T O E R I E V O L U S I D A R W I N, I S L A M
&
E P I S T I M O L O G I S
oleh: Hendriko Firman
Benarkah teori Darwin merupakan sebuah teori? Hal ini menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang berpandangan agamais dan menganut paham teori penciptaan (Universal Creation). Terlepas dari itu semua kaum ini secara monoton hanya melihat bahwa teori Darwinian hanyalah sebuah bualan. Percaya atau tidak, yang jelas dari sudut keilmuan kita harus melihat apakah teori ini siap untuk dibenarkan atau pun teori ini benar ilmiah. Lebih jelasnya kita akan membahas teori Darwin ini secara bertahap.
Idea tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling dapat teori. Darwin (1858) mengajukan dua teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. [1] Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru. [2]
Lebih lanjut Darwin mengatakan:
“In considering the Origin of Species, it is quite conceivable that a naturalist, reflecting on the mutual affinities of organic beings, on their embryological relations, their geographical distribution, geological succession, and other such facts, might come to the conclusion that each species had not been independently created, but had descended, like varieties, from other species. Nevertheless, such a conclusion, even if well founded, would be unsatisfactory, until it could be shown how the innumerable species inhabiting this world have been modified, so as to acquire that perfection of structure and co adaptation which most justly excites our admiration. Naturalists continually refer to external conditions, such as climate, food, &c., as the only possible cause of variation. In one very limited sense, as we shall hereafter see, this may be true; but it is preposterous to attribute to mere external conditions, the structure, for instance, of the woodpecker, with its feet, tail, beak, and tongue, so admirably adapted to catch insects under the bark of trees. In the case of the mistletoe, which draws its nourishment from certain trees, which has seeds that must be transported by certain birds, and which has flowers with separate sexes absolutely requiring the agency of certain insects to bring pollen from one flower to the other, it is equally preposterous to account for the structure of this parasite, with its relations to several distinct organic beings, by the effects of external conditions, or of habit, or of the volition of the plant itself”.[3]
Dimana Darwin berkesimpulan bahwa di dalam teorinya terkandung bahwa:
- Spesies yang hidup saat ini berasal dari spesies lain yang hiudp di masa lampau
- Dan evolusi terjadi melalui seleksi alam.
Lebih jelas Darwin mengatakan:
“As the late Edward Forbes often insisted, there is a striking parallelism in the laws of life throughout time and space: the laws governing the succession of forms in past times being nearly the same with those governing at the present time the differences in different areas. We see this in many facts. The endurance of each species and group of species is continuous in time; for the exceptions to the rule are so few, that they may fairly be attributed to our not having as yet discovered in an intermediate deposit the forms which are therein absent, but which occur above and below: so in space, it certainly is the general rule that the area inhabited by a single species, or by a group of species, is continuous; and the exceptions, which are not rare, may, as I have attempted to show, be accounted for by migration at some former period under different conditions or by occasional means of transport, and by the species having become extinct in the intermediate tracts”. [4]
Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi yaitu seleksi alam. Seleksi alam ialah “process of preserving in nature favorable variations and ultimately eliminating those that are ‘injurious”.
Jadi secara keilmiahan dapat dikatakan bahwa teori Darwin dilihat dari sudut pandang epistimologis telah bisa dikatakan cukup baik. Lantaran toeri Darwin telah melewati tahap tahap dari siklus teori dan metodologi ilmu pengetahuan. Ini bisa dilihat dari isi bukunya yang banyak membahas dari sudut metodologi ilmu biology. Lebih lengkapnya kita harus melihat semua itu dari dua sudut metodologi yang berbeda karena hal ini tidak saja harus sinkron tapi juga harus punya dasar pijak yang akurat dan serta tidak subjektif ataupun terlalu kasusistis ataupun juga penelitian yang dilakukan ini di generalisasi.
Islam Dan Teori Evolusi Darwin
Di Indonesia khususnya kalau seorang membicarakan tentang teori Darwin maka yang terlintas dari pendapat mereka untuk beropini adalah dari perspektif Islam (bagi yang Islam) dan hal ini meyebabkan teori Darwin terlepas dari pemikiran axiology saja, tanpa pemahaman yang lebih dalam. Hal in sungguh sangat tidak sportif karena Islam lebih berada pada pendekatan yang bebeda. Menariknya bahwa teori Darwin selalu menjadi bahan perdebatan yang tanpa habis-habisnya baik itu secra asal-asalan ataupun secara ilmiah.
Islam secara khusus melihat bahwa manusia diciptakan dari tanah, atas penjelmaan Allah swt, hal ini bisa dilihat sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan :
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur!” (QS. As Sajdah, 32:7-9) [5]
disisi lain Darwin mengatakan bahwa manusia adalah makluk yang ada akibat akumulasi dari spesies lain yang mengalami seleksi alam dan berevolusi dengan waktu yang sangat lama. Sebagaimana ia paparkan:
“As species of the same genus have usually, though by no means invariably,
some similarity in habits and constitution, and always in structure, the
struggle will generally be more severe between species of the same genus,
when they come into competition with each other, than between species of
distinct genera”. [6]
Perbedaan pandangan ini faktanya hanya akan buang-buang waktu karena perdebatan tersebut tidak dalam level yang sama, apabila kita mengkaji dari dasar berpikirnya tentulah hal ini tidak akan menemukan sampai titik terang karena perbedaan cara melihat teori tadi.
Disisi lain secara ilmiah teori evolusi Darwin belum dapat dikatakan runtuh, sebelum ditemukan bukti-bukti empiris yang bertentangan dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan dalam teori itu masih dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak kalangan masih meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agama, seperti yang disebutkan di atas.
Apalagi khususnya saat ini di Indonesia yang mengalami kebanjiran buku-buku Islam yang diproduksi Dr. Harun Yahya yang “menyerang” teori Darwin. Dari segi teologis ada kekuatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari kehidupan lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan :
“Siapapun yang mencermati pembantaian, pembunuhan, dan penderitaan yang sengaja ditimpakan terhadap manusia oleh orang-orang Komunis, Nazi, atau Kolonialis, akan bertanya-tanya bagaimana para pendukung berbagai paham ini (teori evolusi Darwinisme) dapat menjauhkan diri mereka sendiri dari sifat-sifat yang umumnya ada dalam diri manusia. Alasan satu-satunya dari kebiadaban dan penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin ini adalah hilangnya agama dalam diri mereka dan ketiadaan rasa takut kepada Tuhan. Manusia yang takut kepada Tuhan dan memiliki keimanan yang mantap kepada hari akhir, sudah pasti tidak akan mampu melakukan segala bentuk penindasan, kejahatan, ketidakadilan, dan pembunuhan sebagaimana yang telah kami paparkan. Selain itu, betapapun ia dipengaruhi, seseorang yang beriman kepada Tuhan dan hari akhir tidak akan pernah terseret untuk mengikuti ideologi yang sedemikian menyesatkan”.[7]
Di sisi lain Harun Yahya juga mengatakan bahwa, penyebab dari segala penindasan dan berbagai ideologi yang menyengsarakan manusia lantaran hanya perbedaan ideologi adalah akibat ulah dari teori evolusi Darwin yang sesat. Lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan:
“Banyak yang tidak menyangka atau malah tidak percaya bila Darwinisme turut memberi spirit dan kontribusi atas berbagai ideologi besar yang lahir di dunia ini. Nazisme, Fasisme, Komunisme, Liberalisme dan Kapitalisme, adalah beberapa diantaranya. Ideologi-ideologi ini, yang merupakan penghasung pemujaan pada atheisme dan materialisme, secara sadar telah menyandarkan diri pada ‘konsep ilmiah’ dari Darwinisme. Para penggagasnya merasa mendapatkan pembenaran ilmiah atas berbagai tindakannya yang membawa bencana dan kesengsaraan bagi ummat manusia. Pembunuhan, penyiksaan, perampasan, pelecehan hak dan kehormatan atas bangsa dan pihak berseberangan dianggap sebuah tangga titian menuju kejayaan. Kebanggaan dan kejumawaan atas ras dan ideologi menjadi pendorong penindasan dan penistaan. Yang lemah harus menyingkir dan menjadi budak mereka yang kuat. Penerus generasi dan peradaban adalah mereka yang kuat, sementara yang lemah harus rela untuk lenyap dan tenggelam dalam catatan sejarah. Demikianlah, suka atau tidak, inilah keniscayaan hukum alam yang mesti diterima. Keniscayaan yang menjadi ruh evolusi yang dikemukakan Darwin”. [8]
Namun Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan “Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas. Kita menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat di balik semua gerakan evolusi itu…”.[9] Tentang prinsip survival of the littest (?), Bagir justru membenarkannya dan kita harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alqur’an. Dingin dari dari dua sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis.[10] Tentunya dari kajian bagir, kita harus melihat pula bahwa dari penafsirannya di dalam ayat Alqu’an mana yang secara implicit atau eksplisit bahwa kandungan dari teori Darwin tidak bertentangan, tentunya hal ini menjadi lebih complicated lagi.
Seyongyannya seperti yang saya telah katakan tadi bahwa tidak bisa kita menemukan padanan atau titik terang yang pasti antara ilmu yang dipandang dari sudut epistimologis (metodolgi) dan ontology (nilai) dengan komparasi Islam yang menggunakan axiology (ada/being) dimana cara penafsirannya menggunakan wilayah metafisika, wilayah diluar kerangka otak manusia. Dan pasti tentulah tidak kita ketemukan koorelasinya. Tulisan ini bermaksud ingin menjelakan secara objektif dan tidak bermaksud berpihak kepada landasan berpikir manapun, dimana hal ini tentunya waktulah yang nantinya menjawab. Inti dari semua ini bahwa keputusan ada di diri kita masing-masing, dimana letak dan pemahaman kita tentu berbeda-beda maka tentu berbedalah pula cara kita menyimpulkannya.
***
DAFTAR KEPUSTAKAAN
– Al-Qur’anul Karrim.
– Charles Darwin. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. 1859. Penguin Books. London.
– Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. 2002. Global Cipta Publishing. Jakarta.
– Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.
– http://grelovejogja.wordpress.com
[1] Bambang Agus Suripto. Dalam grelovejogja.wordpress.com rakses pada minggu, 9 november 2008 pukul 18.32 WIB
[2] Charles Darwin. 1859. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. Penguin Books. London. Hal 16.
[7] Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. Global Cipta Publishing. 2002. Jakarta. Hal 37









Oktober 26, 2009 pukul 12:55 am
Barangsiapa yang meyakini teori evolusi maka dia akan menghadapi seribu pertanyaan dan dia akan gelisah karena harus menjawab setiap pertanyaan yang akan terus bermunculan. Dan barangsiapa yang meyakini teori penciptaan maka hatinya akan lapang dan tenang karena tidak akan ada pertanyaan yang akan muncul. Tolong koreksi jika pernyataan saya salah.
November 6, 2009 pukul 8:22 pm
teori evolusi bukan untuk diyakini,krn bukan sebuah keyakinan/kepercayaan. yang bisa dilakukan pd teori adalah mengujinya/membuktikannya. lain halnya dg agama/keyakinan,kita meyakini/mempercayainya karena hal yg metafisik diluar jangkauan otak manusia. memang orang yg selalu mengotak atik mencari jawaban sesuatu hal yg misteri (secara ilmiah )adalah kerjaan yg sulit. tapi karena jasa mereka (para ilmuwan ) banyak hal yg bisa terkuak,dan bermanfaat bagi manusia.Dg begitu manusia akan lepas dari kebodohan dan kesesatan.