LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

Oleh: Hendriko Firman

SULIT sekali untuk mencoba memilih bagian mana saja dari buku Laskar Pelagi yang paling anda sukai, jawabannya terlalu banyak sehingga tidak bisa digeneralisasikan bahwa satu bab saja yang diambil. Sebenarnya ada 3 bab yang membuat penulis (saya) terkesima nanar dan takjub, yaitu bab 10 berjudul Bodenga. Bab 11 Lanngit Ketujuh, dan bab 27 berjudul Detik-Detik Kebenaran. Tapi sari semua bab itu , bab 10 lah yang benar-benar manarik bagi penulis karena intinya adalah sebuah gambaran menarik dari manusia yang mencintai pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Bab 10 dimulai dengan gaya bahasa yang lantang dan meledak-ledak. Saat mana kalimat ini yang dipakai andrea hirata:

“Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak,menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kumintai bantuan. Aku hanya berdiri mematung, berbicara dengan diriku sendiri.”[1]

Dari situ penulis sudah bisa melihat bahwa cobaan yang dicoba di paparkan oleh Hirata melalui gaya tulisannya telah memberikan suatu pemahaman walaupun tidak secara terang-terangan akan tetapi membuat penulis sangat takjub. Mana ada orang, secara logikanya mencoba untuk hanya melewatkan masa 8 jam-an untuk belajar tapi ditebus dengan nyawa dengan mencoba bespekulasi terhadap buaya yang menghambat jalannya. Kalau orang lain pasti akan pulang saja, toh hanya sehari bolos, tapi kenapa Lintang tetap kekukeuh untuk bisa hadir di sekolah, bukankah itu hal yang bodoh! Tapi dari kasus lintang semuanya harus beruntung dalam artian dia tidak harus merugi hari itu, maka dicobanya lah menerka dan menganalisa apa yang dilakukannya apabila ia bereada dari jarak 15 M terhadap buaya. Tapi akhirnya ia insaf juga seperti yang dikatakan Lintang sendiri. Dikutip dari Hirata:

“Aku terkesima dan tadi telah salah hitung. Jika binatang purba itu mengejarku maka orang-orang hanya akan menemukan sepeda reyot ini. Fisika sialan. Memprediksi perilaku hewan yang telah bertahan hidup jutaan tahun adalah tindakan bodoh nan sombong.[2]

Tak luput pula kenapa bab ini menarik adalah kesan dan ajaran serta pesan yang dalam di patrikan kepada pembacanya bahwa no matter what the obstacle you are facing the point was just through the way. Karena tidak ada yang bisa mengalahkan cinta apapun itu termasuk rintangan. Pesan yang sangat dalam diberikan kepada pembaca. Lepas dari semua itu, penulis merasa menjadi seorang pecundang kelas dunia, setelah mengkomparasiikannya kepada diri penulis sendiri, yang mana hanya kurang lebih 1 jam perjalanan untuk sampai ke kampus, itu pun dengan menggunakan kendaraan umum. Lebih mirisnya lagi saat Hirata mendiskripsikan hidup lintang yang mana saat itu ia harus melewati cobaan saat perjalanan ke sekolah, kita kutip disini:

“Lintang memang tak memiliki pengalaman emosional dengan Bodenga seperti

yang aku alami, tapi bukan baru sekali itu ia dihadang buaya dalam perjalanan ke

sekolah. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh

pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi

ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah

berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri

membayangkan perjalanannya.[3]

” Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor,

dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari

rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab

terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan

sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni

suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di

depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak

tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan

menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer”.[4]

Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi

daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa

hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik

hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil

hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya

berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat

putting beliung, pada musim demam, pada musim sampar—sehari pun Lintang tak

pernah bolos. [5]

Dari situ saja, kita bisa melihat sendiri bahwa tidak masuk akal untuk berkendaraan manual seperti sepeda untuk jarak sekitar 80 Km pulang pergi, itu sama jaraknya hampir mirip dengan Padang-Bukittingi. Dalam hati penulis sempat mengucap, apakah begitu besarnya seorang yang hanya punya kesempatan nol persekian persen untuk bisa menjadi orang sukses yang logikanya ia dibayangi dengan lingkungan lingkaran setan kemiskinan. Pertama-tama jawaban penulis ini adalah NONSENSE! Seorang yang begeitu banyak cobaan hidupnya dalam menyunting ilmu pengetahuan, lambat laun pasti juga akan roboh semangat belajarnya oleh belenggu-belenggu hidup yang lebih urgen, sekarang dalam perspektif logika mana yang lebih urgen makan apa ilmu pengetahuan? Itulah jadi jalan pemikiran penulis saat Lintang masih memiliki bapaknya. Tentulah jawaban logika dan rasionalnya adalah jawaban yang kedua yaitu, makan. Kalau dipikir-pikir Lintang dalam 6 tahun masa SD nya dan 2 tahun masa SMP nya dalam artian dia harus melewati 8 tahun masa sekolah, yang mana 1 tahun sekolah yaitu 313 hari dan dikalikan dengan 8 maka hasilnya adalah 2504 hari, apabila Lintang menenmpuh setiap harinya 80 Km maka 2504 dikalikan dengan 80 maka hasilnya adalah: 200.320Km perjalanan. Tahukan anda dalam angka itu apa saja yang ditempuh oleh Lintang? Jawabannya adalah ia bisa menempuh the Great Wall China yang maha panjang itu sebanyak 42 kali pulang pergi, atau ia sudah bisa menjelajahi Indonesia hingga seluk beluknya dalam 2 kali pulang pergi. Bayangkan saja hanya bersepeda, bukan dengan kendaraan bermesin. Bukankah kejamnya cita-cita itu, sehingga bisa membuat seorang Lintang yang masih muda belia berumur 6 tahun harus menggayuh sepeda yang terlalu besar dengan kaki yang pendek. Benar-benar kutukan ilmu pengetahuan apabila seorang telah mendapatkan cintanya.

Seorang yang tidak menggunakan hati atau orang yang tidak mempunyai nafsu belajar, adalah orang yang sangat merugi sekali apabila membaca buku ini, karena alasannya ia tidak bisa mengambil hikmah dan kandungan falsafah dari buku ini. Disini apalagi khusunya bab ini, diceritakan dengan implisit bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saat mana Hirata menceritakan kegiatan sehari-hari Lintang:

“Jika tiba di rumah ia tak langsung beristirahat melainkan segera bergabung degan anak-anak seusia di kampungnya untuk bekerja sebagai kuli kopra. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagai kompensasi terbebasnya dia dari pekerjaan di laut serta ganjaran yang ia dapat dari“kemewahan” bersekolah”.

Miris sekali, bahwa kita berpikir setidaknya dari pandagan Lintang waktu itu, pendidikan dibilang sebuah kemewahan, tapi ganjaran yang harus didapatkan dari kemewahan itu benar-benar tidak manusiawai baginya.

Sekali lagi apabila tidak mempunyai spirit untuk belajar, atau hanya terkena provokasi untuk membacanya, tanpa ada didasari untuk merasa berkembang, maka sia-sia laha proses membaca anda. Buku ini terlalu indah untuk dibaca orang-orang hina seperti penulis, yang tidak tahun diuntung menerima kemudahan dan kemewahan yang kebangetan tapi tidak memiliki karya sebanyak yang Lintang lakukan. Penulis merasa kerdil sekali apabila melihat cara belajarnya itu, seperti dikatakan oleh Hirata:

“Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit

menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia

memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar

adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku

baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru

agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan

buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap

kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari

sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain”.[6]

Dari sini penulis mengmbil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan oleh Lintang dengan metaforanya Hirata, penulis benar-benar merasa orang paling iri di dunia. Bayangkan saja hanya dengan lampu minyak yang bergantian, yang belum lagi kandungan CO2nya yang bisa menghasilkan sesak dan efek buruk pada paru-paru, tapi disini Lintang seolah-olah bisa merasakan suasana dan atmosfer belajar yang layaknya belajar di perpustakaan universitas paling tertib dan nyaman didunia. Bayangkan saja siapa yang tidak iri, kalau dibandingkan dengan penulis yang mana penulis belajar mendapatkan lampu neon yang bisa kapan saja, dimana saja. Tapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal seperti yang dilakukan oleh Lintang, bayangan penulis adalah, mungkin saja penulis sudah collapse rasa cinta pada ilmu pengetahuannya apabila mengadopsi gaya belajarnya Lintang.

Dari semua kata-kata yang membahana dari Hirata, kontan saja penulis sebenarnya lebih mencintai Lintang daripada balutan kata-kata Hirata yang mempesona itu, dalam artian penulis tidak begitu excited kepada Hirata tapi lebih kepada objek tulisannya yaitu Lintang Samudera Bassara. Profil Lintang begitu dalam diakronik hidup penulis, penulis benar-benar meresapi hidup Lintang itu, sepenggal cerita dulu penulis pernah sudah pada semester 3 masih belum juga mempunyai meja belajar, yang mana dulu hanya belajar di lantai dengan selembar karpet. Tatkala waktu itu penulis ada ide untuk menggunakan meja yang tidak dipakai dikampung untuk dibawa ke Padang, setelah dibawa ke kos tapi meja itu terlalu pendek kakinya sehingga badan terasa pegal dan linu apabila terus-menerus memakai meja itu. Lalu penulis mencoba meninggikan meja itu dengan alat seadanya, sekitar 3 jam penulis membuat meja itu layak untuk digunakan belajar. Walaupun hasilnya kurang maksimal tapi cukup manusiawilah meja untuk dijadikan standar meja belajar. Waktu setelah meja itu selesai, keringat bercucuran mengalir di saat hari sangat panasnnya, badan lelah dan bau tengik siang hari menggerayangi bau badan, waktu itu bunyi jengkerik dan musik tetangga sebelah seolah-olah mengejek penulis karena sia-sia melakukan kerja yang serampangan seperti itu, saat itu penulis merasa iba pada diri sendiri karena niat untuk belajar tinggi sekali tapi fasilitas tidak mencukupi. Saat meja itu digunakan pertama kali, kenikmatan memakainya untuk sebuah catatan tiada tara mainnya, mata penulis berkaca-kaca marasakan sebuah struggling terhadap pencapaian ilmu pengetahuan. Seoalah-olah merasakan penderitaan Lintang, penulis tahu sekali bagaimanakah arti sebuah sacrifice dan struggling itu sendiri. Nikmatnya bukan main, tapi beban yang dipikul nauzubillah sulitnya.

Walaupun sulit digambarkan bagaiman perasaan itu, apabila dikanvaskan dengan tulisan. Tapi setidaknya penulis telah berusaha mencoba jujur untuk berterus terang bahwa yang penulis suka dari buku ini adalah objeknya bukan gaya bahasanya, bukan metaforanya, bukan lelucon-leluconnya, atau keseharian tokoh lain, tapi disini penulis menaruh respek sekali dengan seorang tokoh yang bernama Lintang itu.

***


[1] Andrea Hirata. Laskar Pelangi. Bentang. Jakarta. 2007. Hal 87.

[2] Ibid., hal. 90.

[3] Ibid., hal 93.

[4] Ibid.,hal 94

[5] Ibid., hal 94.

[6] Ibid., hal 100.

Beberapa Buku yang Saya Baca

LIST Of BOOK
____________________________

1.
Judul: Opium to Java: Jawa dalam cengkraman bandar-bandar opium Cina, Indonesia kolonial, 1860-1910
Penulis: Rush James R.
Subyek: Petani Pemakai Opium
Kota penerbit: Yogyakarta
Penerbit: Matabangsa;
Tahun terbit: 2000
Ukuran & jumlah hal buku: 604 hal.; 21 cm
Koleksi: Perpustakaan CSIS
Tipe buku: sejarah petani kecil dan eksploitasi

Buku ini secara pasti melihat bahwa petani menjadi alasan yang sangat konkret bagaimana penindasan menjadi nilai jual yang sangat tinggi, contohnya saja opium. Dimana pada pada masa cultuurstelsel atau tanam paksa di abad ke-19, para petani bukan saja ditindas dengan system colonial tapi juga dizalimi oleh konsumerisme pasar. Dimana opium dilegalkan juga di jadikan salah satu sumber utama dalam penghasilan Negara untuk mendapatkan visa.
Di buku ini di ceritakan bahwa opium tidak saja pada waktu itu belum diketahui secara umum bahwa ini adalah sejenis obat terlarang, tapi para kuli tanam paksa disini mengibaratkan opium semacam endorphin buat bekerja. Dan efek sampingnya pada waktu itu sengaja ditutupi oleh pemerintah dan di kuatkan lagi oleh kekolotan masyarakat jawa.

2.
Judul: Catatan Seorang demonstran
Penulis: Soe Hok Gie
Subyek: catatan harian
Kota penerbit: jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 2005
Ukuran & jumlah hal buku: 15,5 X 23 cm 385 hal
Tipe buku: pemikiran

Buku catatan seorang demonstran adalah pada dasarnya buku yang tidak sengaja dipublikasiskan karena ini adalah sebuah buku catatan harian. Buku ini membahas tentang pemikiran seorang mahasiswa jurusan sejarah fakultas sastra universitas Indonesia dalam melihat rezim soekarno telah mengalami sebuah megalomania yang tidak bisa didiamkan lagi, sehingga banyak dari tulisan tulisannya mengkririk tindakah soekarno yang pada waktu itu telah dan sedang hangat hangatnya ke poros kiri, yang di duga pada waktu itu tidak merepresentasikan kehidupan rakyat Indonesia yang demokratis.
Buku ini memberikan kita gambaran sejarah dan secara lebih relaitet karena menggunakan akal pikiran mhasiswa yang objektif dan ampera, disinggung juga bagaimana situasi dan kondisi pasca pemerbontakan komunis 1965 atau GESTAPU. Sehingga pembaca bisa menarik kesimpulan bahwa buku ini lebih condong kepada pemikiran seorang mahasiswa yang tidak dan tak kuat melihat Negara yang diobrak abrik oleh kepentingan pribadi.

3.
Judul: Pengantar Ilmu pariwisata
Penulis: Oka A. Yoeti
Subyek: pariwisata
Kota penerbit: bandung
Penerbit: angkasa
Tahun terbit: 1983
Ukuran & jumlah hal buku:584 hal tanpa ukuran buku
Tipe buku: ulasan pariwisata di Indonesia.
Buku ini diterbitkan kiranya dapat membantu pembaca dalam membantu dan menunjang kepada para pengelola yang sedang giat mengembangkan kepembangunan kepariwisataan yang sedang terjadi Indonesia dan dalam buku ini tidak pula banyak terjadi pengkompetisian terhadap sejarah yang pada dasarnya menjadi bentuk fundamental dari berkembang dan nilai jual dari porduk pariwisata id Indonesia.
Buku ini di tulis oleh Oka A. Yoeti yang telah banyak berkecimpung dan menangani berbagai masalah kepariwisataan. Segala di utarakan dalam buku ini tentu saja adalah hal-hal yang sangat per lu dipahami oleh siapa saja termasuk kaum sejarawan melihat bagaimana bentuk sejarah bisa menjadi akses dan lapangan kerja bagi sejarah public dan tentunya sejarah dalam konteks kepariwisataan adalah factor langgeng atau tidak daerah kepariwisataan daerah tersebut.

4.
Judul: Citra bung karno, analisis beriita pers orde baru
Penulis: agus sudibyo
Subyek: citra bung karno
Kota penerbit: yogyakrta
Penerbit: BIGRAF
Tahun terbit: 1999
Ukuran & jumlah hal buku: 248, ukuran tidak tercantum
Tipe buku: sejarah pers dan tokoh

Buku ini menelaah dan menganalisa citra bung karno dengan segala kelebihan dan kelemahannya dimana ia sosok yang intelektual, yang mana pemikirannya cukup cemerlang. Sebagai ideology ia telah mengalami berbagai pertentangan ideology dan cekal-mencekal orang yang tidak manyukainya. Disini secara objektif penulis buku ini menggambarkan bagaimana bentuk dan karisma topeng soekarno telah nyata dan gamblang rangka memasukan rakyat Indonesia ke gerbang kehancuran.
Secara pasti buku ini tidak hendak mengaduk-aduk emosi atau membangkitkan kembali romantisme lama tentang sosok bung karno yang kontroversial dan seringkali dipandang dalam prespektif yang ekstrim. Agus sudibyo, penulis buku ini, mengkaji sosok bung karno dalam batas otoritas ilmiah dengan disiplin metodologi yang sangat ketat.

5.
Judul: Karya Lengkap Bung Hatta
Penulis: Emil Salim (ed)
Subyek: Karya bung Hatta
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 1998
Ukuran & jumlah hal buku: 26 cm dan 616 hal.
Tipe buku: pemikiran
Tulisan bung Hatta banyak sekali baik dalam sudut pandang ekonomi, sejarah, filsafat, politik, budaya, sosial dsb. Sehingga ini membuktikan bahwa ada sisi menarik dari penulisya yang hinnga kini tetap relevan atau setidaknya dapat dijadikan refrensi yang sangat penting.
Seluruh karya tulis bung Hatta yang termuat dalam buku in disajikan apa dadanya dalam arti substansif, namun terhadapnya, baik tulisan asli maupun terjemahan menggunakan ejaan lama diubah dengan EYD. Sebagain buku ini termasuk gagasan dan pemikiran bung hatta yang sudah pernah diterbitkan dalam bentuk buku yang sleuruhnya berisi sejumlah karya bung Hatta, seperti keumpulan karangan I, II, III, dan I V (1953-1954).
Kiranya buku ini sangat menggugah hati anak muda untuk melihat bahwa sejarah tidak saja dilakukan dengan cara cara yang dilihat secara konkret dan secara adu otot tapi dilakuakn dengan cara yang sangat elegan, seperti yang dilakukan oleh hatta dengan melahirkan dan mencetak pemikiran-pemikiran yang brilian.

6.
Judul: Prime minister Sjahrir as statesman and diplomat; how the allies became friends of Indonesia and opponents of the Dutch (1945-1949);
Penulis: Algadri, Hamid
Subyek: Sjahrir, Sutan – biography
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: LP3ES
Tahun terbit: 1995
Ukuran & jumlah hal buku: 135 & 24 cm
Koleksi: Pustaka Aksara

Buku ini berisikan tentang kehidupan politik Sjahrir di masa perang revolusi di Indonesia setelah agresi militer 1 dan agresi militer 2, secara sederhana buku ini menggambar kan bagaimana kehidupan perdiplomasian dan perpolitikan Sjahrir, yang dimana bukan dalam kacamata umum atau objektif tapi dibuku ini lebih kental memory personalnya.
Buku ini ditulis oleh Hamid Algadri seorang yang sangat dekat sekali dengan Sjahrir, ia menceritakan Sjahrir yang di usia muda bisa menghandle dan mengambil kesempatan yang berisiko tapi dengan untung berkali lipat, dimana Sjahrir digambar kan sebagai perdana menteri sebagai seorang negarawan dan diplomat. Sebagai perdana menteri pertama RI Sjahrir bisa dikatakan sukses membuka kesempatan diplomasi pertama dengan belanda dengan status sejajar dan setara.
Secara personal memory Algadri melihat seorang Sjahrir negarawan yang bisa membuat sekutu yang pada dasarnya terpengaruh pada belanda berubah akibat diplomasi Sjahrir yang membuat para sekutu menjadi sahabat dan di sisi lain sjahrir melalui diplomasi nya membuat sekutu menjadi lawan.

7.
Judul: Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah
Penulis: Tsuyoshi Kato, terjemahan Gusti Asnan dan Akiko Iwata
Subyek: Minangkabau
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 2006
jumlah hal buku: 291
Tipe buku: budaya

Orang di luar minang cenderrung melihat masyarakat Minang adalah sebuah ibarat puzzle dimana mereka bisa membuat asimilasi yang mantap terhadap influence yang masuk ke dalam budayanya, lihat saja orang Minang cukup kuat memegang prinsip Islam yang nota bene patrilineal dalam artian mereka mematuhi, menjalani, dan mensinergikannya, tapi di sisi lain adat malah memakai kebiasaan yang kontradisi dengan Islam yang dimana, kita bisa lihat matrileineal menjadi poros utama dari daerah Minngkabau.
Di buku ini Kato dengan cepat melihat bahwa seyonyanya konten dari buku ini adalah memberikan penggambaran bahwa orang Minang yan berbudaya merantau bisa tetap utuh samapai sekarang.

8.
Judul: Indochina persilangan kebudayaan
Penulis: Groslier
Subyek: asia tenggara
Kota penerbit: yogyakarta
Penerbit: gadjah mada university press
Tahun terbit: 1997
Ukuran & jumlah hal buku:
tipe buku: sejarah regional

Membicarakan tentang asia tenggara adalah sesuatu yang sangat eksotis bagi saya. Dimana keheterogenan bebagai suatu ras, religi, kultur, berbaur dalam sebuah kesinambungan kehidupan. Daerah asia tenggara bukanlah daerah yang mencoba untuak mengatur pola kehidupannya dengan sisitim tutup pintu atau politik isolasi yang sebagaimana diterapakan oleh negeri dai nippon. Justru asia tenggara adalah daerah yang mengalami berbagai macam percampuran, persilangan, penghapusan kebudayaan yang memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya. Sehingga tidak heran orang-orang asia tenggara tidak asing kita kenal sebagai orang indocina, yaitu orang yang mengadaptasi persilangan kebudayaaan.
Even yang sangat spektakuler dan berkesinambungan hingga terbentuknya masa depan asia tenggara adalah ada nya sumbangan kebudayaan dari bangsa cina dan india. Cina yang bermain secara arogan mencaplok dareah-daerah sekitarnya yang dianggap menguntungkan seraya berjibaku untuk menghilangkan kebudayaan setempat, sebaliknya orang-orang india bermain secara halus, yaitu berdagang menetap, mengedepanakan etika dan estetika di daerah yang didatanginya sehingga persilangan kebudayaan pun tetap di jalurnya.
Dilihat dari proses sejarah akan hadirnya indocina, vietnam adalah step pertama muncul dan berkembangnya awal kelahiran indocina di daerah utara, vietnam dijadikan sebagai daerah jajahan oleh cina khususnya yaitu daerah tonkin yang sekarang lebih dikenal sebagai cinanya vietnam, kerena begitu terinfiltrasinya oleh kebudayaan cina. Tercatat ada 2 kerajaan yang membentuk vietnam sesungguhnya yaitu kerjaan xich-cuy dan van tang. Dalam masa penjajahan ini cina menanamkan pengaruhnya yang kesemuanya adalah hal-hal yang disamping eksploitasi daerah dan orangnya, cina menerapkan hampir dari semua isi vietnam di hilangkan atau di rombak, dari segi bahasa mereka resmi memakai bahasa cina berserta idiogramnya, dari segi tulisan-dan pertama kali dikenal orang vietnam-dikhususkan juga ntuk memakai tulisan cina, yang dari sini tulisan ini diterima dengan baik sehingga orang-orang vietnam yang tes pegawai di cina banyak yang lulus.
Bukan dari sisi literatur saja asimilasi mengalir pesat di vietnam, dalam pengolahan atas dasar penguasaan tanah, orang-orang dongsong juga menerapkan ilmu cina untuk mengurung aliran sungai untuk diairi dan menguasai pertanian yang tetap. Dalam proses penjajahan ideologi ini, cina seraya membangun koloni-koloni nya sehingga berangsur-angsur masuk ke pusat kebudayaannya. Demikianlah aksi penjajahan tersebut dilakukan dengan kedua faktor diatas sajalah yang bisa di asimilasikan oleh orang cina karena tidak ada sistim lain yang bisa “dijajah” lagi.
Groslier juga memaparkan bahwa unit-unit kampung dan desa mulai terjadinya spesialisasi dalam betuk kerja akibat pengaruh cina, sehingga timbulnya kampung-kampung pengrajin dan kampung-kampung pedagang. Tata krama dan ritual kepercayaan juga dilakukan dengan cara yang sebelumnya yaitu terhadap roh-roh pelindung tanah serta kultus kemaharajaan konfusionisme juga berlaku, dimana maharaja dianggap sebagai dewa dunia, yang di jawa dikenal sebagai aspek mananggung kawula gusti.
Sejarah Vietnam bukanlah sebuah sejarah bangsa yang normal seperti bangsa lainnya , akibat dari kurangnya ilmu pengetahuan dan rasa kesosialan yang serentak, terpakasa Vietnam sebagai jajahan cina mangais-ngais, dan mengemis-ngemis untuk bisa menyatukan puzlle dari bangsanya sendiri yang nyatanya adalah bengsa ini merupakan sebuah sebuah komunitas-komunitas kecil sehingga terbentuk pribadinya yang statis sampai sekarang yang merupakanm warisan jajahannya yaitu cina.
Pentingnya pengaruh cina di tonkin, membuat negeri-negeri yang disekitarnya lambat-launpun, terkikis rasa independennya.tonkin dalam perannya bagi cina juga bermanfaat sebagai jalan parallel menuju India. Akhirnya tonkin dengan cepat menjadi center kepercayaan budha yang penting awalnya dengan mengunggsinya orang yang terdiskreditkan oleh kerajaan di cina, lalu komunitas ini menetap di Vietnam di abad 3 dan 4, dan bertemu dengan biarawan-biarawan budha dari songdiane, akhirnya berkembanglah budha yang tanpa membedakan kasta itu disitu yaitu Vietnam.
Disisi lain perkembangan indocina, yang digawangi oleh orang India menuju daerah asia tenggara dimulai sejak adanya kapasitas-kapasitas seperti ilmu pengetahuan kelautan yang membawa orang India untuk bisa menjelajah pantai-pantai asia tenggara sampai pulau nusantara yang jauh pastinya adanya pelayaran ini masih menjadi perdebatan karena minimnya sumber-sumber tulisan yang menceritakan tentang pelayaran ini. Tapi dilihat dari terbatasnya ilmu pengetahuan pada waktu itu, dapat disimpulkan bahwa proses emigrasi tidak terjadi secara massal. Hal lainnya selain emigrasi ada suatu perspektif lainnya mengatakan semangat nasionalis para pendeta budha dalam menguniversalkan agamanya, tapi paham ini bukanlah alasan yang konkrit dalam ekspansi India, namun sebaliknya ini adalah unsur tambahan atau unsur sekunder.
Dilihat dari dampak ekspansi India, bahwa gilang-gemilangnya pemahaman terhadap linguistik, tulisan, politik, hingga ilmu astronomi yang tiada tara bandingnya dengan ketepatan yang mutlak yang tidak disaingi oleh peradaban lainnya melalui keampuhan matematik yang mampu menghitung kalender hingga teknik eksploitasi tanah dan produk pengrajin, dapat disimpulkan influence yang berkembang adalah timbulnya suatu peradaban yang menggugah dengan tanpa unsur-unsur kekerasan menimbulkan wilayah yang dikenal sebagai daerah utara adalah rintisan cina dan sektor daerah rintisan India, sehingga tidak pelak timbullah suatu konsonan kosakata baru akibat dampak ekspansi ke-2 bangsa ini : INDOCINA.
Menilik kembali sejarah asia tenggara, kita lebih mengenalnya sebagai kawasan yang memiliki poin penting dalam menyelesaikan dilemma krusial sejarah moderen tahap awal. Asia tenggara tidaklah sama dengan eropa atau kawasan asia lainnya yang memiliki keseragaman kebudayaan, politikal bahkan religi. Kawasan asia tenggara seyongyanya hanyalah sebuah kawasan yang telah dipecah-belah jalur budayannya oleh sub kebudayaan cina dan India. Asia tenggara yang meiliki iklim panas, curah hujan yang tinggi, dengan tanah yang subur diimbangi dengan hutan yang lebat belantara.
Studi-studi sebelumnya mengatakan akan perkembangan dan transisi sebuah era tidak bisa dihilangkan lasnsung dengan asia tenggara, kawasan ini bukanlah kebangkitan renaisanns, reformasi, abad penemuan dll.Saya melihat bahwa para sejarawan masa lampau asia tenggara daratan (dan jawa pada tingkat rendah) secara khas memuat periodesasi berdasarkan disnasti (seumpanya, “ ayutthaya akhir, “Tou ngoo awal, “ “le”), sementara kebangkitan islam dan kedatangan eropa di pandang sebagai titik yang penting di pulau-pulau tersebut.
Anthony Reid juga memaparkan kegigihan bangsa barat khususnya spanyol dan portugis demi menemukan lada, cengkeh, dan pala yaitu semakin beratinya komoditi tersebut bagi bangsa eropa yang seyongyannya memiliki 4 musim,. Takakala tahun 1390-an, 6 metrik ton cengkeh dari satu setengah metrik ton pala asal maluku bagian timur indonesia diekspor setiap tahun ke eropa. satu abad kemudian jumlah tersebut membengkak menjadi 52 ton cengkeh dan 26 ton pala. Akhirnya produk-produk baru di ekspor di asia tenggara di abad ke-18 dalam jumlah lebih besar dibandingkan masa sebelumnya-terutama gula, kopi, dan tembakau. Bagaiamanapun juga hasil-hasil bumi trsebut adalah tanaman dagang yang dikelola oleh orang cina dan eropa.
Di asia dalam aspek militer, tumbuh dan berkembangnya penggunaan senjata api. Barang-barang ini tidak lepas dari peran pedagang muslim yaitu India, timur tengah, cina dan eropa untuk meriam sedangkan senjata api yang akan diprediksi akan menjadi landasan defensif yang sangat berperan demi kelangsungan kerajaan, dan bertekad sungguh-sungguh mendapatkannya yang seyongyannnya di impor dari portugis, turki, Gujarat, jepang dan minotritas muslim local seperti campa, melayu dan Luzon (muslim berbahasa tagalog yang berlokasi di kepauluan Mindanao, filipina). Pencapaian di bidang militer ini membuat hadirnya akumulasi kekusaaan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang pada puncaknya menguasai sebagaian besar wilayah birma dan Thailand saat itu.
Asia tenggara adalah daerah pluralisme yang berubah-ubah. Negara bengkit dan runtuh relatif singkat. Periode moderen tahap awal menjanjikan kebangkitan banyak negara yang kemudian membentuk identitas moderen asia tengah, baik nasional maupun etnis. Dan semua itu tidak lepas dari cikal-bakal persilangan kebudayaan yang menimbulkan indocina sebagai perintis awal sejarah asia tenggara.
Buku ini sangat menarik karena bisa mengupas secara jelas bahwa ada satu ikatan budaya juga kiranya dalam kawasan daerah asia tenggara yang komplek.

9.
Judul: catatan pergolakan pemikiran ahmad wahib
Penulis: ahmad wahib
Subyek: catatan harian, ahmad wahib
Kota penerbit:
Penerbit:
Tahun terbit:
jumlah hal buku: 395 hal
Koleksi: Perpustakaan CSIS l
Tipe buku:

Buku ini adalah sebuah catatan harian yang ditulis oleh Ahmad Wahib, dimana dalam ide-ide dan pemikirannya Ahmad Wahib mencoba untuk mengintegrasikan dirinya kepada cikal bakal Islam liberal, karena ketidak lepasannya terkait pada perkenalannya dengan Nurcholas Madjid, yang sekarang dikenal sebagai orang yang vocal mendukung aliran tersebut. Catatan harian Ahmad wahib ini bisa dibilang penuh dengan hal-hal fundamental, kritis, rasional dan controversial. Dia mencoba untuk mengetahui sejauh mana hebatnya tuhannya. Dia mengedepankan kebebasan berpikirnya untuk menjamah pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan dalam Islam, saat dia terteori bahwa Al-Qur’an pada saat sekarang bukanlah lagi sumber utama dari Islam karena gamabran situasi dam kondisi yang merefleksikan kandungan Al-Qur’an tidak lagi rasional untuk dijalankan saat sekarang, seabliknya dia mengatakan bahwa sejarah Muhammad saw lah yang sekarang jadi titik tumpu ke-Islaman itu.
Dalam catatan harian ini ia mencoba melihat dan menceritakan tentang perenungannya terhadap konstelasi Islam sekarang yang sudah tidak sekhusuk abad ke-7 masehi dulu. Dia juga berusaha keras mengedapankan rasionalitasnya untuk menanyakan hal-hal yang sumbernya telah mutlak, seperti Al-Qur’an tadi. Dari 395 halaman buku ini dibagi menjadi empat bagian yaitu tentang pemikirannya, politik, perenunnganyanya dan kepribadiannya.
Secara kesuluruhan buku ini menggugah perspektif kita tentang hal-hal yang semestinya masih rancu.

10.
Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Perasaaan setelah membaca buku ini campur aduk, senang, rindu, galau, kacau dan sedih. Semua perasaan saling menindih satu demi satu, terlintas sekali bahwa buku ini mencertakan dan mengalami banyak percobaan hidup yang tiada tara. Semua melebur menjadi sebuah cerita yang mempunyai makna yang disampaikan secara tersirat dalam, tegas dan dengan pembawaan yang tenang tapi dapat.
Buku ini adalah gambaran manifes orang Indonesia (dulu: Inlandeer/pribmi) pada tanah airnya sendiri. Di mana aturan-aturan colonial mengakibatkan ketimpangan status hak dan kewajiban, juga sangat kontras nya pembagian kasta yang sebelumnya kita lihat sangat tidak gamblang, tapi disini kita sendiri yang mengambil kesimpulan bahwa buku ini menjelaskan setiap kasta berserta hak dan tugasnya dengan gamblang: Eropa, Indo (peranakan/blasetram), dan pribumi.
Awal kisah buku ini diawali dengan seorang tokoh bernama Mingke, sungguh janggal pada awal abad penutupan 19, nama keluarga tidak dicantumkan hanya Mingke saja, ia bersekolah di H.B.S. setinggkat SMA pada saat sekarang, memiliki berbagai macam persoalan pada sekolah yang agak cukup rasis lalu berkenalan dengan seorang wanita Indo bernama Annelies Mallema, ia wanita yang kekanak-kenakan, tanpa sadar keduanya saling jatuh cinta, dan membuat Mingke janggal dirumah Annellies yang disruruh oleh ibunya yang biasa disebut nyai Ontorosoh (Belanda: Buitenzorg). Tanpa sadar ikatan keduanya saling bergantungan, walaupun tidak banyak kendala dalam internal itu sendiri, tapi masalah yang krusial adalah cinta mereka dianulir oleh hukum Belalnda yang pada masa itu tidak menvamtumkan pribumi walhasil saat ayah Annelies meninggal ia harus tinggal di Nederland bersama kakak tirinya, padahal ia punya ibu kandung yang belasan tahun tinggal bersamanya, tapi sayang ibunya pribumi sehingga dia dianggap tidak syah sebagai istri dan tidak syah punya anak, karena Nyai adalah seorang gundik dari ayah Annelise Herman Mallema.

Dalam buku in bagaimana secara gamblang dengan pembawaan realisme Toer yang membebankan peristiwa pada tahun 1890-an itu, kita serasa dibawa kembali ke zaman itu.
11.
Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Tak pernah terbayangkan bahwa buku ini benar benar meyedot roh dan raga anda, semua plot dicampur dan dipersonalikasikan kepada pembaca. Kita dibawa hanyut dalam ombang-ambing masalah kehidupan, sebuah mozaik yang dianggap kecil meledak menjadi sebuah kerangka yang problematic sekali.
Buku ini adalah buku kedua dari tantralogi roman BUMI MANUSIA. Buku ini memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka. Perngarang benar-benar memberikan doktrin kepada pembacanya seolah-olah itu semua hal yang tidak langsung dalam arus cerita, buku ini benar-benar mengedepankan rasionalitas dalam semua alurnya, juga terselip hal-hal humanis untuk dipelajari.
Pada buku ini, sesuatu yang selalu kita harap-harapkan untuk pulang di buku pertama ternyata kandas juga. Apa pasal? faktanya ada sebuah karakter yang telah direngut sang pencipta, belum lagi perkara-perkara kolonialisme yang nanti mencengkram Mingke dan Nyai Ontorosoh, semua orang bersatu disini memberikan pertahanan terhadap nilai-nilai dan hukum kompeni yang masih meng-agung-agungkan rasime.

Menarik juga kita kaji hal-hal yang menjadi pertanyaan berantai pada buku pertama terjawab di buku kedua ini, contohya saja siapa si Gendut kenapa tuan Robert dan Herman menghilang, dan lebih takjubnya lagi ada nyawa baru di dalam Boorderij Buitenzorg, seorang mahkluk yang masih baru, kecil, dan ballita. Disini juga Mingke yang telah di doktrin dan memuja barat/Eropa mulai melihat dan peka terhadap sekitarnya atau para kaum-kaum melarat dan terdiskredit yaitu: rakyat nya sendiri.
Pramoedya benar-benar dalam bentuk tulisannya , kita tidak hanya berpikir saja dalam buku ini tapi kikta “dihatikan”, dalam artian membawa sebuah sentimentilitas untuk dipecahkan. Bagi yang membaca buku ini bersiap-siaplah untuk menyiapkan mental, karena ini benar benar sebuah masterpiece yang susunan, ritme, dan melodinya benar-benar akan membuat kita shock
Untuk buku ini penulis (saya) salut terhadap pengarang, benar-benar angkat topi, dan tiada dalam hati untuk mengacuhkan buku ini pada anak cucu nanti, mahakarya agung, sangat dalam, puitis, realis, penuh makna.
Empat rangkaian buku yang terindah yang pernah saya baca.

12.
Judul: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

13.
Judul: Rumah Kaca
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman sejarah

Buku ini benar-benar diluar dugaan, menceritakan kepada kita bagaimana ideallisme adalah harga disi apapun itu lawannya. Rumah kaca buku keempat dari tantralogi Bumi Manusia, lebih banyak menceritakan bagaimana pemerintah Hindia Belanda, mengontrol kegiatan pribumi agar tidak jadi membelot. Sehinga dikenallah rumah kaca, rumah yang bisa di awasi dari mana saja.

***

Robohnya Surau Kami

Judul : Robohnya Surau Kami
Pengarang : A.A. Navis
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2000
Kota terbit: Jakarta
Jenis buku : Cerpen
Rating: Segala Umur
Ukuran & Jumlah hal : 147 hal.; 21 cm

Robohnya Surau Kami sebuah kumpulan cerpen karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, dan terbitan yang terbaru adalah tahun 2002. Kumpulan cerpen ini yang mernarik adalah yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah.
Buku kumpulan cerpen A. A. Navis ini beriskan 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.
Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata cemoohan dan satir akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan di masa sekarang ini.
Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah miris matinya seorang Kakek penjaga surau di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Untuk lebih jelasnya mari kita simak dialog tersebut:
Untuk lebih jelasnya marilah kita kutip sebuah sindiran itu:

‘kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting-tulang. Sedang aku menyruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Bagaiamana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hinnga kerjamu lain tidak memuji dan menyembahku saja. Tidak..…”
Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang dirhidoi Allah di dunia.

Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

***

Ulasan: Bumi Manusia

Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Subyek: kolonial
Kota penerbit: Jakarta
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun terbit: 2000
Tipe buku: roman Sejarah

Buku ini adalah salah satu buku yang sangat terlaris yang ada di terbitkan oleh penulis Indonesia, dimana buku ini telah diterbitkan di 4 benua dengan sampai lebih dari 20 terjemahan bahasa diluar bahasa Indonesia. Buku Bumi Manusia adalah salah satu buku yang di lahirkan dari penderitaan Pramoedya Ananta Toer di sekap oleh hukum diktator dibawah rezim jendral Soeharto. Buku ini awalnya diceritakan kepada rekan-rekan di kamp penahanan orang-orang di pulau buru. Lalu setelah itu buku ini diterbitkan pada tahun 80’an tapi sayang hanya tahan beberapa lama di toko buku karena cepat dibredel oleh mentri kehakiman. Tapi setelah runtuhnya rezim dictator Orde Baru, buku ini kembali diterbitkan pada tahun 2000 oleh penerbit Hasta Mitra yang mencoba menerbitkan kembali karya-karya Pramoedya Ananta Toer.
Secara garis besar buku roman sejarah ini menggambarkan seorang anak pribumi atau inlandeer yang mencoba membangun kembali rakyat dan tanah airnya akibat ketimpangan politik diskriminasi dan perbedaan ras serta kasta dan berbagai hak-hak azasi manusia yang dikesampingkan. Nama tokoh ini adalah Mingke seorang anak bangsawan Jawa yang kepribadiannya diasah oleh mental colonial di mana sejak dari E.L.S samai H. B. S. ia dididik oleh berbagai macam rasa diskriminasi dan perbedaan hak terhadap anak-anak pribumi. Seorang Mingke pada awalnya akibat didikan Belanda dan pengaruh dari lingkungannya yang Belanda mengakibatkan dirinya memandang pada awalnya selalu kepada pemikiran a la barat dan cenderung masih bersifat koorperasi terhadap Belanda.
Menariknya dari perkenalannya kepada pemikiran barat membuat mingke yang ‘hijau’ kepada desakan kepada kembali ke bawah yaitu kepada awal keperluan tanah airnya sendiri. Setelah berkenalan dengan Nyai Ontorosoh atau orang-orang di Booerderij Buitenzorg Mingke mulai menunjukkan kedekatannya kepada pergerakan melawan rezim kolonial dengan cara-cara politik dan bukannya fisik.
Sesuatu yang jelas kita lihat disini adalah Mingke dalam tatanan masyarakat Jawa yang masih kolot dan terbelakang Mingke melihat ini harus di hentikan dengan ia berpendapat tidak ada cara lain selain mulai dengan menulis. Dan dengan menulislah kegiatan awal Mingke untuk terjun secara praktis kepada sistem poliltik Belanda. Tapi lagi-lagi sayangnya ia terbentur dengan masalah oraganisasi yang nyata dan teroganisir dan sifatnya loyal serta melatih para kader.
Pelajaran yang bisa dilihat dari pergerakan nasional dan kehidpan politik di Indonesia adalah tidak adanya berbagai usaha dari berbagai para bangsawan khususnya masyatakat pendukung feodalisme di tanah Jawa. Kehidpan pergereakan yang di idamkan oleh Mingke banyak sekali terbentur kendala mulai dari berbagai maslaah salah satunya tentang menguatnya berbagai hak-hak pelarangan dan keterkendalaan terhadap kebebasan tehadap kebebeasan berbicara dan menulis.
Sekiranya bisa kita lihat bahwa pergerakan nasional pada awal abd ke 20 di Indonesia tidak terlepas dari ekses dan bantuan dari orang-orang dari partai liberal di Belanda, dimana mereka dengan kekuatan politik dan kebangkitan untuk pendidikan ethic serta menguatnya partai Kristen dan liberal itu sendiri di meja parlemen. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya orang-orang baik itu dari orang politikus ataupun dari orang-orang pers mencoba untuk menceritakan kepada Mingke bahwa apa saja kebiadaban dan apa saja konspirasi di dalam masyarakat dan system hukum Belanda. Inilah sebenarnya menjadi satu bantuan yang implicit dari kekuatan mingke untuk mencoba dan mendobrak kekuatan Belanda dengan satu tujuan sama rata sama rasa.
Kondisi pelik yang bisa kita liihat dari kehidpan Mingke adalah saat dia berlawanan dengan hukum Belanda yang sangat diskriminasi dan tidak demokratis kisah ini berawal mulai dari kehidupan percintaan Mingke dengan Annelies yang pada awalnya hanya perkenalan seorang polyghinic Mingke. Tapi mereka menikah dan saat mereka setelah menikah, ayah Annelies yang Belanda totok meninggal karena ibu Annelies seorang gundik bernama Nyai Ontosoroh atau Saniem yang seorang pribumi ia tidak bisa dirawat oleh ibunya sendiri yang karena system itulah yang merentangkan kehidupan antara Annelies dengan Mingke. Dan kepastian hukum itu menyebabkan Annelies harus berpisah dengan Mingke karena Annelies harus diasuh oleh keluarga ayahnya yang asli Belanda, inilah kenyataan pahit yang harus diterima oleh Mingke sehubungan dengan kebejatan dan kediskriminasian dari sistem hukum colonial. Akhirnya mengke secara pasti berpisah dengan Annelies, dan Annelies dikirim ke Belanda untuk dil asuh oleh keluarga Mallema.
Sesuatu yang harus kita lihat dari roman sejarah ini adalah bahwa pergerakan untuk menuju kemerdekaan untuk berkumpul, berserikat, berbicara, dan berpikir pada dasarnya mengalami berbagai masalah dan kendala yang sangat bertubi-tubi. Di mana kadang-kadang teori terhadap perubahan sebuah bangsa untuk meredeka tidak semata-mata mudah untuk didapatkan dan susahnya mendapatkan kesan reaksioner dari masyarakatnya itu sendiri.

****

BUDAYA BACA, BACA BUDAYA

BUDAYA BACA, BACA BUDAYA
Oleh: Hendriko Firman

“Budaya baca adalah budayanya manusia, manusia tidak akan punya peradaban apabila tidak membaca. Bahkan Islam pun mengajarkan kata pertamanya yaitu “Iqra” (bacalah).

Pada saat sekarang keseharian proses intelektual manusia tidak lepas dari proses membaca. Membaca sebagai sebuah aktivitas mencerminkan bagaimana seorang individu mau berkembang dan melihat cakrawala ilmu dengan lebih luas lagi. Membaca yang dalam konteks keingintahuan adalah sebuah hal sangat mulia untuk dilakukan. Maka tidak heran apabila setiap orang mengatakan bacalah selagi kau masih ada.
Memang untuk ukuran Negara Indonesia, minat baca sangat rendah sekali. Membaca bukanlah sebuah kultur, bukanlah sebuah kegiatan yang normal selagi menunggu orang kita membaca, selagi duduk di bus kota kita membaca, selagi punya waktu luang dimana saja kita membaca. Bukan, orang Indonesia faktanya bukan seperti itu. Masih ingatkah kita bahwa masih ada beberapa suku di Indonesia untuk mengharamkan pendidikan termasuk membaca. Realita seperti itu membuat semuanya menjadi masuk akal, sejak masa penjajahan dulupun kita baru disediakan buku-buku bacaan faktanya baru akhir abad ke-19. Jadi, jangankan membaca buku, untuk surat kabar pun rata-rata orang Indonesia membaca satu koran dibaca oleh lima puluh orang rata-rata.
Maka dari itu, pemerintah memang telah lama tanggap terhadap semua fenomena ini, karena kecenderungan di Indonesia bukan orang-orang berpunya saja yang jarang membaca. Bahkan orang-orang yang berduit pun jarang sangat untuk membaca. Ironisnya kaya-miskin di Indonesia memang tidak suka membaca.
Membaca sebagai mediator berpikir kritis, bukan saja selalu di identikan dengan hal-hal yang “berat”, teori-teori, bahasa-bahasa ngejelimet. Tapi juga membaca buku adalah perkerjaan yang dianggap sia-sia oleh sebagian orang Indonesia. Karena sebagian orang Indonesia termasuk orang yang mengapilkasikan suatu hal secara kinetik (kerja), bukan secara audio (mendengar) maupun visual (melihat/membaca). Sehingga akibat kurang balance-nya daerah A dan B SDM nya mungkin juga disebabkan oleh pengaruh lingkungannya yang cenderung teridiri dari orang-orang kinetik. Contohnya apabila seseorang ingin membeli kipas angin, maka orang kinetik akan langsung merakitnya, sebaliknya orang visual membaca buku petunjuknya, dan orang audio akan menanyakannya pada pedagang tadi perihal cara merakitnya.
Dari kasus di atas membaca sebagai sebuah paradigma, perspektif, behaviour, aktivitas, teori, implementasi, apalagi kultur faktanya masih sulit di Indonesia ini. Apabila orang Indonesia telah sinkron dengan hal-hal tersebut. Sekonyong-konyong kita tentu akan mengulang sejarah – yang einmalig tentunya – terhadap peradaban Negara hinomaru Jepang. Kita tahu bahwa, hanya perlu waktu empat dekade saja sejak didatangi Mathhew C. Perry pada tanggal 8 Juli 1853. Jepang yang sebelumnya kolot dan telah terisolasi berabad-abad terhadap kemajuan dunia luar akhirnya bertransformasi menjadi sejajar dengan negara-negara seperti Italia dan mengalahkan negara-negara yang cemerlang peradabannya seperti Spanyol, Russia, Yunani dan Negara-negara barat cemerlang lainnya. Yang kuncinya ada hanya pada satu kata yang membuat Negara Jepun itu maju yaitu: membaca.
Tapi kalau bangsa Indonesia yang besar ini kalau membaca hanya dalam situasi formal saja, kita mungkin masih jauh mengejar kemajuan bangsa-bangsa yang lain. Dimana, kalau proses membaca dengan metode paksaan yang sering kita alami di sekolah-sekolah terus di prektekkan faktanya metode tersebut tidak punya efek kontinunitas yang baik, pasalanya soul kita sendiri telah didikte dengan kata-kata membaca, sebaliknya kata “membaca” telah jenuh di mata para siswa. Maka timbullah ego sendiri yang menyatakan membaca adalah proses menjemukan dan tidak punya bentuk ke-excited-annya. Membuat opini publik mengatakan membaca itu dibalas dengan pernyataan sok rajin, cari muka, di ejek kutu buku dsb. Faktanya orang hanya membaca buku yang sederhana saja tapi selalu dikonotasikan buku-buku yang yang menjatuhkan harga diri si pengejek karena cemburu, bukan murni mengejek. Sebaliknya membaca harus ditanamkan sebagai kegiatan yang akrab bentuknya bukan sebagai paksaan semata.
Maka dari sirkulasi membaca tersebut manusia telah bisa di katakan manusia yang sebenarnya apabila telah membaca, apapun genre dan bentuk buku tersebut, ilmiah, dan non-ilmiah – tentu yang positivisme. Orang-orang yang membaca yang membuat dirinya membutuhakan membaca sebagai kebutuhan primer, tak pelak lagi kita katakan sebagai orang yang berbudaya membaca dan walhasil individu itu bisa membaca budaya. Apapun budaya tersebut, karena dasar pemikirannya terobesesi pada ilmu pengetahuan yang mengakibatkan individu teresebut bisa membaca budaya, budayanya manusia.
Seorang yang telah melek sebagai reader (pembaca), tentunya telah disinggung tadi akan bisa baca budaya. Karena budaya sebagai proses pemikiran manusia bisa merefleksikan si reader tersebut untuk lebih haus lagi terhadap ilmu dan pengetahuan, lebih kritis, dan tentu efek jangka panjangnya membuat seorang reader menjadi orang yang bijak, punya keobjektifan, berjiwa besar, dan akan punya kepekaan terhadap semua hal (sense of act).
Lihatlah contoh orang-orang besar yang punya kebutuhan primer terhadap membaca: Hatta, Sjahrir, Taufik Ismail, H.A Salim, Rosihan Anwar dll. Bahkan Rosihan Anwar yang pada usia 80-an tetap memabca buku 2 buku seminggu. Contoh-contoh orang di atas yang telah mengalami sirkulasi budaya baca = baca budaya, kesemuanya telah menjadi “orang”, bahkan orang besar yang sampai pada kaliber internasional.
Tentunya Indonesia sebagai negara yang melimpah SDA nya, butuh sekali kecakapan terhadap SDM yang memadai, maka tidak lain jalan keluarnya yaitu membaca, membaca, dan membaca. Yang orientasinya yaitu membaca menjadi tahu, tahu menjadi paham, paham menjadi kontiniunitas lagi untuk kita membaca buku yang lain.
Percayalah kita kepada orang-orang besar diatas, kalau kita membaca dan menjelma menjadi seorang reader untuk negara Indonesia yang besar ini kalau kita efesienkan maka, kita akan maju sebagai negara baru lebih beradab lagi. Maka dari itu, terus dan ingatlah kata-kata remeh-temeh yang punya kekuatan makrokosmos ini dihati kita untuk dipraktekkan: “tiadalah hari tanpa membaca”.

Buku Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke

Judul Buku : Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke.
Pengarang : Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma.
Penerbit : Yayasan Obor, Jakarta, 2005.

BUKU ini sangat menarik karena membahas tentang pembantaian yang faktanya sangat jarang di publikasikan oleh para ilmuwan sejarah, lantaran masalah apa saya tidak tahu jarang dibukukan. Tapi yang menariknya buku ini ditulis oleh bukan orang ilmuwan sejarah tapi adalah seorang dokter herbal kaliber internasional yang bernama Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma.
Secara garis besar buku ini apabila telah anda baca, apabila anda seorang nasionalis tulen, ataupun chauvinis tulen, atau bahkan islamis, maka sekekita rasa sectarian anda akan berubah digantikan dengan perasaan persamaan status yang mana buku ini sarat dengan kandungan yang agak sedikit eksplanasi subjektif.
Setalah membaca buku ini anda akan sadar bahwa orang-orang Tionghoa lebih akrab dan berasimilasi pada warga bumipitera di abad-abad awal 18, beda sekali dengan sekarang mereka merasa mengekslusifkan dirinya. Ternyata bagaimanapun juga semua ras, suku, bangsa ternyata pasti ada kalanya mereka melupkan keterikatakan mereka itu dan itulah yang terjadi pada orang Tionghoa pada abad ke 18 tsb. Pembataian 1740 itu dilakukan oleh kumpeni, ini terkait dengan masalah kebijakan, karena kebijakan VOC sendiri yaitu, kebijakan untuk menetapkan pajak, diantaranya pajak domisili, pajak pekarangan, pajak bulanan bahkan melewati kota seberang dan menggendong anak juga dikenai pajak. Dan akhirnya clash tidak bisa dielakkan, yang akhirnya 10.000 warga Tionghoa melakukan aksi gerakan sosial dengan penyerangan diluar dinding kota Batavia pada malamnya, tsekejap saja Batavia dalam suasana perang, rumah-rumah dibakar oleh kumpeni, barang-barang berharga disita, anak-anak gadis diperkosa, bahkan apabila terlihat saja orang Tionghoa oleh tentara kumpeni tanpa ba-bi-bu langsung bunuh saja, tindakan barbar ini diakibatkan oleh tindakan represif pemerintahan kota Batavia yang mendengar ada desas-desus perlawanan orang-orang Tionghoa akan menyerang warga kompeni dan akan menggangti sistem, tapi akhirnya mudah dipatahkan, warga Tionghoa yang tewas dibuang ke muara angke, dimana nama sungai angke ini berasal dari kata Angker karena terlalu angkernya sungai itu yang memandikan mayat-mayat yang berjumlah ribuan tersebut.
Walaupun seorang dokter yang menulis, komposisi buku lumayan rapi, walaupun bisa dibilang buku sejarah tapi ada sedikit kejanggalan dari buku ini yang cukup membedakan dengan buku sejarah yang lain, bisa dilihat disini pada bab terakhir dimasukan tentang pepatah-pepitih tentang solusi dari masalah clash etnisitas ini yang dibawa kedalam masalah kontemporer, yang mana berisikan undang-undang tentang kebersamaan hak, pasal-pasal yang terkait dengan status setiap warga negera, dan masih banyak lainnya yang berbau komunalisasi sesama. Bab ini secara garis besar, pembaca disuruh untuk bersatu padu untuk melupakan tentang masalah etnis, ras, suku, warna kulit, genealogi dsb. Walaupun agak nyeleneh dari buku-buku sejarah lainnya, di bab ini penulis sendiri menitikberatkan kepada sikap eksklusifitas yang menjangkiti para warga Tionghoa, dan hal itu harus dihapuskan, dan juga warga pribumi juga harus bisa menerima kenyataan bahwa orang-orang Tionghoa juga harus dianggap sebagai satu kewarganegaraan. Ironisnya buku ini mengajak kita untuk bersatu padu sesama warga Negara Indonesia tapi penulis disini terlalu menampakan dalam tulisannya bahwasanya dia berpihak kepada warga Tionghoa, dan orang Indonesia asli disuruh untuk tetap tolerasnsi dan tolerransi, entah mungkin hanya paradigma saya yang mengatakan seperti itu, saya tidak tahu juga.
Buku ini saya anggap sebagai bentuk dari bibliography karena yang pertama: buku ini adalah buku sejarah, yang kedua: buku in ditulis oleh seorang Prof Kaliber internasional yang kerjanya hanya meramu obat, yang ketiga: buku ini sarat dengan uraian-uraian tentang peristiwa sejarah yang kadang-kadang cukup tidak substansial ditulis dalam karya historiografi normal. Sehingga kesimpulannya buku ini lebih masuk ke kategori buku bibliogragphy karena metodologinya tidak jelas dengan memakai teori apa sehinga buku ini masih banyak hal-hal yang mesti dikrtitisi kembali.
****

Ditulis dalam Buku. Leave a Comment »

E-BOOK part II

Cracking the TOEFL with Audio CD, 2006 (College Test Prep), 2005-12

ISBN: 0375764275 Author: Princeton Review Publisher: Princeton Review Publication Date: 2005-12-06 Number Of Pages: 544 Download: http://rapidshare.de/files/32218566/kracking_Toefl_listening.part1.rar http://rapidshare.de/files/32218567/kracking_Toefl_listening.part2.rar Mirror: http://www.sendspace.com/file/4lmzxv http://www.badongo.com/file/1356256

Synopsis
Few know that the face on the famous death mask of Tutankhamen is not his at all. This book reveals an historical mystery which overturns Ancient Egyptian chronology, and also provides evidence that the Parting of the Red Sea and Plagues of Egypt in the Bible are accounts of actual events.

Acts of God
Agents of Change Crossing the Post Industrial Divide

http://rapidshare.de/files/24350665/…ial_Divide.chm

America Divided The Civil War of the 1960’s

http://rapidshare.de/files/24350745/…_the_1960s.pdf

Apologetics in the Roman Empire Pagans Jews and Christians

http://rapidshare.de/files/24350792/…Christians.pdf

The Arabs in History

Code:
ISBN: 0192803107 Author: Bernard Lewis Publisher: Oxford University Press, USA Publication Date: 2002-05-23 Number Of Pages: 256 Download: http://rapidshare.de/files/13753499/BLewis.part1.rar.html http://rapidshare.de/files/13755869/BLewis.part2.rar.html Pass: www.AvaxHome.ru  Mirror: http://rapidshare.de/files/15707653/B.Lewis_-_The_Arabs_in_History_www.forumakademi.com.rar.html Pass: www.forumakademi.com

The Arabic Language and National Identity: A Study in Ideology

Code:
ISBN: 0748617078 Author: Yasir Suleiman Publisher: Edinburgh University Press Download: http://rapidshare.de/files/12829759/YSuleiman.rar.html Pass: www.AvaxHome.ru  Mirror: http://download.kebook.com/uploadfile/2006/4/20/20341778379.zip

Minorities and the State in the Arab World, 1998-12

Code:
ISBN: 1555876471 Author: Ofra Bengio (Editor), Gabriel Ben-Dor (Editor) Publisher: Lynne Rienner Publishers Publication Date: 1998-12 Number Of Pages: 224 Download: http://rapidshare.de/files/21001885/Minorities.and.the.State.in.the.Arab.World.eBook-EEn.rar.html Pass: ebooksatkoobe  Mirror: http://mihd.net/1.938/Minorities.and.the.State.in.the.Arab.World.eBook-EEn.rar.html Pass: ebooksatkoobe

Women in a Celtic Church Ireland 450-1150

Where Darwin Meets the Bible Creationist and Evolutionist in Amerika
http://rapidshare.de/files/24365942/…in_America.pdf

Fabulous Science and Fiction in the History of Scientific Discovery
http://rapidshare.de/files/24366419/…_Discovery.pdf

Reviews
Donald Sassoon, Times Literary Supplement
“Parties, activists, theories and ideas are all here, described with the professionalism of the consummate historian.”

Book Description
Geoff Eley’s magnum opus, this book analyses the role the Left has played in establishing democracy in modern Europe. Eley looks at socialist, labour, feminist, Communist, and other organisations in Britain, France, Germany, Italy, Russia, Scandinavia, and Eastern Europe. He considers how the Left has been a part of key moments of change in European history, including the rise of industrialisation, the World Wars, the Cold War, student uprisings in 1968, and the overturn of
Communist governments in Eastern Europe.

Forging Democracy The HIstory of the Left in Europe 1850-2000
[url=http://rapidshare.de/files/24366537/Oxford_University_Press_Forging_Democracy_The_Hist ory_of_the_Left_in_Europe_1850-2000.pdf[/url]

Building Reputational Capital
http://rapidshare.de/files/24366761/…al_Capital.chm

Ditulis dalam Buku. Leave a Comment »

RESUME BUKU

Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933)

By: Taufik Abdullah

Pergerakan kaum muda di Sumatra Barat (1927-1933), adalah sebuah cikal pergelokan intelektual dengan banyak pengaruh-pengaruh dari luar, sehingga banyak timbul transisi ideology dan masalah yang serta-merta menyerempet pada tindakan Batavia untuk membersihkan gerakan-gerakan kaum muda, sehingga Batavia menjadi aware pada sikap gerakan kaum muda.

Dalam masalah sekolah di Minangkabau, merajalelanya sekolah-sekolah buatan milik pribadi atau dibangun atas kepentingan sendiri. Disekolah yang dibangun oleh penghulu atau mufakat masyarakat Nagari untuk membuat sekolah baru. Akibatnya banyak wadah berpikir di sekolah kaum muda, lama-kelamaan mulai menghilangkan pengaruh kaum tua, untuk mengambil jalannya sendiri. Akibat dari tindakan ini banyak murid-murid dan pelajar-pelajar yang terkena influence dari kegiatan politik, dan mulai turun pula dengan keragaman masalah yang diemban baik oleh organisasi Islam maupun partai-partai yang berideologi politik sehingga timbullah apa yan dikenal sebagai gerakan kaum muda.

Gerakan kaum muda cenderung disini, dibagi dalam dua kategori yaitu sekolah agama atau khususnya Islam. Contohnya Sumatera Thawalib, Sumatra Thawalib meninggalkan Madrasah gaya tradisional yang biasa, yang lebih menekankan hukum dan teologi dan di dominasi oleh satu guru tunggal. Tahun 1912 Hadji Rasul adalah seorang perintis pergerakan agama Kaum Muda, menjadi guru di madrasah Padang Panjang yang dikenal dengan Surau Djembatan Besi. Hadji Rasul memperkenalkan sistem kelas bertingkat di dalam sekolah, yang di ilhami oleh pengalaman asistennya, Zainuddin Labai er Junusi, yang telah mendirikan sekolah dasar pertama.[1] Dan yang kedua sekolah sekuler contohnya sekolah raja.

Sekolah-sekolah yang ada pada masa itu 180° berbeda dengan sekolah sebelumnya yang bersistem upanisad[2], Tapi system sekolah ini mangadopsi dari system greko-yudais-kristentum-romanus[3]. Dimana system pengajaran bertingkat-tingkat dan punya jadwal yang terpola dan terencana, sehingga dari latar belakang system ini kaum muda yang dulunya “mengekor” pada kaum tua, sekarang lebih individual secara kolektif walaupun mereka tidak pelak juga terkena influence dari kaum tua secara implisit.

Taufik Abdullah dalam buku ini[4] berbiacara tentang bagaimana sebuah transisi Minangkabau yang sebelumnya hanya berputar-putar saja dalam pembaharuan Islam, sekarang pembaharuan ini juga menyentuh pada pendidikan barat yang sekarang menjadi lambang sebuah kehormatan atau gengsi apabila bisa bersekolah disitu. Juga pendidikan barat menjadi acuan dari pelajarnya untuk menguatkan rasa nasionalisme.

Disisi lain, tulisan ini tentang gerakan pembahruan kaum muda ini juga tidak lepas dari pemgaruh-pengaruh kaum tua, yaitu baik agamis maupun sekuler. Kaum agamis yaitu para kaum tua yag kebanyakan merantau atau berguru belajar pada syekh-syekh yang di aceh, Mesir Arab dll. Sedangkan kaum sekuler, kaum tua tidak lepas lagi terpengaruh oleh orang-orang Belanda, Eropa. Kaum tua disebutkan banyak memberi materi-materi pelajaran atau pengajaran yang sifatnya lebih mendalam dan komperehensif. Itulah banyaknya timbul sekolah-sekolah baru yang punya landasannya yang kuat setelah menerima pangajaran itu, contohnya didirikannya sekolah swasta pertama di Minangkabau yaitu HIS.

Dari buku sekolah dan politik, gerakan kaum muda di Sumatra Barat (1927-1933), mempunyai teknik tulisan yang cukup baik, walaupun tidak bisa disangkal juga bahwa buku yang awalnya desertasi ini banyak membahas ,masalah-masalah pendidikan, juga banyak menceritakan tentang konflik intern dari sekolah itu sendiri, contohnya Keberadaan Datuak Batuah di Sumatera Thawalib yang sangatlah berpengaruh, salah satunya yang pernah dilakukanya adalah melakukan demonstrasi di luar hall pertemuan, yang menyatakan perlawanan mereka terhadap Abdul Muis karena tindakannya dalam memisahkan pimpinan komunis. Selain itu Datuak Batuah juga menentang Hadji Rasul, guru kepala sekolah yang tidak hanya menentang partisipasi murid dalam kegiatan politik tapi juga mengutuk ideologi baru sebagai penyimpangan dari ortodoksi islam. Walaupun demikian Haji Rasul juga mendapat dukungan oleh beberapa ulama kaum muda termasuk Sekh Thaher Djalaludin, seorang pemimpin modernis islam di Malaysia[5].

Tapi dari buku ini, walaupun menceritakan tentang gerakan kaum muda sedikit sekali membahas secara konkrit mecam apa gerakan kaum muda itu sendiri, terlihat pemeberontakan Silungkang yang dalam fase tersebut yaitu fase gerakan kaum muda, sedikit sekali dibahas melainkan justru dibahas tentang gerakan yang sebatas ideologi saja.

Menurut saya dari hasil membaca buku ini terliahat jelas banyak gerakan kaum muda di sumbar tak disangkal lagi punya pengaruh yang sangat hebat menuju ke transisi Minangkabau selanjutnya, yaitu saat pecahnya perang dunia ke-dua, hingga mengisi pos-pos pemerintahan yang baru berumur seumur jagung, tentunya gerakan kaum muda di Sumatra Barat adalah bibit atau momok yang dilematis karena disatu sisi mempunyai andil yang besar disisi lain juga mempunyai punya rasa kekhawatiran yang besar, akibat kebijakan mereka yang agresif dan memandang masalah politik dari hal rasa emosional.

Pemimpin Kelompok Pelajar Kaum Muda.

Hadji Jalaluddin Thaib[6] lahir pada tahun 1895, setelah tamat dari sekolah kelas dua, ia pergi ke Mekkah pada tahun 1914, dimana ia belajar agama dan bahasa Arab hingga 1916. Pada tahun 1920, Jalaluddin mendirikan sekolah Diniyah di negrinya, tetapi ia tetap aktif dalam masalah hubungan dengan Sumatera Thawalib. Pada tahu 1922, ia terpilih menjadi ketua gabungan Thawalib, segera sesudah itu, kesatuan itu bubar dan Tahwalib Padang Panjang jatuh di bawah pengaruh pergerakan Komunis Islam Haji Datuk Batuah[7].

Pemimpin yang lainnya adalah Saalah Jusuf Sutan Mangkuto. Lahir pada tahun 1901, Saalah adalah putra pemimpin Naqsyabandiyah yang disegani. Pada garis ibunya, ia berasal dari penduduk asli nagarinya, Pitalah, dekat Padang Panjang. Setelah menamatkan pendidikanya di sekolah kelas dua pada tahun 1917, ia menjadi preman[8].

Katika Abdul Muis[9] mulai menerbitkan suratkabar di Padang pada tahun 1923, Saalah pergi berkerja untuknya, dan SI mempekerjakanya sebagai penasehat pertamanya dalam politik setelah pengusiran Abdul Muis dari Minangkabau pada tahun 1924, Saalah kembali ke Pitalah, diamana ia mendirikan organisasi adat, Berlian Minangkabau. Organisasi dimaksudkan untuk penyatuan penghulu dan fungsionaris adat di Pitalah yang bertindak sebagai langkah pertama kearah organisasi adat yang lebih besar yang mencangkup nagari yang lain. Namun sayangnya ia bukanlah seorang penghulu dan usahanya untuk mengorganisir penghulu membangkitkan permusuhan diantara otoritas adat Pitalah[10].

Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah

By: Christine Dobbin

Dalam buku ini Cristine Dobbin, meceritakan bagaimana perubahan yang terjadi di Sumatra tengah khusunya masalah pertanian dan juga pembaharuan Islam sebagai ruang lingkup yang sangat penting untuk dikaji. Antara kebangkitan Islam dan pertanian di padu dalam satu campuran tulisan sehingga bisa terlihat sinkron. Christine Dobbin dalam buku ini, 95% menggunakan simber-sumber dan naskah atau dokumen-dokumen dari pemerinatah Hindia Belanda dan VOC pada saat memerintah, hanya kecil sekali teks-teks Indonesia yang dipakai menjadi sumber referensi. Juga, gaya bahasa yang disampaikan cukup lugas, per-paragrafnya alasan-alasan dan pernyataan-pernyataan diungkapkan secara gamblang dengan kefokudan yang cukup baik.

Isi dari buku ini tidak jauh-jauh dari masalah penyebaran, perdagangann, komditi pertanian juga hal-hal kebangkitan Islam dan prosesnya “ ke“ dan “ jadi“ dalam Minangkabau.

Masalah yang ingin dituturkan dari tulisan Dobbin ini yaitu bagaimana sedikitnya sejarawan membahas tentang kebangkitan Islam tapi juga mengadopsi pertanian sebagai pembanding atau comparating. Disinilah, letak masalah itu oleh Dobbin dan diangkat sebagai bentuk buku. Karena pada dasarnya sejarawan cenderung membahas dalam waktu (time) yang sama tapi dalam tempat (space) yang berbeda yaitu objek tempat pertanian sedangkan disisi lain sejarawan menelaah pada space gerakan sosial itu sendiri. Bagaimana Christine Dobbin, membahas tentang perang paderi tidak manual secara pergerakannya tapi, disitu juga Christine Dobbin menjelaskan tentang apa peran dan andil pertanian dalam perang paderi itu sendiri, walaupun juga dobbin menyinggung sedikit gerakan sosial tersebut.

Dobbin memberikan kesan pada buku ini bahwa, selama ini orang hanya melihat sebuah even kebangkitan Islam dan daerah Minagkabau hanya berpatokan pada gerakan sosial tok, tapi spesifikasi gerakan sosial pertanian tidak di bahas jadi lengkaplah apa yang ditulis Dobbin bahwa kesinambungan antara masalah kebangkitan Islam dan pertanian punya relevansi yang cukup besar.

Dobbin juga memaparkan disini khusunya pembaca untuk mencoba berpikir bahwa antara kebangkitan Islam dan prtanian semuanya adalah gerakan sosial yang tak bisa dielak lagi karena orang Minangkabau adalah orang yang “acceptable“ atau orang yang menerima hampir semua unsur, sehingga pembaca bisa menyimpulkan bahwa apa yang eksplisit dari buku ini adalah sebuah pesan yang disampaikan Dobbin.

Jelaslah disni bahwa Dobbin tidak ingin memberikan statement yang lebih rumit lagi, bahwa pertanian juga punya andil besar dalam sejarah Minangkabau, terutama kopi yaitu cikal yang implisit dari sebuah perang paderi[11], intinya bahwa antara kebangkitan Islam yang selalu mengalami perubahan yang radikal dan terkesan agresif selain memiliki nilai positif terhadap perubahan zaman dan juga sebaliknya, pertanian sebagai penunjang memiliki citera yang cukup hebat juga dalam diakronis sejarah Minangkabau.

Gerakan Kebangkitan Islam Yang Pertama 1784-1803.

Abad kedelapan belas, di kota tua pusat syattariah Agam sedang mengalami kebangkitan perdagangan dan lahan kekayaan yang baru, imbas dari perdagangan dari Nagari tetangga. Akibatnya banyak orang yang naik haji ke Mekkah dan pulang dengan membawa aliran-aliran Islam yang baru.

Kira-kira pada tahun 1784, Tuanku Nan Tua seorang guru yang sangat istimewa telah menarik ribuan murid ke Kota Tua dan kesurau-surau Syattariyah lain di desa-desa sekitarnya. Surau itu sejak dulu membaur dengan damai dalam panorama agrarian, mereka bukanlah tantangan bagi masyarakat yang luas, dan sebelum kebangkitan perdagangan, kebanyakan ajaran mereka berkisar kepada Ilmu Hakikat, pengetahuan mistik yang harus di miliki oleh orang yang sedang mencari Allah.[12]

Dalam melakukan penyebaran agama Islam, Taunku Nan Tuo melakukan misi-misi khusus, mencoba membujuk desa-desa di sekitarnya untuk menerima hukum muslim di dalam berdagang dan berhubungan dagang dengan para saudagar. Sebagai bagian usahanya itu ia besedia untuk mengkonversikan pribadi-pribadi di desa-desa ini, mencoba meyakinkan mereka untuk menerima lima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik[13].

Usaha kampanye ini tidak selalu berjalan dengan cara radikal, seperti masa sebelumnya yaitu pertentangan antara Naqsyabandiyah dengan Syattariyah yang menimbulkan pertumpahan darah diantara kedua belah pihak. Memang salah satu fungsi dari surau adalah mengajarkan silat Melayu, dan seorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda tegap yang biasanya di persenjatai dan dipersiapkan untuk menghadapi bentrokan[14].

Rupanya taktik ini berhasil juga, dan menjelang pertengahan tahun 1970-an, daerah Empat Angkat mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang . Tuanku Nan Tuo dikenal sebagai pelindung pedagang[15].

SEJARAH LOKAL DI INDONESIA “KUMPULAN TULISAN“

Editor: Prof. Dr. Taufik Abdullah

Karena besarnya ruang lingkup buku ini disini bisa diambil beberapa sampel sebagai keobjektifan dari maksud-maksud tulisan tersebut. Khusunya tulisan tentang perang paderi.

Disamping ada tulisan-tulisan yang lain tentang bagaimana, even dari sejarah lokal, perang paderi di Indonesia adalah sebuah historiografi yang cukup spektakuler untuk dibahas, dimana Minangkabau lah yang menjadi niat Hindia Belanda untuk meninggalkan daerah ini karena, pusat yaitu Hindia Belanda mengalami defisit terus akibat perang di Minangkabau ini, membangkangnya perdagangan di pesisir dan kelalaian pajak.

Taufik Abdullah sebagai penulis mengatakan bahwa perang paderi adalah intinya perang yang berawal dari adat melawan agama[16] dimana sebuah organisasi tradisional yang bertujuan untuk melakukan pemurnian ajaran agama Islam dan kembali ke syariat, dengan semangat Wahabbi yang dibawa dari Mekkah. Gerakan paderi di pelopori oleh Haji Miskin, Haji Piobang, dan Tuanku Nan Renceh.

Juga dari tulisan ini, memang mempunyai banyak persamaan dengan tulisan-tulisan lainnya yaitu dalam segi bukti atau sumber dan kronologisnya tapi tak urung juga bahwa tulisan Taufik Abdullah ini bisa dibilang cukup baik, penggambaran dari Minangkabau, sebab dan akibat, nama-nama tokoh serta historiografi dari bumbu-bumubu bahasanya cukup mudah dimengerti.

Kebanyakan dari historiografi Minangkabau, khususnya perang paderi kebanyakan sejarawan cuma menaggapi pada sebuah kefokusan tertentu saja, tapi jarang mengambil kefokusan dari dua objek. Disinilah peran positif tulisan Taufik Abdullah, tulisannya mencap dan memfokuskan pada semua bidang yang cukup bauik dalam satu bab.

Yang patut menjadi perhatian adalah seorang tokoh perang paderi. Tokoh yang tidak kalah ekstremnya di dalam perang Paderi adalah Tuanku Nan Renceh, yang mana ia memulai jihadnya dengan cara membunuh kakak perempuan ibunya, karena ia memakai tembakau, dan ia pergi ke Bansa untuk mengumumkan tatatertib puritan ekstrim yang sejak saat itu harus diikuti. Seperti tidak adanya adu jago, perjudian, penggunaan tembakau, candu, sirih, dan minum-minuman keras. Tak perlu dibantah lagi bahwa shalat lima waktu sehari semalam adalah sebuah keharusan.yang menjadi ciri khas dari Padri[17]

Baik pula kita mendengar apa yang dikatakan oleh Taufik Abdullah bahwa “Tradisi sering kali tepat, tapi juga tidak tepat. Meguasai tokoh-tokoh dan peristiwa-persitiwa; walaupun demikian tradisi segan-segan mengambil suatu keputusan dan menyatakan berpihak kepada Tuangku Nan Renceh dan ulama-ulama lain itu. Nama-nama mereka selalu menjadi buah bibir anak cucu dan disebut-sebut dengan lantang, sedangkan gema nama Haji Miskin sangatlah lemah dan makin menghilang; hanyalah telinga yang nyaring mendengar saja, yang dapat menagkapnya”.[18]

[1] Taufik Abdullah : “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ” Padang, 1988, Hlm. 41.

[2] Upanisad adalah sebuah system klasik tradisonal dalam pengajaran, dimana murid belajar dengan cara melingkar pada guru atau syekh untuk pembelajaran, biasanya system ini banyak terdapat pada surau-surau atau langgar-langgar yang bernafaskan konservatisme.

[3] Adalah sebuah system dimana memiliki arti greko sebagai system pembelajaran mengadopsi dari greek atau yunani, yudais atau yahudi adalah system yang penganut falsafah yahudi, kristentum mengadopsi system dari orang-orang Kristen, dan romanus adalah sebuah system yang menganut dari pembelajaran orang-orang dari romawi.

[4] Taufik Abdullah : “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ” Padang, 1988.

[5] Ibid., hal. 45

[6] Belajar agama dan bahasa Arab di Mekkah sampai tahun 1916, sekembali dari sana ia melanjutkan studi agamanya dengan Sekh Thaib Umar di Semenanjung dan kemudian di Surau Jembatan Besi dengan Haji Rasul, selain itu ia juga bekerja sebagai guru junior di Sekolah Jembatan Besi, tinggal disana hingga ia dikirim ke Tapak Tuan oleh salah seorang koleganya dari Sumatera Thawalib.

[7] [7] Taufik Abdullah : “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ” Padang, 1988.

[8] Ibid., hlm 84.

[9] Abdul Muis (1878-1956) adalah anak Tuanku Laras dari Sungai Puar (Agam). Ia keluar dari Sekolah Medis Indonesia (STOVIA) pada tahun 1903 dan pergi bekerja sebagai klerk di Departemen Pendidikan di Batavia, meninggalkanya pada tahun 1905 ketika ia menjadi assten editor Bintang Hindia.

[10] Ibid., hlm 85.

[11] Rusli Amran, .Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. jakarta: Sinar Harapan. 1981

[12] Christine Dobbin, “Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847”, akarta, 1992, Hlm. 149.

[13] Ibid., hlm 150

[14] Ibid., hlm 151

[15] Ibid., hlm 151.

[16] Taufik Abdulaah, “Sejarah Lokal di Indonesia: Kumpulan Tulisan”. 1990. Yogyakarta. Gadjah Mada University press, hlm 168.

[17] Paderi adalah sebuah organisasi tradisional yang bertujuan untuk melakukan pemurnian ajaran agama islam dan kembali ke syariat, dengan semangat Wahabbi yang dibawa dari Mekkah. Gerakan paderi di pelopori oleh Haji Miskin, Haji Piobang, dan Tuanku Nan Renceh.

[18] Taufik Abdulaah, “Sejarah Lokal di Indonesia: Kumpulan Tulisan”. 1990. Yogyakarta. Gadjah Mada University press, hlm 176.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik : 1988, “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ”, Padang.

Abdullah, Taufik : 1990, “Sejarah Lokal Di Indonesia (Kumpulan Tulisan)”, Yogyakarta :Gadjah Mada University Press.

Amran, Rusli, 1981.Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. jakarta: Sinar Harapan.

—————, 1985.Sumatra Barat: Plakat Panjang. jakarta: Sinar Harapan.

Dobbin Cristine 1992.Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah, Sumatra Tengah. Jakarta.

Zuhri,. Saifuddin K.H 1981. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia. Bandung Alma’arif,

Ditulis dalam Buku. 2 Komentar »