Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Oleh : Hendriko Firman**

Kalau kita melihat pengemis apakah yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita tentang mereka? Kasihankah? Ibakah? Atau muakkah? Kejadian menarik terjadi pada saat penulis di bus kampus. Dulunya penulis melihat bahwa pengemis adalah produk dari rendahnya pendapatan perkapita dan akibat dari korupsi yang tidak pandang bulu. Dan merekalah korbannya. Seketika mindset penulis masih berpikir bahwa pengemis dan gepeng (gelandangan dan pengangguran) adalah korban disini. Tapi tatkala penulis melihat peristiwa di bus kampus untuk kuliah jam 10 pagi. Peristiwa tersebut telah merubah pikiran penulis seluruhnya tentang dunia mengemis ini.

Saya kebetulan dibus kampus berdiri saat hendak kuliah waktu itu, karena kursi tidak ada yang kosong, setelah 5 menit bus melaju, maka terdengarlah oleh saya sebuah ringtone HP polyphonic yang cukup keras. Saya berpikir kok ponselnya tidak diangkat karena sudah cukup lama berbunyi, akhirnya saya memberanikan diri saya untuk melihat kebelakang dan sontak hampir semua mahasiswa yang di kursi belakang yang merasa terganggu dengan suara itu bertindak seperti apa yang saya lakukan, tahukah para pembaca apa yang saya lihat dan mahasiswa di atas bus Hino tersebut. Saya melihat seorang pengemis yang sedang mengakat HP yang ternyata sama tipenya dengan tipe HP saya. Sekali lagi saya tekankan para pembaca bahwa ada seorang PENGEMIS YANG SEDANG MENGANGKAT HP. Dia di belakang saya dengan pakaian rombeng dan kucel dengan istrinya disebelah dengan menggunakan “jilbab telanjang” (menggunakan jilbab tapi bajunya lengan pendek sehingga kelihatanlah tangannya dan kelihatan lehernya akibat kerah baju yang belel). Saya melihat mahasiwa di sebelah saya berdecak kagum dengan temannya. Dan yang lain kelihatan melongo.

Tak dinyana saya sontak terkejut, seketika juga saya mulai dimasuki oleh berbagai perdebatan pikiran, yang mencoba menerka dan menganalisa fenomena yang terjadi barusan. Saya mulai dari pemikiran negatif tentunya dan tidak luput pula saya menelaah dari sudut postif. Tapi saya tidak menemukan jawabannya karena menurut saya hal ini adalah peristiwa yang kasuistis sekali.

Sekarang kita kembali ke dalam topik sebenarnya. Hal yang saya paparkan diatas adalah sebuah refleksi dari apa? Sebuah fenomena apa? Kenapa hal tersebut menjadi kontradiksi dalam tatanan masyarakat global saat sekarang ini?

Bukan bermaksud menjustifikasi secara gamblang tapi tulisan saya ini mencoba melihat kasus diatas sebagai fenomena yang cukup menggilitik apabila kita tinjau. Di sisi lain tulisan ini juga akan mencoba secara objektif dan kronologis kenapa masalah ini saya besar-besarkan dan kenapa hal ini menurut saya ‘janggal’ bila dilihat dalam Negara yang miskin tapi tingkat konsumtifnya minta ampun ini.

Kita mulai dari masalah etymology dari pengemis itu sendiri. Menurut saya pengemis adalah individu ataupun sebuah kelompok yang mengandalkan nasibnya dari bantuan moril ataupun materil orang lain sebagai penunjang hidup mereka. Dalam bahasa Inggris pengemis berarti beggar yang berarti pengemis, orang minta-minta, kere. Jadi dari hal tersebut kita bisa menarik kesimpulan sendiri bagaimana kehidupan pengemis itu sendiri.

Pengemis dan Sosial

Kalau kita melihat seorang pengemis menggunakan ponsel berarti secara etimlogi dia bukanlah pengemis. Karena dia menggunakan ponsel berarti di sisi lain kebutuhan yang primer dan sekunder telah terpenuhi. Itulah kerangka saya mulai berpikir, karena HP menurut saya adalah barang yang tersier (mewah), memang relatif apabila kita lebih pertanyakan lagi jenis HP tersebut ada yang bilang itu primer ada juga yang bilang tersier. Tapi kita coba merelatifkan di Indonesia ini bahwa ponsel adalah item yang mewah karena punya ponsel berarti harus memiliki pulsa juga. Memang banyak sekali paparan dan ekplanasi yang harus kita jelaskan disini tapi dari penulis pun masih bersikap heran terhadap hal ini.

Pertama yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah seluruh pengemis rata-rata kehidupan mereka seperti ini? Apakah para mengemis mendapatkan pendapatan yang besar sehingga bisa membeli barang tersier ini? Apakah pengemis itu nyaman dan bahagia menjalani apa yang mereka kerjakan? Dan pertanyaan besar yang mengkover semua ini adalah apakah pengemis sengaja mengemis dan menghinakan diri mereka untuk mendapatkan kebutuhan finansial dari belas kasihan orang lain?

Kalau dikatakan bahwa mengemis mendapatkan banyak pemasukan sulit juga kita iyakan, karena kalau melihat dari terminology berpikir seperti tersebut hal ini menjadi sebuah kontradiksi di saat lahan perkerjaan yang sulit dan sangat keras persaingannya. Mengemis lagi-lagi adalah sebuah media pekerjaan yang terakhir dari sebuah pilihan, orang tidak akan sengaja melakukan mengemis kalau mereka mendapatkan alternatif pekerjaan lain. Jadi kalau kita coba telaah lagi apakah rata-rata kehidupan pengemis cukup terpenuhi kebutuhannya? kita juga tidak bisa mengatakan iya, karena ini masalah dimana dan kapan sipengemis melakukan bisnisnya ini, bisa jadi untuk ukuran kota Padang rasa empati masyarakat terhadap pengemis masih tinggi dan bisa jadi di kota-kota besar lainnya menganggap bahwa pengemis adalah sampah masyarakat. Khususnya kota Padang, pengemis tidak lebih dari kumpulan masyarakat yang dalam stratifikasi masyarakat tentulah tidak termasuk, karena mereka kaum papa, yang hidupnya tidak beraturan dan serampangan. Sehingga lahan perkerjaan tidak ada bagi mereka dan bahkan lebih eksterem statusnya sebagai manusia patut dipertanyakan. Sehingga pengemis menjadi simbol sebuah ketertindasan dari hak-hak yang terampas, ketertindasan dari realitas kehidupan politan yang memang benar-benar telah sinting, dimana seyongyannya kehidupan mereka di lindungi dan diayomi.

Jadi ringkasannya adalah pengemis itu tidak semuanya seperti kasus yang kita bicarakan diatas, tapi toh tidak banyak juga pengemis yang mempunyai lifestyle seperti di atas yang cukup konsumtif. Dalam masalah ini pengemis sekarang benar-benar telah mempunyai tujuan target yang lebih wah untuk kita cermati, sebelumnya tujuan hidup adalah untuk mengganjal perut di esok hari, maka sekarang tujuan hidup lebih prestise lagi kalau kita cermati, dimana tujuan hidup pengemis adalah menjadi orang kaya. Kalau begitu kontan saja saya bilang bahwa itu omong kosong, bahwa PNS rendahan yang hidup dari mencerek terhadap pemerintah saja tidak berani bermimpi seperti itu. Lagi-lagi ini masalah fenomena yang sangat langka untuk kontemporer ini, seakan-akan faktor-faktor kiamat telah mulai Nampak disini bahwa seorang yang tidak punya apa-apa bermimpi untuk berlomba-lomba membangun sebuah istana kekayaan bagi diri mereka sendiri.

Seorang pengemis dalam masyarakat hedonis tidak mungkin bisa-bisanya membeli hp dengan alasan memperlancar komunikasi, karena hal tersebut tidak efesien lantaran kalau mempunyai hp berarti harus siap sedia menahan lapar dan haus, atau sebaliknya si pengemis punya hp karena kebutuhan-kebutuhan lain telah terpenuhi. Jadi kasarnya kebutuhan ekonomi telah terpenuhi dan secara ringkasnya makan dan minum serta tempat tinggal tidak ada masalah dengannya. Iya kan? Lihat saja kalau anda punya HP maka untuk ke dokter setidaknya anda pasti bisa walaupun itu sekali setahun. Apakah pengemis adalah refleksi dari kehidupan masyarakat seperti kita juga?

Dalam masalah yang pelik ini kita terlalu sulit membuat konklusi terhadap hidup pengemis dengan mengkonklusikan terhadap apa yang kita lihat dari kehidupan pengemis sebelumnya. Masalah pengemis di Indonesia faktor sengaja atau faktor realita tidak bisa kita singkirkan saja dari pikiran kita, karena ini menyangkut masalah pengaruh dan masalah progressnya negara ini. Apakah hakekat pengemis itu sulit hidupnya atau merasa bercukupan tentunya hal itu adalah kembali ke masalah lifestyle dari si pengemis itu. Tapi tatkala pengemis memang berusaha untuk mentakdirkan hidupnya menjadi pengemis itulah yang patut kita sesali, bagaimana Negara ini bisa maju sedangkan orang-orangnya hanya meminta saja kerjanya, itu pula yang kita lihat dari para pejabat yang corrupt.

Intinya adalah sisi glamor pengemis yang dipaparkan diatas adalah produk dari masyarakat Indonesia yang lebih menunjukan kuantiti dari pada kualiti. Sayang sekali apabila kita lihat keperluan-keperluan yang seharusnya tidak semestinya dibutuhkan, tapi karena alasan tuntutan zaman hal iltu semuanya dibuat menjadi kewajiban. Benar-benar sebuah ironis bukan?

SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA

“SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA”

Hendriko Firman

TUJUAN, TERMINOLOGI, DAN PENDEKATAN

Tujuan tulisan ini adalah akan megemukan pada garis besar masalah-masalah sejarah dari pergerakan nasional di Indonesia. Dalam tulisan ini metode kronoligs tidak akan digunakan, karena lingkupya terbatas. Di sini hanya akan dikemukakan beberapa segi saja. Mengenai karya-karya perkembangan sejarah nasionalisme Indonesia dapat ditunjukan karya-karya dari Amry Vandenbosch (1994), Bernanrd Clekke (1943), A. von Arx (1949), George Mc.T. Kahin (1952). Semuanya itu ditulis pada akhir atau setelah PD II. Karya sebelum perang ialah buku karangan J.Th. Petrus Blumberger (1931), yang secara sistematis memuat banyak sumber sejarah sampai tahun (1930). J. M Pluvier telah menulis sebuah tinjauan umum mengenai periode berikutnya, diterbitkan pada tahun (1953). karya-karya SJ. Rutgers (1946) dan D.M.G. Koch menyajikan gambaran umum dari seluruh perkembangan pergerakan nasional sampai PD II. Di samping itu masih banyak karangan lain mengenai pergerakan nasional. Di antara penulis bangsa Indonesia dapat disebutkan nama nama A.K Pringgodigdo (1950 ) dan Sitorus (1947).
Lazimnya, yang disebut sejarah pergerakan nasional adalah bagian dari sejarah Indonesia meliputi periode tahun 1908, ialah tahun berdirinya Boedi Oetomo sebagai organisasi nasional, sampai tahun 1942, tahun pecahnya perang pasifik.
Selain itu, metode kronologi akan memebrkan suatu perspektif historis, sehingga dinamika pergerakan nasional dapat dilihat dengan jelas sebagai suatu pergerekan progesif. Akan tetapi, lingkup tulisan ini tidak mengizinkan untuk menerapkan metode kronologi itu, sehingga di dalam menganallisis berbagai aspek dengan menggunakan beberapa konsep sebagai titik tolak, semata-mata juga hanya dimaksudkan sebagai suatu pengantar untuk beberapa masalah sejarah pergerakan nasional di Indonesia.
Nasionalisme Indonesia, seperti juga di Negara-negara asia tenggara lainnya, mempunyai basis historis pada kolonilalisme; maka sifat antikolonialisme menjadi bagaian utamanya.
Oleh karena itu, ada interdependensi antara nasionalisme dan kolonialisme pada umumnya dan juga terasa adanya pengaruh timbal balik, terutama antara nasionalisme yanga sedang tumbuh dan politik kolonial beserta ideologi kolonialnya.

A. ASPEK-ASPEK MULTIDIMENSIONAL
Pergerakan nasional di Indonesia dalam arti umum dapat dianggap sebagai suatu regenerasi; pergerakan ini bukanlah pergerakan yang hanya terbatas pada bidang politik tatapi melitputi juga bidang ekonomi, sosial, dan kultural. Sifat universal dari fenomena ini meneyabakan pergerakan itu mempunyai aspek multidimensional. Karena mengalami regenarasi ini, maka para partsipan menjadi sadar akan segala sesuatu, baik yang lama maupun yang modern; semunya didorong ke arah kemajuan dan terlibat pada semua kegiatan secara aktif.
1. Aspek Ekonomi
Pertentangan kepentingan menyebabkan kondisi hidup rakyat terbelakang, karena cara-cara produksi lama tidak mampu menghadapi kapitalisme colonial yang mempunyai organisasi dan teknologi moderen yang mampu mengubah keadan ekonomi yang ada.
Kedudukan yang menguntungkan penjajah itu diperoleh melalui eksploitasi dan diskriminasi. Oleh karena itu, usaha-usaha ke arah itu, usaha-usaha ke arah emansipasi ekonomi selalu ditekan. Semua pengalaman yang mengecewakan sebagai akibat system sosial-ekonomi yang menghalangi usaha perekonomian bangsa Indonesia, mendorong timbulnya solidaritas.
Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gerakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik.
Gerakan ekonomi ini sejak pada PD I terus-menerus tumbuh sampai pada puncaknya pada pemberontakan komunis tahun 1926.
Tindakan-tindakan yang keras dari pihak pemerintah kolonial memperkuat orientasi ekonomi pada beberapa organisasi, seperti Boedi Oetomo dan Partai Bangsa Indonesia. pekerjaan kontruktif dari partai-partai itu pada bidang ekonomi, meskipun belum begitu berarti, telah memberi bentuk-bentuk konkret kepada cita-cita ekonomi nasional dan dapat dianggap sebagai suatu bukti yang nyata adanya prinsip berdiri di atas kaki sendiri.
2. Aspek Sosial
Pembentukan organisasi-organisasi nasionalis didorong oleh pertentangan kepentingan social dengan kaum penjajah; karena perbedaan rasial pertentangan ini menjadi lebih serius. Organisasi itu fungsinya menjadi lebih nyata dan menunjukan perbedaan kepentingan-kepentingan tersebut secara lehih jelas; jadi, organisasi-organisasi itu boleh dikatakan meratakan jalan utnk membangun suatu kekuatan sosial.
Akibat berdirinya Boedi Oetomo bagi penguasa peguasa tradisional pribumi, yaitu ellite lama, adalah negative oleh karena itu, organisasi ini tumbuhnya lambat. Sebagai reaksi terhadap keinginan emansipasi di atara massa rakyat yag luas, golongan elite lama ini kemudian membentuk ikatan sendiri. Perkumpulan bupati, yang memperjuangkan kepentingan kepentingan merka sendiri dega cara caranya dendiri.
Tumbuhnya diferensisasi sosial menyebabkan jumlah organisasi-organisasi nasionalis bertambah dengan bermacam-macam tujuan untuk melindungi kepentingan mereka masing-masing sambil berdialog menentang kolonialisme.
Aspek sosial lain dari pergerakan nasional yang perlu mendapat perhatian kita ialah peranan diferensiasi di antara organisasi-organisasi nasionalis itu. Pada umumnya peranan yang dijalankan oleh organisasi organisasi itu memang dipilh dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Boedi Oetomo diikuti oleh organisasi-organisasi berikutnya, seperti Muhammadiyah dan Taman Siswo. Terutama Taman Siswo dapat dianggap sebagai sebuah lembaga dengan system pendidikan yang menjadi bagian dari pergerakan nasional yang memperjuangkan masayarakat merdeka. Cita-cita kebebasan dan kesatuan dipakai sebagai pedoman pendidikan praktis. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan nasional adalah cara yang sebaik-baiknya untuk berkerja secara produktif untuk mencapai kemerdekaan rakyat. Kebudayaan asli dipakai sebagai dasar pokoknya.
3. Aspek-Aspek Kebudayaan
Nasionallisme Indonesia pada tingkat-tingkat pertama juga dikenal sebgai nasionalisme sempit, yang bersifat local atau kedaerahan. Nama-nama seperti Serekat Ambon Roekon Minahasa, Pasoendan, Sarekat Soematera menunjukan sifat kedaerahan dan kesukuan.
Pada kongres kaum muda Jawa, yaitu pada waktu Boedi Oetomo didirikan, diadakan, diskusi untuk menentukan sikap yang harus diambil dan untuk menghadapai kebudayaan barat. Pada diskusi ini terdapat dua pandagan yang berbeda: golongan pertama ingin agar orang jawa sic mengembangkan dirinya menurut jalannya sendiri dan tetap memilihara sifat ketimurannya, sedang golongan yang kedua menganggap contoh dari barat lebih praktis, jadi, sudah sepantasnya untuk diikuti.
Pada tahun 1908 sekali pertentangan yang terjadi pada kongeres boedi oetomo itu timbul. Golongan konservatif berpendapat bahwa kebudayan lama harus menjadi dasar untuk menghimpun seluruh rakyat, sedang golongan progresif tidak menghendaki kemunduran dan meolak sifat-sifat khusus kejawaan. Mereka ingin melawan barat dengan alat-alat dan metode barat pula. Mereka menekankan usaha mendinamikakan kehidupan kebudayaan dengan persatuan dan pertukaran. Mereka berpendapat bahwa sikap statis berati kemunduran.
Gerakan kebudayaan memperkkuat kedaran nasional dan merupakan tambahan bagi egerakan ekonomi yang mencita citakan kehudpan ekonomi yang bebas bagi rakyat. Pergerkan nasional inin membangun kebudayaan bru sebagai basis kehudapan baru dengan mengambil alih unsure unsure barat. Pembaharuan ini dianggapa sebagai alat untuk mewujudkan cita cita politik, oleh karena itu dalam mengahadapi kebudayaan barat kaum nasiionalis menolak ide asimilasi dalam rangka negeri belanda raya.

4. Aspek Aspek Politik
Pergerakan nasional sebagai bentuk revivalisme dalam hubungan-hubungan masyarakat colonial sudah barang tentu mengalami politikalisasi, dan bahkan sejak taraf pertamanya pergerakan itu sudah jelas menunjukan orientasi politik umum.
Di tanah jajahan kepentingan ekonomi dan politik terjalin erat antara satu dengan lainnya: dominasi politik melindungi erat monopoli ekonomi modal colonial dan menggunakan pemerintahan colonial sebagai alat kekuasaan.
Sejak itu disadari bahawa kekuasaan poltik diperlukan untuk memkasa pemerintah colonial memperlihatkan kesejahteraan rakyat. Aspriasi politik, meskipun belum jelas formulasinya, telah tampak pada waktu itu Boedi Oetomo didirikan. Dengan perkataan lain dapat dinyatakan lain dapat dinyatakan bahwa organisasi ini menghendaki turut ambil bagian dalam mengatur penghidupan rakyat dan memperbaiki nasibnya.
Di sisi lain dengan berdirinya volksraad maka keinginan-keinginan politik dapat disalurkan dengan resmi kepada pemerintah colonial. Pengalaman pengalaman di dalan volksraad menimbulkan keyakinan bahwa melalui koperasi usaha usaha rakyat tidak akan terlindungi, sehingga golongan nasionalis menganggap sangat perlu menyusun kekuatan rakyat untuk mengambil alih kekuasaan politik. Formulasi tujuan politik ini makin lama juga makin terperinci. Perhimpunan Indonesia, organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia di negeri belanda, membuat analisis yang tepat mengenai hubungan-hubungan colonial dan mengambil resolusi bahwa pergerakan nasional harus menuju ke Indonesia merdeka, sedang kerja sama dengan kaum penjajah ditolak.

B. BEBERAPA UNSUR NASIONALISME INDONESIA
Beberapa nasional dilihat sebagai satu konsep kehidupan, menunjukan proses historis dari kelahiran dan perkembangan nasionalisme. Bilamana kita mempelajari nasionalisme, akan tampak jelaslah bahwa ada pertumbuhan konsep yang besar dan pendekatan-pendekatannya bermacam-macam. Apa yang menarik perhatian kita dalam hubungan ini ialah banwa secara luas disetujui bahwa nasionalisme dalam beberapa pengertian asal mula dan perkembangannya bersifat historis sehingga sejarah pergerakan nasional menjadi inti akibat-akibatnnya bebeda-beda tegantung pada keadaan keadaan historis.
Nasionalisme sebagai fenomena historis timbul sebagai jawban terhadap kondisi-kondisi historis, politik, ekonomi, dan sosial tertentu. Penyelidikan tentang nasionalisme sebagai sutatu fenomena yang serba kompleks memerlukan pula pendekata5n yang multidisipliner. Dengan demikian, akan terjadi jelas apek multidimensionalnya. Untuk mengenal sifat sifat khas nasionalisme sudah barang tentu unsur unsur pembentukan perlu pula diselidiki dengan menggunakan multiple approach seperti tersebut diatas.
RINGKASAN
Nasionalisme pada periode pembentukan lebih terikat pada aspek-aspek subjektif daripada aspek-aspek objektif. Kenyataan sejarahnya dimulai sebagai fakta-fakta konseptual, kemudian berkembang perlahan lahan ke bentuk yang lebih kongkret dan menjadi fakta fakta sosio-psikologis bedasar atas unsur-unsur komponenya menunjukan tingkatan-tingkatan perkembangan nasionalisme pada semua aspeknya dan pada variasi jawaban nasionalisme terhadap kolonialisme. Tiga aspek nasionalisme aspek kognitif, aspek orientasi tujuan/nilai dan aspek-spek afektif — dapat diterapkan sebagai kriteria perbedaan kategori-kategori yang menggambarkan tipologi berbagai organisasi pergerakan nasional.
Nasionalisme dikembalikan ke dasar eksistentisnya; terutama nasionalisme sebagai suatu ide pada semua bentuknya perlu diselidiki keselarasanya dan hubungannya dalam konteks sistuasional realitas sejarah tertentu. Manifestasi-manisfestasinya harus dihubuhngkan dengan masing-masing kelompok sosial yang mendukungnya, perubahan perubahan strukutural harus diterangkan sejalan dengan dinamisme kelompok dan derajat integrasinya.

***
– The end –
Copyright © hendrikofirman.wordpress.com

Sumber
Sartono Kartodirdjo. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989

Rantau Pariaman 1800-1850: perang paderi

Rantau Pariaman 1800-1850: perang paderi, ekspansi dagang dan konsolidasi politik belanda di utara Padang.
Wilayah rantau Pariaman meliputi dataran rendah sempit coastallowland di sebelah barat dataran tinggi Minangkabau yang membentang antara batang Anai di selatan batas dengan wilayah Padang dan Tiku di utara kota pariaman batas wilayah merantau pasaman dan ke pedalaman hingga tepi barat danau Maninjau. Kota terpenting di rantau pariaman adalah pariaman. Kota ini sudah lama memegang peran penting sebagai enterpot (pelabuhan-gudang), dengan segala fluktuasinya. Di zaman kejayaan perdagangan laut di pantai barat Sumatra sampai akhir abade ke 19, pariaman disinggahi kapal-kapal dari dalam dan luar negeri Kato 1986. Di sini antara lain komoditi dagang dari pedalaman Minangkabau ditumpuk sebelum dikapalkan melalui pelabuhan-pelabuhan lain. Bahkan jauh sebelum VOC secara resmi – melalui perjanjian painan (painansch contract) 1663- memasuki kawasan pantai barat Sumatra, pariaman sudah disinggahi oleh kapal-kapal asing dari Gujarat, arab, cina, dan juga kapal-kapal milik bangsa barat.
Para pedagang bangsa barat itu membeli lada dan emas yang banyak dihasilkan di Minangkabau. Selain itu mereka juga mencari kapur barus styrax benzoin atau camphor atau kamfer (drybalanops aromatica) di pelabuhan pelabuhan sebelah utara, terutama barus yang dikalangan pedagang arab dan India disebut pencur atau pansur – sebutan yang kemudian melekat pada nama ulama terkenal kelahiran daerah ini yaitu hamzah fansuri (lihat brakel 1969:209) – dan oleh sumber sumber klasik cina disebut p’olu (drakard 1988:20;1990;2-4;wolters 1967:baba 12[187-96]).
Barus dan daerah sekitarnya seperti singkel dan sibolga terkenal dimana-mana karena produksi kamfer-nya yang berkualitas baik, dan itulah yang menarik pedagang datang ke wilayah ini. Emas dan kamfer dan gaharu adalah komoditi dagang internasional penting yang dihasilkan pulau Sumatra sebelum tahun 1400, khusunya di daerah banyak antara air bangis dan singkel. Emas dan aromatic woods itulah yang telah menarik orang cina, Arab dan Eropa datang ke pulau Sumatra, yang di abad-abad kemudian abad ke 16-18) berganti dengan komoditi lada dan timah.
Rantau pariaman dengan pariaman sebagai kota terbesar menduduki tempat yang khas dalam konsep geopolitik Minangkabau tradisional, seperti tersirat dan pengertian bahwa “prang rantau” dimaksudkan sebagai orang yang berasal dari pariaman dan sekitarnya. Ini cukup untuk menunjukan pentingnya pariaman di rantau barat Minangkabau. Menurut hajka najm pariaman berasal dari bahasa arab barri aman yang artinya tanah daratan yang amat sentosa. Boleh jadi nama itu ada benarnya mengingat bahwa entrepot pariaman dan Tiku sudah lama menjadi pelabuhan penyalur keluar emas dari pedalaman Minangkabau tanah datar dan agama. Dan kawasan dataran rendah sempit rantau pariaman sendiri pernah menjadi lahan penanaman lada yang subur di abad ke 15-17 yang memberi kemakmuran pada penduduknya. Seorang sarjana belanda yang datang ke pariaman pada bulan September 1911 telah menemukan bukti-bukti arkeologis yang menunjukan bahwa entrepot pariaman memang sudah lama ada dan telah didatangi oleh kapal-kapal asing.
Tampaknya bangsa barat pertama yang hadir di kawasan pantai rantau Pariaman adalah orang Portugis. Kehadiran orang Portugis di rantau Pariaman itu terkenal sampai kini dalam Sastra rakyat lisan masyarakat setempat, yaitu kaba anggun nan taungga magek jabang.
Bangsa-bangsa barat yang lain datang ke perairan rantau Pariaman lebih belakangan dari bangsa Portugis. Kapal-kapal Perancis, misalnya baru pertama kali sampai di Sumatra pada tahun 1527. Rombongan kapal Perancis pertama ini dikirim seorang politikus dan pengusaha bernama Jean Ango dari kota dagang Dieppe. Hanya satu kapal yang sampai di Sumatra dari tiga buah yang dikirim. Tahun 1529 Ango mengirim lagi dua kapal yang dipimpin oleh dua bersaudara, Jan dan Raoul Parmentier. Kedua kapal itu singgah di Tiku dan Indrapura, tapi anak buahnya merana karena serangan penyakit.
Bangsa belanda baru pertama kali singgah di pelabuhan-pelabuhan di rantau Pariaman- di Tiku dan Pariaman- pada 21 November 1600, yaitu dua kapal di bawah pimpinan Paulus van Caarden sebelumnya Caarden singgah di Aceh dan pasaman) yang kemudian disusul oleh kapal-kapal belanda lainnya. Sementara ekspedisi dagang Inggris baru memasuki rantau Pariaman pada tahun 1685. Inggris akhirnya gagal menjalin kontak dengan Pariaman dan memutuskan mendirikan basis berdagangnya di Bengkulu, di selatan. Sedangkan orang-orang Spanyol tampakanya tidak begitu tertarik dengan pantai barat Sumatra. Dua kapal yang dipimpin Maggelhans (yang akhirnya mati terbunuh di Philippina) hanya singgah di pulau Tidore pada tahun 1521.
Perlu dikemukakan secara sepintas situasi sosial-politik dan agama yang terjadi di Minangkabau pada periode ini. Pada tahun 1803 tiga orang haji muda asal darek dataran tinggi Minangkabau yang baru kembali dari Mekah mendirikan suatu gerakan yang dinamakan paderi. Mereka itu adalah haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Kota, dan haji Piobang dari Tanah Datar. Banyak catatan yang Belanda mengatakan bahwa ketiga haji itu terpengaruh oleh paham Wahabi yang pada waktu itu sedang masuk di tanah Arab. Para haji itu menyaksikan perkembangan baru di Mekah, terutama paham Wahabiyah yang bersikap puritan. Dan mereka pulang kembali ke Minangkabau dengan ide ingin menerapkan secara lebih tegas ajaran Islam yang murni dalam masyarakat. Seperti sudah banyak ditulis oleh Sejarawan, gerakan paderi akhirnya berkembang sedemikian rupa sehingga menjerumuskan masyarakat Minangkabau dalam perang saudara selama kurang lebih empat decade paroh pertama abad ke-19 yang akhirnya dicampurtangani pula oleh belanda dengan, tentu saja, maksud-maksud ekonomi dan politik di belakangnya.
Tahun 1795 Inggris memasuki kota pelabuhan Padang, sebagai akibat perubahan peta politik perang di Eropa: Perancis menduduki belanda dan William V, raja belanda menyingkir ke kota Kew di Inggris. Dari pengasingannya ia menulis surat kemana- mana agar pasukan belanda di daerah-daerah koloni di seberang lautan menyerahkan diri kepada atau berkerja sama dengan Inggris. Di Sumatra, orang belanda menuruti perintah rajanya itu dengan menyerahkan wilayah sumatra’s westkust kepada Inggris. Walaupun Inggris hanya berkuasa di pantai, namun mereka mendengar bahwa di pedalaman ada sebuah kerajaan yang berdaulat, juga terhadap wilayah pantai dimana mereka sekarang berada. Orang-orang Inggris itu juga mendengar bahwa di pedalaman sebuah revolusi agama sedang digerakan oleh sekolompok ulama reformis yang baru pulang dari Mekah. Pertentangan-pertentangan dan pertumpahan darah antara sesame orang Minangkabau sendiri akibat revolusi itu sudah sering terjadi dan orang-orang Inggris di Padang mendengarnya dari laporan para pedagang, tetapi mereka enggan campur tangan dalam kisruh agama antara sesame pribumi itu. Mereka juga tahu bahwa orang Minangkabau memiliki pribumi itu. Mereka juga tahu bahwa orang Minangkabau memiliki sistem pemerintahan Nagari yang independen, dan sering di antara Nagari itu terjadi persaingan keras, dan salah satu wujud dari persaingan itu adalah budaya perang batu di antara Nagari-Nagari bertetangga
Sampai akhir decade kedua abad ke 19 wilayah pedalaman Minangkabau masih mreupakan suatu misteri besar bagi orang Eropa. Bagi orang Inggris di Padang, wilayah pedalaman masih sebuah peta yang gelap. Walaupun sejumlah pemimpin adat yang terdesak oleh kaum paderi sudah beberapa kali minta bantuan Inggris di Padang, tapi Inggris menanggapinya dengan hati hati. Thomas Stamford raffles, pimpinan Inggris untuk wilayah Sumatra yang berkedudukan di Bengkulu, memutuskan untuk mengadakan penyelidikan terlebih dahulu ke pedalaman Minangkabau untuk melihat keadaan yang sebenarnya sebelum mengambil keputusan politik yang jelas menyangkut konflik agama di pedalaman Minangkabau itu ekspedisi itu dilakukan pada tahun 1818 .
Sementara orang-orang di Inggris sibuk dengan perdagangan di pantai di pedalaman Minangkabau gerakan Paderi yang semakin militant dan semakin meluas pengaruhnya dalam masyarakat setelah dipimpin oleh seorang ulama muda progresif bernama Tuanku nan Renceh 177?-1832 asal Nagari Kamang. Tuanku nan Renceh – nama menurut laporan belanda sesuai dengan perawakannya- dan kawan-kawannya sudah menyatakan perang jihad terhadap kaum adat yang tidak mau mengikuti perintah kembali ke syariat atau kembali ke ajaran nabi Muhammad. Cara-cara radikal yang ditempuh Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya itu telah menyebabkan terjadi nya perpecahan di tubuh kaum reformis sendiri, seperti digambarkan oleh fakih saghir- salah seorang dari ulama reformis yang bersikap moderat- dalam catatannya. Fakir saghir alias Syekh Jalaluddn mengatakan bahwa Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya telah menekan dia dan guru sekaligus ayahnya, Tuanku nan tua di kota tua, agar menyetujui cara radikal setuju dengan cara-cara kejam yang ditempuh Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya itu. Ulama karismatik yang dituakan dan dihormati di darek itu telah melihat akibat buruk dari perbuatan pasukan Tuanku nan Renceh menyerang Nagari Nagari tetangganya, seperti empat angkat, durian, dan tilatang. Banyak rumah dibakar dan penduduk mengungsi ke tampat lain. “.. sukar menghinggakan ribu laksa rampasan dan orang terbunuh dan tertawan dan lalu kepada terjual dan terjadikannya gundiknya”, demikian tulis fakih saghir.
Rencana Tuanku nan Renceh dan kawan kawannya membunuh fakih saghir dan Tuanku nan tua dengan cara terlebih dahulu mengajak mereka berdebat di luar desanya tidak terlaksana. Tuanku nan tuan diselamatkan oleh karismanya yang masih tinggi di kalangan ulama di wilayah darek. Akan tetapi, mengutip kata kata fakih saghir sendiri yang juga selamat dari rencana jahat itu: “barangkali sebab Allah ta’ala meluluskan hukumNya jua, maka melepaskkan Allah ta;ala dengan tolongNya akan hambaNya yang mum’min, lagi sabar, lagi pilihan. Maka sampailah Tuanku nan Tuo pulang ke negeri kota Tuo, dan saya fakih Saghir, jua. Maka kemudian dari itu bersungguh jualah saya menguatkan perang melawan Tuanku nan Salapan (Tuanku nan Renceh dan kawan kawan) karena lah putus ikhtiar. Tidak patut kembali Tuanku itu daripada sekalian perkerjaan nya yang tersalah itu; sebab lah sangat bertambah kejahatannya dan senantiasa perkerjaan itu hingga sampailah keluar Kompeni Welanda di tanah darat ini. Barangkali orang Kompeni tahu adatnya.
Pada dasawarsa kedua abad ke 19 sebagian besar wilayah darek dalam lingkungan tiga Luhak (Agam, tanah datar, dan lima puluh kota) sudah berada dibawah pengaruh Paderi. Kehidupan sosial budaya masyarakat mulai disesuaikan dengan aturan yang dibuat oleh kaum pembaharu itu faksi garis keras pimpinan Tuanku nan Renceh dan kawan kawan berada diatas angin. Kaum Paderi tahu bahwa patron kaum adat adalah dinasti Pagaruyung. Oleh karena itu mereka berniat menghancurkan symbol eksistensi kaum adat itu.
Pada tahun 1815 orang-orang Paderi di bawah pimpinan Tuanku pasaman – menurut vegelius nama aslinya ketika belajar ke pasaman adalah siooe moemin atau sidi mukmim?, ia sendiri berasal dari linta- telah membantai keluarga raja Minangkabau (dinasti Pagaruyung)dan utusan lain dari golongan kaum adat, antara lain yang dipertuan raja naro dan yang dipertuan raja talang, usai sebuah rapat antara kedua belah pihak di koto tengah. Kibasan ganas kelawang kaum berjenggot itu hampir saja memusnahkan dinasti yang – menurut tambo Minangkabau – yang berasal dari keturunan iskandar zulkarnaen itu. Sisa keluarga raja Pagaruyung yang selamat dari pembunuhan itu, yaitu raja muningsyah dan cucunya Sutan Alam Bagagarsyah, berhasil meyelamatkan diri ke lubuk Jambi. Jadi, konflik antara sesame orang Minangkabau itu antara kaum adat dan kaum agama sudah memasuki tahap kritis ketika orang ketiga yaitu orang Eropa ikut campur tangan, tentu saja dengan tujuan politik dan ekonomi.
Setelah penghancuran dinasti Pagaruyung, pengaruh kaum Paderi semakin meluas di Luhak tanah datar, sebagaimana yang disaksikan oleh Thomas Stamford raffles dalam kunjungannya ke Pagaruyung (16 juli-30juli 1818) di Luhak Tanah Datar – pusat kekuatan sekaligus symbol kekuasaan kaum adat karena istana Pagaruyung terletak di sana) – pengaruh kaum Paderi terlihat sudah begitu mewarnai kehidupan masyarakat. On entering the country, tulis raffles kepada the duchess of somerset pada tanggal 10 September 1818,
we more struck by the costume of the people, which is now any thing but malay, the whole being clad according to the costume of the orang putis, or paderis, that is to say, in white or blue, with turbans, and allowing their bard to grow, in conformity with the ordinances of Tuanku Pasaman, the religious reformer. Unaccustomed to wearing turbans, and by nature deficient in beard, these poor people make but a sorry appearance in their new costume. The women, who are also clad in white or blue cloth, do not appear to the best advantage in this new costume, many of them conceal their heads under a kind of hood, through which an opening si made sufficient to expose their eyes and nose alone.
Sementara seorang penulis lain menggambarkan penampilan para pengikut Paderi orang –poetih itu sebagai berikut:
Rambut kepalanya dicukur, memakai sorban berwarna putih, tasbih di tangan kiri dan pedang ditangan kanan. Dan para ulamanya membawa eksemplar Al-Qur’an yang ditaruh dalam kantong merah yang digantungkan di lehernya. Kaum wanita juga terpaksa menukar rok pendek mereka dengan pakaian yang menutup bagian badan mereka, dan kepala mereka harus ditutup dengan jilbab. Ajaran al Qur’an harus ditaati dengan seksama, pelanggaran terhadapnya akan dikenai hukuman mati.
Kaum adat yang semakin terdesak mencoba minta bantuan Inggris di Padang. Inggris tampaknya menanggapinya dengan hati-hati. Ajakan kaum adat itu hanya ditanggapi Inggris dengan menempatkan satu [pasukan kecil di benteng simawang, di bawah pimpinan john bull, memang sebelumnya Thomas Stamford raffles, wakil Inggris di Bengkulu, sudah menerima dua pelarian keluarga istana Pagaruyung, tapi ia belum mengambil keputusan politik yang jrlas terhadap Minangkabau. Raffles malah memutuskan untuk meneliti dulu keadaan yang sebenarnya yang terjadi di pedalaman. Pada tanggal 16-30 Juli 1818 Raffles dan istrinya, serta seorang geolog, seorang ahli botani, dan sejumlah pembantu pribumi mengunjungi Pagaruyung di kenakan kebijakan politik yang jelas menyangkut wilayah Sumatra Barat, yaitu membangun wilayah itu dan menjadikan Sumatra barat sebagai suatu kawasan yang penting di bidang politik di masa depan yang akan memberi kejayaan kepada kerajaan Inggris raya.
Akan tetapi Raffles tidak dapat melanjutkan rencana-rencana di Eropa tiba-tiba berubah. Pada bulan Mei 1819 Inggris terpaksa menyerahkan kembali rantau barat Minangkabau kepada belanda. Kali ini alasan penyerah itu karena penataan kembali wilayah jajahan kedua negara itu di dunia berdasarkan traktat 13 Agustus 1814 yang telah mereka sepakati. Penyerahan ini sebenarnya sudah tiga tahun terlambat setelah penyerah Batavia (pulau Jawa) kepada belanda.
Raffles menyerahkan Sumatra barat kepada belanda dengan berat hati, karena ia sudah ditegur keras oleh atasannya lord hastings di Calcutta. Secara resmi kapitein der infantrerie DIENEMA wawakili phak Belanda menerima penyerah itu dari britsen bevalhebber” (penguasa hukum Inggris) yang menguasai Padang dan padangsche bovenlande. Persetujuan keduanya sebagai berikut: pasukan Inggris yang kecil ditarik dari pedalaman, sementara satu debasement prajurit Bengali dan sejumlah pribumi yang semula berada dibawah komando Inggris yang bertugas di Padang dialihkan kepemimpinannya kepada belanda dan tetap ditempatkan di Sumatera Barat. Untuk memperoleh kembali wilayah Sumatra’s Wesktust, belanda wajib membayar uang tebusan sebanyak 175.000 mata uang Spanyol (spaansche-matten), kepada Inggris. Sebanyak 76 orang penghulu (hoofden) dari Padang darat yang terdesak oleh kaum Paderi menyatakan berada di belakang Belanda.
Pos-pos penting di pantai tetap dijaga belanda: enam orang prajurit ditempatkan di pulau Cingkuk, enam lainnya di Air Haji, dan pada tanggal 24 Juli juga dikirim beberapa orang prajurit ke Pariaman. Tuanku Suruoaso dan saudara perempuannya, tuan gadis (mantan istri raja Muningsyah), yang lolos dari maut dalam serangan terhadap keluarga istana Pagaruyung di koto tangah, yang dulu telah dilindungi oleh Raffles, tetap diizinkan tinggal di Padang untuk memberikan keterangan-keterangan kepada belanda menangani sepak terjang kaum Paderi di pedalaman.
Segera setelah Inggris angkat kaki dari Sumatra barat, Batavia menugaskan James du Puy sebagai resident di Padang. Setelah resmi mengambil alih kekuasaan di Sumatra barat, belanda segera melakukan operasi militer ke pedalaman Minangkabau yang di mulai pada akhir du Puy justru langsung memutuskan untuk melibatkan diri dalam konflik antara kaum paderi dan kaum adat itu. Ia melaporkan kepada Batavia bahwa inilah saat yang tepat untuk menguasai pedalaman. Du Puy menganggap perlunya menduduki pedalaman Minangkabau dengan kekuatan militer. Tanggal 10 February 1821 dikirim lagi ke Padang resimen ke-18 dari Jawa dengan 4 orang officieren (opsir) dab 150 prajurit pejalan kaki dan pengintai (flankeures). Kekuatan itu ditambahkan kepada pasukan yang sudah ada di Minangkabau. Total seluruh kekuatan 494 pasukan yang sudah ada di Minangkabau. Total seluruh kekuatan 494 orang, dengan rincian 284 pasukan pejalan kaki; 20 pasukan artileri Eropa; 50 prajurit Bengali; 96 pasukan bersenapan pribumi, 44 artileri pribumi, dengan persenjataan 1 howitzer 5,5 inci, 1 kanon 6 pon, 3 kanon 1,5 pon, dan 5 meriam dan amunisi lengkap.
Pada 21 February 1821 kaum adat secara resmi menyerahkan wilayah pedalaman Minangkabau kepada belanda yang bersedia membantu mereka memerangi kaum Paderi perjanjian di diadakan di Padang di bawah sumpah menjunjung Al-Qur’an dan disaksikan oleh panglima Padang, Sutan raja Mansur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro raja johan. Atas perintah tuan residen du Puy, pada tanggal 28 Februari 1821 rencana penerangan pertama ke darek dimatangkan di Padang. Awal April 1821 rencana penyerangan pertama ke Derek dimatangkan di Padang. Awal April 1821pasukan Kompeni di bawah pimpinan kapten infanteri Goffinet dan kapten DIENEMA menyerang sulit air melalui Simawang. Tanggal 25 April sulit air dapat dikuasi belanda setelah mereka sendiri menderita kerugian besar. “Aldus begon onze oorlog met de paderies” (dengan demikian, perperangan kita dengan kaum Paderi telah dimulai), demikian kata seorang opsir tentara belanda yang tidak menyebutkan namanya dalam episode. Dengan sikap yang lebih agresif dari pada Inggris belanda terus melakukan intervensi militer ke pedalaman Minangkabau.
Pada tanggal 4 November 1821 seorang yang akan memimpin penyerangan besar-besaran ke pusat pusat pertahanan Paderi di darat berlayar dari Batavia. Dialah overste letnan colonel Raaff. Dilahirkan di ‘sHertogebbosch, belanda, tanggal 1 Desember 1794, Antonie Theodore Raaff – demikian nama selengkapnya – adalah seorang pimpinan tentara Kompeni yang sudah berpengalaman dalam beberapa medan perang di Eropa sebelum dikirim ke Hindia Belanda pada tahun 1818. Pada waktu itu umurnya baru 27 tahun, seorang prajurit yang masih muda dan penuh ambisi. Setelah sebulan melayari laut Jawa, dan hampir setengah pantai Barat Sumatra, Raaff sampai di Padang tanggal 8 Desember tahun itu juga. Ia segera melakukan konsolidasi terhadap pasukan yang sudah bersedia. Pada minggu terakhir bulan Desember tahun 1821 tepatnya tanggal 21 Desember pasukan letkol Raaff yang didampingi oleh kapten Goffinet, mayor Laemlin, dan letnan altileri Kluppel bergerak dari dan menuju Simawang di dekat danau Singkarak.
Dalam serangan perdana itu pasukan Paderi si Simawang dapat dikalahkan oleh pasukan letkol data. Dari sana pasukan data menyerang pusat pusat pertahanan Paderi di tanah datar dan Agam satu detasemen lain ditugaskan ke Pariaman 7 jam perjalanan jalan kaki dari Padang. Disana mereka mengumpulkan para kapal Nagari untuk diajak bekerjasama melawan Paderi. Jadi, tampaknya sudah sejak awal belanda berupaya mencoba penyebaran paham dan pengaruh Paderi di rantau Pariaman. Tanggal 24 Desember detasemen ini menduduki Kayutanam di kaki Bukit Ambacang 12 jam jalan kaki dari Pariaman. Binenlanden expedtie ini mencoba meretas etape yang memungkinkan kerja sama dan koordinasi dengan pasukan yang berangkat ke darek -etape etape itu adalah dari Padang ke Pasir Jambak, terus ke Ulakan , kemudian ke Pakandangan terus menuju Kayutanam, kemudian ke “Tambangong”, dan terus ke Bukit Sipinang.
Operasi Belanda di pedalaman semakin agresif. Letkol Raaff segera menjadi bintang lapangan. Orang muda yang pemberani ini menjadi momok bagi kaum Paderi di darat di berhasil merebut benteng benteng Paderi di darat. Dia berhasil merebut kemenangan itu tidak diperoleh dengan mudah. Dalam hirarki di dunia ketentaraan, nasib letkol Raaff sudah jelas: ia naik ke jenjang karir yang lebih tinggi. Ia akhirnya ditunjuk oleh Batavia menggantikan posisi du Puy, tapi rupanya orang seperti Raaff yang pemberani lebih cocok di lapangan dan kurang tahan duduk di belakang meja ia adalah tentara yang tidak tahan untuk tidak ikut dalam pertempuran lapangan. Namun karena itu pula umurmya tidak lebih [panjang. Raaf akhirnya meninggal tanggal 17 April 1824 di Padang, setelah menderita sakit selama 12 hari untuk menghormatinya lalu dibuat sebuah tugu di dekat pantai Padang, dekat taman budaya Sumatra barat sekarang. Posisi A. T . Raaff sebagai residen Sumatra Wesktust digantikan lagi oleh letnan colonel H.J.J.L rider se Stuers, penggantinya itu mendapati mandat yang lebih besar, tapi tidak selalu mau didikte oleh Batavia dalam menentukan kebijakan militer terhadap kau m Paderi setelah diangkat menjadi reside Sumatra Wesktust tahun 1824.
Sementara itu di pantai Barat belanda melakukan ekspansi dagang ke pelabuhan-pelabuhan di utara Padang. Mula-mula tujuan utama Belanda adalah untuk memonopoli perdagangan garam dan opium (yang bekerjasama dengan pedagang Cina), serta mengontrol jalur dagang antara pantai dan kawasan pedalaman. Namun di balik itu tujuan belanda jelas untuk memblokir gerakan dan pengaruh paderi agar jangan sampai mengimbas ke kawasan pantai. Seiring dengan meningkatanya eskalasi konflik dalam perang paderi di Padang darat, ekspansi dagang Belanda petani dibarengi pula dengan konsolidasi di bidang militer ini dimaksudkan untuk menguasai dataran rendah pantai barat dan enterpot-enterpot di kawasan ini untuk kepentingan ekonomi belanda sekaligus untuk memblokir hubungan kaum Paderi dengan dunia luar, terutama melalui pelabuhan-pelabuhan di utara Pariaman, seperti Tiku, Sasak, Air Bangis dan Katiagan. Belanda sudah mengetahui bahwa pelabuhan-pelabuhan di utara itu sering digunakan sebagai tempat menumpuk barang selundupan (smkkeleaar) yang sangat merugikan belanda. Untuk pertama kainya pada tahun 1821 pimpinan Kompeni di Padang menempatkan seorang wakilnya secara permanen di pariaman. Residen James du Puy menugaskan J. Intveld sebagai administrator sipil (posthouder) di entrepot ini. Jabatan itu dipegangnya sampai tahun 1824. Pada tahun-tahun berikutnya Belanda semakin meningkatkan pertahanannya pada wilayah rantau pariaman. Jika wilayah ini sudah dikuasi, maka ekspansi militer ke pelabuhan-pelabuhan yang di utara lagi (Tapanuli dan pantai barat Aceh) akan lebih mudah. Mulai tahun 1830 seorang pengawas (opzeiner) ditempatkan pula di Tiku dan dua tahun kemudian se orang opzeiner lagi ditempatkan di Kayutanam.
Mulai tahun 1826 pemimpin-pemimpin local di rantau pariaman mulai dilibatkan dalam pemerintahan yang dijalankan Kompeni. Tentunya ini dimaksudkan untuk menarik simpati rakyat sekaligus untuk mengawasi mereka. Mulai tahun itu juga jabatan regent untuk wilayah regentschap Pariaman dibentuk dan untuk pertama kalinya dijabat oleh Tuanku Seriaman. Tuanku regent ini membawahi dua afdeeling dalam wilayah regenstchap Pariaman, yaitu afdeeling Sakarek Hulu (yang meliputi wilayah Manggung dan Naras di utara/mudik) dan afdeeling Sakarek Hilir (entrpot Pariaman sendiri) yang masing-masing dikepalai oleh seorang Tuanku dibantu 6 penghulu.
Karena kapatuhannya dan mungkin juga karena dianggap mampu bekerjasama dengan Kompeni, jabatan regent itu diduduki tuanku Seriaman berturut-turut selama 18 tahun, padahal di Padang sendiri jabatan residen sudah lima kali berganti. Tampaknya jabatan regent pariaman dikuasi secara turun-temurun oleh keluarga tuanku Seriaman selama beberapa periode. Semakin banyak pajak yang dikumpulkannya dari penduduk, jabatan itu tentu akan sulit berpindah ke orang lain. Loyalitasnya kepada Kompeni tampaknya tak diragukan lagi, sehingga sang regent sering mendapat sanjungan, Seriaman telah diberi kehormatan khusus untuk berkunjung ke atas kapal perang Belanda Fregat de Rupel yang sedang sandar dipelabuhan pariaman pada tanggal 2 October 1840.
Sejak tahun 1826 seorang komandan sipil dan militer telah ditempatkan secara permanen di pariaman tampaknya belanda sudah menganggap penting mengorganisir pasukan militernya di dengan lebih baik di enterpot ini untuk mengawasi daerah-daerah sekitarnya. Tahun-tahun selanjutnya detasemen-detasemen militer belanda mulai sering melakukan inspeksi ke desa-desa di wilayah pariaman untuk mengawasi penduduk dan juga meminta pajak pasar. Kebijakan meminta pajak pasar atau bungo pasa ini yang besarnya 5% dari hasil penjualan, semula hanya untuk di wilayah bovenlanden diinstruksikan oleh residen de Stuers yang ditetapkan dalam ketetapan pemerintah tanggal 1 April 1825.
Di banyak tempat, seperti dicatat oleh M. Lange, keputusan de Stuers tentang bungo pasa itu banyak di tentang oleh masyarakat, terutama oleh para pemilik kedai (pasarpacht). Laporan letnan Boehouwer (1841) yang pernah menjadi komandan militer belanda di pariaman, memberikan banyak informasi tentang inspeksi-inspeksi militer itu yang sering dilakukan pada hari pekan di suatu Sungai Sarik, Sicincin, Pauh Kambar, Lubuk Alung, dan Pakandangan.
Benteng belanda yang kecil dan agak terlantar di pariaman juga diperbaiki belanda untuk memperkuat pertahanan Belanda di enterpot ini. Benteng yang bernama Vredenburg itu sebenarnya peninggalanVOC yang mulai dibangun pada tahun 1712. Sekarang alat persenjataan dan jumlah pasukan di benteng itu ditingkatkan menjadi 50 prang. Sebelumnya, benteng ini, selain kecil juga sangat kumuh, dan hanya dijaga oleh 15 sampai 20 orang serdadu saja.
Mula-mula (1826) jabatan komandan sipil dan militer di Pariaman dipegang oleh letnan dua Bergman. Namun, malang baginya, pada bulan Maret 1827 – menurut Budding 1816 tepatnya tanggal 27 Maret- letnan Bergman bersama 40 orang pesukannya diserang oleh penduduk VII kota. Mereka dihadang penduduk di Sungai Sarik dalam perjalanan dari Padang Panjang menuju Pariaman. Dalam penyerangan itu letnan Bergman dan sejumlah anak-anak buahnya (termasuk seorang “indlandschen Luitenant” yang menurut Lange bernama “Mara-Sedik” {Marah Sidik} terbunuh.
Masyarakat VII kota memang sudah zaman VOC tidak suka kepada Kompeni. Sekarang rakyat VII kota dan Naras (di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik alias Bagindo Maranti) tetap tidak mau tunduk kepada Belanda. Demikian juga halnya dengan penduduk V kota. Daerah-daerah itu langsung berbatasan dengan Dataran Tinggi (Darek) dan oleh karena itu penduduknya cukup terpengaruh oleh ide-ide kaum paderi. Rupanya sejak dulu orang-orang paderi memang sudah ada di Pakandangan. Sebuah laporan belanda menyebutkan bahwa sebanyak 20.000 orang simpatisan paderi pernah mengungsi ke dataran rendah Padang ketika pasukan tuanku Pamansingan dikalahkan oleh kaum adat dalam pertempuran di Ladang Laweh dan Gunung Paninjauan di tahun-tahun awal perang paderi. Mereka mengungsi , antara lain ke Pakandangan, salah satu desa penting yang terletak di jalur yang menghubugkan Padang Darat dan pantai (Padang dan pariaman). Di awal operasi militer belanda saja menuju pedalaman Minangkabau pada bulan Januari 1820, masyarakat V Kota dan VII Kota pun sudah melakukan perlawanan kepada belanda. Di akhir tahun sebelumnya (November 1919), VII kota sudah coba ditaklukan Kompeni dari laut, tapi mereka dihadang di desa “bumper” Sunur.
Penyerangan terhadap konvoi pasukan letnan Bergman agaknya berkaitan dengan sikap masyarakat VII kota yang terpengaruh oleh ide kaum paderi yang anti belanda itu. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa penyerangan terhadap letnan Bergman dan pasukannya mungkin disebabkan oleh karakternya yang kasar dan mata duitan. Berkaitan dengan sifatnya yang terakhir ini, ia dilaporkan sering memeras kepala-kepala Nagari dan para pedagang di wilayah sering memeras kepala-kepala Nagari dan para pedagang di wilayah kekuasaannya ketika ia menjadi komandan militer di pariaman.
Pada tanggal 10 Januari 1827 satu detasemen Kompeni di bawah pimpinan letnan Creemer didatangkan dari Kayutanam untuk membuat perdamaian dengan penduduk VII kota sambil menyelidiki pembunuhan terhadap pasukan Bergman. Para penyerang konvoi pasukan letnan Bergman itu kemudian ditangkap oleh detasemen yang dipimpin letnan H.J.Y Engelebert van Bevervooden – orang ini kemudian menjadi komandan militer di pariaman - dan dibuang ke Jawa. Salah seorang di antara yang dibuang itu (tidak disebabkan namanya) pernah muncul di Pasar Kurai. Taji Tengkorak lentnan Bergman atau salah seorang anggota pasukannya yang ikut tewas). Ia membanggakan dirinya sebagai orang yang paling banyak membunuh orang belanda (orang kulit putih). Seorang lainnya yang juga dicurigai terlibat dalam penyerangan terhadap pasukan letnan bergman yaitu: “groote schurk” (bajingan besar) Baginda Te Namé (Bagindo{Su} Tan Ameh) asal Pakandangan, yang juga memperlihatkan sikap benci kepada Belanda. Bagindo [Su]Tan Ameh dicurigai pernah merencanakan penyerangan terhadap patrol Kompeni. Namun orang ini urung ditangkap karena tidak ada cukup bukti.
Tahun 1829 jabatan komandan sipil dan militer di pariaman dipegang oleh J.W.H. Everts; tahun 1832 giliran Engelbert van Bevervoorden yang menjabat (orang ini dengan beberapa pengawas Maduranya akhirnya tewas menggenaskan itu ditangan kaum Paderi di Lubuk Sikaping pada bulan Janurari 1833). Kemudian jabatan ini dipegang oleh letnan Grummlikhuizen. Tapi ternyata orang ini tidak dapat bergaul dengan penduduk pribumi. Belanda tidak ingin hubungannya yang sudah cukup baik dengan beberapa pemimpin local di kawasan rantau pariaman rusak hanya oleh tingkah laku pejabatnya yang kasar. Padang segera menarik letnan Grumme-likhuizen dan menggantinya dengan letnan dua J.C. Boelhouwer yang menjabat tahun 1833-1834. Dan pada tahun 1833 pos militer baru juga didirikan di Tiku untuk mengamati gerakan Paderi di utara.
Dengan semakin meningkatanya eskalasi politik dipedalaman Minangkabau Menjelang kejatuhan Paderi, belanda menyadari pula pentingnya menata kembali administrasi pemerintahnya di wilayah pesisir. Keharusan untuk menata kembali wilayah administrasi itu tentu sebagai akibat dari semakin meningkatanya aktivitas Kompeni di wilayah utara, baik ekonomi maupun militer. Mulai pada tahun 1834 wilayah luas di utara Padang yang membentang dari Lubuk Alung sampai ke arah Rao dan Lembah Alahan panjang dipedalaman dimasukkan ke dalam satu kabupaten baru dengan nama regentschap Pariaman, Bonjol en Rau.
Rupanyanya, tiga tahun Menjelang kejatuhan Bonjol, desa yang menjadi benteng terakhir kemudian, setelah Bonjol jatuh (1837), wilayah utara dimekarkan lagi menjadi satu distrik baru untuk menata dan mengontrol wilayah-wilayah yang diambil alih belanda. Sekarang dibentuk distrik baru di bekas kabupaten yang lama dengan nama Pariaman., Tikoe en de Danau Districten, yang hanya mencakup wilayah Lubuk Alung di selatan sampai ke Tiku di utara dan kawasan danau Maninjau dipedalaman. Untuk kelancaran pemerintahan sekaligus untuk mengawasi lalu lintas perdagangan dari pedalaman ke entrepot pariaman atau sebaliknya, belanda menempatkan orang-orangnya (mendirikan pos-pos penjagaan) di desa-desa penting di jalur perdagangan itu, antara lain di Tiku, Kayutanam, Sicincin, dan VII kota.
Secara politis, pada pertengahan dekade keempat abad ke-19 sebagian besar daerah pantai di wilayah rantau pariaman sudah dikuasi belanda. Mereka selanjutnya melakukan penetrasi ke pelabuhan-pelabuhan Paderi di utara, seperti Air Bangis, Sasak, dan Katiangan penyerangan-penyerangan dari laut di sekitar perairan Air Bangis ke arah utara yang dilakukan Belanda untuk memblokir akses kaum Paderi – ke pantai sekaligus menguasai kota-kota pantai di kawasan itu – hal ini sudah dilakukan sejak 1831 – banyak dibantu oleh satu gerombolan bajak laut yang sering beroperasi di perairan itu yang dikepalai oleh seorang asal Bugis bernama nahkoda lengkap. Walaupun kawasan pantai sudah dikontrol Kompeni, namun penduduk beberapa wilayah di belakang pantai yang berbatasan langsung dengan darek masih belum sepenuhnya tunduk kepada mereka. Oleh karenanya kegiatan niaga, terutama dari dan ke pedalaman, belum sepenuhnya dapat diorganisir dengan baik oleh belanda, terutama karena masih merajalelanya petani-pedagang yang berada diluar kontrol mereka dan menjual hasil buminya kepada pembeli asing lain, seperti orang cina.
Konsolidasi politik belanda itu tentu mempengaruhi kehidupan masyarakat pariaman. Kompeni hanya menghadapi masalah agak serius di Naras oleh adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Tuanku Nan Cerdik. Tuanku ini berang kepada Belanda karena ia tidak diakui sebagai Raja Manggung menggantikan mamaknya yang wafat. Yang berkerja sama, tapi sebenarnya tidak berhak atas Jabatan itu. Namun, keputusan Kompeni menggusur Tuanku Nan Cerdik tampaknya dilatarbelakangi pula oleh kebijakan politik belanda yang mencoba menghambat pengaruh paderi di Pariaman. Belanda menuduh Tuanku Nan Cerdik sudah lama berhubungan dengan orang-orang Paderi dan sering terlibat penyelundupan.
Di antara tuduhan yang dialamatkan kepada Tuanku Nan Cerdik adalah bahwa ia diduga telah membunuh orang Cina berkaitan dengan bisnis candu di Pariaman. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa Tuanku Nan Cerdik yang sebelumnya pernah membantu Belanda merasa dikhianati dan belakangan menyebrang ke pihak Paderi. Pada pertengahan tahun 1819 Tuanku Nan Cerdik bersama pasukannya yang bejumlah kira-kira 400 orang telah membantu letnan Deliser merebut Ulakan dan daerah sekitarnya. Orang ini luar biasa berani, demikian laporan Deliser kepada pimpinannya, residen du Puy, di Padang. Setelah itu Tuanku Nan Cerdik juga membantu Belanda memasuki wilayah VII Kota. Mungkin karena khawatir melihat kehebatan Tuanku Nan Cerdik, Belanda tidak ingin orang ini berkuasa di Manggung menggantikan mamaknya karena nanti bisa membahayakan kedudukan belanda sendiri di pariaman. Mereka berpikir kalau tuanku yang berotak tajam dan ahli strategi perang itu diangkat menjadi penguasa di Manggung, mungkin akan menyulitkan mereka di masa depan. Akibat perlakuan Belanda yang licik itu, Tuanku Nan Cerdik naik pitam dan akhirnya balik memusuhi Belanda. Jadi, motif pemberontakan Tuanku Nan Cerdik, pada awalnya jelas karena ia dikhianati Belanda, bukan karena terpengaruh oleh ide Paderi.
Dikutip dari buku Surayadi. Syair Sunur: Teks dan Konteks ‘Biofrafi’ Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19. Citra budaya. Padang. 2004.

Perang Paderi

1. Latar belakang
Perang yang berkobar di Minangkabau pada permulaan abad ke-19 bertali-temali dengan persaingan ekonomis antara dua kekuatan masing-masing pihak berusaha keras menguasai selat Sumatra, urat nadi lalu lintas laut antara India dan Cina. Sumatra memegang key position untuk menguasai jalan dagang penting sepanjang zaman itu. Itulah sebabnya maka belanda berusaha keras menanamkan pengaruh politiknya di Sumatra sejak permulaan abad ke-19 dan melancarkan perang Sumatra (18021-0908). Menjelang akhir abad ke18 Inggris telah berhasil mengkonsolidasikan pengaruh politik ekonominya di India. Sejak itu secara sistematis Inggris berusaha mendesak belanda dari daerah-daerah yang dikuasainya di Indonesia, yang menyebabkan pertentangan kepentingan antara dua kekutatan kolonial itu, terutama di daerah selat Sumatra. Penang, pintu ke selat Sumatra di sebelah utara, diduduki oleh Inggris (1786). Dalam masa perang Napoleon (1793-1815) daerah kuasa belanda di Indonesia satu demi satu jatuh ketangan Inggris. Bandar Panda digabungkan dengan Natal disebelah utara dan Bangkahulu disebelah selatan (1795-1819).
Sesudah Napoleon kalah (1815, peta Eropa diperbaharui dan daerah-daerah takluk Belanda dan Inggris di Asia tenggara mengalami perubahan-perubahan penting. Perjanjian Wina (1814-1815) dalam banyak hal disabot oleh Inggris. Pada tahun 1814- tercapai tujuan antara Inggris dan belanda, Perjanjian London I, Inggris mengembalikan daerah-daerah takluk belanda yang didudukinya selama perang napoleon. Pelaksanaan Persetujuan itu selalu diundur-undur waktunya oleh Inggris.
Di pesisir Inggris diwakili oleh Raffles, seorang tokoh kolonial yang mempunyai pandangan politik tajam dan jauh kedepan ia berusaha menyakinkan pemerintahnya, agar kota Padang tidak dikembalikan kepada belanda. Cita-citanya mengisolir belanda di Padang dengan mendirikan pos-pos Inggris di Minangkabau. Dalam tahun 1818 ia mengadakan perjalanan ilmiah ke alam Minangkabau. Tentara Inggris ditempatkan di pos Simawang, di pesisir timur danau Singkarak. Pulau Nias-pun dikunjunginya pula dengan alasan yang sama, bagi kepentingan ilmu pengetahuan. Natal sebelah utara dan Bangkahulu disebelah selatan ialah pos-pos Inggris dipesisir barat Sumatra, yang tiap saat dapat mengancam kedudukan Belanda di Padang. Raffles melihat kemungkinan besar bagi kepentingan politik dan ekonomi di Minangkabau. Ia berusaha membangun kembali kerajaan Minangkabau di bawah pegawasan Inggris karena ingin menjadikan alam Minangkabau batu loncatan untuk menguasai seluruh Sumatra. Sungai-sungai besar seperti Batang Hari dan Siak yang berasal dari Minangkabau, dapat digunakan sebagai jalan dagang, yang menghubugkan daerah pedalaman Sumatra dengan selat Sumatra. Raffles juga merencanakan pembangunan jalan raja yang mempertalikan ujung utara Sumatra (Aceh) dengan ujung selatannya (Lampung). Rencana-rencana yang sangat ambisius itu tidak dapat disetujui oleh pemerintahnya, East India Company (EIC).
Gagal di pesisir, raffles mengalahkan perhatian nya kedaerah selat Sumatra. Dalam tahun 1819 dibelinya pulau Tumasik dari kerajaan Johor dan dibangun disana Bandar Singapura. Dengan dikuasainya Penang disebelah utara dan di Singapura disebelah selatan semenanjung Malaya, terancamlah kedudukan Belanda di bandar Malaka yang dikuasainya sejak tahun 1641. Singapura cepat berkembang menjadi pusat niaga penting di Asia tenggara dan melemahkan posisi belanda bukan hanya disekitar perairan selat Sumatra, tapi juga di Jawa (Batavia). Inggris mulai pula meluaskan perniagaannya ke Aceh, Riau dan Siak dan berusaha keras mengikat ke daerah-daerah itu dengan perjanjian dagang. Diplomasi Inggris lebih luwes dari pada belanda dan membuka kemungkinan akan berhasil baik rencana raffles yang diambil oleh pemerintah Inggris. Daerah pesisir timur Sumatra memperoleh barang barang keperluannya dari belanda lewat Padang mulai alam Minangkabau. Kegiatan ekonominya Inggris di daerah itu, terutama setelah bandar Singapura dibangun, sangat melemahkan posisi ekonomi belanda di Padang, menghadapi Inggris dengan kekuatan militer tidak mungkin, karena mereka jauh lebih kuat daripada belanda. Tidak pula mungkin memerangi daerah pesisir timur, sebab berarti menghalau daerah itu kedalam pelukan politik-ekonomi Inggris.
Satu-satunya jalan yang terbuka bagi belanda, ialah menguasai daerah supplier bahan-bahan yang diperjualbelikan dipesisir timur. Daerah itu ialah alam Minangkabau. Dengan dikuasai alam Minangkabau, arus dagang ke pesisir timur dapat dihambat dan disalurkan ke pesisir dengan Padang sebagai pusatnya. Terhenti arus dagang ke pesisir timur berarti pukulan ekonomis bagi Inggris.
Di alam Minangkabau sendiri telah timbul dan berkembang satu kekuatan politik, yang dapat merupakan ancaman bagi belanda di pesisir, yaitu gerakan Paderi. Di pesisir kaum Paderi berhubungan dagang dengan Inggris melalui Tiku, Ketiagan (Air Bangis) dan Pariaman, kegiatan-kegiatan yang dianggap oleh Belanda mengancam kepentingannya, dan menambahkan unsur ketegangan politik antara Belanda dengan Inggris di Asia tenggara.
Usaha belanda meluaskan pengaruh politiknya ke alam Minangkabau mempunyai dua tujuan, yang hendak dicapainya sekaligus melemahkan posisi ekonomi Inggris dipesisir timur dan mencegah penyusupan pengaruh politik mereka kedaerah pedalaman Sumatra serta mencegah perembesan pengaruh ideologi politik kaum paderi ke pesisir. Dalam konteks inilah perang kolonial dilancarkan oleh belanda di Minangkabau (1821-1845) harus kita tinjau dan dalam hubungan ini pulalah perlawanan-perlawanan sengit yang dilakukan rakyat Minangkabau harus kita nilai.

2. Perjanjian Tahun 1821
Pola politik kolonial Belanda di Indonesia ialah mendekati golongan yang lemah dan terjepit, apabila sesuatu daerah pada satu ketika sedang mengalami pertentangan-pertentangan polity hebat. Bantuan militer yang diberikan kepada golongan yang sedang terjepit itu akan meratakan jalan bagi Belanda untuk memperoleh konsepsi-konsesi politik-ekonomi yang menguntungkan. Taktik ampuh itu diterapkan pula oleh Belanda di Minangkabau.
Dalam tahun 1819 kota Padang diterima kembali oleh Belanda dari Inggris. Pada waktu yang bersamaan supremasi kaum paderi sudah tertanam di alam Minangkabau. Perlawanan-perlawanan sengit kaum adat telah dapat dipatahkan. Pembunuhan keluarga yang dipertuan Minangkabau dikota Tengah oleh Tuanku Lelo, panglima bawahan Tuanku Rao (1809) dan menyingkir yang dipertuan kedaerah Kuantan, dianggap oleh kaum Padri sebagai tumbangnya kekuasaan kerajaan Minangkabau/Pagaruyung.
Sekalipun kaum paderi telah membuktikan supremasi mereka di bidang militer, namun mereka tidak berhasil minciptakan satu kekuasaan riil dengan pemerintahan yang terpusat. Masing-masing Nagari Berdiri sendiri, sedikit sekali berhubungan dengan sesamanya dan ikatan yang ada hanya dibanding ideologi. Kaum adat terpaksa menerima kenyataan, bahwa kaum adat Padri lah yang berkuasa di Nagari sekarang, sebab mereka tidak cukup kuat untuk melawan kaum paderi. Status Quo itu tidak berlangsung lama. Dengan kembali Belanda menduduki Padang, kaum adat melihat prospek-prospek baru yang dapat mebangkitkan kembali batang terendam, artinya memilihkan mereka kepada kedudukan semula. Sebagian penghulu alam Minangkabau ada yang melahirkan diri ke Padang dan berusaha mencari bentuk di kota itu. Pertolongan pernah diminta kepada Inggris, tetapi ditolak, karena mereka tidak mengambil risiko berperang dengan kaum Paderi. Inggris mempunyai hubungan dagang dengan kaum Paderi sebagai supplier senjata dari Penang dan Singapura.
Dengan Belanda lain situasi nya. Perkembangan politik di alam Minangkabau memberikan peluang yang diharapkan oleh Belanda untuk meluaskan pengaruh politik-ekonominya dalam rangka konfrontasi dengan Inggris, disamping melakukan tindakan preventif terhadap serangan kaum paderi ke pesisir. Peluang guna mencapai kedua tujuan itu sekaligus ialah kesempatan yang diadakan oleh penghulu pelarian di Padang yang berambisi besar untuk merebut kembali kekuasaan di Nagari masing-masing. Belanda ingin memperluas daerah jajahan. Musuh yang dihadapi sama, yaitu kaum paderi. Penghulu mengharapkan bantuan yang tidak mengikat, tetapi lupa, bahwa sekutu yang memberikan bantuan itu tidak memberikannya tanpa perhitungan laba-rugi. Kelihatan diplomasi berdasarkan pengalaman yang lama sebagai pemerintah kolonial, digunakan oleh belanda waktu menghadapi penghulu-penghulu pelarian guna merealisasi kerja sama menurut pengertian mereka sendiri. Syarat-syarat kerjasama yang mereka tekankan kepada penghulu pelarian itu sebagai golongan yang politis sedang terjepit, berat sekali.
Seluruh Minangkabau, tidak lebih dan tidak kurang, barus diserahkan oleh penghulu-penghulu pelarian itu kepada Belanda sebagai imbalan dari bantuan yang mereka berikan. Penghulu-penghulu itu tidak pula kalah lihay daripada Belanda, karena biasa sudah bersilat lidah dan mengadu ujung jarum. Mereka tahu, bahwa tidak ada wewenang, apalagi kekuasaan untuk menyerahkan, jangankan Nagari mereka sendiri, apalagi seluruh Minangkabau kepada Belanda. Mereka bukan wakil yang ditunjuk oleh kerapatan penghulu negara mereka sendiri apalagi dari seluruh Minangkabau seperti yang mungkin diartikan oleh Belanda. Mereka menghadapi perundingan dengan penghulu- ditunjuk oleh kerapatan penghulu negara mereka sendiri apalagi dari seluruh Minangkabau seperti yang mungkin diartikan oleh Belanda. Mereka menghadapi perundingan dengan penghulu- penghulu pelarian itu berdasarkan kaidah-kaidah hukum barat dan tidak mengetahui seluk beluk hukum adat. Sebagai penguasa adat, penghulu-penghulu itu insyaf, bahwa perjanjian Penyerahan Minangkabau seperti yang ditekankan oleh Belanda kepada mereka, tidak mnempunya nilai hukum adat apapun juga. Dibutakan oleh nafsu masing-masing untuk berkuasa, kedua belah pihak berhasil pembodohan sesamanya. Tetapi karena Belandalah yang kemudian berkuasa akibat keunggulan persenjataan mereka, mereka merasakan nilai-nilai hukum barat kepada orang Minangkabau guna memberikan legalitas pada tindakan politik mereka, menguasai seluruh Minangkabau. Isi pokok perjanjian tahun 1821 ialah, Penyerahan kerajaan Minangkabau kepada Belanda yang berjanji aka membantu kaum penghulu untuk mematahkan kekuasaan paderi. Penghulu-penghulu pelarian itu seia-sekata pula akan tunduk dan setia kepada Belanda. Janji itu tidak hanya mengikat mereka, tetapi juga anak-anak cucunya mereka dikelak kemudian hari, sebagai langkah pertama peng-realisasian perjanjian 1821. Belanda menempatkan 100 orang tentara dan dua pucuk meriam di Simawang.
Perjanjian itu mempunyai akibat yang sangat serius. Dengan sangat mudah, walaupun diatas kertas, Belanda dapat mengembangkan kekuasaan politik-ekonominya di daerah yang potensial penting sebagai key position pada waktu itu, dengan hanya menempatkan 100 orang tentara dan dua pucuk meriam di Simawang. Dengan menduduki tempat yang strategis-militer penting itu Belanda dapat mengawasi arus lalu-lintas barang dan manusia kejurusan timur (Luhak tanah datar) dan ke-hilir (lembah hulu batang hari), ke selatan (sulit air, Solok, Maura Labuh), ke barat (melalui Singkarak ke Padang) dan ke utara (Batipuh-Padang Panjang). Penghulu pemimpin rakyat bukan lagi pembantu mereka, tetapi berada slam posisi diperintah oleh Belanda. Mereka dipaksa mengerahkan anak kemenakan, rakyat mereka, untuk ikut memerangi kaum pari, bangsa dan adakalanya anggota suku dan keluarga sendiri. Disamping itu penghulu-penghulu diharuskan pula men-supply logistic penting untuk perang, seperti makanan, bahan-bahan bangunan untuk benteng Belanda, dsb.
Segala umpat dan caci-maki dari rakyat mereka sendiri dan rasa permusuhan yang kian menjurang dengan pihak paderi, adalah akibat dari permainan catur politik dengan Belanda di Padang itu. Dengan perjanjian 1821 sebagai visum, Belanda memasuki medan perang di alam Minangkabau, tanpa menyangka, bawa perang akan berlarut-larut, meminta banyak korban jiwa dan harta dari kedua belah pihak. Terhadap konflik ideologi yang sedang memecah belah masyarakat Minangkabau, Belanda membawa menambahkan satu faktor baru, perang kolonial dengan segala akibatnya.
Tahun 1821 tidak saja merupakan titik tolak dan pengkal penamaan kekuasaan Belanda di Minangkabau, tetapi juga sebagai permulaan perang Sumatra guna menguasai seluruh Sumatra (1821-1808) . untuk Minangkabau penamaan kekuasaan itu selesai dalam tahun 1845 dan bagi Sumatra dengan ditaklukannya Aceh (1904) dan tahan Batak utara (1908). Operasi-operasi militer yang bertujuan politik-ekonomi menguasai Minangkabau, dapat kita bagi dalam periode-periode berikut:
1. 1821-1832 seluruh Minangkabau, kecuali Kubang XIII (daerah Solok) jatuh ketangan belanda.
2. (permulaan tahun) 1833-(permulaan tahun) 1834, kaum adat dan Padri bersatu menghadapi Belanda, lembah Alahan panjang dibebaskan dari dominasi militer Belanda.
3. 1834-1837: perang Bonjol, yang dapat dibagi menjadi:
a. Juni 1834-juni 1835, masa mendekati benteng Bonjol.]
b. Juni 1835-agustus 1837, masa pengepungan dan penaklukan benteng Bonjol.
4. 1837-1845, pembulatan kekuasaan belanda di Minangkabau dengan penaklukan Kubang XIII (daerah Solok) dan Maura Labuh, diselingi oleh perlawanan regen Batipuh, pedang panjang (1842).

3. Operasi-Operasi Militer
a. Periode 1821-1832.
Benteng Simawang merupakan pusat kegiatan militer dan politik Belanda yang pertama di alam Minangkabau. Sikap permusuhan, – “tidak mau kerja sama” – , yang segera diperlihatkan oleh Nagari-Nagari disekitar benteng itu, mendorong Belanda untuk mendemonstrasikan kemampuan militernya. Sulit air diserang (28 April 1821) dan mulailah konflik senjata yang pertama di alam Minangkabau dengan Belanda.
Serangan Belanda itu gagal, demikian pula serangan berikutnya dua hari kemudian. “demonstrasi militer” di gunung dan simabur, Luhak tanah datar, mengalami nasib yang sama (Agustus 1821).
Menjelang akhir tahun 1821 letnan kolonel Raaff sampai di Padang dengan membawa serdadu dan senjata lengkap dari Batavia, sebagai komandan territorial di Sumatra barat. Mula-mula Raaff bermaksud menyerang Luhak Agam, tetapi setelah mempelajari situasi politik alam Minangkabau lebih teliti, Luhak tanah datar dijadikan objek terutama. Keputusan itu didasarkan atas pertimbangan, bahwa jika Luhak tanah datar sudah ditaklukan dan kekuasaan tuanku lintau dapat dipatahkan, kaum Padri dari daerah lain akan tunduk dengan sendirinya.
Dengan Simawang sebagai pangkalan, Pagaruyung diserang (4 Maret 1822). Kaum Padri meninggalkan bekas ibukota kerajaan Minangkabau itu setelah memberikan perlawanan yang gigih. Di sebuah bukti dekat Pagaruyung Belanda mendirikan benteng “fort van der Cappelen”, menurut nama gubernur jendral Hindia Belanda ketika itu. Itulah Batusangkar sekarang.
Raaff merencanakan untuk langsung menyerang Lintau (17 Maret 1822). Dengan kekuatan militer yang besar Belanda berangkat ke Suruoaso, Tanjung Berulak dan Air Bertumbuk, arah timur laut dari Batusangkar. Kaum Padri memusatkan pertahanan mereka di daerah itu. Berkali-kali Belanda berusaha menerobos tapi selalu dipukul mundur dengan korban besar.
Kemenangan Padri di Lintau menghentikan kegiatan-kegiatan militer Belanda untuk sementara waktu. Antara bulan Maret dan Juni 1822 Belanda memperkuat pertahanannya di Batusangkar. Titik terakhir dari garis pertahanan kaum Padri ialah Nagari Tanjung alam antara luka Agam dan Luhak 50-koto. Tanjung alam terpaksa dikosongkan oleh kaum Padri dan geris pertahanan Belanda terbentang dari Simawang disebelah tenggara sampai ke Tanjung Alam. Serangan kaum Padri untuk merebut Tanjung ala kembali tidak berhasil (7 Juli 1822)
Sekalipun sudah berhasil membuat baji yang memisah daerah kuasa kaum Padri dengan sesamanya, dalam jangka waktu yang lama Belanda tidak bernafsu menyerang untuk menyerang Lintau lagi. Segala usaha dipusatkan ke Luhak Agam dengan menyerang dan menduduki kota Lawas, Pandai Sikat dan Gunung (Juli 1822). Tuanku Masiangan, tokoh pimpinan Padri di Luhak Agam, ditawan oleh Belanda.
Nagari Kapau dan Tilatang disebelah utara Agam diserang oleh Belanda (15 Agustus 1822). Kaum Padri memberikan perlawanan gigih dengan “sistem-kubu” yang kuat dan berhasil menggagalkan tiap-tiap serangan Belanda, yang lalu mengundurkan diri dengan menderita banyak korban.
Dalam bulan September 1822 kaum Padri melancarkan serangan balasan secara serentak dan berhasil mengusir Belanda dari sungai Puar dan Guguk Sigandang, Luhak Agam dilereng gunung Merapi sebelah barat. Di bulan Februari 1823 Belanda mendatangkan bantuan dari Jawa dan pada bulan April berikutnya mereka mengadakan serangan-serangan kembali. Pertempuran hebat berlangsung selama tiga hari tiga malam dan Belanda terpukul mundur (17april 1823).
Mei pasukan tuanku Masiangan bergerak kedaerah pesisir dengan maksud merebut Pariaman. Waktu yang sama Belanda kembali menyerang Pandai Sikat. Serangan ke pesisir dibatalkan dan pasukan Padri kembali untuk untuk mempertahankan Pandai Sikat. Setelah melakukan pembunuhan massal di Biaro dan merebut Nagari-Nagari di sekeliling gunung merapi-singgalang. Belanda berusaha merebut Pandai Sikat, tetapi tidak berhasil.
Pada Januari 1824 tercapai kata sepakati antara pihak Belanda dengan kaum Padri Alahan Panjang, disebut perjanjian masang. Sebulan kemudian Belanda menyerang Nagari kota Lawas di Luhak Batipuh. Nagari Pandai Sikat terancam dan ditinggalkan oleh kaum Padri (1 Maret 1824).
Perjanjian masang digunakan oleh Belanda sebagai tabir asap guna mengalihkan perhatian kaum Padri dari tujuan Belanda yang sebenarnya. Menghubungkan Luhak tanah datar dengan Batipuh dan Luhak Agam.
Kekalahan-kekalahan yang diderita oleh kaum Padri di Luhak tanah datar dan Luhak Agam mempunyai efek psychologies yang serius bagi moril kaum Padri di lembah Alahan panjang. Disana terletak benteng Bonjol. Pada permulaan bulan September 1832 pertempuran-pertempuran sengit berkobar di Luhak Agam antara Matur dan sungai Puar. Pasukan lain datang dari arah pesisir dan kedua kesatuan itu bergabung di Simawang gadang. Belanda mengirimkan ultimatum kepada Bonjol untuk menyerah, yang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Padri. Golongan yang sudah jemu perang ingin berdamai.
Dengan dikuasainya Luhak Agam (April 1832), Nagari-benteng Bonjol (September 1832) dan Luhak L-Koto (Oktober 1832), sebagian besar daerah Minangkabau kecuali Kubang-XIII (Solok), telah dikuasi oleh Belanda. Tahap pertama dari “perang Padri”, sebagai permulaan dari perang Sumatra, selesai sudah.

b. Permulaan tahun 1833 – Permulaan tahun 1834
Dengan kekalahan kaum Padri pada akhir tahun 1832, penaklukan sebagian besar dari wilayah Minangkabau secara militer sudah selesai. Follow up dari penaklukan dengan kekerasan senjata ternyata jauh lebih sulit, sebab menyangkut soal-soal psikologi manusia dan wataknya. Pendudukan Nagari benteng Bonjol di iringi dengan perubahan sistem pemerintahan. Administrasi pemerintahan Padri dihapus. Di Bonjol diangkat seorang regen yang diserahi pimpinan pemerintahan seluruh lembah Alahan panjang. Dalam perjanjian yang dibuat dengan pihak Padri waktu Belanda akan memasuki Nagari Bonjol, tercapai kata sepakati, tentara Belanda akan ditempatkan pada daerah tertentu, yaitu di medan Saba. Belanda berjanji akan menghormati agama dan adat penduduk. Ternyata kemudian Belanda sebagai pihak yang menang perang, melanggar segala janji itu. Tentara Belanda mengempati mesjid-mesjid, langgar dan rumah-rumah penduduk, yang penghuninya diusir keluar. Mengasramakan tentara “kafir” dalam mesjid dan langgar sebagai tempat ibadah penduduk yang umumnya beragama Islam, sangat melukai rasa keagamaan mereka. Disamping itu penduduk dipaksa pula melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sebagai penghinaan harkat mereka seperti manusia merdeka yang tahu harga diri. Mereka dipaksa membersihkan tempat-tempat kediaman tentara kafir itu. Tindakan tentara Belanda itu memberikan kesadaran kepada rakyat, bagaimana pahitnya nasib yang kalah perang. Kedua golongan yang berbeda faham waktu menerima ultimatum Belanda, dipertemukan oleh penderitaan yang sama. Di daerah-daerah lain pun rasa tidak puas, dipupuk oleh sikap dan tindakan-tindakan Belanda, meluas dan berkembang biak. Di daerah-daerah dimana golongan adat merupakan mayoritas, rasa tidak puas berkembang luas sebagai akibat dari percaturan-percaturan pajak, yang dianggap sangat mengikat dan berat. Mereka dipaksa pula melakukan kerja rodi, dilarang menyabung ayam dsb. Peraturan cukai pasar dan menyabung ayam, diterbitkan oleh Belanda dalam tahun 1825, dan diperdagangkan kepada orang cina, sangat melukai hati penduduk. Pada umumnya orang cina itu bersikap sombong dan keras, karena itu sering dibantu oleh penduduk untuk membalas dendam. Disamping itu perasaan tidak puas meluas pula dikalangan penghulu-penghulu yang dulu banyak membantu Belanda, tetapi kini merasa dilupakan.
Diseluruh Minangkabau ketika itu merata rasa tidak puas, walaupun motifnya berbeda-beda, maka saling mendekatilah golongan Padri dengan golongan penghulu, golongan agama dan adat yang bertentangan selama ini. Kedua golongan itu mengadakan rencana untuk menumbangkan belanda dari alam Minangkabau.
Sesuai dengan rencana bersama, pada tanggal 11 Januari 1833 tengah malam serangan0serangan serentak dilancarkan pada seluruh pos Belanda di Minangkabau. 20 orang hulubalang dibawah pimpinan raja Layang dan Tuanku nan Garang memasuki mesjid Bonjol dan membunuh tentara belanda yang diasramakan ditempat ibadah itu. Di Simawang gadang 9 orang termasuk komandannya tewas.
Perlawanan penduduk berkobar pula di Nagari-Nagari tarantang tunggang. Lubuk Amabalau dan Rao. Diseluruh lembah Alahan panjang 142 orang tentara Belanda menemui ajal mereka.
Walaupun tidak semua perlawanan dari kaum Padri mulus, tapi Belanda tidak mampu memadamkan api perlawanan sama sekali. Dalam bulan Juni 1833 penduduk Buo menyerang Belanda, di Tambangan dan Guguk Sigandang terjadi pertempuran sengit. Benteng Guguk Sigandang dihancurkan oleh rakyat. Dalam bulan Juli berikutnya perlawanan bersenjata berkobar di Kamang dam sekitar Bukittinggi.
Luhak tanah datar dan Luhak Agam dikuasi kembali oleh belanda dan kaum Padri di lembah Alahan panjang dengan Bonjol sebagai pusatnya terisolir (Juli 1833). Belanda menjadikan kedua Luhak tersebut sebagai daerah supply dan basis untuk menyerang Bonjol kembali.

c. Periode 1834 – 1837 (Perang Bonjol)
Periode perang Bonjol dimulai dengan serangan ke pantar dan mantur (Juni 1834) dan berakhir dengan jatuh benteng Bonjol (17 Agustus 1837). Periode ini dapat kita bagi atas:
1. Masa mendekati Bonjol (Juni 1834 – Juni 1835), dan
2. Masa pengepungan dan penaklukan Bonjol (Juni 1835 – Agustus 1837).

1. Masa mendekati Bonjol (Juni 1834 – Juni 1835)
Karena menemui kegagalan di bidang militer, belanda mengalihkan aktivitas mereka di bidang diplomasi. Taktik itu mereka tempuh untuk memperoleh adem pause. Tarik nafas yang cukup lama guna menyusun kembali kekuatan militer.
Plakat panjang yang diumumkan pada tanggal 25 Oktober 1833 ialah hasil dari usaha kejurusan itu. Serta merta dengan diumumkan Plakat panjang, kaum Padri menghentikan segala kegiatan perang mereka. Kubu-kubu pertahanan banyak yang ditinggalkan. Di beberapa tempat bahkan ada yang dirusak. Belanda hanya menghentikan serangan-serangan mereka, tetapi persiapan-persiapan untuk suatu ketika melanjutkan perang diteruskan. Dengan Plakat panjang Belanda berhasil mencapai tujuannya, kaum Padri menyia-nyiakan waktu dan menutup pintu bagi kemenangan.
Selama tujuh bulan Belanda mengadakan persiapan-persiapan perang, selama itu pula kaum Padri mengendorkan kewaspadaan dan meengabaikan pertahanan mereka. Pada tengah malam buta antara tanggal 3 dan 4 Juni 1834 pantar dan Matur tiba-tiba diserang dan diduduki. Serangan serangan sekonyong-konyong dalam masa damai itu merupakan pukulan psikologis yang hebat bagi kaum Padri. Mereka kalang kabut, kubu-kubu pertahanan banyak yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Tetapi semangat tempur mereka berkobar kembali, sekalipun tidak sehebat seperti dalam bulan September 1833.
Jatuh kedua tempat yang militer-strategis penting itu berarti kemajuan besar bagi operasi militer Belanda. Hubungan Maninjau-Agam terputus. Andalas, benteng Padri yang kuat, jatuh pula ketangan musuh dan pada tanggal 24 Juni 1834. Nagari sungai puar di Luhak Agam menyerah. Bamban dikuasi, setelah pertempuran sengit dan dijadikan pusat perbekalan dan gedung senjata.
Pertempuran mulai berkobar lagi pada tanggal 21 April 1835. Pasukan Belanda menyerang Bonjol dari tiga jurusan sekaligus. Dari Matur dan Bamban disebelah barat-daya, dari L-Kota disebelah timur-laut dan dari Tapanuli selatan disebelah utara.
Dari Sipisang Belanda melakukan gerakan kakak tua. Satu kesatuan menuju ke Padang Sarai dan kesatuan lain kejurusan Simawang gadang. Yang ke Padang Sarai dipukul cerai-berai ditepi sungai kumpulan dan yang menuju ke Simawang gadang datang membantu untuk menghindarkan kesatuan yang pertama dari kehancuran total.
Kubu kaum Padri diseberang air taras menjadi medan tempur sengit pula. Korban berjatuhan pada kedua belah pihak (3 Mei 1835).
Pasukan Tapanuli hanya berhasil mencapai Rao, tetapi dipukul mundur dan terpaksa kembali.
Lembah dari tepi sebelah kiri Alahan panjang hingga musuh yang letaknya kira-kira 1 km disebelah selatan Nagari Bonjol, merupakan pertahanan kaum Padri yang penting. Pusatnya, Padang Lawas, didekati oleh Belanda dari dua jurusan (8 Juni 1835). Sebagian secara diam-diama berhasil menyusup kebelakang koto Padang Lawas. Kaum Padri, menghadapi serangan dari dua jurusan sekaligus, menghindarkan diri dari jepitan kakak-tua dengan memberikan perlawanan yang gigih. Lembah Padang Lawas ditinggalkan.
Dengan dikuasi lembah penting itu oleh Belanda, pintu gerbang Bonjol disebelah selatan berada ditangan musuh. Ruang gerak kaum Padri di Bonjol makin dipersempit dan diperketat oleh Belanda (Juni 1835).

2. Dikepung dan Ditaklukan (1835 – 1837)
Bertambah dekat kebenteng Bonjol, bertambah lamban kemajuan Belanda dan lebih banyak korban jatuh pada kedua belah pihak. Belanda memagari Bonjol dengan kubu-kubu dan perang menjadi perang kubu, stelling-oorlog. Perang yang lamban itu sangat mengganggu urat syaraf tentara Belanda terutama, karena harus siap siaga setiap saat. Hampir putus asa, mereka berusaha menempuh jalan perundingan dengan tuanku imam. Usaha itu tidak pernah beliau hiraukan.
Bagi kaum Padri sendiri periode antara tahun 1835 – 1837 itu ialah yang paling berat. Mereka makin terisolir dan melawan Belanda mati-matian untuk dapat terus hidup. Dalam masa serba genting yang menentukan nasib kaum Padri di Minangkabau itu, tuanku imam Bonjol memainkan peranan sangat penting. Beliau menjadi gunung harapan dan lambang perjoangan kaum Padri.
Sejak lembah Padang Lawas dikuasi oleh Belanda, mereka berangsur maju setapak demi setapak. Pada tanggal 14 Juni 1835 mereka berhasil menyeberangi B. Alahan panjang pada tempat yang dangkal, tetapi tidak melancarkan serangan. Tembakan-tembakan dari kubu-kubu kaum Padri tidak mereka balas. Dengan menyusuri tepi sungai mereka bergerak kearah utara dan menduduki sebuah kubu yang kebetulan kosong. Kontak senjata yang kemudian terjadi, mengakibatkan serangan Belanda secara besar-besaran dan beberapa buah kubu jatuh ketangan mereka. Mereka membangun sebuah kubu yang berdekatan dengan benteng Bonjol. Pertempuran berlangsung selama lima hari dan meminta korban lebih kurang 100 orang Belanda. Seungguh pun demikian Belanda berhasil membuka posisi mereka dengan menggunakan artileri berat hingga kira-kira 100 m dari benteng Bonjol. Mereka bertahan dalam kubu yang sempat dibangun. Usaha kaum Padri menghalau mereka dari kubu itu tidak berhasil.
Disebelah barau-laut Bonjol ditepi s. Alahan panjang letak berdekatan koto benteng koto dan koto jambak. Belanda menyerang dan berhasil menduduki kedua koto itu. Kontra offesief dilakukan cara gigih dan terus menerus oleh kaum Padri, mendesak Belanda dari kubu itu dengan meninggalkan korban banyak.
Kekalahan di jambak dan koto minumbulkan kelesuan dipihak Belanda, karena banyak menelan korban. Selama tiga minggu Belanda bertahan dalam kubu mereka, menantikan bala bantuan dari air Bangis. Mereka menyerang dan menduduki Alahan mati untuk memutuskan hubungan Bonjol dengan pesisir (12 Juli 1835). Operasi selanjutnya diarahkan ke Lubuk Ambacang dengan maksud menghubungkan Alahan mati dengan markas di lembah Alahan panjang. Lubuk Ambacang mereka kuasai setelah tiga hari bertempur dan meminta korban tidak sedikit.
Disebelah tenggara Nagari Bonjol terletak kota Padang Bubus, pada jalan-kuda ke lalang, Puar datar dan Payakumbuh. Padang Bubus diserang oleh Belanda dengan tujuan menjepit Bonjol dari arah tenggara (4 September 1835). Serangan dilancarkan dari dua jurusan sekaligus, tetapi dapat dilumpuhkan oleh kaum Padri.
Hingga bulan Januari 1836, setelah sepuluh bulan mengepung benteng dari Nagari Bonjol, belanda baru dapat menguasai bagian selatan., barat laut Bonjol dan beberapa kubu disekitar benteng Bonjol. Benteng dan Nagari Bonjol sendiri belum terdekati oleh tentara Belanda. Mereka berhasil memperketat dijepitnya, hingga hubungan Bonjol dengan dunia luar berangsur-angsur terputus. Pada awal tahun 1836 garis pertahanan Belanda sepanjang 5 km dan jumlah tentaranya lebih kurang 1.300 orang, tidak terhitung oleh Indonesia dan pasukan-pasukan bantuan bukan orang Belanda.
Dini hari jam 3 malam sepasukan militer musuh berhasil menyusup ke dalam benteng Bonjol melalui lobang akibat tembakan-tembakan meriam Belanda dan langsung menuju kerumah isteri tuanku imam (3 Desember 1836). Kaum wanita diseret semuanya keluar, satu-satunya pria, Mahmud, putera bungsu tuanku imam, gugur. Tuanku imam yang malam itu tidur dirumah lain, datang dan segera terlibat dalam perkelahian sengit, tentara Belanda melarikan diri keluar benteng. Dikejar oleh tuanku imam dengan pedang berkilat ditangan. Nyaris beliau teas, sekiranya tidak cepat menangkis tusukan bayonet seorang tentara Belanda. Waktu itu tuanku imam sudah berumur 63 tahun.
Kekalahan Belanda yang bertubi-tubi itu mempunyai akibat luas, perdebatan sengit terjadi dikalangan pimpinan tinggi di Batavia. Ada yang menyangsikan kesanggupan tentaranya di Minangkabau untuk menyelesaikan kesanggupan tentaranya di Minangkabau untuk menyelesaikan perang Padri dengan cara terhormat.
Panglima tentara Hindia-Belanda sendiri memerlukan datang ke Padang dan Bonjol guna mengadakan pengamatan “on the spot” (9 Maret – 12 April 1837).
Disamping menyempurnakan pertahanan, persenjataan, perbekalan dan perhubungan, pasukan-pasukan di Bonjol dengan daerah-daerah lain, kembali ia mengajak tuanku imam untuk berunding. Sungguhpun keadaan kaum Padri ketika itu tidak menggembirakan ajakan itu oleh tuanku imam ditolak.
Pada tanggal 28 Juni 1937 Padang Bubus dan kemusai Tanjung bunga jatuh ketangan Belanda. Pada tanggal 3 Juli berikutnya pertempuran sengit terjadi disebuah bukti disebelah selatan Bonjol dari bukti itu meriam-meriam Belanda tidak henti-hentinya menggempur bukut terjadi.
Tentara Belanda menggali parit-parit tempat berlindung sebelum serangan dilancarkan. Kaum padri memindahkan aliran sungai dan menggenangi parit itu.
Dari hari kehari pengepungan benteng Bonjol semakin ketat. Dibawah lindungan tembakan-tembakan meriam nya, Belanda berhasil membuat kubu yang hanya 25 meter jauhnya dari dinding benteng Bonjol (31 Juli 1837). Seminggu lamanya tidak henti-hentinya meriam-meriam Belanda menghujani benteng Bonjol.
Hubungan kaum Padri dalam benteng dengan dunia luar hampir terputus sama sekali. Satu-satunya jalan yang terbuka ialah kejurusan utara ke koto marapak. Belanda telah menduduki bukti di sebelah timur bukut terjadi dan segala kegiatan kaum Padri dapat diawasi dari bukti itu. Bantuan dari luar, senjata maupun makanan, praktis tidak dapat diharapkan lagi oleh tuanku imam. Kaum wanita dan anak-anak mulai diungsikan keluar benteng, dibawa ke koto marapak.
Bukit tajadi disebelah timur terpisah dari benteng Bonjol oleh sebuah anak sungai yang dangkal. Dinding bukit itu sangat curam dan tingginya kira-kira 20 meter. Diatas bukti itulah kaum Padri mendirikan kubu-kubu pertahanan, diperkuat dengan meriam-meriam besar. Pada beberapa tempat ada lobang pengintaian. Dari lobang-lobang itu benteng Bonjol dan dataran dibawahnya dapat dilihat dengan jelas. Karena itu segala gerak-gerik lawan dapat di ketahui dengan mudah. Dari ujung sebelah tenggara membentang sebuah lembah dalam sampai ke Sipisang.
Akibat muntahan peluru-peluru meriam-meriam Belanda selama minggu bulan Agustus 1837, benteng Bonjol rusak hebat.
Belanda memusatkan segala serangan untuk merebut bukti Tajadi guna membungkamkan meriam-meriam Padri yang sangat mengganggu kemajuan pasukan infanteri mereka. Sebagai pancingan Belanda melakukan gerakan-gerakan tentara yang hebat disebelah barat dan selatan Bonjol. Perhatian kaum Padri dicurahkan sepenuhnya pada gerakan-gerakan itu. Sebagian pasukan Padri dipindahkan dari bukti Tajadi kedalam benteng Bonjol guna menghadapi serbuan Belanda.
Pada tanggal 15 Agustus 1837 meriam Padri masih menembak dari bukit Tajadi. Itulah tembakan terakhir. Pada malam harinya pasukan belanda dari Sipisang sudah sampai kedalam benteng dan duga-duga itu mengagetkan dan melumpuhkan seketika semangat juang kaum Padri. Memberikan perlawanan terus sia-sia, bukti Tajadi ditinggalkan melalui jalan utara.
Dengan jatuh bukit Tajadi benteng Bonjol jadi lumpuh. Pagi-pagi tanggal 16 Agustus 1837 pasukan Belanda dari bukit Tajadi bergerak dengan sangat hati-hati mendekati benteng Bonjol kesangsian masih meliputi hati mereka, khawatir menghadapi perlawanan mati-matian kaum Padri. Gerakan tentara Belanda itu memasang dihalang-halangi oleh tembakan-tembakan kaum Padri dari Puncuran tujuh, tetapi sudah tidak mampu merintangi kemajuan lawan. Tentara Belanda memasuki benteng Bonjol dari pintu gerbang timur bergabung didalam benteng dengan pasukan-pasukan yang masuk dari jurusan barat dan selatan. Benteng kaum Padri terakhir di Bonjol jatuh ketangan Belanda (16 Agustus 1837).
Secara resmi perang fisik di Minangkabau sudah berhenti dengan kemenangan Belanda.
4 . Periode 1837 – 1845
Beberapa lama Sesudah benteng Bonjol jatuh, tuanku imam masih memimpin perang gerilya. Dalam keadaan demikian beliau menerima surat dari residen Sumatra barat di Padang, yang mengajak beliau datang ke Palupuh untuk berunding . dengan ditemani oleh seorang anak beliau dan tiga orang pengawal, tuanku imam datang ketempat yang ditentukan (25 Oktober 1837). Serta merta beliau ditangkap, dibawa ke Batavia untuk selanjutnya di asingkan di Cianjur. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Manado, tempat beliau kemudian meninggal dunia (6 November 1864). Dan dikebumikan (dikampung Lutak).
Dengan Bonjol sebagai pangkalan, Belanda melanjutkan operasi militernya guna mengamankan Nagari-Nagari di sekitarnya. Dibagikan utara Minangkabau masih ada pertahanan kaum Padri yang kuat, benteng Dalu-Dalu dibawah komando tuanku Tambusai. Ketika Belanda memusatkan segala usahanya untuk menguasai Nagari Bonjol, beliau menyerang Tapanuli selatan. Karena menderita pukulan-pukulan dari tentara Belanda, beliau menarik diri kebenteng Dalu-Dalu. 14 bulan lamanya Belanda berusaha menaklukan benteng itu dan pada tanggal 28 Desember 1838 benteng kaum Padri terakhir di Minangkabau jatuh ketangan belanda. Tuanku Tambusai menyingkir ke Padang Lawas dan melanjutkan perlawanan disana sampai beliau meninggal dunia (1863). Tuanku Tambusai menjadi cikal-bakal kesultanan Berumun dengan kota Pinang sebagai ibukotanya.

Kesimpulan
1. Gelombang pembaruan dan pemurnian ajaran Islam di Minangkabau pada permulaan abad ke-19 menimbulkan perang saudara, yang berakhir dengan dirintis jalan bagi perkembangan mazhab Syafe’i dan tertanam dominasi politik-ekonomi Belanda di daerah Minangkabau.
2. Pembunuhan besar-besaran atas keluarga yang dipertuan Minangkabau/Pagaruyung di kota tengah (1809) dianggap sebagai berakhir zaman kerajaan Minangkabau/Pagaruyung dan mulai zaman “darul Islam Minangkabau” (hingga tahun 1821) dibawah pimpinan kaum wahabi/Padri.
3. Dengan memperalat penghulu-penghulu pelarian di Padang (perjanjian 1821), Belanda mulai melancarkan “perang kolonial” di Minangkabau, permulaan dari “perang Sumatra”, yang berakhir dengan ditaklukan daerah Aceh (1904) dan Tapanuli utara (1908).
4. Kaum wahabi/Padri memproklamirkan perang kolonial itu sebagai perang sabil dan bersatulah kembali kaum adat dan kaum agama untuk bersama-sama menghadapi agresif Belanda itu. Hingga tahun 1825 semangat bertahan rakyat Minangkabau berhasil membatasi ekspansi politik Belanda pada beberapa tempat di Luhak Nan tiga. (perjanjian masang 1824).
5. Gencatan senjata antara tahun 1825-1830, berhubung dengan pecah perang Diponogoro di Jawa, tidak ditepatgunakan oleh rakyat Minangkabau. Selesai perang itu Belanda memusatkan kembali segala daya dan usahanya ke Minangkabau, hingga berhasil ditaklukannya (1832).
6. Pelanggaran-pelanggaran dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak Belanda, mengakibatkan terjadi pertemuan Tandikat (1832). Bulat tekad kaum adat dan agama untuk bersama-sama serentak mengusir Belanda dan perang Minangkabau berkobar kembali dengan hebat nya.
7. Gagal dibidang militer (pertempuran sengit di pantar dan Matur, 1833) Belanda menempuh jalan diplomasi dengan mengumumkan Plakat panjang (Oktober 1833), yang berhasil memecah belah Persatuan rakyat Minangkabau dan memberikan adempauze, peluang waktu untuk menarik nafas, yang digunakan oleh Belanda guna menyempurnakan persiapan-persiapan militer mereka.
8. Setelah merasa dirinya kuat kembali, Belanda melanggar Persetujuan Plakat panjang. Segal usaha dipusatkan untuk menaklukan Bonjol (1834 – 1837), pusat pertahanan rakyat Minangkabau terkuat disebelah utara dibawah pimpinan tuanku imam
9. Dengan ditawannya tuanku imam (1837), dipatahkan perlawanan Tuanku regen Batipuh (1841) dan hancur pertahanan rakyat kabung XIII (akhir tahun 1845), selesailah perang Minangkabau sebagai tahap pertama dari perang Sumatra.
Dikutip dari buku M. D. Mansoer (dkk). Sedjarah Minangkabau. Bhratara. 1970. Jakarta.

BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN

BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN
Oleh: Hendriko Frman
Memasuki millenium ke-3 ini, bisa disimpulkan bahwa puncak kejayaan manusia berada pada millennium ini. Tidak terhitung berbagai hal yang irasional dulunya telah menjadi bentuk fisik-material. Tidak heran pula sistem pembelajaran edukasi pun mencapai puncaknya. Hal positif dan negatif diserap habis sebagai referensi pendidikan. Indonesia pun kena imbuhnya, memasuki abad ke-20, berbagai sistem pembelajaran pun muncul, baik itu inisiatif pemerintahan Hindia Belanda maupun penduduk pribumi. Dulu sekali sistem pembelajaran di Indonsia yang masih menggunakan sistem melingkar pada guru (upanisad) telah di revitalisasi dengan sistem yang lebih beradab menurut kolonial. Tapi, dari hasil pendidikan kolonial itu apakah kita secara tidak langsung telah mengadopsi sebagian dari pemikiran kolonial sebagai Negara penjajah?
Bisa jadi iya, pasalnya konteks keterkaitan antara Belanda dengan Indonesia sekarang masih dalam konteks penjajahan juga. Kalau Belanda menjajah rakyat Indonesia, sekarang rakyat Indonesia juga meanjajah rakyat Indonesia dengan cara penjajahan semu. Kalau pemikiran tersebut dalam spekulasi berarti wajar, pasalnya indikasi-insikasi tersebut tidak 100% mutlak. Walaupun juga, pasti ada sebab dan akibatnya. Indonesia yang merdeka 61tahun masih “terjajah” juga, sebabnya apa? kalau akibatnya jangan ditanyakan lagi yaitu manipulasi, penggelapan, cakar-cakaran, tindih-menindih, kritik-mengkrtik yang tak bertanggung jawab yang telah dilakukan aparat pemerintah yang tidak beriman. Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Apakah ini ada kaitannya dengan subjeknya. Kalau dikaitkan dengan kejayaan pendidikan, manusia-manusia/subjek–subjek yang mengalami proses pendidikan ini tidak 100% menerima unsur positif dalam pendidikan, unsur negatif pasti dimakan juga, pendidikan di mata sekarang sebagai batu loncatan saja sebagai manusia yang bermasa depan, dan masa depan yang ditempuhpun harus mengalami berbagai macam cara, ibarat sebuah estetika yang melanggar norma-norma, manusia berpendidikan ini sama juga, ada sebagian manusia-manusia yang melanggar dan ingin menjadi manusia instan yang mencoba-coba menduduki pos-pos pemerintahan dengan sistam trial and error-nya. Implikasinya apakah manusia instan ini bisa digolongkan penjajah?
Sebelum diteruskan lagi siapa manusia instan ini. Kenapa dia bisa di indikatorkan juga sebagai penyebab runtuhnya peradaban Indonesia. Harafiahnya manusia instan ini adalah individu intelektual yang tidak pernah menghayati proses tapi mengebu-ngebu dalam hasil. Kalau dimanifestasikan, kaum ini menuntut ilmu ingin dengan cara sesingkat-singkatnya, dan apabila telah menyelesaikan studinya kaum ini ingin cepat dapat mengembalikan modal, kursi dan meja kerja. Kaum ini memakai insting saja tanpa akal, pikiran, dan rasio dalam proses pendidikan. Karena hanya dengan dana ini-itu kaum ini mendapatkan segalanya, kalau dikalkulasikan dana ini-itu tersebut tidaklah kecil tapi kaum ini rela berkorban untuk itu. Dan prospeknya publik telah menggolongkan mereka sebagai kaum intelektual.
Kalau diproyeksikan, manusia instan tidak lebih dari pada seorang pelacur intelektual, bekerja sebagai kemunafikan saja bagi mereka, pasalnya mereka yang telah berada disinggasana pemerintahan telah mengabaikan proses tadi. Lagi-lagi mereka memakai insting dalam mengelola bidangnya. Dengan kata lain mereka belum siap dan masture secara prinsipil untuk terjun bebas ke dunia nyata, dunianya pemerintahan. Nilai jual mereka hanyalah ijazah dan gelar saja, tapi dari segi teori dan experience-nya mereka masih minim aplikasi. Kata-kata intelektual pun seperti dipaksakan kepada kaum ini. Apalah arti ijazah dan gelar yang mereka dapatkan dengan duduk berleha-leha tanpa teori yang maksimal. Setidak-tidaknya teori saja yang mereka miliki, tapi bukan secara komplit. Sehingga manusia instan perlu diberikan lampu kuning sehubungan dengan prospeknya, yang dengan kata lain perlu difilterkan dari dunia pendidikan, karena pemerintah salah satu dari penampungnya pasti juga akan terkena azabnya.
Disisi lain pemerintah sebagai mobilitator rakyat Indonesia harus bersiap-siap menerima azab dari manusia instan. Ini boleh jadi kelalaian dan sikap acuh tak acuh terhadap rakyat adalah ulah mereka. Kalau manusia instan ini berevolusi secara rapidly dan didukung lagi interaksi yang positif dari pemerintah, maka kiamat kecil bersiap-siap untuk melanda rakyatnya. Pasalnya manusia instan ini bisa ditebak apa maunya bisa jadi harta, kepopuleran, nafsu memerintah dan lain-lain yang jadi prioritas nomor satunya, sedangkan rakyat adalah prioritas ke-18 atau ke-99, imbuhnya adanya lagi KKN, pekerjaan yang tidak kredibel, efesien dan profesional. Itulah hasil revolusi mereka, mereka tidak lebih dari penyakit Aids yang siap memporak-porandakan sistem kekebalan, yaitu kekebalan pemerintah. Pertanyaannya sekarang apakah teori-toeri ini terlalu di dramatisir? Tentu saja tidak, kalau dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, kerbau mana yang membajak sawah dengan baik kerbau yang punya mata atau yang tidak punya mata? Inilah hubungan kausalnya, manusia instan jelas buta dan anehnya ingin menduduki pos-pos pemerintahan dan tentu saja hasilnya, “panen-penen” pun tidak akan pernah muncul.
Kalau yang terkena azab manusia instan adalah pemerintah dengan ancaman-ancamannya, masyarakat juga terkena dampak manusia instan ini, boleh dikatakan mereka itu kaum negatif dalam prasangka dan persepsi. Sehubungan strata mereka sebagai kaum intelektual, masyarakat tentu juga mengambil hal-hal yang relatif bagi manusia instan, pasalnya masyarakat yamg awam dan masih dibumbui dengan unsur-unsur feodalisme mencoba mengambil kiblat pada manusia instan yang secara langsung maupun tidak langsung. Kultur masyarakat yang telah terinfiltrasi oleh budaya instan ini akan menimbulkan akulturasi pada masyarakat, hasilnya apabila ada proses yang menuntut hasil yaang isntan maka sogokan–sogokan bisa jadi titik tengahnya, parsel-persel jadi jalan temunya. Bisa disimpulkan budaya ini tercipta juga dari andil-andil manusia instan sebagai kaum yang negatif.
Sebenarnya ada juga orang-orang yang ingin menjadi manusia instan sebagai batu loncatan saja, sehubungan dengan waktu pendidikan yang lama dan di iringi oleh intelektual-intlelektual lainnya yang setiap hari terus mencul dan menjadi pesaing bagi mereka. Mereka menjadi manusia instan tidak lain ingin menghemat waktu dan tenaga, tapi kalau dilihat dari kondisi bangsa ini tentu manusia instan sejati yang lebih dominan dari pada orang yang ingin menjadi manusia loncatan saja. Orang-orang yang ingin menjadi manusia instan ingin membangun bangsa dengan sungguh-sungguh dan ingin berdedikasi tinggi terhadap bagsa, tapi mereka sangat sulit untuk mengubahnya, karena lingkungan mereka telah tejebak dan terperosok terlalu dalam dengan pikiran-pikiran yang instan.
Rakyat Indonesia sebagai unsur dari negara boleh kecewa karena ada juga manusia-manusia instan yang masih berkeliaran di tiap-tiap pos pemerintahan. Rakyat sekarang adalah generasi yang kecewa. Kecewa karena telah dikhianati rakyatnya sendiri, kecewa karena telah dilacuri rakyatnya sendiri. Harapan-harapan dari rakyat yang ingin melihat anak-cucunya bahagia dan sejahtera ternyata telah dirampas. Generasi kecewa Indonesia tidak sebaik kondisinya dengan dibanding Negara-negara lain yang tidak diinfiltrasi oleh manusia instan. Amerika serikat sebagai topnya dunia pendidikan tentu bisa memfilter manusia instan apabila ada dinegara mereka. Tapi, kita sebagai negara miskin masih tetap saja menggunakan nilai-nilai lama apabila seorang ingin menjabat dalam posisi pemerintahan.
Implikasinya sekarang manusia instan yang masih banyak menjamur di Indonesia, masih digolongkan sebagai indikator penyebab kacau balaunya negeri ini, cepat atau lambat ulah dan kelakuan mereka pasti akan nampak juga akhirnya. Seperti kata Leo Tolstoy: Tuhan tahu, tapi menunggu.
***

MENCARI BENTUK MINANGKABAU YANG IDEAL

MENCARI BENTUK MINANGKABAU YANG IDEAL
Oleh: Hendriko Firman

Berabad-abad sudah kiranya etnis Minangkabau dengan kompleksitasnya berevolusi, di mana dalam proses tersebut telah begitu banyak influences (pengaruh) yang masuk. Influences tersebut masuk dan keluar silih berganti, dengan wajah baru ataupun dengan wajah yang itu-itu saja. Minangkabau yang sekarang tidak akan tercipta seperti ini apabila tidak ada sejarah dari sirkulasi influences Minangkabau pada masa lampau. Sebuah cerminan yang jelas bahwa Minangkabau hadir, eksis, dan selanjutnya redup perkembangannya di sebabkan oleh influences.
Tak terhitung lagi embrio Minangkabau yang hadir telah di masuki oleh berbagai macam influences, baikkah itu mapun burukkah itu. Terhitung telah banyak paham, ideologi, falsafah dsb. Yang terkait sebagai jiwa Minangkabau, contohnya saja seperti: Hindhu, Budha, Islam, Wahabi, pendidikan Barat, partai politik, nasionalisme, kemerdekaan, demokrasi, otonomi, gerakan daerah, dan hingga berujung pada reformasi. Faktanya kenapa kebudayaan Minangkabau ini bisa berubah dan sekonyong-konyong mencoba reflektif melihat semua aliran, paham, dan ideologi tsb.
Kalau begitu tentunya Minangkabau ini hanyalah simbol jadinya bukan lagi esensinya yang menonjol dari hirarki tersebut. Lantas timbul pertanyaan kita, bagaimana mencari bentuk Minangkabau yang ideal itu? Tentulah selama ini ideal, tapi tidak bisa di bilang statis untuk sebuah peradaban yang terus berevolusi. Yang dimaksud ideal di sini adalah jiwa Minangkabau yang sesungguhnya yang terus reflektif terhadap setiap kejadian, punya sense of power-nya sendiri, beradab, bukan berisi hal-hal yang berbau metafisika saja, punya kualitas, dan akhirnya menjadi kiblat bagi perkembangan kebudayaan lain.
Memang sekarang faktanya pertanyaan tersebut tidaklah bersifat urgen. Tapi walaupun demikian pertanyaan tersebut akhirnya menjadi perihal yang sangat interest untuk dipertanyakan. Apakah harus tetap begini Minangkabau seterusnya? Dimana pola-pola lama yang ketat seenaknya saja dimasuki oleh pola-pola yang lain, yang secara membabi-buta masuk begitu saja. Tengoklah sendiri, bagaimana nilai-nilai lama tersebut menjadi karatan karena telah usang, telah dimakan zaman dan tidak menjadi pedoman lagi walaupun itu warisan budaya yang harus di langgengkan. Terbesit oleh kita, nilai-nilai tersebut hanya sebatas ujung lidah sekarang, dalam catatan-catatan saja, bukan berada pada implementasinya.
Kita lihat saja nilai-nilai tersebut dicoba untuk di pertahankan bukan untuk disesuaikan – dengan tanpa mengurangkan substansi dari ideologi tersebut. Dimana dalam proses penyesuaian tersebut tidakalah berarti menghapuskan saja secara kasar, lalu serta-merta diganti dengan influences yang baru. Bukan, tapi sebagai warisan berharga dari tingginya pemikiran pada masa itu yang terefleksi pada kebudayaan Minangkabau, kita harus melihat bahwa, dalam konteks mempertahanakan memang baik, tapi cenderung tidak persuasif bentuknya. Tapi kalau nilai-nilai tersebut disesuaikan – sekali lagi dengan tanpa menghilangkan – maka kontiniunitas akan tetap bertahan lebih lama dan mempunyai respek dari instrumen-instrumen kebudayaan tersebut, yaitu orang-orang Minang itu sendiri.
Sekarang, telah kita lihat dalam mencari bentuk ideal ini, semua kelompok aspek punya rights-nya sendiri untuk mencari bentuk ideal tersebut. Pasifkah dia, atau aktifkah dia. Terserah karena kelompok tersebut mempunyai hegemoni yang jelas terhadap arus kebudayaan tersebut. Tapi, disini kita hanya akan melihat bahwa, tipikal tersebut tidak jauh-jauh lari dari masalah duniawi maupun religi. Yang religi yaitu kebudayaan Minangkabau yang terisi mengekor terhdap bentuk Islam. Sedangkan yang duniawi yaitu tanpa objek atau terkonsep sebagai adaptasi.
Dalam masalah religi ini tidak saja, kebudayaan Minangkabau telah klop melihat Islam itu sebagai bentuk idealnya, tapi karena mahaluasnya Islam itu, mengakibatkan bentuk tersebut mesti dicari lagi dalam Islam, karena Islam itu tidak saja tok di Islam itu tapi banyak lagi mazhab lainnya seperti konservatif, modernis, postmodernist, bahkan hingga Islam liberalis.
Lantas apa yang di cari oleh Minangkabau ini oleh dinamisatornya, yaitu kelompok-kelompok tersebut? Kita tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi kalau kita lihat sekarang, kelompok yang punya hegemoni menggalakan yaitu: semi konservatif dan modernis. Dimana bentuk kebudayaan Minangkabau yang di mix dengan Islam, lalu juga kebudayaan Minangkabau dijadikan sebagai alat kekuasaan di-mix dengan Islam yang bertujuan sebagai haluan kekuasaannya. Kita lihat saja bagaimana kerasnya Islam sekarang ini digalakan kembali untuk tetap disandingkan dengan kebudayaan Minangkabau. Islam yang sebagai ajaran yang telah kokoh bentuknya banyak persamaannya dengan jargonnya ABS-SBK, dimana transformasi tersebut adalah sebuah evolusi panjang yang terdoktrinasi dalam kebudayaan Minangkabau.
Yang selanjutnya yaitu tanpa objek, kenapa disebut tanpa objek karena cenderung disini semua paham yang masuk adalah semua yang berhaluan dengan duniawi tadi, paham-paham tentang kesejahteraan manusia dan semua hal lainnya yang berbau positif. Seperti sosialisme, humanisme, modernisme dsb. Karena, menampung aspirasi dari semua paham itu. Pantaslah kita sebut dia tanapa objek, karena form sebenarnya bisa apa saja, bisa disesuaikan terus dengan kebudayaan Minangkabau, sehingga disebutlah adaptasi.
Bentuk yang diterima kebudayaan Minangkabau ini dari adaptasi ini adalah paham atau serbuan mindset yang populer sezaman itu, misalnya saja, hal-hal untuk kembali ke bentuk pemerintahan otonomi telah lama dipikirkan oleh orang Minang yaitu pada masa perode 1950-an, lalu paham tersebut digalakkan kembali pada masa pemerintahan Habibie. Yang lain yaitu, saat orang Minangkabau konfrontasi terhadap pusat gara-gara akibat dari paham demokrasi yang telah berkiblat pada Barat. Nah, dari situ kita bisa melihat bahwa bentuk Minangkabau selama ini juga dipengaruhi oleh bentuk-bentuk adaptasi ini.
Kalau melihat realita seperti ini, bukankah bentuk Minangkabau itu pada dasarnya tiada berubah? Memang iya, tidak berubah, tapi hanya sebatas pada statistik saja seperti di buku-buku sejarah maupun buku kebudayaan Minangkabau, dimana poin-poinnya sudah jelas bahwa cirri-ciri orang Minang seperti itu. Tapi kita lihat implementasinya sekarang, dimana hanya sebagian orang menggunakan tata cara nilai seperti itu, kita juga harus objektif bahwa hampir semua keluarga urang Minang yang khususnya di kota-kota besar dan maupun yang di rantau, memakai nilai-nilai Minangkabau sangat sedikit dan mengakibatkan tidak adanya regenerasi. Jadi, yang dimaksud di sini adalah kita mencari bentuk Minangkabau ini agar tetap bersanding dengan kebudayaan Minangkabau awal, lalu dari sinkronisasi tersebut Minangkabau tetap terjaga kelestariannya dengan tetap sejalan dengan perubahan zaman.
Sekali lagi untuk di wanta-wanti bahwa, kebudayaan Minangkabau ini secara realitas kita lihat, pasti akan punah juga akhirnya akibat perubahan zaman, dan lalu hanya akan meninggalkan nama saja. Dan timbul pertanyaan baru, apakah kita harus tinggal diam saja bahwa kebudayaan Minangkabau yang sangat cemerlang ini akan ditelan usia akibat perubahan zaman? Toh, yang mudharatnya tidak apa-apa hilang, tapi yang sangat tinggi budi pekertinya dimana menunjukan sebuah peradaban yang tinggi pemikirannya apakah habis dan hilang juga?
Dari situlah kita harus berpikir, kita harus mencari bentuk ideal tersebut sebagai penunjang untuk Minangkabau terus survive. Dan sekarang yang jadi kuncinya adalah orang Minang itu sendiri, tanyakan pada mereka, inginkah mereka Minangkabau ini survive atau Minangkabau ini berhenti sajalah sampai disini?

***

Gairah – Gairah Budaya

Gairah – Gairah Budaya
Oleh : Hendriko Firman**

Hampir satu abad yang lalu, telah diterbitkan sebuah buku yang mungkin masih ada relevansinya sampai sekarang, yaitu buku yang berjudul La Trahisons des Clercs, yang ditulis oleh Jullian Benda. Ringkasnya buku ini menjelaskan keadaan pada awal abad dua puluh di Perancis yang telah menghadirkan gairah-gairah politik hampir di setiap elemen masyarakat, gairah–gairah tersebut hampir membuat semua elemen masyarakat tadi bisa peka dan ikut meramaikan sebuah sistem kekuasaan yang terkontrol pada masa itu.
Sekarang kita juga akan belajar juga dari peristiwa tersebut dan mencoba untuk megkomparasikannya pada konteks budaya, apakah sudah ada gairah-gairah budaya di tanah air ini? Apakah bisa menjadi sesuatu yang meggembirakan atau sesuatu mengecewakan?
Di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam bangsa ini (multination), munculnya gairah-gairah budaya harus kita preteli dulu dalam dalam form bagaimana gairah-gairah tersebut bisa dikatakan sebagai gairah budaya. Yang dikatakan sebagai gairah budaya yakni sudah adanya sense untuk tanggap terhadap isu-isu budaya itu sendiri, yakni melihat segala sesuatu apakah sudah ada terbesit interpretasi budaya di dalam pikirannya, atau dalam melihat ataupun mendengar dan berbicara apakah ada dalam dirinya tersinggung muatan-muatan budaya itu? Nah, sekarang dalam bentuk motode apa kita bisa melihat budaya tersebut terjadi penggairahan pada masyarakat, metode yang diaplikasikan adalah dari bentuk lingkungan dan konteks penunjang seperti stabilitas masyarakat, dll.
Sekarang Indonesia sedang mengalami fase romantisme pada kebudayaan pada masa lampau. Sehingga, untuk ukuran sekarang bisa disimpulkan kebudayaan tiada memiliki arti lagi secara eksplisit. Banyak orang yang telah over concern terhadap dunianya dan menjadi lupa akan simbolis-simbolis dari kebudayaan yang terkandung didalamnya. Hal tersebut bisa terefleksi dengan hadirnya romantisme itu sendiri, dimana hampir setiap elemen masyarakat mulai mencoba menyembah/mengagungkan kebudayaan dalam bentuk konkretnya atau kebudayaan yang nampak saja. Ya, ini memang wajar bahwa kebudayaan dalam bentuk romantisme itu adalah sebuah analogy berantai yang kita sebut sebagai sejarah. Tapi hal tersebut belum bisa dikatakan sebagai gairah-gairah budaya, karena terlepas dari apapun romantisme yang didengung-dengungkan sekarang itu hanya dalam bentuk kulitnya saja, sedangkan kita tidak melihat sisi dalamnya seperti sejarah, filosofi, dll.
Memang romansa di dalam setiap bangsa sangatlah perlu untuk tujuan-tujuan tertentu. Tapi tidaklah etis apabila kadang-kadang romansa tersebut tidak punya korelasi dengan tujuan aslinya misalnya saja romansa budaya sebagai penunjang stabilitas politik, atau lebih konkretnya sebuah romansa kebudayaan didengungkan sebagai penunjang untuk tetapnya masyarakat dalam satu-kesatuan integrasi. Tapi itu hanya salah satu bagian bahwa belum munculnya gairah-gairah budaya dalam masyarakat kita. Kalau elemen masyarakat telah melihat adanya kesumbangan dalam proses tadi tentunya kita bisa sedikit berbangga bahwa masyarakat bisa melihat yang tersirat bahwa romansa kebudayaan ada juga muatan politiknya.
Saat sekarang kita bisa lihat hampir dalam mekanisme apapun masyarakat melihat dan berpartisipasi menterjemahkan sesuatu selalu pada unsur-unsur atau gairah lain, misalnya gairah ekonomi bagi rakyat miskin untuk pengganjal perut, atau gairah politik bagi seorang tukang palak di terminal untuk mempertahankan territorial kekuasaannya. Nah, disini kita bisa melihat arah-arah masyarakat untuk berpartisipasi dalam gairah-gairah budaya masih minim. Hampir dalam semua elemen masyarakat tidak lagi menginginkan pemikiran tambahan dalam menterjemahkan dan melibatkan diri dalam perkara sesuatu hal, kalaupun itu ada gairah-gairah budaya, paling-paling itu hanya orang-orang yang hidup dari budaya, ataupun orang-orang yang secara tak partisipan telah memiliki respek terhadap unsur-unsur budaya.
Lantas apa guna gairah budaya ini? Bukankah kalau dipiramidakan dalam kebutuhan manusia bahwa gairah ekonomi yang lebih diutamakan? Ya, itu memang benar adanya. Tapi tidak bisa kita generalisir bahwa semua hal harus dipatokkan dan fokus dalam satu konteks saja. Kita klasifikasikan begini, bahwa unsur ekonomi, sosial, dan politik adalah bentuk langsung dari gesture manusia yang primer, dan selanjutnya kebudayaan adalah tindak lanjut manusia sebagai gesture yang sekunder. Teorinya bahwa segala hal harus berimbang, hitam-putih, materi-antimateri, dsb. Jadi kalau diproyeksikan seorang hanya terkubur pada ekonomi, sosial, dan poltik semata yang kita klasifikasikn sebagai kutub positif, disisi lain ia mengabaikan budaya sebagai kutub negatif maka kedua-duanya hanyalah tindakan yang sia-sia belaka dalam artian tidak ada manfaat, tidak seimbang dan nantinya tidak sehat. Beda artinya kalau seorang telah punya gairah budaya dalam pola pikirnya maka kutub positif dan negatif akan menghasilkan sesuatu dalam artian kehidupan yang seimbang antara yin dan yang.
Dilihat dari bentuk manapun di Indonesia yang multi bangsa dan etnis ini, kita tidak bisa terlalu berharap adanya gairah-gairah budaya, kalaupun ada itu sebuah chauvinisme yang mendiskreditkan pihak lain. Harapan itu bisa ada kalau kita telah mempunyai standar hidup yang cukup layak. Karena seiring individu yang telah komplit ekonomi, sosial, dan politiknya maka ia akan punya step lagi untuk memiliki gairah budaya. Kalau belum punya dan terpenuhi yang tiga tadi bagaimana ia bisa merasakan step selanjutnya yang kemudian gairah budaya itu akan menjadi sebuah ketahanan mentalitas bangsa untuk bersikap dan mengambil pendirian. Bukan hanya itu saja gairah-gairah budaya memberikan masyarakat suatu pemaknaan hidup yang dalam dan memiliki kandungan kebesaran di dalamnya.
Jikalau manusia Indonesia telah tanggap terhadap gairah-gairah budaya maka ini juga menjadi barometer majunya bangsa ini karena gairah budaya untuk sosial, ekonomi, dan politik telah terpenuhi maka gairah budaya sebagai bentuk perfeksionitas akan melahirkan sebuah gambaran bangsa yang telah kuat sebagai bangsa yang mandiri, juga telah idealis dengan kebijakan bangsa itu sendiri, dan yang paling penting adalah masyarakat madani telah hadir dalam package yang manusiawi, yang tanpa sandiwara, yang tanpa ketertidndasan dan punya persamaan prinsip.

***

BUDAYA KAMI & BUDAYA KALIAN

BUDAYA KAMI & BUDAYA KALIAN
Oleh : Hendriko Firman
Apa yang terjadi apabila budaya itu tidak ada? Apa yang terjadi apabila budaya itu tidak berkembang? Itulah sebuah pertanyaan awam dan remeh temeh dari seorang teman saya yang paling pintar di kelas yang baru belajar mata kuliah tentang Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Pertanyaannya memang gampang dijawab secara ceplas-ceplos. Tapi tentulah jawaban itu tidak substansif dan perfek.
Masalah kebudayaan bukan ranah rasional kita untuk menjawab tapi ini ranah dari bagaimana otak sebagai habit (kebiasaan) menjalankan fungsi otaknya. Kita masih ingat bahwa ada juga yang bilang manusia adalah binatang yang berpikir. Jadi intinya adalah kenapa ada dan terjadinya budaya adalah karena otaklah sebagai kodratnya melakukan budaya itu, otak berfungsi yang tanpa kita sadari melahirkan budaya. Kita tentu masih ingat bahwa budaya terdiri lagi dari 7 kategori yang faktanya kita tidak sangka-sangka, yaitu; religi, mata pencaharian, social, bahasa, pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Dari 7 aspek tersebut otak manusialah yang menjalankan dan menggerakkannya sehingga budaya bisa tercipta.
Jadi inti dari pengantar di atas adalah bahwa manusia memiliki budaya, dan budaya dimiliki manusia sebagai kontemplasi hidupnya. Pertanyaan selanjutnya, apakah setiap manusia memiliki kebudayaan yang sama? Dalam artian tidak seutuhnya sama tapi punya koorelasi di dalam budaya itu. Contoh saja, budaya membunuh diri sendiri yang ada di jepang yang kita kenal sebagai harikiri juga ada di Negara India yang akan tetapi dilakukan oleh seorang istri yang kehilangan suaminya. Apakah sama? Jawaban pembaca tentu pastilah dari jawaban tersebut: tentu saja berbeda, lain lingkungan, lain ekonominya, lain rujukan hidupnya maka tentu pulalah beda budayanya. Ya, hal tersebut memang pertayaan yang konyol. Dimana adanya basis pemikiran kita yang sedikit lebih dalam, mencoba melihat kemana perubahan budaya bisa membuat seseorang bisa berubah juga nantinya.
Hal diatas mengindikasikan bahwa budaya itu tidak sama, dan nantinya budaya tersebut akan melahirkan perbedaan pemahaman. Bahwa perbededaan budaya nantinya akan melahirkan budaya ‘kami‘ dan budaya ‘kalian’. Budaya kami adalah budaya yang mempengaruhi ‘kami’ yang membuat ‘kami‘ mengadaptasinya dan ‘kami‘ menerimakan serta menjalankan perannya. Sedangkan budaya ‘kalian’ adalah kebalikan dari budaya kami, yang dimana ‘kalian’ tidak mengenal dan malahan bertentangan sekali seperti apa yang ‘kalian’ refleksikan sebagai budaya ‘kami’. Contoh saja; budaya di barat adalah disiplin (relatif) dan di sisi lain di budaya timur adalah malas-malasan (relatif). Dari hal inilah kita bisa berasumsi bahwa kebudayaan adalah sebuah kekuatan penggerak yang dinamikanya harus patut diperhitungkan oleh para pemilik kebudayaan lain. Hal yang patut diperhitungkan adalah eksisnya kedua kututb tadi yang bertentangan. Dimana kebudayaan menghasilkan subjek yaitu manusia, dan subjek bisa melahirkan mindset, mindset akan melahirkan ideologi, ideologi akan melahirkan komunitas, kominitas akan melahirkan pergerakan, pergerakan akhirnya bisa melahirkan pertentangan. Contoh kongkretnya adalah sorang Führer Hitler sebagai subjek dimana ia memiliki mindset fasisme akibat dari kekalahan yang memalukan dari pihak pemenang PD I, lalu fasisme itu menjadi mindset Hitler buat berpikir dan bertindak, dan akhirnya fasisme dari Hitler menjadi ideologi baginya. Setelah mendamprat posisi kekuasaan tertinggi Kanselir, dia membuat sebuah komunitas yang ia beri nama NAZI yang mendukung tinggi jiwa-jiwa fasisme dan euginisme. Tentulah hasilnya komunitas ini melahirkan pertentangan dengan Negara-negara barat yang adem-ayem dengan perjanjian Versailles yang meguntungkan itu. Dan pertentangannya itu kita kenal sebagai PD II.
Kalau kita coba lihat secara ekplisit bahwa kebudayaan ‘kalian’ dan kebudayaan ‘kami’ mempuyai daya hancur yang tinggi dalam setiap kehidupan kebudayaan satu sama lain. Kita bisa lihat sebuah Negara bisa saja saling bunuh-bununhan karena perbedaan budayanya, seperti yang terjadi di Indonesia, contohnya kerusuhan sampit, apalagi kalau kita melihat dari yang agamawi maka kita akan melihat orang Islam sunni dan syi’ah terus bertentangan yang terjadi beratus-ratus tahun lamanya. Makanya kebudayaan disisi lain sebagai bentuk dari pemersatu disisi lain ia juga adalah manifestasi dari kehancuran sebuah peradaban. Di mana tidak adanya sikap toleransi terhadap budaya lain bisa menimbulkan rasa sinis, yang berujung pada sikap apatisme dan tindakan invasi. Hal-hal kongkret dari itu bisa kita lihat dari perbedaan kebudayaan menyangkut pola pikir, etos, kinerja, dan spirit serta kesamaan dalam konsep. Itulah yang terjadi setelah rakonstruksi dunia baru setelah PD II dimana, adanya dua kutub yang berbeda dalam hal-hal yang saling bertentangan. Uni Soviet dengan komunisnya disisi lain Negara Barat (America serikat dan Eropa Barat) mengedepankan liberalisme. Ide-ide perbedaan budaya tersebut melahirkan perang dingin yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun, dan diprediksi bakal menjadi akhir sebuah sejarah (end of history) tapi tatkala tidak terjadinya perang tersebut hal tersebut juga menjadi akhir dari sejarah apabila kita merujuk pada tulisan yang menggemparkan dari Francis Fukuyama.
Secara universal budaya adalah produk dari manusia yang perannya tidak sebatas dari pandangan sebelah mata saja. Tapi kita harus melihat kebudayaan secara lebih besar bahwa ia punya bahaya laten apabila tidak bisa dikontrol dan akhirnya nanti akan bisa manjadi kebablasan terhadap sebuah nation atau state. Seperti yang terjadi di Indonesia, kita melihat bagaimana contoh dari tidak adanya kontrol poliltik dalam budaya akhirnya melahirkan sinisme dan chauvinisme. Ia nantinya bisa membuat terpinggirnya sebuah ras di negaranya sendiri. Sungguh ironsinya, bahwa di Indonesia hal iltu pernah terjadi dan masih berlangsung, yaitu lebih besarnya pengaruh sebuah ras yang keberpihakan terhadap budaya ‘kaminya’ yang lebih besar, sedangkan yang kita harapakan bukannlah kebudayaan ‘kami’ atau kebudayaan ‘kalian’ yang lebih besar, tapi yang hendak dituntut disini yaitu adanya keberagaman demi penyeragaman.