Konflik Budaya Dan Budaya Konflik

Sudah 65 tahun Indonesia merdeka. Sudah 82 tahun sumpah pemuda dirayakan, dan sudah 102 tahun kebangkitan nasional diperingati. Semuanya sudah (finish) untuk acara simbolis dan seremonial, tapi belum untuk ‘sudahnya’ stabilitas ekonomi, politik, sosial dan budaya di negeri ini. Etos konflik adalah musuh besar bangsa ini, dimana ia mengakibatkan belum sudahnya stabilitas-stabilitas pembentuk peradaban maju bangsa Indonesia.

Indonesia telah diperintah oleh berbagai gaya tipe pemerintahan, mulai dari yang demokrasi liberal-terpimpin-pancasilaistis dan kembali ke demokrasi liberal. Demokrasi liberal saat ini dapat digolongkan sebagai demokrasi yang sangat liar, ia adalah antitesa dari lika-liku pemerintahan ini. Demokrasi yang sebelumnya tentu juga mengalami lika-liku pemerintahan. Misalnya tatkala di masa Soekarno kekuatan parlementer yang lebih ‘ganas’ tak pelak menjadi lika-liku akan hadirnya konflik, dimana pada saat itu ia hadir sebagai pengubah jalannya sejarah Indonesia. Saat demokrasi pancasila dibawah Soeharto juga begitu, konflik dengan jalan underground juga merajalela, dan klimaksnya adalah saat kotak pandora itu dibuka saat Soeharto lengser ke prabon, dan mengakibatkan konflik meliar dan merajalela seantro Indonesia.

Konflik di Indonesia adalah perubah sejarah, berbeda dengan negara lain yang maju, perubah sejarah negara maju adalah kemajuan (progress). Sebaliknya Indonesia pengubah sejarahnya adalah konflik. Tak pelak lagi konflik adalah identik dengan Indonesia, dan Indonesia adalah sejarah tentang konflik.

Logika anak SD pasti berjalan saat mereka menonton Month In April (HBO Films), film yang berdasarkan kisah nyata ini berceritakan tentang genosida (pembunuhan massal) antara suku-suku di Afrika. Kesimpulan yang mereka dapat setelah menonton film ini adalah Afrika tidak maju karena mereka selalu perang saudara dan membuat negara mereka  menjadi tidak aman. Sangat simpel sekali jawaban yang mengandung solusi dari anak SD tersebut. Begitu pula dengan Indonesia, negara ini tidak maju-maju karena saking banyaknya konflik yang implikasinya membuat negara menjadi tidak aman. Konflik yang hadir seakan-akan membuat peran polisi dan institusi keamanan di negara ini hanya sebagai simbolis belaka. Bisa dilihat ada jenis konflik suku, konflik tanah, konflik institusi, konflik kampung, konflik politik, dan yang paling aneh adalah konflik-konflikan dari para elit kita dengan tujuan mencari sensasi dan pencitraan.  Dan setelah reformasi jumlah konflik ini tiap tahun terus bertambah dan semakin massive disetiap  daerah. Jadi tidak heran konflik yang hadir di Indonesia ini menghambat stabilitas untuk kemajuan. Yang pada dasarnya stabilitas adalah kunci utama untuk negara ini bisa berkembang dan  maju.

Yang paling miris di Indonesia ini adalah tentang konflik budaya. Ada yang menyebutnya perang saudara. Konflik ini adalah indikator bobroknya negara ini, bagaimana bisa negara bersikap lengah terhadap konflik yang satu ini. Konflik budaya hadir karena tidak meratanya sosialisasi persatuan dan kesatuan yang ditanamkan di pendidikan di sekolah-sekolah, tidak meratanya pendapatan ekonomi, tidak berjalannya fungsi keamanan di daerah konflik tersebut, tidak bekerjanya motto orang Indonesia sebagai negara gotong-royong yang ramah yang selalu kita bangga-banggakan, tidak pekanya sistem perwakilan rakyat yang harusnya menjadi tempat aspirasi masyarakat, dan indikator ini adalah cerminan lumpuhnya negara sebagai wadah pengatur jalannya nasib individu per individu.

Tatkala indikator berfungsinya sebuah negara cacat dan tidak bekerja sepenuhnya, maka tidak heran pula fungsi-fungsi negara lainnya yang tidak menjadi indikator juga cacat dan tidak bekerja secara efektif. Ibarat jalanan macet di ibukota, konflik-konflik budaya Indonesia membuat  negara ini menjadi macet/lumpuh, membuat negara ini kaya akan peraturan tapi minim dalam pengaplikasian.

Tak bisa disanggah lagi bahwa konflik budaya (konflik suku, konflik etnis, dll) di Indonesia hadir saat diterimanya budaya konflik sebagai pemecah masalah yang urgen (the urgent of problem solver). Budaya konflik adalah saat dimana, konflik menjadi solve maker (penyelesaian) dalam masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik. Dan budaya konflik ini adalah akibat dari sejarah kita yang selalu menciptakan konflik sebagai era baru dalam pemerintahan. Kita kenal Indonesia merdeka hadir dari selesainya konflik dengan Belanda 27 Desember 1949, era demokrasi terpimpin hadir dari selesainya konflik antar partai-partai yang saling berkonflik yang dikerdilkan menjadi NASAKOM oleh Soekarno, era Soeharto hadir saat selesainya konflik orang komunis dan sipil yang klimaksnya dibantainya orang-orang komunis sebanyak ±300.000 orang(?), dan era reformasi hadir saat terakumulasinya konflik-konflik dari tahun ke tahun akibat negara yang zalim dan diktator.  Sehingga dapat dikatakan konflik budaya yang marak di Indonesia belakangan ini adalah suatu hal yang gawat, dan budaya konflik tentu lebih gawat lagi karena ia induk hadirnya konflik-konflik di Indonesia.

Ironis sekali apabila kita lihat budaya konflik (gemar berkonflik) dan konflik budaya (konflik antar masyarakat yang beda budaya) selalu jadi santapan kita di media-media, tidak heran anak-anak bangsa yang masih belia juga memandang konflik menjadi sesuatu yang tabu dan tidak aneh lagi. Kekuatan yang membiarkannya inilah yang menjadi pemicu bagaimana negara ini tak maju-maju, bagaiamana tidak konflik dan budaya ini terus dilestarikan dengan apik di media nasional. Sehingga dapat dikatakan pemberitaan konflik ini menjadi ajang pembiasaan dan ajang penjiplakan (copycat), dan bukan ajang penghindaran. Aneh memang, tapi begitulah kenyataan di negeri ini. Jadi tidak salah apabila kita membaca buku Sejarah Indonesia Moderen tulisan M. C. Ricklefs yang setebal ± 1.000 halaman itu isinya hanya tentang konflik saja, baik itu dengan orang internal dan eksternal.

Intensitasnya budaya kontemporer yang telah chauvinism, yang telah rasis, yang telah apatis menandakan telah terbengkalainya fungsi negara untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di masa orde baru persatuan sangat patuh karena dididik dengan jalan yang otoriter, tapi tidak memiliki kontiniunitas hingga saat ini. Jadi dapat dikatakan misi suci kita saat ini adalah memnggalang persatuan dan kesatuan ini lagi, maka dari pada itu tugas berat selanjutnya dari pemerintah adalah bagaimana membangun pendidikan berbudaya yang baik didaerah-daerah, menguatkan fungsi HANKAM yang lebih efesien, meredusir gesekan-gesekan budaya lokal dengan sosialisasi human approach (bukan robot approach/sosialisasi robot dengan manusia),  mengoptimalkan fungsi organisasi-organisasi lokal yang berbasis suara terbuka, dan yang lebih penting adalah ketegasan dari pemerintah (dalam hal ini kepala negara) untuk lebih sigap dan tangkas mengatur bawahannya.

Negara berkembang tidak akan maju apabila masih memiliki konflik dan tak  adanya stabilitas. Begitu pula dengan Indonesia yang identik dengan konflik, ia tidak akan maju apabila sejarahnya masih diisi dengan tema-tema konflik. Milikilah stabiltas, hindari konflik, dan sejarah Indonesia tidak akan membosankan lagi dengan cerita-cerita konflik, melainkan Indonesia akan menjadi negara yang gilang-gemilang melalui cerita-cerita sejarahnya. Dan hanya tuhanlah yang tahu kapan saat gilang-gemilang itu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: