Berlanjut sampai Belasan Tahun
Konflik antara TNI dan DI/TII bukanlah soal salah paham atau kurang
intensifnya komunikasi. Ketika Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat,
mereka menemui daerah Priangan sudah menjadi guerrilla invested area DI/TII.
Sementara itu, Siliwangi harus membangun wilayah perlawanan (wehrkreise) TNI
di tempat yang sama.
Sebagai sesama pejuang, Siliwangi berusaha menjalin kerja sama dengan
DI/TII, perselisihan antarkeduanya ditunda sampai urusan dengan Belanda
selesai. Kontak-kontak dilakukan oleh utusan divisi. Ada pula oleh utusan
brigade atau batalyon.
Namun mendapat jawaban bahwa TNI di Jawa Barat harus di bawah komando TII.
Mayor TNI Utarya, yang diutus divisi, dibunuh karena menolak mengakui
kedaulatan DI/TII. Utusan lainnya, Lettu Aang Kunaefi, mendengar langsung
jawaban SMK bahwa ia ³tidak mengenal RI dan TNI, yang dikenal hanya Darul
Islam dan tentara Belanda².
Setelah pengakuan kedaulatan dan permasalahan Indonesia dengan Belanda
selesai, TNI memerangi DI/TII yang telah dinyatakan sebagai pemberontak
operasi keamanan di Jawa Barat. Peperangan ini baru bisa diselesaikan
setelah SKM menyerah pada 4 Juni 1962. Selama 13 tahun pemerintah RI dan TNI
harus berhadapan dengan DI/TII yang ingin mendirikan NII sebagai pengganti
NKRI.
Kita ingin tidak terjadi lagi intra-state conflict di Indonesia. Kalau ada
perbenturan ideologi atau kepentingan di antara kita, apakah itu antara
pusat dan daerah, antargolongan, atau karena ketidakadilan pembagian sumber
daya, jangan lagi sampai diselesaikan dengan kekerasan senjata.
Siliwangi sejak semula tidak ingin perbenturan kepentingan di antara anak
negeri diselesaikan dengan kekerasan. Pendekatan baik-baik dilakukan
terhadap DI/TII, termasuk ketika melancarkan operasi militernya, yang
mengasihi rakyat, tidak menyakiti musuh yang tertawan, dan menghormati
keluarga pihak lawan.
Tapi bagaimana pun kita harus arif dan menyadari, bagaimana mungkin DI/TII
dibentuk oleh Panglima Besar Sudirman dan Presiden Sukarno pada 1947 untuk
mempertahankan RI dan melindungi kaum republikein. Faktanya, 1947
persetujuan Renville belum terjadi, berarti ketika itu Divisi Siliwangi
masih di Jawa Barat. Faktanya, SMK sudah sejak semula ingin mendirikan NII,
menggantikan NKRI.
Penulis adalah purnawirawan Pati TNI, pernah memimpin kesatuan TNI memerangi
DI/TII di Jawa Barat. Kini sedang menyelesaikan program pasca sarjana (S-3)
sejarah di UI.









Juni 2, 2008 pukul 2:01 pm
Salam Joang.
Sobat, hari ini Ummat Islam Indonesia sedang dirundung problema dari sebuah dinamika yang telah sekian lama mendeskriditkan Ummat Islam, terkhusus Islamnya sendiri.
KITA generasi Islam dituntut untuk berbuat. Berbuat untuk pembebasan, berbuat untuk perlawanan, berbuat untuk perubahan.
PEMBEBASAN dari segala bentuk penindasan, PERLAWANAN terhadap thaghut yang menindas hak asali kemanusiaan. PERUBAHAN dimana HUKUM ALLOH Azza wa Jalla tegak di bumi nusantara.
Mari bersama kita wujudkan Imarah Khos di Indonesia, Dawlah Islam Indonesia.
al faqir, empiris.
Juni 2, 2008 pukul 2:02 pm
Darul Islam masih adakah?!
September 15, 2008 pukul 3:27 pm
UNDANGAN kpd seluruh Ummat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) utk menghadiri DEKLARASI ANSHORUTAWHID Pimp. Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Rabu, 17 September di Ged. Asrama Haji Bekasi Pk. 12.00 s/d 17.00.
Agustus 20, 2009 pukul 2:37 am
Proklamasi NII -nya Kartosoewirjo ternyata masih diperingati. Baca di sini:
http://kalipaksi.com/2009/08/18/agustus-bulan-dua-proklamasi/