Intruksi Bupati Diabaikan, Sekolah Tetap Pungut Biaya Jutaan Rupiah

 

Kabar Mesir

Kabar Dhuafa

Sastra

Agus Setiawan & Partners

Attorney at Law

Aliansi Independen Peduli Publik

Rekonvasi Bhumi

   

Masjid Agung Atsauroh

Serang

KMB Cairo Mesir
 

Intruksi Bupati Diabaikan, Sekolah Tetap Pungut Biaya Jutaan Rupiah

 
 
 
 
 
 

Serang — Meski Bupati Serang Taufik Nuriman telah menginstruksikan agar sekolah tidak memungut biaya pendidikan, namun hingga Jumat (13/7), para orangtua siswa baru di sejumlah Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Serang, Banten, justru tetap membayar biaya masuk hingga jutaan rupiah.

Oleh : T Muharam

Diantaranya para orangtua siswa baru di SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 2 Serang. Dari pagi hingga siang kemarin, terlihat sejumlah orangtua siswa baru keluar-masuk lokasi sekolah untuk membayar biaya pendidikan yang besarnya hingga jutaan rupiah.

     Para orangtua siswa baru mengaku, belum mengetahui adanya instruksi Bupati Serang yang meminta agar sekolah tidak memungut biaya pendidikan. “Kami tidak tahu persis bagaimana aturannya. Makanya kami cepat-cepat ke sini untuk membayar, karena di-deadline membayar sampai tanggal 14 besok (hari ini-red),” tutur Pram, orangtua siswa baru.

     Dia telah membayar uang sebesar Rp 2,111 juta sebagai biaya pendidikan anaknya di SMKN 1 Serang. Besaran itu terdiri dari SPP Rp 35.000, Dana Pembangunan Pendidikan (DPP) Rp 450.000, Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) Rp 1 juta, partisipasi masyarakat Rp 500.000, masa bimbingan siswa (mabis) Rp 75.000, dan asuransi Rp 11.000. Sumbangan itu harus diberikan langsung, sebelum siswa baru masuk sekolah.

     Hal serupa dilakukan para orangtua siswa baru di SMKN 2 Serang. Kemarin, mereka harus menyetor uang Rp 900.000, sebagai cicilan pertama pembayaran biaya pendidikan sebesar Rp 2,65 juta. Sebesar Rp 1 juta diantaranya untuk DSP, SPP Rp 60.000, DPP Rp 450.000, seragam Rp 450.000, dan sebagainya. Begitu pula, para orangtua siswa baru di SMAN 1 Taktakan yang tetap harus membayar biaya pendidikan Rp 1,3 juta, SMAN 1 Serang sekitar Rp 4 juta, dan sebagainya.

     Sejumlah sekolah memungut biaya DSP dan DPP, untuk menutupi biaya operasional sekolah. Uang DSP di SMKN 2 Serang Rp 1 juta misalnya, sebesar 33 persen digunakan untuk belanja pegawai, 3 persen sarana prasarana, dan 5 persen untuk biaya perjalanan dinas.

     Demikian pula SMAN 1 Cikande, yang membagikan rencana biaya pendidikan kepada orangtua siswa. Total biaya yang diusulkan dibayar orangtua siswa baru adalah Rp 2,86 juta. Diantaranya untuk membayar DSP Rp 1,25 juta, DPP Rp 500.000, iuran komite sekolah Rp 80.000, dan sebagainya.

     Dalam selebaran yang dibagikan kepada orangtua siswa disebutkan, biaya DSP akan digunakan untuk belanja pegawai Rp 485.000, belanja barang Rp 140.000, belanja perjalanan dinas Rp 65.000, belanja pemeliharaan Rp 210.000, belanja pembelajaran Rp 200.000, kesiswaan Rp 100.000, dan belanja organisasi profesi Rp 50.000. Adapun DPP digunakan untuk tempat parkir Rp 100.000, alat peraga Rp 200.000, ruang olah raga/ OSIS Rp 100.000, dan penambahan 5 unit computer Rp 100.000.

            “Pokoknya sekolah harus mengembalikan seluruh uang titipan, baik itu DSP, DPP, dan pungutan lain. Pungutan biaya sekolah akan ditetapkan setelah sekolah mengajukan RAPBS ke Dinas Pendidikan,” ujar Wakil Bupati Serang Andy Sujadi menegaskan. (nr)

webmaster: oe tjoe

Gadaikan TV Di Pegadaian Untuk Sekolahkan Anak

Serang – Muhamad Hadi, warga Kaujon Tengah Serang, terpaksa menggadaikan televisi (TV) ke Perum Pegadaian Serang, hanya untuk mendaftarkan sekolah anaknya Muhamad Rizki ke SMP 5 Serang.

Oleh : Lulu Jamaludin

Hal tesebut diungkapkan Hadi yang didampingi istrinya Setia Maya, ketika menunggu panggilan dari pegawai Pegadaian yang menaksir barang gadaiannya Jum’at (13/7). Ia harus merelakan satu-satunya barang berharga miliknya, sebagai sarana hiburan keluarganya. “Harus bagaimana mana lagi kang, anak saya kan harus sekolah, “ kata Hadi.

Untuk memasukkan anaknya ke SMP saja ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp850.000, belum lagi untuk membeli buku tulis serta peralatan sekolah lainnya. Ia tak mengerti, uang sebesar Rp 850.000 yang diminta oleh sekolah anaknya tersebut untuk apa. Dia hanya tahu jumlahnya saja. Sedangkan mengenai perincian dana tersebut sama sekali tidak tahu. “Saya tidak tahu, untuk apa saja uang tersebut,“ tutur Hadi.

Menurut istrinya, biaya yang dibebankan sekolah terhadap anaknya tersebut sangat membebaninya. Apalagi pekerjaan suaminya yang masih belum tetap, sejak enam tahun yang lalu, suaminya di-PHK oleh PT CNI. “Bagi kami biaya tersebut sangat membebani, mau masukin anak sekolah saja susah,“ tegas Setia Maya.

Ia tak habis pikir, uang bangunan yang diminta pihak tempat anaknya serta saudaranya sekolah untuk apa saja. Karena selama beberapa kali diminta uang bangunan, menurutnya sekolah tersebut tidak membangun apa-apa. “Setiap membayar  uang bangunan, tapi tidak ada yang dibangun di sekolah itu,“ ujar Setia Maya.

Ketika suami istri itu dipanggil oleh pegawai Pegadaian, keduanya mengeluh. Karena taksiran harga yang diberikan Pegadaian sebesar Rp500.000. Uang sebesar itu menurutnya tidak cukup untuk mendaftarkan anknya ke SMP. Apalagi anak satunya juga membutuhkan biaya sebesar Rp100.000, untuk daftar ulang naik kelas. “Wah nggak cukup kemana-mana nih, tapi tidak papa lah, daripada tidak ada uang, nanti cari lagi, “ keluh Hadi.

Suami istri tersebut melangkah keluar gedung Pegadaian dengan muka yang lusuh, karena harapan mereka menggadaikan TV agar dapat menyekolahkan anaknya ternyata tidak terpenuhi. Mereka sama sekali tidakmenyangka bakal mendapat beban yang dirasakan teramat berat hanya untuk menyekolahkan anaknya saja. “ Ternyata berat juga yah, ngurus anak sekolah,“ kata sang istri.

Ia juga tak paham tentang program pemerintah yang katanya akan membebaskan biaya pendidikan dari SD hingga SMP. Ternyata meskipun ada Biaya Operasional Sekolah (BOS) tetap saja orang tua siswa masih kesulitan untuk menutupi biaya lain yang dibebankan sekolah kepada siswa. “ Lalu untuk apa yah, BOS itu, “ ujar Suaminya.

Sementara seorang ibu yang tak mau disebutkan namanya, yang kebetulan menggadaikan perhiasannya juga untuk mendaftarkan anaknya sekolah, biaya-biaya yang dibebankan sekolah kepada siswanya sangat berat. Menurutnya sekolah tidak pandang bulu, mau kaya atau miskin, harus memenuhi peraturan yang dikeluarkan sekolah. “Kayane meh, wong miskin kun ore oleh sekole yah,“ katanya. (nr)

Front Persatuan Perjuanga Rakyat Papua.(Front Papua)

Transisi Demokrasi rakyat hari ini semakin suram. Ruang-ruang kebebasan rakyat semakin tidak jelas. Perubahan era globalisasi yang yang cenderung di katakan sebagian kalangan akan mendorong perubahan rakyat kearah yang lebih baik. Namun nyata sudah hari ini mimpi-mimpi kemajuan rakyat dalam era modern membuktikan penderitaan panjang. Akibat daripada konsolidasi kaum pemodal global, resensi kekuatan rakyat semakin termarjinalkan akibat kekuatan-kekuatan rakyat termoderasi dalam proses nilai kaum pemodal. Bahwa kejayaan Kapitalisme Amerika-Eropa dan Jepang sekarang terus meniadakan nilai-nilai Demokrasi, HAM dan keadilan bagi manusia/rakyat/ Bangsa di belahan penjuru dunia.

 

Orang Jawa, Sumatera, Kalimantan , Amerika maupun Aceh dst- punya masalah yang sama dihadapan mereka. Bangsa Papua Barat dalam mempertahankan hidup tidak terlepas dari perjuangan pula. Nasib dan perubahan nasib patut didukung bagi siapapun. Begitupun Hak menentukan Nasib sendiri merupakan perjuangan sepenuhnya bagi rakyat Papua dan semesta rakyat sipil lainnya.

 

Dalam peradaban perubahan perjuangan menegakkan hak-hak dan kedaulatan bangsa hari ini di Papua Barat terus diperhadapkan pada konsolidasi kaum pemodal dengan meniadakan cita-cita kebebasan. Rangkaian peristiwa dalam spekturm politik yang terjadi di Papua saat ini; cukup memukau di permukaan. Pengibaran Bintang Kejora, Pembakaran Bintang Kejora di Solo (Jateng) bahkan seruan dan mobilisasi kelompok merah putih di Jayapura.

 

Rakyat dipertaruhkan demi keinginan sekelompok orang. Jakarta dalam kendali kapitalisme global (mandor), sebagai konsekwensi rakyat dijadikan bangsa Pasar. Kedaulatan Indonesia bukanlah harga mati, sebab pengorbanan rakyat selama ini dijadikan proyek semata. Demi rakyat-kemerdekaan dan keadilan harus ditegakan  dimana-mana.

 

Maka, hak menyatakan pendapat maupun cita-cita menjadi keharusan bagi segenap kaum tertindas di dunia. Perjuangan Papua Barat adalah bagian dari perjuangan rakyat semesta yang hari ini berkeinginan untuk kedaulatan sempurna. Kemerdekaan Papua Barat adalah keharusan yang tak bisa dianggap sepele oleh kelompok manapun-cita dan jiwa demi tanah tumpah darah bagian dari nadi dan darah. Silahkan bagi siapapun yang tidak sepakat dengan kemerdekaan dan kejayaan rakyat Papua dihari ini maupun kedepan bahkan Demokrasi tidak bisa tetap dan diam, keutuhan NKRI (Negara kesatuan republic Indonesia) bukanlah jaminan bagi kemerdekaan dan kebebasan rakyat.

 

Bagi Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat ( Front PEPERA PB) warna dalam irama demokrasi dan kebebasan yang akhir-akhir ini mencuat di Papua maupun di luar Papua merupakan seruan moral dan politik; pengibaran bintang kejora di LP Abepura Papua, Ekspresi politik tarian Sampari mencuat Bintang Kejora maupun pengibaran bintang kejora di tanah Jawa. Kedatangan Senator Amerika beberapa hari lalu di Jakarta merupakan hal biasa yang selalu ada di Negara manapun. Sayangnya, keinginan mengunjungi Papua di cekal oleh Jakarta tanpa alasan jelas.

 

Kami paham bahwa alat-alat pendukung kebijakan penjajah semakin tidak diam untuk meredam seruan rakyat dimana-mana. Baik dari KODIM, KODAM, KORAMIL, BIN, BAKIN dan BAIS tidak lain adalah wajah-wajah pendukung penjajahan. Pembentukan kelompok sipil yang terjadi di beberapa wilayah demi kekuasaan tetap berjalan dilakukan oleh lembaga-lembaga teritori yang selalu bernyanyi mengatasnamakan keutuhan bangsa. Tetapi territorial digiring menjadi anjing penjaga modal; keamanan perusahaan asing di jaga TNI-POLRI super ketat membuktikan bahwa hegemoni nasionalisme Indonesia adalah onani kaum reaksioner.

 

Untuk itu kami menyatakan beberapa persoalan mendasar berkaitan dengan wacana dan gerakan rakyat di Papua maupun kawan-kawan lainnya bahwa;

 

  1. Tarik dan Bubarkan lembaga-lembaga territorial (BIN-BAIS-BAKIN) dan TNI/POLRI organic-non organic dari Papua Barat demi ruang demokrasi yang kokoh.
  2. Bubarkan milisi merah putih di Jayapura dan segera bentuk organisasi rakyat merdeka.
  3. Mendesak Pangdam XVIII Trikora untuk segerah Memindahkan Danrem 172 /PWV, karena dianggap ingin mengacaukan keamanan di Papua, melalui pernyataannya yang dianggap kontrafersi dengan penegakan HAM di Indonesia pada `umu nya dan papua pada khusus nya
  4. Mengutuk tindakan pembakaran Bendera Bintang Kejora di Solo beberapa waktu lalu sebab semangat rakyat solo dan Papua adalah satu-Kemerdekaan sejati.
  5. Bebaskan dan hentikan pendekatan persuasive, represif dan militeristik dalam menyelesaikan persoalan.
  6. Rakyat Papua Barat bersatu padu dalam perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat hari ini dan kedepan.

 

 

Demikian siaran pers ini kami sampaikan kepada rakyat semesta; orang Papua yang mulia. Terimakasih.

 

 

Port Numbay-Papua Barat, 09 Juli 2007

 

 

Arkilaus Baho

Jurubicara Nasional

Pengusaha Di Kota Tua “Gulung Tikar”

Dalam pengamatan saya,

usaha revitalisasi dan sejenisnya tampaknya sekarang ini masih lebih meyentuh di aspek fisik saja. memang dengan pekerjaan fisik, jelas terlihat bahwa lebih bersih, lebih indah, lebih-lebih deh, tapi pengelolaan bagaimana?

(bila lokasinya merupakan bagian kota besar, dan ini berkaitan erat dengan pengelolaan kota secara keseluruhan; bila lokasinya merupakan bagian daerah/wilayah, maka berkait dengan pengelolaan wilayah itu)

alasan orang mau kembali berusaha di daerah itu apa?

contoh mudahnya, untuk kota tua jakarta (beos) mengapa bank2 besar warisan zaman belanda sekarang ngga beroperasi di daerah beos? mengapa lebih memilih di sudirman thamrin? pangsa pasarnya kan ada di sudirman thamrin

contoh mudah lainnya, desa penglipuran, desa tenganan di bali, masuk di dalam buku travel terbitanlonely planet kan, berarti ada pengeloaan yang baik berkait dengan pengelolaan wilayah bali, sehingga menarik gerakan manusia (dengan segala alasan-pariwisata mugkin alasan gerakan manusia yang terbesar untuk bali), sehingga buku lonely planet merasa layak desa2 tersebut dimut dalam bukunya.

Who Said Indonesian was an Easy Language?

My response in a language forum recently addressing this issue-

I think it’s a bit inaccurate to say Indonesian is an easy language.
Grammatically it is less complex than a lot of European languages or
English. But Indonesian as taught in grammar books is what we call
‘Standard Indonesian’ – Bahasa Baku. These days more and more people
are making a greater distinction between Standard Indonesian and the
many varieties of Spoken Indonesian.

These varieties are not really ‘dialects’. They all constitute
Indonesian, ie, what Indonesians call Bahasa Indonesia. Until
recently many Indonesian linguists even refused to acknowledge these
varieties as legitimate; I think because they did not conform to the
standards of Standard Indonesian, and because they couldn’t really be
classified as dialects.

Standard Indonesian is rarely encountered in spoken form except in
older movies, some TV dramas, TV advertisements and the news, and on
formal occassions, although none of these contexts necessarily
exhibits purely Standard Indonesian.

The disparity between Standard Indonesian and the colloquial Jakarta
variety is very wide – wider than that between Standard (Oxford)
English and most colloquial forms of English.

The Central Java variety (the one I’m most familiar with) is different
again, but still Indonesian – not a dialect. It is endowed with a rich
array of idiom and innuendo as a result of the influence of Javanese.

The Jakarta Chinese variety, which I now encounter on a daily basis in
my job as a high school teacher here in Jakarta is different again. It
is influenced by a variety of factors and is spoken at a very fast pace.

In fact, it may be fair to say that once you have studied the grammar
of Standard Indonesian, in order to progress on to spoken
communication there is much you have to ‘unlearn’.

My dilemma after years of exposure to non-standard varieties of
Indonesian has actually been getting back into Standard Indonesian in
order to improve my written Indonesian skills.

This shouldn’t be taken as discouragement, but rather encouragement to
explore the very interesting array of spoken Indonesian on offer in
this country.

Cheers,

DavidG

….oh..did I mention ‘Bahasa Gaul’ as well? Now there’s an
interesting variety. There’re even a few dictionaries (albeit little
ones) devoted to this variety of spoken Indonesian.. .. Whistling Smiley

July 12, 2007 in Indonesia

ISLAM BENAR VERSUS ISLAM SALAH

— mas dimas <masdimas62@yahoo. com> wrote:

> Kalau benar ada polisi menangkap teroris karena
> pesanan negara Amerika-Australia, yang non Islam,
> ya, itu sih karena obyekkan saja.
> Ada tantangan, ada target, ada imbalan.
> Tidak ada urusan sama Islam bukan Islam.

yang bicara begini kayaknya bukan islam deh. atau
islam yang tidak sensitif.
tanya: apa urusannya “born again christian” dan
“christian scientology” , dll, di Aceh pasca Tsunami,
sampai membawa ratusan anak-anak Aceh yang mau
diadopsi (“dikristenkan” )? proyek? mereka malah
bagi-bagi duti, kok …….

> Sama dengan polisi menangkap dan menduiti bandar
> narkoba atau kasus curanmor.
> Nggak ada urusan agama di situ. Kalau bisa jadi
> duit, ya, dijadikan duit.
> Persoalannya ‘kan banyak orang Islam sendiri yang
> “over sensitif” atau dengan sengaja menjebloskan
> diri ke masalah agama. Karena kurang kemampuan
> menganalisa.
> Saya sendiri sebagai orang Islam senang
> orang-orang macam Imam Sambudra, Abu Bujana
> ditangkapi dan ditembaki. Selama ini, mereka malah
> yang ngrusak Islam, kok.

saya pikir kejatuhan islam ya karena ada orang-orang
seperti dimas inilah, yang mengecam dan
menjelek-jelekkan islam sedemikain rupa sampai saya
gak percaya kalau dia sungguh-sungguh islam.
jangan-jangan nyamar? kayaknya pernah ketemu di milis
lain terus menghilang, eh .. ketemu di sini lagi.

saya betul-betul salut sama non-muslim yang tak
pernah/jarang sekali menjelek-jelekkan agamanya
sendiri atau rekan sesama agama. contoh: tidak ada
orang kristen/katolik yang mengecam/menghujat Alex
manuputy, Tibo, damanik, dll. tidak ada. saya salut
sekali. di islam, …. yah .. ada banyak orang seperti
dimas ……

sirikit
bukan islam fanatik tapi “eneg” aja kalau ada orang
ngaku islam tapi menghujat-hujat islam

>
> zam zam <ada_asep@yahoo. com> wrote:
> kita memang patut heran pada pendapat
> seperti itu. Kok dalam kasus terorisme, mau saja
> menelan bulat-bulan tidankan dan klaim polisi. lupa
> ya bahwa polisi juga manusia, yang bisa salah dan
> bisa diperalat oleh kekuatan yang memusuhi Islam?
>
> Farid Gaban <faridgaban@yahoo. com> wrote:
> Salam,
>
> Di bawah ini saya posting tulisan Luthfi Assyaukanie
> (peneliti Freedom
> Institute dan aktivis Jaringan Islam Liberal)
> berkaitan dengan
> penangkapan Abu Dujana.
>
> Tulisan Luthfi ini ingin mengatakan bahwa orang yang
> tidak mengikut
> polisi, tidak percaya polisi, adalah mereka yang
> “bersimpati pada
> teroris”.
>
> Muslim yang mempertanyakan tindakan dan klaim
> polisi, mengikuti logika
> Luthfi, adalah Muslim yang BODOH karena tidak bisa
> membedakan antara
> Islam yang benar dari Islam yang salah.
>
> Saya merasa bersyukur menjadi Muslim yang bodoh
> dalam definisi Luthfi
> ini. Alhamdulillah. …
>
> Farid Gaban
> (Tulsian Luthfi ada di bawah ini)
>
> Koran Tempo | Selasa, 26 Juni 2007
>
> Islam Benar Versus Islam Salah
>
> Oleh Luthfi Assyaukanie
> (Peneliti Freedom Institute, Jakarta)
>
> Pada akhir 2005, mantan presiden Abdurrahman Wahid
> menulis sebuah
> artikel di Wall Street Journal dengan judul seperti
> di atas (“Right
> Islam Versus Wrong Islam”). Tulisan itu kemudian
> diterbitkan ulang di
> beberapa koran ternama, seperti New York Times dan
> Washington Post,
> serta dimuat di ratusan website penting. Tulisan Gus
> Dur itu sangat
> relevan untuk kita baca dan renungkan kembali
> akhir-akhir ini, di saat
> kaum muslim terbelah dalam menyikapi penangkapan
> teroris Abu Dujana.
>
> Saya menerima e-mail dari beberapa mailing list
> Islam, yang
> menunjukkan sikap simpati dan pembelaan terhadap Abu
> Dujana sambil
> mengecam tindakan polisi yang brutal. Beberapa media
> juga tampak
> berlebihan dalam mengecam sikap polisi yang sudah
> susah payah
> melakukan tugasnya yang penuh risiko. Merasa
> dipojokkan, Sabtu (23
> Juni) lalu polisi mengeluarkan laporan kronologi
> penangkapan Abu
> Dujana. Tampak jelas bahwa polisi sudah melakukan
> prosedur penangkapan
> secara benar.
>
> Tulisan Gus Dur satu setengah tahun silam itu
> mengajak kita semua
> untuk secara jernih membedakan mana Islam yang benar
> dan mana Islam
> yang salah. Menurut tokoh Nahdlatul Ulama itu, para
> teroris yang kerap
> mengatasnamakan Islam adalah orang-orang yang
> keliru. Mereka mewakili
> Islam yang salah. Untuk melawan mereka, “kaum muslim
> harus
> mengkampanyekan pemahaman Islam yang ‘benar’, yakni
> mereka harus
> berani mengecam ideologi ekstremis”.
>
> Saya mencoba merenung mengapa kaum muslim begitu
> sulit mengecam para
> teroris, padahal, selain telah menyusahkan ekonomi
> orang banyak
> (akibat hengkangnya para investor, misalnya), para
> teroris jelas-jelas
> sudah mencoreng-moreng wajah Islam. Kaum muslim
> semestinya menyadari
> bahwa apa yang dilakukan para teroris sejak beberapa
> tahun terakhir
> telah mencemari citra Islam jauh lebih buruk
> daripada yang pernah
> dilakukan penulis mana pun.
>
> Kaum muslim kerap mengeluh dan mengecam para
> orientalis yang dianggap
> telah mencemari citra Islam, tapi apa yang dilakukan
> para teroris,
> menurut hemat saya, jauh lebih dahsyat dan memiliki
> dampak lebih luas
> ketimbang karya para orientalis itu. Ironisnya,
> belum pernah ada
> gerakan serius dari kaum muslim untuk mengecam
> terorisme.
>
> Paling tidak sampai hari ini, saya belum pernah
> mendengar lembaga atau
> otoritas Islam, baik di Mesir, Pakistan, Iran, Kuala
> Lumpur, maupun di
> Indonesia, yang mengeluarkan fatwa mengecam Usamah
> bin Ladin.
> Satu-satunya pernyataan (fatwa) semacam ini dibuat
> oleh sebuah
> organisasi Islam di Spanyol. Tampaknya kaum muslim
> memang tidak peduli
> terhadap citra Islam di mata dunia internasional.
>
> Saya berandai-andai, sekiranya Abu Dujana itu
> bernama lain yang
> melakukan tindakan terorisme karena menginginkan
> uang atau harta,
> mungkin kaum muslim tidak akan membelanya atau
> paling tidak tak akan
> memperlihatkan rasa empatinya, sekalipun, misalnya,
> para polisi
> melakukan tindakan lebih brutal dalam menangkapnya.
> Mungkin tak akan
> ada Tim Pembela Muslim (TPM) yang sangat gigih
> membela orang-orang
> yang selama ini dituduh teroris.
>
> Sikap empati berlebihan terhadap para teroris yang
> mengatasnamakan
> Islam menunjukkan bahwa kaum muslim memang belum
> mampu membedakan apa
> yang oleh Gus Dur disebut “Islam benar” dan “Islam
> salah”. Mereka
> seakan-akan masih menaruh kebimbangan terhadap apa
> yang dilakukan oleh
> para teroris itu: jangan-jangan apa yang dibuat para
> teroris tersebut
> ada benarnya; bukankah mereka sedang memperjuangkan
> Islam?
>
> Memang tidak mudah menyamakan tindakan kriminal atas
> nama agama dengan
> kriminal umum, misalnya, atas nama uang. Kaum muslim
> selalu merasa
> bahwa ada yang luhur dari perjuangan atas nama
> agama. Apalagi para
> teroris itu selalu menggunakan istilah-istilah yang
> selama ini akrab
> di telinga mereka, seperti jihad, syahid, melawan
> thaghut, dan li
> i’lai kalimatillah (menegakkan kalimat Allah).
>
> Tapi, kalau kaum muslim terus-menerus membela atau
> menaruh sikap
> simpati kepada para teroris, saya khawatir upaya
> negara menumpas
> terorisme dan kekerasan atas nama agama secara umum
> akan sia-sia,
> karena para teroris atau para pelaku tindak
> kekerasan akan terus
> merasa bahwa mereka tidak sendirian; ada orang yang
> secara diam-diam
> terus mendukung dan memberi simpati terhadap
> perjuangan mereka.
>

Sekolah Diminta Kembalikan Pungutan Biaya Dari Orang Tua

oleh : Muharam

Serang — Pihak Sekolah Menengah Atas maupun Sekolah Menengah Kejuruan negeri di Kabupaten Serang, diminta mengembalikan uang pungutan yang terlanjur diberikan orangtua siswa baru.

 

Jika tidak, para sekolah diminta untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Demikian beberapa hasil rapat koordinasi yang diungkapkan Wakil Bupati Serang, Andy Sujadi, Kamis (12/7).

“Tidak boleh lagi ada pungutan di SMA maupun SMK, dengan dalih apapun. Terutama DSP (dana sumbangan pendidikan) dan DPP (dana pembangunan pendidikan), pemberlakuannya harus dikaji ulang,” ujar Wakil Bupati.

Kebijakan bebas pungutan sekolah itu didasarkan pada Peraturan Bupati Serang Nomor 26 Tahun 2006, yang mengatur pembebasan biaya pendidikan. Pertimbangan lain adalah, banyaknya keluhan orangtua siswa baru yang keberatan dengan keharusan membayar berbagai macam pungutan. Selain itu, besaran pungutan juga dinilai terlalu tinggi dan masih ditetapkan sepihak oleh sekolah.

Karena itu, Bupati Taufik Nuriman memerintahkan pihak sekolah segera mengembalikan dana sumbangan pendidikan yang telah diberikan para orangtua siswa. “Apapun itu namanya, sumbangan, infak atau iuran yang telah diterima sekolah, saya instruksikan untuk segera dikembalikan kepada orangtua siswa. Karena Pemkab Serang membebaskan semua pungutan PSB (pendaftaran siswa baru),” katanya.

Jika perintah itu tidak diindahkan, kepala sekolah diminta untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Sebab tindakan tersebut dinilai sebagai upaya menghalangi atau menutup akses pendidikan bagi warga, terutama warga yang tidak mampu.

Sementara khusus untuk dana DSP, DPP, dan SPP siswa baru SMA/SMK baru bisa ditetapkan setelah mendapat persetujuan orangtua siswa. Besaran iuran yang ditetapkan juga harus melalui persetujuan Dinas Pendidikan.

Pemkab Serang berjanji akan menanggung kekurangan biaya kegiatan belajar-mengajar di SMA/SMK dengan menggunakan dana APBD. Pihak sekolah diminta menyerahkan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) kepada Dinas Pendidikan, paling lambat tanggal 16 Juli mendatang.

“Dengan demikian, kami mengetahui kebutuhan dan kekurangan biaya sekolah. Kekurangan dana itu akan kami tanggung, terutama biaya prkatik komputer di SMA dan praktik lainnya di SMK. Kami akan ajukan kekurangannya dalam APBD perubahan nanti,” kata Andy.

PARTAI GAM

Kantor Partai GAM Diresmikan

Banda Aceh, WASPADA Online

Teka-teki kapan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akan bikin partai lokal sudah
terjawab. Hari ini, Sabtu (7/7) para petinggi GAM yang membentuk partai itu
membuka sekretariatnya di Kawasan Lueng Bata Banda Aceh. Perdana Mentri
Malik Mahmud disebut-sebut sebagai ketuanya. Sedangkan Muzakir Manaf dan
Sofyan Dawood juga terlibat di dalamnya. Sedangkan nama Irwandi Yusuf, yang
sudah menjadi Kepala Pemerintahan Aceh sekarang, tidak masuk dalam
kepengurusannya.

Informasi yang diperoleh Waspada, Jumat menyebutkan, kegiatan yang dilakukan
pada Sabtu (7/7) ini hanya sebatas pembukaan sekretariat. “Deklarasinya,
kemungkinan dipusatkan di Lhoong Raya, tapi jadwalnya belum pasti,” kata
sumber yang layak dipercaya.

Menurut sumber Waspada, Partai GAM juga akan tetap mengusung platform yang
sama seperti bendera dan nama. “Malah bendera sudah didaftarkan ke Jakarta,”
sebut dia. Sementara itu, Tgk Nazar, yang disebut-sebut sebagai Sekretaris
Partai GAM ketika dihubungi Waspada untuk konfirmasi tidak berada di tempat.
Telepon selularnya juga tidak aktif.

Sementara itu, sekitar sebulan lalu, yakni pada Senin (4/6) di Asrama Haji
Banda Aceh, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Muzakir Manaf
menyatakan GAM memang akan membentuk sebuah partai lokal Namun untuk
membentuk parlok ini Muzakir mengaharapkan dukungan dari seluruh mantan GAM
dan masyarakat Aceh.

Dalam acara musyawarah pembentukan Parlok GAM yang tertutup itu, Muzakir
menjelaskan untuk menuju ke arah yang dicita-citakan dan menggapai sebuah
kemenangan sangat dibutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, serta
kita semua harus bersatu.

Yahya Muaz, salah seorang tokoh GAM pada kesempatan itu menjelaskan tentang
struktur partai antara lain, Majelis Tuha Peut akan dibentuk sampai
kepengurusan di tingkat desa yang disebut dengan Majelis Tuha Delapan Sagoe.
Sistem kepengurusan itu lebih mengadopsi ke Qanun Meukuta Alam Al-Asyi dan
keseluruhannya sudah ada dalam struktur yang baku. (b05)

Ditulis dalam Politik. Comments Off



Indigo itu sering dikatakan sebagai aneh,saya melihat sebaliknya karena orang mnganggap aneh itu jadi mereka tidak melihat sisi hebatnya,saya malahan suka melihat orang yang melihat ide-ide nya dari kata2 yang rumit sampai membuat saya terkagum-kagum.kalau punya teman yang indigo pasti saya punya lawan debat dan pengkritik yang bakaln asik banget.kebayang gimana orang-orang yang memiliki iQ yang diatas rata-rata mengeluarkan prinsipilnya atau ide-ide anehnya.tapi jarang ada makhluk yang kayak begituan.

LIFE IS SUCK

Life Sucks,We’re all trapped.
Each of us is stuck being who we are. Sometimes we fight to change ourselves, but
ultimately this has little effect. We can change what we do, but we cannot change who we
are.If you’re a happy person, you don’t feel trapped. If you’re surrounded by people who you
love and who love you, if you can do what you want to do in life, if you are at peace with
who you are, why would you ever feel trapped? You wouldn’t want to change yourself, you
wouldn’t need to try.If you’re a happy person, hey, you got lucky! Go back to the previous page, you’ll find
nothing of interest here.I am not a happy person. Maybe you’re not either. Maybe you’re too fat, or too thin, too old,
or too young. Maybe you’re ugly and nobody wants to sleep with you. Maybe everyone
wants to sleep with you, but nobody loves you and it’s all meaningless. Maybe your body is
fucked up and you’re in pain all the time. Maybe your mind is fucked up and you’re in pain
all the time.

So you struggle with all these problems year after year, and you’re getting nowhere, and
you wonder if anything will ever change. And the unavoidable reality of it all is that, for you,
life sucks.

But of course you’re not going to give up so easily, you’re going to keep struggling to
solve your problems, to change yourself, to find happiness, wherever it is, whatever it is.
But still, life sucks.

And you see all these people out there who are blissfully free of your problems, and if they
can do it, there must be some way for you to as well. But they aren’t doing you any good at
all, they don’t understand what it’s like being you, and what good would it do you if they did
understand?

So, the forces which created you, random or otherwise, have spoken. And they’ve
determined that, for you, life sucks.