INFORMASI DIGITAL DAN BUDAYA KITA

Are we becoming a gadget addicted generation?

Anak SMP ini memulai harinya dengan membuka gadget yang setia menemani harinya dimana saja. Hal pertama yang dibukanya adalah messenger yang masuk, setelah itu menge-twit apa yang ada dipikirannya, setelah itu membuka sosial network lain yang berjubel-jubel memenuhi bookmark smart phone-nya.

Inilah budaya mayoritas anak muda sekarang, yang oleh New York Magazine diberikan julukan sebagai “the iGeneration” – generasi yang melek informasi teknologi. Keep in touch dengan dunia maya adalah setara dengan azas hak untuk hidup (the right to life). Tidak bisa dipungkiri lagi jutaan anak muda sekarang tenggelam dengan liarnya perangkat informasi digital yang tahun lalu tumbuh melewati angka 50% per tahun ini. Bisa dibayangkan statistik ini satu dekade kemudian. Tiap individu akan memiliki 3 jenis handphone, tablet, komputer jinjing, perangkat-perangkat lain yang portable yang sengaja tidak di compatible- kan (gabung) dengan tujuan komersialime.

Aneh, begitulah hal yang terjadi pada awal abad 20 ini. Kekuatan informasi sekarang sangat diagung-agungkan, dimana kekuatan informasi bisa mengalahkan kekuatan politik klasik dan tank-tank perang. Dengan informasi sosial network dari HP GPRS kita bisa mengetahui secara real time telah terjadi kudeta dinegara lain atau tidak dalam hitungan seken. Juga dengan informasi satelit GPS sekarang kita bisa melacak rombongan Al Qaeda yang bersembunyi layaknya investigator mata-mata seperti di novel The Bourne Series karya Robert Lundlum.

Banyak orang yang mengkritik cepatnya arus hidup seperti ini. Terlebih dari generasi X yang lahir dari carut-marutnya konstelasi politik pada masa perang dingin. Dimana mereka lahir dalam amukan depresi perang dingin yang menyebabkan mereka bersikap dan dicap sebagai generasi yang malas yang kurang rasa tanggung jawab (slacker). Mereka tahu bahwa semua ini terlalu cepat seperti yang diutarakan oleh Camerlengo Patrick McKenna dalam novel Angel and Demons, ”Ilmu pengetahuan kehilangan arah”. Apakah ini semacam kecemburuan untuk sebuah better life. Atau sebuah reaksi ketakutan yang seharusnya. Yang jelas generasi sebelumnya merasa resah dengan ini semua, arus informasi digital mereka ibaratkan seperti wanita hot yang tidak jelas bibit bebet bobotnya. Sebuah dilema.

Fungsi Awal yang Hilang
Fakta menarik tentang informasi digital sekarang adalah kita hidup dengannya. Lihat saja pemilu elektronik (eElection), KTP elektronik (eKtp), menyimpan uang (eBanking), semua. Semua hal yang bisa di “e” kan akan dilakukan demi slogan abad ini: “efisiensi”. Kecenderungan yang terjadi saat kita terlalu dekat dengan info digital ini adalah: ketergantungan dan gangguan konektivitas kita antar sesama manusia. Hilangnya kontak yang real time dan kontak yang memakai unsur emosional menjadi teredusir. Kita lebih cenderung menggunakan informasi digital sebagai life style, entertain, status sosial, dsb.

Bukan berati Anda harus menjadi anti elektronis terhadap semua hal. Tapi poin dari bertambahnya kekhawatiran kita adalah hilangnya fungsi awal dari informasi digital tadi: Positive value. Ya, itulah tujuan informasi digital. Membuat yang pintar tambah mengajarkan orang lain untuk pintar, yang bodoh agar jadi pintar, yang tidak tahu menjadi tahu. Tak kurang tak lebih fungsi dari informasi digital awal yaitu untuk benefitas positif manusia.

Tapi apa yang terjadi sekarang? disaaat gadget HP hanya digunakan sebagai alat status sosial dan validitas respek antar sesama. Saat sebuah tablet menjadi alat tempat memutar film dan games saja. Saat internet digunakan hanya sebatas bermain judi poker. Saat komputer jinjing menjadi harga mati ikon kepemilikan abad ini. Ya begitulah adanya. Orang lebih malu tidak memiliki laptop dibanding tidak memiliki kitab suci dirumah/kontrakan/kosannya. Ironis dan menyedihkan.

Ini bukan salah kapitalisme, ini bukan salah kemisikinan negara ini, juga bukan salah koruptor yang merongrong negara ini (mungkin sedikit). Tapi ini adalah akumulasi pembiaran kita terhadap pola hidup yang konsumtif yang merendahkan fungsi benefitas positif dalam hidup ini. Ya, disaat begadang dianggap life style urban. Disaat duduk dicafe melambangkan kita up to date. Disaat fashion menjadi penghormatan orang lain pada kita. Faktanya kita yang memilihara prinsip-prinsip pencitraan ini. Inilah fenomena yang cukup menggelikan yang diterima oleh akal sehat kita.
The iGenerartion telah kehilangan arah, mereka menjadi objek bukan subjek lagi. Mereka menjadi figuran bukan pemain utama lagi. Generasi ini didikte oleh gadget bukan generasi ini yang mendikte gadget. Kebutuhan dikalahkan dengan keinginan.

Informasi Digital Sehat
Jadi, apa yang harus kita lakukan di sat nasi telah menjadi bubur. Terutama di negara-negara berkembang yang pertumbuhan kelas konsumtifnya (baca: menengah) terus meningkat tiap tahunnya. Indonesia contohnya, dengan pendapatan perkapita diatas $3.000 maka orang-orang akan berlomba-lomba untuk membelanjakan uangnya. Aksebilitas dan liquid-nya uang semakin cepat dan masif. Maka secara normatif hal ini tidaklah bisa dibendung. Karena ini berkaitan dengan teori klasik: ada permintaan ada penawaran. Ya benar, tapi ada juga teori yang mengatakan: ada problem, ada solusi.

Intinya kita tidak bisa membendung budaya konsumtif. Tapi solusinya yaitu kita bisa membendung dari segi psikologis dan latar belakang dari penggunaan informasi digital ini. Dengan sosialisasi informasi digitial sehat besar-besaran dari individu, kelompok, pemerintah maka akan ditemukan hakekat sebenarnya dari fungsi dan peran informasi digital ditengah-tengah masyarakat.

Dengan sehatnya informasi digital, maka kita tidak akan melihat lagi rutinitas anak SMP yang bangun tidur dan hidup dengan absurnitas. Ia bangun mungkin akan mengecek messenger dari sahabat penanya di Eropa tentang charity buat anak-anak miskin, membuka situs portal berita (bukan gosip), mendownload konten-konten motivasi psikologi, atau mengecek apakah bisnis online kecil-kecilanya menerima pesanan atau tidak. Indah. Sangat indah sekali. Inilah masa depan The iGeneration pada hakekatnya. Benefitas antar manusia. Semoga.

Mendapatkan Pekerjaan Dengan Cerdas

Banyak orang yang tidak tahu bagaimana murahnya mencari pekerjaan. Banyak hal yang harus dipersiapkan dulunya sebelum melamar pekerjaan. Misalnya CV apakah CV kamu impresif, bisa bikin terkesan, apakah CV nya enak dan mudah dibaca, dll.

Ingat dalam mendapatkan (bukan mencari) pekerjaan hal yang diutamakan adalah value added kita dibanding kompetitor lain. Misalnya kita ngerti Inggris gak (min TOEFL 450 lah), bisa selain word gak, excel dan PowerPoint. Itu adalah hal yang sangat krusial dan penting. Sisi lain apakah Anda dandy gak? (rapi). Kebanyakan masih berambut gondrong (idealis sejak kuliah), saya bilang aja itu bullshit. Kita kerja dalam sistem harusnya mengikuti sistem jangan jadi seorang kontrarian. Kerapian adalah harga mati, yang jerawat, jerawatnya diobati, yang giginya hitam (like me) ke dentist, yang kurus gemukin, yang gemuk kurusin, penampilan adalah value added. Itu adalah kunci berharga kita dibanding lain.

Dari segi skill, kita bisa apa aja selain itu, bisa baca huruf Jepang tidak, bisa baca bahasa lain tidak, bisa instalasi laptop/pc, gambar, speedreading, ngetik 10 jari, terserah pokoknya soft skill yang mengindikasikan kita orang yang suka belajar. Tapi kalo semata hanya mengandalkan CV yang baku, gak ada tambah-tambahannya seperti di KTP mending jangan berharap terlalu banyak deh untuk dapat kerja dengan salary yang 5 atau 10 kali lipat di atas UMR. Saya jamin. Internet adalah salah satu value added kita mendapatkan pekerjaan, banyak berbagai lowongan pekerjaan yang ada internet, misalnya di akun-akun twitter bursa kerja, dimilis, koran dsb. Yang paling penting adalah pandai dan menyisihkan waktu untuk membaca dan memfilter list dari daftar pekerjaan tersebut. Ingat no pain, no gain. Tanpa besakit-sakit, tanpa keuntungan. Jadi ke internet itu jangan buka fb dan baca-baca berita gosip. Betapa absurdnya kalau demikian.

Hal yang cukup krusial adalah wawancara, wawancara adalah bentuk langsung dari representasi kita untuk mewakili diri kita sebenarnya bila ingin mendapatkan pekerjaan. Baca dan beli buku-buku interview yang banyak di toko buku. (kalau gak punya duit pinjam, kalo ada duit gak mau beli mending jangan pernah lamar pekerjaan aja deh). Proses ini sangatlah penting, para interviewer akan sangat jeli (karena kerjanya itu aja) jadi dia bisa lihat ini orang emang kualitas pa gak, dan itu bisa dilihat olehnya mungkin kurang dari 5 menit. So kalau interview kamu jelek dalam 5 menit, maka kamu tidak ada harapan. Karena interview itu adalah proses melewati psikologi pewawancara, kalo kita bisa meyakinkanya, maka simpel aja, pekerjaan dijamin 50% udah ditangan. So proses interview sangatlah penting. Outook, inner, wawasan adalah kunci mendapatkan pekerjaan. Ada banyak cara, cara biasa yaitu kita ngemis-ngemis (mengikuti sistem selama ini) untuk melamar, masukan bahan, dll. Cara yang lain adalah dengan cara yang cerdas, caranya mudah saja sering-sering buka situs cari tahu tentang tempat kita melamar pekerjaan, cari data, cari fact, cari kulturnya, pokoknya semua hal tentang tempat kita melamar itu. Lalu (teknis sih) kamu cocokkan dengan CV kamu, apa aja yang dirasa bisa memberikan koneksi langsung antara CV kamu dengan tempat kamu bekerja itu. Misal mau kerja di bank, kembangkan/buat CV untuk menguasai tata buku, saham, forex, options dll. Kalo mau kerja di pers, buat pernah nulis apa gitu, di jurnal, blog, dan interest kamu yang ada kaitannya dengan pers. Kalo mau kerja sebagai pramugari/gara bisa inggris, tau peta demografis, tata krama komunikasi, dan cari tips-tips/bukunya di internet dan toko buku. Ingat sekali lagi, no pain, no gain!

Terkakhir adalah berdoa, kalo gak percaya tuhan, berdoa ama siapa kek yang penting berdoa, untuk melepaskan kestressan kita. Good luck.

Resensi Buku: Menalar Tuhan

MENGGAPAI NALAR KETUHANAN DENGAN     KEJUJURAN INTELEKTUAL

Judul buku : Menalar Tuhan

Pengarang : Franz Magnis – Suseno

Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 2010

Tebal : 245 halaman

Menalar Tuhan, itulah yang sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat filsafat sampai 200 tahun lalu. Di permulaan abad ke-21, pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filosof. Kemudian, di panggung filsafat muncul paham ateisme di mana Tuhan berada di luar batas-batas wacana rasional. Situasi ini menghadapkan manusia inteletktual yang tetap percaya pada Tuhan dengan pertanyaan: apakah imannya lebih dari sekedar warisan indah tradisi-tradisi yang sudah berumur ribuan tahun? Apakah ia dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan pada Allah secara rasional? Apakah masuk akal masih percaya kepada Tuhan?

Buku ini ditulis oleh seorang guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Franz Magnis Suseno, sebagai seorang yang beragama, mencoba meluruskan nilai dan jalan kita  melihat ketuhanan secara lebih terang benderang dengan runtutan-runtutan pemikiran yang lebih terarah dan tidak terkesan subjektif. Buku ini – yang berkembang dari kuliah-kuliah ketuhanan yang diberikannya di kampus, dimaksudkan untuk  mengsingkroniskan pertanyaan tentang: apakah orang yang ingin berpikir jujur dan berkeyakinan humanis masih dapat percaya kepada tuhan?

Barangkali orang mengatakan bahwa pertanyaan ini di Indonesia tidak mendesak. Di Indonesia orang berkesan masih kental beragama. Kesannya, masalah di Indonesia bukan kekurangan, melainkan kelebihan-kelebihan ketuhanan. Tak ada hari dimana media tidak membawa berita yang berkaitan dengan agama dan orang-orang  berketuhanan. Di Indonesia, yang menjadi masalah bukan ketuhanan, melainkan bagaimana ketuhanan dapat dihayati dengan cara yang tidak bertentangan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Buku ini terbagi dalam delapan bab, bab pertama, sebagai bab pendahuluan, bertanya untuk apa dan bagaimana Tuhan perlu dinalar. Dalam bab kedua kita melihat betapa majemuk pengahayatan ketuhanan dalam umat manusia. Bab ini mau membantu agar kita tidak sempit mengira seluruh umat manusia mengahayati ketuhanan seperti kita sendiri. Bab ketiga menggariskan perubahan-perubahan mendalam dalam pengertian diri manusia di ambang modernitas dan apa dampaknya pada pengertian tentang ketuhanan. Dalam bab ke-empat buku ini membicarakan secara kritis lima tokoh ateisme modern paling berpengaruh: Feurbach, Marx, Freud, Nietzsche, dan Sartre. Salah satunya Nietzsche yang dengan lantangnya mengatakan “Allah telah mati!… dan kamilah yang membunuhnya!… Tak ada tindakan lebih agung” (hal 76). Bab lima membahas apa yang oleh Magnis Suseno anggap sebagai tantangan terbesar terhadap penalaran tentang Tuhan, yaitu agnostisisme, anggapan – yang bertolak dari epistemologi Immanuel Kant – bahwa tentang Tuhan kita tidak dapat mengetahui sesuatu, jadi bahwa filsafat harus diam tentang Tuhan. Pembahasan ateisme dan agnostisme membuka jalan untuk bertanya secara positif: dapatkah nalar menemukan  petunjuk-petunjuk tentang adanya Tuhan? Bab enam membicarakan tiga “jalan ke Tuhan” yang sudah “klasik”, argumen ontologis, argumen kosmologis dan argumen teologis. Jalan-jalan in mau menunjukan bahwa apa yang kita temukan di alam pengalaman, tidak dapat dijelaskan kalau tidak ada Tuhan. Kita akan melihat bahwa, meskipun tiga jalan ini memang menunjuk pada Tuhan, tetapi juga mempunyai kelemahan-kelemahan serius. Di bab tujuh Magnis  Suseno mengikuti cara yang berbeda. Ia tidak lagi menarik kesimpulan dari realitas duniawi ke Tuhan, melainkan mencoba menunjukan, degan bertolak dari empat penghayatan, bahwa manusia, dalam pengalamannya dengan dunia, selalu sudah bersentuhan dengan Tuhan dan bahwa dalam arti ini – para filosof menyebutnya trasendental – manusia mempunyai pengalaman tentang Tuhan, meskipun sebagai latar belakang dan bukan sebagai objek. Di antara empat penghayatan ini yang akan kelihatan bersentuhan dengan Tuhan dengan paling mengesankan adalah hati nurani. Dalam bab delapan buku ini membahas hubungan antara Tuhan dan dunia. Di antaranya dibahas masalah bahasa tentang Tuhan, penciptaan dan pertanyaan apakah kemahakuasaaan Tuhan masih mengizinkan ruang bagi kebebasan manusia. Sebagai bahasan akhir, Magnis Suseno mengangkat masalah yang sejak lama dianggap masalah filsafar ketuhanan paling berat, yaitu bagaimana, kalau ada Allah yang mahatahu, mahakuasa dan mahabaik, bisa ada sedemikian banyak kejahatan dan penderitaan di dunia.

Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, yang percaya tentunya akan bertambah keimanannya, dan yang masih atheis atau agnotis (meragukan tuhan) tentunya bisa merasakan sensasi fatasi untuk mempercayai tuhan walaupun dengan afirmasi kata-kata. Dalam kejujuran intelektual buku ini ingin ingin mendalami pertanyaan tentang dasar-dasar rasional kepercayaan akan Tuhan. Buku ini bukan mengenai agama, melainkan mengenai Tuhan, ya Allah bagi mereka yang percaya pada satu Tuhan mewahyukan diri

KEBANGKITAN BANGSA, POLITIK – EKONOMI NEGARA DAN GLOBALISASI

THE  UNFINISHED  NOBLE PROJECT ; KEBANGKITAN  BANGSA, POLITIK – EKONOMI NEGARA DAN GLOBALISASI

Oleh: Fachri Ali

Tema kebangkitan bangsa yang di peringati sekarang untuk mengingat 100 tahun kebangkitan nasional pada saat sekarang ini, masih banyak orang yang melihat dari sudut pandang yang objektif karena terlepas dari apapun bahwa tidak bisa dikatakan bahwa Budi Utumo yang menjadi cikal-bakal kebangkitan nasional. Utuk itu kita masih perlu untuk mengkaji ulang lantaran posisi awalnya yang tidak sejalan untuk dikatakan sebagai periodesaasi sebagai kebangkitan nasional. Karena sifatnya yang lebh mengutamakan kepada peningkatan derajat kaum bagsawan saja atau disebut sebagai priyayi pada waktu itu.

Lantaran perihal tersebut jelaslah klita harus memberikan sesuatu hal yang urgen sifatnya untuk memberikan klarifikasi tentang cikal-bakal awalnya kebangkitan nasional, bukan saja kita harus meng-clear-kannya tapi juga menjelaskan kepada anak bangsa tantang wacana yang kontroversial ini.
Saudara Fachri Ali menjelaskan tantang peran masyarakat secara tidak langsung tantang kepribadian yang harus diambil mengenai permasalahan seputar kebagkitan nasional ini. Menurutnya dalam hal pertama, kita menemui kenyataan bahwa konsep negara dan bangsa adalah pneggabungan (conflation) dua kata yang secara esensial debatable. Konsep bangsa (nation), pada esensinya – mengikuti jalan pikiran Anderson – adalah extrastate solidarity movement (gerakan luar negara yang didasarkan pada solidaritas) dengan tujuan dan kepentingan sendiri.

Persoalannya menurutnya sekarang adalah bahwa negara, sebagai sebuah Baca Selengkapnya

Konflik Budaya Dan Budaya Konflik

Sudah 65 tahun Indonesia merdeka. Sudah 82 tahun sumpah pemuda dirayakan, dan sudah 102 tahun kebangkitan nasional diperingati. Semuanya sudah (finish) untuk acara simbolis dan seremonial, tapi belum untuk ‘sudahnya’ stabilitas ekonomi, politik, sosial dan budaya di negeri ini. Etos konflik adalah musuh besar bangsa ini, dimana ia mengakibatkan belum sudahnya stabilitas-stabilitas pembentuk peradaban maju bangsa Indonesia.

Indonesia telah diperintah oleh berbagai gaya tipe pemerintahan, mulai dari yang demokrasi liberal-terpimpin-pancasilaistis dan kembali ke demokrasi liberal. Demokrasi liberal saat ini dapat digolongkan sebagai demokrasi yang sangat liar, ia adalah antitesa dari lika-liku pemerintahan ini. Demokrasi yang sebelumnya tentu juga mengalami lika-liku pemerintahan. Misalnya tatkala di masa Soekarno kekuatan parlementer yang lebih ‘ganas’ tak pelak menjadi lika-liku akan hadirnya konflik, dimana pada saat itu ia hadir sebagai pengubah jalannya sejarah Indonesia. Saat demokrasi pancasila dibawah Soeharto juga begitu, konflik dengan jalan underground juga merajalela, dan klimaksnya adalah saat kotak pandora itu dibuka saat Soeharto lengser ke prabon, dan mengakibatkan konflik meliar dan merajalela seantro Indonesia.

Konflik di Indonesia adalah perubah sejarah, berbeda dengan negara lain yang maju, perubah sejarah negara maju adalah kemajuan (progress). Sebaliknya Indonesia pengubah sejarahnya adalah konflik. Tak pelak lagi konflik adalah identik dengan Indonesia, dan Indonesia adalah sejarah tentang konflik.

Baca Selengkapnya

ISLAM DI NUSANTARA

1. Nusantara pra-Islam

Islam di Asia Tenggarak khususnya di nusantara menyajikan kepada kita bukti-bukti dari dalam maupun dari luar mengenai sejarahnya, sama  seperti tradisi keagamaan lainnya. Bukti dari dalam berkaitan dengan soal iman sebagaimana bukti internal mengani peralihan Inggris menjadi Kristen.

Karya-karya etnografi yang sejak seratus tahun terakhir menyinggung tradisi “animis” Asia Tenggara memperlihatkan dengan sangat jelas konsistensi tertentu akan keyakinan keagamaan yang dianut. Segi umum paling mencolok dari system kepercayaan ini adalah keterlibatan terus-menerus orang yang telah meninggal dunia dalam urusan-urusan mereka yang masih hidup. Wabah penyakit, malapetaka, dan gagal panen dianggap sebagai akibat dari kejengkelan arwah leluhur yang tidak dihormati dengan upacara-upacara semestinya, atau akibat gangguan para arwah penasaran atau tidak bahagia yang mungkin hanya bisa dilawan dengan perlindugan roh leluhur yang baik atau bahagia. Ekspresi ritual dari keyakinan ini merupakan inti dari semua system keagaaman yang menylenggarakan upacara-upacara agama yang rumit bagi orang yang telah meninggal dan mendoakan arwah leluhur pada setiap ritus peralihan (rite de passage) atau pada upacara kalender pertanian.  Maka tidak aneh ketika diperlukan istilah untuk membedakan agama tradisional itu dari Islam atau Kristen sering dipakai nama “jalan para leluhur” (aluk to dolo di Sa’dan Toraja; Marapu di sumba Timur).[1]

Baca Selengkapnya

MENGENERALISASI KESEJAHTERAAN KITA

Melihat semakin terjerumusnya negara ini dalam orientasi kemiskinan, sudah menjadi hal yang jelas  apabila pemerintah harus semakin agresif menggalakan peningkatan kesejahteraan.  Karena seperti yang kita ketahui bahwa kekuatan kapasitas negara itu sendiri diukur melalui variabel kesejahteraan rakyatnya. Dengan banyaknya rakyat yang sejahtera maka bisa diindikasikan bahwa Negara itu sendiri mempunyai sense of survive yang tinggi. Berkaca dengan fakta yang ada, kita cukup kecewa karena kenyataan dilapangan pemerintah kita masih tersendat-sendat untuk bisa mensejahterakan seluruh warga negaranya. Walaupun dari kebijakan-kebijakan yang pemerintah aplikasikan di masyarakat ada yang efektif, tapi masih banyak  juga suara yang sumbang yang tetap mencerca bahwa negara ini de-aplikatif dalam program peningkatan kesejateraan rakyatnya! Masalah lainnya terkait kesejahteraan ini yaitu gap yang menganga di masyarakat terkait dengan tidak meratanya masalah peningkatan kesejahteraan, maka yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana negara ini butuh sinergisitas dalam mengeneralisasikan kesejahteraan masyarakatnya.

Tanpa bisa kita bantah lagi, bahwa masih ada dan masih berkesinambungannya tingkat ketimpangan kesejahteraan di masing-masing wilayah di Indonesia ini, hal yang mencolok bisa kita lihat di daerah Timur yang sangat sedikit sekali disentuh oleh tangan-tangan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan. Dengan kata lain berbicara kesejahteraan tanpa bicara mengentaskan kemisikinan di Indonesia ini  adalah hal yang sangat mustahil. Maka dengan masalah yang belum meratanya ukuran kesejahteraan di setiap sudut wilayah di Indonesia ini, maka secepatnya kita perlu berpikir ulang mengenai kebijakan yang sudah-sudah, dan segera me re-konstruksi program yang sebelumnya.

Baca Selengkapnya

Kehidupan

Suatu saat kadang kita berpikir bahwa yang kita inginkan dalam hidup ini adalah sebuah hasil yang sempurna, tapi  kita mesti ingat bahwa kesempurnaan itu tidak ada. Kadangkala kita mendapatkan masalah, lalu kita berpikir bahwa itu adalah batu besar yang menghantam hidup kita dan ktia menjadi merasa orang yang tidak beruntung saat itu juga.

Saya menganggap hal besar selalu berujung kepada tingkat kualitas hidup yang lebih baik, andaikata saya tidak merasakan bagaimana rasanya penolakan tersebut mungkin saya tidak akan bisa menulis ini, karena dengan kegagalanlah hidup ini bisa merasakan manisnya kehidupan. Percaya atau tidak masa abad kegelapan di Eropa banyak berkembang sekte-sekte yang menyakiti dirinya sendiri, tujuan spiritual yang diinginkan adalah dengan menjadi sakit kita akan mensyukuri apa yang kita dapat, dengan menjadi sekit kita akan mensyukuri bagaimana kebahahigian itu bisa menjadi nikmat berlipat-lipat.

Dalam hidup saya saat saya belum membuka mata dengan sekitar, yang saya rasakan adalah sebagai orang yang tak dianggap  dalam lingkungan saya. Apakah saya meratap dan menerima takdir itu? Tidak! Saya mencoba menganalisa itu semua, dan satu hal yang saya dapat simpulkan adalah, yang salah bukan lingkungan saya, akan tetapi saya lah yang salah, karena kualitas diri saya sebagai manusia tidak kompeten untuk diberikan sebuah respek. Dulu saya menjadi topeng bagi orang lain, menjadi pribadi yang mengikuti sistem orang lain, dan saya terkukung dalam hal itu, kadang-kadang sistem orang itu bertentangan dengan sifat asli saya, dan itu membuat saya tertekan. Sekarang setelah tahu bagaimana menjadi manusia yang berkualitas saya mencoba untuk menjadi diri saya sendiri, peduli setan orang suka atau tidak suka, karena yang mengetahui hidup saya adalah saya sendiri.  Saya tidak mau hidup berdasarkan preferensi orang lain. Hidup ini terlalu sia-sia apabila kita menjadi orang lain yang tidak sesuai dengan keyakinan kita.

Percayalah  dengan hati nurani apabila anda ingin memilih, karena dalam otak manusia itu ada level tidak sadar yang memberikan pertanda-pertanda penting dalam hidup anda. Hidup itu pilihan, orang bisa mengambil arah yang baik dan arah yang buruk, tapi kalau ada yang baik kenapa ktia harus menyia-nyiakannya dengan mengambil yang buruk.

TULISAN BIASA

Mulai dari  sekarang saya hendak mecoba menulis dengan tema-tema yang ringan, dengan tanpa bahasa kaku, apa adanya. Dan berkaitan dengan pandangan saya terhadap masalah keseharian.

Proposal Penelitian: ”Persaingan Partai Politik Sebelum Tragedi 1965 Di Sumatera Barat, Studi Kasus Kabupaten Agam”

A. Latar belakang Masalah

Setelah dibubarkannya Republlik Indonesia Serikat, sejak tahun 1950 Republik Indonesia Melaksanakan demokrasi parlementer yang Liberal dengan mencontoh sistem parlementer barat, dan masa ini disebut Masa demokrasi Liberal. Indonesia dibagi manjadi 10 Provinsi yang mempunyai otonomi dan berdasarkan Undang – undang Dasar Sementara tahun 1950. Pemerintahan RI dijalankan oleh suatu dewan mentri ( kabinet ) yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan bertanggung jawab kepada parlemen ( DPR ). Demokrasi liberal (atau demokrasi konstitusional) adalah sistem politik yang melindungi secara konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah.[1]

Sistem politik pada masa demokrasi liberal telah mendorong untuk lahirnya partai – partai politik, karena dalam system kepartaian maenganut system multi partai. Konsekuensi logis dari pelaksanaan system politik demokrasi liberal parlementer gaya barat dengan system multi partai yang dianut, maka partai–partai inilah yang menjalankan pemerintahan melalui perimbangan kekuasaan dalam parlemen dalam tahun 1950 – 1959.

Adapun partai-partai tersebut pada masa itu bermekaran bak jamur di musim hujan, terhitung ada 130 partai yang hadir menghiasi kancah perpolitikan Indonesia sampai tahun 1955.[2] Banyak dari 130 partai itu mengusung berbagai macam ideology yang berbeda-beda, mulai dari yang konservatif sampai modernis, dari yang religius sampai yang ateis dsb, semuanya benar-benar membuat suasana politik di kala itu hangat  karena setiap partai memiliki common interest yang berbeda, hal itu disebabkan oleh ideologi partai yang saling berbenturan antara satu dengan lainnya, contohnya saja PKI dan Masyumi, mereka saling bentrok karena terkait ideology yang berbeda, dimana PKI adalah sekuler dan Masyumi adalah partai Islam.

Baca Selengkapnya

MILITER DAN KOMUNISME TAHUN 1960-AN, STUDI KASUS SUMATERA BARAT

 

 

  1. Pendahuluan

 

Pada awal tahun 1960-an muncul dua kekuatan yang sangat dominan dalam perpolitikan Indonesia, yaitu dari kubu militer dan kubu komunisme. Dua kubu ini berada dalam segmen pilar kekuasaan yang berbeda, di satu sisi militer hadir dari kelas masyarakat bawah setelah berhasil mendapatkan simpati dari rakyat karena berhasil melibas aksi-aksi separatis di nusantara, sedangkan komunisme hadir karena penetrasinya yang masuk kedalam segala institusi yang pemerintah dan non pemerintah, mereka melebarkan ide-idenya dan vokal melancarkan propoganda-propoganda politiknya sehingga mendapatkan tempat dalam persaingan antar partai politik.[1] Dalam  kasus ini kekuatan komunis hadir karena  zeitgeist (semangat zaman) yang pada waktu itu menerima konsep-konsep marginalisme yang pada waktu itu sudah banyak dihiraukan oleh elit-elit yang notabene hanya bermain politik bukan menjadi solver maker bagi rakyat. Dengan kata lain militer berada pada blok pemerintah dengan basis massa masyarakat, sedangkan komunis berada pada blok pemerintah dengan basis massa Soekarno dan antek-anteknya.[2]

Dalam kondisi seperti itu jelas sekali bahwa tiap-tiap kekuatan ini ingin menjadi yang terbaik untuk merebutkan kekuasaan, militer ingin menjadi pahlawan dan panglima baru bagi rakyat untuk mempertahankan NKRI, sebaliknya  berseberangan dengan militer, komunisme ingin menjadi organisasi yang menancapkan full kekuatannya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Komunis.

Perebutan kekuasaan merupakan peristiwa politik yang penting. Perebutan kekuasaan militer yang pertama memberi kesan besar dalam menentukan “aturan permainan”. Melalui ini, pihak militer secara terang-terangan menonjolkan dan menuntut “hak-haknya” sebagai kekuatan politik. Arena politik lantas diperluas lagi guna memasukkan militer sebagai perebut kekuasaan yang dianggap penting.[3] Dengan kata lain tesis ini menjadi kenyataan pada masa itu dimana militer setelah mendapatkan logistik yang cukup kuat untuk mendapatkan hak-hak politiknya maka dengan seketika itu juga militer lantang untuk secepatnya mendapatkan hak-haknya (baca: otoritas politik) dari pemerintahan Soekarno. Dengan interest yang berbeda-beda ini maka dimulailah bentrok antar dua kubu, mulailah terjadi main sikut antar organisasi secara frontal dan non frontal.

Baca Selengkapnya

ISLAMISASI ASIA TENGGARA

Islam di Asia Tenggara menyajikan kepada kita bukti-bukti dari dalam maupun dari luar mengenai sejarahnya, sama seperti tradisi keagamaan lainnya. Bukti dari dalam berkaitan dengan soal iman sebagaimana bukti internal mengani peralihan Inggris menjadi Kristen.

Hampir seluruh kronik Asia Tenggara mengambarkan peristiwa-peristiwa gaib yang menyertai peralihan sebuah Negara menjadi Islam, namun perbedaan di antara jenis campur tangan iliahiah itu tentu perlu pula diperhatiakan. Kronik-kronik Melayu seperti kronik Pasai, Melaka, dan Patani tidak berbeda secara mencolok dengan cerita-cerita yang berasal dari bagian dunia lain. Titik berat kronik-kronik tersebut adalah pewahyuan lewat mimpi, seperti kronik-kronik tersebut adalah pewahyuan lewat mimpi, seperti kronik tentang penguasa Pasai dan kemudian Melaka, atau kekuatan mukjizat wali Allah, seperti Shaikh Said dari Pasai menyembuhkan penguasa Patani (Brown 1953:41-42). Kronik-kronik ini tidak ragu menggambarkan kekuasaan para penguasa dan asal-usul Negara dengan menggunakan konsep kekuatan magis (kesaktian) yang berasal dai masa pra-Islam, namun tampak jelas deskripsi proses Islamisasi dijaga agar tetap berada di dalam batas-batas yang dapat diterima oleh kalangan Muslim di sebagaimana besar dunia.

Berrusan dengan arwah
Karya-karya etnografi yang sejak seratus tahun terakhir menyinggung tradisi “animis” Asia Tenggara memperlihatkan dengan sangat jelas konsistensi tertentu akan keyakinan keagamaan yang dianut. Segi umum paling mencolok dari system kepercayaan ini adalah keterlibatan terus-menerus orang yang talah meninggal dunia dalam urusan-urusan mereka yang masih hidup. Wabah penyakit, malapetaka, dan gagal panen dianggap sebagai akibat dari kejengkelan arwah leluhur yang tidak dihormati dengan upacara-upacara semestinya, atau akibat gangguan para arwah penasaran atau tidak bahagia yang mungkin hanya bisa dilawan dengan perlindugan roh leluhur yang baik atau bahagia. Ekspresi ritual dari keyakinan ini merupakan inti dari semua system keagaaman yang menylenggarakan upacara-upacara agama yang rumit bagi orang yang telah meninggal dan mendoakan arwah leluhur pada setiap ritus peralihan (rite de passage) atau pada upacara kalender pertanian. Maka tidak aneh ketika diperlukan istilah untuk membedakan agama tradisional itu dari Islam atau Kristen sering dipakai nama “jalan para leluhur” (aluk to dolo di Sa’dan Toraja; Marapu di sumba Timur).

Baca Selengkapnya

Critical Review: Penelitian konflik suku dalam masyarakat multi-budaya

Dalam tulisannya Timo Kivimäki menyajikan tinjauan umum tentang perkembangan terkini studi konflik suku dalam kaitan dengan upaya memilihara perdamaian di Indonesia.  Dalam tulisannya Timo memusatkan perhatiannya pada 6 pokok bahasan:

1. Arah perkembangan konflik suku saat ini;

2. Akar penyebab konflik;

3. Suku dan konflik;

4. Strategi untuk mengatasi dan mencegah konflik;

5. Kemiskinan dan konflik suku;

6. Mencegah konflik melalui pertukaran pikiran

Karena disini saya sebagai kritikus amatiran mencoba untuk menelaah sedikit bagaimana pemikiran dari Timo, dan apabila untuk jelasnya, apabila pembaca ingin melihat keseluruhan dari isi dari buku Timo ini, maka sangat sayang sekali apabila pembaca sudah membaca tulisan saya ini, tapi belum membaca keseluruhan dari ide-ide dari Timo ini. Jadi seperti yang saya si Baca Selengkapnya

KAMI INGIN NEGARAWAN!


Sudah menjadi pertanyaan klasik apabila kita menanyakan kenapa negara-negara barat lebih struktural dalam segala bidang dan juga cenderung manusiawi perilaku pemerintahnya kepada rakyatnya, jawabannya adalah: karena di negara-negara barat kita menemukan banyak para negarawan dan reinkarnasinya.

Rakyat mana yang tidak bangga apabila negaranya masuk ke dalam Guinness Book Record yang juga menduduki posisi dan rangking yang cukup prestiese di dalam buku itu, salah satunya yang cukup membanggakan secara kuantitas dan membuat kita semua ber-harakiri karena kualitasnya adalah perihal masalah negara “maling” atau posisi strategic korupsi kita, yaitu kita berada di dalam urutan list 5 besar Negara korup di dunia. Hal yang membanggakan bukan?

Sekarang yang menjadi pertanyaan, kenapa Negara ini begitu banyak koruptor baik di pusat apalagi di dearah bak raja-raja feodal lokal, kenapa bagitu banyak kongkalikong pejabat maling, kenapa begitu banyak sistem birokrasi yang “melacur”, kenapa begitu banyak prejudice terhadap konstelasi demokrasi kita? Jawabannya yaitu: semua itu tidak terlepas semakin berkurangnya kapasitas Negara ini untuk memperkuat dirinya dengan menyediakan para negarawan-negarawan tangguh yang notabene sebagai primus intervares bagi Negara yang labil ini. Dimana ketimpangan ini menyebabkan Negara ini selalu terjebak kepada masalah-masalah politik yang menjijikan dengan topeng membantu rakyat, tapi kita lihat orang-orang yang menganggap dirinya sebagai representasi masyarakat kecil justru banyak mengabaikan rakyat kecil itu sendiri, hal itu bisa kita dari banyaknya para politikus yang tercebur kepada sistem jabatan basah dan apriori kepada konstituen yang dibangunnya sebelumnya.

Politikus no, negarawan yes!
Kenapa kita butuh negarawan? Faktanya sebenarnya kita tidak butuh negarawan, tapi sistem demokrasi itu sendiri yang harus memiliki negarawan, Baca Selengkapnya

Kebebasan Berekspresi Yang Semu

Dengan semakin berkembangnya kebudayaan, sudah sewajarnya apabila tiap warga bebas memiliki preferensi dan paradigma tersendiri terhadap suatu hal, baik itu secara subjektif maupun objektif. Perbedaan inilah yang akan memperkaya ilmu pnegetahuan sebagai salah satu produk budaya serta akan mengakselerasi kebudayaan itu sendiri. Di sisi lain Negara wajib mendukung perangkatnya untuk memiliki kebebasan seperti itu. Hal tersebut menandakan bahwa warga negara tersebut memiliki rasa keterlibatan terhadap proses negaranya serta menunjukan bahwa warga tersebut adalah warga yang aktif dan dinamis. Pencapainnya hanya bisa lewat kebebasan berekspresi (freedom of expression) yang memadai.

Nah, untuk kasus kebebasan berekspresi di Indonesia ini, kita bnayk sekali memiliki memori yang buru. Kita mengalami penyakit manahun dalam saluran kebebasan berekspresi. Hampir disetiap era mulai dari awal merdeka sampai bergejolaknya reformasi pembatasan hak kebebasan berekspresi itu dipertontonkan secara gambling. Tatkala kita memasuki masa reformasi pun hal ini tidak juga menyingkirkan persepsi kita bahwa kebebasan berekspresi tiu sangat mahal dan penggunaannya seperti pedang bermata dua. Memang Negara tak lagi menjadi actor langsung. Namun Negara hanya diam ketika pemasungan itu dilakukan oleh kelangan yang kuat secara politik terhadap yang lebih lemah.

Belakangan ini kita sedang melihat wajah asli dari Negara ini melalui kasus tuntutan rumah sakit Omni Internasional Tanggerang terhadap e-mail pribadi dari Prita Mulyasari yang menyentak kita sebagai warga awam. Kasus ini memperlihatkan kepada kita bahwa Negara ini masih dalam proses demokrasi yang masih berjalan terbata-bata. Otoritas Negara bukannya mencoba untuk melindungi warganya, tapi malahan menekan rakyatnya leewat pedang hukum.

Untuk kasus kebebasan berekspresi di Indonesia ini, kita banyak sekali Baca Selengkapnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.