SITUS BUDHA UMUR 600 TAHUN DI TEMUKAN DI KABUPATEN BONDOWOSO

13 Agustus 2007 16:20
Mer, sby – Sebuah situs bersejarah agama Budha ditemukan di desa Jireg kecamatan Cerme kabuPaten Bondowoso. Situs ini terletak di tebing dengan kemiringan 80 derajat di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan jarak 10 km dari kota Bondowoso.

Dalam situs itu terdapat relief bergambar gajah, kerbau, kera dan wajah patung Buto. Bahkan, diperkirakan situs ini dibuat pada 600 tahun lalu. Kepastian jika situs ini adalah peninggalan agama Budha, karena terdapat relief bergambar Budha.

Ketua dewa sesepuh Sangha Teravada-Bikhu Dama Subamahatera selaku penemu situs ini mengatakan, keberadaan situs ini terungkap melalui peta yang ditulis di kulit kambing yang ditemukan Raffles pada masa lalu.

“Ketika itu Raffles masuk ke Nusantara yang dia cari pertama adalah cerita rakyat, lalu dia menemukan peta yang didapat dari Suku Badui. kemudian dari peta itu dia dapat menemukan tempat-tempat yang ada di wilayaha Nusantara, termasuk Borobudur,” kata Bikhu Dama Subamahatera, Senin (13/08).

Situs ini diduga sebagai tempat meditasi para Bikhu pada dataran paling tinggi. Situs ini biasa disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Goa Buto, namun sangat jarang dijamah oleh masyarakat, karena letaknya yang sulit dijangkau. Selain itu, masyarakat sekitar menganggap sebagai tempat yang angker. Konon, ada orang yang meninggal dunia akibat mencuri perlengkapan situs ini.

Bikhu Dama Subamahatera berharap, pemerintah bisa menjaga kelestarian situs tersbut sesuai dengan kondisi aslinya, karena menurutnya pemandangan di situs ini lebih indah dari 13 negara yang pernah dikunjunginya.

 

Ditulis dalam Sejarah. Leave a Comment »

Gus Dur, Bung Tomo, Kartosuwiryo

Berlanjut sampai Belasan Tahun

Konflik antara TNI dan DI/TII bukanlah soal salah paham atau kurang
intensifnya komunikasi. Ketika Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat,
mereka menemui daerah Priangan sudah menjadi guerrilla invested area DI/TII.
Sementara itu, Siliwangi harus membangun wilayah perlawanan (wehrkreise) TNI
di tempat yang sama.

Sebagai sesama pejuang, Siliwangi berusaha menjalin kerja sama dengan
DI/TII, perselisihan antarkeduanya ditunda sampai urusan dengan Belanda
selesai. Kontak-kontak dilakukan oleh utusan divisi. Ada pula oleh utusan
brigade atau batalyon.

Namun mendapat jawaban bahwa TNI di Jawa Barat harus di bawah komando TII.
Mayor TNI Utarya, yang diutus divisi, dibunuh karena menolak mengakui
kedaulatan DI/TII. Utusan lainnya, Lettu Aang Kunaefi, mendengar langsung
jawaban SMK bahwa ia ³tidak mengenal RI dan TNI, yang dikenal hanya Darul
Islam dan tentara Belanda².

Setelah pengakuan kedaulatan dan permasalahan Indonesia dengan Belanda
selesai, TNI memerangi DI/TII yang telah dinyatakan sebagai pemberontak
operasi keamanan di Jawa Barat. Peperangan ini baru bisa diselesaikan
setelah SKM menyerah pada 4 Juni 1962. Selama 13 tahun pemerintah RI dan TNI
harus berhadapan dengan DI/TII yang ingin mendirikan NII sebagai pengganti
NKRI.

Kita ingin tidak terjadi lagi intra-state conflict di Indonesia. Kalau ada
perbenturan ideologi atau kepentingan di antara kita, apakah itu antara
pusat dan daerah, antargolongan, atau karena ketidakadilan pembagian sumber
daya, jangan lagi sampai diselesaikan dengan kekerasan senjata.

Siliwangi sejak semula tidak ingin perbenturan kepentingan di antara anak
negeri diselesaikan dengan kekerasan. Pendekatan baik-baik dilakukan
terhadap DI/TII, termasuk ketika melancarkan operasi militernya, yang
mengasihi rakyat, tidak menyakiti musuh yang tertawan, dan menghormati
keluarga pihak lawan.

Tapi bagaimana pun kita harus arif dan menyadari, bagaimana mungkin DI/TII
dibentuk oleh Panglima Besar Sudirman dan Presiden Sukarno pada 1947 untuk
mempertahankan RI dan melindungi kaum republikein. Faktanya, 1947
persetujuan Renville belum terjadi, berarti ketika itu Divisi Siliwangi
masih di Jawa Barat. Faktanya, SMK sudah sejak semula ingin mendirikan NII,
menggantikan NKRI.

Penulis adalah purnawirawan Pati TNI, pernah memimpin kesatuan TNI memerangi
DI/TII di Jawa Barat. Kini sedang menyelesaikan program pasca sarjana (S-3)
sejarah di UI.

 

Ditulis dalam Sejarah. 4 Komentar »

MEDIA TIDAK INDEPENDENT

Beberapa waktu lalu ketika ada permasalahan antara warga dan Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) terkait dengan pembangunan tower miliknya yang mengganggu warga. Sangat terlihat media di yang ada diSurabaya, baik perwakilan maupun kantor utama tidak,tidak independent.

Saya ingat persis waktu kejadian, siang itu, seorangr ekan membawa lembar pengaduan warga RT 5 RW 10Simpang Darmo Permai Selatan tentang pembangunan toweryang mengganggu masyarakat terdekat dengan tower. Kalaitu yang menulis Memorandum, Surabaya Pagi dandetik surabaya. com. Sisanya? nihil.

Padahal saat itu terdapat banyak wartawan dari berbagai media tempat tersebut. Tidak ada satupun yang”berani” menulis. Ada kabar burung yang mengatakan bahwa wartawan media itu telah terbeli dengan amplop.Saya prihatin, benar-benar prihatin karena media yangberfungsi sebagai pengayom masyarakat ternyata mulaimrotol.

Sehari sesudah tulisan pertama muncul, saya bertemu dengan rekan-rekan yang tidak menulis berita tersebut. Dan apa jawabannya? Tidak diperbolehkan sama redakturnya, takut karena yang di tulisnya merupakan raksasa media. Kemudian yang membuat saya lebih pedi adalah ketika malam hari seorang rekan dari radio satu grup dengan RCTI menyatakan “Aku dapat tugas mengamankan reporter radio, tapi gak ada duitnya”. Gawat.

Menurut keterangan kawan itu pula, saya mendapatkan informasi kalau wartawan televisi telah dibeli dengan diberikan amplop agar tidak meliput kejadian tower
tersebut. Media kita terpuruk, media sudah tidak memihak pada kepentingan masyarakat. Saya sedih. Mungkinkan pers ini dapat kembali ke tempatnya sebagai pilar keempat demokrasi? saya dampakan.

tabik
steven

 

Ditulis dalam Politik. Leave a Comment »