LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

Pada 1 april 1979, Ayatollah Rouhallah Khomaeini mengumumkan pembetukan Republic Islam Iran. Dengan demikian berhentinya dinasti kekuatan yang telah mengcengkram Iran selama 50 tahun dan dari pemerintahan bentuk monarki yang telah berada selama 2.500 tahun di sejarah orang orang Persia.

Latar Belakang

Fitur sebuah revolusi yang paling tidak bisa diragukan adalah interferensi langsung oleh rakyat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah. Pada saat-saat biasa, negara, apakah itu berbentuk monarkhi ataupun demokrasi, mengangkat dirinya sendiri di atas bangsa, dan sejarah dibuat oleh para spesialis dalam urusan semacam itu – raja, para menteri, birokrat, anggota parlemen, wartawan. Namun pada gerakan krusial itu, ketika tatanan yang lama tidak lagi bisa diterima oleh masyarakat, maka mereka akan menghancurkan hambatan yang membatasi mereka dari arena politik, mengesampingkan wakil tradisional mereka, dan menciptakan, dengan interferensi mereka sendiri, landasan kerja awal bagi sebuah rezim baru. Apakah hal ini baik atau buruk, kita serahkan penilaiannya kepada para moralis. Kita sendiri akan mengambil kenyataan sebagaimana yang mereka berikan dengan tingkat perkembangan yang obyektif. Sejarah sebuah revolusi bagi kita adalah menjadi prioritas dari yang lainnya, sebuah sejarah masuknya masa yang tidak bisa dihindarkan ke dalam tataran pemerintahan yang diperuntukkan bagi nasib mereka sendiri.
Hal seperti Trotsky diatas tepat seperti yang terjadi di Iran tahun 1979. Basis material dari Revolusi Februari terletak pada kemajuan kekuatan-kekuatan produktif dan perubahan yang telah dilakukan dalam kapitalisme Iran di seluruh periode sebelumnya. Shah kehilangan dukungan dari segenap kelompok massa, kaum petani, intelektual, kelas menengah dari berbagai lapisan dan kelompok yang paling berhawa jahat, tentara. Negara sendiri terguncang kerasnya pukulan godam yang dilancarkan massa. Hari demi hari demonstrasi terus menerus dan mobilisasi massa yang telah jauh melanggar batas kehidupan normal. Massa menyerang kedutaan Inggris dan Amerika sembari membakar ribuan bendera Amerika. Boneka patung Presiden AS Jimmy Carter dan Shah digantung ribuan kali menghiasi setiap pojok jalan setiap kota Iran. Shah menjadi simbol dari bercokolnya tatanan yang dibenci dan represi Savak yang berdarah.
Negara dalam analisis paling mutakhir, sebagaimana yang diterangkan oleh Marx dan Lenin, terlengkapi dengan lembaga angkatan bersenjata berupa barisan tentara dengan segenap peralatan dan senjata mereka. Dalam setiap masyarakat kelas, komposisi tentara dibentuk dari berbagai lapisan masyarakat yang beragam, dan merefleksikannya secara, kurang lebih, jujur. Di masa-masa biasa, angkatan bersenjata bercokol tak tertandingi, tak tertembus dan kompak. Bagaimanapun juga, selama masa revolusi, ketika angkatan bersenjata mengalami stres dan ketegangan yang hebat, maka dengan segera keretakan dan patah struktur mereka akan tampak membayang, dan akhirnya cenderung membelah sesuai dengan garis kelas pada momentum-momentum revolusi yang krusial. Kerekatan di tubuh tentara bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi.tergantung pada intensitas tekanan dari gerakan massa.
Di Negara Iran saat masih di belenngu oleh kekuatan digdaya (strong state), dimana perbuatan-perbuatan yang melanggar kepentingan masyarakat di gantikan dengan kepentingan pribadi dari penguasa-penguasa. Untuk lebih jauhnya kita akan melihat sebuah root problem dari revolusi Iran itu sendiri yaitu masalah minyak Negara.
Menjelang akhir abad ke-19 dan awal abad ke­20, investasi asing terus mengalir ke Iran, dengan partisipasi dari pemegang saham lokal dalam sektor vang paling modern seperti konstruksi jalanan, industri penangkapan ikan di Laut Kaspia, dan telegraf. Mayoritas barang manufaktur dihasilkan oleh pengrajin dalam sekelompok besar bengkel kerja-bengkel kerja kecil, tetapi juga ada perusahaan kecil vang terlibat dalara pemintalan karpet dan industri kulit serta juga sejumlah pertambangan serta toko penjual barang cetakan. Menurut suatu penelitian tentang periode itu, pabrik karpet terbesar adalah di Tabriz dan mempe­kerjakan 1500 karyawan.
Di tahun 1908, minyak bumi ditemukan di Barat Daya Khuzistan, dan pada periode yang sama pembangunan jalan kereta api menyebabkan tumbuhnya integrasi ekonomi. Hal ini, sejalan dengan konsentrasi kelas pekerja, menyuarakan kemenangan akhir dari relasi kapitalis di Iran. Pada periode kedua, imperialisme Inggris secara keji mengeksploitasi industri minyak Iran dan memetik keuntungan luar biasa dari situ. Antara tahun 1912 hingga tahun 1933 saja, perusahaan Anglo-Persian Oil Company (APOC) meng­hasilkan keuntungan 200 juta lira, dan cuma 16 juta lira saja yang dibayarkan kepada Pemerintah Iran dalam bentuk royalti langsung. Sedangkan antara tahun 1945 hingga 1950, APOC hanya membayar sebanyak 90 juta lira sebagai royalti terhadap pemerintah Iran, dan memperoleh keuntungan bersih lebih dari 250 juta hra.
Demikian skala produksi industri Iran hingga menjelang tahun 1920, mempekerjakan 20.000 karyawan, dan tahun 1940 telah mencapai 31.500 kar­yawan-salah satu konsentrasi terbesar di Timur Tengah. Pada akhir tahun 1925 Shah memberlakukan sebuah program untuk melindungi industri lokal dan untuk memberikan insentif negara bagi pengusaha swasta. Negara lebih mendasarkan diri pada penda­patan dari minyak bumi dan pajak, bukannya utang luar negeri. Berlawanan dengan dinasti sebelumnya, sebagian besar pendapatan dari minyak digunakan untuk pertahanan serta modernisasi negara Jan tentara. Selama masa 20 tahun kekuasaannya, Shah telah menghabiskan lebih dari 260 juta lira untuk industri. Setelah tahun 1930 kelompok-kelompok baru industri raksasa didirikan. Ratusan pabrik kecil dibangun, teru­tama yang bergerak dalam bidang tekstil, bahan makanan dan material konstruksi. Jumlah kelas pekerja meningkat secara radikal, seringkali terkonsentrasi di perusahaan-perusahaan besar. Dalara hal ini, Iran meniru kekaisaran Rusia pada awal periode pembangunan industrinya.
Kebanyakan pekerja sebelumnya bekerja di bengkel-bengkel kerja kecil, tetapi setelah pembangun­an pabrik penenunan tekstil di Isfahan, Kerman, Yazd, dan Teheran, jurnlah pekerja meningkat dengan mantap. Prinsip pembangunan ekonomi dan sosial yang tidak seimbang dan terkombinasikan menunjukkan kemajuan. Mengacu pada dominasi pasar dunia oleh imperialisme,proses industrialisasi di Iran tidak bisa dilaksanakan dengan cara klasik. Karena Iran adalah sumber energi yang penting, eksploitasi sumber daya minyaknya oleh imperialis Inggris mengarah ke bentuk pembangunan yang sangat terbatas dan timpang. Kapitalis Inggris hanya tertarik untuk mengamankan kepentingan mere­ka sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan industri menghasilkan pola pembangunan yang sangat tidak berimbang, dimana pendirian industri maju hanya terba­tas pada kota-kota besar-Teheran, Tabriz, Isfahan, Kerman dan beberapa pusat kota lainnya. Kebutuhan akan industri rninyak bumi mendorong dibangunnya industri maju di daerah Khuzistan-sebuah daerah yang belum pernah berubah selama berabad-abad-akan tetapi di kebanyakan wilayah negara itu masih tetap tertinggal. Kapital industri masih merupakan perke­cualian, bukan peraturan. Kapital komersial masih memainkan peranan yang dominan.
Distorsi ini memiliki arti bahwa hanya pola pembangunan yang terkombinasikan dan tidak seim­banglah yang rnungkin dilakukan. Bentuk sosial dan ekonomi yang paling maju dibangun beriringan dengan yang paling primitif. Seiringan dengan cahaya terang dari pabrik-pabrik petrokimia modern, ada cahaya lam­pu redup di desa-desa tanpa listrik. Di depan industri­industri yang menggunakan teknologi paling mutakhir, perajin kecil masih terus menggunakan metode yang tidak pernah berubah selama berabad-abad, bahkan mungkin bermilenium-milenium. Rumah-rumah mod­ern komplet dengan dapur ala Amerika berdiri kokoh di samping perkampungan kumuh dimana makanan dimasak di ata5 arang dan tungku kayu penuh asap.
Pada bulan Mei 1951 Mossadeq, yang didukung oleh nasionalis Iran, telah mengnasionalisasikan sumber minyak Negara. AIOC tiba-tiba diancam untuk menggugat beberapa perusahaan yang membawa minyak Iran. Kurangnya keahlian teknis untuk mengoperasikan ladang minyak dan dengan pemasaran dunia di perusahaan-perusahaan minyak, Iran bersaksi mengurangi produksi minyak secara mendadak. Sebagai pendapatan Negara pengurangan minyak membuat pendapatan menurun. Mossadeq segera memulai pertemuan ketidakpuasan. Dia menjadi tiba-tiba lebih dictator sebagai perdana menteri.
Pada juli 1953 mossadeq menghancurkan the majlis (DPR) dan di agustus mencoba tapi gagal untuk merampas semua kekuatan di pemerintah. pada 12 agustus Rheza shah telah memerintahakan pembubaran dan telah berjanji meminta nasehat kepada jenderal fazollah zahedi. Mossadeq menantang perintah dan menangkap pesan yang disampaikan itu. Walaupun shah dan keluarganya melarikan diri dari iran.
Pada hari beriktunya, bagaimanupun juga, unit loyal dari milter shah merancanakan sebuah serangan kudeta dengan dukungan tersembunyi, ini secara luas di percayai, di Amerika Serikat. Pada 18 Agustus, orang-orang loyalis menyerang, dan, setelah keberanian yang tajam di Tehran, mengalahkan semua unit militernya setia mossadeq. Hari berikutnya jendral Zahedi, yang telah bersembunyi, menggabungkan untuk mengambil alih pemerintahan. Pada 20 Agustus, Mossadeq menyerah, dan beberapa hari kemudian Shah kembali, mengakhiri periode dari perselisihan dalan sejarah perpolitikan iran yang telah menjadi pertanda untuk peristiwa yang akan terjadi di seperempat abad kemuadian.
Dari itu semua sampai revolusi iran, iran tingal sedikit lagi tidak mengikat kepada America serikat dan barat. Ini saat begabung dalam fakta Bhagdad di 1955 (kemudian CENTO) dan melihat America serikat sebagai pemasok senjata perang yang besar.

Politik Luar Negeri
Dibawah Negara republic Islam, iran telah menunjuakan antipasti ke America Serikat dan Uni soviet. Amerika serikat khusunya sebagai teman dekat para shah, dilihat sebagai personafikasi setan – dalam bentuk sekularisme barat dan neo-imperialis. Tapi rezim tak bertuhan Marxist dari uni soviet dilihat sebagai sedikit lebih baik. Pada tahun 1984 rezim itu secara sistematis mengeksekusi banyak dari pemimpin dari partai Marxist tudeh di iran. namun kedua Negara superpower itu senang dengan antipati iran tersebut.
Dari akhir kebiakan asing dari republic iran adalah pendirian dari superioritas moral dan bermaksud terbuka untuk meneyebar benih moral ke Negara lain. Dari 154 prinsip konstitusi iran menyatakan bahwa iran akan melindungi perjuangan yang lemah melawan sorang arogan dibagain manapun di dunia ini.
Kenyataannya seperti yang dikatakan oleh Farzin Vahdat bahwasanaya setelah revolusi Iran kita mengalami kontras dalam ekspektasi kita masing-masing terhadap negeri Iran. Ia mengatakan:
“In contrast to what might be expected after the triumph of a colossal revolutionary process and the establishment of a state deriving its power mainly from a strong ideological drive, in Iran the development of socio-political thought did not end withthe establishment of the Islamic Republic in 1979. Indeed, the post-revolutionary period has witnessed a proliferation of socio-political discourses articulated by groups and individuals inside and outside the country, notwithstanding censorship and attempts to control the flow of information by the government” .
Di sisi lain akibat dari pasca revolusi Iran wacana orientasi wacana berkembang pada akomodasi menuju pada kekuatan modern dunia salah satunya. Seperti yang di paparkan Farzin:
“Within the post-revolutionary religiously oriented discourses, more vigorous than the secular socio-political discourses, two distinct trends are visible. One of these trends consciously seeks accommodation with the forces of the modern world, to an extent unsurpassed by previous religious discourses in Iran, especially with regard toits gradual espousal of modern democratic principles. This trend is closely associated with the thought of Abdulkarim Sorush, the leading figure among a group of philosophers and social thinkers at the forefront of the reform movement in post-revolutionary Iran. He enjoys a large following among the relatively young and well-educated Muslims who seek a more open and democratic society in the post-revolutionary conditions of Iran”.

Lebih dari pada itu semua David E. Long mengatakan bahwasanya mengekspor revolusi adalah salah satu kebijakan iran di Negara-Negara di dalam regionalnya khusunya didaerah teluk.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN

– David E. Long & Bernard Reich. The Government and Pollitics of the Middle East and North Africa. United States. Westview press. 1986

–Farzin Vahdat Post revolutionary Islamic Discourses on Modernity in Iran: Expansion and Contraction of Human Subjectivity. dalam Middle East Stud.vol. 35. Cambridge University press. 2003.

–George Lenczowski. Timur Tengah di Kancah Dunia. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 1993.

– J. Bhahrier. Econonzics of Development in Iran. (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

– Lenin, The State and Revolution, The Essential Leftn Unwin Books. Moscow. (without year)

– Leon Trotsky, Results and Prospects (Peculiarities of Russia Historical Development), (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

http://www.marxist.com/indonesia/revolusi_iran2.html

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: