Buku: Salah Pilih

Judul Buku : Salah Pilih

Pengarang : N. S T. Iskandar

Penerbit : Balai Pustaka , 1928, Jakarta.

Novel Salah Pilih berceritakan tentang sepasang anak yaitu Asri dan Asnah, dimana mereka bersaudara sejak kecil, walaupun bersaudara tapi tidak bisa dikatakan besaudara kandung karena ibu Asri mengangkat Asnah sebagai anak angkat. Walaupun begitu mereka berdua masih memiliki hubungan darah.

Pada saat remaja Asri dan Asnah berpisah, Asri melanjutkan pendidikannya ke Betawi untuk melanjutkan sekolah. Asri bersekolah di MULO (setingkat SMP). Pada saat Asri dan Asnah telah beranjak dewasalah mereka berdua bertemu kembali. Mereka berdua yang telah lama tidak bertemu akhirmya menjadi akrab kembali. Tapi lambat-laun, kondisi mereka yang sebelumnya hanya sebatas persaudaraan saja, tapi saat beranjak dewasa hal itu berubah 180 derajat. Di dalam perasaan meraka masing-masing antara Asri dan Asnah timbul rasa saling berkasih-kasihan. Tapi karena mereka bukan berada pada beda suku, sehinggalah mereka tidak bisa menikah karena mereka sesuku dan satu kaum pula.

Akibat cinta yang tidak bisa dipertemukan ini, Asri menikah dengan seorang wanita bangsawan yang dimana keluarga mereka masih menggunakan dan mempertahankan adat lama.

Namun sayang pernikahan Asri dengan wanita bangsawan yang bernama yang bernanama Saniah itu tidak berjalan dengan semestinya. Mereka sering terjadi percekceokan. Dan pada akhirnya Saniah meninggal akibat kecelakaan karena ia ingin kabur dari Nagarinya. Saat dia kabur Saniah menggunakan mobil, dan mobil itu masuk ke jurang.

Pada akhirnya, Asri dan Asnah menikah dan karena hukum Minangkabau tidak membolehkan mereka untuk menikah, akhirnya dalam keadaan itu mereka pindah ke Jawa untuk memulai hidup baru. Tapi beda kondisi mereka di nagarinya, kehidupan di Jawa lebih membahagaiakan bagi mereka berdua.

Pada saat telah merasakan hidup yang indah dan tentram di Jawa, tiba-tiba datanglah kunjungan dari orang nagari yang berkunjung ke rumah Asri dan Asnah. Dalam kunjungan itu orang kampung mengatakan bahwa sebaiknya mereka berdua pindahlah ke kampung. Karena pada saat itu Asri telah menjadi orang terkenal akibat ke intelektualannya. Sehinggalah akhirnya mereka pindah ke kampung kembali, sesampai di kampung masyrakat Nagari menyambut mereka dengan meriah. Dalam keadaan seperti itu Asri mendapat jabatan penting dari masyrakat. Dan masyarakat pun mengharapkan bimbingan Asri.

Nur St. Iskandar adalah penulis yang pandai membawa pembacanya hanyut dalam emosi, disini ia menggunakan gaya bahasa yang baik walaupun pada dasarnya masih banyak kata-kata lama yang sudah sering tidak diperdengarkan lagi. Tapi akibat gaya bahasanya inilah penulis mendapatkan karakter dari tulisannya.

Menarik untuk dikaji adalah novel ini memberikan suatu gambaran sejarah masa lampau yang sangat baik. Dimana disini gambaran khusus dari novel ini juga ditunjukan seperti adat- istiadat dan kebiasaan-kebiasaan lampau pada masa itu .

Novel Salah Pilih sesuai namanya, sangat jelas memberikan suatu citra bahwa kejadian-kejadian yang kita alami khusunya para pembaca bisa mengkritisi dan lebih bijak mengambil sebuah keputusan. Sesuai dengan judulnya Salah Pilih memberikan sebab dan akibat apabila kita terjerumus ke dalam masalah yang apabila hanya menggunakan perasaan sesaat saja atau tidak menggunakan akal pikiran yang jernih, hal ini bisa dicontohkan oleh kasus Asri yang ingin menikahi Saniah karena terdorong atas restu dan ajakan orang-orang sekitarnya.

Sehingga bisa diipetik kesimpulan bahwa novel Salah Pilih ini adalah satu hal yang pasti yang akan terjadi dalam realitas hidup kita, dimana pembaca mengalami suatu kebimbangan, menghadapai suatu pilihan, dan satu kesempatan emas yang didepan mata tapi tidak bisa untuk didapatkan. Misalanya saja pembelajaran bahwa Asri yang mengidamkan cinta ke Asnah tetapi terbentur oleh sebuah sisten yang tidak berbcara tapi dapat dirasa.

***

Kerusuhan etnis di Ambon tahun 1999

Kerusuhan etnis di Ambon tahun 1999

Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999 telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat. Hingga 2 September 1991 setidaknya telah tercatat 1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195 ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang sudah meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya. Transportasi, khususnya transportasi udara, terhenti; harga-harga kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis; kegiatan pendidikan terhenti.[1]

A. Latar Belakang

Tidak ada yang tahu bahwa orang ambon sebagai daerah yang sangat sentral peranannya dalam masa kolonial belanda dulu, dimana daerah ini banyak digunakan sebagai agen tentara oleh kolonial. Sehingga tidak heran masih banyak orang ambon yang masih tidak ingin berintegrasi dalam Indonesia karena mereka sudah terlalu “enak” di ayomi oleh bangsa Belanda.

Pada saat sekarang bangsa Ambon banyak memeluk agama Islam dan Kristen. Jumlah pemeluk agama Islam sedikit lebih banyak, dan mereka umumnya lebih terampil dalam bidang perdagangan dan ekonomi umumnya. Sedangkan orang Ambon pemeluk agama Kristen lebih banyak memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri dan tentara.[2]

Sehingga tidak heran bahwa awal dari kerusuhan ini tidak lain berawal dari sentimen agama yang diprovokasi oleh masing-masing agama, mengingat kecenderungan di masing-masing agama sama banyak. Konflik pertama-tama dipicu oleh kejadian pertengkaran personal antara seorang sopir angkutan umum dan seorang pemuda yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat Ambon pada umumnya. Ada dua versi, dari Islam dan Kristen, yang beredar di masyarakat. Pertengkaran personal ini kemudian meluas menjadi pertikaian antar kelompok agama dan suku yang meledak menjadi kerusuhan.

Seorang saksi korban bernama Amir (bukan nama sebenarnya), warga Muslim di kampung Batu Merah Dalam, menyatakan bahwa sekitar pukul 15.30, 9 Januari 1999 dia tak memperhatikan sama sekali apa yang sebenarnya terjadi, karena pertengkaran kecil-kecilan antara warga Muslim dan Kristen sudah begitu biasa. Tapi pada pukul 16.00, serombongan besar massa datang dan menyerang. Mereka menyeberang jembatan dan masuk ke kampung dalam jumlah besar. Amir mengatakan dia tinggal di kampung Batu Merah seumur hidupnya, dan dia hampir mengenal semua wajah warga kampung itu. Tapi dia sama sekali tidak mengenal wajah orang yang memimpin rombongan besar massa penyerang itu. Dia yakin orang itu bukan orang Batu Merah. Sekitar lima orang di muka rombongan itu mengenakan kain putih pada lengan mereka. Amir lalu menelpon ke pihak polisi militer, tapi mereka menjawab bahwa mereka sudah menyerahkan persoalan itu ke polisi biasa. Mereka sendiri mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa, karena hari itu hari libur lebaran, tidak ada orang masuk kerja. Amir mengatakan, di antara rombongan massa itu dia melihat sekitar 10 orang intel berpakaian preman. Seorang di antaranya meletuskan tembakan ke udara, tetapi tidak ada hasil. Rombongan massa itu terus maju.

Rombongan massa berhenti di depan bengkel mobil yang terletak di bagian bawah dari rumahnya. Mereka rupanya menemukan kain-kain lap kotor berlumuran minyak. Mereka menyulut kain-kain itu, lalu dengan menggunakan parang-parang panjang, mereka menyulut bagian-bagian lain dari bengkel sehingga api masuk ke dalam rumah. Rumah Amir juga dibakar sampai rata dengan tanah, seperti semua rumah yang ada di Batu Merah. Orang-orang itu juga berteriak bahwa mesjid Batu Merah sudah dibakar, meskipun sebetulnya masjid itu belum tersentuh sama sekali.

Kerusuhan Ambon priode kedua yang diawali dengan pecahnya kerusuhan di pulau Saparua pada hari Kamis, tanggal 15 Juli 1999 menurut hasil investigasi sementara diakibatkan oleh dendam dan rekayasa pihak-pihak tertentu.

Setelah pecahnya kerusuhan di Desa Siri Sori Islam, Desa Ullath, Siri Sori Amalatu dan juga kota Saparua pada tanggal 15 dan 16 Juli 1999, maka pada hari Sabtu tanggal 24 Juli 1999 mulai terjadi kegiatan lempar-melempar batu antara pihak Muslim dan pihak Kristen di Desa Poka dan daerah sekitarnya Gang Diponegoro Kota Ambon.

Pristiwa saling lempar-melempar batu di sekitar Perumnas Poka tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembakaran atas rumah-rumah warga Kristen oleh warga Muslim di kompleks Perumnas Poka yang kemudian dibalas dengan pembakaran rumah-rumah termasuk rumah-rumah Dosen Muslim di Desa Poka dan Kompleks Universitas Pattimura oleh warga Kristen.

Bersamaan dengan itu warga Kristen sekitar Kudamati melakukan aksi pembalasan pembakaran dan pembantaian terhadap warga Muslim suku Buton di daerah Wara (Kramat Jaya) yang berada di sekitar Kompleks TVRI Gunung Nona dan perkampungan warga Muslim Banda Eli di OSM Ambon yang mengakibatkan beberapa buah rumah terbakar dan puluhan korban meninggal dunia.

Dari peristiwa ini kerusuhan mulai melebar ke mana-mana hampir di seantero Kotamadya Ambon dan daerah-daerah pinggirannya.

Dari hasil investigasi, ternyata mulai hari Selasa, tanggal 27 Juli 1999 kerusuhan pecah antara lain di Desa Rumahtiga (tetangga Desa Poka), dimana hampir sebagian besar rumah-rumah penduduk warga Muslim dibakar dan dimusnahkan oleh penduduk yang beragama Kristen. Demikian juga di Kompleks Pemda II dan Perumahan Pemda I terjadi pembakaran, pengrusakan dan penjarahan besar-besaran terhadap rumah-rumah warga Kristen oleh warga Muslim.

Sedangklan di kota Ambon pusat pertokoan di jalan A.Y. Patty mulai dari toko Dunia Musik bersebelahan dengan Mesjid Al-Fatah hingga lorong toko kaca mata Optical Maluku hingga Bank Lippo dibakar dan dirusak oleh masa Muslim, demikian juga beberapa rumah penduduk di Mardika. Sementara itu pusat pertokoan di sekitar pantai pasar ikan lama (belakang Ambon Plaza) dibakar habis oleh masa Kristen.

Kerusuhan akhirnya berlanjut di wilayah-wilayah lain seperti di Galala dan Hative Kecil, Lata, Lateri dan Passo hingga Desa Waai, bahkan di dalam kota Ambon masa Muslim yang datang dari Waihaong sempat menyerang dan membakar Kantor Wilayah Departemen Kehakiman Maluku, Kompleks Dok Wayame dan kapal yang ada di dalam kompleks tersebut serta rumah-rumah penduduk yang ada di sekitarnya.

Dalam kerusuhan ini seperti ada yang memberi komando, terjadi akumulasi masa secara besar-besaran seperti yang terjadi di Desa Poka, Rumahtiga dan Kota Jawa. Masa Islam dari Jasirah Leihitu sempat menyebrang gunung dan ikut bergabung dengan masa Islam di Poka, Taeno (Rumahtiga) dan Kota Jawa untuk menyerang warga Kristen. Demikian juga masa dari kota Ambon yang sempat bergabung dengan masa Desa Poka dan Desa Rumahtiga yang beragama Kristen untuk menghadapi masa Muslim.

Sayangnya aparat keamanan tidak bersikap jujur dan adil. Di Desa Poka misalnya aparat keamanan mencoba menahan warga Kristen yang ingin mempertahankan diri, sementara mereka membiarkan masa Muslim merusak, membakar dan menjarah rumah-rumah penduduk. Demikian juga di Tanah Lapang Kecil dari lantai atas Gedung Telkom aparat keamanan menembak masa Kristen di sekitar pasa kaget Batu Gantung (depan Sekretariat GMKI), malah memimpin permbakaran rumah, gedung pemerintah dan kompleks Dok Wayame di Tanah Lapang Kecil.

Dalam peristiwa kerusuhan kali ini ratusan bom dan senjata rakitan, juga alat tajam lainnya telah dipergunakan untuk membumihanguskan rumah-rumah penduduk dan membunuh serta melukai ratusan penduduk.

***

1. Koran & Artikel

Berita Utama, 26 Januari 1999

Human Rights Watch

Jakarta Post, 2 September 1999

2. Buku

Yayasan Sala Waku Maluku, Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islam di Ambon Maluku. Ambon, 1999.

Zulyani Hidayah, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta, PT Pustaka LP3S Indonesia, 1999.

3. Sumber Lain

Tulisan ini disusun berdasarkan hasil investigasi berbagai kelompok dan media massa: Tim Pencari Fakta dari Partai Keadilan cabang Ambon, Tim Penyusun Fakta Yayasan al-Mukmin di Jakarta, Asian Human Rights Watch di New York, KONTRAS, Tim Relawan (Tirus) di Ambon, Yayasan Sala Waku Maluku; Media massa: Mingguan berita “Umat”, mingguan “Sabili”, “Penabur”, “Tifa”, “Tempo”, “Tajuk”, “Detak” dan media internasional: Associated Press (AP), Reuters, Agence France Presse (AFP).


[1] Berita Utama, 26 Januari 1999

[2] Zulyani Hidayah, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta, PT Pustaka LP3S Indonesia, 1999. hal. 11

SEJARAH EKONOMI PEDESAAN

SEJARAH EKONOMI PEDESAAN

Sejarah ekonomi masih merupakan daerah yang relatif asing bagi sejarawan Indonesia, sekalipun sejarah ekonomi diajarkan di jurusan-jurusan sejarah. Di negeri-negeri barat sendiri sejarah ekonomi juga merupakan disiplin yang relative baru. Meskipun sejarah ekonomi sudah ditulis orang jauh sebelumnya, tetapi chair untuk sejarah ekonomi yang pertama di dunia baru ada di Harvard pada tahun 1892, dan chair serupa di Inggris baru ada pada tahun 1910. Sejarah ekonomi yang secara formal berdiri sendri lepas dari subordinasi pada sejarah politik itu ingin mencari maknanya sendiri dalam memperlajari corak dan penjumlahan dari hubungan manusia yang bersifat ekonomi, sosial dan budaya. Pada kurun-kurun sebelumnya political economy lebih berpengaruh dalam penulisan-penulisan sejarah ekonomi. Sejarah ekonomi yang telah melepaskan diri dari ekonomi politik terus berkembang dan mencapai puncaknya dalam studi yang semakin canggih, degan penggunaan metode qtguatitalis yang maju dalam gerakan the new economic history.

Di Indonesia kiranya masih perlu diperkenalkan sejarah ekonomi yang lebih konvesional banyak definisi sudah dikemukan oleh banyak sarjana, dengan batasan yang kurang lebih sama. Barry E. Supple dalam the experience of economic growth: case studies in economic history menulis sbb:

Economy history is the historical study of man’s efforts to provide himself with goods and services, of the institutions and relationship which resulted from those efforts, of the changing technique and outlooks associated with his economic endeavor, and of the results (is social as well as economic terms) of his striving, ot his failure to strike. [1]

Ekonomi pedesaan dan ekonomi petani tidak selalu searti, namun dalam tulisan ini, keduanya dipersamakan dan dapat dilakukan peristilahannya khusus untuk keperluan seminar sejarah lokal dengan cakupan dinamika pedesaan ini. Ciri-ciri ekonomi petani sebagaimana dikemukan Daniel thornier, seorang antropolog yang menganggap ekonomi petani sebagai sebuah kategori dalam sejarah ekonomi, ialah:

  1. Dalam bidang produksi, masyarakat terlibat dalam produksi agrarian;
  2. Pendudukanya harus lebih dari separuhnya terlihat dalam pertanian
  3. Ada kekuasaan Negara dan lapisan penguasaanya
  4. Ada pemisahan antara desa dengan kota, jadi ada kota-kota dengan latar belakang desa-desa
  5. Satuan produksinya ialah keluarga rumah-rumah petani.[2]

Ekonomi petani, menurut Thornier yang mengukuhkan pendapat ahli ekonomi Rusia. Charanov, tidak termasuk dalam salah satu kateogri sudah ada, hingga sepantasnya kalau ekonomi petani yang banyak tedapat di Negara-negera yang sedang berkembang itu mendapat tempat-tempat yang tersendiri. Ia juga tidak puas dengan semata-mata menyebut ekonomi petani sebagai perwujudan cara produksi Asia.[3]

Pertemuan antara ekonomi ekspor, baik melalui peraturan tanam paksa maupun perkebunan swasta pada abad ke-19, merupakan pertemauan antara dua cara produksi dengan akibat-akibat yang menarik perhatian sejarah ekonomi. Tidak kurang dari itu sebenarnya ialah pertemuan antara dua system ekonomi sebagai dikemukakan oleh Boeke sejak lama[4], yang sampai sekarang pun masih berlaku dalam pengeritian pengerian tertentu.

Sejarah ekonomi local sangat penting karena tiap-tiap daerah di Indonesia menempuh jalan sendiri-sendiri dalam perkembangan ekonomi. Perbedaan regional itu disebabkan oleh berbagai factor pertama, ada atau tidak adanya organisasi kenegeraan. Dalam hal ini perbedaan terjadi antara berbagai daerah yang disebabkan oleh corak kerajaan-kerajaan atau organisasi social setempat yang berbeda.

Pembatasan satuan wilayah dapat mempergunakan berbagai cara. Di antara kemungkianan itu ialah pendekatan wilayah produksi, wilayah pemasaran, wilayah penukaran, wilayah georgrafis, wilayah administrative dan wilayah adat.

Wilayah produksi dapat berupa daerah yang diliputi oleh produksi sejenis, seperti misalnya daerah nelayan dipantai utara Jawa, Sumatera Timur, dan sebagainya Madura yang menghasilkan garam sebagai satuan wilayah produksi. Dekat hubungan dengan wilyah produksi pemasaran. Di masa lalu, dapat dibayangkan, teknologi transportasi yang berbeda. Lingkaran pemasaran yang dengan lingkaran kereta api dan truk.

Selanjutnya, sangat penting dalam sejarah ialah satuan waktu dalam sejarah ekonomi, terutama yang mementinagkan soal pertumbuhan ekonomi, masalah tahapan perkembangan selalu menajdi perhtian yang utama. Tidak saja dalam skala makro kita dapat berbicara tentang system ekonomi atau cara produksi, tetapi juga dalam lingkup mikro.

Untuk penelitian sejarah, pendekatatn terhadap tahapan ekonomi tidak perlu harus menggunakan ukuran-ukuran ekonomi. Tahapan pertumbuhan ekonomi sebagaimana dikemuakan oleh Rostow dalam the stages of economi growth yang menggunakan ukuran produksitvitas sebagai kriteria untuk tahapan, [5] kiranya hanya dapat berlaku bagi masyarakat industrial, dan sedikti saja relevansinya dengan system ekonomi pedesaan atau petani di masa lampau. Dalam pendekatan Rostow, secara kasar masyarakat tradisional hanya disebutnya sebagai masyarakat tradsisonal, yang sedikti saja menjelaskan kompleksitas Rostow, secara kasar masyarakat tradisional hanya disebutnya sebagai masyarakat tradsisonal, yang sedikit saja menjelaskan kompleksitas ekonomi yang dibuat oleh Heilbroner lebih menjangkau masala lalu sejarah manusia.[6] Di kemukakannya tiga system ekonomi, ekonomi berdasarkan tradisi, perintah dan pasar.

Setelah kita mendaaptkan satuan wilayah dan satuan waktu, kita perlu juga memahami satuan permsalahan dalam sejarah ekonomi pedesaan. Permasalahan ekonomi pedesaan atau eknomi petani tentu tidak sama dengan ekonomi industrial atau ekonomi kota. Dalalm pengertian kita disini, ekonomi pedesaan memasukan juga ekonomi primitive sekaligus ekonomi petani, yang kedua-duanya masih terdapat dalam masyarakat dengan kerangka ekonomi pasar sekarang ini. Beberapa kemungkinan permasalahan yaitu tentang factor-factor ekonomi, sector-sector ekonomi, lembaga-lemabga ekonomi, komoditi, pertumbuhan, dan problem-problem.

Kentataannya sejarah ekonomi lebih banyak memerlukan penggunaaan teori, model dan konsep-konsep ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi sendiri. Model tentang pertumbuhan ekonomi, misalnya, akan mampu memerangkan peristiwa dan struktur secara jelas. Teori, model dan konsep itu dapat diambil dari ilmu ekonomi konvensional yang terutama sangat baik untuk menganalisa sector komersial dari organisasi ekonomi petani. Juga ilmu ekonomi konvensional dapat berguna dalam menghitung penampilan ekonomi baik yang primitive, petani, industry kapitalis, maupun industry komunis.

Bagi mereka yang melihat teori ekonomi murni dan statistic merupakan daerah terlarang, seperti sejarawan yang dihasilkan oleh fakultas-fakultas Sastra di Indonesia, sejarah ekonomi masih tetap terbuka. Seperti sudah disinggung, aktivitas ekonomi masih tetap merupakan aktivitas manusia, sehingga sejarah ekonomi pun tidak lepas dari setting sosial dari pengalaman manusia dan imajinasi manusia. Disini motif, nilai, dan sikap masih merupakan hal yang penting. Sejarah ekonomi dapat diletakan dalam kerangka sejarah interdisipliner.[7] Untuk keperluan itu dibawah ini akan dikemukakan berbagai permasalahan sejarah ekonomi pedesaan yang dibicarkan oleh ahli-ahli ilmu social di luar ilmu ekonomi.

SEJARAH EKONOMI PEDESAAN DAN TEORI SOSIAL

Sekalipun sejarawan akan menggunakan teori dalam penulisannya, tetapi sejarawan lain dengan teori social dalam banyak hal. Teri social hanya meneruh perhatian pada segmen waktu yang singkat, mengasumsikan bahwa system hukum dam politik tetap, sedangkan sejarawan terutama membicarakan periode yang lebih panjang dengan tekanan pada struktur institusional. Mengenai system pasar misalnya, sejarawan juga ingin melihat kekuatan-kekuatan apa yang ada di belakangnnya. Sejarawan mempelajari kondisi, struktur kelas dan kebijakan dari negera.[8] namun sejarawan juga menjadi teori social pada waktu ia membicarakan, dan memberi makna.

Penelitan sejarah eknomi semacam dualisme ini akan merupakan sumbangan bagi penilitan ekonomi yang dapat membantu memcahakan masalah-masalahnya, demikaian Fernan Braudel. Untuk kerpeluan itu sebuah dialog sejarah ekonomis dan ekonomi perlu diadakan. Meskipun demikian, menurut Clerk, yang sungguh tidak mungkin dan tidak diharapakan bahwa teori social dapat, menunjukan pada sejarawan apa yang di harus dicari, demikian pula sejarawan tidak dapat memenuhi sepenuhnya informasi apa yang diperlukan oleh teori sosial secara pasti. [9] dengan mengetahui sejarah pertumbuhan ekonomi disatu masa, ahli ekonomi dapat melihat waktu kontemporer dalam sebuah kerangka masa depan yang panjang, dan dapat mengeluarkan ahli ekonomi dari semata-mata pemecahan masalah ekonomi jangka pendek.

Akhirnya perlu sekali lagi ditekankan bahwa gejala ekonomi dan gejala politik adalah produk dari interaksi timbal balik kekuatan-kekuatan, yang sebagian bersifat ekonomi dan sebagaian no-ekonomis. Kiranya perlu disadari bahwa teori social tidak dapat lepas dari sejarah. Sensifitas ahli-ahli ekonomi memperhatikan juga segi-segi non ekonomis. Demikan pula sehrunya bagi sejarawan ekonomi dan ekonomi pedesaan terlebih lagi. [10]

***


[1] Berry E. Upple (ed.), the experience of economic growth: Case studies in economic history (new York: random House, 1963). Hal 4. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 94

[2] Daniel Thomas. Peasant economy as a category in economic history. Dalam shanin (ed). Peasants and peasant societies. Hal 203. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 95.

[3] Basile Kerblay, “Chayanov and the theory of peasantry as a specific Type of economy. Dalam Shanin (ed), ibid. , hal 154). Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 96

[4] Mungkin yang dimaksud oleh Kuntowijoyo adalah buku Boeke yang berjudul The Interest Of The Voiceless Far East, Introduction to oriental economics. Yang dalam bahasa Indonesia berjudul PRAKAPITALISME DI ASIA. (Sinar Harapan. Jakarta. 1983).

[5] Walt W. Rostow. The stages of economic growth (Cambridge: Cambridge University press, 1959). Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 99

[6] Robert L Heilbroner, The making of economic society (Englewood Cliff, N. J. Prenctice hall, inc, 1962). Chapter 1. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 100

[7] Cf. W. Ashworth. The study of m odern economic history. Dalam harte (ed) the study of econoi history. Hal 213. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 104.

[8] Taeney. The study of economic history. Dalam harte (ed). The study of economic history. Hal 102. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 107.

[9] Ferand Braudel. On history (Chicago: the university of Chicago press, 1980). Hal 83. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 110

[10] G. N. Clark. The study of economic history. Dalam harte (ed). The study of economic history. Hal 83. Dikutip dari Kuntowijoyo. Metodologi sejarah. (Tiara Wacana. Yogyakarta. 1994). Hal 111.

Fenomena Iklan Politik

Fenomena Iklan Politik

Oleh : Hendriko Firman**

Kalau kita melihat dan mengamati iklan televisi maka kita akan melihat berbagai produk- produk atau sesuatu yang diberikan pihak supplier. Sekarang hal tersebut memang wajar- wajar saja kita lihat, dimana ada pedagang dan ada pula yang diperdagangkan. Lantas karena banyaknya iklan di televisi akhirnya memberikan suatu pemahaman kepada pedagang bahwa iklan efektif menggaet konsumen. Maka dari banyaknya iklan yang menggaet para konsumen, maka tidak heran pula politik menjadi sebuah tool dan berpartisipasi juga. Maka politik hadir dalam iklan dan ia dinamakan iklan politik. Iklan politik yang kita lihat sekarang cukup riskan untuk ditilik dan sangat menggilitik sekali apabila dicermati.

Iklan politik kalau dilihat ia sangat egois, egois karena ia tidak memberikan bukti maka ia hanyalah sebuah iklan yang berdurasi kurang lebih 60 detik yang mencoba membual, menipu, dan membodohi yang berbeda sekali apabila kita lihat iklan-iklan komersil lain yang mana misalnya saja makanan A yang khasiatnya enak dan kenyang maka khasiatnya memang benar enak dan kenyang dimana janji dibayar dengan bukti. Contoh lain adalah produk pemutih wajah, apabila dipakai berangsur-angsur maka buktinya kulit nampak lebih putih. Sebaliknya kalaupun kita menerima produk partai (janji) secara perlahan-lahan melalui iklannya, maka yang ada hanyalah pembohongan permanen. Dan oleh karena itulah kenapa iklan politik dikatakan egois atau menang sendiri.

Pertanyaan yang menarik dari fenomena iklan politik ini adalah apakah iklan politik benar-benar mempengaruhi atau ia malah memunduri image-nya diri sendiri? Dasar berpikir seperti ini adalah yang pertama; apabila iklan politik hadir ditelevisi maka target yang dicapai adalah mempengaruhi sebagai konsep, karena si pedagang iklan beripikir bahwa masyarakat awam butuh sosialisasi, dan sosialisasi melahirkan pengenalan, dan pengenalan itu nantinya akan melahirkan pengkaderan ataupun vote gathering. Dalam teritori berpikir logika seperti ini hal itu memang sangat masuk akal dan apabila di kalkulasikan atau distatistikkan maka partai akan banjir badang menerima citra baik dan suara yang banyak dalam pemilu apabila melakukan iklan politik. Tapi sekarang masyarakat kita sudah cerdas dan bukan bodoh lagi yang begitu saja mentah-mentah menerima produk dari parpol, masyarakat bukan kerbau lagi yang rela dan nurut saja menerima produk-produk dari parpol, tapi masyarakat Indonesia sekarang adalah masyarakat yang lebih selektif dan berpengalaman. Ayo coba kita lihat dalam sehari berapa kali masyarakat melihat kampanye politik baik itu selebaran, brosur, baliho, koran, radio, televisi bahkan ada juga yang melalui sms. Jadi masyarkat lebih paham bahwa rakyat yang telah terpengaruh iklan pasti akan melihat, apabila yang dipilihnya telah berkuasa di kursi empuk maka ‘produk’ yang dijual tadi ternyata palsu, tidak bergaransi dan malah fungsinya dibalikan. Contoh dibalikan apabila produk dari seorang politikus sebagai bupati misalnya yang awalnya menjanjikan fungsi pengurangan PHK misalnya, maka bupati yang telah duduk di singgasana ternyata malah melakukan PHK tersebut setelah menjabat selama 5 bulan.

Bagi masyarakat yang pernah merasakan situasi seperti tersebut maka dalam analogi berpikir seperti tersebut apakah wajar apabila ia memilih lagi akibat dari doktrin iklan politik dan kampanye-kampanye politik? Yang ternyata penipu. Apabila kita berpikir agak sedikit menyimpang tentunya bahwa iklan politik hanya manifestasi kebohongan dan refleksi pembualan yang memuakkan yang dilihat oleh masyarakat.

Parpol dan caleg bebas saja mengklaim bahwa iklan politik memberikan hasil polling yang teratas, dimana ia berasumsi bahwa iklan politik mempengaruhi citra dan legitimasi idea-nya, tapi itukan tegantung dari pertanyaannya, sejauh ini yang kita lihat pertanyaannya tidak substansif dalam pemilu, kebanyakan kita lihat pertanyaan polling politik adalah seperti: Partai politk apa yang paling menarik? Partai apa yang paling anda ingat? Partai politik apa yang paling anda cermati? Tapi apabila pertanyaannya ‘Partai politik apa yang akan anda pilih? Maka tentulah hasil polingnya berbeda pula, Sebuah hasil poling LITBANG koran besar di Indonesia menyebutkan 3 top partai yang tertinggi di poling adalah partai yang melakukan banyak kampanye politik melalui iklan di televisi dan media elektro lainnya. Parpol dan caleg masih berasumsi bahwa iklan politik adalah sebuah sarana yang komunikatif, efektif, massive dan influintif dalam menyebarkan ide-ide dan janji-janjinya. Tapi kenyataannya sekarang hal itu tidak seluruhnya benar.

Pembodohan Kampanye

Manusia itu dalam otaknya ada yang namanya broca region, yaitu berfungsi memfilter apa yang belum terjadi dan terbiasakan. Maka apabila politikus atau parpol berpikir bahwa kenapa ia kalah maka menurut mereka bisa jadi ada peran iklan dimana kurang besar dan kurang megah. Tapi kalau kita melihat dari otak manusia itu sendiri yang jadi masalah adalah, orang terlalu muak dengan iklan, orang lelah dengan lied propaganda tersebut, sehingga apabila sehebat, semumpuni, dan sekuat apapun iklan tersebut bisa membuat perasaan penikmat iklan naik turun, saya jamin 100% si penikmat iklan politik itu tidak akan terpengaruh untuk memilih/memberikan suara pada pemilu. Jawabannya adalah karena broca region otak manusia tadi, dimana fungsinya yang memfilter dan menganggap biasa-biasa saja apa hal yang telah terjadi, jadi logisnya apabila seorang individu baru pertama kali melihat iklan maka boleh saja ia terpangaruh dan ia memang butuh hal tersebut, yaitu sesuatu iklan berkonteks yang bisa dipegang, sesuatu yang bisa dipercayai, akan tetapi apabila saat muncul iklan-iklan lain yang melimpah dari yang standar propaganda konyol sampai yang elegan maka ia akan menjalankan broca region tersebut, karena otak akan berpikir itu sudah biasa dan nantinya kebiasaan itu kadang-kadang menajdi semacam apatisme.

Di sisi lain nyatanya iklan politik di Indonesia tidak balances antara produk dan khasiat, dimana produk (marketing) terlalu bombastis, fantastis dan imajinatif tapi khasiatnya nol besar. Sehingga hal tersebut membuat masyarakat tidak ngeh lagi untuk meligitimasi idea parpol di iklan lantaran iklan terlalu membodohi masyarakat. Dan mana ada pula orang yang mau menerima pembodohan semacam itu. Akibat telah terpatri dalam pikiran mereka bahwa iklan politik hanyalah penjilat dan berisi pembodohan. Maka akhirnya akibat dari 1 iklan saja yang secara implisit membodohi maka getahnya terkenalah semua parpol. Karena parpol bagi masyarakat ibarat air urin, dimana warnanya saja yang berbeda-beda dan variatif tapi baunya sama saja yaitu pesing. Jadi imbuhnya apa? Imbuhnya adalah penolakan pembodohan tersebut yang membuat tumbuhnya tren golongan putih (golput). Sehingga kelihatanlah akhirnya demokrasi di Indonesia hanya jalan ditempat karena sistemnya saja yang demokrasi tapi impuls demokrasi itu mengalami degradasi.

Sekarang parpol dan politikus melalui iklan politik boleh saja menyombongkan diri karena iklannya terskala dan variatif serta komunikatif, tapi kenyataannya hal itu cukup patut dipertanyakan. Apakah iklan ini benar-benar tersosialisasi dan diterima masyarakat? Dari berpikir individu saya melihat iklan politik cuma topeng dari kebrobrokan mereka yang dibalut dengan janji-janji kosong dalam iklannya. Nyatanya parpol boleh berbangga dan menguras uangnya dengan kampanye mulut bukan dengan kampanye empati. Faktanya rakyatlah yang penentunya apakah parpol yang membodohi rakyat atau rakyat nantinya yang membodohi partai. Tentulah waktulah nanti yang akan menjawab di 2009.

***

ORGANISASI PERGERAKAN PEMUDA: SJARIKAT ISLAM

ORGANISASI PERGERAKAN PEMUDA: SJARIKAT ISLAM

Oleh: Hendriko Firman

Serikat Islam adalah perkembangan bentuk dari serikat dagang Islam (SDI), di Solo, oleh H Samanhudi dan kawan-kawan, 16 Oktober 1905. Tahun 1911 oleh haji semanhudi, atas anjuran dari HOS Colkroaminoto, kata dagang dari SDI dihilangkan dengan maksud agar ruang gerkanya lebih luas lagi, tidak hanya dalam perdagangan saja.

Adapun factor-faktor yang mendorong didirikannya serikat Islam antara lain faktor ekonomi yaitu untuk memperkuat diri menghadapi Cina yang memepermainkan penjualan harga bahan baku batik. Hal ini terjadi akibat adanya diskriminasi dan eksploitasi dari penjajah, semua pengalaman yang mengecewakan itu menyebabkan menghalangi perekonomian bangsa Indonesia, dan akibatnya menimbulkan solidaritas. Solidaritas ini diwujudkan dalam bentuk reaksi yang diucapkan dan agitasi yang keras terhadap orang-orang asing, terutama terhadap orang-orang Cina. Karena usaha dagangnya timbullah rasa benci dari pihak pergerakan nasional Indonesia, seperti SI misalnya, karena SI memang merupakan manifestasi dari keinginan berdagang. Meskipun sebutan’dagang’ yang dahulu tercantum pada nama organisasi itu sudah dihapus, tujuannya yang utama tetap meningkatkan kehidupan ekonomi rakyat dengan memajukan perdagangan dan melindungi kebutuhan kebutuhan materialnya. Basis agama memperkuat usaha-usaha ini dan memperluas penyeberannya pada waktu yang singkat; bahkan di beberapa kota tujuan ekonomilah yang yang diutamakan. Usaha-usaha SI ynag bersifat ekonomi menyebabkan organisasi-organisasi lain menjadi lebih sensitif terhadap masalah-masalah ekonomi.[1]

Kasus diskriminasi tersebut meluap saat tindakan-tindakan terhadap pedagangn-pedagang ina di Solo san Surabaya, yang dilancarkan oleh pengikut-pengikut SI pada tahun 1912-1913, dilandasi emosi yang meluap-luap.[2]

Tujuan dari serikat Islam yang lain adalah mengembangkan jiwa dagang diantara para pedagang-pedagang local yang masih tabu dan awam dalam melakukan perdagangan dengan cara yang baik dan professional juga dengan membantu anggotanya yang mengalami kesulitan dalam usahanya, misalkan saja kesulitan dalam hal-hal financial ataupun kesulitan pasar. Di sisi lain dengan syarikat Islam yang berideologi Islam merkea juga tidak ketinggalan untuk mencoba memperbaiki pendapat kalayak ramai yang keliru memandang agama Islam. Dan mengajurkan anggotanya ataupun public hidup menurut ajaran agama Islam .

Di sisi lain factor agama yaitu untuk memajukan agama Islam adalah salah satu tujuan dari SI karena anggota-anggota inti SI berasal dari kaum pedagang yang memilih agama sebagai dasar organisasi mereka; inilah sebabnya mengapa mreka berhasil menarik golongan bwah, yakni kaum petani dan kaum beuruh prabrik. Konsep religious membangkitkan secra besar-besaran sentiment nasional dan membina bentuk solidaritas yang efektif dan mencakup seluruh aktivitas golongan-gololngan. Pada tahun-tahun pertama semangat nasional berkobar, dan prestise SI melibihi pengaruh penguasa tradisional.[3]

Ketika berkembang dan makin menguatnya aksentuasi politik pada gerakannya, maka SDI pun berubah menjadi SI yang seperti telah dijelaskan diatas, khususnya setelah ikut bergabungnya sang pemberontak, HOS Tjokroaminoto. Pergerakan kaum yang sebelumnya terkonsentrasi pada gerakan dagang untuk menekan dominasi kaum Cina Perantauan dan memberikan keseimbangan secara ekonomi pada kaum Bumi Putera, kian meluas, dengan titik tekan kepada kehendak melawan kaum imperialis Eropa. Politik dan kekuasaan menjadi mainstream pergerakan ketika itu.[4]

HOS Tjokroaminoto itulah yang meletakkan nilai-nilai dasar pergerakan kaum terjajah dengan bertumpu pada dimensi religiusitas dengan akar keislaman, nasionalisme keindonesian, dan kerakyatan (demokrasi) bagi kebangunan kaum Bumi Putera (Inlander). Titik tujuanya adalah kehendak mengenyahkan penjajah Belanda, dan diraihnya sebuah pemerintahan sendiri yang dipegang, ditentukan, dan dijalankan oleh bangsa Indonesia secara mandiri. [5] Dari tangan dan pikiran HOS Tjokroaminoto dan para sejawatnya itu pulalah sentimen kebangsaan tumbuh membangunkan semangat cinta tanah air yang dikenal dengan idiom masyhur: hubbul wathan minal iman. Sejak dulu Islam adalah agama mayoritas bangsa ini, sehingga menjadi pas kalau Islam menjadi perekat dari gezag pergerakan kebangsaan dan kerakyatan di tanah Nusantara. HOS Tjokroaminoto bersama H Agus Salim amat besar perannya dalam mendorong kebangunan kaum Muslimin ketika itu.[6]

Islam dan nasionalisme menjadi bak dua sisi mata uang yang saling mempengaruhi dalam konteks Syarikat Islam. Dimana syarikat Islam adalah aliran yang berpendirian bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap yang mengatur segala kehidupan, termasuk kehidupan bernegara. Lebih jauh aliran ini berpendapat bahwa umat Islam hendaknya kembali pada sistem politik ketatanegaraan Islam dan tidak perlu atau bahkan jangan meniru system politik gaya barat. Aliran ini disebut revivalisme, yaitu suatu paham politik yang menginginkan kebangkitan Islam lewat praktek politik Islam yang diteladani oleh nabi Muhammad dan Khulafau al-Rasyidun.[7] Maka dari itu dataran itu pulalah orang dengan pelbagai latar berhimpun dalam perkauman itu, lalu pada gilirannya membentuk pergerakan baru, mengusung pencitraannya sendiri-sendiri, sebut misalnya Persyarikatan Muhammadiyah, Taman Siswa, dan sebagainya. Bahkan pada gerakan yang lebih “menjauh” dari nilai-nilai Islam dengan mendasari pergerakan pada aliran politik: nasionalisme dan sosialisme, yang kemudian berkembang dan bercabang-cabang lagi sehingga lengkaplah apa yang disebut tema keberbagaian (pluralisme) itu. Syarikat Islam sendiri lebih concern pada gerakan politik, sehingga dunia politik adalah menjadi tak terpisahkan dengan Kaum SI itu sendiri. Ketika sebagian tokoh merasa kurang sreg dengan garis perjuangan SI, mereka melakukan tindak mufaraqah dengan mendirikan pergerakan baru.[8]

Adapun kegiatan politik SI semakin panas ketika terjadinya krisis ekonomi di Hindia Belanda, sebagaimana yang dipaparkan oleh Ulbe Bosma:

“Islamic movements had already been active in nineteenth-century Java, and allegedly played a role in the many rebellions in the countryside. In that respect the early twentieth century showed a marked contrast in that Sarekat Islam had maintained a fairly cordial relationship with the Indies government during its first years of existence. Relations between Sarekat Islam and the colonial government rapidly deteriorated after the War (world war I)—not because of a process of “othering,” but as a result of a fierce economic struggle. It was not a time for politics of identity, but of anti- colonialism in which one could be communist and Muslim at the same time.”[9]

Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gereakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik.[10]

Menariknya ada ruang kebebasan yang sejak awal ditanamkan oleh tokoh-tokoh kunci SI, sehingga konteks mufaraqah dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan alami saja. Inilah yang kemudian disebut sebagai perpecahan. Maka tema “perpecahan” itu pun seakan menjadi hal yang lazim saja bagi perkauman ini. SI sendiri sesungguhnya pantas disebut sebagai “Sekolah Indonesia” di mana orang-orang masuk menjadi kader dan tatkala telah berilmu cukup mereka lalu bertebaran di muka bumi Nusantara untuk melakukan proses pemberdayaan diri sesuai bakat dan kemampuan masing-masing. Sebut pula misalnya Bung Karno yang salah seorang murid terbaik HOS Tjokroaminoto, kemudian mendirikan PNI.[11]

Menjelang tahun 1921, karena penaruh kaum buruh pabrik dan proletariat kota, SI menunjukan tanda tanda menuju kea rah organisasi kaum pkerja. [12]

Krisis SI pada tahun 1921 berakhir dengan dikeluarkannya ansir-anasir sosialis atas dasar disiplin partai. Tanda disintegrasi di dalam Si selanjutnya, dan yang sangat mengganggu posisinya, disebabkan olehadanya kyai-kyai sebagai kelompok social yang konservatif, dan golongan modern, terutama ygn terdiri atas kaum intelektual yang mencita-citakan Pan Islamisme.[13]

Karena corak demokratis dan militant tersebut mendekatkan serikat Islam (cabang-cabangnya) dan para pemimpinnya kepada ajaran Marxis seperti ISDV (Indische Social Democratische Vereeniging) yang didirika Snevliet tahun 1914 yang berpaham sosialis. Snevliet melakukan penysupan-penysupan ke dalam sSI dan berhasil mempengaruhi tokoh-tokohnya sehingga dampak dari hal tesebut banyak angoota dari SI yang menjadi sosialis terutama cabang Semarang. Dengan adanya paham itu, petentangan pun tidak dapati dihindarkan lagi sehingga SI pecah menjadi dua, yaitu SI putih, tetap berpegang pada dasar-dasar keislaman. Sarekat putih dipimpin oleh Agus Salim dan Abdoe Moeis. Sedangkan Si merah yang berapaham marxis dibawah pimpinan Semaun dan Tan Malaka.

***

Daftar Kepustakaan

­­­­­­­­­­­­­­­___________________________________

Bescheiden betreffende de Vereniging Sarekat Islam”, 1913,

H Rahhardjo Tjakraningrat. Menyongsong Seabad Kaum Syarikat Islam. Dalam Harian Umum Pelita edisi Jum’at, 31 Oktober 2008.

J. Th. P. Blumberger, De Natioalistische Beweging in Nederlandsh Indië (Haarelem, 1931). Tijdschrift voor Binnenladsch Bestuurt, XL (1911)

Munawar Sjadzali, Islam dan tata Negara: Ajaran, sejarah, dan pemikiran (Jakarta UI press, 1933)

Oetosan Hindia, 1-7-1915.

Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989.

Ulbe Bosma. Citizens of Empire: Some Comparative Observations on the Evolution of Creole Nationalism in Colonial Indonesia. 2004. International Institute of Social History Press. Amsterdam.


[1] J. Th. P. Blumberger, De Natioalistische Beweging in Nederlandsh Indië (Haarelem, 1931), hlm. 24, 38; Tijdschrift voor Binnenladsch Bestuurt, XL (1911) hal. 147. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 233

[2] Bescheiden betreffende de Vereniging arekat Islam”, 1913, hal 33-41. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 250.

[3] Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 237

[4] H Rahhardjo Tjakraningrat. Menyongsong Seabad Kaum Syarikat Islam. Dalam Harian Umum Pelita edisi Jum’at, 31 Oktober 2008.

[5] Bandingkan dengan Boedi Utomo, dimana organisasi tersebut Utomo hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda, dan Budi Utomo seperti kita ketahui organisasi sempit yang bersifat feodal dan keningratan karena anggotanya hanya kalangan priyayi, bahkan lebih sempit lagi hanya untuk kalangan Jawa dan Madura saja (Saking chauvinisnya, Betawi sekalipun tidak boleh.

[6] H Rahhardjo Tjakraningrat., ibid.

[7] Munawar Sjadzali, Islam dan tata Negara: Ajaran, sejarah, dan pemikiran (Jakarta UI press, 1933), hal. 1

[8]H Rahhardjo Tjakraningrat., ibid.,

[9]Ulbe Bosma. Citizens of Empire: Some Comparative Observations on the Evolution of Creole Nationalism in Colonial Indonesia. 2004. International Institute of Social History Press. Amsterdam. Hal 676.

[10] Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 233.

[11] H Rahhardjo Tjakraningrat. Ibid.,

[12]Oetosan Hindia, 1-7-1915. Dikutip dari Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989. Hal 238

[13] Sartono Kartodirdjo. Ibid., hal 238

TOERI EVOLUSI DARWIN, ISLAM &EPISTIMOLOGIS

T O E R I E V O L U S I D A R W I N, I S L A M

&

E P I S T I M O L O G I S

oleh: Hendriko Firman

Benarkah teori Darwin merupakan sebuah teori? Hal ini menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang berpandangan agamais dan menganut paham teori penciptaan (Universal Creation). Terlepas dari itu semua kaum ini secara monoton hanya melihat bahwa teori Darwinian hanyalah sebuah bualan. Percaya atau tidak, yang jelas dari sudut keilmuan kita harus melihat apakah teori ini siap untuk dibenarkan atau pun teori ini benar ilmiah. Lebih jelasnya kita akan membahas teori Darwin ini secara bertahap.

Idea tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling dapat teori. Darwin (1858) mengajukan dua teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. [1] Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru. [2]

Lebih lanjut Darwin mengatakan:

“In considering the Origin of Species, it is quite conceivable that a naturalist, reflecting on the mutual affinities of organic beings, on their embryological relations, their geographical distribution, geological succession, and other such facts, might come to the conclusion that each species had not been independently created, but had descended, like varieties, from other species. Nevertheless, such a conclusion, even if well founded, would be unsatisfactory, until it could be shown how the innumerable species inhabiting this world have been modified, so as to acquire that perfection of structure and co adaptation which most justly excites our admiration. Naturalists continually refer to external conditions, such as climate, food, &c., as the only possible cause of variation. In one very limited sense, as we shall hereafter see, this may be true; but it is preposterous to attribute to mere external conditions, the structure, for instance, of the woodpecker, with its feet, tail, beak, and tongue, so admirably adapted to catch insects under the bark of trees. In the case of the mistletoe, which draws its nourishment from certain trees, which has seeds that must be transported by certain birds, and which has flowers with separate sexes absolutely requiring the agency of certain insects to bring pollen from one flower to the other, it is equally preposterous to account for the structure of this parasite, with its relations to several distinct organic beings, by the effects of external conditions, or of habit, or of the volition of the plant itself”.[3]

Dimana Darwin berkesimpulan bahwa di dalam teorinya terkandung bahwa:

  • Spesies yang hidup saat ini berasal dari spesies lain yang hiudp di masa lampau
  • Dan evolusi terjadi melalui seleksi alam.

Lebih jelas Darwin mengatakan:

“As the late Edward Forbes often insisted, there is a striking parallelism in the laws of life throughout time and space: the laws governing the succession of forms in past times being nearly the same with those governing at the present time the differences in different areas. We see this in many facts. The endurance of each species and group of species is continuous in time; for the exceptions to the rule are so few, that they may fairly be attributed to our not having as yet discovered in an intermediate deposit the forms which are therein absent, but which occur above and below: so in space, it certainly is the general rule that the area inhabited by a single species, or by a group of species, is continuous; and the exceptions, which are not rare, may, as I have attempted to show, be accounted for by migration at some former period under different conditions or by occasional means of transport, and by the species having become extinct in the intermediate tracts”. [4]

Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi yaitu seleksi alam. Seleksi alam ialah “process of preserving in nature favorable variations and ultimately eliminating those that are ‘injurious”.

Jadi secara keilmiahan dapat dikatakan bahwa teori Darwin dilihat dari sudut pandang epistimologis telah bisa dikatakan cukup baik. Lantaran toeri Darwin telah melewati tahap tahap dari siklus teori dan metodologi ilmu pengetahuan. Ini bisa dilihat dari isi bukunya yang banyak membahas dari sudut metodologi ilmu biology. Lebih lengkapnya kita harus melihat semua itu dari dua sudut metodologi yang berbeda karena hal ini tidak saja harus sinkron tapi juga harus punya dasar pijak yang akurat dan serta tidak subjektif ataupun terlalu kasusistis ataupun juga penelitian yang dilakukan ini di generalisasi.

Islam Dan Teori Evolusi Darwin

Di Indonesia khususnya kalau seorang membicarakan tentang teori Darwin maka yang terlintas dari pendapat mereka untuk beropini adalah dari perspektif Islam (bagi yang Islam) dan hal ini meyebabkan teori Darwin terlepas dari pemikiran axiology saja, tanpa pemahaman yang lebih dalam. Hal in sungguh sangat tidak sportif karena Islam lebih berada pada pendekatan yang bebeda. Menariknya bahwa teori Darwin selalu menjadi bahan perdebatan yang tanpa habis-habisnya baik itu secra asal-asalan ataupun secara ilmiah.

Islam secara khusus melihat bahwa manusia diciptakan dari tanah, atas penjelmaan Allah swt, hal ini bisa dilihat sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan :

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur!” (QS. As Sajdah, 32:7-9) [5]

disisi lain Darwin mengatakan bahwa manusia adalah makluk yang ada akibat akumulasi dari spesies lain yang mengalami seleksi alam dan berevolusi dengan waktu yang sangat lama. Sebagaimana ia paparkan:

“As species of the same genus have usually, though by no means invariably,

some similarity in habits and constitution, and always in structure, the

struggle will generally be more severe between species of the same genus,

when they come into competition with each other, than between species of

distinct genera”. [6]

Perbedaan pandangan ini faktanya hanya akan buang-buang waktu karena perdebatan tersebut tidak dalam level yang sama, apabila kita mengkaji dari dasar berpikirnya tentulah hal ini tidak akan menemukan sampai titik terang karena perbedaan cara melihat teori tadi.

Disisi lain secara ilmiah teori evolusi Darwin belum dapat dikatakan runtuh, sebelum ditemukan bukti-bukti empiris yang bertentangan dengan kesimpulan teori tersebut, maka pernyataan dalam teori itu masih dianggap benar. Akan tetapi sampai saat ini banyak kalangan masih meragukan kebenaran teori itu terutama dari kalangan agama, seperti yang disebutkan di atas.

Apalagi khususnya saat ini di Indonesia yang mengalami kebanjiran buku-buku Islam yang diproduksi Dr. Harun Yahya yang “menyerang” teori Darwin. Dari segi teologis ada kekuatiran bahwa teori Darwin akan mengusir Tuhan dari kehidupan lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan :

Siapapun yang mencermati pembantaian, pembunuhan, dan penderitaan yang sengaja ditimpakan terhadap manusia oleh orang-orang Komunis, Nazi, atau Kolonialis, akan bertanya-tanya bagaimana para pendukung berbagai paham ini (teori evolusi Darwinisme) dapat menjauhkan diri mereka sendiri dari sifat-sifat yang umumnya ada dalam diri manusia. Alasan satu-satunya dari kebiadaban dan penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin ini adalah hilangnya agama dalam diri mereka dan ketiadaan rasa takut kepada Tuhan. Manusia yang takut kepada Tuhan dan memiliki keimanan yang mantap kepada hari akhir, sudah pasti tidak akan mampu melakukan segala bentuk penindasan, kejahatan, ketidakadilan, dan pembunuhan sebagaimana yang telah kami paparkan. Selain itu, betapapun ia dipengaruhi, seseorang yang beriman kepada Tuhan dan hari akhir tidak akan pernah terseret untuk mengikuti ideologi yang sedemikian menyesatkan”.[7]

Di sisi lain Harun Yahya juga mengatakan bahwa, penyebab dari segala penindasan dan berbagai ideologi yang menyengsarakan manusia lantaran hanya perbedaan ideologi adalah akibat ulah dari teori evolusi Darwin yang sesat. Lebih jelasnya Harun Yahya mengatakan:

Banyak yang tidak menyangka atau malah tidak percaya bila Darwinisme turut memberi spirit dan kontribusi atas berbagai ideologi besar yang lahir di dunia ini. Nazisme, Fasisme, Komunisme, Liberalisme dan Kapitalisme, adalah beberapa diantaranya. Ideologi-ideologi ini, yang merupakan penghasung pemujaan pada atheisme dan materialisme, secara sadar telah menyandarkan diri pada ‘konsep ilmiah’ dari Darwinisme. Para penggagasnya merasa mendapatkan pembenaran ilmiah atas berbagai tindakannya yang membawa bencana dan kesengsaraan bagi ummat manusia. Pembunuhan, penyiksaan, perampasan, pelecehan hak dan kehormatan atas bangsa dan pihak berseberangan dianggap sebuah tangga titian menuju kejayaan. Kebanggaan dan kejumawaan atas ras dan ideologi menjadi pendorong penindasan dan penistaan. Yang lemah harus menyingkir dan menjadi budak mereka yang kuat. Penerus generasi dan peradaban adalah mereka yang kuat, sementara yang lemah harus rela untuk lenyap dan tenggelam dalam catatan sejarah. Demikianlah, suka atau tidak, inilah keniscayaan hukum alam yang mesti diterima. Keniscayaan yang menjadi ruh evolusi yang dikemukakan Darwin”. [8]

Namun Haidar Bagir, pakar filsafat Islam, tidak sepenuhnya sependapat dengan Harun Yahya. Bagir (2003) menanggapinya dengan mengatakan “Sikap kita terhadap keyakinan Darwinian mengenai sifat kebetulan dan materialistic asal-usul kehidupan yang terkandung dalam teori itu sudah jelas. Kita menolaknya. Tidak demikian halnya dengan kesimpulan utama teori ini mengenai sifat-sifat evolusioner kehidupan. Karena betapapun demikian, tetap saja Tuhan bisa dipercayai sebagai Dzat di balik semua gerakan evolusi itu…”.[9] Tentang prinsip survival of the littest (?), Bagir justru membenarkannya dan kita harus mengambil hikmahnya, karena hal itu sesuai dengan kenyataan sehari-hari dan didukung oleh tidak bertentangan dengan kandungan Alqur’an. Dingin dari dari dua sisi yaitu aspek teologis dan sisi etis.[10] Tentunya dari kajian bagir, kita harus melihat pula bahwa dari penafsirannya di dalam ayat Alqu’an mana yang secara implicit atau eksplisit bahwa kandungan dari teori Darwin tidak bertentangan, tentunya hal ini menjadi lebih complicated lagi.

Seyongyannya seperti yang saya telah katakan tadi bahwa tidak bisa kita menemukan padanan atau titik terang yang pasti antara ilmu yang dipandang dari sudut epistimologis (metodolgi) dan ontology (nilai) dengan komparasi Islam yang menggunakan axiology (ada/being) dimana cara penafsirannya menggunakan wilayah metafisika, wilayah diluar kerangka otak manusia. Dan pasti tentulah tidak kita ketemukan koorelasinya. Tulisan ini bermaksud ingin menjelakan secara objektif dan tidak bermaksud berpihak kepada landasan berpikir manapun, dimana hal ini tentunya waktulah yang nantinya menjawab. Inti dari semua ini bahwa keputusan ada di diri kita masing-masing, dimana letak dan pemahaman kita tentu berbeda-beda maka tentu berbedalah pula cara kita menyimpulkannya.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN

– Al-Qur’anul Karrim.

Charles Darwin. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. 1859. Penguin Books. London.

– Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. 2002. Global Cipta Publishing. Jakarta.

– Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.

– http://grelovejogja.wordpress.com


[1] Bambang Agus Suripto. Dalam grelovejogja.wordpress.com rakses pada minggu, 9 november 2008 pukul 18.32 WIB

[2] Charles Darwin. 1859. The Origin of Species by Means of Natural Selection or The Preversation of Favoured Race in The Struggle for Life. Penguin Books. London. Hal 16.

[3] Charles Darwin. Ibid., hal 6.

[4] Ibid., hal 205.

[5] Al-Qur’anul Karrim hal 89

[6] Darwin, Charles. Ibid., hal 43

[7] Harun Yahya. Bencana Kemanusian Akibat Darwinisme. Global Cipta Publishing. 2002. Jakarta. Hal 37

[8] Harun Yahya. Ibid., hal 4

[9] Bagir, Haidar. 2003. Islam dan Teori Evolusi (Butir-butir tanggapan terhadap Harun Yahya). Harian Republika 14 Maret 2003. Jakarta.

[10] Bambang Agus Suripto. Ibid.,

LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

LASKAR PELANGI: SEBUAH NOVEL SPIRIT YANG MENGGETARKAN.

Oleh: Hendriko Firman

SULIT sekali untuk mencoba memilih bagian mana saja dari buku Laskar Pelagi yang paling anda sukai, jawabannya terlalu banyak sehingga tidak bisa digeneralisasikan bahwa satu bab saja yang diambil. Sebenarnya ada 3 bab yang membuat penulis (saya) terkesima nanar dan takjub, yaitu bab 10 berjudul Bodenga. Bab 11 Lanngit Ketujuh, dan bab 27 berjudul Detik-Detik Kebenaran. Tapi sari semua bab itu , bab 10 lah yang benar-benar manarik bagi penulis karena intinya adalah sebuah gambaran menarik dari manusia yang mencintai pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Bab 10 dimulai dengan gaya bahasa yang lantang dan meledak-ledak. Saat mana kalimat ini yang dipakai andrea hirata:

“Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak,menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kumintai bantuan. Aku hanya berdiri mematung, berbicara dengan diriku sendiri.”[1]

Dari situ penulis sudah bisa melihat bahwa cobaan yang dicoba di paparkan oleh Hirata melalui gaya tulisannya telah memberikan suatu pemahaman walaupun tidak secara terang-terangan akan tetapi membuat penulis sangat takjub. Mana ada orang, secara logikanya mencoba untuk hanya melewatkan masa 8 jam-an untuk belajar tapi ditebus dengan nyawa dengan mencoba bespekulasi terhadap buaya yang menghambat jalannya. Kalau orang lain pasti akan pulang saja, toh hanya sehari bolos, tapi kenapa Lintang tetap kekukeuh untuk bisa hadir di sekolah, bukankah itu hal yang bodoh! Tapi dari kasus lintang semuanya harus beruntung dalam artian dia tidak harus merugi hari itu, maka dicobanya lah menerka dan menganalisa apa yang dilakukannya apabila ia bereada dari jarak 15 M terhadap buaya. Tapi akhirnya ia insaf juga seperti yang dikatakan Lintang sendiri. Dikutip dari Hirata:

“Aku terkesima dan tadi telah salah hitung. Jika binatang purba itu mengejarku maka orang-orang hanya akan menemukan sepeda reyot ini. Fisika sialan. Memprediksi perilaku hewan yang telah bertahan hidup jutaan tahun adalah tindakan bodoh nan sombong.[2]

Tak luput pula kenapa bab ini menarik adalah kesan dan ajaran serta pesan yang dalam di patrikan kepada pembacanya bahwa no matter what the obstacle you are facing the point was just through the way. Karena tidak ada yang bisa mengalahkan cinta apapun itu termasuk rintangan. Pesan yang sangat dalam diberikan kepada pembaca. Lepas dari semua itu, penulis merasa menjadi seorang pecundang kelas dunia, setelah mengkomparasiikannya kepada diri penulis sendiri, yang mana hanya kurang lebih 1 jam perjalanan untuk sampai ke kampus, itu pun dengan menggunakan kendaraan umum. Lebih mirisnya lagi saat Hirata mendiskripsikan hidup lintang yang mana saat itu ia harus melewati cobaan saat perjalanan ke sekolah, kita kutip disini:

“Lintang memang tak memiliki pengalaman emosional dengan Bodenga seperti

yang aku alami, tapi bukan baru sekali itu ia dihadang buaya dalam perjalanan ke

sekolah. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh

pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi

ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah

berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri

membayangkan perjalanannya.[3]

” Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor,

dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari

rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab

terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan

sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni

suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di

depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak

tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan

menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer”.[4]

Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi

daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa

hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik

hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil

hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya

berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat

putting beliung, pada musim demam, pada musim sampar—sehari pun Lintang tak

pernah bolos. [5]

Dari situ saja, kita bisa melihat sendiri bahwa tidak masuk akal untuk berkendaraan manual seperti sepeda untuk jarak sekitar 80 Km pulang pergi, itu sama jaraknya hampir mirip dengan Padang-Bukittingi. Dalam hati penulis sempat mengucap, apakah begitu besarnya seorang yang hanya punya kesempatan nol persekian persen untuk bisa menjadi orang sukses yang logikanya ia dibayangi dengan lingkungan lingkaran setan kemiskinan. Pertama-tama jawaban penulis ini adalah NONSENSE! Seorang yang begeitu banyak cobaan hidupnya dalam menyunting ilmu pengetahuan, lambat laun pasti juga akan roboh semangat belajarnya oleh belenggu-belenggu hidup yang lebih urgen, sekarang dalam perspektif logika mana yang lebih urgen makan apa ilmu pengetahuan? Itulah jadi jalan pemikiran penulis saat Lintang masih memiliki bapaknya. Tentulah jawaban logika dan rasionalnya adalah jawaban yang kedua yaitu, makan. Kalau dipikir-pikir Lintang dalam 6 tahun masa SD nya dan 2 tahun masa SMP nya dalam artian dia harus melewati 8 tahun masa sekolah, yang mana 1 tahun sekolah yaitu 313 hari dan dikalikan dengan 8 maka hasilnya adalah 2504 hari, apabila Lintang menenmpuh setiap harinya 80 Km maka 2504 dikalikan dengan 80 maka hasilnya adalah: 200.320Km perjalanan. Tahukan anda dalam angka itu apa saja yang ditempuh oleh Lintang? Jawabannya adalah ia bisa menempuh the Great Wall China yang maha panjang itu sebanyak 42 kali pulang pergi, atau ia sudah bisa menjelajahi Indonesia hingga seluk beluknya dalam 2 kali pulang pergi. Bayangkan saja hanya bersepeda, bukan dengan kendaraan bermesin. Bukankah kejamnya cita-cita itu, sehingga bisa membuat seorang Lintang yang masih muda belia berumur 6 tahun harus menggayuh sepeda yang terlalu besar dengan kaki yang pendek. Benar-benar kutukan ilmu pengetahuan apabila seorang telah mendapatkan cintanya.

Seorang yang tidak menggunakan hati atau orang yang tidak mempunyai nafsu belajar, adalah orang yang sangat merugi sekali apabila membaca buku ini, karena alasannya ia tidak bisa mengambil hikmah dan kandungan falsafah dari buku ini. Disini apalagi khusunya bab ini, diceritakan dengan implisit bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saat mana Hirata menceritakan kegiatan sehari-hari Lintang:

“Jika tiba di rumah ia tak langsung beristirahat melainkan segera bergabung degan anak-anak seusia di kampungnya untuk bekerja sebagai kuli kopra. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagai kompensasi terbebasnya dia dari pekerjaan di laut serta ganjaran yang ia dapat dari“kemewahan” bersekolah”.

Miris sekali, bahwa kita berpikir setidaknya dari pandagan Lintang waktu itu, pendidikan dibilang sebuah kemewahan, tapi ganjaran yang harus didapatkan dari kemewahan itu benar-benar tidak manusiawai baginya.

Sekali lagi apabila tidak mempunyai spirit untuk belajar, atau hanya terkena provokasi untuk membacanya, tanpa ada didasari untuk merasa berkembang, maka sia-sia laha proses membaca anda. Buku ini terlalu indah untuk dibaca orang-orang hina seperti penulis, yang tidak tahun diuntung menerima kemudahan dan kemewahan yang kebangetan tapi tidak memiliki karya sebanyak yang Lintang lakukan. Penulis merasa kerdil sekali apabila melihat cara belajarnya itu, seperti dikatakan oleh Hirata:

“Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit

menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia

memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar

adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku

baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru

agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan

buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap

kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari

sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain”.[6]

Dari sini penulis mengmbil kesimpulan, bahwa apa yang dilakukan oleh Lintang dengan metaforanya Hirata, penulis benar-benar merasa orang paling iri di dunia. Bayangkan saja hanya dengan lampu minyak yang bergantian, yang belum lagi kandungan CO2nya yang bisa menghasilkan sesak dan efek buruk pada paru-paru, tapi disini Lintang seolah-olah bisa merasakan suasana dan atmosfer belajar yang layaknya belajar di perpustakaan universitas paling tertib dan nyaman didunia. Bayangkan saja siapa yang tidak iri, kalau dibandingkan dengan penulis yang mana penulis belajar mendapatkan lampu neon yang bisa kapan saja, dimana saja. Tapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal seperti yang dilakukan oleh Lintang, bayangan penulis adalah, mungkin saja penulis sudah collapse rasa cinta pada ilmu pengetahuannya apabila mengadopsi gaya belajarnya Lintang.

Dari semua kata-kata yang membahana dari Hirata, kontan saja penulis sebenarnya lebih mencintai Lintang daripada balutan kata-kata Hirata yang mempesona itu, dalam artian penulis tidak begitu excited kepada Hirata tapi lebih kepada objek tulisannya yaitu Lintang Samudera Bassara. Profil Lintang begitu dalam diakronik hidup penulis, penulis benar-benar meresapi hidup Lintang itu, sepenggal cerita dulu penulis pernah sudah pada semester 3 masih belum juga mempunyai meja belajar, yang mana dulu hanya belajar di lantai dengan selembar karpet. Tatkala waktu itu penulis ada ide untuk menggunakan meja yang tidak dipakai dikampung untuk dibawa ke Padang, setelah dibawa ke kos tapi meja itu terlalu pendek kakinya sehingga badan terasa pegal dan linu apabila terus-menerus memakai meja itu. Lalu penulis mencoba meninggikan meja itu dengan alat seadanya, sekitar 3 jam penulis membuat meja itu layak untuk digunakan belajar. Walaupun hasilnya kurang maksimal tapi cukup manusiawilah meja untuk dijadikan standar meja belajar. Waktu setelah meja itu selesai, keringat bercucuran mengalir di saat hari sangat panasnnya, badan lelah dan bau tengik siang hari menggerayangi bau badan, waktu itu bunyi jengkerik dan musik tetangga sebelah seolah-olah mengejek penulis karena sia-sia melakukan kerja yang serampangan seperti itu, saat itu penulis merasa iba pada diri sendiri karena niat untuk belajar tinggi sekali tapi fasilitas tidak mencukupi. Saat meja itu digunakan pertama kali, kenikmatan memakainya untuk sebuah catatan tiada tara mainnya, mata penulis berkaca-kaca marasakan sebuah struggling terhadap pencapaian ilmu pengetahuan. Seoalah-olah merasakan penderitaan Lintang, penulis tahu sekali bagaimanakah arti sebuah sacrifice dan struggling itu sendiri. Nikmatnya bukan main, tapi beban yang dipikul nauzubillah sulitnya.

Walaupun sulit digambarkan bagaiman perasaan itu, apabila dikanvaskan dengan tulisan. Tapi setidaknya penulis telah berusaha mencoba jujur untuk berterus terang bahwa yang penulis suka dari buku ini adalah objeknya bukan gaya bahasanya, bukan metaforanya, bukan lelucon-leluconnya, atau keseharian tokoh lain, tapi disini penulis menaruh respek sekali dengan seorang tokoh yang bernama Lintang itu.

***


[1] Andrea Hirata. Laskar Pelangi. Bentang. Jakarta. 2007. Hal 87.

[2] Ibid., hal. 90.

[3] Ibid., hal 93.

[4] Ibid.,hal 94

[5] Ibid., hal 94.

[6] Ibid., hal 100.

Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Di Balik Glamornya Dunia Mengemis

Oleh : Hendriko Firman**

Kalau kita melihat pengemis apakah yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita tentang mereka? Kasihankah? Ibakah? Atau muakkah? Kejadian menarik terjadi pada saat penulis di bus kampus. Dulunya penulis melihat bahwa pengemis adalah produk dari rendahnya pendapatan perkapita dan akibat dari korupsi yang tidak pandang bulu. Dan merekalah korbannya. Seketika mindset penulis masih berpikir bahwa pengemis dan gepeng (gelandangan dan pengangguran) adalah korban disini. Tapi tatkala penulis melihat peristiwa di bus kampus untuk kuliah jam 10 pagi. Peristiwa tersebut telah merubah pikiran penulis seluruhnya tentang dunia mengemis ini.

Saya kebetulan dibus kampus berdiri saat hendak kuliah waktu itu, karena kursi tidak ada yang kosong, setelah 5 menit bus melaju, maka terdengarlah oleh saya sebuah ringtone HP polyphonic yang cukup keras. Saya berpikir kok ponselnya tidak diangkat karena sudah cukup lama berbunyi, akhirnya saya memberanikan diri saya untuk melihat kebelakang dan sontak hampir semua mahasiswa yang di kursi belakang yang merasa terganggu dengan suara itu bertindak seperti apa yang saya lakukan, tahukah para pembaca apa yang saya lihat dan mahasiswa di atas bus Hino tersebut. Saya melihat seorang pengemis yang sedang mengakat HP yang ternyata sama tipenya dengan tipe HP saya. Sekali lagi saya tekankan para pembaca bahwa ada seorang PENGEMIS YANG SEDANG MENGANGKAT HP. Dia di belakang saya dengan pakaian rombeng dan kucel dengan istrinya disebelah dengan menggunakan “jilbab telanjang” (menggunakan jilbab tapi bajunya lengan pendek sehingga kelihatanlah tangannya dan kelihatan lehernya akibat kerah baju yang belel). Saya melihat mahasiwa di sebelah saya berdecak kagum dengan temannya. Dan yang lain kelihatan melongo.

Tak dinyana saya sontak terkejut, seketika juga saya mulai dimasuki oleh berbagai perdebatan pikiran, yang mencoba menerka dan menganalisa fenomena yang terjadi barusan. Saya mulai dari pemikiran negatif tentunya dan tidak luput pula saya menelaah dari sudut postif. Tapi saya tidak menemukan jawabannya karena menurut saya hal ini adalah peristiwa yang kasuistis sekali.

Sekarang kita kembali ke dalam topik sebenarnya. Hal yang saya paparkan diatas adalah sebuah refleksi dari apa? Sebuah fenomena apa? Kenapa hal tersebut menjadi kontradiksi dalam tatanan masyarakat global saat sekarang ini?

Bukan bermaksud menjustifikasi secara gamblang tapi tulisan saya ini mencoba melihat kasus diatas sebagai fenomena yang cukup menggilitik apabila kita tinjau. Di sisi lain tulisan ini juga akan mencoba secara objektif dan kronologis kenapa masalah ini saya besar-besarkan dan kenapa hal ini menurut saya ‘janggal’ bila dilihat dalam Negara yang miskin tapi tingkat konsumtifnya minta ampun ini.

Kita mulai dari masalah etymology dari pengemis itu sendiri. Menurut saya pengemis adalah individu ataupun sebuah kelompok yang mengandalkan nasibnya dari bantuan moril ataupun materil orang lain sebagai penunjang hidup mereka. Dalam bahasa Inggris pengemis berarti beggar yang berarti pengemis, orang minta-minta, kere. Jadi dari hal tersebut kita bisa menarik kesimpulan sendiri bagaimana kehidupan pengemis itu sendiri.

Pengemis dan Sosial

Kalau kita melihat seorang pengemis menggunakan ponsel berarti secara etimlogi dia bukanlah pengemis. Karena dia menggunakan ponsel berarti di sisi lain kebutuhan yang primer dan sekunder telah terpenuhi. Itulah kerangka saya mulai berpikir, karena HP menurut saya adalah barang yang tersier (mewah), memang relatif apabila kita lebih pertanyakan lagi jenis HP tersebut ada yang bilang itu primer ada juga yang bilang tersier. Tapi kita coba merelatifkan di Indonesia ini bahwa ponsel adalah item yang mewah karena punya ponsel berarti harus memiliki pulsa juga. Memang banyak sekali paparan dan ekplanasi yang harus kita jelaskan disini tapi dari penulis pun masih bersikap heran terhadap hal ini.

Pertama yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah seluruh pengemis rata-rata kehidupan mereka seperti ini? Apakah para mengemis mendapatkan pendapatan yang besar sehingga bisa membeli barang tersier ini? Apakah pengemis itu nyaman dan bahagia menjalani apa yang mereka kerjakan? Dan pertanyaan besar yang mengkover semua ini adalah apakah pengemis sengaja mengemis dan menghinakan diri mereka untuk mendapatkan kebutuhan finansial dari belas kasihan orang lain?

Kalau dikatakan bahwa mengemis mendapatkan banyak pemasukan sulit juga kita iyakan, karena kalau melihat dari terminology berpikir seperti tersebut hal ini menjadi sebuah kontradiksi di saat lahan perkerjaan yang sulit dan sangat keras persaingannya. Mengemis lagi-lagi adalah sebuah media pekerjaan yang terakhir dari sebuah pilihan, orang tidak akan sengaja melakukan mengemis kalau mereka mendapatkan alternatif pekerjaan lain. Jadi kalau kita coba telaah lagi apakah rata-rata kehidupan pengemis cukup terpenuhi kebutuhannya? kita juga tidak bisa mengatakan iya, karena ini masalah dimana dan kapan sipengemis melakukan bisnisnya ini, bisa jadi untuk ukuran kota Padang rasa empati masyarakat terhadap pengemis masih tinggi dan bisa jadi di kota-kota besar lainnya menganggap bahwa pengemis adalah sampah masyarakat. Khususnya kota Padang, pengemis tidak lebih dari kumpulan masyarakat yang dalam stratifikasi masyarakat tentulah tidak termasuk, karena mereka kaum papa, yang hidupnya tidak beraturan dan serampangan. Sehingga lahan perkerjaan tidak ada bagi mereka dan bahkan lebih eksterem statusnya sebagai manusia patut dipertanyakan. Sehingga pengemis menjadi simbol sebuah ketertindasan dari hak-hak yang terampas, ketertindasan dari realitas kehidupan politan yang memang benar-benar telah sinting, dimana seyongyannya kehidupan mereka di lindungi dan diayomi.

Jadi ringkasannya adalah pengemis itu tidak semuanya seperti kasus yang kita bicarakan diatas, tapi toh tidak banyak juga pengemis yang mempunyai lifestyle seperti di atas yang cukup konsumtif. Dalam masalah ini pengemis sekarang benar-benar telah mempunyai tujuan target yang lebih wah untuk kita cermati, sebelumnya tujuan hidup adalah untuk mengganjal perut di esok hari, maka sekarang tujuan hidup lebih prestise lagi kalau kita cermati, dimana tujuan hidup pengemis adalah menjadi orang kaya. Kalau begitu kontan saja saya bilang bahwa itu omong kosong, bahwa PNS rendahan yang hidup dari mencerek terhadap pemerintah saja tidak berani bermimpi seperti itu. Lagi-lagi ini masalah fenomena yang sangat langka untuk kontemporer ini, seakan-akan faktor-faktor kiamat telah mulai Nampak disini bahwa seorang yang tidak punya apa-apa bermimpi untuk berlomba-lomba membangun sebuah istana kekayaan bagi diri mereka sendiri.

Seorang pengemis dalam masyarakat hedonis tidak mungkin bisa-bisanya membeli hp dengan alasan memperlancar komunikasi, karena hal tersebut tidak efesien lantaran kalau mempunyai hp berarti harus siap sedia menahan lapar dan haus, atau sebaliknya si pengemis punya hp karena kebutuhan-kebutuhan lain telah terpenuhi. Jadi kasarnya kebutuhan ekonomi telah terpenuhi dan secara ringkasnya makan dan minum serta tempat tinggal tidak ada masalah dengannya. Iya kan? Lihat saja kalau anda punya HP maka untuk ke dokter setidaknya anda pasti bisa walaupun itu sekali setahun. Apakah pengemis adalah refleksi dari kehidupan masyarakat seperti kita juga?

Dalam masalah yang pelik ini kita terlalu sulit membuat konklusi terhadap hidup pengemis dengan mengkonklusikan terhadap apa yang kita lihat dari kehidupan pengemis sebelumnya. Masalah pengemis di Indonesia faktor sengaja atau faktor realita tidak bisa kita singkirkan saja dari pikiran kita, karena ini menyangkut masalah pengaruh dan masalah progressnya negara ini. Apakah hakekat pengemis itu sulit hidupnya atau merasa bercukupan tentunya hal itu adalah kembali ke masalah lifestyle dari si pengemis itu. Tapi tatkala pengemis memang berusaha untuk mentakdirkan hidupnya menjadi pengemis itulah yang patut kita sesali, bagaimana Negara ini bisa maju sedangkan orang-orangnya hanya meminta saja kerjanya, itu pula yang kita lihat dari para pejabat yang corrupt.

Intinya adalah sisi glamor pengemis yang dipaparkan diatas adalah produk dari masyarakat Indonesia yang lebih menunjukan kuantiti dari pada kualiti. Sayang sekali apabila kita lihat keperluan-keperluan yang seharusnya tidak semestinya dibutuhkan, tapi karena alasan tuntutan zaman hal iltu semuanya dibuat menjadi kewajiban. Benar-benar sebuah ironis bukan?

LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

LATAR BELAKANG REVOLUSI IRAN & PETA POLITIK IRAN

Pada 1 april 1979, Ayatollah Rouhallah Khomaeini mengumumkan pembetukan Republic Islam Iran. Dengan demikian berhentinya dinasti kekuatan yang telah mengcengkram Iran selama 50 tahun dan dari pemerintahan bentuk monarki yang telah berada selama 2.500 tahun di sejarah orang orang Persia.

Latar Belakang

Fitur sebuah revolusi yang paling tidak bisa diragukan adalah interferensi langsung oleh rakyat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah. Pada saat-saat biasa, negara, apakah itu berbentuk monarkhi ataupun demokrasi, mengangkat dirinya sendiri di atas bangsa, dan sejarah dibuat oleh para spesialis dalam urusan semacam itu – raja, para menteri, birokrat, anggota parlemen, wartawan. Namun pada gerakan krusial itu, ketika tatanan yang lama tidak lagi bisa diterima oleh masyarakat, maka mereka akan menghancurkan hambatan yang membatasi mereka dari arena politik, mengesampingkan wakil tradisional mereka, dan menciptakan, dengan interferensi mereka sendiri, landasan kerja awal bagi sebuah rezim baru. Apakah hal ini baik atau buruk, kita serahkan penilaiannya kepada para moralis. Kita sendiri akan mengambil kenyataan sebagaimana yang mereka berikan dengan tingkat perkembangan yang obyektif. Sejarah sebuah revolusi bagi kita adalah menjadi prioritas dari yang lainnya, sebuah sejarah masuknya masa yang tidak bisa dihindarkan ke dalam tataran pemerintahan yang diperuntukkan bagi nasib mereka sendiri.
Hal seperti Trotsky diatas tepat seperti yang terjadi di Iran tahun 1979. Basis material dari Revolusi Februari terletak pada kemajuan kekuatan-kekuatan produktif dan perubahan yang telah dilakukan dalam kapitalisme Iran di seluruh periode sebelumnya. Shah kehilangan dukungan dari segenap kelompok massa, kaum petani, intelektual, kelas menengah dari berbagai lapisan dan kelompok yang paling berhawa jahat, tentara. Negara sendiri terguncang kerasnya pukulan godam yang dilancarkan massa. Hari demi hari demonstrasi terus menerus dan mobilisasi massa yang telah jauh melanggar batas kehidupan normal. Massa menyerang kedutaan Inggris dan Amerika sembari membakar ribuan bendera Amerika. Boneka patung Presiden AS Jimmy Carter dan Shah digantung ribuan kali menghiasi setiap pojok jalan setiap kota Iran. Shah menjadi simbol dari bercokolnya tatanan yang dibenci dan represi Savak yang berdarah.
Negara dalam analisis paling mutakhir, sebagaimana yang diterangkan oleh Marx dan Lenin, terlengkapi dengan lembaga angkatan bersenjata berupa barisan tentara dengan segenap peralatan dan senjata mereka. Dalam setiap masyarakat kelas, komposisi tentara dibentuk dari berbagai lapisan masyarakat yang beragam, dan merefleksikannya secara, kurang lebih, jujur. Di masa-masa biasa, angkatan bersenjata bercokol tak tertandingi, tak tertembus dan kompak. Bagaimanapun juga, selama masa revolusi, ketika angkatan bersenjata mengalami stres dan ketegangan yang hebat, maka dengan segera keretakan dan patah struktur mereka akan tampak membayang, dan akhirnya cenderung membelah sesuai dengan garis kelas pada momentum-momentum revolusi yang krusial. Kerekatan di tubuh tentara bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi.tergantung pada intensitas tekanan dari gerakan massa.
Di Negara Iran saat masih di belenngu oleh kekuatan digdaya (strong state), dimana perbuatan-perbuatan yang melanggar kepentingan masyarakat di gantikan dengan kepentingan pribadi dari penguasa-penguasa. Untuk lebih jauhnya kita akan melihat sebuah root problem dari revolusi Iran itu sendiri yaitu masalah minyak Negara.
Menjelang akhir abad ke-19 dan awal abad ke­20, investasi asing terus mengalir ke Iran, dengan partisipasi dari pemegang saham lokal dalam sektor vang paling modern seperti konstruksi jalanan, industri penangkapan ikan di Laut Kaspia, dan telegraf. Mayoritas barang manufaktur dihasilkan oleh pengrajin dalam sekelompok besar bengkel kerja-bengkel kerja kecil, tetapi juga ada perusahaan kecil vang terlibat dalara pemintalan karpet dan industri kulit serta juga sejumlah pertambangan serta toko penjual barang cetakan. Menurut suatu penelitian tentang periode itu, pabrik karpet terbesar adalah di Tabriz dan mempe­kerjakan 1500 karyawan.
Di tahun 1908, minyak bumi ditemukan di Barat Daya Khuzistan, dan pada periode yang sama pembangunan jalan kereta api menyebabkan tumbuhnya integrasi ekonomi. Hal ini, sejalan dengan konsentrasi kelas pekerja, menyuarakan kemenangan akhir dari relasi kapitalis di Iran. Pada periode kedua, imperialisme Inggris secara keji mengeksploitasi industri minyak Iran dan memetik keuntungan luar biasa dari situ. Antara tahun 1912 hingga tahun 1933 saja, perusahaan Anglo-Persian Oil Company (APOC) meng­hasilkan keuntungan 200 juta lira, dan cuma 16 juta lira saja yang dibayarkan kepada Pemerintah Iran dalam bentuk royalti langsung. Sedangkan antara tahun 1945 hingga 1950, APOC hanya membayar sebanyak 90 juta lira sebagai royalti terhadap pemerintah Iran, dan memperoleh keuntungan bersih lebih dari 250 juta hra.
Demikian skala produksi industri Iran hingga menjelang tahun 1920, mempekerjakan 20.000 karyawan, dan tahun 1940 telah mencapai 31.500 kar­yawan-salah satu konsentrasi terbesar di Timur Tengah. Pada akhir tahun 1925 Shah memberlakukan sebuah program untuk melindungi industri lokal dan untuk memberikan insentif negara bagi pengusaha swasta. Negara lebih mendasarkan diri pada penda­patan dari minyak bumi dan pajak, bukannya utang luar negeri. Berlawanan dengan dinasti sebelumnya, sebagian besar pendapatan dari minyak digunakan untuk pertahanan serta modernisasi negara Jan tentara. Selama masa 20 tahun kekuasaannya, Shah telah menghabiskan lebih dari 260 juta lira untuk industri. Setelah tahun 1930 kelompok-kelompok baru industri raksasa didirikan. Ratusan pabrik kecil dibangun, teru­tama yang bergerak dalam bidang tekstil, bahan makanan dan material konstruksi. Jumlah kelas pekerja meningkat secara radikal, seringkali terkonsentrasi di perusahaan-perusahaan besar. Dalara hal ini, Iran meniru kekaisaran Rusia pada awal periode pembangunan industrinya.
Kebanyakan pekerja sebelumnya bekerja di bengkel-bengkel kerja kecil, tetapi setelah pembangun­an pabrik penenunan tekstil di Isfahan, Kerman, Yazd, dan Teheran, jurnlah pekerja meningkat dengan mantap. Prinsip pembangunan ekonomi dan sosial yang tidak seimbang dan terkombinasikan menunjukkan kemajuan. Mengacu pada dominasi pasar dunia oleh imperialisme,proses industrialisasi di Iran tidak bisa dilaksanakan dengan cara klasik. Karena Iran adalah sumber energi yang penting, eksploitasi sumber daya minyaknya oleh imperialis Inggris mengarah ke bentuk pembangunan yang sangat terbatas dan timpang. Kapitalis Inggris hanya tertarik untuk mengamankan kepentingan mere­ka sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan industri menghasilkan pola pembangunan yang sangat tidak berimbang, dimana pendirian industri maju hanya terba­tas pada kota-kota besar-Teheran, Tabriz, Isfahan, Kerman dan beberapa pusat kota lainnya. Kebutuhan akan industri rninyak bumi mendorong dibangunnya industri maju di daerah Khuzistan-sebuah daerah yang belum pernah berubah selama berabad-abad-akan tetapi di kebanyakan wilayah negara itu masih tetap tertinggal. Kapital industri masih merupakan perke­cualian, bukan peraturan. Kapital komersial masih memainkan peranan yang dominan.
Distorsi ini memiliki arti bahwa hanya pola pembangunan yang terkombinasikan dan tidak seim­banglah yang rnungkin dilakukan. Bentuk sosial dan ekonomi yang paling maju dibangun beriringan dengan yang paling primitif. Seiringan dengan cahaya terang dari pabrik-pabrik petrokimia modern, ada cahaya lam­pu redup di desa-desa tanpa listrik. Di depan industri­industri yang menggunakan teknologi paling mutakhir, perajin kecil masih terus menggunakan metode yang tidak pernah berubah selama berabad-abad, bahkan mungkin bermilenium-milenium. Rumah-rumah mod­ern komplet dengan dapur ala Amerika berdiri kokoh di samping perkampungan kumuh dimana makanan dimasak di ata5 arang dan tungku kayu penuh asap.
Pada bulan Mei 1951 Mossadeq, yang didukung oleh nasionalis Iran, telah mengnasionalisasikan sumber minyak Negara. AIOC tiba-tiba diancam untuk menggugat beberapa perusahaan yang membawa minyak Iran. Kurangnya keahlian teknis untuk mengoperasikan ladang minyak dan dengan pemasaran dunia di perusahaan-perusahaan minyak, Iran bersaksi mengurangi produksi minyak secara mendadak. Sebagai pendapatan Negara pengurangan minyak membuat pendapatan menurun. Mossadeq segera memulai pertemuan ketidakpuasan. Dia menjadi tiba-tiba lebih dictator sebagai perdana menteri.
Pada juli 1953 mossadeq menghancurkan the majlis (DPR) dan di agustus mencoba tapi gagal untuk merampas semua kekuatan di pemerintah. pada 12 agustus Rheza shah telah memerintahakan pembubaran dan telah berjanji meminta nasehat kepada jenderal fazollah zahedi. Mossadeq menantang perintah dan menangkap pesan yang disampaikan itu. Walaupun shah dan keluarganya melarikan diri dari iran.
Pada hari beriktunya, bagaimanupun juga, unit loyal dari milter shah merancanakan sebuah serangan kudeta dengan dukungan tersembunyi, ini secara luas di percayai, di Amerika Serikat. Pada 18 Agustus, orang-orang loyalis menyerang, dan, setelah keberanian yang tajam di Tehran, mengalahkan semua unit militernya setia mossadeq. Hari berikutnya jendral Zahedi, yang telah bersembunyi, menggabungkan untuk mengambil alih pemerintahan. Pada 20 Agustus, Mossadeq menyerah, dan beberapa hari kemudian Shah kembali, mengakhiri periode dari perselisihan dalan sejarah perpolitikan iran yang telah menjadi pertanda untuk peristiwa yang akan terjadi di seperempat abad kemuadian.
Dari itu semua sampai revolusi iran, iran tingal sedikit lagi tidak mengikat kepada America serikat dan barat. Ini saat begabung dalam fakta Bhagdad di 1955 (kemudian CENTO) dan melihat America serikat sebagai pemasok senjata perang yang besar.

Politik Luar Negeri
Dibawah Negara republic Islam, iran telah menunjuakan antipasti ke America Serikat dan Uni soviet. Amerika serikat khusunya sebagai teman dekat para shah, dilihat sebagai personafikasi setan – dalam bentuk sekularisme barat dan neo-imperialis. Tapi rezim tak bertuhan Marxist dari uni soviet dilihat sebagai sedikit lebih baik. Pada tahun 1984 rezim itu secara sistematis mengeksekusi banyak dari pemimpin dari partai Marxist tudeh di iran. namun kedua Negara superpower itu senang dengan antipati iran tersebut.
Dari akhir kebiakan asing dari republic iran adalah pendirian dari superioritas moral dan bermaksud terbuka untuk meneyebar benih moral ke Negara lain. Dari 154 prinsip konstitusi iran menyatakan bahwa iran akan melindungi perjuangan yang lemah melawan sorang arogan dibagain manapun di dunia ini.
Kenyataannya seperti yang dikatakan oleh Farzin Vahdat bahwasanaya setelah revolusi Iran kita mengalami kontras dalam ekspektasi kita masing-masing terhadap negeri Iran. Ia mengatakan:
“In contrast to what might be expected after the triumph of a colossal revolutionary process and the establishment of a state deriving its power mainly from a strong ideological drive, in Iran the development of socio-political thought did not end withthe establishment of the Islamic Republic in 1979. Indeed, the post-revolutionary period has witnessed a proliferation of socio-political discourses articulated by groups and individuals inside and outside the country, notwithstanding censorship and attempts to control the flow of information by the government” .
Di sisi lain akibat dari pasca revolusi Iran wacana orientasi wacana berkembang pada akomodasi menuju pada kekuatan modern dunia salah satunya. Seperti yang di paparkan Farzin:
“Within the post-revolutionary religiously oriented discourses, more vigorous than the secular socio-political discourses, two distinct trends are visible. One of these trends consciously seeks accommodation with the forces of the modern world, to an extent unsurpassed by previous religious discourses in Iran, especially with regard toits gradual espousal of modern democratic principles. This trend is closely associated with the thought of Abdulkarim Sorush, the leading figure among a group of philosophers and social thinkers at the forefront of the reform movement in post-revolutionary Iran. He enjoys a large following among the relatively young and well-educated Muslims who seek a more open and democratic society in the post-revolutionary conditions of Iran”.

Lebih dari pada itu semua David E. Long mengatakan bahwasanya mengekspor revolusi adalah salah satu kebijakan iran di Negara-Negara di dalam regionalnya khusunya didaerah teluk.

***

DAFTAR KEPUSTAKAAN

– David E. Long & Bernard Reich. The Government and Pollitics of the Middle East and North Africa. United States. Westview press. 1986

–Farzin Vahdat Post revolutionary Islamic Discourses on Modernity in Iran: Expansion and Contraction of Human Subjectivity. dalam Middle East Stud.vol. 35. Cambridge University press. 2003.

–George Lenczowski. Timur Tengah di Kancah Dunia. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 1993.

– J. Bhahrier. Econonzics of Development in Iran. (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

– Lenin, The State and Revolution, The Essential Leftn Unwin Books. Moscow. (without year)

– Leon Trotsky, Results and Prospects (Peculiarities of Russia Historical Development), (tanpa nama, tahun, tempat terbit)

– http://www.marxist.com/indonesia/revolusi_iran2.html

SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA

“SEJARAH ANALITIK STRUKTURAL NASIONALISME INDONESIA”

Hendriko Firman

TUJUAN, TERMINOLOGI, DAN PENDEKATAN

Tujuan tulisan ini adalah akan megemukan pada garis besar masalah-masalah sejarah dari pergerakan nasional di Indonesia. Dalam tulisan ini metode kronoligs tidak akan digunakan, karena lingkupya terbatas. Di sini hanya akan dikemukakan beberapa segi saja. Mengenai karya-karya perkembangan sejarah nasionalisme Indonesia dapat ditunjukan karya-karya dari Amry Vandenbosch (1994), Bernanrd Clekke (1943), A. von Arx (1949), George Mc.T. Kahin (1952). Semuanya itu ditulis pada akhir atau setelah PD II. Karya sebelum perang ialah buku karangan J.Th. Petrus Blumberger (1931), yang secara sistematis memuat banyak sumber sejarah sampai tahun (1930). J. M Pluvier telah menulis sebuah tinjauan umum mengenai periode berikutnya, diterbitkan pada tahun (1953). karya-karya SJ. Rutgers (1946) dan D.M.G. Koch menyajikan gambaran umum dari seluruh perkembangan pergerakan nasional sampai PD II. Di samping itu masih banyak karangan lain mengenai pergerakan nasional. Di antara penulis bangsa Indonesia dapat disebutkan nama nama A.K Pringgodigdo (1950 ) dan Sitorus (1947).
Lazimnya, yang disebut sejarah pergerakan nasional adalah bagian dari sejarah Indonesia meliputi periode tahun 1908, ialah tahun berdirinya Boedi Oetomo sebagai organisasi nasional, sampai tahun 1942, tahun pecahnya perang pasifik.
Selain itu, metode kronologi akan memebrkan suatu perspektif historis, sehingga dinamika pergerakan nasional dapat dilihat dengan jelas sebagai suatu pergerekan progesif. Akan tetapi, lingkup tulisan ini tidak mengizinkan untuk menerapkan metode kronologi itu, sehingga di dalam menganallisis berbagai aspek dengan menggunakan beberapa konsep sebagai titik tolak, semata-mata juga hanya dimaksudkan sebagai suatu pengantar untuk beberapa masalah sejarah pergerakan nasional di Indonesia.
Nasionalisme Indonesia, seperti juga di Negara-negara asia tenggara lainnya, mempunyai basis historis pada kolonilalisme; maka sifat antikolonialisme menjadi bagaian utamanya.
Oleh karena itu, ada interdependensi antara nasionalisme dan kolonialisme pada umumnya dan juga terasa adanya pengaruh timbal balik, terutama antara nasionalisme yanga sedang tumbuh dan politik kolonial beserta ideologi kolonialnya.

A. ASPEK-ASPEK MULTIDIMENSIONAL
Pergerakan nasional di Indonesia dalam arti umum dapat dianggap sebagai suatu regenerasi; pergerakan ini bukanlah pergerakan yang hanya terbatas pada bidang politik tatapi melitputi juga bidang ekonomi, sosial, dan kultural. Sifat universal dari fenomena ini meneyabakan pergerakan itu mempunyai aspek multidimensional. Karena mengalami regenarasi ini, maka para partsipan menjadi sadar akan segala sesuatu, baik yang lama maupun yang modern; semunya didorong ke arah kemajuan dan terlibat pada semua kegiatan secara aktif.
1. Aspek Ekonomi
Pertentangan kepentingan menyebabkan kondisi hidup rakyat terbelakang, karena cara-cara produksi lama tidak mampu menghadapi kapitalisme colonial yang mempunyai organisasi dan teknologi moderen yang mampu mengubah keadan ekonomi yang ada.
Kedudukan yang menguntungkan penjajah itu diperoleh melalui eksploitasi dan diskriminasi. Oleh karena itu, usaha-usaha ke arah itu, usaha-usaha ke arah emansipasi ekonomi selalu ditekan. Semua pengalaman yang mengecewakan sebagai akibat system sosial-ekonomi yang menghalangi usaha perekonomian bangsa Indonesia, mendorong timbulnya solidaritas.
Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gerakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik.
Gerakan ekonomi ini sejak pada PD I terus-menerus tumbuh sampai pada puncaknya pada pemberontakan komunis tahun 1926.
Tindakan-tindakan yang keras dari pihak pemerintah kolonial memperkuat orientasi ekonomi pada beberapa organisasi, seperti Boedi Oetomo dan Partai Bangsa Indonesia. pekerjaan kontruktif dari partai-partai itu pada bidang ekonomi, meskipun belum begitu berarti, telah memberi bentuk-bentuk konkret kepada cita-cita ekonomi nasional dan dapat dianggap sebagai suatu bukti yang nyata adanya prinsip berdiri di atas kaki sendiri.
2. Aspek Sosial
Pembentukan organisasi-organisasi nasionalis didorong oleh pertentangan kepentingan social dengan kaum penjajah; karena perbedaan rasial pertentangan ini menjadi lebih serius. Organisasi itu fungsinya menjadi lebih nyata dan menunjukan perbedaan kepentingan-kepentingan tersebut secara lehih jelas; jadi, organisasi-organisasi itu boleh dikatakan meratakan jalan utnk membangun suatu kekuatan sosial.
Akibat berdirinya Boedi Oetomo bagi penguasa peguasa tradisional pribumi, yaitu ellite lama, adalah negative oleh karena itu, organisasi ini tumbuhnya lambat. Sebagai reaksi terhadap keinginan emansipasi di atara massa rakyat yag luas, golongan elite lama ini kemudian membentuk ikatan sendiri. Perkumpulan bupati, yang memperjuangkan kepentingan kepentingan merka sendiri dega cara caranya dendiri.
Tumbuhnya diferensisasi sosial menyebabkan jumlah organisasi-organisasi nasionalis bertambah dengan bermacam-macam tujuan untuk melindungi kepentingan mereka masing-masing sambil berdialog menentang kolonialisme.
Aspek sosial lain dari pergerakan nasional yang perlu mendapat perhatian kita ialah peranan diferensiasi di antara organisasi-organisasi nasionalis itu. Pada umumnya peranan yang dijalankan oleh organisasi organisasi itu memang dipilh dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Boedi Oetomo diikuti oleh organisasi-organisasi berikutnya, seperti Muhammadiyah dan Taman Siswo. Terutama Taman Siswo dapat dianggap sebagai sebuah lembaga dengan system pendidikan yang menjadi bagian dari pergerakan nasional yang memperjuangkan masayarakat merdeka. Cita-cita kebebasan dan kesatuan dipakai sebagai pedoman pendidikan praktis. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan nasional adalah cara yang sebaik-baiknya untuk berkerja secara produktif untuk mencapai kemerdekaan rakyat. Kebudayaan asli dipakai sebagai dasar pokoknya.
3. Aspek-Aspek Kebudayaan
Nasionallisme Indonesia pada tingkat-tingkat pertama juga dikenal sebgai nasionalisme sempit, yang bersifat local atau kedaerahan. Nama-nama seperti Serekat Ambon Roekon Minahasa, Pasoendan, Sarekat Soematera menunjukan sifat kedaerahan dan kesukuan.
Pada kongres kaum muda Jawa, yaitu pada waktu Boedi Oetomo didirikan, diadakan, diskusi untuk menentukan sikap yang harus diambil dan untuk menghadapai kebudayaan barat. Pada diskusi ini terdapat dua pandagan yang berbeda: golongan pertama ingin agar orang jawa sic mengembangkan dirinya menurut jalannya sendiri dan tetap memilihara sifat ketimurannya, sedang golongan yang kedua menganggap contoh dari barat lebih praktis, jadi, sudah sepantasnya untuk diikuti.
Pada tahun 1908 sekali pertentangan yang terjadi pada kongeres boedi oetomo itu timbul. Golongan konservatif berpendapat bahwa kebudayan lama harus menjadi dasar untuk menghimpun seluruh rakyat, sedang golongan progresif tidak menghendaki kemunduran dan meolak sifat-sifat khusus kejawaan. Mereka ingin melawan barat dengan alat-alat dan metode barat pula. Mereka menekankan usaha mendinamikakan kehidupan kebudayaan dengan persatuan dan pertukaran. Mereka berpendapat bahwa sikap statis berati kemunduran.
Gerakan kebudayaan memperkkuat kedaran nasional dan merupakan tambahan bagi egerakan ekonomi yang mencita citakan kehudpan ekonomi yang bebas bagi rakyat. Pergerkan nasional inin membangun kebudayaan bru sebagai basis kehudapan baru dengan mengambil alih unsure unsure barat. Pembaharuan ini dianggapa sebagai alat untuk mewujudkan cita cita politik, oleh karena itu dalam mengahadapi kebudayaan barat kaum nasiionalis menolak ide asimilasi dalam rangka negeri belanda raya.

4. Aspek Aspek Politik
Pergerakan nasional sebagai bentuk revivalisme dalam hubungan-hubungan masyarakat colonial sudah barang tentu mengalami politikalisasi, dan bahkan sejak taraf pertamanya pergerakan itu sudah jelas menunjukan orientasi politik umum.
Di tanah jajahan kepentingan ekonomi dan politik terjalin erat antara satu dengan lainnya: dominasi politik melindungi erat monopoli ekonomi modal colonial dan menggunakan pemerintahan colonial sebagai alat kekuasaan.
Sejak itu disadari bahawa kekuasaan poltik diperlukan untuk memkasa pemerintah colonial memperlihatkan kesejahteraan rakyat. Aspriasi politik, meskipun belum jelas formulasinya, telah tampak pada waktu itu Boedi Oetomo didirikan. Dengan perkataan lain dapat dinyatakan lain dapat dinyatakan bahwa organisasi ini menghendaki turut ambil bagian dalam mengatur penghidupan rakyat dan memperbaiki nasibnya.
Di sisi lain dengan berdirinya volksraad maka keinginan-keinginan politik dapat disalurkan dengan resmi kepada pemerintah colonial. Pengalaman pengalaman di dalan volksraad menimbulkan keyakinan bahwa melalui koperasi usaha usaha rakyat tidak akan terlindungi, sehingga golongan nasionalis menganggap sangat perlu menyusun kekuatan rakyat untuk mengambil alih kekuasaan politik. Formulasi tujuan politik ini makin lama juga makin terperinci. Perhimpunan Indonesia, organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia di negeri belanda, membuat analisis yang tepat mengenai hubungan-hubungan colonial dan mengambil resolusi bahwa pergerakan nasional harus menuju ke Indonesia merdeka, sedang kerja sama dengan kaum penjajah ditolak.

B. BEBERAPA UNSUR NASIONALISME INDONESIA
Beberapa nasional dilihat sebagai satu konsep kehidupan, menunjukan proses historis dari kelahiran dan perkembangan nasionalisme. Bilamana kita mempelajari nasionalisme, akan tampak jelaslah bahwa ada pertumbuhan konsep yang besar dan pendekatan-pendekatannya bermacam-macam. Apa yang menarik perhatian kita dalam hubungan ini ialah banwa secara luas disetujui bahwa nasionalisme dalam beberapa pengertian asal mula dan perkembangannya bersifat historis sehingga sejarah pergerakan nasional menjadi inti akibat-akibatnnya bebeda-beda tegantung pada keadaan keadaan historis.
Nasionalisme sebagai fenomena historis timbul sebagai jawban terhadap kondisi-kondisi historis, politik, ekonomi, dan sosial tertentu. Penyelidikan tentang nasionalisme sebagai sutatu fenomena yang serba kompleks memerlukan pula pendekata5n yang multidisipliner. Dengan demikian, akan terjadi jelas apek multidimensionalnya. Untuk mengenal sifat sifat khas nasionalisme sudah barang tentu unsur unsur pembentukan perlu pula diselidiki dengan menggunakan multiple approach seperti tersebut diatas.
RINGKASAN
Nasionalisme pada periode pembentukan lebih terikat pada aspek-aspek subjektif daripada aspek-aspek objektif. Kenyataan sejarahnya dimulai sebagai fakta-fakta konseptual, kemudian berkembang perlahan lahan ke bentuk yang lebih kongkret dan menjadi fakta fakta sosio-psikologis bedasar atas unsur-unsur komponenya menunjukan tingkatan-tingkatan perkembangan nasionalisme pada semua aspeknya dan pada variasi jawaban nasionalisme terhadap kolonialisme. Tiga aspek nasionalisme aspek kognitif, aspek orientasi tujuan/nilai dan aspek-spek afektif — dapat diterapkan sebagai kriteria perbedaan kategori-kategori yang menggambarkan tipologi berbagai organisasi pergerakan nasional.
Nasionalisme dikembalikan ke dasar eksistentisnya; terutama nasionalisme sebagai suatu ide pada semua bentuknya perlu diselidiki keselarasanya dan hubungannya dalam konteks sistuasional realitas sejarah tertentu. Manifestasi-manisfestasinya harus dihubuhngkan dengan masing-masing kelompok sosial yang mendukungnya, perubahan perubahan strukutural harus diterangkan sejalan dengan dinamisme kelompok dan derajat integrasinya.

***
– The end –
Copyright © hendrikofirman.wordpress.com

Sumber
Sartono Kartodirdjo. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1989