— mas dimas <masdimas62@yahoo. com> wrote:
> Kalau benar ada polisi menangkap teroris karena
> pesanan negara Amerika-Australia, yang non Islam,
> ya, itu sih karena obyekkan saja.
> Ada tantangan, ada target, ada imbalan.
> Tidak ada urusan sama Islam bukan Islam.
yang bicara begini kayaknya bukan islam deh. atau
islam yang tidak sensitif.
tanya: apa urusannya “born again christian” dan
“christian scientology” , dll, di Aceh pasca Tsunami,
sampai membawa ratusan anak-anak Aceh yang mau
diadopsi (“dikristenkan” )? proyek? mereka malah
bagi-bagi duti, kok …….
> Sama dengan polisi menangkap dan menduiti bandar
> narkoba atau kasus curanmor.
> Nggak ada urusan agama di situ. Kalau bisa jadi
> duit, ya, dijadikan duit.
> Persoalannya ‘kan banyak orang Islam sendiri yang
> “over sensitif” atau dengan sengaja menjebloskan
> diri ke masalah agama. Karena kurang kemampuan
> menganalisa.
> Saya sendiri sebagai orang Islam senang
> orang-orang macam Imam Sambudra, Abu Bujana
> ditangkapi dan ditembaki. Selama ini, mereka malah
> yang ngrusak Islam, kok.
saya pikir kejatuhan islam ya karena ada orang-orang
seperti dimas inilah, yang mengecam dan
menjelek-jelekkan islam sedemikain rupa sampai saya
gak percaya kalau dia sungguh-sungguh islam.
jangan-jangan nyamar? kayaknya pernah ketemu di milis
lain terus menghilang, eh .. ketemu di sini lagi.
saya betul-betul salut sama non-muslim yang tak
pernah/jarang sekali menjelek-jelekkan agamanya
sendiri atau rekan sesama agama. contoh: tidak ada
orang kristen/katolik yang mengecam/menghujat Alex
manuputy, Tibo, damanik, dll. tidak ada. saya salut
sekali. di islam, …. yah .. ada banyak orang seperti
dimas ……
sirikit
bukan islam fanatik tapi “eneg” aja kalau ada orang
ngaku islam tapi menghujat-hujat islam
>
> zam zam <ada_asep@yahoo. com> wrote:
> kita memang patut heran pada pendapat
> seperti itu. Kok dalam kasus terorisme, mau saja
> menelan bulat-bulan tidankan dan klaim polisi. lupa
> ya bahwa polisi juga manusia, yang bisa salah dan
> bisa diperalat oleh kekuatan yang memusuhi Islam?
>
> Farid Gaban <faridgaban@yahoo. com> wrote:
> Salam,
>
> Di bawah ini saya posting tulisan Luthfi Assyaukanie
> (peneliti Freedom
> Institute dan aktivis Jaringan Islam Liberal)
> berkaitan dengan
> penangkapan Abu Dujana.
>
> Tulisan Luthfi ini ingin mengatakan bahwa orang yang
> tidak mengikut
> polisi, tidak percaya polisi, adalah mereka yang
> “bersimpati pada
> teroris”.
>
> Muslim yang mempertanyakan tindakan dan klaim
> polisi, mengikuti logika
> Luthfi, adalah Muslim yang BODOH karena tidak bisa
> membedakan antara
> Islam yang benar dari Islam yang salah.
>
> Saya merasa bersyukur menjadi Muslim yang bodoh
> dalam definisi Luthfi
> ini. Alhamdulillah. …
>
> Farid Gaban
> (Tulsian Luthfi ada di bawah ini)
>
> Koran Tempo | Selasa, 26 Juni 2007
>
> Islam Benar Versus Islam Salah
>
> Oleh Luthfi Assyaukanie
> (Peneliti Freedom Institute, Jakarta)
>
> Pada akhir 2005, mantan presiden Abdurrahman Wahid
> menulis sebuah
> artikel di Wall Street Journal dengan judul seperti
> di atas (“Right
> Islam Versus Wrong Islam”). Tulisan itu kemudian
> diterbitkan ulang di
> beberapa koran ternama, seperti New York Times dan
> Washington Post,
> serta dimuat di ratusan website penting. Tulisan Gus
> Dur itu sangat
> relevan untuk kita baca dan renungkan kembali
> akhir-akhir ini, di saat
> kaum muslim terbelah dalam menyikapi penangkapan
> teroris Abu Dujana.
>
> Saya menerima e-mail dari beberapa mailing list
> Islam, yang
> menunjukkan sikap simpati dan pembelaan terhadap Abu
> Dujana sambil
> mengecam tindakan polisi yang brutal. Beberapa media
> juga tampak
> berlebihan dalam mengecam sikap polisi yang sudah
> susah payah
> melakukan tugasnya yang penuh risiko. Merasa
> dipojokkan, Sabtu (23
> Juni) lalu polisi mengeluarkan laporan kronologi
> penangkapan Abu
> Dujana. Tampak jelas bahwa polisi sudah melakukan
> prosedur penangkapan
> secara benar.
>
> Tulisan Gus Dur satu setengah tahun silam itu
> mengajak kita semua
> untuk secara jernih membedakan mana Islam yang benar
> dan mana Islam
> yang salah. Menurut tokoh Nahdlatul Ulama itu, para
> teroris yang kerap
> mengatasnamakan Islam adalah orang-orang yang
> keliru. Mereka mewakili
> Islam yang salah. Untuk melawan mereka, “kaum muslim
> harus
> mengkampanyekan pemahaman Islam yang ‘benar’, yakni
> mereka harus
> berani mengecam ideologi ekstremis”.
>
> Saya mencoba merenung mengapa kaum muslim begitu
> sulit mengecam para
> teroris, padahal, selain telah menyusahkan ekonomi
> orang banyak
> (akibat hengkangnya para investor, misalnya), para
> teroris jelas-jelas
> sudah mencoreng-moreng wajah Islam. Kaum muslim
> semestinya menyadari
> bahwa apa yang dilakukan para teroris sejak beberapa
> tahun terakhir
> telah mencemari citra Islam jauh lebih buruk
> daripada yang pernah
> dilakukan penulis mana pun.
>
> Kaum muslim kerap mengeluh dan mengecam para
> orientalis yang dianggap
> telah mencemari citra Islam, tapi apa yang dilakukan
> para teroris,
> menurut hemat saya, jauh lebih dahsyat dan memiliki
> dampak lebih luas
> ketimbang karya para orientalis itu. Ironisnya,
> belum pernah ada
> gerakan serius dari kaum muslim untuk mengecam
> terorisme.
>
> Paling tidak sampai hari ini, saya belum pernah
> mendengar lembaga atau
> otoritas Islam, baik di Mesir, Pakistan, Iran, Kuala
> Lumpur, maupun di
> Indonesia, yang mengeluarkan fatwa mengecam Usamah
> bin Ladin.
> Satu-satunya pernyataan (fatwa) semacam ini dibuat
> oleh sebuah
> organisasi Islam di Spanyol. Tampaknya kaum muslim
> memang tidak peduli
> terhadap citra Islam di mata dunia internasional.
>
> Saya berandai-andai, sekiranya Abu Dujana itu
> bernama lain yang
> melakukan tindakan terorisme karena menginginkan
> uang atau harta,
> mungkin kaum muslim tidak akan membelanya atau
> paling tidak tak akan
> memperlihatkan rasa empatinya, sekalipun, misalnya,
> para polisi
> melakukan tindakan lebih brutal dalam menangkapnya.
> Mungkin tak akan
> ada Tim Pembela Muslim (TPM) yang sangat gigih
> membela orang-orang
> yang selama ini dituduh teroris.
>
> Sikap empati berlebihan terhadap para teroris yang
> mengatasnamakan
> Islam menunjukkan bahwa kaum muslim memang belum
> mampu membedakan apa
> yang oleh Gus Dur disebut “Islam benar” dan “Islam
> salah”. Mereka
> seakan-akan masih menaruh kebimbangan terhadap apa
> yang dilakukan oleh
> para teroris itu: jangan-jangan apa yang dibuat para
> teroris tersebut
> ada benarnya; bukankah mereka sedang memperjuangkan
> Islam?
>
> Memang tidak mudah menyamakan tindakan kriminal atas
> nama agama dengan
> kriminal umum, misalnya, atas nama uang. Kaum muslim
> selalu merasa
> bahwa ada yang luhur dari perjuangan atas nama
> agama. Apalagi para
> teroris itu selalu menggunakan istilah-istilah yang
> selama ini akrab
> di telinga mereka, seperti jihad, syahid, melawan
> thaghut, dan li
> i’lai kalimatillah (menegakkan kalimat Allah).
>
> Tapi, kalau kaum muslim terus-menerus membela atau
> menaruh sikap
> simpati kepada para teroris, saya khawatir upaya
> negara menumpas
> terorisme dan kekerasan atas nama agama secara umum
> akan sia-sia,
> karena para teroris atau para pelaku tindak
> kekerasan akan terus
> merasa bahwa mereka tidak sendirian; ada orang yang
> secara diam-diam
> terus mendukung dan memberi simpati terhadap
> perjuangan mereka.
>









Januari 8, 2008 pukul 3:36 am
ISLAM BENAR VERSUS ISLAM SALAH:
1. ISLAM SALAH adalah mereka yang telah terpecah-belah menjadi 73 firqah sejak 1.400 tahun lebih sampai sekarang, sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 (pecah belah adalah sesat) dan Yudas 1:18,19,20,21.
2. ISLAM BENAR adalah mereka yang menunggu-nunggu datangnya Allah awal millennium ke-3 masehi menurunkan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53.
3. Untuk penjelasan tentang dua hal tersebut dengan gamblang telah terbit buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
berikut 4 macam lampiran acuan:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
“SOEGANA GANDAKOESOEMA”
dengan penerbit:
“GOD-A CENTRE”
dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
“DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Januari 8, 2008 pukul 3:43 am
Jangan takut kalau umat islam dikristenkan atau sebaliknya, karena hujjah ayat Nabi Muhammad saw. membebaskan memilih sesuai Al Kahfi (18) ayat 29: Yang ingin beriman silahkan, yang ingin kafir silahkan!
Ini perkataan Allah bukan perkataan manusia!
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Juli 7, 2008 pukul 4:43 am
Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Tersedia ditoko buku K A L A M
Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
Telp. 62-21-8573388
Agustus 1, 2008 pukul 3:40 am
Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE
I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama (APU) Balitbang dan Diklat Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai kepada kesimpulan menerima atau menolak dengan hujjah, sebagaimana hujjah yang terkandung didalam buku itu sendiri.
II. Telah dibedah oleh:
A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2001.
B. Prof. DR. Budya Pradiptanagoro, Penghayat Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FIPB Universitas Indonesia.
C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Ilmu Filsafat Universitas Gajah Mada.
D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai Moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, anak paman Siti Khadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ), sedang Musa menerima wahyu langsung Allah, sesaui Al A’raaf (7) ayat 144,145.
Pertanyaannya yang sangat sulit untuk dijawab, akan tetapi sangat logis dan wajar untuk dipertanyakan adalah Siti Khadijah dan Muhammad sebelum menerima wahyu adalah seorang yang baik, patonah, sidik, amin dan lain-lainnaya, keduannya mengadakan pernikahan dengan cara ritual agama apa dan beragama apa?
Sedang waktu itu agama yang paling terkini adalah Nasrani !
E. Disaksikan oleh 500 para peserta seminar dan bedah buku dengan diakhiri oleh sesi dialog tanya-jawab. Apabila waktu tidak dibatasi akan mengulur panjang sekali, disebabkan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan oleh para hadirin dari berbagai penganut agama dan kepercayaan/keyakianan.
F. Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta 10002, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitan agama-agama (1301-1401 hijrah) (1901-2001 masehi)”, diacara Seminar dan Bedah Buku hari/tanggal: Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Pancasila Indonesia.
Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.