Fenomena Iklan Politik

Fenomena Iklan Politik

Oleh : Hendriko Firman**

Kalau kita melihat dan mengamati iklan televisi maka kita akan melihat berbagai produk- produk atau sesuatu yang diberikan pihak supplier. Sekarang hal tersebut memang wajar- wajar saja kita lihat, dimana ada pedagang dan ada pula yang diperdagangkan. Lantas karena banyaknya iklan di televisi akhirnya memberikan suatu pemahaman kepada pedagang bahwa iklan efektif menggaet konsumen. Maka dari banyaknya iklan yang menggaet para konsumen, maka tidak heran pula politik menjadi sebuah tool dan berpartisipasi juga. Maka politik hadir dalam iklan dan ia dinamakan iklan politik. Iklan politik yang kita lihat sekarang cukup riskan untuk ditilik dan sangat menggilitik sekali apabila dicermati.

Iklan politik kalau dilihat ia sangat egois, egois karena ia tidak memberikan bukti maka ia hanyalah sebuah iklan yang berdurasi kurang lebih 60 detik yang mencoba membual, menipu, dan membodohi yang berbeda sekali apabila kita lihat iklan-iklan komersil lain yang mana misalnya saja makanan A yang khasiatnya enak dan kenyang maka khasiatnya memang benar enak dan kenyang dimana janji dibayar dengan bukti. Contoh lain adalah produk pemutih wajah, apabila dipakai berangsur-angsur maka buktinya kulit nampak lebih putih. Sebaliknya kalaupun kita menerima produk partai (janji) secara perlahan-lahan melalui iklannya, maka yang ada hanyalah pembohongan permanen. Dan oleh karena itulah kenapa iklan politik dikatakan egois atau menang sendiri.

Pertanyaan yang menarik dari fenomena iklan politik ini adalah apakah iklan politik benar-benar mempengaruhi atau ia malah memunduri image-nya diri sendiri? Dasar berpikir seperti ini adalah yang pertama; apabila iklan politik hadir ditelevisi maka target yang dicapai adalah mempengaruhi sebagai konsep, karena si pedagang iklan beripikir bahwa masyarakat awam butuh sosialisasi, dan sosialisasi melahirkan pengenalan, dan pengenalan itu nantinya akan melahirkan pengkaderan ataupun vote gathering. Dalam teritori berpikir logika seperti ini hal itu memang sangat masuk akal dan apabila di kalkulasikan atau distatistikkan maka partai akan banjir badang menerima citra baik dan suara yang banyak dalam pemilu apabila melakukan iklan politik. Tapi sekarang masyarakat kita sudah cerdas dan bukan bodoh lagi yang begitu saja mentah-mentah menerima produk dari parpol, masyarakat bukan kerbau lagi yang rela dan nurut saja menerima produk-produk dari parpol, tapi masyarakat Indonesia sekarang adalah masyarakat yang lebih selektif dan berpengalaman. Ayo coba kita lihat dalam sehari berapa kali masyarakat melihat kampanye politik baik itu selebaran, brosur, baliho, koran, radio, televisi bahkan ada juga yang melalui sms. Jadi masyarkat lebih paham bahwa rakyat yang telah terpengaruh iklan pasti akan melihat, apabila yang dipilihnya telah berkuasa di kursi empuk maka ‘produk’ yang dijual tadi ternyata palsu, tidak bergaransi dan malah fungsinya dibalikan. Contoh dibalikan apabila produk dari seorang politikus sebagai bupati misalnya yang awalnya menjanjikan fungsi pengurangan PHK misalnya, maka bupati yang telah duduk di singgasana ternyata malah melakukan PHK tersebut setelah menjabat selama 5 bulan.

Bagi masyarakat yang pernah merasakan situasi seperti tersebut maka dalam analogi berpikir seperti tersebut apakah wajar apabila ia memilih lagi akibat dari doktrin iklan politik dan kampanye-kampanye politik? Yang ternyata penipu. Apabila kita berpikir agak sedikit menyimpang tentunya bahwa iklan politik hanya manifestasi kebohongan dan refleksi pembualan yang memuakkan yang dilihat oleh masyarakat.

Parpol dan caleg bebas saja mengklaim bahwa iklan politik memberikan hasil polling yang teratas, dimana ia berasumsi bahwa iklan politik mempengaruhi citra dan legitimasi idea-nya, tapi itukan tegantung dari pertanyaannya, sejauh ini yang kita lihat pertanyaannya tidak substansif dalam pemilu, kebanyakan kita lihat pertanyaan polling politik adalah seperti: Partai politk apa yang paling menarik? Partai apa yang paling anda ingat? Partai politik apa yang paling anda cermati? Tapi apabila pertanyaannya ‘Partai politik apa yang akan anda pilih? Maka tentulah hasil polingnya berbeda pula, Sebuah hasil poling LITBANG koran besar di Indonesia menyebutkan 3 top partai yang tertinggi di poling adalah partai yang melakukan banyak kampanye politik melalui iklan di televisi dan media elektro lainnya. Parpol dan caleg masih berasumsi bahwa iklan politik adalah sebuah sarana yang komunikatif, efektif, massive dan influintif dalam menyebarkan ide-ide dan janji-janjinya. Tapi kenyataannya sekarang hal itu tidak seluruhnya benar.

Pembodohan Kampanye

Manusia itu dalam otaknya ada yang namanya broca region, yaitu berfungsi memfilter apa yang belum terjadi dan terbiasakan. Maka apabila politikus atau parpol berpikir bahwa kenapa ia kalah maka menurut mereka bisa jadi ada peran iklan dimana kurang besar dan kurang megah. Tapi kalau kita melihat dari otak manusia itu sendiri yang jadi masalah adalah, orang terlalu muak dengan iklan, orang lelah dengan lied propaganda tersebut, sehingga apabila sehebat, semumpuni, dan sekuat apapun iklan tersebut bisa membuat perasaan penikmat iklan naik turun, saya jamin 100% si penikmat iklan politik itu tidak akan terpengaruh untuk memilih/memberikan suara pada pemilu. Jawabannya adalah karena broca region otak manusia tadi, dimana fungsinya yang memfilter dan menganggap biasa-biasa saja apa hal yang telah terjadi, jadi logisnya apabila seorang individu baru pertama kali melihat iklan maka boleh saja ia terpangaruh dan ia memang butuh hal tersebut, yaitu sesuatu iklan berkonteks yang bisa dipegang, sesuatu yang bisa dipercayai, akan tetapi apabila saat muncul iklan-iklan lain yang melimpah dari yang standar propaganda konyol sampai yang elegan maka ia akan menjalankan broca region tersebut, karena otak akan berpikir itu sudah biasa dan nantinya kebiasaan itu kadang-kadang menajdi semacam apatisme.

Di sisi lain nyatanya iklan politik di Indonesia tidak balances antara produk dan khasiat, dimana produk (marketing) terlalu bombastis, fantastis dan imajinatif tapi khasiatnya nol besar. Sehingga hal tersebut membuat masyarakat tidak ngeh lagi untuk meligitimasi idea parpol di iklan lantaran iklan terlalu membodohi masyarakat. Dan mana ada pula orang yang mau menerima pembodohan semacam itu. Akibat telah terpatri dalam pikiran mereka bahwa iklan politik hanyalah penjilat dan berisi pembodohan. Maka akhirnya akibat dari 1 iklan saja yang secara implisit membodohi maka getahnya terkenalah semua parpol. Karena parpol bagi masyarakat ibarat air urin, dimana warnanya saja yang berbeda-beda dan variatif tapi baunya sama saja yaitu pesing. Jadi imbuhnya apa? Imbuhnya adalah penolakan pembodohan tersebut yang membuat tumbuhnya tren golongan putih (golput). Sehingga kelihatanlah akhirnya demokrasi di Indonesia hanya jalan ditempat karena sistemnya saja yang demokrasi tapi impuls demokrasi itu mengalami degradasi.

Sekarang parpol dan politikus melalui iklan politik boleh saja menyombongkan diri karena iklannya terskala dan variatif serta komunikatif, tapi kenyataannya hal itu cukup patut dipertanyakan. Apakah iklan ini benar-benar tersosialisasi dan diterima masyarakat? Dari berpikir individu saya melihat iklan politik cuma topeng dari kebrobrokan mereka yang dibalut dengan janji-janji kosong dalam iklannya. Nyatanya parpol boleh berbangga dan menguras uangnya dengan kampanye mulut bukan dengan kampanye empati. Faktanya rakyatlah yang penentunya apakah parpol yang membodohi rakyat atau rakyat nantinya yang membodohi partai. Tentulah waktulah nanti yang akan menjawab di 2009.

***

ORGANISASI PERGERAKAN PEMUDA: SJARIKAT ISLAM

ORGANISASI PERGERAKAN PEMUDA: SJARIKAT ISLAM

Oleh: Hendriko Firman

Serikat Islam adalah perkembangan bentuk dari serikat dagang Islam (SDI), di Solo, oleh H Samanhudi dan kawan-kawan, 16 Oktober 1905. Tahun 1911 oleh haji semanhudi, atas anjuran dari HOS Colkroaminoto, kata dagang dari SDI dihilangkan dengan maksud agar ruang gerkanya lebih luas lagi, tidak hanya dalam perdagangan saja.

Adapun factor-faktor yang mendorong didirikannya serikat Islam antara lain faktor ekonomi yaitu untuk memperkuat diri menghadapi Cina yang memepermainkan penjualan harga bahan baku batik. Hal ini terjadi akibat adanya diskriminasi dan eksploitasi dari penjajah, semua pengalaman yang mengecewakan itu menyebabkan menghalangi perekonomian bangsa Indonesia, dan akibatnya menimbulkan solidaritas. Solidaritas ini diwujudkan dalam bentuk reaksi yang diucapkan dan agitasi yang keras terhadap orang-orang asing, terutama terhadap orang-orang Cina. Karena usaha dagangnya timbullah rasa benci dari pihak pergerakan nasional Indonesia, seperti SI misalnya, karena SI memang merupakan manifestasi dari keinginan berdagang. Meskipun sebutan’dagang’ yang dahulu tercantum pada nama organisasi itu sudah dihapus, tujuannya yang utama tetap meningkatkan kehidupan ekonomi rakyat dengan memajukan perdagangan dan melindungi kebutuhan kebutuhan materialnya. Basis agama memperkuat usaha-usaha ini dan memperluas penyeberannya pada waktu yang singkat; bahkan di beberapa kota tujuan ekonomilah yang yang diutamakan. Usaha-usaha SI ynag bersifat ekonomi menyebabkan organisasi-organisasi lain menjadi lebih sensitif terhadap masalah-masalah ekonomi.[1]

Kasus diskriminasi tersebut meluap saat tindakan-tindakan terhadap pedagangn-pedagang ina di Solo san Surabaya, yang dilancarkan oleh pengikut-pengikut SI pada tahun 1912-1913, dilandasi emosi yang meluap-luap.[2]

Tujuan dari serikat Islam yang lain adalah mengembangkan jiwa dagang diantara para pedagang-pedagang local yang masih tabu dan awam dalam melakukan perdagangan dengan cara yang baik dan professional juga dengan membantu anggotanya yang mengalami kesulitan dalam usahanya, misalkan saja kesulitan dalam hal-hal financial ataupun kesulitan pasar. Di sisi lain dengan syarikat Islam yang berideologi Islam merkea juga tidak ketinggalan untuk mencoba memperbaiki pendapat kalayak ramai yang keliru memandang agama Islam. Dan mengajurkan anggotanya ataupun public hidup menurut ajaran agama Islam .

Di sisi lain factor agama yaitu untuk memajukan agama Islam adalah salah satu tujuan dari SI karena anggota-anggota inti SI berasal dari kaum pedagang yang memilih agama sebagai dasar organisasi mereka; inilah sebabnya mengapa mreka berhasil menarik golongan bwah, yakni kaum petani dan kaum beuruh prabrik. Konsep religious membangkitkan secra besar-besaran sentiment nasional dan membina bentuk solidaritas yang efektif dan mencakup seluruh aktivitas golongan-gololngan. Pada tahun-tahun pertama semangat nasional berkobar, dan prestise SI melibihi pengaruh penguasa tradisional.[3]

Ketika berkembang dan makin menguatnya aksentuasi politik pada gerakannya, maka SDI pun berubah menjadi SI yang seperti telah dijelaskan diatas, khususnya setelah ikut bergabungnya sang pemberontak, HOS Tjokroaminoto. Pergerakan kaum yang sebelumnya terkonsentrasi pada gerakan dagang untuk menekan dominasi kaum Cina Perantauan dan memberikan keseimbangan secara ekonomi pada kaum Bumi Putera, kian meluas, dengan titik tekan kepada kehendak melawan kaum imperialis Eropa. Politik dan kekuasaan menjadi mainstream pergerakan ketika itu.[4]

HOS Tjokroaminoto itulah yang meletakkan nilai-nilai dasar pergerakan kaum terjajah dengan bertumpu pada dimensi religiusitas dengan akar keislaman, nasionalisme keindonesian, dan kerakyatan (demokrasi) bagi kebangunan kaum Bumi Putera (Inlander). Titik tujuanya adalah kehendak mengenyahkan penjajah Belanda, dan diraihnya sebuah pemerintahan sendiri yang dipegang, ditentukan, dan dijalankan oleh bangsa Indonesia secara mandiri. [5] Dari tangan dan pikiran HOS Tjokroaminoto dan para sejawatnya itu pulalah sentimen kebangsaan tumbuh membangunkan semangat cinta tanah air yang dikenal dengan idiom masyhur: hubbul wathan minal iman. Sejak dulu Islam adalah agama mayoritas bangsa ini, sehingga menjadi pas kalau Islam menjadi perekat dari gezag pergerakan kebangsaan dan kerakyatan di tanah Nusantara. HOS Tjokroaminoto bersama H Agus Salim amat besar perannya dalam mendorong kebangunan kaum Muslimin ketika itu.[6]

Islam dan nasionalisme menjadi bak dua sisi mata uang yang saling mempengaruhi dalam konteks Syarikat Islam. Dimana syarikat Islam adalah aliran yang berpendirian bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap yang mengatur segala kehidupan, termasuk kehidupan bernegara. Lebih jauh aliran ini berpendapat bahwa umat Islam hendaknya kembali pada sistem politik ketatanegaraan Islam dan tidak perlu atau bahkan jangan meniru system politik gaya barat. Aliran ini disebut revivalisme, yaitu suatu paham politik yang menginginkan kebangkitan Islam lewat praktek politik Islam yang diteladani oleh nabi Muhammad dan Khulafau al-Rasyidun.[7] Maka dari itu dataran itu pulalah orang dengan pelbagai latar berhimpun dalam perkauman itu, lalu pada gilirannya membentuk pergerakan baru, mengusung pencitraannya sendiri-sendiri, sebut misalnya Persyarikatan Muhammadiyah, Taman Siswa, dan sebagainya. Bahkan pada gerakan yang lebih “menjauh” dari nilai-nilai Islam dengan mendasari pergerakan pada aliran politik: nasionalisme dan sosialisme, yang kemudian berkembang dan bercabang-cabang lagi sehingga lengkaplah apa yang disebut tema keberbagaian (pluralisme) itu. Syarikat Islam sendiri lebih concern pada gerakan politik, sehingga dunia politik adalah menjadi tak terpisahkan dengan Kaum SI itu sendiri. Ketika sebagian tokoh merasa kurang sreg dengan garis perjuangan SI, mereka melakukan tindak mufaraqah dengan mendirikan pergerakan baru.[8]

Adapun kegiatan politik SI semakin panas ketika terjadinya krisis ekonomi di Hindia Belanda, sebagaimana yang dipaparkan oleh Ulbe Bosma:

“Islamic movements had already been active in nineteenth-century Java, and allegedly played a role in the many rebellions in the countryside. In that respect the early twentieth century showed a marked contrast in that Sarekat Islam had maintained a fairly cordial relationship with the Indies government during its first years of existence. Relations between Sarekat Islam and the colonial government rapidly deteriorated after the War (world war I)—not because of a process of “othering,” but as a result of a fierce economic struggle. It was not a time for politics of identity, but of anti- colonialism in which one could be communist and Muslim at the same time.”[9]

Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gereakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik.[10]

Menariknya ada ruang kebebasan yang sejak awal ditanamkan oleh tokoh-tokoh kunci SI, sehingga konteks mufaraqah dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan alami saja. Inilah yang kemudian disebut sebagai perpecahan. Maka tema “perpecahan” itu pun seakan menjadi hal yang lazim saja bagi perkauman ini. SI sendiri sesungguhnya pantas disebut sebagai “Sekolah Indonesia” di mana orang-orang masuk menjadi kader dan tatkala telah berilmu cukup mereka lalu bertebaran di muka bumi Nusantara untuk melakukan proses pemberdayaan diri sesuai bakat dan kemampuan masing-masing. Sebut pula misalnya Bung Karno yang salah seorang murid terbaik HOS Tjokroaminoto, kemudian mendirikan PNI.[11]

Menjelang tahun 1921, karena penaruh kaum buruh pabrik dan proletariat kota, SI menunjukan tanda tanda menuju kea rah organisasi kaum pkerja. [12]

Krisis SI pada tahun 1921 berakhir dengan dikeluarkannya ansir-anasir sosialis atas dasar disiplin partai. Tanda disintegrasi di dalam Si selanjutnya, dan yang sangat mengganggu posisinya, disebabkan olehadanya kyai-kyai sebagai kelompok social yang konservatif, dan golongan modern, terutama ygn terdiri atas kaum intelektual yang mencita-citakan Pan Islamisme.[13]

Karena corak demokratis dan militant tersebut mendekatkan serikat Islam (cabang-cabangnya) dan para pemimpinnya kepada ajaran Marxis seperti ISDV (Indische Social Democratische Vereeniging) yang didirika Snevliet tahun 1914 yang berpaham sosialis. Snevliet melakukan penysupan-penysupan ke dalam sSI dan berhasil mempengaruhi tokoh-tokohnya sehingga dampak dari hal tesebut banyak angoota dari SI yang menjadi sosialis terutama cabang Semarang. Dengan adanya paham itu, petentangan pun tidak dapati dihindarkan lagi sehingga SI pecah menjadi dua, yaitu SI putih, tetap berpegang pada dasar-dasar keislaman. Sarekat putih dipimpin oleh Agus Salim dan Abdoe Moeis. Sedangkan Si merah yang berapaham marxis dibawah pimpinan Semaun dan Tan Malaka.

***

Daftar Kepustakaan

­­­­­­­­­­­­­­­___________________________________

Bescheiden betreffende de Vereniging Sarekat Islam”, 1913,

H Rahhardjo Tjakraningrat. Menyongsong Seabad Kaum Syarikat Islam. Dalam Harian Umum Pelita edisi Jum’at, 31 Oktober 2008.

J. Th. P. Blumberger, De Natioalistische Beweging in Nederlandsh Indië (Haarelem, 1931). Tijdschrift voor Binnenladsch Bestuurt, XL (1911)

Munawar Sjadzali, Islam dan tata Negara: Ajaran, sejarah, dan pemikiran (Jakarta UI press, 1933)

Oetosan Hindia, 1-7-1915.

Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989.

Ulbe Bosma. Citizens of Empire: Some Comparative Observations on the Evolution of Creole Nationalism in Colonial Indonesia. 2004. International Institute of Social History Press. Amsterdam.


[1] J. Th. P. Blumberger, De Natioalistische Beweging in Nederlandsh Indië (Haarelem, 1931), hlm. 24, 38; Tijdschrift voor Binnenladsch Bestuurt, XL (1911) hal. 147. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 233

[2] Bescheiden betreffende de Vereniging arekat Islam”, 1913, hal 33-41. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 250.

[3] Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 237

[4] H Rahhardjo Tjakraningrat. Menyongsong Seabad Kaum Syarikat Islam. Dalam Harian Umum Pelita edisi Jum’at, 31 Oktober 2008.

[5] Bandingkan dengan Boedi Utomo, dimana organisasi tersebut Utomo hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda, dan Budi Utomo seperti kita ketahui organisasi sempit yang bersifat feodal dan keningratan karena anggotanya hanya kalangan priyayi, bahkan lebih sempit lagi hanya untuk kalangan Jawa dan Madura saja (Saking chauvinisnya, Betawi sekalipun tidak boleh.

[6] H Rahhardjo Tjakraningrat., ibid.

[7] Munawar Sjadzali, Islam dan tata Negara: Ajaran, sejarah, dan pemikiran (Jakarta UI press, 1933), hal. 1

[8]H Rahhardjo Tjakraningrat., ibid.,

[9]Ulbe Bosma. Citizens of Empire: Some Comparative Observations on the Evolution of Creole Nationalism in Colonial Indonesia. 2004. International Institute of Social History Press. Amsterdam. Hal 676.

[10] Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 233.

[11] H Rahhardjo Tjakraningrat. Ibid.,

[12]Oetosan Hindia, 1-7-1915. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 238

[13] Sartono Kartodirdjo. Ibid., hal 238

TOERI EVOLUSI DARWIN, ISLAM &EPISTIMOLOGIS

T O E R I E V O L U S I D A R W I N, I S L A M

&

E P I S T I M O L O G I S

oleh: Hendriko Firman

Benarkah teori Darwin merupakan sebuah teori? Hal ini menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang berpandangan agamais dan menganut paham teori penciptaan (Universal Creation). Terlepas dari itu semua kaum ini secara monoton hanya melihat bahwa teori Darwinian hanyalah sebuah bualan. Percaya atau tidak, yang jelas dari sudut keilmuan kita harus melihat apakah teori ini siap untuk dibenarkan atau pun teori ini benar ilmiah. Lebih jelasnya kita akan membahas teori Darwin ini secara bertahap.

Idea tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling dapat teori. Darwin (1858) mengajukan dua teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. [1] Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru. [2]

Lebih lanjut Darwin mengatakan:

“In considering the Origin of Species, it is quite conceivable that a naturalist, reflecting on the mutual affinities of organic beings, on their embryological relations, their geographical distribution, geological succession, and other such facts, might come to the conclusion that each species had not been independently created, but had descended, like varieties, from other species. Nevertheless, such a conclusion, even if well founded, would be unsatisfactory, until it could be shown how the innumerable species inhabiting this world have been modified, so as to acquire that perfection of structure and co adaptation which most justly excites our admiration. Naturalists continually refer to external conditions, such as climate, food, &c., as the only possible cause of variation. In one very limited sense, as we shall hereafter see, this may be true; but it is preposterous to attribute to mere external conditions, the structure, for instance, of the woodpecker, with its feet, tail, beak, and tongue, so admirably adapted to catch insects under the bark of trees. In the case of the mistletoe, which draws its nourishment from certain trees, which has seeds that must be transported by certain birds, and which has flowers with separate sexes absolutely requiring the agency of certain insects to bring pollen from one flower to the other, it is equally preposterous to account for the structure of this parasite, with its relations to several distinct organic beings, by the effects of external conditions, or of habit, or of the volition of the plant itself”.[3]

Dimana Darwin berkesimpulan bahwa di dalam teorinya terkandung bahwa:

  • Spesies yang hidup saat ini berasal dari spesies lain yang hiudp di masa lampau
  • Dan evolusi terjadi melalui seleksi alam.

Lebih jelas Darwin mengatakan:

“As the late Edward Forbes often insisted, there is a striking parallelism in the laws of life throughout time and space: the laws governing the succession of forms in past times being nearly the same with those governing at the present time the differences in different areas. We see this in many facts. The endurance of each species and group of species is continuous in time; for the exceptions to the rule are so few, that they may fairly be attributed to our not having as yet discovered in an intermediate deposit the forms which are therein absent, but which occur above and below: so in space, it certainly is the general rule that the area inhabited by a single species, or by a group of species, is continuous; and the exceptions, which are not rare, may, as I have attempted to show, be accounted for by migration at some former period under different conditions or by occasional means of transport, and by the species having become extinct in the intermediate tracts”. [4]

Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi yaitu seleksi alam. Seleksi alam ialah “process of preserving in nature favorable variations and ultimately eliminating those that are ‘injurious”.

Jadi secara keilmiahan dapat dikatakan bahwa teori Darwin dilihat dari sudut pandang epistimologis telah bisa dikatakan cukup baik. Lantaran toeri Darwin telah melewati tahap tahap dari siklus teori dan metodologi ilmu pengetahuan. Ini bisa dilihat dari isi bukunya yang banyak membahas dari sudut metodologi ilmu biology. Lebih lengkapnya kita harus melihat semua itu dari dua sudut metodologi yang berbeda karena hal ini tidak saja harus sinkron tapi juga harus punya dasar pijak yang akurat dan serta tidak subjektif ataupun terlalu kasusistis ataupun juga penelitian yang dilakukan ini di generalisasi.

Islam Dan Teori Evolusi Darwin

Di Indonesia khususnya kalau seorang membicarakan tentang teori Darwin maka yang terlintas dari pendapat mereka untuk beropini adalah dari perspektif Islam (bagi yang Islam) dan hal ini meyebabkan teori Darwin terlepas dari pemikiran axiology saja, tanpa pemahaman yang lebih dalam. Hal in sungguh sangat tidak sportif karena Islam lebih berada pada pendekatan yang bebeda. Menariknya bahwa teori Darwin selalu menjadi bahan perdebatan yang tanpa habis-habisnya baik itu secra asal-asalan ataupun secara ilmiah.

Islam secara khusus melihat bahwa manusia diciptakan dari tanah, atas penjelmaan Allah swt, hal ini bisa dilihat sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan :

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur!” (QS. As Sajdah, 32:7-9) [5]

disisi lain Darwin mengatakan bahwa manusia adalah makluk yang ada akibat akumulasi dari spesies lain yang mengalami seleksi alam dan berevolusi dengan waktu yang sangat lama. Sebagaimana ia paparkan:

“As species of the same genus have usually, though by no means invariably,

some similarity in habits and constitution, and always in structure, the

struggle will generally be more severe between species of the same genus,

when they come into competition with each other, than between species of

distinct genera”. [6]

Perbedaan pandangan ini faktanya hanya akan buang-buang waktu karena perdebatan tersebut tidak dalam level yang sama, apabila kita mengkaji dari dasar berpikirnya tentulah hal ini tidak akan menemukan sampai titik terang karena perbedaan cara melihat teori tadi.

Disisi lain secara ilmiah teori evolusi Darwin belum dapat dikatakan runtuh, sebelum ditemukan bukti-bukti empiris yang bertentangan dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan dalam teori itu masih dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak kalangan masih meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agama, seperti yang disebutkan di atas.

Apalagi khususnya saat ini di Indonesia yang mengalami kebanjiran buku-buku Islam yang diproduksi Dr. Harun Yahya yang “menyerang” teori Darwin. Dari segi teologis ada kekuatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari kehidupan lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan :

Siapapun yang mencermati pembantaian, pembunuhan, dan penderitaan yang sengaja ditimpakan terhadap manusia oleh orang-orang Komunis, Nazi, atau Kolonialis, akan bertanya-tanya bagaimana para pendukung berbagai paham ini (teori evolusi Darwinisme) dapat menjauhkan diri mereka sendiri dari sifat-sifat yang umumnya ada dalam diri manusia. Alasan satu-satunya dari kebiadaban dan penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin ini adalah hilangnya agama dalam diri mereka dan ketiadaan rasa takut kepada Tuhan. Manusia yang takut kepada Tuhan dan memiliki keimanan yang mantap kepada hari akhir, sudah pasti tidak akan mampu melakukan segala bentuk penindasan, kejahatan, ketidakadilan, dan pembunuhan sebagaimana yang telah kami paparkan. Selain itu, betapapun ia dipengaruhi, seseorang yang beriman kepada Tuhan dan hari akhir tidak akan pernah terseret untuk mengikuti ideologi yang sedemikian menyesatkan”.[7]

Di sisi lain Harun Yahya juga mengatakan bahwa, penyebab dari segala penindasan dan berbagai ideologi yang menyengsarakan manusia lantaran hanya perbedaan ideologi adalah akibat ulah dari teori evolusi Darwin yang sesat. Lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan:

Banyak yang tidak menyangka atau malah tidak percaya bila Darwinisme turut memberi spirit dan kontribusi atas berbagai ideologi besar yang lahir di dunia ini. Nazisme, Fasisme, Komunisme, Liberalisme dan Kapitalisme, adalah beberapa diantaranya. Ideologi-ideologi ini, yang merupakan penghasung pemujaan pada atheisme dan materialisme, secara sadar telah menyandarkan diri pada ‘konsep ilmiah’ dari Darwinisme. Para penggagasnya merasa mendapatkan pembenaran ilmiah atas berbagai tindakannya yang membawa bencana dan kesengsaraan bagi ummat manusia. Pembunuhan, penyiksaan, perampasan, pelecehan hak dan kehormatan atas bangsa dan pihak berseberangan dianggap sebuah tangga titian menuju kejayaan. Kebanggaan dan kejumawaan atas ras dan ideologi menjadi pendorong penindasan dan penistaan. Yang lemah harus menyingkir dan menjadi budak mereka yang kuat. Penerus generasi dan peradaban adalah mereka yang kuat, sementara yang lemah harus rela untuk lenyap dan tenggelam dalam catatan sejarah. Demikianlah, suka atau tidak, inilah keniscayaan hukum alam yang mesti diterima. Keniscayaan yang menjadi ruh evolusi yang dikemukakan Darwin”. [8]

Namun Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan “Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas. Kita menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat di balik semua gerakan evolusi itu…”.[9] Tentang prinsip survival of the littest (?), Bagir justru membenarkannya dan kita harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alqur’an. Dingin dari dari dua sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis.[10] Tentunya dari kajian bagir, kita harus melihat pula bahwa dari penafsirannya di dalam ayat Alqu’an mana yang secara implicit atau eksplisit bahwa kandungan dari teori Darwin tidak bertentangan, tentunya hal ini menjadi lebih complicated lagi.

Seyongyannya seperti yang saya telah katakan tadi bahwa tidak bisa kita menemukan padanan atau titik terang yang pasti antara ilmu yang dipandang dari sudut epistimologis (metodolgi) dan ontology (nilai) dengan komparasi Islam yang menggunakan axiology (ada/being) dimana cara penafsirannya menggunakan wilayah metafisika, wilayah diluar kerangka otak manusia. Dan pasti tentulah tidak kita ketemukan koorelasinya. Tulisan ini bermaksud ingin menjelakan secara objektif dan tidak bermaksud berpihak kepada landasan berpikir manapun, dimana hal ini tentunya waktulah yang nantinya menjawab. Inti dari semua ini bahwa keputusan ada di diri kita masing-masing, dimana letak dan pemahaman kita tentu berbeda-beda maka tentu berbedalah pula cara kita menyimpulkannya.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN

– Al-Qur’anul Karrim.

Charles Darwin. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. 1859. Penguin Books. London.

– Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. 2002. Global Cipta Publishing. Jakarta.

– Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.

– http://grelovejogja.wordpress.com


[1] Bambang Agus Suripto. Dalam grelovejogja.wordpress.com rakses pada minggu, 9 november 2008 pukul 18.32 WIB

[2] Charles Darwin. 1859. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. Penguin Books. London. Hal 16.

[3] Charles Darwin. Ibid., hal 6.

[4] Ibid., hal 205.

[5] Al-Qur’anul Karrim hal 89

[6] Darwin, Charles. Ibid., hal 43

[7] Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. Global Cipta Publishing. 2002. Jakarta. Hal 37

[8] Harun Yahya. Ibid., hal 4

[9] Bagir, Haidar. 2003. Islam dan Teori Evolusi (Butir-butir tanggapan terhadap Harun Yahya). Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.

[10] Bambang Agus Suripto. Ibid.,

LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

Oleh: Hendriko Firman

SULIT sekali untuk mencoba memilih bagian mana saja dari buku Laskar Pelagi yang paling anda sukai, jawabannya terlalu banyak sehingga tidak bisa digeneralisasikan bahwa satu bab saja yang diambil. Sebenarnya ada 3 bab yang membuat penulis (saya) terkesima nanar dan takjub, yaitu bab 10 berjudul Bodenga. Bab 11 Lanngit Ketujuh, dan bab 27 berjudul Detik-Detik Kebenaran. Tapi sari semua bab itu , bab 10 lah yang benar-benar manarik bagi penulis karena intinya adalah sebuah gambaran menarik dari manusia yang mencintai pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Bab 10 dimulai dengan gaya bahasa yang lantang dan meledak-ledak. Saat mana kalimat ini yang dipakai andrea hirata:

“Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak,menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kumintai bantuan. Aku hanya berdiri mematung, berbicara dengan diriku sendiri.”[1]

Dari situ penulis sudah bisa melihat bahwa cobaan yang dicoba di paparkan oleh Hirata melalui gaya tulisannya telah memberikan suatu pemahaman walaupun tidak secara terang-terangan akan tetapi membuat penulis sangat takjub. Mana ada orang, secara logikanya mencoba untuk hanya melewatkan masa 8 jam-an untuk belajar tapi ditebus dengan nyawa dengan mencoba bespekulasi terhadap buaya yang menghambat jalannya. Kalau orang lain pasti akan pulang saja, toh hanya sehari bolos, tapi kenapa Lintang tetap kekukeuh untuk bisa hadir di sekolah, bukankah itu hal yang bodoh! Tapi dari kasus lintang semuanya harus beruntung dalam artian dia tidak harus merugi hari itu, maka dicobanya lah menerka dan menganalisa apa yang dilakukannya apabila ia bereada dari jarak 15 M terhadap buaya. Tapi akhirnya ia insaf juga seperti yang dikatakan Lintang sendiri. Dikutip dari Hirata:

“Aku terkesima dan tadi telah salah hitung. Jika binatang purba itu mengejarku maka orang-orang hanya akan menemukan sepeda reyot ini. Fisika sialan. Memprediksi perilaku hewan yang telah bertahan hidup jutaan tahun adalah tindakan bodoh nan sombong.[2]

Tak luput pula kenapa bab ini menarik adalah kesan dan ajaran serta pesan yang dalam di patrikan kepada pembacanya bahwa no matter what the obstacle you are facing the point was just through the way. Karena tidak ada yang bisa mengalahkan cinta apapun itu termasuk rintangan. Pesan yang sangat dalam diberikan kepada pembaca. Lepas dari semua itu, penulis merasa menjadi seorang pecundang kelas dunia, setelah mengkomparasiikannya kepada diri penulis sendiri, yang mana hanya kurang lebih 1 jam perjalanan untuk sampai ke kampus, itu pun dengan menggunakan kendaraan umum. Lebih mirisnya lagi saat Hirata mendiskripsikan hidup lintang yang mana saat itu ia harus melewati cobaan saat perjalanan ke sekolah, kita kutip disini:

“Lintang memang tak memiliki pengalaman emosional dengan Bodenga seperti

yang aku alami, tapi bukan baru sekali itu ia dihadang buaya dalam perjalanan ke

sekolah. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh

pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi

ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah

berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri

membayangkan perjalanannya.[3]

” Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor,

dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari

rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab

terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan

sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni

suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di

depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak

tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan

menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer”.[4]

Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi

daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa

hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik

hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil

hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya

berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat

putting beliung, pada musim demam, pada musim sampar—sehari pun Lintang tak

pernah bolos. [5]

Dari situ saja, kita bisa melihat sendiri bahwa tidak masuk akal untuk berkendaraan manual seperti sepeda untuk jarak sekitar 80 Km pulang pergi, itu sama jaraknya hampir mirip dengan Padang-Bukittingi. Dalam hati penulis sempat mengucap, apakah begitu besarnya seorang yang hanya punya kesempatan nol persekian persen untuk bisa menjadi orang sukses yang logikanya ia dibayangi dengan lingkungan lingkaran setan kemiskinan. Pertama-tama jawaban penulis ini adalah NONSENSE! Seorang yang begeitu banyak cobaan hidupnya dalam menyunting ilmu pengetahuan, lambat laun pasti juga akan roboh semangat belajarnya oleh belenggu-belenggu hidup yang lebih urgen, sekarang dalam perspektif logika mana yang lebih urgen makan apa ilmu pengetahuan? Itulah jadi jalan pemikiran penulis saat Lintang masih memiliki bapaknya. Tentulah jawaban logika dan rasionalnya adalah jawaban yang kedua yaitu, makan. Kalau dipikir-pikir Lintang dalam 6 tahun masa SD nya dan 2 tahun masa SMP nya dalam artian dia harus melewati 8 tahun masa sekolah, yang mana 1 tahun sekolah yaitu 313 hari dan dikalikan dengan 8 maka hasilnya adalah 2504 hari, apabila Lintang menenmpuh setiap harinya 80 Km maka 2504 dikalikan dengan 80 maka hasilnya adalah: 200.320Km perjalanan. Tahukan anda dalam angka itu apa saja yang ditempuh oleh Lintang? Jawabannya adalah ia bisa menempuh the Great Wall China yang maha panjang itu sebanyak 42 kali pulang pergi, atau ia sudah bisa menjelajahi Indonesia hingga seluk beluknya dalam 2 kali pulang pergi. Bayangkan saja hanya bersepeda, bukan dengan kendaraan bermesin. Bukankah kejamnya cita-cita itu, sehingga bisa membuat seorang Lintang yang masih muda belia berumur 6 tahun harus menggayuh sepeda yang terlalu besar dengan kaki yang pendek. Benar-benar kutukan ilmu pengetahuan apabila seorang telah mendapatkan cintanya.

Seorang yang tidak menggunakan hati atau orang yang tidak mempunyai nafsu belajar, adalah orang yang sangat merugi sekali apabila membaca buku ini, karena alasannya ia tidak bisa mengambil hikmah dan kandungan falsafah dari buku ini. Disini apalagi khusunya bab ini, diceritakan dengan implisit bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saat mana Hirata menceritakan kegiatan sehari-hari Lintang:

“Jika tiba di rumah ia tak langsung beristirahat melainkan segera bergabung degan anak-anak seusia di kampungnya untuk bekerja sebagai kuli kopra. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagai kompensasi terbebasnya dia dari pekerjaan di laut serta ganjaran yang ia dapat dari“kemewahan” bersekolah”.

Miris sekali, bahwa kita berpikir setidaknya dari pandagan Lintang waktu itu, pendidikan dibilang sebuah kemewahan, tapi ganjaran yang harus didapatkan dari kemewahan itu benar-benar tidak manusiawai baginya.

Sekali lagi apabila tidak mempunyai spirit untuk belajar, atau hanya terkena provokasi untuk membacanya, tanpa ada didasari untuk merasa berkembang, maka sia-sia laha proses membaca anda. Buku ini terlalu indah untuk dibaca orang-orang hina seperti penulis, yang tidak tahun diuntung menerima kemudahan dan kemewahan yang kebangetan tapi tidak memiliki karya sebanyak yang Lintang lakukan. Penulis merasa kerdil sekali apabila melihat cara belajarnya itu, seperti dikatakan oleh Hirata:

“Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit

menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia

memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar

adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku

baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru

agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan

buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap

kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari

sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain”.[6]

Dari sini penulis mengmbil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan oleh Lintang dengan metaforanya Hirata, penulis benar-benar merasa orang paling iri di dunia. Bayangkan saja hanya dengan lampu minyak yang bergantian, yang belum lagi kandungan CO2nya yang bisa menghasilkan sesak dan efek buruk pada paru-paru, tapi disini Lintang seolah-olah bisa merasakan suasana dan atmosfer belajar yang layaknya belajar di perpustakaan universitas paling tertib dan nyaman didunia. Bayangkan saja siapa yang tidak iri, kalau dibandingkan dengan penulis yang mana penulis belajar mendapatkan lampu neon yang bisa kapan saja, dimana saja. Tapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal seperti yang dilakukan oleh Lintang, bayangan penulis adalah, mungkin saja penulis sudah collapse rasa cinta pada ilmu pengetahuannya apabila mengadopsi gaya belajarnya Lintang.

Dari semua kata-kata yang membahana dari Hirata, kontan saja penulis sebenarnya lebih mencintai Lintang daripada balutan kata-kata Hirata yang mempesona itu, dalam artian penulis tidak begitu excited kepada Hirata tapi lebih kepada objek tulisannya yaitu Lintang Samudera Bassara. Profil Lintang begitu dalam diakronik hidup penulis, penulis benar-benar meresapi hidup Lintang itu, sepenggal cerita dulu penulis pernah sudah pada semester 3 masih belum juga mempunyai meja belajar, yang mana dulu hanya belajar di lantai dengan selembar karpet. Tatkala waktu itu penulis ada ide untuk menggunakan meja yang tidak dipakai dikampung untuk dibawa ke Padang, setelah dibawa ke kos tapi meja itu terlalu pendek kakinya sehingga badan terasa pegal dan linu apabila terus-menerus memakai meja itu. Lalu penulis mencoba meninggikan meja itu dengan alat seadanya, sekitar 3 jam penulis membuat meja itu layak untuk digunakan belajar. Walaupun hasilnya kurang maksimal tapi cukup manusiawilah meja untuk dijadikan standar meja belajar. Waktu setelah meja itu selesai, keringat bercucuran mengalir di saat hari sangat panasnnya, badan lelah dan bau tengik siang hari menggerayangi bau badan, waktu itu bunyi jengkerik dan musik tetangga sebelah seolah-olah mengejek penulis karena sia-sia melakukan kerja yang serampangan seperti itu, saat itu penulis merasa iba pada diri sendiri karena niat untuk belajar tinggi sekali tapi fasilitas tidak mencukupi. Saat meja itu digunakan pertama kali, kenikmatan memakainya untuk sebuah catatan tiada tara mainnya, mata penulis berkaca-kaca marasakan sebuah struggling terhadap pencapaian ilmu pengetahuan. Seoalah-olah merasakan penderitaan Lintang, penulis tahu sekali bagaimanakah arti sebuah sacrifice dan struggling itu sendiri. Nikmatnya bukan main, tapi beban yang dipikul nauzubillah sulitnya.

Walaupun sulit digambarkan bagaiman perasaan itu, apabila dikanvaskan dengan tulisan. Tapi setidaknya penulis telah berusaha mencoba jujur untuk berterus terang bahwa yang penulis suka dari buku ini adalah objeknya bukan gaya bahasanya, bukan metaforanya, bukan lelucon-leluconnya, atau keseharian tokoh lain, tapi disini penulis menaruh respek sekali dengan seorang tokoh yang bernama Lintang itu.

***


[1] Andrea Hirata. Laskar Pelangi. Bentang. Jakarta. 2007. Hal 87.

[2] Ibid., hal. 90.

[3] Ibid., hal 93.

[4] Ibid.,hal 94

[5] Ibid., hal 94.

[6] Ibid., hal 100.

Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Oleh : Hendriko Firman**

Kalau kita melihat pengemis apakah yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita tentang mereka? Kasihankah? Ibakah? Atau muakkah? Kejadian menarik terjadi pada saat penulis di bus kampus. Dulunya penulis melihat bahwa pengemis adalah produk dari rendahnya pendapatan perkapita dan akibat dari korupsi yang tidak pandang bulu. Dan merekalah korbannya. Seketika mindset penulis masih berpikir bahwa pengemis dan gepeng (gelandangan dan pengangguran) adalah korban disini. Tapi tatkala penulis melihat peristiwa di bus kampus untuk kuliah jam 10 pagi. Peristiwa tersebut telah merubah pikiran penulis seluruhnya tentang dunia mengemis ini.

Saya kebetulan dibus kampus berdiri saat hendak kuliah waktu itu, karena kursi tidak ada yang kosong, setelah 5 menit bus melaju, maka terdengarlah oleh saya sebuah ringtone HP polyphonic yang cukup keras. Saya berpikir kok ponselnya tidak diangkat karena sudah cukup lama berbunyi, akhirnya saya memberanikan diri saya untuk melihat kebelakang dan sontak hampir semua mahasiswa yang di kursi belakang yang merasa terganggu dengan suara itu bertindak seperti apa yang saya lakukan, tahukah para pembaca apa yang saya lihat dan mahasiswa di atas bus Hino tersebut. Saya melihat seorang pengemis yang sedang mengakat HP yang ternyata sama tipenya dengan tipe HP saya. Sekali lagi saya tekankan para pembaca bahwa ada seorang PENGEMIS YANG SEDANG MENGANGKAT HP. Dia di belakang saya dengan pakaian rombeng dan kucel dengan istrinya disebelah dengan menggunakan “jilbab telanjang” (menggunakan jilbab tapi bajunya lengan pendek sehingga kelihatanlah tangannya dan kelihatan lehernya akibat kerah baju yang belel). Saya melihat mahasiwa di sebelah saya berdecak kagum dengan temannya. Dan yang lain kelihatan melongo.

Tak dinyana saya sontak terkejut, seketika juga saya mulai dimasuki oleh berbagai perdebatan pikiran, yang mencoba menerka dan menganalisa fenomena yang terjadi barusan. Saya mulai dari pemikiran negatif tentunya dan tidak luput pula saya menelaah dari sudut postif. Tapi saya tidak menemukan jawabannya karena menurut saya hal ini adalah peristiwa yang kasuistis sekali.

Sekarang kita kembali ke dalam topik sebenarnya. Hal yang saya paparkan diatas adalah sebuah refleksi dari apa? Sebuah fenomena apa? Kenapa hal tersebut menjadi kontradiksi dalam tatanan masyarakat global saat sekarang ini?

Bukan bermaksud menjustifikasi secara gamblang tapi tulisan saya ini mencoba melihat kasus diatas sebagai fenomena yang cukup menggilitik apabila kita tinjau. Di sisi lain tulisan ini juga akan mencoba secara objektif dan kronologis kenapa masalah ini saya besar-besarkan dan kenapa hal ini menurut saya ‘janggal’ bila dilihat dalam Negara yang miskin tapi tingkat konsumtifnya minta ampun ini.

Kita mulai dari masalah etymology dari pengemis itu sendiri. Menurut saya pengemis adalah individu ataupun sebuah kelompok yang mengandalkan nasibnya dari bantuan moril ataupun materil orang lain sebagai penunjang hidup mereka. Dalam bahasa Inggris pengemis berarti beggar yang berarti pengemis, orang minta-minta, kere. Jadi dari hal tersebut kita bisa menarik kesimpulan sendiri bagaimana kehidupan pengemis itu sendiri.

Pengemis dan Sosial

Kalau kita melihat seorang pengemis menggunakan ponsel berarti secara etimlogi dia bukanlah pengemis. Karena dia menggunakan ponsel berarti di sisi lain kebutuhan yang primer dan sekunder telah terpenuhi. Itulah kerangka saya mulai berpikir, karena HP menurut saya adalah barang yang tersier (mewah), memang relatif apabila kita lebih pertanyakan lagi jenis HP tersebut ada yang bilang itu primer ada juga yang bilang tersier. Tapi kita coba merelatifkan di Indonesia ini bahwa ponsel adalah item yang mewah karena punya ponsel berarti harus memiliki pulsa juga. Memang banyak sekali paparan dan ekplanasi yang harus kita jelaskan disini tapi dari penulis pun masih bersikap heran terhadap hal ini.

Pertama yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah seluruh pengemis rata-rata kehidupan mereka seperti ini? Apakah para mengemis mendapatkan pendapatan yang besar sehingga bisa membeli barang tersier ini? Apakah pengemis itu nyaman dan bahagia menjalani apa yang mereka kerjakan? Dan pertanyaan besar yang mengkover semua ini adalah apakah pengemis sengaja mengemis dan menghinakan diri mereka untuk mendapatkan kebutuhan finansial dari belas kasihan orang lain?

Kalau dikatakan bahwa mengemis mendapatkan banyak pemasukan sulit juga kita iyakan, karena kalau melihat dari terminology berpikir seperti tersebut hal ini menjadi sebuah kontradiksi di saat lahan perkerjaan yang sulit dan sangat keras persaingannya. Mengemis lagi-lagi adalah sebuah media pekerjaan yang terakhir dari sebuah pilihan, orang tidak akan sengaja melakukan mengemis kalau mereka mendapatkan alternatif pekerjaan lain. Jadi kalau kita coba telaah lagi apakah rata-rata kehidupan pengemis cukup terpenuhi kebutuhannya? kita juga tidak bisa mengatakan iya, karena ini masalah dimana dan kapan sipengemis melakukan bisnisnya ini, bisa jadi untuk ukuran kota Padang rasa empati masyarakat terhadap pengemis masih tinggi dan bisa jadi di kota-kota besar lainnya menganggap bahwa pengemis adalah sampah masyarakat. Khususnya kota Padang, pengemis tidak lebih dari kumpulan masyarakat yang dalam stratifikasi masyarakat tentulah tidak termasuk, karena mereka kaum papa, yang hidupnya tidak beraturan dan serampangan. Sehingga lahan perkerjaan tidak ada bagi mereka dan bahkan lebih eksterem statusnya sebagai manusia patut dipertanyakan. Sehingga pengemis menjadi simbol sebuah ketertindasan dari hak-hak yang terampas, ketertindasan dari realitas kehidupan politan yang memang benar-benar telah sinting, dimana seyongyannya kehidupan mereka di lindungi dan diayomi.

Jadi ringkasannya adalah pengemis itu tidak semuanya seperti kasus yang kita bicarakan diatas, tapi toh tidak banyak juga pengemis yang mempunyai lifestyle seperti di atas yang cukup konsumtif. Dalam masalah ini pengemis sekarang benar-benar telah mempunyai tujuan target yang lebih wah untuk kita cermati, sebelumnya tujuan hidup adalah untuk mengganjal perut di esok hari, maka sekarang tujuan hidup lebih prestise lagi kalau kita cermati, dimana tujuan hidup pengemis adalah menjadi orang kaya. Kalau begitu kontan saja saya bilang bahwa itu omong kosong, bahwa PNS rendahan yang hidup dari mencerek terhadap pemerintah saja tidak berani bermimpi seperti itu. Lagi-lagi ini masalah fenomena yang sangat langka untuk kontemporer ini, seakan-akan faktor-faktor kiamat telah mulai Nampak disini bahwa seorang yang tidak punya apa-apa bermimpi untuk berlomba-lomba membangun sebuah istana kekayaan bagi diri mereka sendiri.

Seorang pengemis dalam masyarakat hedonis tidak mungkin bisa-bisanya membeli hp dengan alasan memperlancar komunikasi, karena hal tersebut tidak efesien lantaran kalau mempunyai hp berarti harus siap sedia menahan lapar dan haus, atau sebaliknya si pengemis punya hp karena kebutuhan-kebutuhan lain telah terpenuhi. Jadi kasarnya kebutuhan ekonomi telah terpenuhi dan secara ringkasnya makan dan minum serta tempat tinggal tidak ada masalah dengannya. Iya kan? Lihat saja kalau anda punya HP maka untuk ke dokter setidaknya anda pasti bisa walaupun itu sekali setahun. Apakah pengemis adalah refleksi dari kehidupan masyarakat seperti kita juga?

Dalam masalah yang pelik ini kita terlalu sulit membuat konklusi terhadap hidup pengemis dengan mengkonklusikan terhadap apa yang kita lihat dari kehidupan pengemis sebelumnya. Masalah pengemis di Indonesia faktor sengaja atau faktor realita tidak bisa kita singkirkan saja dari pikiran kita, karena ini menyangkut masalah pengaruh dan masalah progressnya negara ini. Apakah hakekat pengemis itu sulit hidupnya atau merasa bercukupan tentunya hal itu adalah kembali ke masalah lifestyle dari si pengemis itu. Tapi tatkala pengemis memang berusaha untuk mentakdirkan hidupnya menjadi pengemis itulah yang patut kita sesali, bagaimana Negara ini bisa maju sedangkan orang-orangnya hanya meminta saja kerjanya, itu pula yang kita lihat dari para pejabat yang corrupt.

Intinya adalah sisi glamor pengemis yang dipaparkan diatas adalah produk dari masyarakat Indonesia yang lebih menunjukan kuantiti dari pada kualiti. Sayang sekali apabila kita lihat keperluan-keperluan yang seharusnya tidak semestinya dibutuhkan, tapi karena alasan tuntutan zaman hal iltu semuanya dibuat menjadi kewajiban. Benar-benar sebuah ironis bukan?

Robohnya Surau Kami

Judul : Robohnya Surau Kami
Pengarang : A.A. Navis
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2000
Kota terbit: Jakarta
Jenis buku : Cerpen
Rating: Segala Umur
Ukuran & Jumlah hal : 147 hal.; 21 cm

Robohnya Surau Kami sebuah kumpulan cerpen karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, dan terbitan yang terbaru adalah tahun 2002. Kumpulan cerpen ini yang mernarik adalah yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah.
Buku kumpulan cerpen A. A. Navis ini beriskan 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.
Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata cemoohan dan satir akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan di masa sekarang ini.
Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah miris matinya seorang Kakek penjaga surau di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Untuk lebih jelasnya mari kita simak dialog tersebut:
Untuk lebih jelasnya marilah kita kutip sebuah sindiran itu:

‘kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting-tulang. Sedang aku menyruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Bagaiamana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hinnga kerjamu lain tidak memuji dan menyembahku saja. Tidak..…”
Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang dirhidoi Allah di dunia.

Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

***

BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN

BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN
Oleh: Hendriko Frman
Memasuki millenium ke-3 ini, bisa disimpulkan bahwa puncak kejayaan manusia berada pada millennium ini. Tidak terhitung berbagai hal yang irasional dulunya telah menjadi bentuk fisik-material. Tidak heran pula sistem pembelajaran edukasi pun mencapai puncaknya. Hal positif dan negatif diserap habis sebagai referensi pendidikan. Indonesia pun kena imbuhnya, memasuki abad ke-20, berbagai sistem pembelajaran pun muncul, baik itu inisiatif pemerintahan Hindia Belanda maupun penduduk pribumi. Dulu sekali sistem pembelajaran di Indonsia yang masih menggunakan sistem melingkar pada guru (upanisad) telah di revitalisasi dengan sistem yang lebih beradab menurut kolonial. Tapi, dari hasil pendidikan kolonial itu apakah kita secara tidak langsung telah mengadopsi sebagian dari pemikiran kolonial sebagai Negara penjajah?
Bisa jadi iya, pasalnya konteks keterkaitan antara Belanda dengan Indonesia sekarang masih dalam konteks penjajahan juga. Kalau Belanda menjajah rakyat Indonesia, sekarang rakyat Indonesia juga meanjajah rakyat Indonesia dengan cara penjajahan semu. Kalau pemikiran tersebut dalam spekulasi berarti wajar, pasalnya indikasi-insikasi tersebut tidak 100% mutlak. Walaupun juga, pasti ada sebab dan akibatnya. Indonesia yang merdeka 61tahun masih “terjajah” juga, sebabnya apa? kalau akibatnya jangan ditanyakan lagi yaitu manipulasi, penggelapan, cakar-cakaran, tindih-menindih, kritik-mengkrtik yang tak bertanggung jawab yang telah dilakukan aparat pemerintah yang tidak beriman. Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Apakah ini ada kaitannya dengan subjeknya. Kalau dikaitkan dengan kejayaan pendidikan, manusia-manusia/subjek–subjek yang mengalami proses pendidikan ini tidak 100% menerima unsur positif dalam pendidikan, unsur negatif pasti dimakan juga, pendidikan di mata sekarang sebagai batu loncatan saja sebagai manusia yang bermasa depan, dan masa depan yang ditempuhpun harus mengalami berbagai macam cara, ibarat sebuah estetika yang melanggar norma-norma, manusia berpendidikan ini sama juga, ada sebagian manusia-manusia yang melanggar dan ingin menjadi manusia instan yang mencoba-coba menduduki pos-pos pemerintahan dengan sistam trial and error-nya. Implikasinya apakah manusia instan ini bisa digolongkan penjajah?
Sebelum diteruskan lagi siapa manusia instan ini. Kenapa dia bisa di indikatorkan juga sebagai penyebab runtuhnya peradaban Indonesia. Harafiahnya manusia instan ini adalah individu intelektual yang tidak pernah menghayati proses tapi mengebu-ngebu dalam hasil. Kalau dimanifestasikan, kaum ini menuntut ilmu ingin dengan cara sesingkat-singkatnya, dan apabila telah menyelesaikan studinya kaum ini ingin cepat dapat mengembalikan modal, kursi dan meja kerja. Kaum ini memakai insting saja tanpa akal, pikiran, dan rasio dalam proses pendidikan. Karena hanya dengan dana ini-itu kaum ini mendapatkan segalanya, kalau dikalkulasikan dana ini-itu tersebut tidaklah kecil tapi kaum ini rela berkorban untuk itu. Dan prospeknya publik telah menggolongkan mereka sebagai kaum intelektual.
Kalau diproyeksikan, manusia instan tidak lebih dari pada seorang pelacur intelektual, bekerja sebagai kemunafikan saja bagi mereka, pasalnya mereka yang telah berada disinggasana pemerintahan telah mengabaikan proses tadi. Lagi-lagi mereka memakai insting dalam mengelola bidangnya. Dengan kata lain mereka belum siap dan masture secara prinsipil untuk terjun bebas ke dunia nyata, dunianya pemerintahan. Nilai jual mereka hanyalah ijazah dan gelar saja, tapi dari segi teori dan experience-nya mereka masih minim aplikasi. Kata-kata intelektual pun seperti dipaksakan kepada kaum ini. Apalah arti ijazah dan gelar yang mereka dapatkan dengan duduk berleha-leha tanpa teori yang maksimal. Setidak-tidaknya teori saja yang mereka miliki, tapi bukan secara komplit. Sehingga manusia instan perlu diberikan lampu kuning sehubungan dengan prospeknya, yang dengan kata lain perlu difilterkan dari dunia pendidikan, karena pemerintah salah satu dari penampungnya pasti juga akan terkena azabnya.
Disisi lain pemerintah sebagai mobilitator rakyat Indonesia harus bersiap-siap menerima azab dari manusia instan. Ini boleh jadi kelalaian dan sikap acuh tak acuh terhadap rakyat adalah ulah mereka. Kalau manusia instan ini berevolusi secara rapidly dan didukung lagi interaksi yang positif dari pemerintah, maka kiamat kecil bersiap-siap untuk melanda rakyatnya. Pasalnya manusia instan ini bisa ditebak apa maunya bisa jadi harta, kepopuleran, nafsu memerintah dan lain-lain yang jadi prioritas nomor satunya, sedangkan rakyat adalah prioritas ke-18 atau ke-99, imbuhnya adanya lagi KKN, pekerjaan yang tidak kredibel, efesien dan profesional. Itulah hasil revolusi mereka, mereka tidak lebih dari penyakit Aids yang siap memporak-porandakan sistem kekebalan, yaitu kekebalan pemerintah. Pertanyaannya sekarang apakah teori-toeri ini terlalu di dramatisir? Tentu saja tidak, kalau dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, kerbau mana yang membajak sawah dengan baik kerbau yang punya mata atau yang tidak punya mata? Inilah hubungan kausalnya, manusia instan jelas buta dan anehnya ingin menduduki pos-pos pemerintahan dan tentu saja hasilnya, “panen-penen” pun tidak akan pernah muncul.
Kalau yang terkena azab manusia instan adalah pemerintah dengan ancaman-ancamannya, masyarakat juga terkena dampak manusia instan ini, boleh dikatakan mereka itu kaum negatif dalam prasangka dan persepsi. Sehubungan strata mereka sebagai kaum intelektual, masyarakat tentu juga mengambil hal-hal yang relatif bagi manusia instan, pasalnya masyarakat yamg awam dan masih dibumbui dengan unsur-unsur feodalisme mencoba mengambil kiblat pada manusia instan yang secara langsung maupun tidak langsung. Kultur masyarakat yang telah terinfiltrasi oleh budaya instan ini akan menimbulkan akulturasi pada masyarakat, hasilnya apabila ada proses yang menuntut hasil yaang isntan maka sogokan–sogokan bisa jadi titik tengahnya, parsel-persel jadi jalan temunya. Bisa disimpulkan budaya ini tercipta juga dari andil-andil manusia instan sebagai kaum yang negatif.
Sebenarnya ada juga orang-orang yang ingin menjadi manusia instan sebagai batu loncatan saja, sehubungan dengan waktu pendidikan yang lama dan di iringi oleh intelektual-intlelektual lainnya yang setiap hari terus mencul dan menjadi pesaing bagi mereka. Mereka menjadi manusia instan tidak lain ingin menghemat waktu dan tenaga, tapi kalau dilihat dari kondisi bangsa ini tentu manusia instan sejati yang lebih dominan dari pada orang yang ingin menjadi manusia loncatan saja. Orang-orang yang ingin menjadi manusia instan ingin membangun bangsa dengan sungguh-sungguh dan ingin berdedikasi tinggi terhadap bagsa, tapi mereka sangat sulit untuk mengubahnya, karena lingkungan mereka telah tejebak dan terperosok terlalu dalam dengan pikiran-pikiran yang instan.
Rakyat Indonesia sebagai unsur dari negara boleh kecewa karena ada juga manusia-manusia instan yang masih berkeliaran di tiap-tiap pos pemerintahan. Rakyat sekarang adalah generasi yang kecewa. Kecewa karena telah dikhianati rakyatnya sendiri, kecewa karena telah dilacuri rakyatnya sendiri. Harapan-harapan dari rakyat yang ingin melihat anak-cucunya bahagia dan sejahtera ternyata telah dirampas. Generasi kecewa Indonesia tidak sebaik kondisinya dengan dibanding Negara-negara lain yang tidak diinfiltrasi oleh manusia instan. Amerika serikat sebagai topnya dunia pendidikan tentu bisa memfilter manusia instan apabila ada dinegara mereka. Tapi, kita sebagai negara miskin masih tetap saja menggunakan nilai-nilai lama apabila seorang ingin menjabat dalam posisi pemerintahan.
Implikasinya sekarang manusia instan yang masih banyak menjamur di Indonesia, masih digolongkan sebagai indikator penyebab kacau balaunya negeri ini, cepat atau lambat ulah dan kelakuan mereka pasti akan nampak juga akhirnya. Seperti kata Leo Tolstoy: Tuhan tahu, tapi menunggu.
***

Ulasan: Bumi Manusia

Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman Sejarah

Buku ini adalah salah satu buku yang sangat terlaris yang ada di terbitkan oleh penulis Indonesia, dimana buku ini telah diterbitkan di 4 benua dengan sampai lebih dari 20 terjemahan bahasa diluar bahasa Indonesia. Buku Bumi Manusia adalah salah satu buku yang di lahirkan dari penderitaan Pramoedya Ananta Toer di sekap oleh hukum diktator dibawah rezim jendral Soeharto. Buku ini awalnya diceritakan kepada rekan-rekan di kamp penahanan orang-orang di pulau buru. Lalu setelah itu buku ini diterbitkan pada tahun 80’an tapi sayang hanya tahan beberapa lama di toko buku karena cepat dibredel oleh mentri kehakiman. Tapi setelah runtuhnya rezim dictator Orde Baru, buku ini kembali diterbitkan pada tahun 2000 oleh penerbit Hasta Mitra yang mencoba menerbitkan kembali karya-karya Pramoedya Ananta Toer.
Secara garis besar buku roman sejarah ini menggambarkan seorang anak pribumi atau inlandeer yang mencoba membangun kembali rakyat dan tanah airnya akibat ketimpangan politik diskriminasi dan perbedaan ras serta kasta dan berbagai hak-hak azasi manusia yang dikesampingkan. Nama tokoh ini adalah Mingke seorang anak bangsawan Jawa yang kepribadiannya diasah oleh mental colonial di mana sejak dari E.L.S samai H. B. S. ia dididik oleh berbagai macam rasa diskriminasi dan perbedaan hak terhadap anak-anak pribumi. Seorang Mingke pada awalnya akibat didikan Belanda dan pengaruh dari lingkungannya yang Belanda mengakibatkan dirinya memandang pada awalnya selalu kepada pemikiran a la barat dan cenderung masih bersifat koorperasi terhadap Belanda.
Menariknya dari perkenalannya kepada pemikiran barat membuat mingke yang ‘hijau’ kepada desakan kepada kembali ke bawah yaitu kepada awal keperluan tanah airnya sendiri. Setelah berkenalan dengan Nyai Ontorosoh atau orang-orang di Booerderij Buitenzorg Mingke mulai menunjukkan kedekatannya kepada pergerakan melawan rezim kolonial dengan cara-cara politik dan bukannya fisik.
Sesuatu yang jelas kita lihat disini adalah Mingke dalam tatanan masyarakat Jawa yang masih kolot dan terbelakang Mingke melihat ini harus di hentikan dengan ia berpendapat tidak ada cara lain selain mulai dengan menulis. Dan dengan menulislah kegiatan awal Mingke untuk terjun secara praktis kepada sistem poliltik Belanda. Tapi lagi-lagi sayangnya ia terbentur dengan masalah oraganisasi yang nyata dan teroganisir dan sifatnya loyal serta melatih para kader.
Pelajaran yang bisa dilihat dari pergerakan nasional dan kehidpan politik di Indonesia adalah tidak adanya berbagai usaha dari berbagai para bangsawan khususnya masyatakat pendukung feodalisme di tanah Jawa. Kehidpan pergereakan yang di idamkan oleh Mingke banyak sekali terbentur kendala mulai dari berbagai maslaah salah satunya tentang menguatnya berbagai hak-hak pelarangan dan keterkendalaan terhadap kebebasan tehadap kebebeasan berbicara dan menulis.
Sekiranya bisa kita lihat bahwa pergerakan nasional pada awal abd ke 20 di Indonesia tidak terlepas dari ekses dan bantuan dari orang-orang dari partai liberal di Belanda, dimana mereka dengan kekuatan politik dan kebangkitan untuk pendidikan ethic serta menguatnya partai Kristen dan liberal itu sendiri di meja parlemen. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya orang-orang baik itu dari orang politikus ataupun dari orang-orang pers mencoba untuk menceritakan kepada Mingke bahwa apa saja kebiadaban dan apa saja konspirasi di dalam masyarakat dan system hukum Belanda. Inilah sebenarnya menjadi satu bantuan yang implicit dari kekuatan mingke untuk mencoba dan mendobrak kekuatan Belanda dengan satu tujuan sama rata sama rasa.
Kondisi pelik yang bisa kita liihat dari kehidpan Mingke adalah saat dia berlawanan dengan hukum Belanda yang sangat diskriminasi dan tidak demokratis kisah ini berawal mulai dari kehidupan percintaan Mingke dengan Annelies yang pada awalnya hanya perkenalan seorang polyghinic Mingke. Tapi mereka menikah dan saat mereka setelah menikah, ayah Annelies yang Belanda totok meninggal karena ibu Annelies seorang gundik bernama Nyai Ontosoroh atau Saniem yang seorang pribumi ia tidak bisa dirawat oleh ibunya sendiri yang karena system itulah yang merentangkan kehidupan antara Annelies dengan Mingke. Dan kepastian hukum itu menyebabkan Annelies harus berpisah dengan Mingke karena Annelies harus diasuh oleh keluarga ayahnya yang asli Belanda, inilah kenyataan pahit yang harus diterima oleh Mingke sehubungan dengan kebejatan dan kediskriminasian dari sistem hukum colonial. Akhirnya mengke secara pasti berpisah dengan Annelies, dan Annelies dikirim ke Belanda untuk dil asuh oleh keluarga Mallema.
Sesuatu yang harus kita lihat dari roman sejarah ini adalah bahwa pergerakan untuk menuju kemerdekaan untuk berkumpul, berserikat, berbicara, dan berpikir pada dasarnya mengalami berbagai masalah dan kendala yang sangat bertubi-tubi. Di mana kadang-kadang teori terhadap perubahan sebuah bangsa untuk meredeka tidak semata-mata mudah untuk didapatkan dan susahnya mendapatkan kesan reaksioner dari masyarakatnya itu sendiri.

****

Download Fitna Movie

Sudah beberapa hari ini kupingku selalu denger film baru yang mengabarkan ada sebuah film kontroversial yang melecehkan Islam. Fitna judulnya, dan dibuat oleh Geert Wilders orang Belanda. Menurut detik.com, film yang disiarkan online sejak kapan hari itu melecehkan Al-Qurán dan Nabi Muhammad saw. Karena adanya hasrat pingin tahu seberapa melecehkannya film itu, maka mulailah jari-jari tangan ini search di youtube.com. Setelah berulang kali hanya menemukan trailer fitna dan bermacam video dengan nama fitna namun bukan fitna the movie yang aku cari. so dengan bantuan pak google, Maka ketemu juga deh…apakah kamu dah lihat video fitna the movie di youtube belum? Kalo belum!! silahkan download aja film kontroversial FITNA yang menentang ISLAM tersebut di link berikut ini:

alternatif buat FITNA part 3 >>bisa

alternatif buat FITNA part 2

alternatif buat FITNA part 1

NB :abis ngeliat film Fitna secara lengkap, dalm hatiku langsung menyimpulkan : dengan segala Ketakutan yang berlebihan pada islam, & keterbatasan ilmu pengetahuan tentang islam, seorang yang punya nama Geert Wilders dengan hanya berbekal MAHAKEBODOHAN, orang belanda ini nekat membuat film FITNA.

semoga orang-orang mengerti apa yang harus dibenarkan…dan juga apa sebenarnya yang akan terjadi saat waktu tak lagi berputar… disitulah akan tercipta Kebenaran Sejati….

jangan komentar, sebelum melihat filmnya…..

http://hazky.wordpress.com/2008/03/30/film-fitnah/

BELAJAR DARI SEMUT

Sesungguhnya didalam kehidupan semut terdapat pelajaran berarti bagi kita sebagai manusia ciptaan tuhan. Yaitu sebuah pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, dan kesinambungan dalam usaha untuk mencapai tujuan. Kata-kata diatas tidaklah berlebihan karena kita bisa melihat seluk-beluk kehidupan semut yang selalu dihadapkan pada rintangan, cobaan tapi semut tetap akan melaksanakan tujuannya hingga tercapai.

Ia bergelantungan diatas pohon, lalu jatuh lantas bangkit kembali, dan berusaha untuk naik lagi, dan lalu jatuh lagi, begitu seterusnya hinga berhasil mencapai apa yang ia ingginkan.

Apabila semut hendak bergerak menuju tempat tujuannya tetapi tertutup oleh rintangan maka semut akan mencoba mencari alternatif lain yaitu bergerak kekiri atau kekanan dan tetap berusaha terus mencari tujuannya. Apabila suatu jalan tujuannya digenangi air maka semut akan membuat jembatannya sendiri yaitu mengajak teman-teman lainnya untuk menyebrang.

Maha suci Allah s.w.t telah menciptakan semut sedemikian rupa, begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik hikmahnya sebagai manusia, kita memiliki berbagai kelebihan dari pada semut, begitu besar perjuangan dan hikamh yang dapat diambil dari hewan kecil ini Allah s.w.t memberikan nama semut tercantum dalam Al-Qur’an yaitu surat An-Nahl (semut). Sifat semut tersebut adalah sifat muslim sejati.

Seorang muslim sejati akan senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya ia akan selalu sabar, teguh dan tetap optimis tanpa mengenal kata lelah. Kegagalan hanyalah sebuah suatu rangkaian batu loncatan yang harus dilompatinya karena ia yakin selain menguji tentang keimanan seorang muslim juga menjadi batu loncatan itu sebagai titik awal seseorang dalam jalan mencapai dakwah yang di ridhoi Allah s.w.t.

Tidak memungkinkan saat kekasih Allah s.w.t, yaitu nabi Muhammad s.a.w menyampaikanya jalan dakwahnya kepada semua pihak golongan masyarakat yang ada pada itu, termasuk sifat semut tadi diterapkan oleh nabi saat menyerukan Islam pada kaum kafir Quraisy. Berbagai ancaman, rintangan, dan godaan tidak dapat menggalahakan niatnya.

Bahkan, Muhammad s.a.w mengucapkan “seandainya matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, aku tidak akan berhenti untuk berdakwah.”