JARINGAN PERDAGANGAN ISLAM DI PESISIR DAN PEDALAMAN MINANGKABAU

JARINGAN PERDAGANGAN ISLAM DI PESISIR DAN PEDALAMAN SUMATRA BARAT

 

 

  1. KEDATANGAN ISLAM KE INDONESIA

 

Teori yang menerangkan bahwa Islam pertama kali datang ke Indonesia adalah dari Persi, agaknya untuk membuat bahwa Islam pertama kali datang ke negeri kita beraliran Syiah. Asumsi atau dugaan demikian tidak bisa di pertanggung jawabkan[1]

 

Dapat disimpulkan bahwa mubhalig-mubhalig Islam buat pertama kali ke Indonesia itu datang dari Gujarat (pantai barat India, daerah sebelah barat Ahamdabad.hal itu harus diartikan demikian:

 

Mubaligh-mubaligh itu datang dari Mekkah, Madinah mungkin saa sebagian dari Yaman, lalu singgah beberapa saat di Gujarat sebelum meneruskan perajalanan mereka ke timur (Indonesia-Malaysia –Filipina). Kemungkinan itu besar juga, mengingat perjalanan ke timur itu di tempuh dengan perahu-perahu layar mengarungi samudra Indonesia dan sangat jauh menempuh perjalanan[2]

 

Di sisi lain almarhum H. Agus Salim[3] antara lain menerangkan :”Nyatalah perhubungan dari tanah Islam di barat dengan negeri kita ini sudah ada dari zaman kebesaran khlifah dalam abad 9. pada masa itu tidak ada kapal-kapal bangsa lain dari pada bangsa Islam itu yang melayari lautan itu. Malah boleh kita pastikan bahwa bangsa kita di sini- di Sumatra dan Jawa  - mendapat pelajaran dari pada bangsa Islam Arab dan Hindi itu, yang pertama-tama sekali mendapatkan pedoman dan melahirkan pelajaran ilmu falak untuk melayari lautan besar. Bangsa itu pula yang mula-mula mengadakan gambar dan peta laut dan memperhatikan pertukaran angin bermusim-musim”

 

Bahwa pada abad-III hijriah Al-mas’udi telah menyinggahai nusantara kita. Bisa di duga bahwa Al-mas’udi bukanlah satu-satu menyinggahi tanah air kita. Seperti dikatakan oleh H. Agus Salim, bahwa pada abad ke-9 masehi (kira-kira abad ke-2 hijriah) hubungan antara orang-orang islam dari Arab dengan bangsa kita sudah terjalin. Sebab, sebagai dikatakan oleh ahli-ahli searah, hubungan antara  orang-orang Cina di Tiongkok sudah terjalin sebelum itu. Amatlah masuk di akal bahwa pelayaran antara Arab – Tiongkok pastilah menyinggahi nusantara kita karena mengarungi lautan yang demikian besar dan jauh itu sangat memerlukan tempat singgah untuk menambah perbekalan dan menantikan iklim yang baik. Dan Indonesia terletak antara negeri jazirah Arab dan Cina.[4]

 

 

2. JALUR PERDAGANGAN ISLAM DI MINANGKABAU

 

            Tidak benar bahwa kita berasumsi bahwa Minangkabau terisolilir dari dunia pertukaran ekonomi yang lebih luas. Ada daerah tertentu di Minangkabau Tengah yang selama berabad-abad telah memegang peran penting dalam ekonomi samudra Hindia, suatu erkonomi yang dalam banyak hal lebih dinamis dari ekonomi Eropa dalam periode yang sama. Daerah Tanah Datar di Minagkabau adalah sumber utama penghasil pelumas penting untuk ekonomi samudra Hindia yaitu emas.[5]

           

Selama ini hanya sedikit diketahui tentang organisasi perdagangan emas ini. Namun, kita mengetahui bahwa banyak pedagang asing dan petualang asing tertarik untuk memasuki pedalaman Minangkabau, karena semuanya boleh di katakan ingin mendapat barang dagangan langsung dari sumbernya. Pedagang dan petualang masuk dari jalur dagang utama, seperti yang diketahui dari bukit-bukit yang di dapat kelak. Jalur-jalur utama ke pantai barat adalah Jalan Jawi, yang keluar dari Tanah Datar melalui Batipuh dan lereng gunung Selatan gunung Merapi dan kemudian ke Tambangan melewati guung Ambacang, dan jalan-jalan bukit Tujuh yang menembus jurang Anai; kedua jalur ini muncul di kaki bukit barisan Kayutanam dan dari situ bisa dicapai pantai dan pelabuahn ekspor utama Pariaman. Masih ada jalan lain yang sulit melalui danau Singkarak, untuk ini harus melalui Suruoso ke Simawang di tepi danau, menyeberangi danau dengan perahu dataran             Saningbakar dan Solok, dan dari sana melewati gunung-gunung dan turun ke pantai kota tengah atau Padang. Untuk mencapai pantai timur dari daerah lembah Sinamar di sekitar Buo dan Sumpur di sekitar Sumpur Kudus, jalan utamnya adalah melalui air atau darat ke tempat-tempat pengumpulan barang di hulu sungai Inderagiri, seperti Siluka atau Durian Gedang, atau lewat dari pangkalan Sarai di hulu anak sungai Kampar Kiri.[6]

           

Selama berabad-abad perdagangan emas dilakukan lewat jalur-jalur ini, dan melalui jalur ini pula pengaruh asing masuk  ke minangkabau. Pilihan untuk jalur dari barat atau timur berbeda, tentu saja, menurut kemanan di selat Malaka. Ketika Minangkabau, atau tepatnya Tanah Datar, mula-mula melalui fokus sejarah, tampaknya jalur pantai barat lebih disukai pedagang-pedagang India, sehubungan dengan melemahnya Sriwijaya dan situasi selat yang tidak menguntungkan. Bukti arkeologis dan tradisi lisan menunjukan pada bahwa situasi masa, dalam abad ketiga belas, para pedagang India, yang dikenal sebagai chetti, memang masuk ke Tanah Datar dan menetap di suatu daerah di sekitar Pariangan, di lereng gungung selatan Merapi, dari situ mereka mempunyai kesempatan yang bagus esekali untuk mengamati jalan dagang utama keluar dari tanh datar. pada waktu itu fokus kehidupan Minangkabau rupanya di sekitar Lima Kaum, yang mungkin sekali punya signifikasi praktis maupun magis sebagai sebuah pusat kerajinan besi, mengingat para perain besi pada masa pra-indiaisasi Minangkabau memang sama pentingnya dengan di daerah-daerah lain di kepulaun ini. Orang-orang india selatan rupanya telah mendirikan pusat dagang dan pollitik mereka sendiri di Pariangan. Mereka mempunyai seorang pemimpin politik dengan gelar Maharadadiraja, dan kita ketahui dari prasasti pada pertengahan abad ke empat belas bahwa orang-orang dari India selatan masih hidup sebagai masyarakat tersendiri di minangkabau dimasa itu. Sementara itu pengaruh mereka telah masuk ke dalam cukup banyak kehidupan Minangkabau, dan cukup banyak kata-kata Dravidia dan Sansakerta masuk ke dalam bahasa sehari-hari keluarga, desa dan badan-badan hukum Minangkabau nagari (dalam bahasa Indonesia negeri) dan kota hanyalah dua contoh yang terbaik dari yang banyak, dan mungkin sekali para pedagang Malabar, yang baru saja menganut sistem matrilnieal, memperkenalkan atau memperkuat pranata matrilineal di daerah-daerah penanam beras di Minangkabau.[7]

           

Sesaat setelah pecahnya perang saudara sesudah wafatnya raa Aditiyawarman-ra yang paling berkasrisma dan besar pada masa itu, keluarga raja pindah ke Marapalam  dan lambat laun memantapkan kedudukannya sebagai mitra dagang Malaka yang di mana di kerajaan yang besar dan mengutungkan. Anggota-anggota keluarga raja menetap di berbagai tempat di lembah-lembah Sinamar dan Sumpurkudus di tepi Sumpur, dan di tempat dulu yang disebut Pagaruyung, dekat Kumanis, dimana sungai Sinamar bisa dilayari perahu dagang ke Indragiri. Pada waktu tinggal disinilah keluarga raja berhubungan dengan pedagang muslim  dan pikiran Islam, dan pada akhir abad keenam belas secara bertahap mereka menjadi Islam, dan pada suatu ketika fungsi kerajaan dibagikan pada tiga anggota keluarga, karena angka tiga mempunyai arti tertentu dalam pemikiran Minangkabau, yaitu raja ibadat di Sumpur Kudus, raja adat di Buo dan raja alam di Pagaruyung. Sumpur Kudus mungkin yang paling awal memeluk agama Islam, karena adanya sungai Kampar dan Inderagiri yang ramai untuk perdagangan; dalam masa jaya kesultanan Malaka, sungai Kampar dan Inderagiri berkembang disekitar muara-muara sungai induknya sebagai daerah jajahan sultan yang paling penting, yang terkait dengan sultan Malaka dengan ikatan perkawinan dan hidup dari perdagangan transit emas dan kain India.[8]

            Dengan menanjaknya kekuasaan Portugis di Malaka dan Islamisasi Gujarat menjadikan kesultanan islam aceh di ujung uatara Sumatra sebagai pangkalan mereka, dan ini lebih meningkatkan perdagangan Gujarat dengan Minangkabau yang melalui pantai barat. Akibatnya, kesultanan Aceh yang sedang mekar berusaha memikat perdagangan emas Minagkabau untuk dirinya sendiri, agar sultan-sultan Aceh bisa bertindak sebagai perantara dalam perdagangan bilateral emas dan kain berharga. Pelabuhan emas Pariaman merupakan pelabuhan pertama di pantai barat Minangkabau yang diikutsertakan dalam pengembangan sistem monopli Aceh, dan pada kira-kira tahun 1575 salah satu putra sultan diangkat sebagai panglima disitu, sekaligus mengawasi pelabuhan kota tengah. Di bawah sultan Iskandar  Muda (1607-1636) semua orang asing dilarang memasuki daerah pelabuhan dan sultan menuntut lima belas persen upeti untuk semua emas yang diekspor, selain menetapkan harga untuk sisanya.[9]

 

            Pedagang emas Minangkabau sering adalah wiraswastawan terkemuka, yang mengandalkan sistem politik Tanah Datar untuk memberikan perlidungan apabila ia membawa kafilahnya yang terdiri atas seratus orang lebih berjalan menuruni lereng berbatu pegunungan barisan. Mayoritas ini terdiri dari atas orang-orang yang membawa bekal perajalanan dengan diikatkan diatas kepala atau punggung mereka, dan jumlah mereka bertambah untuk perjalanan yang manakala mereka perlukan untuk mengangkut barang-barang yang diperlukan di pedalaman seperti besi dan kain. Setiap orang bisa mengangkut beban seberat lima puluh sampai enam puluh pon. Setelah tiba di pantai, si pedagang akan mendapatkan bahwa pelabuhan-pelabuhan laut yang utama di negerinya telah berada di tangan orang lain, dan dia sendiri hanya sebuah mata rantai dalam jaringan dagang yang bermula di bagian-bagian lain di samudra Hindia ini berlaku baik untuk pantai timur, dengan angkatan air yang lebih mudah, maupun pantai barat. Para penguasa politik di Minangkabau berusaha menjaga kondisi jalan dan mendorong pegadaan tempat berteduh dan menginap di sepanjang jalan bagi kafilah emas, dan sebagai imbalan mendirikan pos cukai di pintu-pintu masuk Tanah          Datar, di tempat tertentu di celah gunung atau di hulu sungai, dan menaikkan pajak dagang , dengan pajak tertinggi untuk emas, semua kegiatan perpajakan juga menurun, dan keluarga raja hanya mendapat penghasilan dari tiga pos cukai, karena tidak pernah memiliki tanah pusaka. Pada akhir abad kedelapan belas harta kekayaannya telah mencapai titik nadir.

 

            Mengetahui pedagang emas pengetahuan kita juga sama terbatasnya. Namun, masalah utamanya adalah bahwa, karena mereka semua bekerja di skala kecil, tidak pernah muncul pedagang emas besar, karena sistem perdagangan yang berhubungan langsung dengan kegiatan pertambangan skal kecil. Seperti sang tua-tambang, pedagang emas merupakan komponen khusus dalam tim penambang, yaitu seorang yang bisa mengatur sekelompok pengangkut dan melindungi mereka.

           

            Di antara mereka yang mengusahakan ini, yang paling cerdas yang diberi sebutan saudagar atau pedagang, dipercayai oleh yang lain untuk menyimpan emas yang telah dikumpulkan, dan membawanya ke tempat-tempat dagang di sungai-sungai besar di sebelah timur, atau ke tempat permukiman di pantai barat, dimana mereka menukarkan emas dengan besi (yang banyak dipakai untuk pembuatan alat-alat untuk menggerakan pertambangan), candu dan barang-barang halus dari Madras dan Bengali, yang mereka bawa kembali dalam jumlah besar … mereka menggendong beban yang beratnya kira-kira delapan puluh kilo pon, menembus hutan, menyebrangi sungai, dan mendaki gunng; rombongan umumnya teridri dari seratus orang atau lebih dan sering haru membela miliknya terhadap keinginan untuk merampok dan memeras yang ada pada bangsa-bangsa miskin, yang daerahnya mereka harus lalui.[10]

 

Intinya, tidak banyak dapat dikatakan mengenai jumlah emas yang diekspor dari Minangkabau tengah dalam masa jaya perdagangan emas, juga sedikit sekali informasi handal yang dapat diberikan mengenai hasil permintaan lain yang ada di Minangkabau. Pada umumnya barang yang ditukar derngan emas adalah kain dan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Belanda, terutama Padang sesudah tahun 1665, hanya emas yang bisa ditukarkan dengan kain, demi meningkatkan perdagangan kain yang diusahakan oleh perusahaan Belanda. Sukar memperkirakan besarnya permintaan kain atau karena statistik Belanda selalu harus dilengkapi dengan impor pedagang yang berasal dari muslim India di pantai timur dan juga yang dilakukan oleh orang-orang Aceh dan kemudian orang Inggris di utara Pariaman – perdagangan yang sulit dihentikan oleh orang Belanda.

 

Dalam jaringan perdagangan Minagkabau, kunci  hubungan antara penjual di pedalaman dan pemasok asing untuk barang-barang impor adalah sistem pialang pantai, yang telah berkembang dari tempat-tempat dimana jalur dagang dan daratan bertemu di tempat berlabuh yang baik dan aman. Pada awal abad-abad perdagangan emas tempat keluar masuk barang yang utama di pantai tidak diragukan lagi adalah Pariaman, dan Pariaman mempertahnkan kedudukan ini terus sampai pertengahan abad ke tujuh belas, yang meyebabkan seluruh pantai dikenal sebagai”pantai Pariaman”. Ada pemukiman pantai lain yang lebih kecil di tempat pertemuannya jalur dagang dari pedalaman dengan pantai, misalnya Tiku, Ulakan, kota Tangah dan padang, tetapi dari rute, yang salah satunya berasal dari daerah Rao Minangkabau utara, daerah penghasil emas yang penting. Bagaimana jalannya sistem dagang di pelabuhan-pelabuhan ini tidak diketahui sampai abad ketujuh belas, tetapi pelabuhan-pelabuhan ini sendiri tampaknya didirikan dan dikemabangkan oleh orang-orang dari desa atau desa-desa tertentu di dataran tinggi, untuk memajukan kepentingan dagang mereka sendiri. Kota tengah misalnya. Didirikan oleh imigran dari sanignbakar di tepi danau Singkarak, sebuah desa di salah satu rute emas, dan padang didirikan oleh emigran dari dataran Solok. Pariaman berasal dari desa-desa di daerah Batipuh, dan dianggap memiliki landasan kerajaan.[11]

 

Pariaman selain memberikan fasilitas untuk perdagangan emas dan kain, juga mengumpulkan kamper, kemenyan, lilin dan madu yang berasal dari daerah di utara air bangis, kuda dari tanah Batak, sering merupakan ekspor yang penting ke Jawa Barat, dan minyak kelapa dari pulau-pulau seberang pantai barat. Pariaman juga begantung karena, berbeda dari kota pelabuhan lain, memiliki tanah yang baik di pedalaman untuk ditanami padi, tapi karena kekurangan tenaga maka didatangkanlah budak-budak dari pulau-pulau, dan dengan demikian berkembanglah perdagangan budak, terutama dengan pulau Nias. Kekurangan beras uga diatasi dengan sumber ini.[12]

Akhirnya, untuk pertama kali daerah Minangkabau menjalankan peran baru, dan mulai mengejar keberadaan yang berbahaya sebagai pedagang penghasil suatu komoditi pertanian untuk pasaran asing. Komoditi yang dimaksud adalah lada. Pembahasan mengenai mengenai mulainya penanaman lada di pantai penting bagi kita, tidak saja karena perubahan-perubahan yang ditimbulkannya dalam hakekat sistem perantara di pantai, tapi juga pengalaman petani kopi Minangkabau pada awal abad kesembilan belas, dan perbandingan kedua kasus akan membantu kita memahami bahwa masalah-maasalah yang dihadapi para petani yang terlibat dalam produksi hasil tanaman dagang untuk pasaran asing bukan semata-mata perkembangan abad kesembilan belas.

 




[1] K.H. Saifuddin Zuhri : “Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia”, Bandung 1981,    hlm. 175

 

[2] Ibid., hal 177

[3]  H. Agus  Salim: “Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia”,Jakarta 1962.

 

[4] K.H. Saifuddin Zuhri : “Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia”, Bandung 1981,    hlm.185

[5] Cristine Dobbin:”Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah, Sumatra Tengah”. Jakarta 1784-1847 1992 hlm 69

[6] Ibid., hal 70

[7] Ibid., hal 71

[8] Ibid., hal 74

[9] Ibid., hal 75

[10] Ibid., hal 81

[11] Ibid., hal 84

[12] Ibid., hal 85

    • Anda
    • Juni 5th, 2008

    Assalamu’alaikum.

    Rancak bana tulisannyo. Tapi, mengapa hanya hanya mengandalkan buku Dobbin? Akan lebih baik seandainya direvisi dengan menambahkan sumber-sumber terbaru,khususnya buku-disertasi Gusti Asnan tentang pantai barat Sumatera. Untuk kepustakaan klasik, saya sarankan membaca buku John Bastin mengenai kebijakan Raffles di kawasan pantai barat Sumatera selama pendudukan Inggris.

    Saya tunggu up date-nya.

    Terima kasih.

  1. Walaikumsallam.
    Terima kasih sudah memberikan tanggapan, tanggapan saudara Anda sangatlah berarti bagi penulis.
    Insya Allah jikalau ada waktu saya akan meng up date nya.
    memang soal buku Dobbin, waktu itu saya hanya melihat dari satu perspektif saja yaitu buku Dobbin tersebut.

    Sekali lagi, terima kasih. :D

    • deti
    • Desember 22nd, 2010

    tau ga strategi untuk menyelesaikan konflik persepsi keorisinalitasan agama islam antara islam pedalaman dgn islam pesisir???

  2. Great write-up, I am regular visitor of one’s blog, maintain up the excellent operate, and It is going to be a regular visitor for a long time.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: