RESUME BUKU

Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933)

By: Taufik Abdullah

Pergerakan kaum muda di Sumatra Barat (1927-1933), adalah sebuah cikal pergelokan intelektual dengan banyak pengaruh-pengaruh dari luar, sehingga banyak timbul transisi ideology dan masalah yang serta-merta menyerempet pada tindakan Batavia untuk membersihkan gerakan-gerakan kaum muda, sehingga Batavia menjadi aware pada sikap gerakan kaum muda.

Dalam masalah sekolah di Minangkabau, merajalelanya sekolah-sekolah buatan milik pribadi atau dibangun atas kepentingan sendiri. Disekolah yang dibangun oleh penghulu atau mufakat masyarakat Nagari untuk membuat sekolah baru. Akibatnya banyak wadah berpikir di sekolah kaum muda, lama-kelamaan mulai menghilangkan pengaruh kaum tua, untuk mengambil jalannya sendiri. Akibat dari tindakan ini banyak murid-murid dan pelajar-pelajar yang terkena influence dari kegiatan politik, dan mulai turun pula dengan keragaman masalah yang diemban baik oleh organisasi Islam maupun partai-partai yang berideologi politik sehingga timbullah apa yan dikenal sebagai gerakan kaum muda.

Gerakan kaum muda cenderung disini, dibagi dalam dua kategori yaitu sekolah agama atau khususnya Islam. Contohnya Sumatera Thawalib, Sumatra Thawalib meninggalkan Madrasah gaya tradisional yang biasa, yang lebih menekankan hukum dan teologi dan di dominasi oleh satu guru tunggal. Tahun 1912 Hadji Rasul adalah seorang perintis pergerakan agama Kaum Muda, menjadi guru di madrasah Padang Panjang yang dikenal dengan Surau Djembatan Besi. Hadji Rasul memperkenalkan sistem kelas bertingkat di dalam sekolah, yang di ilhami oleh pengalaman asistennya, Zainuddin Labai er Junusi, yang telah mendirikan sekolah dasar pertama.[1] Dan yang kedua sekolah sekuler contohnya sekolah raja.

Sekolah-sekolah yang ada pada masa itu 180° berbeda dengan sekolah sebelumnya yang bersistem upanisad[2], Tapi system sekolah ini mangadopsi dari system greko-yudais-kristentum-romanus[3]. Dimana system pengajaran bertingkat-tingkat dan punya jadwal yang terpola dan terencana, sehingga dari latar belakang system ini kaum muda yang dulunya “mengekor” pada kaum tua, sekarang lebih individual secara kolektif walaupun mereka tidak pelak juga terkena influence dari kaum tua secara implisit.

Taufik Abdullah dalam buku ini[4] berbiacara tentang bagaimana sebuah transisi Minangkabau yang sebelumnya hanya berputar-putar saja dalam pembaharuan Islam, sekarang pembaharuan ini juga menyentuh pada pendidikan barat yang sekarang menjadi lambang sebuah kehormatan atau gengsi apabila bisa bersekolah disitu. Juga pendidikan barat menjadi acuan dari pelajarnya untuk menguatkan rasa nasionalisme.

Disisi lain, tulisan ini tentang gerakan pembahruan kaum muda ini juga tidak lepas dari pemgaruh-pengaruh kaum tua, yaitu baik agamis maupun sekuler. Kaum agamis yaitu para kaum tua yag kebanyakan merantau atau berguru belajar pada syekh-syekh yang di aceh, Mesir Arab dll. Sedangkan kaum sekuler, kaum tua tidak lepas lagi terpengaruh oleh orang-orang Belanda, Eropa. Kaum tua disebutkan banyak memberi materi-materi pelajaran atau pengajaran yang sifatnya lebih mendalam dan komperehensif. Itulah banyaknya timbul sekolah-sekolah baru yang punya landasannya yang kuat setelah menerima pangajaran itu, contohnya didirikannya sekolah swasta pertama di Minangkabau yaitu HIS.

Dari buku sekolah dan politik, gerakan kaum muda di Sumatra Barat (1927-1933), mempunyai teknik tulisan yang cukup baik, walaupun tidak bisa disangkal juga bahwa buku yang awalnya desertasi ini banyak membahas ,masalah-masalah pendidikan, juga banyak menceritakan tentang konflik intern dari sekolah itu sendiri, contohnya Keberadaan Datuak Batuah di Sumatera Thawalib yang sangatlah berpengaruh, salah satunya yang pernah dilakukanya adalah melakukan demonstrasi di luar hall pertemuan, yang menyatakan perlawanan mereka terhadap Abdul Muis karena tindakannya dalam memisahkan pimpinan komunis. Selain itu Datuak Batuah juga menentang Hadji Rasul, guru kepala sekolah yang tidak hanya menentang partisipasi murid dalam kegiatan politik tapi juga mengutuk ideologi baru sebagai penyimpangan dari ortodoksi islam. Walaupun demikian Haji Rasul juga mendapat dukungan oleh beberapa ulama kaum muda termasuk Sekh Thaher Djalaludin, seorang pemimpin modernis islam di Malaysia[5].

Tapi dari buku ini, walaupun menceritakan tentang gerakan kaum muda sedikit sekali membahas secara konkrit mecam apa gerakan kaum muda itu sendiri, terlihat pemeberontakan Silungkang yang dalam fase tersebut yaitu fase gerakan kaum muda, sedikit sekali dibahas melainkan justru dibahas tentang gerakan yang sebatas ideologi saja.

Menurut saya dari hasil membaca buku ini terliahat jelas banyak gerakan kaum muda di sumbar tak disangkal lagi punya pengaruh yang sangat hebat menuju ke transisi Minangkabau selanjutnya, yaitu saat pecahnya perang dunia ke-dua, hingga mengisi pos-pos pemerintahan yang baru berumur seumur jagung, tentunya gerakan kaum muda di Sumatra Barat adalah bibit atau momok yang dilematis karena disatu sisi mempunyai andil yang besar disisi lain juga mempunyai punya rasa kekhawatiran yang besar, akibat kebijakan mereka yang agresif dan memandang masalah politik dari hal rasa emosional.

Pemimpin Kelompok Pelajar Kaum Muda.

Hadji Jalaluddin Thaib[6] lahir pada tahun 1895, setelah tamat dari sekolah kelas dua, ia pergi ke Mekkah pada tahun 1914, dimana ia belajar agama dan bahasa Arab hingga 1916. Pada tahun 1920, Jalaluddin mendirikan sekolah Diniyah di negrinya, tetapi ia tetap aktif dalam masalah hubungan dengan Sumatera Thawalib. Pada tahu 1922, ia terpilih menjadi ketua gabungan Thawalib, segera sesudah itu, kesatuan itu bubar dan Tahwalib Padang Panjang jatuh di bawah pengaruh pergerakan Komunis Islam Haji Datuk Batuah[7].

Pemimpin yang lainnya adalah Saalah Jusuf Sutan Mangkuto. Lahir pada tahun 1901, Saalah adalah putra pemimpin Naqsyabandiyah yang disegani. Pada garis ibunya, ia berasal dari penduduk asli nagarinya, Pitalah, dekat Padang Panjang. Setelah menamatkan pendidikanya di sekolah kelas dua pada tahun 1917, ia menjadi preman[8].

Katika Abdul Muis[9] mulai menerbitkan suratkabar di Padang pada tahun 1923, Saalah pergi berkerja untuknya, dan SI mempekerjakanya sebagai penasehat pertamanya dalam politik setelah pengusiran Abdul Muis dari Minangkabau pada tahun 1924, Saalah kembali ke Pitalah, diamana ia mendirikan organisasi adat, Berlian Minangkabau. Organisasi dimaksudkan untuk penyatuan penghulu dan fungsionaris adat di Pitalah yang bertindak sebagai langkah pertama kearah organisasi adat yang lebih besar yang mencangkup nagari yang lain. Namun sayangnya ia bukanlah seorang penghulu dan usahanya untuk mengorganisir penghulu membangkitkan permusuhan diantara otoritas adat Pitalah[10].

Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah

By: Christine Dobbin

Dalam buku ini Cristine Dobbin, meceritakan bagaimana perubahan yang terjadi di Sumatra tengah khusunya masalah pertanian dan juga pembaharuan Islam sebagai ruang lingkup yang sangat penting untuk dikaji. Antara kebangkitan Islam dan pertanian di padu dalam satu campuran tulisan sehingga bisa terlihat sinkron. Christine Dobbin dalam buku ini, 95% menggunakan simber-sumber dan naskah atau dokumen-dokumen dari pemerinatah Hindia Belanda dan VOC pada saat memerintah, hanya kecil sekali teks-teks Indonesia yang dipakai menjadi sumber referensi. Juga, gaya bahasa yang disampaikan cukup lugas, per-paragrafnya alasan-alasan dan pernyataan-pernyataan diungkapkan secara gamblang dengan kefokudan yang cukup baik.

Isi dari buku ini tidak jauh-jauh dari masalah penyebaran, perdagangann, komditi pertanian juga hal-hal kebangkitan Islam dan prosesnya “ ke“ dan “ jadi“ dalam Minangkabau.

Masalah yang ingin dituturkan dari tulisan Dobbin ini yaitu bagaimana sedikitnya sejarawan membahas tentang kebangkitan Islam tapi juga mengadopsi pertanian sebagai pembanding atau comparating. Disinilah, letak masalah itu oleh Dobbin dan diangkat sebagai bentuk buku. Karena pada dasarnya sejarawan cenderung membahas dalam waktu (time) yang sama tapi dalam tempat (space) yang berbeda yaitu objek tempat pertanian sedangkan disisi lain sejarawan menelaah pada space gerakan sosial itu sendiri. Bagaimana Christine Dobbin, membahas tentang perang paderi tidak manual secara pergerakannya tapi, disitu juga Christine Dobbin menjelaskan tentang apa peran dan andil pertanian dalam perang paderi itu sendiri, walaupun juga dobbin menyinggung sedikit gerakan sosial tersebut.

Dobbin memberikan kesan pada buku ini bahwa, selama ini orang hanya melihat sebuah even kebangkitan Islam dan daerah Minagkabau hanya berpatokan pada gerakan sosial tok, tapi spesifikasi gerakan sosial pertanian tidak di bahas jadi lengkaplah apa yang ditulis Dobbin bahwa kesinambungan antara masalah kebangkitan Islam dan pertanian punya relevansi yang cukup besar.

Dobbin juga memaparkan disini khusunya pembaca untuk mencoba berpikir bahwa antara kebangkitan Islam dan prtanian semuanya adalah gerakan sosial yang tak bisa dielak lagi karena orang Minangkabau adalah orang yang “acceptable“ atau orang yang menerima hampir semua unsur, sehingga pembaca bisa menyimpulkan bahwa apa yang eksplisit dari buku ini adalah sebuah pesan yang disampaikan Dobbin.

Jelaslah disni bahwa Dobbin tidak ingin memberikan statement yang lebih rumit lagi, bahwa pertanian juga punya andil besar dalam sejarah Minangkabau, terutama kopi yaitu cikal yang implisit dari sebuah perang paderi[11], intinya bahwa antara kebangkitan Islam yang selalu mengalami perubahan yang radikal dan terkesan agresif selain memiliki nilai positif terhadap perubahan zaman dan juga sebaliknya, pertanian sebagai penunjang memiliki citera yang cukup hebat juga dalam diakronis sejarah Minangkabau.

Gerakan Kebangkitan Islam Yang Pertama 1784-1803.

Abad kedelapan belas, di kota tua pusat syattariah Agam sedang mengalami kebangkitan perdagangan dan lahan kekayaan yang baru, imbas dari perdagangan dari Nagari tetangga. Akibatnya banyak orang yang naik haji ke Mekkah dan pulang dengan membawa aliran-aliran Islam yang baru.

Kira-kira pada tahun 1784, Tuanku Nan Tua seorang guru yang sangat istimewa telah menarik ribuan murid ke Kota Tua dan kesurau-surau Syattariyah lain di desa-desa sekitarnya. Surau itu sejak dulu membaur dengan damai dalam panorama agrarian, mereka bukanlah tantangan bagi masyarakat yang luas, dan sebelum kebangkitan perdagangan, kebanyakan ajaran mereka berkisar kepada Ilmu Hakikat, pengetahuan mistik yang harus di miliki oleh orang yang sedang mencari Allah.[12]

Dalam melakukan penyebaran agama Islam, Taunku Nan Tuo melakukan misi-misi khusus, mencoba membujuk desa-desa di sekitarnya untuk menerima hukum muslim di dalam berdagang dan berhubungan dagang dengan para saudagar. Sebagai bagian usahanya itu ia besedia untuk mengkonversikan pribadi-pribadi di desa-desa ini, mencoba meyakinkan mereka untuk menerima lima pokok Islam dan hidup sebagai orang Islam yang baik[13].

Usaha kampanye ini tidak selalu berjalan dengan cara radikal, seperti masa sebelumnya yaitu pertentangan antara Naqsyabandiyah dengan Syattariyah yang menimbulkan pertumpahan darah diantara kedua belah pihak. Memang salah satu fungsi dari surau adalah mengajarkan silat Melayu, dan seorang guru biasanya mempunyai sejumlah pemuda tegap yang biasanya di persenjatai dan dipersiapkan untuk menghadapi bentrokan[14].

Rupanya taktik ini berhasil juga, dan menjelang pertengahan tahun 1970-an, daerah Empat Angkat mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang . Tuanku Nan Tuo dikenal sebagai pelindung pedagang[15].

SEJARAH LOKAL DI INDONESIA “KUMPULAN TULISAN“

Editor: Prof. Dr. Taufik Abdullah

Karena besarnya ruang lingkup buku ini disini bisa diambil beberapa sampel sebagai keobjektifan dari maksud-maksud tulisan tersebut. Khusunya tulisan tentang perang paderi.

Disamping ada tulisan-tulisan yang lain tentang bagaimana, even dari sejarah lokal, perang paderi di Indonesia adalah sebuah historiografi yang cukup spektakuler untuk dibahas, dimana Minangkabau lah yang menjadi niat Hindia Belanda untuk meninggalkan daerah ini karena, pusat yaitu Hindia Belanda mengalami defisit terus akibat perang di Minangkabau ini, membangkangnya perdagangan di pesisir dan kelalaian pajak.

Taufik Abdullah sebagai penulis mengatakan bahwa perang paderi adalah intinya perang yang berawal dari adat melawan agama[16] dimana sebuah organisasi tradisional yang bertujuan untuk melakukan pemurnian ajaran agama Islam dan kembali ke syariat, dengan semangat Wahabbi yang dibawa dari Mekkah. Gerakan paderi di pelopori oleh Haji Miskin, Haji Piobang, dan Tuanku Nan Renceh.

Juga dari tulisan ini, memang mempunyai banyak persamaan dengan tulisan-tulisan lainnya yaitu dalam segi bukti atau sumber dan kronologisnya tapi tak urung juga bahwa tulisan Taufik Abdullah ini bisa dibilang cukup baik, penggambaran dari Minangkabau, sebab dan akibat, nama-nama tokoh serta historiografi dari bumbu-bumubu bahasanya cukup mudah dimengerti.

Kebanyakan dari historiografi Minangkabau, khususnya perang paderi kebanyakan sejarawan cuma menaggapi pada sebuah kefokusan tertentu saja, tapi jarang mengambil kefokusan dari dua objek. Disinilah peran positif tulisan Taufik Abdullah, tulisannya mencap dan memfokuskan pada semua bidang yang cukup bauik dalam satu bab.

Yang patut menjadi perhatian adalah seorang tokoh perang paderi. Tokoh yang tidak kalah ekstremnya di dalam perang Paderi adalah Tuanku Nan Renceh, yang mana ia memulai jihadnya dengan cara membunuh kakak perempuan ibunya, karena ia memakai tembakau, dan ia pergi ke Bansa untuk mengumumkan tatatertib puritan ekstrim yang sejak saat itu harus diikuti. Seperti tidak adanya adu jago, perjudian, penggunaan tembakau, candu, sirih, dan minum-minuman keras. Tak perlu dibantah lagi bahwa shalat lima waktu sehari semalam adalah sebuah keharusan.yang menjadi ciri khas dari Padri[17]

Baik pula kita mendengar apa yang dikatakan oleh Taufik Abdullah bahwa “Tradisi sering kali tepat, tapi juga tidak tepat. Meguasai tokoh-tokoh dan peristiwa-persitiwa; walaupun demikian tradisi segan-segan mengambil suatu keputusan dan menyatakan berpihak kepada Tuangku Nan Renceh dan ulama-ulama lain itu. Nama-nama mereka selalu menjadi buah bibir anak cucu dan disebut-sebut dengan lantang, sedangkan gema nama Haji Miskin sangatlah lemah dan makin menghilang; hanyalah telinga yang nyaring mendengar saja, yang dapat menagkapnya”.[18]

[1] Taufik Abdullah : “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ” Padang, 1988, Hlm. 41.

[2] Upanisad adalah sebuah system klasik tradisonal dalam pengajaran, dimana murid belajar dengan cara melingkar pada guru atau syekh untuk pembelajaran, biasanya system ini banyak terdapat pada surau-surau atau langgar-langgar yang bernafaskan konservatisme.

[3] Adalah sebuah system dimana memiliki arti greko sebagai system pembelajaran mengadopsi dari greek atau yunani, yudais atau yahudi adalah system yang penganut falsafah yahudi, kristentum mengadopsi system dari orang-orang Kristen, dan romanus adalah sebuah system yang menganut dari pembelajaran orang-orang dari romawi.

[4] Taufik Abdullah : “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ” Padang, 1988.

[5] Ibid., hal. 45

[6] Belajar agama dan bahasa Arab di Mekkah sampai tahun 1916, sekembali dari sana ia melanjutkan studi agamanya dengan Sekh Thaib Umar di Semenanjung dan kemudian di Surau Jembatan Besi dengan Haji Rasul, selain itu ia juga bekerja sebagai guru junior di Sekolah Jembatan Besi, tinggal disana hingga ia dikirim ke Tapak Tuan oleh salah seorang koleganya dari Sumatera Thawalib.

[7] [7] Taufik Abdullah : “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ” Padang, 1988.

[8] Ibid., hlm 84.

[9] Abdul Muis (1878-1956) adalah anak Tuanku Laras dari Sungai Puar (Agam). Ia keluar dari Sekolah Medis Indonesia (STOVIA) pada tahun 1903 dan pergi bekerja sebagai klerk di Departemen Pendidikan di Batavia, meninggalkanya pada tahun 1905 ketika ia menjadi assten editor Bintang Hindia.

[10] Ibid., hlm 85.

[11] Rusli Amran, .Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. jakarta: Sinar Harapan. 1981

[12] Christine Dobbin, “Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847”, akarta, 1992, Hlm. 149.

[13] Ibid., hlm 150

[14] Ibid., hlm 151

[15] Ibid., hlm 151.

[16] Taufik Abdulaah, “Sejarah Lokal di Indonesia: Kumpulan Tulisan”. 1990. Yogyakarta. Gadjah Mada University press, hlm 168.

[17] Paderi adalah sebuah organisasi tradisional yang bertujuan untuk melakukan pemurnian ajaran agama islam dan kembali ke syariat, dengan semangat Wahabbi yang dibawa dari Mekkah. Gerakan paderi di pelopori oleh Haji Miskin, Haji Piobang, dan Tuanku Nan Renceh.

[18] Taufik Abdulaah, “Sejarah Lokal di Indonesia: Kumpulan Tulisan”. 1990. Yogyakarta. Gadjah Mada University press, hlm 176.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik : 1988, “Sekolah Dan Politik : Gerakan Kaum Muda Di Sumatera Barat (1927-1933) ”, Padang.

Abdullah, Taufik : 1990, “Sejarah Lokal Di Indonesia (Kumpulan Tulisan)”, Yogyakarta :Gadjah Mada University Press.

Amran, Rusli, 1981.Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. jakarta: Sinar Harapan.

—————, 1985.Sumatra Barat: Plakat Panjang. jakarta: Sinar Harapan.

Dobbin Cristine 1992.Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah, Sumatra Tengah. Jakarta.

Zuhri,. Saifuddin K.H 1981. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia. Bandung Alma’arif,

    • nardiLa
    • Oktober 26th, 2008

    Judul Bahasa Iggrisnya Salah Jo…..

  1. yap terima kasih udah membantu. :)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: