi kelas pekerja, menyuarakan kemenangan akhir dari relasi kapitalis di Iran. Pada periode kedua, imperialisme Inggris secara keji mengeksploitasi industri minyak Iran dan memetik keuntungan luar biasa dari situ. Antara tahun 1912 hingga tahun 1933 saja, perusahaan Anglo-Persian Oil Company (APOC) meng­hasilkan keuntungan 200 juta lira, dan cuma 16 juta lira saja yang dibayarkan kepada Pemerintah Iran dalam bentuk royalti langsung. Sedangkan antara tahun 1945 hingga 1950, APOC hanya membayar sebanyak 90 juta lira sebagai royalti terhadap pemerintah Iran, dan memperoleh keuntungan bersih lebih dari 250 juta hra.
Demikian skala produksi industri Iran hingga menjelang tahun 1920, mempekerjakan 20.000 karyawan, dan tahun 1940 telah mencapai 31.500 kar­yawan-salah satu konsentrasi terbesar di Timur Tengah. Pada akhir tahun 1925 Shah memberlakukan sebuah program untuk melindungi industri lokal dan untuk memberikan insentif negara bagi pengusaha swasta. Negara lebih mendasarkan diri pada penda­patan dari minyak bumi dan pajak, bukannya utang luar negeri. Berlawanan dengan dinasti sebelumnya, sebagian besar pendapatan dari minyak digunakan untuk pertahanan serta modernisasi negara Jan tentara. Selama masa 20 tahun kekuasaannya, Shah telah menghabiskan lebih dari 260 juta lira untuk industri. Setelah tahun 1930 kelompok-kelompok baru industri raksasa didirikan. Ratusan pabrik kecil dibangun, teru­tama yang bergerak dalam bidang tekstil, bahan makanan dan material konstruksi. Jumlah kelas pekerja meningkat secara radikal, seringkali terkonsentrasi di perusahaan-perusahaan besar. Dalara hal ini, Iran meniru kekaisaran Rusia pada awal periode pembangunan industrinya.
Kebanyakan pekerja sebelumnya bekerja di bengkel-bengkel kerja kecil, tetapi setelah pembangun­an pabrik penenunan tekstil di Isfahan, Kerman, Yazd, dan Teheran, jurnlah pekerja meningkat dengan mantap. Prinsip pembangunan ekonomi dan sosial yang tidak seimbang dan terkombinasikan menunjukkan kemajuan. Mengacu pada dominasi pasar dunia oleh imperialisme,proses industrialisasi di Iran tidak bisa dilaksanakan dengan cara klasik. Karena Iran adalah sumber energi yang penting, eksploitasi sumber daya minyaknya oleh imperialis Inggris mengarah ke bentuk pembangunan yang sangat terbatas dan timpang. Kapitalis Inggris hanya tertarik untuk mengamankan kepentingan mere­ka sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan industri menghasilkan pola pembangunan yang sangat tidak berimbang, dimana pendirian industri maju hanya terba­tas pada kota-kota besar-Teheran, Tabriz, Isfahan, Kerman dan beberapa pusat kota lainnya. Kebutuhan akan industri rninyak bumi mendorong dibangunnya industri maju di daerah Khuzistan-sebuah daerah yang belum pernah berubah selama berabad-abad-akan tetapi di kebanyakan wilayah negara itu masih tetap tertinggal. Kapital industri masih merupakan perke­cualian, bukan peraturan. Kapital komersial masih memainkan peranan yang dominan.
Distorsi ini memiliki arti bahwa hanya pola pembangunan yang terkombinasikan dan tidak seim­banglah yang rnungkin dilakukan. Bentuk sosial dan ekonomi yang paling maju dibangun beriringan dengan yang paling primitif. Seiringan dengan cahaya terang dari pabrik-pabrik petrokimia modern, ada cahaya lam­pu redup di desa-desa tanpa listrik. Di depan industri­industri yang menggunakan teknologi paling mutakhir, perajin kecil masih terus menggunakan metode yang tidak pernah berubah selama berabad-abad, bahkan mungkin bermilenium-milenium. Rumah-rumah mod­ern komplet dengan dapur ala Amerika berdiri kokoh di samping perkampungan kumuh dimana makanan dimasak di ata5 arang dan tungku kayu penuh asap.
Pada bulan Mei 1951 Mossadeq, yang didukung oleh nasionalis Iran, telah mengnasionalisasikan sumber minyak Negara. AIOC tiba-tiba diancam untuk menggugat beberapa perusahaan yang membawa minyak Iran. Kurangnya keahlian teknis untuk mengoperasikan ladang minyak dan dengan pemasaran dunia di perusahaan-perusahaan minyak, Iran bersaksi mengurangi produksi minyak secara mendadak. Sebagai pendapatan Negara pengurangan minyak membuat pendapatan menurun. Mossadeq segera memulai pertemuan ketidakpuasan. Dia menjadi tiba-tiba lebih dictator sebagai perdana menteri.
Pada juli 1953 mossadeq menghancurkan the majlis (DPR) dan di agustus mencoba tapi gagal untuk merampas semua kekuatan di pemerintah. pada 12 agustus Rheza shah telah memerintahakan pembubaran dan telah berjanji meminta nasehat kepada jenderal fazollah zahedi. Mossadeq menantang perintah dan menangkap pesan yang disampaikan itu. Walaupun shah dan keluarganya melarikan diri dari iran.
Pada hari beriktunya, bagaimanupun juga, unit loyal dari milter shah merancanakan sebuah serangan kudeta dengan dukungan tersembunyi, ini secara luas di percayai, di Amerika Serikat. Pada 18 Agustus, orang-orang loyalis menyerang, dan, setelah keberanian yang tajam di Tehran, mengalahkan semua unit militernya setia mossadeq. Hari berikutnya jendral Zahedi, yang telah bersembunyi, menggabungkan untuk mengambil alih pemerintahan. Pada 20 Agustus, Mossadeq menyerah, dan beberapa hari kemudian Shah kembali, mengakhiri periode dari perselisihan dalan sejarah perpolitikan iran yang telah menjadi pertanda untuk peristiwa yang akan terjadi di seperempat abad kemuadian.
Dari itu semua sampai revolusi iran, iran tingal sedikit lagi tidak mengikat kepada America serikat dan barat. Ini saat begabung dalam fakta Bhagdad di 1955 (kemudian CENTO) dan melihat America serikat sebagai pemasok senjata perang yang besar.

Politik Luar Negeri
Dibawah Negara republic Islam, iran telah menunjuakan antipasti ke America Serikat dan Uni soviet. Amerika serikat khusunya sebagai teman dekat para shah, dilihat sebagai personafikasi setan – dalam bentuk sekularisme barat dan neo-imperialis. Tapi rezim tak bertuhan Marxist dari uni soviet dilihat sebagai sedikit lebih baik. Pada tahun 1984 rezim itu secara sistematis mengeksekusi banyak dari pemimpin dari partai Marxist tudeh di iran. namun kedua Negara superpower itu senang dengan antipati iran tersebut.
Dari akhir kebiakan asing dari republic iran adalah pendirian dari superioritas moral dan bermaksud terbuka untuk meneyebar benih moral ke Negara lain. Dari 154 prinsip konstitusi iran menyatakan bahwa iran akan melindungi perjuangan yang lemah melawan sorang arogan dibagain manapun di dunia ini.
Kenyataannya seperti yang dikatakan oleh Farzin Vahdat bahwasanaya setelah revolusi Iran kita mengalami kontras dalam ekspektasi kita masing-masing terhadap negeri Iran. Ia mengatakan:
“In contrast to what might be expected after the triumph of a colossal revolutionary process and the establishment of a state deriving its power mainly from a strong ideological drive, in Iran the development of socio-political thought did not end withthe establishment of the Islamic Republic in 1979. Indeed, the post-revolutionary period has witnessed a proliferation of socio-political discourses articulated by groups and individuals inside and outside the country, notwithstanding censorship and attempts to control the flow of information by the government” .
Di sisi lain akibat dari pasca revolusi Iran wacana orientasi wacana berkembang pada akomodasi menuju pada kekuatan modern dunia salah satunya. Seperti yang di paparkan Farzin:
“Within the post-revolutionary religiously oriented discourses, more vigorous than the secular socio-political discourses, two distinct trends are visible. One of these trends consciously seeks accommodation with the forces of the modern world, to an extent unsurpassed by previous religious discourses in Iran, especially with regard toits gradual espousal of modern democratic principles. This trend is closely associated with the thought of Abdulkarim Sorush, the leading figure among a group of philosophers and social thinkers at the forefront of the reform movement in post-revolutionary Iran. He enjoys a large following among the relatively young and well-educated Muslims who seek a more open and democratic society in the post-revolutionary conditions of Iran”.

Lebih dari pada itu semua David E. Long mengatakan bahwasanya mengekspor revolusi adalah salah satu kebijakan iran di Negara-Negara di dalam regionalnya khusunya didaerah teluk.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN

– David E. Long & Bernard Reich. The Government and Pollitics of the Middle East and North Africa. United States. Westview press. 1986

–Farzin Vahdat Post revolutionary Islamic Discourses on Modernity in Iran: Expansion and Contraction of Human Subjectivity. dalam Middle East Stud.vol. 35. Cambridge University press. 2003.

–George Lenczowski. Timur Tengah di Kancah Dunia. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 1993.

– J. Bhahrier. Econonzics of Development in Iran. (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

– Lenin, The State and Revolution, The Essential Leftn Unwin Books. Moscow. (without year)

– Leon Trotsky, Results and Prospects (Peculiarities of Russia Historical Development), (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

– http://www.marxist.com/indonesia/revolusi_iran2.html

SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA

“SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA”

Hendriko Firman

TUJUAN, TERMINOLOGI, DAN PENDEKATAN

Tujuan tulisan ini adalah akan megemukan pada garis besar masalah-masalah sejarah dari pergerakan nasional di Indonesia. Dalam tulisan ini metode kronoligs tidak akan digunakan, karena lingkupya terbatas. Di sini hanya akan dikemukakan beberapa segi saja. Mengenai karya-karya perkembangan sejarah nasionalisme Indonesia dapat ditunjukan karya-karya dari Amry Vandenbosch (1994), Bernanrd Clekke (1943), A. von Arx (1949), George Mc.T. Kahin (1952). Semuanya itu ditulis pada akhir atau setelah PD II. Karya sebelum perang ialah buku karangan J.Th. Petrus Blumberger (1931), yang secara sistematis memuat banyak sumber sejarah sampai tahun (1930). J. M Pluvier telah menulis sebuah tinjauan umum mengenai periode berikutnya, diterbitkan pada tahun (1953). karya-karya SJ. Rutgers (1946) dan D.M.G. Koch menyajikan gambaran umum dari seluruh perkembangan pergerakan nasional sampai PD II. Di samping itu masih banyak karangan lain mengenai pergerakan nasional. Di antara penulis bangsa Indonesia dapat disebutkan nama nama A.K Pringgodigdo (1950 ) dan Sitorus (1947).
Lazimnya, yang disebut sejarah pergerakan nasional adalah bagian dari sejarah Indonesia meliputi periode tahun 1908, ialah tahun berdirinya Boedi Oetomo sebagai organisasi nasional, sampai tahun 1942, tahun pecahnya perang pasifik.
Selain itu, metode kronologi akan memebrkan suatu perspektif historis, sehingga dinamika pergerakan nasional dapat dilihat dengan jelas sebagai suatu pergerekan progesif. Akan tetapi, lingkup tulisan ini tidak mengizinkan untuk menerapkan metode kronologi itu, sehingga di dalam menganallisis berbagai aspek dengan menggunakan beberapa konsep sebagai titik tolak, semata-mata juga hanya dimaksudkan sebagai suatu pengantar untuk beberapa masalah sejarah pergerakan nasional di Indonesia.
Nasionalisme Indonesia, seperti juga di Negara-negara asia tenggara lainnya, mempunyai basis historis pada kolonilalisme; maka sifat antikolonialisme menjadi bagaian utamanya.
Oleh karena itu, ada interdependensi antara nasionalisme dan kolonialisme pada umumnya dan juga terasa adanya pengaruh timbal balik, terutama antara nasionalisme yanga sedang tumbuh dan politik kolonial beserta ideologi kolonialnya.

A. ASPEK-ASPEK MULTIDIMENSIONAL
Pergerakan nasional di Indonesia dalam arti umum dapat dianggap sebagai suatu regenerasi; pergerakan ini bukanlah pergerakan yang hanya terbatas pada bidang politik tatapi melitputi juga bidang ekonomi, sosial, dan kultural. Sifat universal dari fenomena ini meneyabakan pergerakan itu mempunyai aspek multidimensional. Karena mengalami regenarasi ini, maka para partsipan menjadi sadar akan segala sesuatu, baik yang lama maupun yang modern; semunya didorong ke arah kemajuan dan terlibat pada semua kegiatan secara aktif.
1. Aspek Ekonomi
Pertentangan kepentingan menyebabkan kondisi hidup rakyat terbelakang, karena cara-cara produksi lama tidak mampu menghadapi kapitalisme colonial yang mempunyai organisasi dan teknologi moderen yang mampu mengubah keadan ekonomi yang ada.
Kedudukan yang menguntungkan penjajah itu diperoleh melalui eksploitasi dan diskriminasi. Oleh karena itu, usaha-usaha ke arah itu, usaha-usaha ke arah emansipasi ekonomi selalu ditekan. Semua pengalaman yang mengecewakan sebagai akibat system sosial-ekonomi yang menghalangi usaha perekonomian bangsa Indonesia, mendorong timbulnya solidaritas.
Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gerakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik.
Gerakan ekonomi ini sejak pada PD I terus-menerus tumbuh sampai pada puncaknya pada pemberontakan komunis tahun 1926.
Tindakan-tindakan yang keras dari pihak pemerintah kolonial memperkuat orientasi ekonomi pada beberapa organisasi, seperti Boedi Oetomo dan Partai Bangsa Indonesia. pekerjaan kontruktif dari partai-partai itu pada bidang ekonomi, meskipun belum begitu berarti, telah memberi bentuk-bentuk konkret kepada cita-cita ekonomi nasional dan dapat dianggap sebagai suatu bukti yang nyata adanya prinsip berdiri di atas kaki sendiri.
2. Aspek Sosial
Pembentukan organisasi-organisasi nasionalis didorong oleh pertentangan kepentingan social dengan kaum penjajah; karena perbedaan rasial pertentangan ini menjadi lebih serius. Organisasi itu fungsinya menjadi lebih nyata dan menunjukan perbedaan kepentingan-kepentingan tersebut secara lehih jelas; jadi, organisasi-organisasi itu boleh dikatakan meratakan jalan utnk membangun suatu kekuatan sosial.
Akibat berdirinya Boedi Oetomo bagi penguasa peguasa tradisional pribumi, yaitu ellite lama, adalah negative oleh karena itu, organisasi ini tumbuhnya lambat. Sebagai reaksi terhadap keinginan emansipasi di atara massa rakyat yag luas, golongan elite lama ini kemudian membentuk ikatan sendiri. Perkumpulan bupati, yang memperjuangkan kepentingan kepentingan merka sendiri dega cara caranya dendiri.
Tumbuhnya diferensisasi sosial menyebabkan jumlah organisasi-organisasi nasionalis bertambah dengan bermacam-macam tujuan untuk melindungi kepentingan mereka masing-masing sambil berdialog menentang kolonialisme.
Aspek sosial lain dari pergerakan nasional yang perlu mendapat perhatian kita ialah peranan diferensiasi di antara organisasi-organisasi nasionalis itu. Pada umumnya peranan yang dijalankan oleh organisasi organisasi itu memang dipilh dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Boedi Oetomo diikuti oleh organisasi-organisasi berikutnya, seperti Muhammadiyah dan Taman Siswo. Terutama Taman Siswo dapat dianggap sebagai sebuah lembaga dengan system pendidikan yang menjadi bagian dari pergerakan nasional yang memperjuangkan masayarakat merdeka. Cita-cita kebebasan dan kesatuan dipakai sebagai pedoman pendidikan praktis. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan nasional adalah cara yang sebaik-baiknya untuk berkerja secara produktif untuk mencapai kemerdekaan rakyat. Kebudayaan asli dipakai sebagai dasar pokoknya.
3. Aspek-Aspek Kebudayaan
Nasionallisme Indonesia pada tingkat-tingkat pertama juga dikenal sebgai nasionalisme sempit, yang bersifat local atau kedaerahan. Nama-nama seperti Serekat Ambon Roekon Minahasa, Pasoendan, Sarekat Soematera menunjukan sifat kedaerahan dan kesukuan.
Pada kongres kaum muda Jawa, yaitu pada waktu Boedi Oetomo didirikan, diadakan, diskusi untuk menentukan sikap yang harus diambil dan untuk menghadapai kebudayaan barat. Pada diskusi ini terdapat dua pandagan yang berbeda: golongan pertama ingin agar orang jawa sic mengembangkan dirinya menurut jalannya sendiri dan tetap memilihara sifat ketimurannya, sedang golongan yang kedua menganggap contoh dari barat lebih praktis, jadi, sudah sepantasnya untuk diikuti.
Pada tahun 1908 sekali pertentangan yang terjadi pada kongeres boedi oetomo itu timbul. Golongan konservatif berpendapat bahwa kebudayan lama harus menjadi dasar untuk menghimpun seluruh rakyat, sedang golongan progresif tidak menghendaki kemunduran dan meolak sifat-sifat khusus kejawaan. Mereka ingin melawan barat dengan alat-alat dan metode barat pula. Mereka menekankan usaha mendinamikakan kehidupan kebudayaan dengan persatuan dan pertukaran. Mereka berpendapat bahwa sikap statis berati kemunduran.
Gerakan kebudayaan memperkkuat kedaran nasional dan merupakan tambahan bagi egerakan ekonomi yang mencita citakan kehudpan ekonomi yang bebas bagi rakyat. Pergerkan nasional inin membangun kebudayaan bru sebagai basis kehudapan baru dengan mengambil alih unsure unsure barat. Pembaharuan ini dianggapa sebagai alat untuk mewujudkan cita cita politik, oleh karena itu dalam mengahadapi kebudayaan barat kaum nasiionalis menolak ide asimilasi dalam rangka negeri belanda raya.

4. Aspek Aspek Politik
Pergerakan nasional sebagai bentuk revivalisme dalam hubungan-hubungan masyarakat colonial sudah barang tentu mengalami politikalisasi, dan bahkan sejak taraf pertamanya pergerakan itu sudah jelas menunjukan orientasi politik umum.
Di tanah jajahan kepentingan ekonomi dan politik terjalin erat antara satu dengan lainnya: dominasi politik melindungi erat monopoli ekonomi modal colonial dan menggunakan pemerintahan colonial sebagai alat kekuasaan.
Sejak itu disadari bahawa kekuasaan poltik diperlukan untuk memkasa pemerintah colonial memperlihatkan kesejahteraan rakyat. Aspriasi politik, meskipun belum jelas formulasinya, telah tampak pada waktu itu Boedi Oetomo didirikan. Dengan perkataan lain dapat dinyatakan lain dapat dinyatakan bahwa organisasi ini menghendaki turut ambil bagian dalam mengatur penghidupan rakyat dan memperbaiki nasibnya.
Di sisi lain dengan berdirinya volksraad maka keinginan-keinginan politik dapat disalurkan dengan resmi kepada pemerintah colonial. Pengalaman pengalaman di dalan volksraad menimbulkan keyakinan bahwa melalui koperasi usaha usaha rakyat tidak akan terlindungi, sehingga golongan nasionalis menganggap sangat perlu menyusun kekuatan rakyat untuk mengambil alih kekuasaan politik. Formulasi tujuan politik ini makin lama juga makin terperinci. Perhimpunan Indonesia, organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia di negeri belanda, membuat analisis yang tepat mengenai hubungan-hubungan colonial dan mengambil resolusi bahwa pergerakan nasional harus menuju ke Indonesia merdeka, sedang kerja sama dengan kaum penjajah ditolak.

B. BEBERAPA UNSUR NASIONALISME INDONESIA
Beberapa nasional dilihat sebagai satu konsep kehidupan, menunjukan proses historis dari kelahiran dan perkembangan nasionalisme. Bilamana kita mempelajari nasionalisme, akan tampak jelaslah bahwa ada pertumbuhan konsep yang besar dan pendekatan-pendekatannya bermacam-macam. Apa yang menarik perhatian kita dalam hubungan ini ialah banwa secara luas disetujui bahwa nasionalisme dalam beberapa pengertian asal mula dan perkembangannya bersifat historis sehingga sejarah pergerakan nasional menjadi inti akibat-akibatnnya bebeda-beda tegantung pada keadaan keadaan historis.
Nasionalisme sebagai fenomena historis timbul sebagai jawban terhadap kondisi-kondisi historis, politik, ekonomi, dan sosial tertentu. Penyelidikan tentang nasionalisme sebagai sutatu fenomena yang serba kompleks memerlukan pula pendekata5n yang multidisipliner. Dengan demikian, akan terjadi jelas apek multidimensionalnya. Untuk mengenal sifat sifat khas nasionalisme sudah barang tentu unsur unsur pembentukan perlu pula diselidiki dengan menggunakan multiple approach seperti tersebut diatas.
RINGKASAN
Nasionalisme pada periode pembentukan lebih terikat pada aspek-aspek subjektif daripada aspek-aspek objektif. Kenyataan sejarahnya dimulai sebagai fakta-fakta konseptual, kemudian berkembang perlahan lahan ke bentuk yang lebih kongkret dan menjadi fakta fakta sosio-psikologis bedasar atas unsur-unsur komponenya menunjukan tingkatan-tingkatan perkembangan nasionalisme pada semua aspeknya dan pada variasi jawaban nasionalisme terhadap kolonialisme. Tiga aspek nasionalisme aspek kognitif, aspek orientasi tujuan/nilai dan aspek-spek afektif — dapat diterapkan sebagai kriteria perbedaan kategori-kategori yang menggambarkan tipologi berbagai organisasi pergerakan nasional.
Nasionalisme dikembalikan ke dasar eksistentisnya; terutama nasionalisme sebagai suatu ide pada semua bentuknya perlu diselidiki keselarasanya dan hubungannya dalam konteks sistuasional realitas sejarah tertentu. Manifestasi-manisfestasinya harus dihubuhngkan dengan masing-masing kelompok sosial yang mendukungnya, perubahan perubahan strukutural harus diterangkan sejalan dengan dinamisme kelompok dan derajat integrasinya.

***
– The end –
Copyright © hendrikofirman.wordpress.com

Sumber
Sartono Kartodirdjo. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989

Beberapa Buku yang Saya Baca

LIST Of BOOK
____________________________

1.
Judul: Opium to Java: Jawa dalam cengkraman bandar-bandar opium Cina, Indonesia kolonial, 1860-1910
Penulis: Rush James R.
Subyek: Petani Pemakai Opium
Kota penerbit: Yogyakarta
Penerbit: Matabangsa;
Tahun terbit: 2000
Ukuran & jumlah hal buku: 604 hal.; 21 cm
Koleksi: Perpustakaan CSIS
Tipe buku: sejarah petani kecil dan eksploitasi

Buku ini secara pasti melihat bahwa petani menjadi alasan yang sangat konkret bagaimana penindasan menjadi nilai jual yang sangat tinggi, contohnya saja opium. Dimana pada pada masa cultuurstelsel atau tanam paksa di abad ke-19, para petani bukan saja ditindas dengan system colonial tapi juga dizalimi oleh konsumerisme pasar. Dimana opium dilegalkan juga di jadikan salah satu sumber utama dalam penghasilan Negara untuk mendapatkan visa.
Di buku ini di ceritakan bahwa opium tidak saja pada waktu itu belum diketahui secara umum bahwa ini adalah sejenis obat terlarang, tapi para kuli tanam paksa disini mengibaratkan opium semacam endorphin buat bekerja. Dan efek sampingnya pada waktu itu sengaja ditutupi oleh pemerintah dan di kuatkan lagi oleh kekolotan masyarakat jawa.

2.
Judul: Catatan Seorang demonstran
Penulis: Soe Hok Gie
Subyek: catatan harian
Kota penerbit: jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 2005
Ukuran & jumlah hal buku: 15,5 X 23 cm 385 hal
Tipe buku: pemikiran

Buku catatan seorang demonstran adalah pada dasarnya buku yang tidak sengaja dipublikasiskan karena ini adalah sebuah buku catatan harian. Buku ini membahas tentang pemikiran seorang mahasiswa jurusan sejarah fakultas sastra universitas Indonesia dalam melihat rezim soekarno telah mengalami sebuah megalomania yang tidak bisa didiamkan lagi, sehingga banyak dari tulisan tulisannya mengkririk tindakah soekarno yang pada waktu itu telah dan sedang hangat hangatnya ke poros kiri, yang di duga pada waktu itu tidak merepresentasikan kehidupan rakyat Indonesia yang demokratis.
Buku ini memberikan kita gambaran sejarah dan secara lebih relaitet karena menggunakan akal pikiran mhasiswa yang objektif dan ampera, disinggung juga bagaimana situasi dan kondisi pasca pemerbontakan komunis 1965 atau GESTAPU. Sehingga pembaca bisa menarik kesimpulan bahwa buku ini lebih condong kepada pemikiran seorang mahasiswa yang tidak dan tak kuat melihat Negara yang diobrak abrik oleh kepentingan pribadi.

3.
Judul: Pengantar Ilmu pariwisata
Penulis: Oka A. Yoeti
Subyek: pariwisata
Kota penerbit: bandung
Penerbit: angkasa
Tahun terbit: 1983
Ukuran & jumlah hal buku:584 hal tanpa ukuran buku
Tipe buku: ulasan pariwisata di Indonesia.
Buku ini diterbitkan kiranya dapat membantu pembaca dalam membantu dan menunjang kepada para pengelola yang sedang giat mengembangkan kepembangunan kepariwisataan yang sedang terjadi Indonesia dan dalam buku ini tidak pula banyak terjadi pengkompetisian terhadap sejarah yang pada dasarnya menjadi bentuk fundamental dari berkembang dan nilai jual dari porduk pariwisata id Indonesia.
Buku ini di tulis oleh Oka A. Yoeti yang telah banyak berkecimpung dan menangani berbagai masalah kepariwisataan. Segala di utarakan dalam buku ini tentu saja adalah hal-hal yang sangat per lu dipahami oleh siapa saja termasuk kaum sejarawan melihat bagaimana bentuk sejarah bisa menjadi akses dan lapangan kerja bagi sejarah public dan tentunya sejarah dalam konteks kepariwisataan adalah factor langgeng atau tidak daerah kepariwisataan daerah tersebut.

4.
Judul: Citra bung karno, analisis beriita pers orde baru
Penulis: agus sudibyo
Subyek: citra bung karno
Kota penerbit: yogyakrta
Penerbit: BIGRAF
Tahun terbit: 1999
Ukuran & jumlah hal buku: 248, ukuran tidak tercantum
Tipe buku: sejarah pers dan tokoh

Buku ini menelaah dan menganalisa citra bung karno dengan segala kelebihan dan kelemahannya dimana ia sosok yang intelektual, yang mana pemikirannya cukup cemerlang. Sebagai ideology ia telah mengalami berbagai pertentangan ideology dan cekal-mencekal orang yang tidak manyukainya. Disini secara objektif penulis buku ini menggambarkan bagaimana bentuk dan karisma topeng soekarno telah nyata dan gamblang rangka memasukan rakyat Indonesia ke gerbang kehancuran.
Secara pasti buku ini tidak hendak mengaduk-aduk emosi atau membangkitkan kembali romantisme lama tentang sosok bung karno yang kontroversial dan seringkali dipandang dalam prespektif yang ekstrim. Agus sudibyo, penulis buku ini, mengkaji sosok bung karno dalam batas otoritas ilmiah dengan disiplin metodologi yang sangat ketat.

5.
Judul: Karya Lengkap Bung Hatta
Penulis: Emil Salim (ed)
Subyek: Karya bung Hatta
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 1998
Ukuran & jumlah hal buku: 26 cm dan 616 hal.
Tipe buku: pemikiran
Tulisan bung Hatta banyak sekali baik dalam sudut pandang ekonomi, sejarah, filsafat, politik, budaya, sosial dsb. Sehingga ini membuktikan bahwa ada sisi menarik dari penulisya yang hinnga kini tetap relevan atau setidaknya dapat dijadikan refrensi yang sangat penting.
Seluruh karya tulis bung Hatta yang termuat dalam buku in disajikan apa dadanya dalam arti substansif, namun terhadapnya, baik tulisan asli maupun terjemahan menggunakan ejaan lama diubah dengan EYD. Sebagain buku ini termasuk gagasan dan pemikiran bung hatta yang sudah pernah diterbitkan dalam bentuk buku yang sleuruhnya berisi sejumlah karya bung Hatta, seperti keumpulan karangan I, II, III, dan I V (1953-1954).
Kiranya buku ini sangat menggugah hati anak muda untuk melihat bahwa sejarah tidak saja dilakukan dengan cara cara yang dilihat secara konkret dan secara adu otot tapi dilakuakn dengan cara yang sangat elegan, seperti yang dilakukan oleh hatta dengan melahirkan dan mencetak pemikiran-pemikiran yang brilian.

6.
Judul: Prime minister Sjahrir as statesman and diplomat; how the allies became friends of Indonesia and opponents of the Dutch (1945-1949);
Penulis: Algadri, Hamid
Subyek: Sjahrir, Sutan – biography
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 1995
Ukuran & jumlah hal buku: 135 & 24 cm
Koleksi: Pustaka Aksara

Buku ini berisikan tentang kehidupan politik Sjahrir di masa perang revolusi di Indonesia setelah agresi militer 1 dan agresi militer 2, secara sederhana buku ini menggambar kan bagaimana kehidupan perdiplomasian dan perpolitikan Sjahrir, yang dimana bukan dalam kacamata umum atau objektif tapi dibuku ini lebih kental memory personalnya.
Buku ini ditulis oleh Hamid Algadri seorang yang sangat dekat sekali dengan Sjahrir, ia menceritakan Sjahrir yang di usia muda bisa menghandle dan mengambil kesempatan yang berisiko tapi dengan untung berkali lipat, dimana Sjahrir digambar kan sebagai perdana menteri sebagai seorang negarawan dan diplomat. Sebagai perdana menteri pertama RI Sjahrir bisa dikatakan sukses membuka kesempatan diplomasi pertama dengan belanda dengan status sejajar dan setara.
Secara personal memory Algadri melihat seorang Sjahrir negarawan yang bisa membuat sekutu yang pada dasarnya terpengaruh pada belanda berubah akibat diplomasi Sjahrir yang membuat para sekutu menjadi sahabat dan di sisi lain sjahrir melalui diplomasi nya membuat sekutu menjadi lawan.

7.
Judul: Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah
Penulis: Tsuyoshi Kato, terjemahan Gusti Asnan dan Akiko Iwata
Subyek: Minangkabau
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 2006
jumlah hal buku: 291
Tipe buku: budaya

Orang di luar minang cenderrung melihat masyarakat Minang adalah sebuah ibarat puzzle dimana mereka bisa membuat asimilasi yang mantap terhadap influence yang masuk ke dalam budayanya, lihat saja orang Minang cukup kuat memegang prinsip Islam yang nota bene patrilineal dalam artian mereka mematuhi, menjalani, dan mensinergikannya, tapi di sisi lain adat malah memakai kebiasaan yang kontradisi dengan Islam yang dimana, kita bisa lihat matrileineal menjadi poros utama dari daerah Minngkabau.
Di buku ini Kato dengan cepat melihat bahwa seyonyanya konten dari buku ini adalah memberikan penggambaran bahwa orang Minang yan berbudaya merantau bisa tetap utuh samapai sekarang.

8.
Judul: Indochina persilangan kebudayaan
Penulis: Groslier
Subyek: asia tenggara
Kota penerbit: yogyakarta
Penerbit: gadjah mada university press
Tahun terbit: 1997
Ukuran & jumlah hal buku:
tipe buku: sejarah regional

Membicarakan tentang asia tenggara adalah sesuatu yang sangat eksotis bagi saya. Dimana keheterogenan bebagai suatu ras, religi, kultur, berbaur dalam sebuah kesinambungan kehidupan. Daerah asia tenggara bukanlah daerah yang mencoba untuak mengatur pola kehidupannya dengan sisitim tutup pintu atau politik isolasi yang sebagaimana diterapakan oleh negeri dai nippon. Justru asia tenggara adalah daerah yang mengalami berbagai macam percampuran, persilangan, penghapusan kebudayaan yang memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya. Sehingga tidak heran orang-orang asia tenggara tidak asing kita kenal sebagai orang indocina, yaitu orang yang mengadaptasi persilangan kebudayaaan.
Even yang sangat spektakuler dan berkesinambungan hingga terbentuknya masa depan asia tenggara adalah ada nya sumbangan kebudayaan dari bangsa cina dan india. Cina yang bermain secara arogan mencaplok dareah-daerah sekitarnya yang dianggap menguntungkan seraya berjibaku untuk menghilangkan kebudayaan setempat, sebaliknya orang-orang india bermain secara halus, yaitu berdagang menetap, mengedepanakan etika dan estetika di daerah yang didatanginya sehingga persilangan kebudayaan pun tetap di jalurnya.
Dilihat dari proses sejarah akan hadirnya indocina, vietnam adalah step pertama muncul dan berkembangnya awal kelahiran indocina di daerah utara, vietnam dijadikan sebagai daerah jajahan oleh cina khususnya yaitu daerah tonkin yang sekarang lebih dikenal sebagai cinanya vietnam, kerena begitu terinfiltrasinya oleh kebudayaan cina. Tercatat ada 2 kerajaan yang membentuk vietnam sesungguhnya yaitu kerjaan xich-cuy dan van tang. Dalam masa penjajahan ini cina menanamkan pengaruhnya yang kesemuanya adalah hal-hal yang disamping eksploitasi daerah dan orangnya, cina menerapkan hampir dari semua isi vietnam di hilangkan atau di rombak, dari segi bahasa mereka resmi memakai bahasa cina berserta idiogramnya, dari segi tulisan-dan pertama kali dikenal orang vietnam-dikhususkan juga ntuk memakai tulisan cina, yang dari sini tulisan ini diterima dengan baik sehingga orang-orang vietnam yang tes pegawai di cina banyak yang lulus.
Bukan dari sisi literatur saja asimilasi mengalir pesat di vietnam, dalam pengolahan atas dasar penguasaan tanah, orang-orang dongsong juga menerapkan ilmu cina untuk mengurung aliran sungai untuk diairi dan menguasai pertanian yang tetap. Dalam proses penjajahan ideologi ini, cina seraya membangun koloni-koloni nya sehingga berangsur-angsur masuk ke pusat kebudayaannya. Demikianlah aksi penjajahan tersebut dilakukan dengan kedua faktor diatas sajalah yang bisa di asimilasikan oleh orang cina karena tidak ada sistim lain yang bisa “dijajah” lagi.
Groslier juga memaparkan bahwa unit-unit kampung dan desa mulai terjadinya spesialisasi dalam betuk kerja akibat pengaruh cina, sehingga timbulnya kampung-kampung pengrajin dan kampung-kampung pedagang. Tata krama dan ritual kepercayaan juga dilakukan dengan cara yang sebelumnya yaitu terhadap roh-roh pelindung tanah serta kultus kemaharajaan konfusionisme juga berlaku, dimana maharaja dianggap sebagai dewa dunia, yang di jawa dikenal sebagai aspek mananggung kawula gusti.
Sejarah Vietnam bukanlah sebuah sejarah bangsa yang normal seperti bangsa lainnya , akibat dari kurangnya ilmu pengetahuan dan rasa kesosialan yang serentak, terpakasa Vietnam sebagai jajahan cina mangais-ngais, dan mengemis-ngemis untuk bisa menyatukan puzlle dari bangsanya sendiri yang nyatanya adalah bengsa ini merupakan sebuah sebuah komunitas-komunitas kecil sehingga terbentuk pribadinya yang statis sampai sekarang yang merupakanm warisan jajahannya yaitu cina.
Pentingnya pengaruh cina di tonkin, membuat negeri-negeri yang disekitarnya lambat-launpun, terkikis rasa independennya.tonkin dalam perannya bagi cina juga bermanfaat sebagai jalan parallel menuju India. Akhirnya tonkin dengan cepat menjadi center kepercayaan budha yang penting awalnya dengan mengunggsinya orang yang terdiskreditkan oleh kerajaan di cina, lalu komunitas ini menetap di Vietnam di abad 3 dan 4, dan bertemu dengan biarawan-biarawan budha dari songdiane, akhirnya berkembanglah budha yang tanpa membedakan kasta itu disitu yaitu Vietnam.
Disisi lain perkembangan indocina, yang digawangi oleh orang India menuju daerah asia tenggara dimulai sejak adanya kapasitas-kapasitas seperti ilmu pengetahuan kelautan yang membawa orang India untuk bisa menjelajah pantai-pantai asia tenggara sampai pulau nusantara yang jauh pastinya adanya pelayaran ini masih menjadi perdebatan karena minimnya sumber-sumber tulisan yang menceritakan tentang pelayaran ini. Tapi dilihat dari terbatasnya ilmu pengetahuan pada waktu itu, dapat disimpulkan bahwa proses emigrasi tidak terjadi secara massal. Hal lainnya selain emigrasi ada suatu perspektif lainnya mengatakan semangat nasionalis para pendeta budha dalam menguniversalkan agamanya, tapi paham ini bukanlah alasan yang konkrit dalam ekspansi India, namun sebaliknya ini adalah unsur tambahan atau unsur sekunder.
Dilihat dari dampak ekspansi India, bahwa gilang-gemilangnya pemahaman terhadap linguistik, tulisan, politik, hingga ilmu astronomi yang tiada tara bandingnya dengan ketepatan yang mutlak yang tidak disaingi oleh peradaban lainnya melalui keampuhan matematik yang mampu menghitung kalender hingga teknik eksploitasi tanah dan produk pengrajin, dapat disimpulkan influence yang berkembang adalah timbulnya suatu peradaban yang menggugah dengan tanpa unsur-unsur kekerasan menimbulkan wilayah yang dikenal sebagai daerah utara adalah rintisan cina dan sektor daerah rintisan India, sehingga tidak pelak timbullah suatu konsonan kosakata baru akibat dampak ekspansi ke-2 bangsa ini : INDOCINA.
Menilik kembali sejarah asia tenggara, kita lebih mengenalnya sebagai kawasan yang memiliki poin penting dalam menyelesaikan dilemma krusial sejarah moderen tahap awal. Asia tenggara tidaklah sama dengan eropa atau kawasan asia lainnya yang memiliki keseragaman kebudayaan, politikal bahkan religi. Kawasan asia tenggara seyongyanya hanyalah sebuah kawasan yang telah dipecah-belah jalur budayannya oleh sub kebudayaan cina dan India. Asia tenggara yang meiliki iklim panas, curah hujan yang tinggi, dengan tanah yang subur diimbangi dengan hutan yang lebat belantara.
Studi-studi sebelumnya mengatakan akan perkembangan dan transisi sebuah era tidak bisa dihilangkan lasnsung dengan asia tenggara, kawasan ini bukanlah kebangkitan renaisanns, reformasi, abad penemuan dll.Saya melihat bahwa para sejarawan masa lampau asia tenggara daratan (dan jawa pada tingkat rendah) secara khas memuat periodesasi berdasarkan disnasti (seumpanya, “ ayutthaya akhir, “Tou ngoo awal, “ “le”), sementara kebangkitan islam dan kedatangan eropa di pandang sebagai titik yang penting di pulau-pulau tersebut.
Anthony Reid juga memaparkan kegigihan bangsa barat khususnya spanyol dan portugis demi menemukan lada, cengkeh, dan pala yaitu semakin beratinya komoditi tersebut bagi bangsa eropa yang seyongyannya memiliki 4 musim,. Takakala tahun 1390-an, 6 metrik ton cengkeh dari satu setengah metrik ton pala asal maluku bagian timur indonesia diekspor setiap tahun ke eropa. satu abad kemudian jumlah tersebut membengkak menjadi 52 ton cengkeh dan 26 ton pala. Akhirnya produk-produk baru di ekspor di asia tenggara di abad ke-18 dalam jumlah lebih besar dibandingkan masa sebelumnya-terutama gula, kopi, dan tembakau. Bagaiamanapun juga hasil-hasil bumi trsebut adalah tanaman dagang yang dikelola oleh orang cina dan eropa.
Di asia dalam aspek militer, tumbuh dan berkembangnya penggunaan senjata api. Barang-barang ini tidak lepas dari peran pedagang muslim yaitu India, timur tengah, cina dan eropa untuk meriam sedangkan senjata api yang akan diprediksi akan menjadi landasan defensif yang sangat berperan demi kelangsungan kerajaan, dan bertekad sungguh-sungguh mendapatkannya yang seyongyannnya di impor dari portugis, turki, Gujarat, jepang dan minotritas muslim local seperti campa, melayu dan Luzon (muslim berbahasa tagalog yang berlokasi di kepauluan Mindanao, filipina). Pencapaian di bidang militer ini membuat hadirnya akumulasi kekusaaan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang pada puncaknya menguasai sebagaian besar wilayah birma dan Thailand saat itu.
Asia tenggara adalah daerah pluralisme yang berubah-ubah. Negara bengkit dan runtuh relatif singkat. Periode moderen tahap awal menjanjikan kebangkitan banyak negara yang kemudian membentuk identitas moderen asia tengah, baik nasional maupun etnis. Dan semua itu tidak lepas dari cikal-bakal persilangan kebudayaan yang menimbulkan indocina sebagai perintis awal sejarah asia tenggara.
Buku ini sangat menarik karena bisa mengupas secara jelas bahwa ada satu ikatan budaya juga kiranya dalam kawasan daerah asia tenggara yang komplek.

9.
Judul: catatan pergolakan pemikiran ahmad wahib
Penulis: ahmad wahib
Subyek: catatan harian, ahmad wahib
Kota penerbit:
Penerbit:
Tahun terbit:
jumlah hal buku: 395 hal
Koleksi: Perpustakaan CSIS l
Tipe buku:

Buku ini adalah sebuah catatan harian yang ditulis oleh Ahmad Wahib, dimana dalam ide-ide dan pemikirannya Ahmad Wahib mencoba untuk mengintegrasikan dirinya kepada cikal bakal Islam liberal, karena ketidak lepasannya terkait pada perkenalannya dengan Nurcholas Madjid, yang sekarang dikenal sebagai orang yang vocal mendukung aliran tersebut. Catatan harian Ahmad wahib ini bisa dibilang penuh dengan hal-hal fundamental, kritis, rasional dan controversial. Dia mencoba untuk mengetahui sejauh mana hebatnya tuhannya. Dia mengedepankan kebebasan berpikirnya untuk menjamah pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan dalam Islam, saat dia terteori bahwa Al-Qur’an pada saat sekarang bukanlah lagi sumber utama dari Islam karena gamabran situasi dam kondisi yang merefleksikan kandungan Al-Qur’an tidak lagi rasional untuk dijalankan saat sekarang, seabliknya dia mengatakan bahwa sejarah Muhammad saw lah yang sekarang jadi titik tumpu ke-Islaman itu.
Dalam catatan harian ini ia mencoba melihat dan menceritakan tentang perenungannya terhadap konstelasi Islam sekarang yang sudah tidak sekhusuk abad ke-7 masehi dulu. Dia juga berusaha keras mengedapankan rasionalitasnya untuk menanyakan hal-hal yang sumbernya telah mutlak, seperti Al-Qur’an tadi. Dari 395 halaman buku ini dibagi menjadi empat bagian yaitu tentang pemikirannya, politik, perenunnganyanya dan kepribadiannya.
Secara kesuluruhan buku ini menggugah perspektif kita tentang hal-hal yang semestinya masih rancu.

10.
Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Perasaaan setelah membaca buku ini campur aduk, senang, rindu, galau, kacau dan sedih. Semua perasaan saling menindih satu demi satu, terlintas sekali bahwa buku ini mencertakan dan mengalami banyak percobaan hidup yang tiada tara. Semua melebur menjadi sebuah cerita yang mempunyai makna yang disampaikan secara tersirat dalam, tegas dan dengan pembawaan yang tenang tapi dapat.
Buku ini adalah gambaran manifes orang Indonesia (dulu: Inlandeer/pribmi) pada tanah airnya sendiri. Di mana aturan-aturan colonial mengakibatkan ketimpangan status hak dan kewajiban, juga sangat kontras nya pembagian kasta yang sebelumnya kita lihat sangat tidak gamblang, tapi disini kita sendiri yang mengambil kesimpulan bahwa buku ini menjelaskan setiap kasta berserta hak dan tugasnya dengan gamblang: Eropa, Indo (peranakan/blasetram), dan pribumi.
Awal kisah buku ini diawali dengan seorang tokoh bernama Mingke, sungguh janggal pada awal abad penutupan 19, nama keluarga tidak dicantumkan hanya Mingke saja, ia bersekolah di H.B.S. setinggkat SMA pada saat sekarang, memiliki berbagai macam persoalan pada sekolah yang agak cukup rasis lalu berkenalan dengan seorang wanita Indo bernama Annelies Mallema, ia wanita yang kekanak-kenakan, tanpa sadar keduanya saling jatuh cinta, dan membuat Mingke janggal dirumah Annellies yang disruruh oleh ibunya yang biasa disebut nyai Ontorosoh (Belanda: Buitenzorg). Tanpa sadar ikatan keduanya saling bergantungan, walaupun tidak banyak kendala dalam internal itu sendiri, tapi masalah yang krusial adalah cinta mereka dianulir oleh hukum Belalnda yang pada masa itu tidak menvamtumkan pribumi walhasil saat ayah Annelies meninggal ia harus tinggal di Nederland bersama kakak tirinya, padahal ia punya ibu kandung yang belasan tahun tinggal bersamanya, tapi sayang ibunya pribumi sehingga dia dianggap tidak syah sebagai istri dan tidak syah punya anak, karena Nyai adalah seorang gundik dari ayah Annelise Herman Mallema.

Dalam buku in bagaimana secara gamblang dengan pembawaan realisme Toer yang membebankan peristiwa pada tahun 1890-an itu, kita serasa dibawa kembali ke zaman itu.
11.
Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Tak pernah terbayangkan bahwa buku ini benar benar meyedot roh dan raga anda, semua plot dicampur dan dipersonalikasikan kepada pembaca. Kita dibawa hanyut dalam ombang-ambing masalah kehidupan, sebuah mozaik yang dianggap kecil meledak menjadi sebuah kerangka yang problematic sekali.
Buku ini adalah buku kedua dari tantralogi roman BUMI MANUSIA. Buku ini memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka. Perngarang benar-benar memberikan doktrin kepada pembacanya seolah-olah itu semua hal yang tidak langsung dalam arus cerita, buku ini benar-benar mengedepankan rasionalitas dalam semua alurnya, juga terselip hal-hal humanis untuk dipelajari.
Pada buku ini, sesuatu yang selalu kita harap-harapkan untuk pulang di buku pertama ternyata kandas juga. Apa pasal? faktanya ada sebuah karakter yang telah direngut sang pencipta, belum lagi perkara-perkara kolonialisme yang nanti mencengkram Mingke dan Nyai Ontorosoh, semua orang bersatu disini memberikan pertahanan terhadap nilai-nilai dan hukum kompeni yang masih meng-agung-agungkan rasime.

Menarik juga kita kaji hal-hal yang menjadi pertanyaan berantai pada buku pertama terjawab di buku kedua ini, contohya saja siapa si Gendut kenapa tuan Robert dan Herman menghilang, dan lebih takjubnya lagi ada nyawa baru di dalam Boorderij Buitenzorg, seorang mahkluk yang masih baru, kecil, dan ballita. Disini juga Mingke yang telah di doktrin dan memuja barat/Eropa mulai melihat dan peka terhadap sekitarnya atau para kaum-kaum melarat dan terdiskredit yaitu: rakyat nya sendiri.
Pramoedya benar-benar dalam bentuk tulisannya , kita tidak hanya berpikir saja dalam buku ini tapi kikta “dihatikan”, dalam artian membawa sebuah sentimentilitas untuk dipecahkan. Bagi yang membaca buku ini bersiap-siaplah untuk menyiapkan mental, karena ini benar benar sebuah masterpiece yang susunan, ritme, dan melodinya benar-benar akan membuat kita shock
Untuk buku ini penulis (saya) salut terhadap pengarang, benar-benar angkat topi, dan tiada dalam hati untuk mengacuhkan buku ini pada anak cucu nanti, mahakarya agung, sangat dalam, puitis, realis, penuh makna.
Empat rangkaian buku yang terindah yang pernah saya baca.

12.
Judul: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

13.
Judul: Rumah Kaca
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Buku ini benar-benar diluar dugaan, menceritakan kepada kita bagaimana ideallisme adalah harga disi apapun itu lawannya. Rumah kaca buku keempat dari tantralogi Bumi Manusia, lebih banyak menceritakan bagaimana pemerintah Hindia Belanda, mengontrol kegiatan pribumi agar tidak jadi membelot. Sehinga dikenallah rumah kaca, rumah yang bisa di awasi dari mana saja.

***

Perang Paderi

1. Latar belakang
Perang yang berkobar di Minangkabau pada permulaan abad ke-19 bertali-temali dengan persaingan ekonomis antara dua kekuatan masing-masing pihak berusaha keras menguasai selat Sumatra, urat nadi lalu lintas laut antara India dan Cina. Sumatra memegang key position untuk menguasai jalan dagang penting sepanjang zaman itu. Itulah sebabnya maka belanda berusaha keras menanamkan pengaruh politiknya di Sumatra sejak permulaan abad ke-19 dan melancarkan perang Sumatra (18021-0908). Menjelang akhir abad ke18 Inggris telah berhasil mengkonsolidasikan pengaruh politik ekonominya di India. Sejak itu secara sistematis Inggris berusaha mendesak belanda dari daerah-daerah yang dikuasainya di Indonesia, yang menyebabkan pertentangan kepentingan antara dua kekutatan kolonial itu, terutama di daerah selat Sumatra. Penang, pintu ke selat Sumatra di sebelah utara, diduduki oleh Inggris (1786). Dalam masa perang Napoleon (1793-1815) daerah kuasa belanda di Indonesia satu demi satu jatuh ketangan Inggris. Bandar Panda digabungkan dengan Natal disebelah utara dan Bangkahulu disebelah selatan (1795-1819).
Sesudah Napoleon kalah (1815, peta Eropa diperbaharui dan daerah-daerah takluk Belanda dan Inggris di Asia tenggara mengalami perubahan-perubahan penting. Perjanjian Wina (1814-1815) dalam banyak hal disabot oleh Inggris. Pada tahun 1814- tercapai tujuan antara Inggris dan belanda, Perjanjian London I, Inggris mengembalikan daerah-daerah takluk belanda yang didudukinya selama perang napoleon. Pelaksanaan Persetujuan itu selalu diundur-undur waktunya oleh Inggris.
Di pesisir Inggris diwakili oleh Raffles, seorang tokoh kolonial yang mempunyai pandangan politik tajam dan jauh kedepan ia berusaha menyakinkan pemerintahnya, agar kota Padang tidak dikembalikan kepada belanda. Cita-citanya mengisolir belanda di Padang dengan mendirikan pos-pos Inggris di Minangkabau. Dalam tahun 1818 ia mengadakan perjalanan ilmiah ke alam Minangkabau. Tentara Inggris ditempatkan di pos Simawang, di pesisir timur danau Singkarak. Pulau Nias-pun dikunjunginya pula dengan alasan yang sama, bagi kepentingan ilmu pengetahuan. Natal sebelah utara dan Bangkahulu disebelah selatan ialah pos-pos Inggris dipesisir barat Sumatra, yang tiap saat dapat mengancam kedudukan Belanda di Padang. Raffles melihat kemungkinan besar bagi kepentingan politik dan ekonomi di Minangkabau. Ia berusaha membangun kembali kerajaan Minangkabau di bawah pegawasan Inggris karena ingin menjadikan alam Minangkabau batu loncatan untuk menguasai seluruh Sumatra. Sungai-sungai besar seperti Batang Hari dan Siak yang berasal dari Minangkabau, dapat digunakan sebagai jalan dagang, yang menghubugkan daerah pedalaman Sumatra dengan selat Sumatra. Raffles juga merencanakan pembangunan jalan raja yang mempertalikan ujung utara Sumatra (Aceh) dengan ujung selatannya (Lampung). Rencana-rencana yang sangat ambisius itu tidak dapat disetujui oleh pemerintahnya, East India Company (EIC).
Gagal di pesisir, raffles mengalahkan perhatian nya kedaerah selat Sumatra. Dalam tahun 1819 dibelinya pulau Tumasik dari kerajaan Johor dan dibangun disana Bandar Singapura. Dengan dikuasainya Penang disebelah utara dan di Singapura disebelah selatan semenanjung Malaya, terancamlah kedudukan Belanda di bandar Malaka yang dikuasainya sejak tahun 1641. Singapura cepat berkembang menjadi pusat niaga penting di Asia tenggara dan melemahkan posisi belanda bukan hanya disekitar perairan selat Sumatra, tapi juga di Jawa (Batavia). Inggris mulai pula meluaskan perniagaannya ke Aceh, Riau dan Siak dan berusaha keras mengikat ke daerah-daerah itu dengan perjanjian dagang. Diplomasi Inggris lebih luwes dari pada belanda dan membuka kemungkinan akan berhasil baik rencana raffles yang diambil oleh pemerintah Inggris. Daerah pesisir timur Sumatra memperoleh barang barang keperluannya dari belanda lewat Padang mulai alam Minangkabau. Kegiatan ekonominya Inggris di daerah itu, terutama setelah bandar Singapura dibangun, sangat melemahkan posisi ekonomi belanda di Padang, menghadapi Inggris dengan kekuatan militer tidak mungkin, karena mereka jauh lebih kuat daripada belanda. Tidak pula mungkin memerangi daerah pesisir timur, sebab berarti menghalau daerah itu kedalam pelukan politik-ekonomi Inggris.
Satu-satunya jalan yang terbuka bagi belanda, ialah menguasai daerah supplier bahan-bahan yang diperjualbelikan dipesisir timur. Daerah itu ialah alam Minangkabau. Dengan dikuasai alam Minangkabau, arus dagang ke pesisir timur dapat dihambat dan disalurkan ke pesisir dengan Padang sebagai pusatnya. Terhenti arus dagang ke pesisir timur berarti pukulan ekonomis bagi Inggris.
Di alam Minangkabau sendiri telah timbul dan berkembang satu kekuatan politik, yang dapat merupakan ancaman bagi belanda di pesisir, yaitu gerakan Paderi. Di pesisir kaum Paderi berhubungan dagang dengan Inggris melalui Tiku, Ketiagan (Air Bangis) dan Pariaman, kegiatan-kegiatan yang dianggap oleh Belanda mengancam kepentingannya, dan menambahkan unsur ketegangan politik antara Belanda dengan Inggris di Asia tenggara.
Usaha belanda meluaskan pengaruh politiknya ke alam Minangkabau mempunyai dua tujuan, yang hendak dicapainya sekaligus melemahkan posisi ekonomi Inggris dipesisir timur dan mencegah penyusupan pengaruh politik mereka kedaerah pedalaman Sumatra serta mencegah perembesan pengaruh ideologi politik kaum paderi ke pesisir. Dalam konteks inilah perang kolonial dilancarkan oleh belanda di Minangkabau (1821-1845) harus kita tinjau dan dalam hubungan ini pulalah perlawanan-perlawanan sengit yang dilakukan rakyat Minangkabau harus kita nilai.

2. Perjanjian Tahun 1821
Pola politik kolonial Belanda di Indonesia ialah mendekati golongan yang lemah dan terjepit, apabila sesuatu daerah pada satu ketika sedang mengalami pertentangan-pertentangan polity hebat. Bantuan militer yang diberikan kepada golongan yang sedang terjepit itu akan meratakan jalan bagi Belanda untuk memperoleh konsepsi-konsesi politik-ekonomi yang menguntungkan. Taktik ampuh itu diterapkan pula oleh Belanda di Minangkabau.
Dalam tahun 1819 kota Padang diterima kembali oleh Belanda dari Inggris. Pada waktu yang bersamaan supremasi kaum paderi sudah tertanam di alam Minangkabau. Perlawanan-perlawanan sengit kaum adat telah dapat dipatahkan. Pembunuhan keluarga yang dipertuan Minangkabau dikota Tengah oleh Tuanku Lelo, panglima bawahan Tuanku Rao (1809) dan menyingkir yang dipertuan kedaerah Kuantan, dianggap oleh kaum Padri sebagai tumbangnya kekuasaan kerajaan Minangkabau/Pagaruyung.
Sekalipun kaum paderi telah membuktikan supremasi mereka di bidang militer, namun mereka tidak berhasil minciptakan satu kekuasaan riil dengan pemerintahan yang terpusat. Masing-masing Nagari Berdiri sendiri, sedikit sekali berhubungan dengan sesamanya dan ikatan yang ada hanya dibanding ideologi. Kaum adat terpaksa menerima kenyataan, bahwa kaum adat Padri lah yang berkuasa di Nagari sekarang, sebab mereka tidak cukup kuat untuk melawan kaum paderi. Status Quo itu tidak berlangsung lama. Dengan kembali Belanda menduduki Padang, kaum adat melihat prospek-prospek baru yang dapat mebangkitkan kembali batang terendam, artinya memilihkan mereka kepada kedudukan semula. Sebagian penghulu alam Minangkabau ada yang melahirkan diri ke Padang dan berusaha mencari bentuk di kota itu. Pertolongan pernah diminta kepada Inggris, tetapi ditolak, karena mereka tidak mengambil risiko berperang dengan kaum Paderi. Inggris mempunyai hubungan dagang dengan kaum Paderi sebagai supplier senjata dari Penang dan Singapura.
Dengan Belanda lain situasi nya. Perkembangan politik di alam Minangkabau memberikan peluang yang diharapkan oleh Belanda untuk meluaskan pengaruh politik-ekonominya dalam rangka konfrontasi dengan Inggris, disamping melakukan tindakan preventif terhadap serangan kaum paderi ke pesisir. Peluang guna mencapai kedua tujuan itu sekaligus ialah kesempatan yang diadakan oleh penghulu pelarian di Padang yang berambisi besar untuk merebut kembali kekuasaan di Nagari masing-masing. Belanda ingin memperluas daerah jajahan. Musuh yang dihadapi sama, yaitu kaum paderi. Penghulu mengharapkan bantuan yang tidak mengikat, tetapi lupa, bahwa sekutu yang memberikan bantuan itu tidak memberikannya tanpa perhitungan laba-rugi. Kelihatan diplomasi berdasarkan pengalaman yang lama sebagai pemerintah kolonial, digunakan oleh belanda waktu menghadapi penghulu-penghulu pelarian guna merealisasi kerja sama menurut pengertian mereka sendiri. Syarat-syarat kerjasama yang mereka tekankan kepada penghulu pelarian itu sebagai golongan yang politis sedang terjepit, berat sekali.
Seluruh Minangkabau, tidak lebih dan tidak kurang, barus diserahkan oleh penghulu-penghulu pelarian itu kepada Belanda sebagai imbalan dari bantuan yang mereka berikan. Penghulu-penghulu itu tidak pula kalah lihay daripada Belanda, karena biasa sudah bersilat lidah dan mengadu ujung jarum. Mereka tahu, bahwa tidak ada wewenang, apalagi kekuasaan untuk menyerahkan, jangankan Nagari mereka sendiri, apalagi seluruh Minangkabau kepada Belanda. Mereka bukan wakil yang ditunjuk oleh kerapatan penghulu negara mereka sendiri apalagi dari seluruh Minangkabau seperti yang mungkin diartikan oleh Belanda. Mereka menghadapi perundingan dengan penghulu- ditunjuk oleh kerapatan penghulu negara mereka sendiri apalagi dari seluruh Minangkabau seperti yang mungkin diartikan oleh Belanda. Mereka menghadapi perundingan dengan penghulu- penghulu pelarian itu berdasarkan kaidah-kaidah hukum barat dan tidak mengetahui seluk beluk hukum adat. Sebagai penguasa adat, penghulu-penghulu itu insyaf, bahwa perjanjian Penyerahan Minangkabau seperti yang ditekankan oleh Belanda kepada mereka, tidak mnempunya nilai hukum adat apapun juga. Dibutakan oleh nafsu masing-masing untuk berkuasa, kedua belah pihak berhasil pembodohan sesamanya. Tetapi karena Belandalah yang kemudian berkuasa akibat keunggulan persenjataan mereka, mereka merasakan nilai-nilai hukum barat kepada orang Minangkabau guna memberikan legalitas pada tindakan politik mereka, menguasai seluruh Minangkabau. Isi pokok perjanjian tahun 1821 ialah, Penyerahan kerajaan Minangkabau kepada Belanda yang berjanji aka membantu kaum penghulu untuk mematahkan kekuasaan paderi. Penghulu-penghulu pelarian itu seia-sekata pula akan tunduk dan setia kepada Belanda. Janji itu tidak hanya mengikat mereka, tetapi juga anak-anak cucunya mereka dikelak kemudian hari, sebagai langkah pertama peng-realisasian perjanjian 1821. Belanda menempatkan 100 orang tentara dan dua pucuk meriam di Simawang.
Perjanjian itu mempunyai akibat yang sangat serius. Dengan sangat mudah, walaupun diatas kertas, Belanda dapat mengembangkan kekuasaan politik-ekonominya di daerah yang potensial penting sebagai key position pada waktu itu, dengan hanya menempatkan 100 orang tentara dan dua pucuk meriam di Simawang. Dengan menduduki tempat yang strategis-militer penting itu Belanda dapat mengawasi arus lalu-lintas barang dan manusia kejurusan timur (Luhak tanah datar) dan ke-hilir (lembah hulu batang hari), ke selatan (sulit air, Solok, Maura Labuh), ke barat (melalui Singkarak ke Padang) dan ke utara (Batipuh-Padang Panjang). Penghulu pemimpin rakyat bukan lagi pembantu mereka, tetapi berada slam posisi diperintah oleh Belanda. Mereka dipaksa mengerahkan anak kemenakan, rakyat mereka, untuk ikut memerangi kaum pari, bangsa dan adakalanya anggota suku dan keluarga sendiri. Disamping itu penghulu-penghulu diharuskan pula men-supply logistic penting untuk perang, seperti makanan, bahan-bahan bangunan untuk benteng Belanda, dsb.
Segala umpat dan caci-maki dari rakyat mereka sendiri dan rasa permusuhan yang kian menjurang dengan pihak paderi, adalah akibat dari permainan catur politik dengan Belanda di Padang itu. Dengan perjanjian 1821 sebagai visum, Belanda memasuki medan perang di alam Minangkabau, tanpa menyangka, bawa perang akan berlarut-larut, meminta banyak korban jiwa dan harta dari kedua belah pihak. Terhadap konflik ideologi yang sedang memecah belah masyarakat Minangkabau, Belanda membawa menambahkan satu faktor baru, perang kolonial dengan segala akibatnya.
Tahun 1821 tidak saja merupakan titik tolak dan pengkal penamaan kekuasaan Belanda di Minangkabau, tetapi juga sebagai permulaan perang Sumatra guna menguasai seluruh Sumatra (1821-1808) . untuk Minangkabau penamaan kekuasaan itu selesai dalam tahun 1845 dan bagi Sumatra dengan ditaklukannya Aceh (1904) dan tahan Batak utara (1908). Operasi-operasi militer yang bertujuan politik-ekonomi menguasai Minangkabau, dapat kita bagi dalam periode-periode berikut:
1. 1821-1832 seluruh Minangkabau, kecuali Kubang XIII (daerah Solok) jatuh ketangan belanda.
2. (permulaan tahun) 1833-(permulaan tahun) 1834, kaum adat dan Padri bersatu menghadapi Belanda, lembah Alahan panjang dibebaskan dari dominasi militer Belanda.
3. 1834-1837: perang Bonjol, yang dapat dibagi menjadi:
a. Juni 1834-juni 1835, masa mendekati benteng Bonjol.]
b. Juni 1835-agustus 1837, masa pengepungan dan penaklukan benteng Bonjol.
4. 1837-1845, pembulatan kekuasaan belanda di Minangkabau dengan penaklukan Kubang XIII (daerah Solok) dan Maura Labuh, diselingi oleh perlawanan regen Batipuh, pedang panjang (1842).

3. Operasi-Operasi Militer
a. Periode 1821-1832.
Benteng Simawang merupakan pusat kegiatan militer dan politik Belanda yang pertama di alam Minangkabau. Sikap permusuhan, – “tidak mau kerja sama” – , yang segera diperlihatkan oleh Nagari-Nagari disekitar benteng itu, mendorong Belanda untuk mendemonstrasikan kemampuan militernya. Sulit air diserang (28 April 1821) dan mulailah konflik senjata yang pertama di alam Minangkabau dengan Belanda.
Serangan Belanda itu gagal, demikian pula serangan berikutnya dua hari kemudian. “demonstrasi militer” di gunung dan simabur, Luhak tanah datar, mengalami nasib yang sama (Agustus 1821).
Menjelang akhir tahun 1821 letnan kolonel Raaff sampai di Padang dengan membawa serdadu dan senjata lengkap dari Batavia, sebagai komandan territorial di Sumatra barat. Mula-mula Raaff bermaksud menyerang Luhak Agam, tetapi setelah mempelajari situasi politik alam Minangkabau lebih teliti, Luhak tanah datar dijadikan objek terutama. Keputusan itu didasarkan atas pertimbangan, bahwa jika Luhak tanah datar sudah ditaklukan dan kekuasaan tuanku lintau dapat dipatahkan, kaum Padri dari daerah lain akan tunduk dengan sendirinya.
Dengan Simawang sebagai pangkalan, Pagaruyung diserang (4 Maret 1822). Kaum Padri meninggalkan bekas ibukota kerajaan Minangkabau itu setelah memberikan perlawanan yang gigih. Di sebuah bukti dekat Pagaruyung Belanda mendirikan benteng “fort van der Cappelen”, menurut nama gubernur jendral Hindia Belanda ketika itu. Itulah Batusangkar sekarang.
Raaff merencanakan untuk langsung menyerang Lintau (17 Maret 1822). Dengan kekuatan militer yang besar Belanda berangkat ke Suruoaso, Tanjung Berulak dan Air Bertumbuk, arah timur laut dari Batusangkar. Kaum Padri memusatkan pertahanan mereka di daerah itu. Berkali-kali Belanda berusaha menerobos tapi selalu dipukul mundur dengan korban besar.
Kemenangan Padri di Lintau menghentikan kegiatan-kegiatan militer Belanda untuk sementara waktu. Antara bulan Maret dan Juni 1822 Belanda memperkuat pertahanannya di Batusangkar. Titik terakhir dari garis pertahanan kaum Padri ialah Nagari Tanjung alam antara luka Agam dan Luhak 50-koto. Tanjung alam terpaksa dikosongkan oleh kaum Padri dan geris pertahanan Belanda terbentang dari Simawang disebelah tenggara sampai ke Tanjung Alam. Serangan kaum Padri untuk merebut Tanjung ala kembali tidak berhasil (7 Juli 1822)
Sekalipun sudah berhasil membuat baji yang memisah daerah kuasa kaum Padri dengan sesamanya, dalam jangka waktu yang lama Belanda tidak bernafsu menyerang untuk menyerang Lintau lagi. Segala usaha dipusatkan ke Luhak Agam dengan menyerang dan menduduki kota Lawas, Pandai Sikat dan Gunung (Juli 1822). Tuanku Masiangan, tokoh pimpinan Padri di Luhak Agam, ditawan oleh Belanda.
Nagari Kapau dan Tilatang disebelah utara Agam diserang oleh Belanda (15 Agustus 1822). Kaum Padri memberikan perlawanan gigih dengan “sistem-kubu” yang kuat dan berhasil menggagalkan tiap-tiap serangan Belanda, yang lalu mengundurkan diri dengan menderita banyak korban.
Dalam bulan September 1822 kaum Padri melancarkan serangan balasan secara serentak dan berhasil mengusir Belanda dari sungai Puar dan Guguk Sigandang, Luhak Agam dilereng gunung Merapi sebelah barat. Di bulan Februari 1823 Belanda mendatangkan bantuan dari Jawa dan pada bulan April berikutnya mereka mengadakan serangan-serangan kembali. Pertempuran hebat berlangsung selama tiga hari tiga malam dan Belanda terpukul mundur (17april 1823).
Mei pasukan tuanku Masiangan bergerak kedaerah pesisir dengan maksud merebut Pariaman. Waktu yang sama Belanda kembali menyerang Pandai Sikat. Serangan ke pesisir dibatalkan dan pasukan Padri kembali untuk untuk mempertahankan Pandai Sikat. Setelah melakukan pembunuhan massal di Biaro dan merebut Nagari-Nagari di sekeliling gunung merapi-singgalang. Belanda berusaha merebut Pandai Sikat, tetapi tidak berhasil.
Pada Januari 1824 tercapai kata sepakati antara pihak Belanda dengan kaum Padri Alahan Panjang, disebut perjanjian masang. Sebulan kemudian Belanda menyerang Nagari kota Lawas di Luhak Batipuh. Nagari Pandai Sikat terancam dan ditinggalkan oleh kaum Padri (1 Maret 1824).
Perjanjian masang digunakan oleh Belanda sebagai tabir asap guna mengalihkan perhatian kaum Padri dari tujuan Belanda yang sebenarnya. Menghubungkan Luhak tanah datar dengan Batipuh dan Luhak Agam.
Kekalahan-kekalahan yang diderita oleh kaum Padri di Luhak tanah datar dan Luhak Agam mempunyai efek psychologies yang serius bagi moril kaum Padri di lembah Alahan panjang. Disana terletak benteng Bonjol. Pada permulaan bulan September 1832 pertempuran-pertempuran sengit berkobar di Luhak Agam antara Matur dan sungai Puar. Pasukan lain datang dari arah pesisir dan kedua kesatuan itu bergabung di Simawang gadang. Belanda mengirimkan ultimatum kepada Bonjol untuk menyerah, yang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Padri. Golongan yang sudah jemu perang ingin berdamai.
Dengan dikuasainya Luhak Agam (April 1832), Nagari-benteng Bonjol (September 1832) dan Luhak L-Koto (Oktober 1832), sebagian besar daerah Minangkabau kecuali Kubang-XIII (Solok), telah dikuasi oleh Belanda. Tahap pertama dari “perang Padri”, sebagai permulaan dari perang Sumatra, selesai sudah.

b. Permulaan tahun 1833 – Permulaan tahun 1834
Dengan kekalahan kaum Padri pada akhir tahun 1832, penaklukan sebagian besar dari wilayah Minangkabau secara militer sudah selesai. Follow up dari penaklukan dengan kekerasan senjata ternyata jauh lebih sulit, sebab menyangkut soal-soal psikologi manusia dan wataknya. Pendudukan Nagari benteng Bonjol di iringi dengan perubahan sistem pemerintahan. Administrasi pemerintahan Padri dihapus. Di Bonjol diangkat seorang regen yang diserahi pimpinan pemerintahan seluruh lembah Alahan panjang. Dalam perjanjian yang dibuat dengan pihak Padri waktu Belanda akan memasuki Nagari Bonjol, tercapai kata sepakati, tentara Belanda akan ditempatkan pada daerah tertentu, yaitu di medan Saba. Belanda berjanji akan menghormati agama dan adat penduduk. Ternyata kemudian Belanda sebagai pihak yang menang perang, melanggar segala janji itu. Tentara Belanda mengempati mesjid-mesjid, langgar dan rumah-rumah penduduk, yang penghuninya diusir keluar. Mengasramakan tentara “kafir” dalam mesjid dan langgar sebagai tempat ibadah penduduk yang umumnya beragama Islam, sangat melukai rasa keagamaan mereka. Disamping itu penduduk dipaksa pula melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sebagai penghinaan harkat mereka seperti manusia merdeka yang tahu harga diri. Mereka dipaksa membersihkan tempat-tempat kediaman tentara kafir itu. Tindakan tentara Belanda itu memberikan kesadaran kepada rakyat, bagaimana pahitnya nasib yang kalah perang. Kedua golongan yang berbeda faham waktu menerima ultimatum Belanda, dipertemukan oleh penderitaan yang sama. Di daerah-daerah lain pun rasa tidak puas, dipupuk oleh sikap dan tindakan-tindakan Belanda, meluas dan berkembang biak. Di daerah-daerah dimana golongan adat merupakan mayoritas, rasa tidak puas berkembang luas sebagai akibat dari percaturan-percaturan pajak, yang dianggap sangat mengikat dan berat. Mereka dipaksa pula melakukan kerja rodi, dilarang menyabung ayam dsb. Peraturan cukai pasar dan menyabung ayam, diterbitkan oleh Belanda dalam tahun 1825, dan diperdagangkan kepada orang cina, sangat melukai hati penduduk. Pada umumnya orang cina itu bersikap sombong dan keras, karena itu sering dibantu oleh penduduk untuk membalas dendam. Disamping itu perasaan tidak puas meluas pula dikalangan penghulu-penghulu yang dulu banyak membantu Belanda, tetapi kini merasa dilupakan.
Diseluruh Minangkabau ketika itu merata rasa tidak puas, walaupun motifnya berbeda-beda, maka saling mendekatilah golongan Padri dengan golongan penghulu, golongan agama dan adat yang bertentangan selama ini. Kedua golongan itu mengadakan rencana untuk menumbangkan belanda dari alam Minangkabau.
Sesuai dengan rencana bersama, pada tanggal 11 Januari 1833 tengah malam serangan0serangan serentak dilancarkan pada seluruh pos Belanda di Minangkabau. 20 orang hulubalang dibawah pimpinan raja Layang dan Tuanku nan Garang memasuki mesjid Bonjol dan membunuh tentara belanda yang diasramakan ditempat ibadah itu. Di Simawang gadang 9 orang termasuk komandannya tewas.
Perlawanan penduduk berkobar pula di Nagari-Nagari tarantang tunggang. Lubuk Amabalau dan Rao. Diseluruh lembah Alahan panjang 142 orang tentara Belanda menemui ajal mereka.
Walaupun tidak semua perlawanan dari kaum Padri mulus, tapi Belanda tidak mampu memadamkan api perlawanan sama sekali. Dalam bulan Juni 1833 penduduk Buo menyerang Belanda, di Tambangan dan Guguk Sigandang terjadi pertempuran sengit. Benteng Guguk Sigandang dihancurkan oleh rakyat. Dalam bulan Juli berikutnya perlawanan bersenjata berkobar di Kamang dam sekitar Bukittinggi.
Luhak tanah datar dan Luhak Agam dikuasi kembali oleh belanda dan kaum Padri di lembah Alahan panjang dengan Bonjol sebagai pusatnya terisolir (Juli 1833). Belanda menjadikan kedua Luhak tersebut sebagai daerah supply dan basis untuk menyerang Bonjol kembali.

c. Periode 1834 – 1837 (Perang Bonjol)
Periode perang Bonjol dimulai dengan serangan ke pantar dan mantur (Juni 1834) dan berakhir dengan jatuh benteng Bonjol (17 Agustus 1837). Periode ini dapat kita bagi atas:
1. Masa mendekati Bonjol (Juni 1834 – Juni 1835), dan
2. Masa pengepungan dan penaklukan Bonjol (Juni 1835 – Agustus 1837).

1. Masa mendekati Bonjol (Juni 1834 – Juni 1835)
Karena menemui kegagalan di bidang militer, belanda mengalihkan aktivitas mereka di bidang diplomasi. Taktik itu mereka tempuh untuk memperoleh adem pause. Tarik nafas yang cukup lama guna menyusun kembali kekuatan militer.
Plakat panjang yang diumumkan pada tanggal 25 Oktober 1833 ialah hasil dari usaha kejurusan itu. Serta merta dengan diumumkan Plakat panjang, kaum Padri menghentikan segala kegiatan perang mereka. Kubu-kubu pertahanan banyak yang ditinggalkan. Di beberapa tempat bahkan ada yang dirusak. Belanda hanya menghentikan serangan-serangan mereka, tetapi persiapan-persiapan untuk suatu ketika melanjutkan perang diteruskan. Dengan Plakat panjang Belanda berhasil mencapai tujuannya, kaum Padri menyia-nyiakan waktu dan menutup pintu bagi kemenangan.
Selama tujuh bulan Belanda mengadakan persiapan-persiapan perang, selama itu pula kaum Padri mengendorkan kewaspadaan dan meengabaikan pertahanan mereka. Pada tengah malam buta antara tanggal 3 dan 4 Juni 1834 pantar dan Matur tiba-tiba diserang dan diduduki. Serangan serangan sekonyong-konyong dalam masa damai itu merupakan pukulan psikologis yang hebat bagi kaum Padri. Mereka kalang kabut, kubu-kubu pertahanan banyak yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Tetapi semangat tempur mereka berkobar kembali, sekalipun tidak sehebat seperti dalam bulan September 1833.
Jatuh kedua tempat yang militer-strategis penting itu berarti kemajuan besar bagi operasi militer Belanda. Hubungan Maninjau-Agam terputus. Andalas, benteng Padri yang kuat, jatuh pula ketangan musuh dan pada tanggal 24 Juni 1834. Nagari sungai puar di Luhak Agam menyerah. Bamban dikuasi, setelah pertempuran sengit dan dijadikan pusat perbekalan dan gedung senjata.
Pertempuran mulai berkobar lagi pada tanggal 21 April 1835. Pasukan Belanda menyerang Bonjol dari tiga jurusan sekaligus. Dari Matur dan Bamban disebelah barat-daya, dari L-Kota disebelah timur-laut dan dari Tapanuli selatan disebelah utara.
Dari Sipisang Belanda melakukan gerakan kakak tua. Satu kesatuan menuju ke Padang Sarai dan kesatuan lain kejurusan Simawang gadang. Yang ke Padang Sarai dipukul cerai-berai ditepi sungai kumpulan dan yang menuju ke Simawang gadang datang membantu untuk menghindarkan kesatuan yang pertama dari kehancuran total.
Kubu kaum Padri diseberang air taras menjadi medan tempur sengit pula. Korban berjatuhan pada kedua belah pihak (3 Mei 1835).
Pasukan Tapanuli hanya berhasil mencapai Rao, tetapi dipukul mundur dan terpaksa kembali.
Lembah dari tepi sebelah kiri Alahan panjang hingga musuh yang letaknya kira-kira 1 km disebelah selatan Nagari Bonjol, merupakan pertahanan kaum Padri yang penting. Pusatnya, Padang Lawas, didekati oleh Belanda dari dua jurusan (8 Juni 1835). Sebagian secara diam-diama berhasil menyusup kebelakang koto Padang Lawas. Kaum Padri, menghadapi serangan dari dua jurusan sekaligus, menghindarkan diri dari jepitan kakak-tua dengan memberikan perlawanan yang gigih. Lembah Padang Lawas ditinggalkan.
Dengan dikuasi lembah penting itu oleh Belanda, pintu gerbang Bonjol disebelah selatan berada ditangan musuh. Ruang gerak kaum Padri di Bonjol makin dipersempit dan diperketat oleh Belanda (Juni 1835).

2. Dikepung dan Ditaklukan (1835 – 1837)
Bertambah dekat kebenteng Bonjol, bertambah lamban kemajuan Belanda dan lebih banyak korban jatuh pada kedua belah pihak. Belanda memagari Bonjol dengan kubu-kubu dan perang menjadi perang kubu, stelling-oorlog. Perang yang lamban itu sangat mengganggu urat syaraf tentara Belanda terutama, karena harus siap siaga setiap saat. Hampir putus asa, mereka berusaha menempuh jalan perundingan dengan tuanku imam. Usaha itu tidak pernah beliau hiraukan.
Bagi kaum Padri sendiri periode antara tahun 1835 – 1837 itu ialah yang paling berat. Mereka makin terisolir dan melawan Belanda mati-matian untuk dapat terus hidup. Dalam masa serba genting yang menentukan nasib kaum Padri di Minangkabau itu, tuanku imam Bonjol memainkan peranan sangat penting. Beliau menjadi gunung harapan dan lambang perjoangan kaum Padri.
Sejak lembah Padang Lawas dikuasi oleh Belanda, mereka berangsur maju setapak demi setapak. Pada tanggal 14 Juni 1835 mereka berhasil menyeberangi B. Alahan panjang pada tempat yang dangkal, tetapi tidak melancarkan serangan. Tembakan-tembakan dari kubu-kubu kaum Padri tidak mereka balas. Dengan menyusuri tepi sungai mereka bergerak kearah utara dan menduduki sebuah kubu yang kebetulan kosong. Kontak senjata yang kemudian terjadi, mengakibatkan serangan Belanda secara besar-besaran dan beberapa buah kubu jatuh ketangan mereka. Mereka membangun sebuah kubu yang berdekatan dengan benteng Bonjol. Pertempuran berlangsung selama lima hari dan meminta korban lebih kurang 100 orang Belanda. Seungguh pun demikian Belanda berhasil membuka posisi mereka dengan menggunakan artileri berat hingga kira-kira 100 m dari benteng Bonjol. Mereka bertahan dalam kubu yang sempat dibangun. Usaha kaum Padri menghalau mereka dari kubu itu tidak berhasil.
Disebelah barau-laut Bonjol ditepi s. Alahan panjang letak berdekatan koto benteng koto dan koto jambak. Belanda menyerang dan berhasil menduduki kedua koto itu. Kontra offesief dilakukan cara gigih dan terus menerus oleh kaum Padri, mendesak Belanda dari kubu itu dengan meninggalkan korban banyak.
Kekalahan di jambak dan koto minumbulkan kelesuan dipihak Belanda, karena banyak menelan korban. Selama tiga minggu Belanda bertahan dalam kubu mereka, menantikan bala bantuan dari air Bangis. Mereka menyerang dan menduduki Alahan mati untuk memutuskan hubungan Bonjol dengan pesisir (12 Juli 1835). Operasi selanjutnya diarahkan ke Lubuk Ambacang dengan maksud menghubungkan Alahan mati dengan markas di lembah Alahan panjang. Lubuk Ambacang mereka kuasai setelah tiga hari bertempur dan meminta korban tidak sedikit.
Disebelah tenggara Nagari Bonjol terletak kota Padang Bubus, pada jalan-kuda ke lalang, Puar datar dan Payakumbuh. Padang Bubus diserang oleh Belanda dengan tujuan menjepit Bonjol dari arah tenggara (4 September 1835). Serangan dilancarkan dari dua jurusan sekaligus, tetapi dapat dilumpuhkan oleh kaum Padri.
Hingga bulan Januari 1836, setelah sepuluh bulan mengepung benteng dari Nagari Bonjol, belanda baru dapat menguasai bagian selatan., barat laut Bonjol dan beberapa kubu disekitar benteng Bonjol. Benteng dan Nagari Bonjol sendiri belum terdekati oleh tentara Belanda. Mereka berhasil memperketat dijepitnya, hingga hubungan Bonjol dengan dunia luar berangsur-angsur terputus. Pada awal tahun 1836 garis pertahanan Belanda sepanjang 5 km dan jumlah tentaranya lebih kurang 1.300 orang, tidak terhitung oleh Indonesia dan pasukan-pasukan bantuan bukan orang Belanda.
Dini hari jam 3 malam sepasukan militer musuh berhasil menyusup ke dalam benteng Bonjol melalui lobang akibat tembakan-tembakan meriam Belanda dan langsung menuju kerumah isteri tuanku imam (3 Desember 1836). Kaum wanita diseret semuanya keluar, satu-satunya pria, Mahmud, putera bungsu tuanku imam, gugur. Tuanku imam yang malam itu tidur dirumah lain, datang dan segera terlibat dalam perkelahian sengit, tentara Belanda melarikan diri keluar benteng. Dikejar oleh tuanku imam dengan pedang berkilat ditangan. Nyaris beliau teas, sekiranya tidak cepat menangkis tusukan bayonet seorang tentara Belanda. Waktu itu tuanku imam sudah berumur 63 tahun.
Kekalahan Belanda yang bertubi-tubi itu mempunyai akibat luas, perdebatan sengit terjadi dikalangan pimpinan tinggi di Batavia. Ada yang menyangsikan kesanggupan tentaranya di Minangkabau untuk menyelesaikan kesanggupan tentaranya di Minangkabau untuk menyelesaikan perang Padri dengan cara terhormat.
Panglima tentara Hindia-Belanda sendiri memerlukan datang ke Padang dan Bonjol guna mengadakan pengamatan “on the spot” (9 Maret – 12 April 1837).
Disamping menyempurnakan pertahanan, persenjataan, perbekalan dan perhubungan, pasukan-pasukan di Bonjol dengan daerah-daerah lain, kembali ia mengajak tuanku imam untuk berunding. Sungguhpun keadaan kaum Padri ketika itu tidak menggembirakan ajakan itu oleh tuanku imam ditolak.
Pada tanggal 28 Juni 1937 Padang Bubus dan kemusai Tanjung bunga jatuh ketangan Belanda. Pada tanggal 3 Juli berikutnya pertempuran sengit terjadi disebuah bukti disebelah selatan Bonjol dari bukti itu meriam-meriam Belanda tidak henti-hentinya menggempur bukut terjadi.
Tentara Belanda menggali parit-parit tempat berlindung sebelum serangan dilancarkan. Kaum padri memindahkan aliran sungai dan menggenangi parit itu.
Dari hari kehari pengepungan benteng Bonjol semakin ketat. Dibawah lindungan tembakan-tembakan meriam nya, Belanda berhasil membuat kubu yang hanya 25 meter jauhnya dari dinding benteng Bonjol (31 Juli 1837). Seminggu lamanya tidak henti-hentinya meriam-meriam Belanda menghujani benteng Bonjol.
Hubungan kaum Padri dalam benteng dengan dunia luar hampir terputus sama sekali. Satu-satunya jalan yang terbuka ialah kejurusan utara ke koto marapak. Belanda telah menduduki bukti di sebelah timur bukut terjadi dan segala kegiatan kaum Padri dapat diawasi dari bukti itu. Bantuan dari luar, senjata maupun makanan, praktis tidak dapat diharapkan lagi oleh tuanku imam. Kaum wanita dan anak-anak mulai diungsikan keluar benteng, dibawa ke koto marapak.
Bukit tajadi disebelah timur terpisah dari benteng Bonjol oleh sebuah anak sungai yang dangkal. Dinding bukit itu sangat curam dan tingginya kira-kira 20 meter. Diatas bukti itulah kaum Padri mendirikan kubu-kubu pertahanan, diperkuat dengan meriam-meriam besar. Pada beberapa tempat ada lobang pengintaian. Dari lobang-lobang itu benteng Bonjol dan dataran dibawahnya dapat dilihat dengan jelas. Karena itu segala gerak-gerik lawan dapat di ketahui dengan mudah. Dari ujung sebelah tenggara membentang sebuah lembah dalam sampai ke Sipisang.
Akibat muntahan peluru-peluru meriam-meriam Belanda selama minggu bulan Agustus 1837, benteng Bonjol rusak hebat.
Belanda memusatkan segala serangan untuk merebut bukti Tajadi guna membungkamkan meriam-meriam Padri yang sangat mengganggu kemajuan pasukan infanteri mereka. Sebagai pancingan Belanda melakukan gerakan-gerakan tentara yang hebat disebelah barat dan selatan Bonjol. Perhatian kaum Padri dicurahkan sepenuhnya pada gerakan-gerakan itu. Sebagian pasukan Padri dipindahkan dari bukti Tajadi kedalam benteng Bonjol guna menghadapi serbuan Belanda.
Pada tanggal 15 Agustus 1837 meriam Padri masih menembak dari bukit Tajadi. Itulah tembakan terakhir. Pada malam harinya pasukan belanda dari Sipisang sudah sampai kedalam benteng dan duga-duga itu mengagetkan dan melumpuhkan seketika semangat juang kaum Padri. Memberikan perlawanan terus sia-sia, bukti Tajadi ditinggalkan melalui jalan utara.
Dengan jatuh bukit Tajadi benteng Bonjol jadi lumpuh. Pagi-pagi tanggal 16 Agustus 1837 pasukan Belanda dari bukit Tajadi bergerak dengan sangat hati-hati mendekati benteng Bonjol kesangsian masih meliputi hati mereka, khawatir menghadapi perlawanan mati-matian kaum Padri. Gerakan tentara Belanda itu memasang dihalang-halangi oleh tembakan-tembakan kaum Padri dari Puncuran tujuh, tetapi sudah tidak mampu merintangi kemajuan lawan. Tentara Belanda memasuki benteng Bonjol dari pintu gerbang timur bergabung didalam benteng dengan pasukan-pasukan yang masuk dari jurusan barat dan selatan. Benteng kaum Padri terakhir di Bonjol jatuh ketangan Belanda (16 Agustus 1837).
Secara resmi perang fisik di Minangkabau sudah berhenti dengan kemenangan Belanda.
4 . Periode 1837 – 1845
Beberapa lama Sesudah benteng Bonjol jatuh, tuanku imam masih memimpin perang gerilya. Dalam keadaan demikian beliau menerima surat dari residen Sumatra barat di Padang, yang mengajak beliau datang ke Palupuh untuk berunding . dengan ditemani oleh seorang anak beliau dan tiga orang pengawal, tuanku imam datang ketempat yang ditentukan (25 Oktober 1837). Serta merta beliau ditangkap, dibawa ke Batavia untuk selanjutnya di asingkan di Cianjur. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Manado, tempat beliau kemudian meninggal dunia (6 November 1864). Dan dikebumikan (dikampung Lutak).
Dengan Bonjol sebagai pangkalan, Belanda melanjutkan operasi militernya guna mengamankan Nagari-Nagari di sekitarnya. Dibagikan utara Minangkabau masih ada pertahanan kaum Padri yang kuat, benteng Dalu-Dalu dibawah komando tuanku Tambusai. Ketika Belanda memusatkan segala usahanya untuk menguasai Nagari Bonjol, beliau menyerang Tapanuli selatan. Karena menderita pukulan-pukulan dari tentara Belanda, beliau menarik diri kebenteng Dalu-Dalu. 14 bulan lamanya Belanda berusaha menaklukan benteng itu dan pada tanggal 28 Desember 1838 benteng kaum Padri terakhir di Minangkabau jatuh ketangan belanda. Tuanku Tambusai menyingkir ke Padang Lawas dan melanjutkan perlawanan disana sampai beliau meninggal dunia (1863). Tuanku Tambusai menjadi cikal-bakal kesultanan Berumun dengan kota Pinang sebagai ibukotanya.

Kesimpulan
1. Gelombang pembaruan dan pemurnian ajaran Islam di Minangkabau pada permulaan abad ke-19 menimbulkan perang saudara, yang berakhir dengan dirintis jalan bagi perkembangan mazhab Syafe’i dan tertanam dominasi politik-ekonomi Belanda di daerah Minangkabau.
2. Pembunuhan besar-besaran atas keluarga yang dipertuan Minangkabau/Pagaruyung di kota tengah (1809) dianggap sebagai berakhir zaman kerajaan Minangkabau/Pagaruyung dan mulai zaman “darul Islam Minangkabau” (hingga tahun 1821) dibawah pimpinan kaum wahabi/Padri.
3. Dengan memperalat penghulu-penghulu pelarian di Padang (perjanjian 1821), Belanda mulai melancarkan “perang kolonial” di Minangkabau, permulaan dari “perang Sumatra”, yang berakhir dengan ditaklukan daerah Aceh (1904) dan Tapanuli utara (1908).
4. Kaum wahabi/Padri memproklamirkan perang kolonial itu sebagai perang sabil dan bersatulah kembali kaum adat dan kaum agama untuk bersama-sama menghadapi agresif Belanda itu. Hingga tahun 1825 semangat bertahan rakyat Minangkabau berhasil membatasi ekspansi politik Belanda pada beberapa tempat di Luhak Nan tiga. (perjanjian masang 1824).
5. Gencatan senjata antara tahun 1825-1830, berhubung dengan pecah perang Diponogoro di Jawa, tidak ditepatgunakan oleh rakyat Minangkabau. Selesai perang itu Belanda memusatkan kembali segala daya dan usahanya ke Minangkabau, hingga berhasil ditaklukannya (1832).
6. Pelanggaran-pelanggaran dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak Belanda, mengakibatkan terjadi pertemuan Tandikat (1832). Bulat tekad kaum adat dan agama untuk bersama-sama serentak mengusir Belanda dan perang Minangkabau berkobar kembali dengan hebat nya.
7. Gagal dibidang militer (pertempuran sengit di pantar dan Matur, 1833) Belanda menempuh jalan diplomasi dengan mengumumkan Plakat panjang (Oktober 1833), yang berhasil memecah belah Persatuan rakyat Minangkabau dan memberikan adempauze, peluang waktu untuk menarik nafas, yang digunakan oleh Belanda guna menyempurnakan persiapan-persiapan militer mereka.
8. Setelah merasa dirinya kuat kembali, Belanda melanggar Persetujuan Plakat panjang. Segal usaha dipusatkan untuk menaklukan Bonjol (1834 – 1837), pusat pertahanan rakyat Minangkabau terkuat disebelah utara dibawah pimpinan tuanku imam
9. Dengan ditawannya tuanku imam (1837), dipatahkan perlawanan Tuanku regen Batipuh (1841) dan hancur pertahanan rakyat kabung XIII (akhir tahun 1845), selesailah perang Minangkabau sebagai tahap pertama dari perang Sumatra.
Dikutip dari buku M. D. Mansoer (dkk). Sedjarah Minangkabau. Bhratara. 1970. Jakarta.